More Than That
Jung Jaehyun x Lee Taeyong
NCT
.
.
.
Taeyong terbiasa bangun di pagi buta. Mandi, bersiap, makan sebelum jam enam.
Dia tidak melihat siapapun saat berkeliling di sekitar rumah. Tadinya dari dapur tapi kakinya membawa dia menjelajah untuk jalan-jalan sekaligus menghafal tempat. Maid dan pelayan lain belum datang.
Banyak hal yang bisa dilihat di rumah besar ini.
Yang paling mencolok tadi foto keluarga Prince yang dipasang di dinding.
Selain Prince, ibu, dan ayahnya, ada satu orang lagi yang Taeyong tidak tahu. Terlihat lebih muda dari Prince. Apa mungkin adiknya? Taeyong ingin menanyakan itu tapi merasa sama sekali tidak berhak.
Dia lanjut berjalan mendekat ke satu ruangan. Ada suara-suara dari sana.
Taeyong berdiri merapat ke dinding. Apa dia harus bersembunyi dan menguping? Tapi itu tidak sopan. Lebih baik memastikan saja.
Ada dua orang yang berdiri saling berhadapan. Taeyong dengan sengaja menunjukkan diri. Dua orang itu berhenti bicara saat melihatnya dari kejauhan sedang membungkuk canggung pada mereka.
"Kau pasti Taeyong?"
Orang pertama bicara menggunakan nada ramah yang membuat Taeyong bisa sedikit santai. Dia langsung menganggap mereka bukan orang jahat.
"I-ya."
Orang tadi mengulurkan tangannya. Taeyong menyambut ragu. Berjabat tangan tidak pernah dilakukan seorang slave sebelumnya.
"Matthew Kim. Bodyguard tuan muda Yoonoh."
"Ma-matiue?"
"BM saja."
"BM?"
Dia tertawa sendiri. "BM, Big Matthew, karena tubuhku besar aku biasa dipanggil begitu."
Taeyong tersenyum. BM lebih mudah diucapkan dibanding nama asing tadi oleh lidahnya. Besar, benar juga. Dia tinggi dan besar sekali. Rambutnya cokelat gelap sama seperti matanya.
"BM, tolong sampaikan yang tadi. Jung sajang menunggu kabar secepatnya."
Orang lain yang sempat terabaikan jadi tidak sabar. Ini pria paruh baya, lebih tua, memakai pakaian kerja formal rapi dan terlihat mahal. Dia juga membawa tas kerja hitam kotak.
BM mendesah dan berbalik pada orang itu.
"Aku pastikan akan menyampaikannya pada tuan Yoonoh setelah sarapan nanti."
Taeyong mundur sedikit, membuat dirinya tidak menarik perhatian sebisa mungkin.
"Baik, permisi."
Orang itu menggumam kesal dan berbalik berjalan ke pintu dari arah Taeyong datang tadi. Dua orang lain sama-sama melihatnya sampai menghilang. Baru setelahnya BM menunduk ke samping pada Taeyong yang lebih pendek darinya. Dia menebar senyum ramah.
"Mau sarapan?"
.
.
.
Taeyong tidak ada di kamarnya pagi ini. Tidak ada juga di ruang tamu.
Yoonoh hanya ingin mengecek sekaligus membangunkannya tapi Taeyong sepertinya mendahuluinya. Dia tahu begitu melihat tempat tidur sudah dirapikan tampa satu lipatan kusutpun.
Tergesa, dia berjalan menuju dapur, berharap Somin atau Jiwoo sudah menyiapkan sesuatu untuk dimakan.
Dia membuka pintu dapur tapi tidak melihat dua maid-nya itu di mana-mana.
sudah minta izin tidak masuk kerja karena sakit. Tapi BM? Di mana dia?
Apa semua orang berencana menghilang begitu saja pagi ini?
"Yoonoh?"
Dia berbalik ke arah sumber suara mendadak. Itu Doyoung. Dia masih memakai pakaian tidur, ada handuk tersampir di bahunya, sepertinya baru mau mandi.
"Lihat Taeyong tidak?" Yoonoh bertanya dengan panik.
