My Symphony

Malam ini terasa berbeda. Sasuke masih tidak bisa tidur hingga sekarang. 'Pukul berapa sekarang?' pikirnya yang mulai melihat jam di sisi kanannya. Ah sial. Sudah selarut ini dia masih belum dapat tidur. Ditambah lagi dia terus memikirkan Naruto. Apa ini gara – gara ciuman darinya? Sunggu ia belum pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan saat bersama mantan – mantannya dahulu.

Sasuke mengerang frustasi. Bagaimana cara agar dia tidur secepat mungkin. Besok ia harus menyaksikan penampilan Naruto. Dan ia bersumpah tidak akan melewatkan sedetik pun. Dan cara terampuh untuk tidur adalah dengan obat tidur. Sasuke hanya bisa berdoa setelah ini. Semoga dia terbangun di waktu yang ia inginkan.

"Gugup?" Kushina menatap sang putri yang tengah duduk gelisah di ruang make up. "Tenanglah. Kau tampak luar biasa saat ini." Puji Kushina tulus. Naruto tersenyum manis pada sang Ibu. "Kau sudah berusaha keras. Tunjukan siapa Uzumaki Naruto pada mereka." Kushina tahu betul cara memberikan semangat pada sang putri. Lihat tangan Naruto kembali menghangat dan wajahnya sudah tak pucat lagi. "Thank you, Kaa-chan." Kushina membalas senyuman Naruto.

MC sedang membuka acara sekarang dan Naruto sudah bersiap menjadi penampil pertama dalam acara menyambutan murid baru. Naruto mungkin sedang diremehkan sekarang. Seorang murid baru menjadi penampil utama? Para guru, staff dan petinggi lain mungkin sedang melihat keputusan Tsunade dalam memilih Naruto dan menunggu kesalahan serta hal memalukan yang akan Naruto lakukan kelak.

"Jangan harap itu akan terjadi." Naruto menyeringai. "Doakan aku Kaa-chan." Kushina mengangguk seraya tersenyum. "Doaku selalu menyertaimu putriku. Demi kebahagiaanmu."

Sumpah serapah terus terlontar dari mulut Sasuke sepanjang jalan menuju Aula DH. Ia terus mengumpat pada alarm yang lupa ia atur. Dengan kecepatan berkemudi hingga kecepatan berlari Sasuke terus berharap jika dia tidak ketinggalan sedikit pun penampilan Naruto.

Sumpah serapahnya semakin menjadi – jadi saat Sasuke mendengar suara nyanyian yang terdengar samar dari luar aula. Kecepatan larinya semakin meningkat hingga tiba di dalam aula. Sasuke terdiam saat melihat sosok indah yang sedang bernyanyi di atas pentas. Cantik sangat cantik, pikirnya.

Surai pirang yang bergelombang, make yang tipis serta gaun putih yang menampakan punggung indah Naruto tersemat indah di tubuhnya. Rasa lelah saat berlari barusan mendadak hilang. Seolah semua sudah terbayarkan walau ia sedikit terlambat.

Aula terasa begitu tenang. Para penonton begitu khusyuk mendengarkan alunan nyanyian Naruto. Banyak dari mereka yang meneteskan airmata karena terlalu menghayati. Bulu roma Toneri seketika meremang. Terbayang lagi penampilan Kushina saat masih bersekolah dahulu. 'Perasaan apa ini?' Toneri kebingungan terasa deja vu.

Bahkan Mr. Uchiha dan Yamanaka tak bisa melepaskan pandangannya dari Naruto. Benar, mereka sempat berpendapat jika Naruto akan menghancurkan acara pembukaan ini. Karena banyak orang penting dan stasiun Tv ternama yang datang serta meliput acara ini. Namun sunggu mengejutkan. Naruto dapat membuat atmosfer di aula ini. Membuat seisi ruangan hanyut dalam nada yang ia bawakan.

Tsunade tak henti – hentinya meneteska air mata. Penampilan pertama dari Naruto sangat membuatnya bangga. "Aku yakin kau bisa." Ujarnya sembari tersenyum.

Lagu yang Naruto bawakan sudah sampai kelirik terakhir. Saat Naruto berhenti bernyanyi tepuk tangan menyusul dan bergemuruh. Tatapan bangga dan takjub terpancar dari para penonton. Naruto bangga? Tentu. Dia sudah berhasil menaklukan mahluk – mahluk di ruangan ini.

