My Love Is Endless
Cast : SuLay, ChanBaek, Kaisoo, Hunhan, Xiuchen, Taoris, etc.
Rated : T
Genre : Romance, little bit fluffy, fantasy, horror and humor (maybe)
SuLay/Junxing
YAOI/BL/BXB
by
KimDy1001
don't plagiat!
Happy Reading~
«CHAPTER 7»
_
If I had to choose
between loving you and breathin
I would use my last breath to tell you
that I love you
_
"Hoi ayo main ke rumahku!" Teriakan itu sempat menyita perhatian beberapa orang disana.
"Iya tunggu sebentar~~"
Anak kecil berwajah lugu dengan senyuman girang yang rupawan berlari kecil menuju gerbang sekolah, dimana tepat di sana terdapat sang pelaku dengan teriakan melengking tadi. Langkahnya terhenti, anak itu terdiam sejenak sembari mengatur napasnya yang memburu.
"Dimana ibumu?" Tanya yang lebih mungil.
"Ibuku? Kemarin ibuku bilang jika ia memiliki suatu pekerjaan di luar kota. Nah makanya aku ingin kau menemaniku di rumah." Matanya mengamati bocah mungil yang tengah terengah itu, dari atas hingga ke bawah. Menyenangkan menurutnya.
"O Begitukah? Jadi kita ke rumahmu naik apa?"
"Jalan kaki! Kata ibuku jalan kaki membuat kita sehat, seperti popeye!" Kedua lengan mungilnya terangkat dan membentuk pose layaknya seorang binaragawan kecil.
"Ayo kalau begitu!"
Perjalanan mereka tidak lepas dari lontaran canda tawa yang menguar. Bahkan jarak yang kini mereka tempuh pun tak terasa sama sekali, tapi sekarang semuanya diam. Sepertinya sudah kehabisan bahan pembicaraan.
"Jun~ aku capek huwe~"
"Loh Yiyi kok nangis? Dulu kalo aku capek pasti digendong sama appa, sekarang ayo kugendong."
Yang lebih tinggi terlihat melepas tasnya lalu berjongkok di depan lelaki mungil yang sedang menangis karena kelelahan.
"Ayo naik, diem-diem bae!"
Seketika tangisan itu terhenti, berubah menjadi sebuah cengiran konyol menggemaskan khas anak kecil.
Meskipun senggukan itu masih terdengar, tubuhnya kini mulai mendekat lalu menaiki punggung tersebut.
"Let's go~~!"
"Yey~ Jun kamu kayak munyuk ahaha."
Lompatan girang itu terhenti.
"Jadi kamu juga munyuk, kan kamu istriku~!"
"Semoga anak kita bukan munyuk ya~"
"Anak kita bukan munyuk kok, tapi lutung."
"Anak kita unicorn yeay~!"
"Orang tuanya munyuk, anaknya unicorn? Bisakah?"
"Jun anak kita itu corncornie~"
"Wah, hai anakku. Hari ini ayo bergembira bersama appa dan eomma ne~~"
"Ne~"
.
Lantai kayu itu bergema, bergetar sesuai hentakan mantap yang menimpanya.
"Tidak tidak, aku pasti hanya berhayal. Ya Junmyeon atur nafasmu." Nafasnya yang masih tersengal perlahan mulai mereda. Dan pada saat itu juga ia sadar, ada suara lain terdengar dari arah belakang. Tangisan lembut yang menegakkan hampir seluruh bulu kuduk Junmyeon. Ia hendak saja berlari keluar sebelum terselip sebuah suara yang sangat dikenalnya.
Kepalanya menengok pada sumber suara dan ternyata..
"Yixing!?? Kenapa kau menangis?" Junmyeon dengan cekatan segera menghampiri Yixing yang masih mengeluarkan isakan ringan.
Mata sayu berlinang kristal bening itu perlahan terbuka, menatap kosong kearah sang pangeran yang telah menyelamatkannya.
"S-suho, a-aku ta-kut. Aku bermimpi aneh." Jawabnya dengan suara yang lemah dan terbata.
"Ssttt, tenanglah ada aku disini. Tidak ada yang perlu ditakutkan, karena aku akan selalu melindungimu dimanapun dan kapanpun." Suho memeluk tubuhnya, dan mengusap kepalanya ringan. Membawa suasana tenang nan hangat di hati Yixing.
Mata Suho memejam, guna menikmati suhu hangat yang menyalur dari tubuh Yixing. Situasi di kamar itu menjadi sangat tenang sekarang. Hingga..
