Sasuke sedang membaca koran ketika telepon rumah berdering. Istrinya sedang kerja di rumah sakit dan putrinya sedang ada misi hari ini. Hanya tinggal pria itu sendirian di rumah, berarti hanya Sasuke yang bisa menjawab telepon itu.

"Ya?" sahut Sasuke setelah mengangkat gagang telepon.

"Ah, Anata? Sarada ada?" itu suara Sakura.

"Misi," jawab Sasuke singkat.

"Eh? Oh, iya, ya ... mm ... kau sedang sibuk, tidak? Aku ingin minta tolong ..."

.


.

Disclaimer: Masashi Kishimoto. Author tidak mengambil keuntungan.

Warning: Drabble, AR.

.

Pulang
Rabu: Rumah Sakit

by Fei Mei

.


.

Mencari barang dengan dua tangan itu kadang menyulitkan, bagaimana dengan hanya satu tangan? Itulah yang sedang dialami Sasuke saat ini. Tadi Sakura menelepon untuk minta tolong dicarikan boneka kelinci kecil. Jadi boneka itu adalah milik seorang pasien rawat inap, yang tanpa sengaja terkena tumpahan kopi oleh Sakura. Jelas Sakura ingin tanggungjawab dengan membawanya pulang untuk dicuci—kebetulan dia juga ingin sekalian mencuci boneka-boneka Sarada. Dan sekarang Sasuke harus mencari boneka kecil itu dalam tumpukan boneka di keranjang. Begitu dapat, Sasuke langsung memasukkannya dalam kantong kain dan pergi ke rumah sakit.

Terakhir kali pergi ke Rumah Sakit Konoha, mungkin saat itu ketika Ujian Chuunin, ya. Ia melihat Hinata sedang berusaha disembuhkan oleh Sakura, lalu ada anak-anak Naruto di sampingnya. Bukan kenangan yang menyenangkan.

Sasuke berkelana tiap hari, dan, kalau sedang tidak beruntung, akan kehabisan Chakra tiap hari karena ada pertarungan terus. Ia manusia, tentu bisa lelah saat tenaga terkuras. Sekarang Sasuke jadi agak heran terhadap Sakura. Wanita itu pasti lebih sering merasa lelah dibanding dirinya, karena harus menggunakan Chakra untuk menyembuhkan orang tiap hari. Kemarin malam Sasuke mendengar putrinya sempat minta Sakura untuk mengambil cuti selama ia di rumah, berarti ambil cutinya seminggu. Ia ingat apa yang menjadi jawaban istrinya.

"Penyembuh bisa ambil libur, tetapi penyakit tidak mengenal libur."

Pria itu tersenyum kecil. Sakura mungkin akan selalu menjadi fangil-nya. Tapi, untuk hal-hal tertentu, Sasuke kadang harus ingat bahwa wanita hebat satu itu adalah orang yang sama dengan gadis yang dulu agak menyebalkan baginya.

.

.

Masuk lobi rumah sakit, Sasuke langsung berjalan menuju meja resepsionis. Di telepon tadi istrinya sudah bilang agar ia boleh menitipkan boneka itu pada resepsionis, biar nanti Sakura ambil. Tapi hari itu, entah kena angin apa, Sasuke ingin melihat sendiri bagaimana Sakura bekerja. Ia menyengir kecil.

"Mm? Uchiha Sasuke, kan? Tumben ada di Konoha!" kata seorang petugas dekat sana menghampirinya.

"Aku cari Sakura," ujar Sasuke.

Petugas itu mengangguk. "Kalau tidak salah dia sedang mengurus pasien retak tulang. Cari saja di lorong sebelah sana," katanya sambil menunjuk ke suatu arah.

Tanpa ba-bi-bu lagi Sasuke langsung beranjak dari tempat ia berdiri, pergi ke lorong yang ditunjuk. Ternyata tidak sulit menemukan ruangan tempat Sakura berada—ruang ketiga sebelah kanan. Pintunya tidak tertutup, memudahkan Sasuke untuk langsung melihat istrinya sedang menyembuhkan kaki seorang anak remaja.

"Tahan sebentar," kata Sakura, tegas tapi lembut. "Kau akan baik-baik saja." Sasuke berjalan masuk ruangan, dan tampaknya sang istri masih belum menyadari kehadirannya. "Nah, kakimu sudah tidak apa, tapi aku tidak menyarankan kau berjalan terlal lama sehari-dua hari ini. Oh, ibumu bilang kau sedang diet, ya? Kulitmu pucat dan sepertinya kena anemia juga. Nanti aku akan coba diskusikan menu diet yang lebih tepat dengan ibumu, ya ..."

Remaja itu mengangguk dan menggumamkan terimakasih. Sakura tersenyum, lalu langsung terkejut saat sadar suaminya ada di ruangan itu sambil tersenyum kecil. Wanita itu mengucapkan permisi pada pasiennya dan dengan riang menghampiri Sasuke.

"Anata!" panggil Sakura.

Sasuke langsung menyodorkan bungkusan kain. "Pesananmu."

"Kau tidak perlu repot membawakannya langsung padaku, kan, sudah kubilang untuk menitipkannya di resepsionis?"

"Sesekali aku ingin melihat istriku bekerja. Tidak boleh?"

"B-boleh! Tentu saja boleh! Hehehe."

Ia melihat pipi istrinya bersemu merah. Dulu Sasuke sebal melihat setiap gadis yang merona merah dekatnya. Tetapi saat ini, khusus seorang Sakura, pria itu tidak bisa merasa sebal. Sasuke tersenyum kecil lalu mendekap pelan istrinya dengan satu tangan sebelum berdeham sendiri dan memutuskan untuk langsung pulang.

.


.

BERSAMBUNG

.


.

Review?