Note : Ada beberapa hal yang gue gak tau soal Kagami karena ada chapter yg gue longkap bacanya, jadi sori kalo ada yg salah penulisan ataupun interpretasi.
Happy Reading~
My Boyfriend is ...
Kuroko no Basuke - Fujimaki Tadatoshi
Chapter 7 : My Boyfriend is Kagami Taiga
-Reader's POV-
.
.
Kami belum lama pacaran sih, tapi ada suatu masalah. Kecintaannya pada basket terkadang membuatku jengkel. Ditambah lagi, keberadaan wanita itu.
.
.
.
Sekarang, aku ada di depan apartemennya.
*Ting Tong*
Menekan bel pintu.
*Ting Tong*
Kenapa masih tidak ada jawaban?
*Kraak*
Ah, terbuka.
"Taiga-kun—"
Dan ternyata…
"KYAAAAAAAAA~!"
Aku melihat wanita berambut blonde panjang dari balik pintu hanya memakai tanktop dan celana dalam.
.
.
.
"KAGAMI TAIGAAAAAAA!"
"Ah? Tidak usah teriak lagi. Maafkan aku."
"Aku…aku..aku datang ke sini untuk membantumu! Tapi, kenapa aku harus melihat pemandangan itu lagi, huh? Dia…dia…suruh dia keluar dari sini‼" Aku berteriak-teriak di depan pemuda beralis cabang itu sembari menunjuk wanita blonde yang berdiri di sisinya—untung saja dia sudah pakai pakaian yang lebih pantas.
"You're so meanie, sweety!" Wanita itu mendekatiku. Apa? Apa yang mau dilakukannya? Jangan mendekat! Ia mengelus daguku, ekspresi wajahnya menyebalkan, "—kau datang terlalu pagi sih, jadi aku belum siap-siap."
Aku menyingkirkan jarinya yang menempel di daguku, "Lepaskan, jangan dekat-dekat denganku, Alexandra-san! Pergi sanaaaa!"
"Kenapa sih kau selalu bersikap begitu padaku? Padahal kau sudah kuanggap anak sendiri, huaaaa," Ia berlari menuju pemuda tinggi di hadapan kami yang sejak tadi memasang wajah malas. Wanita itu pura-pura menangis di lengannya.
"Menjauhlah dari Taiga-kun!"
"Kalian ini berisik sekali. Oi, Alex, sudahlah, jangan mempermainkannya. Ini masih pagi."
"Taiga, kenapa kau bersikap dingin begitu padaku? Jadi, kau lebih memilih pacarmu dari pada guru seksimu ini?"
APA MAKSUDNYA HAH?
Menyingkirlah dari Taiga-kun!
Taiga-kun sendiri malah diam saja dan tidak menanggapi. Kenapa? Jadi dia tidak memilih siapa-siapa? Jadi, apa artinya aku ini?
Akhirnya, ia buka mulut dan, "Bisakah kalian hentikan ini? Aku harus berapa kali mendengar dan menonton permainan gila kalian?"
Ya, memang. Ini sudah yang kesepuhkalinya. Sepuluh kalinya aku melihat wanita itu disini dan sepuluh kalinya aku berusaha mengusirnya lalu sepuluhkalinya ia pura-pura menangis sehingga kesepuluh kalinya Taiga-kun harus berkata 'hentikan'.
.
.
.
Aku berusaha untuk menahan diri demi Taiga-kun.
Ck, wanita itu. Kenapa masih disini? Sekarang malah duduk santai di depan TV. Tidak bisakah membantu kami?
"Ano, Taiga-kun, teman klub basketmu akan sampai disini jam berapa?"
"Aku tidak tau. Mereka seenaknya bilang mau datang bertemu dengan Alex."
Oh. Ketemu Alexandra-san? Begitu..
"Oh.. begitu.."
"Kenapa?"
Aku menggeleng-geleng, "Tidak ada apa-apa kok."
Selama kurang lebih satu jam, kami menyiapkan makanan dan minuman untuk para anggota klub basket Seirin. Katanya sih, mereka mau datang main ke apartemen Taiga-kun. Aku sendiri, awalnya tidak bermaksud untuk datang, tapi ada sesuatu yang harus aku pastikan keberadaannya sudah hilang jadi aku beralasan datang kesini untuk membantu apapun lah. Tapi, nyatanya wanita itu masih ada disini. Hah.
