Being together
A/N: Shounen-ai, K+, Angst, Humanized, AU, Second Point of View
The Penguins of Madagascar © Tom Mcgrath/Eric Darnell – Nickelodeon/DreamWork
~~xxXxx~~
Kau mendengus, terkutuklah rasa penasaranmu sehingga kini kau berakhir mengikuti ketuamu itu, lagi. Awalnya kau tidak peduli dengan si komandan, hingga kau menemukan dia berjalan mengendap-ngendap, mengikuti dua orang. Saat itu kau masih tidak peduli juga, akan tetapi ketika melihat punggung salah satu dari dua orang terdepan, berakhirlah kau mengekori mereka. Keinginan untuk membeli makanan ringan terbang bersama balon gas merah milik anak kecil yang menatap aneh dirimu dari sebelah.
"Apa?" tanpa menambah ekspresi lain, kau mencoba memelototi anak kecil tersebut. Anak itu menatapmu kosong, kedua bola matanya tertuju pada wajahmu.
"Apa maumu, bocah?" keningmu berkedut sedikit. Anak itu masih menatapmu seakan-akan ada sebuah kotoran burung di kepalamu.
"...Mukanya seram." akhirnya anak ini bersuara. Belum sempat kau membalas pernyataan satu pihak anak itu, tulang kering kaki kananmu di tendang. Ketika kau mencoba meneriaki bocah kurang ajar tersebut disela-sela ringisanmu, tanpa diduga, anak aneh itu sudah pergi jauh. Sungguh, terkutuklah dirimu, dan juga anak itu.
~xXx~
"Oi,"
"Sst."
"Hei."
"Sst."
Kau lempar boneka beruang yang sebelum bertemu dengan Skipper, kau dapatkan dari sebuah stan permainan untuk diberikan pada Private nanti. Boneka beruang putih itu tepat mengenai Skipper. Niatmu untuk melempar benda yang lebih bermassa, akan tetapi sepertinya itu cukup, melihat Skipper mengusap-usap kepalanya sekarang.
"Maumu apa 'sih?"
"Ngapain kau di sini?" kau tampak sudah kebal dengan tatapan jengkel Skipper, bahkan tubuhmu kebal dengan tatapan membunuh Skipper.
"Diam, sedang mengikuti Private dengan pria lain." sudah dikonfirmasi, dugaanmu bahwa Private jalan dengan pria lain benar adanya.
"Tapi kenapa di atraksi lumba-lumba?" atasanmu menoleh ke arahmu, wajahnya menunjukkan ekspresi oh-kau-tentu-cukup-pintar-untuk-menyadarainya. Ia bahkan memutar bola mata mirahnya. Seketika kau sadar maksudnya.
"Jangan bilang– Tidak mungkin." mengerti siapa orang yang kau maksud, Skipper memberikan teropong yang tadi dipakainya. Segera kau cari kedua sosok yang sedang kalian ikuti. Benar saja, kau mendapati Private duduk bersebelahan dengan pria tinggi berambut kelabu-kebiruan. Ingin rasanya kau lempar teropong ini tepat mengenai kepala orang di sebelah Private.
"A-apa hubungan mereka berdua?" kau mengernyitkan dahimu. Tanpa mengalihkan pandanganmu dari kedua orang yang duduk jauh di baris bawah, kau kembalikan teropong tadi pada Skipper.
"Tadi sempat dengar, teman satu kuliah." kini kau naikkan satu alismu.
"Bukannya kau kenal Private saat dia masih kuliah?" kau mendapat sebuah anggukan sebagai jawaban.
"Lantas kenapa kau tidak tahu hubungan Private dengan...dia?"
"Entahlah, Private tidak pernah bilang apa-apa tentang kuliahnya."
Kalian berdua kini hanya bisa diam menontoni gerak-gerik dua orang di baris kedua. Atraksi lumba-lumba melompati cincin api sama sekali tidak menarik perhatianmu. Kau kembali mereka ulang pertemuan pertama kau, Skipper dan Kowalski dengan orang yang kini duduk di sebelah Private. Saat itu Private sedang kembali ke Inggris karena urusan keluarga, dan tanpa pemberitahuan apapun, Marlene mengirimkan misi. Seorang penjahat kelas atas baru saja membobol persediaan senjata di markas. Aneh sebenarnya, tapi tanpa basa-basi tim kalian segera ke lokasi. Di tengah gelapnya malam, matamu bertemu tatap dengan si penjahat. Di luar dugaan, ternyata ia adalah buronan kelas atas, namanya sudah di atas daftar yang dicari CIA. Bahkan namanya sudah dihapus dari data di Amerika, lupakan, dirinya dinyatakan tidak ada. Kalau kau ingat-ingat rekor kejahatannya, kau dapat menemukan sedikit alasan kenapa dia menjadi buronan nomor satu. Dirinya pernah membajak Air Force One seorang diri, ia bahkan pernah berhasil memasukkan bom ke dalam mobil kepresidenan. Dengan seorang diri dia berhasil meretas Data base Pentagon. Saham-saham Amerika pernah ia nol persenkan dalam waktu setengah hari. Senjata yang sudah ia curi dari negara sudah tidak bisa dihitung lagi. Kejahatannya tidak hanya di Amerika. Sudah banyak saham-saham di seluruh dunia yang ia hancurkan. Barang-barang investasi triliunan dolar sudah banyak yang ia hancurkan. Yang mengejutkan, setiap tindak kriminalnya tidak melukai satu jiwa pun.
