Beautiful to Me

Naruto by Masashi Kishimoto

Pair : Uchiha Sasuke, Hyuga Hinata

Rate : T

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu berhasil membuat semua orang di dalam studio mengalihkan perhatiannya.

"Permisi."

Pintu terbuka memperlihatkan sesosok tubuh tinggi yang berdiri di belakangnya.

"Sasori-kun?"

"Hai, Hinata?" Di depan pintu, Sasori berdiri dengan menampilkan senyum manisnya. "Hai, semuanya." Sasori menyapa teman Hinata yang lain.

Semua orang terlihat kaget dengan keberadaan Sasori yang tiba-tiba. Apalagi saat ini Sasuke dan Hinata juga berada di tempat yang sama. Bukan rahasia lagi jika sebentar lagi suasana akan segera berubah lebih mencekam dibanding sebelumnya.

Diam-diam semua orang melirik ke arah Sasuke yang saat ini masih berada tepat di balakang punggung Hinata.

"Apa kabar, Sasori senpai?" Sai akhirnya mencairkan suasana dengan membalas menyapa Sasori dengan senyumannya.

Sasori sudah mengenal semua teman Hinata, mereka memang satu sekolah saat Junior High jadi ia sudah mengenal mereka satu per satu walaupun sekarang ia berada di sekolah yang berbeda.

Sasori tersenyum kepada Sai. "Baik, Sai. Apakah aku mengganggu acara latihan kalian?" Sasori menatap yang lain dengan tersenyum.

"Ah, kebetulan kami baru saja selesai latihan, Senpai."

"Syukurlah, aku kira kedatanganku ke sini akan mengganggu kalian." Sasori tampak melirik sebentar ke arah Sasuke seolah perkataan itu hanya ditunjukkan kepadanya, kemudian dia tersenyum manis ke arah Hinata yang tampak kebingungan melihat keberadaanya.

Hinata dan Sasori memang baru bertemu sekali setelah kepulangan Hinata dari London. Itupun karena saat Sasori dan Neji adalah orang yang saat itu menjemputnya ke bandara. Setelah menjemput Hinata, Sasori juga bergegas pulang karena ia ingin memberikan waktu kepada Neji dan Hinata untuk melepas rindu. Sungguh pengertian sekali bukan?

Sasuke bukanlah orang bodoh, dia jelas tahu bahwa ucapan Sasori tadi memang ditujukan kepadanya. "Ada apa kau ke sini Setan Merah?" Jelas itu bukan suara Hinata.

Deg.

Hinata menatap cepat ke arah Sasuke yang saat ini masih berada di belakangnya. Wajah Sasuke sudah mengeras pertanda dia menahan marah. Hinata meringis merasakan tangan Sasuke yang saat ini masih berada di punggungnya sedang mengepal.

"Hei, Teme." Naruto menghampiri Sasuke yang terlihat seperti sedang adu pandang dengan Sasori. Dia cemas melihat Sasuke yang seakan siap menyerang kapan saja.

Suasana di studio tampak tegang tanpa ada satu orang pun yang berani bersuara.

Sasori tersenyum menatap wajah tak bersahabat yang biasa diberikan Sasuke terhadapnya. "Aku ingin menjemput Hinata."

"Eh?" Hinata menatap ke arah Sasori dengan bingung, pasalnya dia tidak memiliki janji sebelumnya untuk pulang bersama dengannya.

Wajah Sasuke tampak semakin memerah mendengar penuturan Sasori yang terlihat santai tanpa merasa berdosa.

"Neji belum pulang, jadi dia memintaku untuk mengantarmu ke rumah, Hinata." Sasori tampak tak terpengaruh dengan tatapan mematikan yang saat ini tertuju kepadanya.

Hinata semakin takut saat melihat wajah Sasuke yang semakin mengeras. 'Uh, bagaimana mungkin mereka masih bermusuhan seperti ini?'