Bukannya aku tidak mendukung pacarku sendiri, tapi apa harus wanita itu ada disini? Sebagai pacar, tentu saja aku tidak suka. Walau aku tau kalau wanita itu jauh lebih tua dari kami, tapi..kelakuannya..sudahlah.
Kagami Taiga adalah pacarku. Kami bersekolah di Seirin. Taiga-kun sendiri sekarang sedang mengikuti kegiatan klub basket. Ia sangat menyukai basket, bahkan hampir melupakan apapun saat main basket. Iya, he is a basketball idiot afterall! Perawakannya tinggi bahkan sangat tinggi. Wajahnya terkadang terlalu intens sehingga banyak orang mengira ia mirip seperti Tiger sesuai dengan namanya. Tiger yang siap menerkam siapa saja. Tetapi kenyataannya adalah ia tidak seperti itu dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu, hanya berlaku untuk hal yang berhubungan dengan basket. Ia memang keras kepala, mudah emosi dan panas namun dalam kepribadiannya sendiri tersembunyi suatu kebaikan hati dan kepolosan setingkat anak SD apalagi yang berhubungan dengan percintaan. Tapi itu yang kusuka darinya.
Kami bisa berpacaran saja itu berkat rekan basketnya. Aku berani menyatakan perasaanku padanya karena mereka bilang Taiga-kun suka padaku tetapi malu untuk mengakuinya. Saat aku minta jadi pacarku, ia hanya mengangguk-angguk saja dan tidak bicara apapun—ya, aku bisa lihat wajah mengerikan seperti Tiger-nya mendadak merona merah. Jadi, beginilah hasilnya. Kami menjadi sepasang kekasih.
Tetapi, ada masalah.
Wanita bernama Alexandra Gracia yang tadi pagi terlihat tidak berpakaian dengan seharusnya adalah guru basket dari Taiga-kun sewaktu ia masih di Amerika. Alexandra-san sendiri memang mantan pemain WNBA, dia punya banyak skill dan pengalaman yang baik untuk dibagi terutama bagi Taiga-kun. Ya, karena Taiga-kun dan bayangannya—Kuroko Tetsuya-kun—bermaksud untuk mengalahkan satu per satu dari member Generation of Miracles dan menjadi nomor satu di Jepang.
Aku tau keberadaan wanita itu disini sangat penting, bahkan rekan tim basket Taiga-kun saja ingin bertemu dengannya. Pasti ingin membahas mengenai basket. Tapi, tetap saja aku sulit menerimanya, sedangkan Taiga-kun sendiri sepertinya tidak menyadari kekhawatiranku ini karena seperti yang sudah kubilang, segalanya yang menyangkut basket akan membutakan pandangannya.
Sesuatu yang aku khawatirkan dari wanita itu adalah ia terlalu seduktif dan memiliki kebiasaan aneh…ya, suka mencium siapa saja yang ia suka. Bahkan ia mencium Taiga-kun dihadapanku! Jangan-jangan first kiss Taiga-kun sudah direbutnya sejak dahulu kala! Tidaaaak! Aku saja belum merasakan bibir Taiga-kun, tapi dia sudah berkali-kali, sial! Kudengar, pelatih Taiga-kun di klub basket—Aida Riko-san—pernah dicium olehnya—aku tidak tau alasannya kenapa—dan yang lebih gila adalah Alexandra-san juga sudah merebut first kiss milikku dihadapan Taiga-kun! Oh, Tuhan, kenapa? Kenapa aku harus merasakan ciuman pertama dengan seorang wanita yang lebih tua? Tunggu dulu, apa aku mengharapkan melakukannya dengan wanita muda? Bukan begitu!
Oleh karena itu, aku tidak mau berdekatan dengannya. Ya, takut dicium lagi. Tolong, please, aku trauma. Aku juga akan marah-marah seperti tadi pagi, kalau ia mendekati Taiga-kun—takut-takut ia melakukan hal gila lain dengan Taiga-kun. Tidak, ini bencana. Sejak saat itu, keinginanku agar ia pergi dari sini semakin membuncah sehingga akhirnya aku merasa telah menjadi seorang stalker. Ya, stalker. Jika ada waktu luang, aku akan mengunjungi Taiga-kun di apartemennya untuk melihat wanita itu sudah keluar apa belum dan juga untuk mencegah perbuatan gilanya. Kalau disekolah sih, aku tenang, karena wanita itu tidak akan berada di sekolah.