Kau ingat bagaimana ciri-cirinya. Wajah pria misterius itu selalu ditutupi Google dengan teknologi tertinggi yang menyambung dengan earphone di telinga kiri. Pakaiannya selalu rapih dengan setelan jas bernuansa abu-abu. Tangannya senantiasa menggunakan sarung tangan putih, sama sekali tidak meninggalkan bekas yang bisa dijadikan petunjuk untuk mencarinya. Di setiap lokasi bekas tindak kriminalnya, selalu ada cap lumba-lumba dengan tinta abu-abu, di bagian bawahnya tertanda Blowhole.
~xXx~
Setelah mengingat kembali sosok penjahat kelas atas tersebut, kau menjadi luar biasa bingung. Apa yang dilakukan penjahat sepertinya di Coney Island? Apa ia akan melakukan sebuah tindak kriminal? Yang terpenting, bagaimana ia bisa kenal dengan Private?
Kalau dipikir-pikir, orang yang duduk di sebelah Private belum tentu Blowhole. Bisa jadi ia adalah orang lain. Atau dia adalah Doppelgänger-nya Blowhole. Kemungkinan tidak terbatas.
"Hei," kau menoleh pada Skipper, menjawab panggilannya.
"Aku penasaran dengan percakapan mereka." tatapanmu kau arahkan pada Private dan orang di sebelahnya. Terlihat jelas mereka sedang berbincang-bincang.
"Mmh, seingatku Private memakai kalungnya."
"Ah, bagus kalau begitu." kau tidak perlu menoleh untuk melihat ekspresi Skipper. Sudah jelas riak wajahnya berubah cerah seketika. Kau tahu dia sekarang sedang mengeluarkan telefon genggamnya. Beruntung sekali dengan adanya Kowalski di timmu. Dia dengan jeniusnya membuat sebuah alat pelacak agar dapat mengetahui posisi sesama anggota tim. Karena alat pelacak terlalu biasa, maka ia tambahkan alat penyadap suara. Penyadap suara juga terlalu biasa, maka ia buat sebuah program pengendali yang dipasang di telefon genggam Skipper selaku ketua, agar ia bisa mendengar suara anak buahnya kapan saja. Sayang, tidak bisa dijadikan alat komunikasi karena yang disadap tidak akan bisa mendengar suara yang menyadap.
"Oi." kau mengambil satu earphone yang di berikan Skipper, memasukkannya ke satu telingamu, sementara Skipper melakukan hal yang sama untuk earphone sebelahnya. Ketika pria beriris mirah di sebelahmu menyalakan programnya, kau dapat mendengar percakapan antara dua orang yang duduk di barisan depan.
~xXx~
"–ahahaha, kau masih ingat kejadian waktu itu." alismu berkedut mendengar suara Private.
"Tentu saja, bagaimana bisa lupa. Aku masih ingat ekspresi ibumu yang menegurku. Mengerikan." tawa mereka mengisi telinga kananmu. Apa maksud 'ekspresi ibumu yang menegurku'? Apakah itu berarti orang tua mereka saling kenal?
"Tapi itu memang sakit sekali. Kau tidak seharusnya begitu keras." dahimu mengernyit, sungguh sebuah kalimat ambigu.
"Ya, mau bagaimana lagi. Aku 'kan minta maaf denganmu sampai seharian setelah itu."
"Ah, tidak masalah. Anak kecil 'kan selalu ceroboh. Wajar kalau kau bisa menumpahkan air, wajar kalau aku terpeleset."
"Mmh, tapi aku tetap minta maaf telah membuatmu kesakitan."
"Sudah kubilang tidak apa-apa, Neil. Oh ya, aku penasaran."
"Apa?"
"Kita 'kan sampai sekolah menengah tinggal di Inggris, besar di Inggris. