Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Hurt/Comfort, Romance

Warning: AU, OOC, Typos, EYD tidak diperhatikan, Crack pairing, Love/hate relationship.

Don't like? Don't read.


.

.

Pagi hari, langit cerah, udara sejuk, burung bernyanyi, angin berhembus lembut. Hari yang sangat indah. Sayang, tidak seluruh kota Konoha menikmatinya. Jika kita perhatikan lebih jauh, kediaman Uchiha, lebih tepatnya di meja makan, penuh dengan awan gelap.

"Pagi yang menyenangkan, bukan?" senyum Mikoto membuka celoteh pagi.

Sasuke merengut. Hinata tersenyum dengan mata memohon pertolongan. Hanabi menggelengkan kepala prihatin.

"Ayo Sasuke, Hinata, bersiap-siap, kalian harus berangkat lebih pagi." ujar Mikoto melanjutkan celotehannya.

Sasuke menghela nafas, beranjak dari kursi dan membawa tasnya, disusul dengan Hinata sedikit terburu-buru. "Kami berangkat!" kata Hinata.

Sudah tiga hari kedua orang yang saling benci itu berangkat dan pulang bersama dengan berjalan kaki serta menaiki bis. Di hari pertama, tidak ada ada hal yang terjadi, walaupun dalam pikiran Hinata terus terngiang tentang mimpi buruk bersama Uchiha Sasuke. Sebenarnya, harus berangkat dan pulang bersama si Tuan Jail ini juga merupakan mimpi buruk sih, tapi mengingat sejak mendapatkan hukuman dari Mikoto-baachan Hinata tidak pernah lagi terkena jebakan betmen dari Sasuke, hal itu merupakan anugerah yang patut disyukuri. Mungkin karena pekan ujian, jadi Sasuke tidak mau cari ribut seperti hari pertamanya.

Tetapi, kemarin terjadi kejadian kecil antara dua remaja tersebut. Begini kisah kecilnya.

Seperjalanan pulang, Hinata yang selalu menjaga jarak semeter dari Sasuke dengan posisi laki-laki itu berada didepannya, menghela nafas. Menatap punggung Sasuke membuatnya mengingat tentang mimpi buruk yang sudah dua kali datang. Demi apapun itu adalah dua mimpi terburuknya selama ia hidup. Bayangkan saja, dimimpi pertama, Sasuke menjadi baik, selalu tersenyum manis, memperlakukan Hinata sebagai putri, ya ampun, membayangkannya saja sudah menyeramkan, apalagi melihatnya? Hinata tidak habis pikir, kemana pikirannya sebelum tidur?

Kemudian yang kedua, berdansa dan dicium Sasuke?! Lebih-lebihnya lagi, dibibir! Kenapa tidak Naruto saja?! Kalau Naruto, Hinata rela deh sepenuh hati. Namun, jika dipikir-pikir Hinata selalu bermimpi aneh setelah Sasuke mengerjainya habis-habisan. Apakah hal tersebut saling berkaitan? Kening Hinata mengkerut karena berpikir keras.

Gadis itu kemudian menunduk, memejamkan mata rapat-rapat dan menggeleng-gelengkan kepala, berusaha melupakan, menyadarkan diri. Tidak penting, tidak penting. Lebih baik pikirkan ujian besok.

"Dasar aneh."

Hinata segera menghentikan langkah ketika mendengar komentar Sasuke, ia mendapati wajah laki-laki itu kini berada tepat didepannya, menatapnya, sejajar dengan wajahnya. Nafas Hinata tertahan, sejak kapan Sasuke ada didepannya? Putri sulung Hyuuga Hiashi, tidak bisa bergerak. Hal yang dilakukan Sasuke membuat otak Hinata secara otomatis memutar ulang adegan-adegan mimpi yang lalu bagaikan film di layar lebar. Wajah Hinata mulai berubah warna, tanpa sadar gadis itu jadi menggumam tidak jelas. "U-um..." pikirannya sudah tidak bisa dikontrol.

Sasuke yang secara langsung melihat reaksi serta wajah Hinata memerah ingin tertawa, membuat jiwa iseng yang selama ini disimpan beberapa hari perlahan muncul. Sehingga yang dilakukan Sasuke bukan menjauh, malah mendekatkan diri tanpa mengetahui efek yang akan ia berikan kepada gadis didepannya "Aku mengerti sekarang." ujar Sasuke asal tanpa maksud tertentu dengan suara beratnya.

Mendengar suara berat Sasuke, Hinata merasa jantungnya berdegup tak karuan hingga terngiang di telinganya sendiri, 'Mengerti? Tentang apa? Mengerti tentang mimpiku? Tidak.. jangan sampai dia tau' batin Hinata bergejolak.

Gadis itu mencoba tenang, tetapi tidak bisa. Mencoba bernafas normal, tetapi terasa seluruh udara disekitar mereka menghilang membuat Hinata sulit melakukannya. Mencoba mengalihkan pandangan, tetapi mata bewarna onyx milik Sasuke seperti mengunci. Hinata merasa seperti ada gelombang yang melewati tubuh dan berhenti di dada. Keringat dingin pun mulai muncul di pelipis sang lavender.

Sasuke semakin dekat. Hinata sebagai lawan main merasa familiar dengan posisi ini. Sasuke pernah melakukan hal sama di mimpinya. Semakin kecil jarak antara mereka membuat Hinata secara reflek malah memejamkan mata rapat-rapat. Ia benar-benar mengantisipasi kejadian berikutnya. Hinata benci ini, hal-hal seperti inilah yang membuat Hinata sangat ingin menghindari Sasuke. Laki-laki itu benar-benar berbahaya, Hinata cuma bisa berdoa dalam hati Sasuke masih berkelakuan wajar, karena jujur Hinata gak bisa bela diri.

Dengan jarak yang sangat kecil, Sasuke pun mulai memperhatikan wajah Hinata dengan jelas, mata laki-laki itu menjelajah seluruh pemandangan yang tersaji. Alis, turun menuju hidung, kemudian pipi Hinata yang sedang memiliki warna diantara kulit putih, serta bagaimana gadis itu merapatkan mata.

Seketika, berkat hukum sebab akibat, konsentrasi Sasuke untuk menjaili orang didepannya menghilang, diganti dengan detak jantung yang ritmenya sedikit meningkat dan terus meningkat, memompa darah ke bagian wajah, menimbulkan rona tipis muncul perlahan. Mata lelaki itu kini memperhatikan bibir Hinata, pikirannya seolah mengawang, 'Merah, dan sepertinya lembut, manis.'

Tunggu..Sasuke kemudian tersadar, karena salah tingkah ia memilih menarik diri, kemudian berdeham perlahan, membuat Hinata mengintip. Lalu melangkah pergi dan berkata, "Cepat!" meninggalkan Hinata yang masih berusaha mengatur kecepatan jantungnya juga.

.

.

.

The Sparks

.

.

.

Hari yang indah dan merupakan hari terakhir ujian, di jam istirahat semuanya masih terlihat damai dan tentram, tapi tak bertahan lama, hingga...

"APA?!" seru Naruto ketika mendengar cerita Sasuke tentang Hinata menetap sementara di kediaman Uchiha. Seluruh kelas langsung melihat ke sumber suara, membuat Sasuke ikut menatap tajam dan menyadarkan Naruto untuk memikirkan sekeliling. Ia kemudian cengengesan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal sebagai tanda minta maaf, tak lama keadaan kembali kondusif, maklum hari ujian semua berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, walau di waktu istirahat seperti ini.

Setelah itu, Naruto pun kembali fokus pada Sasuke yang berada didepannya, "Sudah seminggu lebih dan kau baru bilang sekarang?!" seru Naruto lagi, tetapi kali ini sambil berbisik.

"Karena itu tidak penting."

"Tidak penting bagaimana, Teme?! Gadis itu tinggal bersamamu! Kau gila."

Sasuke hanya menatap Naruto sambil mengangkat alisnya.

"Dengar, jika dari awal ku tau tentang ini, aku tidak akan setuju dan akan mencegahmu untuk menjadikannya korban."

Sasuke terdiam.

"Lihat dirimu. Kau sudah dapat ultimatum dari ibumu, kenapa masih berani kau lakukan?"

"Karena dia biasanya bekerja dan tidak dirumah, Dobe. Kenapa kau cerewet sekali?"

Naruto menghela nafas, "Sudahlah, ku tak peduli. Seperti kubilang, kau sudah terkena karma."