*Ting tong!*
Ah, mungkin itu mereka.
"Biar aku yang membuka pintunya, Taiga-kun."
"Oh. Terima kasih."
Aku berlalu menuju pintu dan membukanya. Dibalik pintu ada,
"Kuroko-kun? Kau hanya sendirian saja?"
Kuroko-kun membungkukkan tubuhnya—wajahnya masih sama datarnya ya, "Doumo," Ia kembali berdiri dan menatapku, "—kantoku dan yang lainnya akan tiba sebentar lagi."
"Begitu? Silahkan masuk, Kuroko-kun."
"Terima kasih."
Kami berjalan bersama menuju ruang tamu tempat Alexandra-san menonton acara televisi sembari tertawa-tawa.
"Silahkan duduk Kuroko-kun. Jangan dekat-dekat dengan Alexandra-san ya."
"What did you say, my sweety? Aku tidak akan melakukan apa-apa padanya kok."
"Sudah kau diam saja, Alexandra-san. Tonton lagi tv nya tuh dan jangan sentuh Kuroko-kun."
Wanita blonde itu cemberut.
Tak lama, Taiga-kun datang. Pandangannya mengedar mencari sesuatu.
"Oi. Kuroko, kau sudah datang. Yang lain mana?"
"Doumo, Kagami-kun. Mereka masih di jalan, sebentar lagi sampai."
"Oh. Begitu."
Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya tim basket yang lain datang. Ternyata tidak semua ikut datang. Hanya ada senpai-senpai. Lalu, kenapa Kuroko-kun datang?
Mereka berkumpul dan membicarakan hal yang tidak aku mengerti. Berdiskusi bersama mengenai strategi dan latihan. Aku tidak bisa ikut dalam pembicaraan yang tidak kumengerti. Pada akhirnya, aku hanya diam dan memperhatikan. Lihatlah, Taiga-kun. Bahkan ia tidak mengingat keberadaanku sama sekali di sampingnya. Dasar, basketball idiot.
.
.
.
Semua anggota klub Seirin sedang berlatih. Aku hanya bisa melihat di pinggir lapangan. Hah~
Berat juga latihannya. Tidak pernah aku sangka, Aida-san sangat kejam.
"Sedang menunggu, Kagami-kun?"
"Iya."
Orang yang baru saja menyapaku adalah Aida-san. Selesai meneriaki para member klub, ia mendekatiku yang duduk dipinggir lapangan. Mengambil papan catatan, ia ikut duduk disampingku sembari memperhatikan lapangan.
"Ano, Aida-san."
"Ya," Ia berhenti menulis sesuatu di papannya dan menoleh padaku.
"Apa Alexandra-san benar-benar membantu?"
"Maksudnya?"
"Maksudku..ya..begitulah."
Gadis berambut pendek cokelat yang lebih tua dariku ini berdehem singkat. Ia mengelus dagunya. Menatap langit-langit saat berpikir.
"Ya. Kami dapat informasi penting darinya. Memang kenapa?"
"Tidak. Tidak apa-apa. Bagus kalau begitu."
Setidaknya pengorbananku selama ini tidak sia-sia jika wanita itu berguna. Taiga-kun selalu begitu. Ia tidak akan menyadari apa yang terjadi padaku selama ini. Ia lebih memilih segala hal untuk basketnya terlebih dahulu, bahkan saat masalah seperti ini muncul. Tapi, kadang aku malu pada diriku sendiri, masa aku cemburu pada wanita tua itu dan pada sebuah bola basket?
*Prriiit*
Ah, peluit berakhirnya latihan telah ditiup oleh sang pelatih. Semuanya kembali pada bench untuk mengambil minum masing-masing. Aku merogoh botol minum yang aku taruh di tasku. Aku berdiri dan menghampiri Taiga-kun.
"Ini untukmu."
"Oh. Terima kasih."
Taiga-kun mengambil botol minum yang kuberikan dan mengacak rambutku secara kasar.
"Ahem."
Siapa itu sok berdehem? Baiklah. Aku mengerti maksudnya. Lagipula, aku bukan manager disini. Please.
"Senpai-senpai sekalian, air minum untuk kalian ada disana tuh," lanjutku tak minat sembari menunjuk ke arah kotak yang berisi botol-botol air mineral. Mereka hanya menggendikkan bahu bersamaan. Sialan. Aku berjalan menghampiri kotak itu dan mengambil beberapa botolnya dan menyerahkannya pada sisa anggota lain.