Namun ia belum merasa puas. Itu di karenakan Naruto sadar. Jika perjalanannya masih panjang. Dan halangan yang ia temui akan semakin sulit untuk di tembus. Tidak ada waktu untuk berpuas diri saat ini.

Naruto menuruni panggung. Dengan cepat Sasuke menghampiri dirinya dengan seikat bunga. "You're so amazing." Pujinya. "Thanks, Sas." Naruto tersenyum manis. Jika mereka hanya berdua saat ini. Mungkin Sasuke akan langsung melumat bibir indah Naruto.

"Waa. You're so amazing. What your name." Uchiha Mikoto istri dari Mr. Uchiha menghampiri Naruto antusias. "Hei my son. She your girlfriend?" Mikoto menyikut Sasuke. "Bu-.."

"Hn, begitulah." Sasuke memotong perkataan Naruto dan membuat menganga seketika. "Ibu bangga padamu." Mikoto memeluk tubuh sang putra. Sungguh jawaban Sasuke bukan sebuah kebohongan. Karena Naruto cepat atau lambat akan menjadi miliknya.

"Kami benar – benar bangga pada mu." Suara berat itu tiba – tiba muncul dari belakang Mikoto dan Sasuke. "Mr. Uchiha, Mr. Yamanaka." Naruto membungkuk hormat seanggun mungkin. "Panggil aku Tou-san. Ku dengar kau adalah kekasih putra bungsuku." Fugaku menepuk pundak Sasuke. "B-baik, Tou-sama." Naruto hendak berontak karena disebut sebagai kekasih Sasuke. Namun lihat situasinya sekarang. Ia bisa dekat dengan Uchiha Fugaku. Masa depannya akan cerah.

"Tou-san kau tidak perlu berkecil hati. Karena Naruto adalah sahabatku." Tiba – tiba Ino muncul dari belakang dan langsung merangkul lengan Naruto. "Benarkah? Waah putriku. Kau benar – benar pandai dalam memilih teman." Puji Inoichi sembari menepuk sayang putrinya. Ya perang orang yang paling dekat dengan Naruto pun dimulai. Naruto sedikit merasa sebal namun ia menikmatinya sekarang.

MC mulai mengumumkan acara kedua. Kini Naruto dan Ino harus mempersiapkan diri untuk tampil. Saat mereka menaiki panggung tepuk tangan bergemuruh disepenjuru ruangan. Murid baru dengan penampilan yang menakjubkan berduet dengan putri dari penyanyi ternama keturunan Yamanaka. Ini akan menjadi kolaborasi yang mengagumkan.

Benar dugaan mereka. Dari awal hingga akhir penampilan Naruto dan Ino mampu membuat penonton terbawa suasana. Bahkan membuat terkesan para siswa siswi baru. Pembawaan mereka begitu leluasa, fresh dan ceria. Mungkin mereka adalah pasangan duet paling serasi yang pernah ada di DH.

"Arrgghh." Naruto mengerang saat tubuhnya mendarat diempuknya rerumputan. Pertunjukan tadi benar – benar sangat melelahkan. Tapi dia menikmatinya. Orang – orang menyebut – nyebut namanya, memuji dirinya dan mengagung – agungkannya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Sasuke menaikan sebelah alisnya. Siapa yang tidak merasa aneh saat melihat Naruto senyum – senyum sendiri? "Bukan apa – apa." Elak Naruto. "hn." Sasuke melemparkan jus kaleng untuk Naruto. "Thanks."

"Kau sangat menakjubkan hari ini. Kau berhasil memukau semuanya." Sasuke mendudukan dirinya tepat di samping Naruto yang sedang berbaring. "Aku tahu." Tuturnya Naruto santai sembari memejamkan mata. "Kau tahu? Kau benar – benar unik. Orang kebanyakan tidak akan menjawab itu saat dipuji."

"Aku tidak harus sama seperti orang lain bukan? Aku adalah aku." Naruto bangkit dari posisinya untuk meminum jus kaleng pemberian Sasuke.

"Hn. Setelah ini apa yang akan kau lakukan? Kau sudah berhasil." Sasuke melirik Naruto yang sedang minum dengan ekor matanya.

"Berhasil?" Naruto berhenti minum dan membalas lirikan Naruto. "Belum Uchiha Sasuke. Perjalananku baru akan di mulai." Naruto menyeringai. Sasuke hanya terdiam. Jujur saja sebenarnya dia tak mengerti apa maksud ucapan Naruto. Namun ia hanya mengabaikannya. Biarkan itu menjadi kejutan untuknya.

