Ballerina Ghost

Author : Damien Cho

Genre : Horror, Romance.

Rating : T

Cast : Oh Sehun and Xi Luhan

Warning : BL. Boy Boy. Typo(s).

Sebelumnya pernah saya post di salah satu FP di Facebook.

DON'T LIKE, DON'T READ.

THIS STORY PURE OF MINE. NO PLAGIAT.

APABILA ADA KESAMAAN, ITU MURNI KEBETULAN.

.

..

...

a/n : Mulai chapter ini, ada beberapa tanda (*) yang artinya itu nyata. Kisah ini sendiri, kuambil dari kisah temanku di sekolah. Dia bisa ngelihat. Dan untuk beberapa, itu pernah kualami sendiri

Enjoy The Story

Chapter 7

Sehun gelagapan dan memalingkan wajah merahnya dari sang eomma. ' Aigoo, ketahuan aku...' batin sehun malu. Sementara Nyonya Oh, ia terus mendesak Sehun dengan berbagai pertanyaan. ' Kapan kau berpacaran dengannya ?' 'siapa namanya?' 'kenapa tidak memberitahu ibu?' yaa..berbagai macam pertanyaan seperti itu...

" Ibu hentikanlah... Akan kuceritakan nanti, masalahnya adalah, ballerina itu pernah hampir membunuhku!" gadis itu semakin menunduk takut mendengar sentakan Sehun. Nyonya Oh membalikkan badannya dan berjongkok di depan Ellin. " Bukan Ellin... Ellin hanya datang saat Sehun memanggil. " Nyonya Oh membulatkan matanya dan ganti menatap Sehun.

" Kau memanggilnya Sehun...? " tanya eomma Sehun tak percaya. Sehun mengangguk pelan. " Hanya ingin membuktikan kepada kekasihku bahwa hantu itu ada..." jawab Sehun pelan. Nyonya Oh menatap marah putranya dan menampar keras pipi Sehun.

PLAK!

" Membuktikan...!? Apa yang perlu dibuktikan!? Memanggil yang seharusnya tidak kau butuhkan adalah Hal yang paling Berbahaya...! Energimu akan semakin 'mengundang' mereka untuk mencari lebih jauh tentang dirimu OH SEHUN...! " Sehun membelalakkan matanya dan mundur beberapa langkah. Ia menatap si Ballerina yang balas menatapnya janggal. Tiba - tiba, raut wajah Ellin berubah panik dan ketakutan.

Madam Oh yang mengerti keadaan ini langsung menghampiri Sehun dan melindunginya dari depan. " Tetap di belakang ibu sehun...! " titah Nyonya Oh panik. Entah kenapa, keadaan yang sebelumnya agak terang, kini berubah menjadi gelap gulita. Hanya ada keheningan dan kesunyian yang menyelimuti mereka.

" Dengarkan ibu baik-baik sayang... " Sehun mengangguk pelan di belakang tubuh ibunya. " Nde..."

" Ketika ibu menghitung 123. Tepat angka ketiga, kau harus lari. Arrachi..!? "

" Wae? Bagaimana dengan ibu...?! " protes Sehun.

" Ibu baik-baik saja Sehun. Pokoknya, ketika tepat angka ketiga, apapun yang terjadi, kau harus lari...! " Sehun menatap punggung ibunya cemas. " Ne... "

" Bantu aku... " sontak Nyonya oh dan Sehun melihat ke arah Ellin. Sehun tersentak kaget melihat wajah Ellin yang kesakitan. Ia meremas dressnya kuat dan memejamkan matanya. " PERGIII ELLINN...! " teriak madam Oh cepat. Ellin menatap ragu madam Oh dan Sehun. Tapi sekali lagi, Madam Oh berteriak menyuruhnya cepat pergi. Ellin memundurkan tubuhnya pelan dan menghilang tanpa bekas begitu saja.

"Gadis itu seenaknya pergi setelah kita ingin membantunya...!" maki Sehun kesal di saat yang tidak tepat. Nyonya Oh tetap siaga pada posisinya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. " Itu bisa berbahaya bagi kita dan dirinya Sehun..." jelas Madam Oh tenang. Ketika Sehun ingin membalas ucapan ibunya, pintu kelas terbuka kasar dengan sendirinya. Entah kenapa, aura hitam begitu pekat menyelimuti kelas Sehun. Perlahan, muncul sosok yang sangat mengerikan di balik pintu itu.

GLEK.

Sehun menelan kasar air liurnya, ia menatap sang eomma yang semakin siaga melindungi dirinya. Sosok itu memakai baju hitam dan tudung yang melindungi kepalanya. Baunya sangat menyengat dan busuk. Ia membawa sebuah senjata panjang dengan pisau tajam seperti bulan sabit. Sehun menutup hidungnya dan menggenggam dress sang eomma kuat. " P-Pergi sehun.. C-cepat.." bata nyonya Oh cemas. Sehun membulatkan matanya ketika tubuh sang eomma tak bisa bergerak sama sekali. Ia berusaha menarik tangan eommanya, tapi nihil. Tak bisa bergerak sedikit pun.

" I-ibu...! " Sehun panik dan ia rasa hatinya mulai kalut. " P-pergi... Sehun! I-ibu baik-baik saja...! " Sehun menggeleng cepat dan memeluk kaki eommanya erat. Nyonya Oh menghela nafasnya pelan dan tetap bertahan setenang mungkin ketika sosok 'Iblis' itu semakin mendekat.

" Sehun! Pergi atau ibu yang akan mati! " Sehun menatap eommanya kaget. " Ibu tidak bisa melindungi 2 orang sekaligus sayang. Pilihannya antara kau dan ibu. Dan pasti ibu akan melindungimu... Pergilah..." jelas nyonya Oh lembut sambil berusaha memandang wajah anaknya yang ada di bawah.