"Begitu dong. Jangan cuma hidup di dunia kalian berdua saja. Yang bisa membuat kalian bersatu kan kami, iya, bukan, Hyuuga?"
"O,oi, Se-senpai.."
Mendengarnya membuatku kesal. Apa maksudnya? Jadi, aku harus berbalas budi, begitu? Ini semua hasil kerja kerasku. Pengorbananku! Bahkan sekarang saja aku masih berkorban, merelakan pacarku tinggal bersama gurunya.
Huh.
Taiga-kun sendiri kelihatan kebingungan. Sekilas aku bisa melihat wajahnya yang berpaling dari pandanganku.
"Daaho! Tidak usah ikut campur urusan pribadi mereka begitu, Kiyoshi."
"Begitulah cinta. Membuat kita terbang ke langit ketujuh menaiki elang," ceplos Izuki-senpai. Entah apa maksudnya. Apa dia bermaksud untuk melawak tapi gagal? Dasar maniak. Lihatlah, lawakan garingnya masih sempat dicatat dibuku khusus cara melawaknya.
"Tidak lucu, Izuki. Diam saja, seperti Mitobe tuh."
"…" Mitobe-senpai menghampiriku dan Taiga-kun. Ia menepuk bahu kami berdua dan menarik kami agar saling berdekatan lalu mengangguk-angguk. Siapa sih yang mengajari Mitobe-senpai jadi begini? Aku sendiri mau saja berdekatan dengan Taiga-kun.
"Sudahlah! Jangan mempermainkanku begitu, senpai!"
"Tidak usah malu begitu, Kagami. Pulang sana berdua dan jalin cinta di sepanjang jalan."
"SENPAAAAAI!"
Merepotkan juga senpai-senpai ini ya. Kasihan sekali, Taiga-kun. Kalau sudah diluar basket, ia tidak berdaya.
.
.
.
Akhirnya, kami pulang bersama. Anggota klub basket Seirin yang lain juga pulang ke rumah masing-masing, bahkan Kuroko-kun entah sejak kapan menghilang dari hadapan semua orang.
Kami berjalan bersama melewati jalan dan toko-toko. Tidak ada salah satu dari kami yang berbicara. Hanya suara disekeliling kami yang menghiasi perjalanan pulang. Lihatlah, ia memang begitu. Kalau soal percintaan, kemampuannya nol besar bahkan mungkin minus. Saat berjalan begini, ia tidak pernah mengandeng tanganku, kalau kau tidak mengerti, biar aku yang bertindak.
"Taiga-kun."
"Oh?"
Ia berhenti dan menoleh ke belakang melihatku. Aku menyodorkan sebelah tanganku padanya. Pemuda berambut merah gradasi hitam di hadapanku hanya berkedip bingung.
"Apa?"
"Gandeng tanganku, dasar, BakaTaiga."
"O..oh..ho.."
Wajahku mulai memanas ketika tangannya menggenggam tanganku. Lirikan mataku juga menangkap garis merah disekitar pipinya. Bukankah seharusnya memang begini? Jarang-jarang begini. Biasanya, ia tidak sadar dengan apa yang aku inginkan dan pikirkan. Pikirannya hanya fokus pada basket saja.
Tangannya yang besar itu biasanya selalu menggenggam bola dan men-dunk-nya dengan kasar, tapi tak kusangka, ia bisa menggenggam tanganku dengan benar, tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat. Setidaknya ia mengerti apa yang harus dilakukannya di saat begini. Syukurlah.
"Taiga-kun."
"Ya?"
"Jaketku tertinggal di apartemenmu, bisa kita kesana? Aku mau mengambilnya."
"Oke."
Ya, ada tujuan lain juga sih ke sana. Menjaga Taiga-kun dan melihat apa yang sedang dilakukan wanita itu.
.
.
.
Kami sampai di apartemen Taiga-kun. Seperti biasa, tempatnya tetap rapi. Kurasa, Alexandra-san tidak ada di rumah, sejak tadi aku tidak melihat sosoknya mondar mandir atau hanya sekedar menonton TV.
"Kau mau makan malam disini?"
"Boleh."
Tentu saja, aku mau. Masakan Taiga-kun sangat enak, bahkan aku diajarkan olehnya. Sejak tinggal sendirian, ia terpaksa harus bisa memenuhi kehidupannya tanpa tergantung orang lain. Tapi, terkadang aku heran dengan porsi makannya yang dahsyat itu. Apa ia lelah sekali sampai harus makan sebanyak itu?