Sasuke tak bergeming, ia kemudian mengalihkan pandangan ke jendela koridor, tak disangka menemukan sosok familiar yang selalu bersama saat pulang dan berangkat sekolah sedang melewati depan kelas. Gadis berambut indigo kucir kuda. Entah mengapa, Sasuke merasa Hinata melangkah agak pelan dibanding dengan siswa-siswa lain saat melewati depan kelasnya. Sasuke mulai memperhatikan, mendapati mata gadis itu melirik sedikit kearah tertentu. Sasuke heran dengan kelakuan gadis itu, ia pun mencoba mengikuti arah lirikkan Hinata.

'Naruto?' kemudian fokusnya kembali ke Hinata. Gadis itu sendiri merasa diperhatikan, membuat mata mereka bertemu tanpa sengaja. Lalu, dengan wajah stoic, Sasuke menunjuk Naruto sambil terus menatap lurus pada Hinata.

Sontak, hal tersebut membuat Hinata menahan nafas dan menelan ludah, serta menghentikan langkah sejenak. Tak perlu waktu lama untuk Hinata memalingkan wajah dan berlari. Mata Sasuke terus mengikuti hingga bayangan gadis itu hilang dari pandangan. Kata aneh berputar-putar dalam kepala Sasuke setelah melihat reaksi Hinata.

"Ada apa Teme?" Naruto bingung jari Sasuke mengarah padanya.

Sasuke mengalihkan perhatiannya kepada Naruto, dan mengobservasinya dari atas kebawah sejauh dirinya dapat memandang. 'Apa yang dilihatnya dari si Dobe?'

.

.

Jam ujian terakhir selesai. Lagi, Hinata mengistirahatkan kepalanya diatas meja. Selama ujian, beberapa kali pikirannya melayang, menuju masa dimana Sasuke memergokinya memperhatikan Naruto. Tunggu, bahkan itu tidak bisa dibilang memperhatikan karena Hinata hanya melirik! Melirik. Bedakan itu.

Oh Kami-sama.. apa salah Hinata?

Hinata sedikit membenturkan kepalanya ke meja, berharap dengan begitu dia melupakan kejadian tersebut. Gadis itu mengaduh, merasakan sakit membuatnya duduk tegak sambil mengelus-elus kening, memandang sekeliling hanya tinggal satu siswa lain yang masih berada dikelas dengannya, melihat jam Hinata menyadari dirinya sudah berada di kelas selama 12 menit setelah bel pulang berbunyi, semua siswa sudah berbondong-bondong keluar mengingat ini hari ujian terakhir, mereka semua pasti merayakannya, tapi ia tak peduli. Hinata tidak kuat jika harus bertemu Sasuke untuk pulang bersama setelah kejadian tersebut. Tidak kuat.

"Oi, Hinata-chan!"

DEG!

'S-suara itu...' seketika tubuh Hinata terasa beku ia tidak berani melihat penyebut namanya.

"Benarkan itu Hinata?"

Ia merasa langkah kaki orang yang memanggilnya mendekat. Tiba-tiba Hinata merasa seseorang menepuk pundaknya, "Hinata-chan, kau kenapa?"

Ah.. pangeran berkuda putih. Impian Hinata. Dan ia tidak bermimpi. Naruto, ada didepannya! Ia tak bisa berkata apa-apa.

"Lama." tunggu, kalo suara itu.. Hinata perlahan menengok ke belakang. Setelah meyakinkan pelakunya, gadis itu menggigit bibir.

"M-maaf, Uchiha-san." Hinata segera berdiri dan merapihkan barang-barang yang masih berserakkan diatas meja. Ia benar-benar grogi, bayangkan saja, dirinya diperhatikan oleh dua orang pertamanya dalam daftar yang berbeda. Satu yang ia benar-benar sukai dan harapkan jadi pangeran berkuda putihnya, satu lagi benar-benar ia benci dan diharapkan juga sih, tapi diharapkan menghilang dari peradaban dunia.

"Sini biar kubantu."

"Eh.." cicit Hinata ketika menyadari Naruto mulai menyentuh dan mengambil beberapa barangnya. "T-tidak u-usah.."

"Tidak apa," balas Naruto, "ini." lanjutnya sambil memberikan Hinata beberapa barang yang sudah ia kumpulkan.

Hinata menerimanya, berusaha bersikap normal. Ternyata agak sulit untuk menjaga sikap serta berusaha untuk tidak menahan nafas didepan orang yang disuka.

"Cepat." suara Sasuke nimbrung lagi di acara impian Hinata.

Sedikit terkejut dan sadar akan dunia nyata, Hinata langsung bergerak cepat untuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Selesai.

"Ayo, Hinata-chan!" ajak Naruto yang mulai melangkah dan berjalan meninggalkan kelas.