"Hoi mengapa kau lari pendek?" Suara bariton menginterupsi kegiatan mereka. Ditemani sat- ah tepatnya dua roh di sampingnya. Dengan gerakan yang tiba-tiba Suho membuka mata, diikuti oleh Yixing yang kini menatap mereka dengan raut confusenya.
Suho menatap Jongin dan dua hal aneh yang sedang menatapnya dengan pandangan sayu.
Ketakutannya mendesak, kini kedua mata Suho kembali terpejam, dengan tubuh yang perlahan mundur, menatap tembok di belakangnya, lalu memeluk tembok dingin itu dengan sayang.
"Ya Jongin-ah. Makhluk apa yang kau bawa kemari, kumohon jauhkan mereka dari pandanganku." Ujar Suho melas dengan kedua tangan yang mengusap tembok dengan begitu sensual.
Yixing dibuat semakin bingung dengan topik yang dibahas oleh kedua teman absurd nya. Ditambah lagi seorang roh pemuda berwajah kotak disebelah ibunya.
"Tunggu Suho? Kau bisa melihat mereka?? Kau melihat ibuku? Dan pemuda adudu disampingnya?" Ucap Yixing dengan sekali tarikan napas.
Rentetan pertanyaan Yixing hanya terjawab oleh sebuah anggukan mantap dari Suho yang masih meraba tembok polos itu.
Yixing dibuat sangat kebingungan, matanya memandang Suho, lalu Jongin, ibunya, dan pria asing disana.
"T-tapi bagaimana bisa?" Tanya Yixing masih dengan beribu kebingungan di benaknya.
"Hei elien yang datang tuk takluki bumi, demi koko yang dicari-cari. Siapa kau sebenarnya?" Sebagai pengalih pembicaraan, sekaligus untuk membunuh rasa penasaran dalam hati Jongin menyuarakan pertanyaannya.
Sontak sepasang mata tajam bergulir menatapnya. Jongin hanya bisa menelan ludahnya sendiri, ketika roh itu melayang mendekatinya.
"Aku butuh bantuanmu." Ucap roh itu dengan nada yang cukup menggetarkan jantung.
"Baiklah tuan- tunggu aku harus memanggilmu siapa? Tuan kotak?" Cerocos Suho yang kini sudah mulai meninggalkan tembok mulus bekas belaiannya.
"Jangan panggil aku kotak, namaku Jongdae. Kim Jongdae!" Tegas Jongdae mantap, meskipun Suho yang telah mengatakannya namun tetap Jongin yang jadi korban notasi maut Jongdae.
Suasana berubah semakin sunyi dan mengerikan.
"Bantu aku. Secepatnya."
.
"Aku sangat menyesal telah menurutimu hitam." Raut kusut penuh amarah tercetak jelas diwajah angelic Suho.
"Yak kau yang meminta bodoh!" Apa si hitam manis ini sedang dalam masa libur? Seharian ini sepertinya ia sangat sensi sekali. Suho yang dibuat semakin kesal sungguh sangat ingin menjambak rambut kelam itu dengan kuat lalu mencolok kedua hidungnya menggunakan sumpit ramyun yang sedang berada disela jarinya lalu- oke terlalu anarkis.
"Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini? Yakin ingin membantu si kotak itu?" Sungguh pikiran Suho sangat buntu saat ini.
"Aku bisa mendengarmu." Tiba-tiba saja ada makhluk yang menembus tembok, lalu bergabung bersama dengan dua sejoli black and white itu di dapur.
Mata Jongin terpejam, ia berdiri dengan cekatan.
"Kau ajak Yixing, aku siapkan mobilnya. Ada sesuatu yang sangat penting untuk dilewatkan, ayo cepat." Sembur Jongin tegas. Setelah Suho berlalu, nampak Jongin dan Jongdae bertatapan lalu mengangguk bersama.
Perjalanan yang lumayan jauh rela mereka tempuh saat ini. Dengan Suho yang sedang mendekap tubuh Yixing erat.
"Tunggu! Berhenti disini." Mobil berhenti mendadak setelah mendapat instruksi dari roh kotak itu.
"11! Arah jarum jam, sekarang!"
Ciiitttt...
BRAKK!
Bibirnya melengkung indah membentuk seringaian mematikan yang sungguh mengerikan.
"JONGIN APA YANG KAU LAKUKAN BODOH!" Teriakan melengking Suho terdengar menggelegar di dalam mobil, diikuti dengan ekspresi kaget luar biasanya yang nampak jelas. Begitu pula dengan Yixing, wajahnya nampak pucat pasi dengan mata yang melotot lebar.
"Cepat kalian turun, dan bawa mayat itu di bagasi. Mumpung jalanan masih sepi."