"Biar aku bantu menyiapkan makan malamnya, Taiga-kun."
"Oh. Terima kasih."
Aku memotong bahan makanannya sedangkan Taiga-kun menumisnya. Aku sangat menanti makanan ini, walaupun sederhana bahan yang digunakan, namun pasti rasanya enak apalagi buatan Taiga-kun dan aku sebagai asistennya! Sempurna!
*Srat!*
"AH!"
"Oi, ada apa?"
Taiga-kun mematikan kompor gasnya dan menghampiriku. Aku merintih kesakitan. Sakitnya! Tanganku tersayat pisau. Darah sudah berceceran. Melihatnya, Taiga-kun langsung menarikku dan menyalakan keran kemudian mengairi jariku yang tersayat tadi. Lukanya tidak terlalu besar tapi menyebabkan rasa sakit berlebihan apalagi saat dialiri oleh air segar yang dingin.
"Sakit, Taiga-kun!"
"Sabarlah, kita harus menghentikan darahnya. Dasar, seharusnya kau hati-hati."
Setelah darah yang keluar dibawa aliran air. Taiga-kun menggandengku menuju ruang tamu. Ia menyuruhku duduk dan ia masuk ke kamar mengambil kotak P3K. Setelah itu, ia kembali dan mulai mengobati lukanya.
"Wah, darahnya masih keluar."
Melihat darah yang masih keluar dari luka tersebut, ia mengambil jari telunjukku dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia mengisap pelan darah yang keluar. Menimbulkan sakit yang membuatku bergidik. Bukan, bukan karena sakit, tapi karena kebodohannya mengisap darah itu. Aku yakin ia tidak sadar apa efek yang dilakukannya ini padaku. Dengarlah, jantungku berpacu cepat begini. Entahlah, jariku bisa merasakan lembut bibirnya.
"Taiga-kun, sudah."
"Tapi, darahnya—eh? Ada apa denganmu? Wajahmu merah begitu. Jangan-jangan kau sakit makanya tidak sengaja memotong jarimu sendiri."
Tangannya beralih pada keningku. Sudah. Bodoh, kau! Begitu saja tidak sadar!
"BakaTaiga!"
Apa sih yang ia pikirkan selama bersama-sama denganku?
"Kenapa kau marah? Sini, mau diobati."
Sembari cemberut, aku terpaksa menyerahkan tanganku lagi padanya. Rasa ngilu dari lukanya masih terasa, daripada terus merasakan sakit lebih baik diobati dan diplester.
"Selesai."
Aku membolak balikkan tanganku untuk melihat hasil plesterannya. Setelah itu, aku kembali menatap Taiga-kun. Melihatnya, mengingatkanku saat ia mengisap jariku. Baka!
"Kenapa menatapku begitu?"
Ia menatapku. Aku menatapnya. Kami saling berpandangan. Tanpa sadar, aku menempatkan telapak tanganku di kedua bahunya. Pergi mendekati wajahnya. Mungkin saat ini, jaraknya hanya sekitar 15 centi saja. Sesaat aku meletakkan tanganku di bahunya, ia sedikit terkejut saat merasa diriku yang mendekatinya.
Entahlah, rasanya, aku ingin merasakan lembut bibirnya bukan dengan jariku tapi melalui bibirku sendiri.
Sudah dekat, sedikit lagi. Pejamkan mata. Namun,
*BRAK!*
Kami berdua menoleh ke arah pintu masuk. Siapa sih yang mengganggu kesempatan bagus ini?
"Taigaaaa~ Help me~"
"Alex/Alexandra-san?"
Wanita itu tergeletak tidak berdaya diujung pintu masuk. Ia masuk sembari mengesot dilantai. Apa maksudnya? Ini bukan film horror!
Kami berdua mendekatinya dan mengangkat tubuhnya agar kembali tegap. Uwah! Bau alcohol! Jangan bilang, wanita ini habis minum-minum, begitu? Hah? Ada apa dengan budaya barat?
"Ah, ada kau, my sweety."
Tolong hentikan memanggilku begitu. Aku bukan anak kucing.
"—hari ini kau manis sekali. Ayo, sini, aku cium."
UWAH!
Kepalaku dilingkupi kedua tangannya. Ia menarik kepalaku untuk lebih dekat dengannya. TIDAK! TIDAK! JANGAN CIUM AKU LAGI‼ HENTIKAAAAAAN!