Hinata menggeleng-gelengkan kepala, 'Kami-sama, ini bukan mimpi, kan?' ia tersenyum senang. Tapi tak lama senyumannya hilang, dan diganti dengan perasaan merinding.

Ia melirik, mendapati Sasuke sedang menatapnya, "Um.. A-ano.." Hinata membuka suara.

Tanpa mendengar lebih lanjut Sasuke melengang pergi, meninggalkan Hinata yang masih membeku dengan kata-katanya, tak lama gadis itu tersadar kalau harus menyusul. Ia akhirnya melangkah, membuat dirinya sekarang berada di belakang dua lelaki tersebut.

Di gerbang sekolah, dengan pikiran mengawang-awang, Hinata mulai menyadari bahwa ini merupakan hal aneh. Hinata merasa bahwa Sasuke tak ingin orang lain tau bahwa ia dan dirinya tinggal bersama sementara, sedangkan jika begini, Naruto bisa tau hubungan Sasuke dengannya. Apa mungkin Sasuke sudah memberi tau Naruto tentang hal ini?

"Setuju jika ramen? Aku yang traktir!" kata Naruto yang tiba-tiba berenti didepan Hinata, menengok untuk bertanya pada gadis itu sambil tersenyum lebar, hal tersebut membuat Hinata menghentikan langkah mendadak dan mengerjapkan mata bingung. Perlahan wajahnya terasa panas, ia hanya bisa tersenyum malu dan mengangguk pelan.

"Yosh! Ayo jalan!" seru Naruto ketika menerima jawaban Hinata.

Sasuke memperhatikan setiap reaksi yang diberikan Hinata, lelaki itu mengobservasinya, berencana setelah itu menemukan jalan untuk mengerjai Hinata, dan semakin Hinata bereaksi terhadap Naruto, entah mengapa Sasuke merasa semakin tinggi juga rasa tidak suka kepada gadis itu.

.

.

Seperjalanan pulang, Hinata dan Sasuke kini tinggal berdua, bagi Hinata hari ini sangatlah menyenangkan. Ralat, cukup menyenangkan mengingat Sasuke berada diantara dirinya dan Naruto. Gadis itu masih berpikir apakah Naruto sudah tau kebenarannya, apakah Sasuke tidak apa jika ada orang lain tau?

Kali ini Hinata mempercepat langkah, mencoba mendekati Sasuke, jarak semeter berubah menjadi 30 centi dan kini posisinya sudah berada disamping Sasuke. "A-ano.." Hinata menunduk sambil memainkan jari, terkadang ia melihat kearah Sasuke yang sama sekali tidak meliriknya, Hinata sendiri mencoba mengikuti langkah cepat Sasuke.

Mendapati tidak digubris, Hinata tetap mencoba memenuhi rasa ingin taunya, "A-apakah N-Naruto-kun tau?"

'Naruto-kun, huh?' pikir Sasuke. Memang sudah sedekat apa si cewek pucet ini sama Dobe, perasaan kenal juga baru kemarin-kemarin ini, sedangkan Sasuke yang konon katanya udah kenal Hinata dari kecil aja masih dipanggil Uchiha-san. Sasuke mengendus, agak kesal sebenarnya, tapi hal itu ia tak pikirkan lebih jauh. Sepele.

Hinata masih menunggu jawaban Sasuke, berpikir apakah suaranya terlalu kecil.

"Iya, dia tau. Jika maksudmu tentang kau tinggal bersama kami." tiba-tiba Sasuke menjawab.

"K-kenapa?"

Sasuke menghela nafas, kali ini dia mencoba bersabar dengan Hinata yang sedang memilik rasa ingin tau. "Dia ingin merayakan selesainya ujian sepulang sekolah, aku setuju, dan jika aku tiba-tiba mengajakmu itu hal aneh, mengingat aku harus 'menjagamu'."

Hinata ber-'oh' ria, lalu tersenyum, ia senang Naruto sekarang jadi makin sadar akan keberadaannya setelah Sasuke cerita akan hal itu.

"Tapi," Sasuke melanjutkan membuat Hinata mengalihkan seluruh perhatian kepada laki-laki yang lebih tinggi disampingnya ini, Sasuke pun menatap wajah gadis itu sekarang.

"jika maksudmu tentang kau meliriknya ketika lewat depan kelas.."

Mata Hinata melebar.

"aku tidak tau." Sasuke tersenyum licik.