Sasuke memberikan tatapan membunuh kepada Sasori, sedangkan Sasori yang sudah memahami arti tatapan Sasuke hanya terlihat santai tak terpengaruh sama sekali.

"Oh iya, kita akan pulang dengan Tenten juga." Sasori tersenyum ke arah Tenten yang hanya terdiam melihat situasi mencekam di hadapannya.

"Eeeh, tapi aku..." Tenten tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan memohon dari Hinata dan ekspresi garang yang ditunjukkan temannya yang lain kepadanya. Memahami arti tatapan mereka, Tenten dengan cepat menganggukkan kepalanya ke arah Sasori.

"Baiklah, ayo kita pulang, Hinata!"

"Ba.. Ba.. Baiklah, Sasori-kun." Hinata menolehkan kepalanya perlahan ke arah Sasuke yang ada di belakangnya. Dia menelan salivanya gugup saat wajah Sasuke menatapnya dengan garang. 'Apakah dia marah padaku?'

Hinata menunduk berusaha mengalihkan pandangannya dari Sasuke. "Teman-teman, aku pulang dulu."

"Baiklah, Hinata-chan. Hati-hati ya!" Naruto berbicara dengan canggung, berusaha mencairkan suasana tegang yang melingkupi mereka.

"Hati-hati, Nata-chan." Hinata mengangguk membalas senyum lebar Kiba.

"Aku pergi dulu, Sakura, Ino."

"Ah, baiklah Hinata. Kabari aku kalau kau sudah sampai rumah." Hinata tersenyum menatap Ino.

"Cepatlah istirahat, Hinata. Sampai jumpa besok!"

"Sampai jumpa, Sakura, Ino. Ayo, Tenten." Ucap Hinata sambil melirik ke arah Sasuke.

Hinata menggandeng tangan Tenten menuju pintu keluar diikuti Sasori di belakangnya. "Kami pergi dulu." Sasori tersenyum ke arah teman Hinata yang lain.

"Hati-hati, Senpai."

"Tolong jaga Hinata-chan, Senpai." Sasuke menatap garang ke arah Naruto begitu pula dengan temannya yang lain. Sedangkan Shikamaru tampak menatap malas enggan menanggapi sahabat tidak pekanya satu ini.

"Kenapa?" Tanya Naruto dengan tampang tidak berdosanya.

"Aaah, iitttaaaaiiii. Kenapa kau memukulku, Sakura-chan?" Naruto memegang kepalanya yang benjol akibat pukulan maut dari Sakura.

"Diamlah, Baka!" Naruto diam seketika saat melihat wajah menakutkan kekasihnya. Sakura melirik ke arah Sasuke yang masih menatap ke arah punggung Hinata. Dia memandang Sasuke dengan tatapan prihatin.

Saat ketiganya sudah tak terlihat, situasi di dalam studio masih terlihat canggung. Sasuke masih mengepalkan tangannya berusaha untuk tidak mengejar dan menerjang Sasori saat ini juga.

"Eeh, Sasori itu adalah sahabatnya Neji. Dia sudah seperti kakak Hinata sendiri." Kiba menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berusaha mencairkan suasana saat melihat aura mematikan yang dikeluarkan Sasuke meskipun sepertinya ucapan Kiba tidak membantu sama sekali.

"Hm, Sasuke-kun?" Sakura menatap Sasuke dengan khawatir membuat temannya yang lain juga mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke.

Sasuke tampak tak bergeming mendengar panggilan Sakura.

"Seharusnya kau menahannya. Kau bertindak seperti seorang pengecut!" Sai tersenyum palsu ke arah Sasuke. Bersahabat lama dengan Uchiha bungsu itu telah membuatnya mengerti dengan mudah apa arti dari sikap tak biasa yang saat ini tengah ditunjukkannya.

"Diamlah, Sai!" Shikamaru mengingatkan Sai untuk tidak semakin memancing amarah bungsu Uchiha tersebut.