"Alex! Hentikan!"
*CUP*
Terlambat sudah.
Ciuman keduaku yang seharusnya tadi bisa aku lakukan dengan Taiga-kun, diganggu begitu saja dan sekarang aku mendapatkan bonus ciuman kedua dari wanita ini! HIDUPKU SIAL SEKALI! SUDAH CUKUP!
Aku berlari keluar apartemen sekencang mungkin. Bahkan aku lupa memakai sepatu. Barang bawaanku juga masih ada di apartemen Taiga-kun. Ah! Ada apa dengan wanita itu, hah?
Kakiku tanpa sadar membawa tubuh dan jiwaku menuju taman yang ada di dekat apartemen. Aku memutuskan untuk menenangkan diri disana. Aku melihat ayunan disana dan aku duduk diatasnya. Bergoyang ke depan dan belakang sembari memandangi pasir yang mengelilingi arena taman bermain di dekat kakiku. Hah, menyebalkan sekali!
"Hei."
Aku melirik orang yang memanggilku. Suara itu.
"Taiga-kun."
"Maafkan perbuatan Alex ya. Dia tidak bermaksud buruk."
Aku berhenti. Kenapa? Ia membela wanita itu? hah. Dasar BakaTaiga!
"Kenapa? Kenapa kau selalu membelanya? Aku sudah berkorban! Aku berusaha sabar melihat pacarku tinggal dengan wanita seduktif seperti dia! Hanya karena aku ingin mendukung hal yang paling disukai pacarku! Basket!"
"Maafkan aku. Tapi.."
"Apa? Bahkan demi basket yang kau sukai itu, aku rela hanya melihatmu dari jauh dan tidak acuhkan olehmu, Basketball idiot yang menjadi lupa segalanya dan tidak mengerti apapun!"
"Jadi, selama ini, kau berpikir begitu?"
"APA? Apa lagi?"
"Aku hanya—"
"Bahkan kau tidak mengerti kalau aku tidak menyukai keberadaan Alexandra-san!"
"Tunggu—"
"Taiga BODOH! BODOH! BODOH! BODOH! BODOH! BODOH!"
"Dengarkan aku bicara dulu!"
*Prang prang prang*
Apa? Kenapa? Kenapa ia menguncang-guncang besi ayunannya? Aku jadi tidak bisa fokus memandang. Hentikan! Merasa pusing dengan guncangannya, aku terdiam di tempat, berusaha menjelaskan pandanganku lagi. Taiga-kun menyadari aku terdiam sejenak dan ia berjongkok dihadapanku.
"Ah, maaf. Habisnya, kalau tidak begitu, kau tidak akan berhenti dan akan terus salah paham."
Baiklah, aku mendengarkannya. Kalau sampai, ia masih membelanya dibanding aku maka aku akan marah besar! Ia berjongkok di hadapanku, posisinya yang lebih rendah membuatnya mendongak melihat wajahku. Wajah yang sering dibilang sangar itu, tidak terlihat buruk dimataku, bahkan kelihatan baik-baik saja dan aku menyukainya.
"—sesungguhnya, Alex sangat menyukaimu. Alasannya, ia ingin tetap disini, untuk bisa melihat perkembangan kita berdua. Ia suka padamu, dan bersyukur orang seperti kau menjadi pacarku. Mungkin kelakukannya begitu, tapi ia orang baik, percayalah. Ia selalu membicarakanmu jika kami mengobrol."
Suka padaku? Tapi, bukan dengan maksud lain kan?
"—ia memang punya kebiasaan mencium siapa saja yang ia suka. Tidak usah khawatir. Tidak akan terjadi apapun. Aku menganggapnya keluargaku sama seperti Tatsuya. Alex sendiri menganggap kami seperti anaknya. Bahkan ia selalu mengingatkanku untuk memperhatikanmu."
Tidak akan terjadi apapun? Kukira selama ini ia tidak sadar kalau aku mengkhawatirkan itu. Jadi, begitu. Ia juga peduli pada hubunganku dan Taiga-kun? Tapi, kenapa sikapnya begitu? Apa aku yang terlalu bersikap berlebihan dan tidak mau mendengarkan sehingga menjadi seperti ini?
"Begitu?"