Apa dia tersesat? Bukan berarti rumah ini sebesar itu sampai bisa membuat orang tersesat. Tapi jika orang baru tetap mungkin saja.
"Tidak. Tapi coba saja lihat di halaman belakang."
Yoonoh tersenyum dan mengangguk padanya saat ia berbalik untuk pergi.
.
.
.
Yoonoh menuju halaman belakang.
Saat dia keluar, udara dingin namun sejuk membuatnya menyesal tidak mengenakan sweater, tapi dia tidak mau kembali ke kamar hanya untuk itu. Nanti saja minta seseorang yang dia temui mengambilkannya jika betemu.
Yang dia pikirkan sekarang, semoga saja Taeyong tidak lupa memakai jaket atau pakaian tebal juga.
Yoonoh mendengar suara-suara dari arah kiri. Dia mengikuti arah datangnya suara itu sampai menemukan Taeyong dan BM duduk di ayunan, mengobrol.
Mereka sepertinya menikmati waktu mereka.
Taeyong memakai jaket kebesaran. Yoonoh langsung tahu jaket itu milik BM begitu mendekat.
Dia tidak menemukan alasan apa yang membuatnya tidak menyukai fakta itu. Meski Yoonoh tadi sempat berharap Taeyong tidak lupa memakai pakaian tebal, bukan berarti juga seperti ini. Jujur, sesuatu yang aneh sedang memenuhi dadanya saat ini.
"Aku mencarimu." Yoonoh berkata pada Taeyong saat dia tepat di belakangnya.
Taeyong berbalik, mata besar hitamnya bertemu dengan mata Yoonoh. Dia tersenyum ceria.
"Maaf. Tadi berjalan-jalan di sekitar rumah lalu tidak sengaja bertemu BM." Taeyong menjelaskan.
"Aku ingin mengajak sarapan bersama."
"Uhh- aku sudah makan. Somin nuna membuatkan kami pancake untuk sarapan tapi- tapi sudah habis-" Suaranya memelan. Tiba-tiba pucat.
Slave macam apa dia makan lebih dulu daripada tuannya?!
BM tersenyum. Mengusap kepala Taeyong beberapa kali seakan mengerti.
"Tidak apa-apa. Yoonoh sebenarnya tidak suka diganggu saat makan. Benarkan?" Dia membungkuk lalu berbisik tepat di telinga Taeyong. Bisikan yang terlalu keras. "Dia itu sangat rakus dan pelit."
Yoonoh hanya memutar matanya mendengar itu.
BM bukan hanya bodyguardnya, tapi juga salah satu teman baik sejak masih sangat kecil karena ayahnya bekerja untuk ayah Jaehyun.
Sebenarnya hampir semua orang yang bekerja pada Yoonoh memiliki hubungan pribadi dengannya. Jadi hal seperti ini tidak mengherankan. Tapi tentu lain cerita saat dihadapan ayah, ibu, atau orang lain. Mereka tetap menjadi pegawainya.
"Tidak mau masuk?"
Taeyong ragu-ragu tapi akhirnya mengangguk. Senyumnya memudar sedikit saat dia berdiri dari ayunan.
BM yang melihat itu langsung mengerti.
"Di sini sejuk dan pemandangannya juga indah. Biarkan Taeyong di sini lebih lama. Aku sudah janji mendorong ayunan tinggi-tinggi untuknya."
Benar juga. Itu jadi mengingatkan Yoonoh akan rencananya membuat pesta kecil di halaman belakang rumahnya ini untuk pemuda kecil itu. Hitung-hitung sebagai ucapan selamat datang dan mengenalkannya pada yang lain.
Itu tidak terlalu berlebihan kan?
Yoonoh mendesah lalu mengangguk kalah.
Sebenarnya dia lapar dan sudah membayangkan masakan Somin dan Jiwoo yang super lezat di meja makan. Tapi melihat Taeyong yang tertawa dan manahan jeritan senang hanya karena menaiki ayunan membuatnya rela menunggu.