Sasuke diam tanpa mencoba mengalihkan pandangannya dari arah pintu. Dia tidak berminat sama sekali untuk membalas sindiran Sai.

"Aku pulang." Sasuke keluar studio setelah membanting pintu dengan suara yang keras.

Yang lain hanya mampu menghela nafas melihat kelakuan sahabat pantat ayam mereka.

"Dasar, Teme."

"Huh, merepotkan."

"Untung saja tadi mereka tidak sempat adu jotos. Huh, kasihan Nata-chan kalau sampai itu terjadi."

"Sasuke pasti sudah memperkirakan hal itu. Itulah alasannya kenapa dia berusaha meredam emosinya." Semua orang mengangguk mendengar perkataan Shino.

"Uh, aku sangat takut tadi."

Sai menghampiri Ino kemudian memeluknya. "Tenanglah! Dengan begini Sasuke akan segera sadar." Sai tersenyum ke arah Ino.

Ino mengernyit memandang ke arah Sai, kemudian dia tersenyum setelah menyadari maksud dari kekasihnya.

"Yah, setidaknya dengan begini Sasuke akan berhenti menjadi orang bodoh." Sakura ikut menimpali perkataan Sai.

"Ck, merepotkan. Kemana perginya otak jenius Uchiha?"

"Kau benar, Shikamaru. Sepertinya kita harus membantunya agar segera sadar." Sai menyeringai ke arah Shikamaru.

"Aku setuju, Sai-kun. Tapi bagaimana caranya?"

"Tenanglah, Ino-chan. Nanti kita pikirkan caranya."

Mereka telah mengerti apa yang dirasakan oleh Sasuke. Tapi mereka paham bahwa ini bukanlah area mereka. Sebagai sahabat, mereka hanya mampu mengingatkan dan memberi semangat. Yang harus menentukan sikap tetaplah Sasuke sendiri.

"Sial." Sasuke menggeram sambil memukul dinding yang berada tepat di samping mobilnya menyebabkan ruam merah di buku-buku tangannya. Rasa sakitnya tidaklah terasa, tidak sebanding dengan emosi yang saat ini masih memenuhi seluruh isi kepalanya.

"Dasar, gadis bodoh." Sasuke masuk mobil kemudian mengacak kasar surai ravennya.

Sasuke mengambil ponsel yang ada di sakunya. Dia menatap nanar ke arah layar yang ada di genggamannya.

"Aku harus bagaimana, Hinata?" Sasuke menatap sendu pada potret seorang gadis indigo yang sedang membaca buku di perpustakaan.

* * *

"Hai, semua." Sakura duduk di kursi kantin bersama dengan Ino.

"Oh, hai Sakura-chan. Kau lama sekali? Mau pesan apa?"

"Aku mau ramen sepertimu, Naruto. Sepertinya enak."

"Baiklah, akan aku pesankan." Naruto berdiri memesan ramen untuk kekasihnya.

"Kau mau makan juga, Ino?"

"Tidak perlu, Sai-kun. Aku hanya ingin minum." Ino mengambil sebotol air mineral di hadapannya kemudian tersenyum ke arah Sai.

"Tumben kalian hanya berdua?"

"Tumben kalian hanya berempat?" Ino menimpali pertanyaan Naruto dengan pertanyaan.

Naruto memutar matanya bosan. "Shino meminta Kiba untuk menemaninya meneliti serangga yang tadi pagi dia temukan."

Ino tersedak air yang saat ini sedang diminumnya. Sai yang berada di sampingnya langsung saja menepuk punggung Ino pelan. "Pelan-pelan!"

Ino hanya nyengir membalas ucapan Sai. "Apakah Kiba bersedia?" Tanya Ino sambil menatap Naruto.