"Ya. Maaf jika aku mungkin tanpa sadar tidak mengacuhkan keberadaanmu. Aku hanya sangat menyukai basket. Itu saja. Tapi… aku juga menyukaimu."
Apa? Apa aku salah dengar yang terakhir itu? Ini pertama kalinya, aku mendengar kalimat itu.
Tidak, tidak salah dengar. Lihat, wajahnya malu begitu. Tapi, aneh! Wajahnya yang dibilang sangar itu malu, sungguh manis sekali.
"Benarkah? Aku juga sangat menyukai Taiga-kun."
Aku tersenyum padanya. Ia membalasnya dengan mengacak rambutku dengan kasar lagi. Sudah, kepalaku makin pusing. Walaupun mungkin ini masih tidak bisa aku pastikan, setidaknya ada sedikit kejelasan. Aku akan berusaha memperbaiki diriku juga.
"Sudah? Ayo, pulang," Taiga-kun bergegas berdiri dari tempatnya berjongkok. Aku mendongak tinggi untuk melihat tubuhnya yang ektrem sekali itu.
"Tunggu dulu."
"Apa?"
"Cium aku dulu."
"HAH? UNTUK APA?"
"Tadi kita hampir melakukannya kalau Alexandra-san tidak datang! Bahkan ciuman keduaku direbut olehnya lagi!" teriakku kencang. Untung saja, di taman itu sepi karena hari sudah mulai gelap. Aku juga tidak mau ada anak kecil yang mendengarnya.
"Ti-tidak usah, lain kali saja!"
Apa? Kau berusaha menghindar? Padahal kau yang mengatakan 'suka' duluan tadi.
"Baka! Alexandra-san saja sudah mencobanya, masa aku sebagai pacarmu malah tidak boleh!"
"Kalau itu kan tidak sengaja!"
"Tapi, aku juga mau! Aku juga mau merasakannya! Aku tidak mau pulang jika kau tidak melakukannya!"
Aku memegang erat kedua besi penyangga ayunan yang kunaiki. Pokoknya aku akan tetap disini! Biar saja, kalau ia meninggalkanku, aku tinggal berteriak membuat kegaduhan.
"Haaah," Ia menghela nafas pelan, tubuhnya kembali berjongkok menyamakan posisi denganku, "—baiklah, kau ini merepotkan."
Ia mendekat dan menyebabkan bibir miliknya menempel pada milikku. Kecupannya yang dilakukan hanya sekali namun terasa lama itu membuat tubuhku bergidik, bukan bergidik ngeri, tapi bergidik kaget berusaha menahan perasaan yang mengalir. Untuk lebih merasakannya, aku memejamkan mata. Jadi, begini rasanya? Aku suka.
"BakaTaiga."
Aku bisa melihatnya wajahnya yang merah tak tertahankan, sama dengan diriku. Sudah jangan dibahas lagi. Aku yang meminta, tapi aku yang malu. Hehehe.
"Ayo, kita makan malam," ajaknya sambil menyodorkan tangannya untuk kuraih. Kurasa, ia mulai tau cara bertindak. Baguslah.
Sip, berdasarkan permintaan, Kagami Taiga pemenangnya. Lihat hasilnya nih,
1. Kagami Taiga : 6 suara
2. Himuro Tatsuya : 4 suara
3&4. Ogiwara Shigehiro & Haizaki Shougo : msg2 3 suara
5&6&7&8. Nijimura Shuuzou, Kasamatsu Yukio, Takao Kazunari, Furihata Kouki : msg2 1 suara
Sebenernya, gue mau minta maaf ttg chapter ini. Gue masih sulit menguasai Kagami, tp gpp, ini buat latihan (GAYA LO). Image kagami pacaran susah sekali terbayang diotak gue. Tapi, selama ini gue selalu mengira bahwa kagami adalah orang yang gak peka kalo masalah beginian, tp dia baik, dan perhatian, kadang mudah mengalah demi orang lain. Itu sih kira2 yg gue bayangin. Tapi, chapter ini sih OOC bgt Kagami-nya. Maaf ye, readers yg sudah merikues. Ane masih belom engeh, gitu. Jadi, gue bikin cerita yg biasa saja. Kalo kalian tidak puas, silahkan lemparin author dgn DUIT!*mata duitan*
Masih mau lanjut gak? Tambahkan polling(?) anda ya pada Chara yg diinginkan! *kyk iklan apa gitu*
Jangan lupa review, fav, follow! Terima kasih atas kontribusinya selama ini. See You!