Hinata langsung menghentikan langkah dan memegang wajahnya, panik. Sedangkan Sasuke terus berjalan tidak bertanggung jawab, sambil terbayang kelakuan Hinata tadi, cukup lucu, eh?

Sesampainya didepan rumah, Sasuke membuka pagar, mendapati ibunya sama dengan posisi terakhir kejadian perang dunia ketiga, senyum beraura hitam menghiasi wajah ibunya. "Dimana Hinata-chan, Uchiha Sasuke?"

Sasuke menatap malas, ia kemudian melangkah masuk. "Dibelakang."

Ibunya berdiri, "Di.."

Omongan Mikoto terpotong ketika melihat Hinata berada didepan pagar setelah Sasuke berjalan kearah ibunya. Muka Hinata terlihat lunglai.

Mikoto segera menghampiri Hinata dengan khawatir. "Kamu gak apa-apa Hinata-chan?"

Menyadari Mikoto sudah berada didepannya Hinata langsung tersenyum, "Ti-tidak apa-apa." dia melihat Sasuke yang kini tukeran posisi dengan Mikoto, berdiri di teras. Lalu, tersadar akan sesuatu Hinata kembali melihat wanita didepannya, "A-ah.. k-kami pulang bersama k-kok, obaa-chan." ujar Hinata takut-takut ada perang dunia keempat.

"Iya, obaa-chan percaya, tapi kenapa kamu ada dibelakang?" Mikoto melirik kesal pada Sasuke sesaat, kemudian balik lagi ke Hinata dengan mimik khawatir. "Apa Sasuke melakukan sesuatu padamu?"

"Dia lambat." kali ini Sasuke yang menjawab.

"Sasuke!" Mikoto segera berbalik menghadap anak bungsunya.

Yang dibentak malah santai, "Sudahlah, aku masuk."

"Ingat! Jika ada satu goresan saja pada Hinata-chan. Kau lihat akibatnya Uchiha Sasuke, kau tau okaa-san tidak main-main!" teriak Mikoto berkacak pinggang seraya melihat Sasuke berjalan meninggalkan dua wanita itu diluar.

Selesai dengan Sasuke, Mikoto menghela nafas sesaat, kemudian berbalik badan lagi ke Hinata, "Maafkan Sasuke ya, Hinata-chan."

Hinata segera menggelengkan kepala, "T-tidak apa-apa, o-obaa-chan." ujarnya sambil tersenyum, dalem hati ada lajutannya, 'Udah biasa.'

"Tadi obaa-chan sedang pulang cepat, tapi kalian pulang telat. Apa ada sesuatu?"

"U-um, hanya makan bersama." balas Hinata.

Mikoto menepuk tangan dengan gemas mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Hinata, senyum lebar merekah terhias diwajah, seketika ibu dari dua anak itu berubah riang. Ia segera menggandeng Hinata dan mengajaknya masuk.

Hinata yang bingung, ikut aja udah di seret-seret sama Mikoto.

"Kamu pasti lelah sampai rumah sudah sore begini, langsung istirahat saja ya Hinata-chan!" kata Mikoto ketika sudah sampai didalam rumah.

Hinata mengangguk, "T-terima kasih, Obaa-chan"

Gadis itu kemudian melangkah meninggalkan Mikoto yang sedang tersenyum bahagia sambil memegang pipinya. Bagi Mikoto, Sasuke dan Hinata makan bersama selain dirumah merupakan perkembangan yang sangat pesat. Dengan hal ini juga Mikoto merasa Sasuke mulai menyadari perasaannya.

Hinata segera memasuki kamar dan menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan badan sejenak, rasanya lumayan capek hari ini. Tak lama mata Hinata menerawang menuju langit-langit kamar, senyum menghiasi wajahnya mengingat kejadian sepulang sekolah ini. Naruto menraktir makan. Akhirnya setelah beberapa penderitaan yang ia alami, Hinata menerima hasil jerih payahnya bersabar dengan Uchiha Sasuke.

Tiba-tiba senyum Hinata menghilang diganti dengan dahi yang mengernyit. Karena jika dipikirkan lagi, ia bisa bersama Naruto juga gara-gara Sasuke, sih. Ya, Uchiha Sasuke. Haruskah Hinata berterima kasih dengan Sasuke? Bukankah dia orang yang harus Hinata hindari? Dan apa itu tadi saat pulang setelah makan? Apakah Naruto tau bahwa Hinata menyukainya? Kenapa Sasuke memberi jawaban menggantung seperti itu? Gadis itu menggigit bibir. Jika memang Naruto tau, hal itu memalukan sekali.