Wajah Naruto berbinar mendengar pertanyaan Ino, seolah dia telah menemukan sesuatu yang seru sekaligus menggelikan. "Tentu saja Kiba menolaknya, tapi Shino mengancamnya bahwa dia tidak akan menemani Kiba ke dokter hewan lagi kalau dia tidak mau." Naruto terkekeh mengingat ekspresi kesal Kiba. Ino dan Sakura ikut tertawa mendengar cerita Naruto.

"Kiba pasti sangat kesal karena tidak punya pilihan lain." Ino terkekeh tidak dapat menahan tawanya.

"Yah, pastinya Kiba akan kesulitan pergi kalau Shino menolak mengantarnya ke rumah sakit hewan, mengingat betapa susahnya Akamaru saat di ajak kesana. Hanya serangga Shino yang mampu mengalihkan perhatian Akamaru."

Sasuke dan Sai hanya menatap bosan ke arah Sakura, Ino dan Naruto yang sedang tertawa. Hanya Shikamaru yang diam, itupun karena saat ini dia sedang tertidur.

"Kau benar sekali Sakura. Ngomong-ngomong, dimana Hinata dan Tenten?"

Glek.

Ini adalah pertanyaan yang sebenarnya di hindari oleh Ino dan Sakura. Itulah sebabnya dia mengalihkan pertanyaan Naruto tadi.

"Tenten dan Hinata sedang mengerjakaaan.. Hm tugas." Ino melirik ke arah Sakura yang ada di hadapannya.

"Tugas apa?" Sasuke menaikkan alisnya ke arah Ino. Seingatnya mereka hanya mendapat sebuah tugas berpasangan untuk meneliti suatu tumbuhan.

"Tugas penelitian Biologi."

"Oh, tugas berpasangan itu ya?" Sakura mengangguk menjawab pertanyaan Naruto. "Mereka berpasangan?"

"Bu.. Bukan."

"Lalu?" Sasuke mengerutkan dahinya menatap Sakura.

"Mereka berpasangan dengan orang lain. Kakashi sensei yang mengatur pasangan masing-masing. Kebetulan aku dan Ino berada di absensi yang berurutan, jadi kami berpasangan. Tenten berpasangan dengan Matsuri."

Sakura tampak enggan melanjutkan perkataannya. Dia menelan salivanya gugup. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, tak sabar mendengar jawaban Sakura. "Sedangkan Hinata, dia berpasangan dengan Toneri." Sakura mengucap nama Toneri dengan pelan.

"Toneri siswa pindahan sebelum Hinata itu?" Ino mengangguk menjawab pertanyaan yang tiba-tiba diucapkan Shikamaru.

Sasuke menggeram mendengar penjelasan Sakura. Dia tampak mengepalkan tangannya di atas meja.

"Lalu saat ini mereka sedang ada dimana?"

Ino mengangkat bahunya. "Entahlah, Sai-kun. Sepertinya mereka berada di kelas atau mungkin sedang di perpustakaan. Sebenarnya tadi kami bertiga sudah dalam perjalanan ke kantin tapi tiba-tiba Toneri datang dan mengajak Hinata untuk membahas tugas berpasangan mereka."

Braaakk..

Sasuke menggeser kursinya dengan keras membuat semua orang mengalihkan perhatian kepadanya, kemudian dia beranjak dari kantin begitu saja tanpa mempedulikan berbagai tatapan yang ditujukan untuknya. Sai dan Shikamaru menyeringai sambil perpandangan.

"Sepertinya ini akan semakin menarik." Ucap Sai dengan senyum palsunya.

"Kau benar."

"Ini akan mempermudah rencana kita." Sakura tersenyum menatap ke arah punggung Sasuke yang bergerak menuju pintu keluar kantin.

"Kau benar, Jidat. Kita doakan saja semoga akan tetap Toneri baik-baik saja."

Naruto mengerutkan kening bingung mendengar percakapan orang-orang di sekitarnya yang sama sekali tidak dia mengerti. Tapi dia kembali teringat pada Sasuke yang lagi-lagi pergi begitu saja tanpa menunggunya. "Woi, Teme. Kau mau kemana?"