Yah perjalanan Naruto yang sesunggung baru akan dimulai. Tujuannya adalah kancah dunia dan menjadi Diva seperti sang ibu Kushina. Naruto tidak akan berhenti hanya sampai sekarang. Kepopuleran disekolah itu bersifat sangat sementara dan tidak kekal. Dapat lenyap begitu saja.

Keesokan harinya Dream High menjalani rutinitas seperti biasa. Berlatih, materi dan praktek musik. Pada dasarnya orang yang berbakat akan di perlakukan berbeda. Contohnya saja Hinata dan Ino. Mereka adalah keturunan pemusik ternama di Konoha. Saat pelajaran musik berlangsung mereka akan keluar ruangan untuk dilatih secara pribadi oleh guru yang lebih handal.

Sekarang Naruto sudah masuk bagian dari mereka. "Naruto-chan benar – benar menakjubkan. Ayahku sampai tidak bisa berkomentar." Hinata terus memuji takjub dirinya di sepanjang koridor menuju ruang pelatihan khusus. Dan terlebih lagi para junior baru mereka terus menatapnya dengan tatapan kagum dan tidak percaya.

"Naru One-chan sugoi desu." Celetuk Junior frontal. Naruto hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka. "Naruto sekarang populer ya." Ino terkekeh dan hanya mendapat sikutan dari Naruto.

Setibanya di ruang latihan. Naruto harus dikjutkan kembali dengan guru yang akan melatih dirinya. " -.."

"Tou-san." Ralatnya cepat dan membuat Naruto terdiam. Baiklah sekarang dia tahu dari mana datangnya sifat Sasuke. "T-tou-sama." Beo Naruto.

Sasuke menyikut sang ayah. Dan mendeathglare sang ayah. Syukurlah sang ayah sudah kebal dengan tatapan sang anak sehingga ia hanya menggapnya seperti angin lalu. "Aku adalah pelatih khusus kalian sekarang." Jelas Fugaku. Benar dirinya adalah pelatih untuk siswa dan siswi kelas 2. Sedangkan Toneri melatih siswa siswi kelas satu.

"Lalu kenapa dia ada di sini?" Naruto menunjuk lancang ke arah Sasuke. Tidak seharusnya Sasuke berada di sini disaat jam pelajaran di mulai. Ditambah lagi Sasuke adalah siswa kelas tiga yang harus mengikuti ujian. Fugaku hanya melirik sang anak tanpa menjawab. Lebih tepaynya dia sudah tahu alasan sang putra berada di sini. Bukan kah Fugaku ayah yang peka?

"B-bukankah anda harus belajar Uchiha-san? Anda sudah kelas tiga." Tanya Hinata gugup. "Tanpa belajar pun aku sudah bisa lulus." Jawaban cuek dari membuat Hinata tersentak. "M-maaf atas kelancangan saya."Hinata tertunduk. "Tidak perlu kau tanggapi jawabannya, Hinata. Apa pun jawabannya dia harus keluar dari sini dan tidak mengganggu kita." Naruto menaikan kerah bajunya dan mendorong Sasuke keluar dari ruangan.

"Ho-.." Belum sempat Sasuke memprotes. Naruto sudah membanting kuat pintu di depan wajahnya dan membuat urat kesal muncul di dahi Sasuke. Kalian tahu, tidak ada wanita yang pernah melakukan ini padanya.

"Jangan terlalu keras pada Sasuke. Dia belum pernah bolos sebelumnya." Fugaku menenangkan Naruto yang sedang kesal akibat ulah Sasuke. "Tapi Tou-sama. Aku tidak bisa berkonsentrasi saat Sasuke menatapku ketika latihan." Dustanya. "Aku paham." Angguk Fugaku.
Naruto mengumpat dirinya karena harus kesal atas ucapannya Sasuke terhadap Hinata. Tidak seharusnya ia memiliki perasaan lebih pada Hinata selain batu loncatan. 'Sudahlah. Yang sudah terjadi biarlah terjadi.' Batin Naruto.

Mereka pun memulai latihannya. Banyak hal yang di ajarkan Fugaku. Naruto sedikit terkesima karnanya. Namun Ibunya tak kalah hebatnya dalam menjelaskan. Jika boleh Naruto jujur. Kushina sudah mengajarkan materi ini sebelumnya, bahkan untuk materi berikutnya. Jadi jika sedikit mengabaikan Fugaku tidak masalahkan?