Setelah beberapa kali mendorong dari belakang, membantunya menggerakkan ayunan, BM berjalan ke sisi Yoonoh. Membiarkan pemuda tujuh belas tahun itu menikmati mainan barunya persis seperti anak kecil sementara dia mengajak Yoonoh bicara. Senyum cerah BM memudar. Dia tampak serius.
BM tahu Yoonoh tidak akan menyukai ini.
"Kang shi datang kemari tadi. Katanya kau disuruh menghubungi tuan besar secepatnya."
Senyum Yoonoh juga memudar. Dia merasa moodnya langsung berubah drastis.
.
.
.
Taeyong bingung. Dia sadar Prince tampak kesal dari kejauhan.
Dia tidak tahu apa yang Prince katakan sekarang, tapi sepertinya dia sedang memberi perintah dibarengi anggukan mengerti dari BM.
Kaki Taeyong menyentuh tanah. Dia menghentikan ayunannya dan terus memandang mereka. Itu disadari karena mereka langsung berhenti bicara dan mendekatinya.
"Aku harus pergi, Taeyong. Sampai bertemu lagi nanti." BM melihat ke arah Yoonoh. "Sekalian aku bilang pada Soomin untuk membawakan sarapanmu ke sini."
BM pergi. Dia dan Prince terdiam setelah itu. Taeyong yang mau berdiri dari ayunan mendapat bantuan dari Prince yang mengulurkan tangannya.
"Apa tidak apa-apa aku meninggalkanmu di rumah hari ini?" Tanya Yoonoh tiba-tiba.
Taeyong tidak yakin apa yang harus dia jawab. Kenapa Jaehyun harus meminta izin seperti itu padanya?
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Yoonoh menatap Taeyong. Cukup terkejut mendengar pertanyaannya.
"Bukan apa-apa. Hanya saja ayahku terus mendesakku agar mau menikahi putri dari rekan bisnisnya. Dia ingin aku menemui gadis itu hari ini karena dia baru datang dari Paris."
Taeyong tidak tahu harus berkata apa. Dia tiba-tiba penasaran. "Kau tidak menyukainya?"
"Aku tidak mengenalnya. Aku tidak suka dijodohkan."
Yoonoh menjawab sambil memperhatikan Taeyong yang tubuhnya seakan menjadi lebih kecil lagi saat memakai jaket BM begitu. Cukup lucu.
Yoonoh yang sedang kesal malah jadi tersenyum-senyum.
"Kenapa tidak menolaknya jika tidak suka?"
Rasa ingin tahu Taeyong ini membuat Yoonoh senang. Kemajuan yang bagus.
Yoonoh selalu menganggap rasa ingin tahu itu sangatlah penting bagi seseorang. Dia senang Taeyong sudah mulai berani bertanya berbagai hal padanya tanpa segan.
"Aku sedang mengusahakan itu. Aku akan bicara dengan ayahku lagi. Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja."
Taeyong tersenyum dan mengangguk.
Soomin mungkin akan memarahinya karena tak menemukan dia di sini saat mengantarkan sarapan. Yoonoh akan meminta maaf padanya nanti. Untuk sekarang dia tiba-tiba tidak lapar.
"Mau ikut? Aku sudah menyuruh BM membuat kandang untuk anjing yang kemarin kita beli. Aku mau melihatnya."
Mata Taeyong melebar kaget. Dia hampir lupa dia mempunyai anjing putih lucu sejak kemarin. Karena sebenarnya dia masih ragu jika hal menyenangkan kemarin itu memang benar terjadi dan bukan mimpinya saja.
"PRINCE?!"
"Prince?" bingung Yoonoh.
Taeyong menggigit bibirnya langsung menunduk. Baru sadar dia berteriak pada tuannya barusan.
"Aa- ma- maaf. Maksudku anjingnya- aku memberinya nama- Prince-"
Yoonoh tertawa.
"Prince? Kenapa namanya Prince?"
Tapi dia lebih seperti sedang bertanya pada dirinya sendiri. Dia menggeleng-geleng tidak habis pikir dan berjalan duluan.
Padahal sebenarnya dibelakang, Taeyong sangat ingin menjawab-
Karena seorang Prince yang membelikannya untukku.
.
.
.
TBC
.
.
.
Mind to Review?