"Ck, diamlah Naruto!"

"Aku hanya bertanya, Nanas. Memangnya kau tahu kemana perginya si Teme itu?"

"Tentu. Di sini hanya kau yang tidak tahu." Yang lain tampak mengangguk mendengar ucapan Shikamaru.

"Ck, dasar pemalas. Memangnya dia kemana?"

"Sudahlah, Naruto. Kita biarkan saja Sasuke sendiri. Saat ini Sasuke sedang mengurus sesuatu yang penting. Kau jangan mengganggunya!"

Naruto melihat Sai heran. Kenapa orang-orang suka sekali berbicara dengan berkelit-kelit. Membuatnya semakin bingung saja. Kemudian dia menaikkan bahunya acuh sambil menyuapkan ramen ke mulutnya. "Terserah kalian!"

Lagi-lagi Sasuke keluar dari kantin dengan perasaan dongkol maksimal. Dan ini disebabkan karena gadis Hyuga itu LAGI.

Sasuke juga merasa heran, padahal sebelumnya dia adalah tipe cowok cool yang jarang mau peduli dengan orang lain, tapi semenjak Hinata kembali di kehidupannya, dia seolah menjadi berubah. Dia kembali mengingat ucapan Sai, bahwa berkat Hinata dia menjadi sosok yang berbeda dari biasanya.

'Apa benar aku menjadi orang yang berbeda jika menyangkut hal yang berkaitan dengan Hinata?' Sasuke bertanya pada dirinya sendiri.

'Apa benar aku benar-benar terlihat seperti seorang pengecut?'

Sasuke kembali mengacak rambutnya frustasi. Bukankah dia adalah juara umum di sekolah? Lantas kenapa menjawab pertanyaan begini saja dia tidak bisa?

"Rasanya semua yang berkaitan denganmu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dengan mudah dipecahkan."

Sasuke menghentikan langkahnya ketika dia telah berada di depan kelas Hinata. Dia mendongakkan kepala menatap ke dalam kelas berusaha mencari sesosok gadis berambut indigo yang berhasil membolak-balikkan emosinya dengan mudah.

"Kemana dia?"

"Eh, Sasuke?"

Sasuke berbalik menatap ke arah seseorang yang memanggilnya.

"Hn."

"Ck, dasar! Jawabanmu itu benar-benar ambigu." Tiba-tiba wajah kesal Tenten berubah menjadi seringai jahil. Dia tentu saja tahu alasan bungsu Uchiha ini berdiri di depan kelasnya. "Hinata tidak ada di dalam kelas, Sasuke."

Gotcha..

Tenten semakin melebarkan seringainya ketika dia melihat Sasuke menaikkan sebelah alis tanda dia sedang menunggu kelanjutan ucapannya.

"Hinata sekarang ada di perpustakaan." Tenten berhenti tanpa melanjutkan kata-katanya, dia semakin senang ketika melihat kerutan di dahi Sasuke semakin dalam. "Bersama Toneri."

Sontak saja Sasuke mengeraskan rahangnya setelah mendengar ucapan Tenten. "Hn." Tanpa menunggu apa-apa lagi, Sasuke segera pergi dari hadapan Tenten.

Sedangkan Tenten yang seolah telah berhasil mendapat hadiah lotre, tidak dapat menyembunyikan senyum bahagianya yang mengembang. "Kena kau, Uchiha." Katanya sambil terkikik.

Langkah Sasuke semakin lebar ketika onixnya menangkap tulisan keterangan 'perpustakaan' yang saat ini berada dalam jangkauan lima meter dari tempatnya berdiri.

Segera saja dia percepat langkahnya, mengabaikan tatapan bingung dari Anko sensei selaku petugas perpustakaan. Matanya terus berkeliling mencari keberadaan gadis indigo mungil tersebut.