" 1 "

" 2 "

" 3! "

Dengan cepat, Sehun meloncati meja - meja menuju pintu kelasnya. Ia berlari cepat keluar dan meninggalkan eommanya sendirian di kelas. Lelehan air mata kini membasahi wajah tampannya " Hiks-Mianhe..."

.

.

.

.

.

" Ini mobil Sehun kan...? " seorang namja mungil terlihat mengelilingi mobil hitam di depan sekolah. Ia merapatkan mantelnya ketika udara dingin semakin menusuk kulitnya.

"Hiks─ hiks..." Luhan tersentak kaget, ketika mendengar tangisan seseorang yang sepertinya tidak jauh dari posisinya. Sejenak, Luhan ragu untuk mendatangi tempat itu. Ia sudah cukup trauma akan kejadian yang akhir-akhir ini menimpa dirinya. Tapi, hati kecilnya menyuruh untuk tetap mendekat. Setelah beberapa menit berperang dengan batinnya, Luhan memutuskan untuk masuk ke dalam sekolah dan mencari sumber suara. Ia semakin mendekat ke ruangan itu dan tepat berhenti di depan pintu coklat.

'UKS?'

KRIETT...

Luhan menghentikan langkahnya melihat sosok yang familiar sedang meringkuk di sudut kamar. Ia semakin yakin ketika melihat sosok itu kini menatapnya takut. " SEHUNNA...! " Sehun membulatkan matanya kaget melihat Luhan yang langsung memeluknya erat. Tangan Luhan terulur dan mengusap punggung namja itu. Ia dapat merasakan getaran hebat dan bahunya basah. Setelah merasa tenang, Luhan melepaskan pelukannya dan menghapus airmata kekasihnya. " Wae? Apa yang terjadi Hunna...?" tanya Luhan setenang mungkin. Matanya menatap khawatir iris sembab Sehun. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir dingin Sehun. Sedikit melumat guna berbagi kehangatan yang dimiliki dirinya. Perlahan, tangan Sehun menarik tenguk Luhan dan semakin memperdalam ciuman mereka. Luhan memukul dadanya pelan, Sehun melepaskan pagutan mereka dan menangkup kedua kedua pipi Luhan yang memerah. Ia membelai pipi itu dengan jemari tangannya.

" Mian... " lirih Sehun sambil mengecup pipi Luhan. Luhan menatap sehun bingung dan melepaskan tangan nya " Untuk apa...? Sehunna tidak pernah menyakiti Hannie.." Sehun tersenyum miris mendengar perkataan Luhan.

" Seharusnya kau bunuh aku saja Luhan. Aku telah membahayakan dirimu. Seandainya saja aku tidak membahas soal hantu. Kau akan baik-baik saja. Seandainya-" sehun menghentikan ucapannya ketika sebuah jari telunjuk tepat berada di depan bibirnya.

" Aku mencintaimu apa adanya Sehun. Tak peduli kau itu orang aneh, cenayang, medium atau apalah. Xi Luhan tetap mencintai Oh Sehun. Kalau aku memang dalam bahaya, aku yakin pasti Hunna akan melindungi hyung kan..? " Sehun mengangguk cepat. " Jadi...

" Apapun yang terjadi, jangan menyalahkan dirimu ne...? " ancam Luhan lucu. Sehun tersenyum kecil dan meng'iya'kan perkataan Luhan. Setelah itu, mereka berdua berpelukan dan saling berbagi kehangatan.

Tiba-tiba, sehun menangkap suara banyak lebah berterbangan di sekitar mereka. Segera Sehun melepaskan pelukannya dan menyembunyikan tubuh luhan di belakangnya. " Ada apa Sehun..?" tanya Luhan bingung.

" Kau mendengarnya hyung? Suara aneh di ruangan ini..!? " Luhan diam dan mencengkram lengan Sehun. "S-suara lebah itu? " Sehun menganggukan kepalanya dan semakin menggenggam jemari Luhan. Ia bisa merasakan keringat dingin mengalir di telapak tangan kekasihnya.

Genggamannya semakin erat ketika melihat sebuah boneka besar dengan bau yang sama busuk dengan sosok hitam di kelasnya, melayang ke arah mereka. Ketika Sehun ingin menarik Luhan lari, ia melebarkan matanya merasakan kakinya sama sekali tidak bisa bergerak. ' Ini sama seperti Ibu...! Bagaimana ini...?' batinnya takut. Entah kenapa, suara yang dikeluarkan boneka besar itu semakin kuat dan hebat. Sehun menoleh ke belakang dan menemukan wajah manis Luhan yang tengah tersenyum lembut ke arahnya, meskipun sedari dari tadi air mata terus mendesak ingin keluar dari tempatnya. Luhan tetap berusaha terlihat tenang di hadapan Sehun. Kakinya juga sama sekali tidak bisa di gerakkan. Melihat kantong busuk itu terus mendekat ke arah mereka, Luhan menghela nafas pelan dan memeluk punggung kekasihnya. Ia menyandarkan kepalanya di punggung Sehun dan berucap lirih. Setetes air mata jatuh membasahi pipi halusnya.

" S─Saranghae... Oh Sehun... "

.

.

.

To Be Continued

Author's note : Terimakasih untuk yg telah mereview,memfollow,dan memfav. Damien mau ngasih tahu, untuk selanjutnya,mungkin tidak bisa sering update seperti sekarang,karena Damien sendiri sibuk dengan sekolah. Tapi kalau ada waktu, akan Damien usahakan :-)

Terimakasih banyak.