Hinata memeluk gulingnya erat, tanpa disadari, tinggal bersama Uchiha Sasuke benar-benar membuat harinya bewarna. Ya, mungkin Hinata harus berterima kasih kepada Sasuke, hidup penuh dengan naik turun bukan? Dan Sasuke lah yang membuat Hinata benar-benar merasakan itu.

'Terima kasih, Uchiha-san.' gumam Hinata tersenyum.

Sepertinya ia harus membuat tanda terima kasih. Mungkin besok ia akan memikirkannya, untuk sekarang beres-beres dan tidur nyenyak adalah pilihan Hinata.

Di sisi lain, yaitu kamar Sasuke, memiliki keadaan tak jauh berbeda. Laki-laki itu memikirkan gadis yang berada disamping kamarnya. Tunggu, Sasuke? Memikirkan Hinata?!

Ya, tenang. Sasuke memikirkan cara untuk menjaili Hinata, jujur ia sudah mencari dari jauh-jauh hari, tapi rasanya tidak ada yang tepat. Sasuke tidak pernah benar-benar berpikir untuk mengerjai seseorang sekeras ini. Laki-laki itu bangun dari tempat tidurnya, ingatan demi ingatan tentang Hinata coba ia reka ulang agar menemukan kelemahan gadis itu, tetapi keadaan sekarang cukup sulit, mengingat ibunya memberikan ultimatum harus 'menjaga' Hinata.

Sudahlah, Sasuke menyerah, biarkan saja si domba pucet itu berkeliaran, lagipula sejauh ini Sasuke tidak merasa dirugikan. Malah, hidupnya terasa lebih menarik, memperhatikan gadis itu, tidak buruk juga. Bagaimana ia bereaksi akan hal-hal kecil yang Sasuke lakukan.

Hinata, ia cukup berbeda, pertama ia tidak menyukai Sasuke. Itu perbedaan yang sangat besar. Kedua, dia selalu menjaga jarak dengan Sasuke, hal tersebut cukup membuat Sasuke nyaman, selama ini banyak wanita yang selalu mendekati dan tanpa ragu menatapnya, sedangkan Hinata selalu membuang muka. Pemuda rambut raven itu juga pernah sekali membuang muka ketika pulang sekolah kemarin.

Beberapa hal kikuk Sasuke dapati dari Hinata, ketika berjalan pulang dan pergi sekolah, seperti cara gadis itu bicara, atau tiba-tiba mengepalkan tangan dengan penuh semangat seperti meyakinkan diri, menggeleng-gelengkan kepala, memembenturkan kepalanya ke meja dan masih banyak lagi, padahal selama ini Sasuke berpikir Hinata itu gadis pendiam dan tidak ada hal menarik darinya. Terkadang Sasuke penasaran hal apa yang dipikirkan gadis itu sehingga bisa menghasilkan reaksi yang aneh-aneh ketika berjalan. Hinata itu ekspresif, tapi dengan caranya sendiri.

Tunggu.. hal ini jauh keluar jalur dari topik awal, ia memijit pelipis, memejamkan mata, menenangkan diri, belakangan dia merasa dirinya bukanlah yang dulu. Sejak bertemu Hinata dia jadi banyak tanya juga berbicara lebih daripada yang diperlukan. Apakah ini efek negatif?

Dipikir-pikir Naruto belakangan ini benar juga, tumben-tumbenan si pria rambut kuning itu benar tentang dirinya yang berubah. Ingat Naruto, Sasuke juga jadi ingat kejadian saat jam istirahat dan ketika makan bersama. Sepertinya domba pucet sangat menyukai si Dobe. Tiba-tiba Sasuke mengerutkan dahi. Perkataan ibunya terngiang.

"Ingat! Jika ada satu goresan saja pada Hinata-chan. Kau lihat akibatnya Uchiha Sasuke! Kau tau okaa-san tidak main-main."

Jika hanya goresan, berarti luka fisik bukan? Jadi, kalo lukanya batin, tidak apa-apa bukan?

Sasuke tersenyum kecil. Ia segera mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Naruto, untuk mampir kerumahnya esok, sekaligus melihat reaksi dari si domba pucet. Akhirnya ia memiliki ide bagus. Otaknya memang cemerlang.

.

.

.

-tbc-

.

.

HUEHUEHUE