Hingga tatapan Sasuke berhenti pada objek tak jauh darinya. Raut kelegaan di wajahnya seketika berubah menjadi masam ketika dia melihat di dekat Hinata telah duduk seorang cowok berambut perak berantakan yang tak lain adalah Toneri.

Mereka terlihat sibuk membicarakan sesuatu sambil menunjuk ke arah buku yang ada di meja di depan mereka.

Sasuke mengepalkan tangannya ketika melihat Hinata dan Toneri yang tidak sedang berada dalam jarak yang aman.

"Kurang ajar, Otsusuki."

Dari mata Sasuke sangat terlihat bahwa Toneri tampak sedang berusaha mencari perhatian Hinata. Jelas sekali bahwa Toneri tertarik pada gadisnya. Gadisnya, eh?

Sayangnya lagi-lagi Hinata sungguh menjadi seorang gadis yang bodoh. Dia benar-benar tidak peka dan tidak sadar bahwa seseorang yang berada di sampingnya sedang berusaha merebut perhatiannya.

"Gadis bodoh."

Sasuke menggeram saat melihat Hinata yang tertawa ketika mendengar sesuatu yang diucapkan Toneri. Hinata menutup bibirnya saat tertawa dan itu terlihat semakin menjengkelkan bagi Sasuke, karena menurutnya Hinata yang bersikap seperti itu tampak terlihat jauh lebih menggemaskan dan lagi-lagi Sasuke tidak menyukai kenyataan bahwa Toneri juga dapat melihat pemandangan indah tersebut.

Uh, Sasuke tampak ingin menyadarkan Toneri dari keterpesonaannya kepada Hinata.

"Apa sih yang sedang mereka bicarakan?" Dari jaraknya berdiri saat ini, Sasuke dapat melihat apa yang mereka lakukan tapi dia tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Jadi Sasuke memutuskan untuk berjalan lebih dekat ke arah mereka.

Sekarang Sasuke berdiri di depan rak sebelah kanan Hinata. Dia lebih leluasa mendengar percakapan mereka. Sasuke mengambil sembarang buku yang ada di depannya.

"Jadi kita sudah memutuskan untuk meneliti ini?" Toneri berbicara dengan lembut kepada Hinata sambil menunjuk ke arah buku di hadapan mereka.

'Hentikan sikap sok manismu itu, Otsusuki!' Batin Sasuke berteriak.

"Aku setuju, Toneri-kun." Hinata mengangguk dan tersenyum manis ke arah Toneri.

'Jangan pernah tersenyum kepadanya, gadis bodoh!' Sasuke mengepalkan tangannya.

"Kita sudah mendapat beberapa buku referensi untuk teorinya, tapi kita juga harus menelitinya secara langsung. Kira-kira dimana kita bisa melihat dan meneliti bunga ini, Toneri-kun?"

Toneri tampak berpikir sebentar kemudian dia tersenyum lebar. "Kalau ingin melihat berbagai jenis bunga dan hewan kita bisa pergi ke Konoha Park, Hinata-chan. Aku sudah pernah berkunjung dan kebetulan ada taman lavender yang selalu berbunga di sana."

'Cih, berhenti menjadi seorang sok tahu, Otsusuki!'

Mata Hinata berbinar mendengar ucapan Toneri. "Benarkah? Aku sungguh tidak sabar ingin ke sana."

'Jangan percaya padanya, Hinata!' Sasuke memberikan tatapan membunuh pada Hinata. Yah, meskipun Hinata pasti tidak akan menyadarinya.

"Baiklah, kapan kita akan ke sana?"

Hinata meletakkan telunjuknya di atas dagu yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan.

'Berhenti menunjukkan ekspresi seperti itu, gadis bodoh!'

"Bagaimana kalau Sabtu ini?" Ucap Hinata setelah beberapa saat.

"Aku setuju, Hinata-chan."

'Semakin cepat semakin baik.' Toneri tersenyum lebar membayangkan jika nanti dia akan menghabiskan waktu berdua bersama Hinata.