Naruto merebahkan tubuhnya diatas sofa depan TV. Uang sewa rumah sudah masuk ke rekening banknya. Terbesit di dalam otaknya untum pergi berbelanja. Namun ia harus mengurungkan niatnya. Jika uang itu habis dan sesuatu terjadi kelak maka ia akan kerepotan.

"Haaah." Naruto menghela nafas. Dan sekarang apa yang harus dia lakukan? Bersantai? Tidak ada waktu untuk bersantai sekarang. Naruto harus terus berjuang sampai tujuannya tercapai. Kembali kepertanyaan sebelumnya. " Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

"Bersabarlah sayang. Semua perlu proses." Tutur Kushina sembari membawakan Ramen kesukaan Naruto di tangannya. "Aku tidak sabar, Kaa-chan. Kau sudah menjadi Diva saat seusia ku." Rengek Naruto. "Itu Karena Status orang tuaku dulu sayang." Kushina meletakan Ramen di atas meja depan Naruto. "Dan juga keuangan keluarga dulu sangat mendukung. Tapi situasimu sekarang berbeda." Kushina membelai sayang surai pirang putrinya. "Kau hebat. Bisa sampai sekarang dengan usaha dan kondisimu sekarang."

"Ini semua berkat Kaa-chan. Kaa-chan yang selalu memberiku dukungan. Jika tidak mungkin aku tidak menjadi apa pun sekarang." Naruto menyandarkan kepalanya di dada Kushina. "Aku akan melakukan apa pun demi kebahagiaanmu. Demi Kebahagiaan mu jugalah aku tetap berada di sisimu."

Braaaaakkkk..

Kushina dan Naruto terlonjak hebat. Pintu kamarnya mendadak terbuka dan tampaklah sosok yang membuka pintu dengan tidak elit itu. "Conan sensei." Raung Naruto.

"Naruto kyaaaaa kau hebat sekali." Conan melompat dan langsung memeluk Naruto. "Ah terimakasih." Naruto sedikit kesulitan bergerak akibat ulah Conan. "Kau tahu kau tahu kau tahu?" tanyanya antusias membuat Naruto menyerengit tidak mengerti. "Apa?"

"Kau mendapat undangan untuk tampil di teather dalam pembukaan festifal musim dingin di Konoha." Naruto tertegun mendengar ucapan walinya itu. Ini hebat, pikirnya. "Di sana ada duta asing. Para petinggi negara dan para CEO perusahaan ternama seluruh dunia. Walaupun berstandar Nasional namun tamunya berkelas Internasional." Raung Conan penuh semangat.

"Thank you sensei." Kini Naruto yang memeluk sang guru. Dan Conan pun dengan senang hati membalas pelukan Naruto. "Aku akan melakukan apa pun untuk membuat mu menggapai impian mu Naruto." Tuturnya tulus. "Arigato." Bisik Naruto lagi. Conan adalah orang kedua yang ia sayangi setelah ibunya. Naruto tidak pernah sedikit pun menganggap Conan seperti bangku loncatan. Karena Conanlah yang membuatnya bisa lahir di dunia ini.

Kushina tersenyum menatap sang murid dan anaknya. Ia pun turut memberikan pelukan hangat untuk keduanya. Mungkin saja Conan tidak bisa melihat dirinya saat ini. Namun Kushina yakin. Jika Conan bisa merasakan pelukan yang ia berikan.

Ini adalah langkah kedua bagi Naruto untuk menggapai impiannya. Dan dia harus tampil semaksimal mungkin kelak. Sesuai informasi yang di berikan Conan jika Naruto hanya memiliki waktu latihan selama 5 hari. Waktu yang sangat singkat emang. Tapi itu bukan kendala untuk Naruto. Dan Naruto sudah memutuskan jika ia akan berlatih dengan sang ibu.

Kabar bagus untuknya. Jika di festival itu akan ada agensi yang bisa membuatnya menjadi Diva jika Naruto dapat mencuri hatinya melalui bakat yang Naruto punya saat ini.

Untuk Fugaku? Ia sudah menawarkan diri untuk membantu Naruto berlatih. Namun dengan tegas Naruto menolak. Jika ia akan berlatih dengan Sasuke. Dan Sasuke hanya sebagai tumbal alasan. Karena hanya Sasuke yang tahu keberadaan dan kondisi sang ibu sekarang.

Bersambung...

Review?