Deretan kata Jongdae mendorong Jongin, dan Suho untuk turun, mengapa Yixing tidak ikut? Ya karena dia sudah tidak bisa berkutik dengan rautnya yang masih syok berat itu. Berbeda lagi dengan Jongdae yang melipat tangannya didepan dada dengan senyum kepuasan.
"YAK JONGIN APA ITU!!" Lagi-lagi pria pendek berdompet non-tipis ini berteriak dengan kencang.
"Diam bodoh, kau bisa memancing perhatian. Memang ini sudah bagian dari rencana kita. Roh yang baru saja keluar dari raga itu adalah istri Jongdae." Jelas Jongin santai sambil menggotong mayat itu sendiri eh tunggu ia melakukannya dengan Suho -namun si pendek ini hanya menyentuh ujung jarinya saja-.
"Istri Jongdae? Maksutmu?" Tanya Suho yang masih dilanda kebingungan.
"Halah kau akan mengetahuinya nanti." Jawab Jongin ringan.
Iya ringan, seringan ucapanmu dulu ketika kau memutuskanku tepat setelah seminggu kita jadian.
"Heleh author bucen!" -Jongen
Bodo njir_- next..
Mayat itu kini telah tertata rapi dibagasi mobil Jongin, kedua tangannya ia gunakan untuk menutup pintu bagasi tersebut.
"Ayo masuk!" Intruksi Jongin dengan riang gembira.
Suho yang kini masih saja belum bisa move on dari kata bingung hanya bisa terdiam melihat semua kejadian yang barusan berlalu ini.
Bunyi debuman pintu mobil terdengar dua kali, menandakan bahwa penumpang didalamnya telah lengkap. Namun, mobil itu tidak segera melaju menyusuri jalanan, mobil itu terdiam dengan posisi sang supir yang sedang diam menatap kedepan.
"Jongdae, kau tidak mengajak istrimu kemari?" Ujar Jongin santai sembari mengetukkan jari telunjuknya pada setir.
"HAH APA ISTRI??" Teriakan melengking ini sontak membuat tiga orang lain dimobil itu terkejut dan segera menutup kedua telinga mereka. Pelakunya adalah Zhang Yixing, ia berteriak kencang namun setelahnya ia hanya diam dan membisu, oh jangan lupa wajah innocentnya.
"Hai sayang, ini aku. Kemarilah Minnie~" Panggil Jongdae, dengan mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobil.
Seketika, sesosok roh ditengah jalan yang sepi itu menoleh, terkejut, menghampiri mobil biru itu, lalu tersenyum lebar. Sosoknya masuk melalui pintu depan dan duduk dipangkuan sang suami, sosok itu duduk menghadap Jongdae.
"JONGDAEYAAA~!" Teriaknya sembari memeluk tubuh Jongdae erat.
"Aigo aku sangat merindukanmu minnie." Ungkap Jongdae dengan tangannya yang kini mengusap rambut fluffy Minseok.
"HUWA EOMMA! AKU BUTUH PENJELASAN YANG PASTI!" Gaduh Yixing sembari memukul jok kursi didepannya. Jongdae terdiam, Minseok masih terisak, Jongin juga diam, dan Suho juga tidak mengucap apa pun.
"EOMMA AKU TIDAK SUKA DIGANTUNG TANPA KEPASTIAN SEPERTI INI! AKU..a-aku hiks..HUWEE MENGAPA KALIAN HANYA DIAM SAJA!!" Yixing menangis histeris.
"Lah baper sia teh." Kata Suho dalam hati.
"Ehm, ayo kita mending pulang saja, hehe." Ujar Jongin final.
"Kok mereka bego ya? Kok aku jadi ragu."
Akhirnya Minseok menyuarakan pendapatnya dalam hati.
Kenapa didalam hati? Karena mungkin aku masih memiliki tempat dihatimu, tapi tidak dipikiranmu:')
"Lah author teh baper pisan euy?" -Suho
Bacot,-
Mobil itu berdengung, lalu berjalan perlahan menuju ke kediaman Unicorn China yang sedang melalui masa-masa Baperanisasi.
"Thor, ngaca dong! Ih sebel aku." -Yixing
Iya sayang iya, aku ngaku:'))
.
.
TBC
Ehehehe..
I'm back! Maaf baru bisa up ff ini, karena emang makin dewasa makin sibuk..
Ff ini fix hiatus dulu, sementara gak dilanjut, karena Dy mau UNBK!!!!
Hehehe, maaf sebelumnya..
Thanks ya buat yang udah baca ff ini. Maaf juga karena authornya masih dalam masa Galaunisasi. Alhasil, ff nya jadi Bucinable :')
See you next time!
Bye..