'Jangan harap kau akan mendapat keberhasilan sesuai dengan apa yang ada di pikiranmu itu, Otsusuki.' Sasuke menatap tajam ke arah Toneri.

Teeeettt.. Teeeettttt..

"Ayo kita kembali ke kelas."

Hinata mengangguk menjawab ajakan Toneri.

Di balik rak buku tepat di sebelah kanan Hinata, saat ini Sasuke berdiri menatap ke arah punggung Hinata yang tengah berjalan menuju pintu keluar perpustakaan.

"Apakah kau tidak mendengar bahwa bel masuk telah berbunyi, Uchiha-san?"

Sasuke menatap Anko sensei yang saat ini sedang berada di sampingnya. Anko sensei kemudian mengernyit memandang ke arah buku yang ada di genggaman Sasuke.

"Jadi kau tertarik pada ITU?" Ucapnya menekankan kata ITU sambil menunjuk ke arah buku yang tadi Sasuke ambil secara asal. "Ingin meminjam?"

Sasuke mengernyit menatap ke arah telunjuk Anko sensei, seketika matanya melotot lebar setelah berhasil membaca deretan tulisan di sampul buku yang dia pegang. Di sana tertulis dengan jelas menggunakan huruf kapital berwarna merah, SEKS AMAN BAGI REMAJA DAN PEMULA.

'Sial.' Sasuke menengok ke arah samping berusaha menutupi semburat merah yang terlihat samar di wajahnya.

Sasuke berdehem untuk mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi datar.

"Hn." Sasuke meletakkan buku yang dia pegang ke arah rak di belakangnya kemudian pergi keluar dari perpustakaan begitu saja tanpa mempedulikan keberadaan Anko sensei di sampingnya.

"Ck, dasar murid tak tahu sopan santun." Ucapnya kesal sambil meletakkan tangan di pinggang.

Ketika telah berhasil melewati pintu keluar perpustakaan, Sasuke kembali mengingat percakapan Hinata dan Toneri yang tadi sempat dia curi dengar. Seketika Sasuke menyeringai karena merasa telah berhasil menemukan sesuatu yang berguna untuknya. Bagi orang lain, seringai Sasuke akan terlihat sangat menakutkan tapi bagi Sasuke, seringainya kali ini berarti kemenangan.

"Konoha Park, hari Sabtu, eh." Ucapnya dengan seringai yang semakin lebar.

~ T B C ~

Akhirnya kelar juga chap ini. Fiiuuuhh, chap ini adalah chap paling lama yang Qiyu buat, lebih dari satu bulan. Huh hah. Entah kenapa saat cerita masih jauh dari kata layak, tiba-tiba otak mendadak blank. Yeay, tapi untunglah sekarang sudah bisa update.

Balasan Review:

Yani uzumaki : seneng deh kalau ternyata kita punya lagu kesukaan yang sama.makasih ya udah mau nungguin.

Suha keita : thanks.

Sasuhina69 : nih Sasu lagi usaha.thanks ya.

NurmalaPrieska : temenku bikin happy ending versinya sendiri.

Bill Arr : Sasuke emang top.thanks ya.

Mawarputih : nih aja sasuke udah sebel kok.thanks ya.

Roti bakar : Hinata ngga lupa kok tapi namanya cewek kan gampang baper.he.nanti deh dibikin plot buat sasuhina.di chap depan mungkin?thanks ya.

EchaZombie : bikin nostalgia ya?he.nih udah lanjut.thanks ya udah baca.

Yulia : pengennya sih Sasori cuma sekedar cameo.hehe.thanks ya.

Heira : nih udah lanjut.thanks ya.

Pengagumlavender26 : nih udah keluar tapi sasori belum terlalu banyak scene,nanti keluarnya lagi di chap" depan.he.thanks ya.

Sabaku no Yanie : hayo ucapan terimakasihnya buat yang mana,hehe.nih lanjut.thanks ya.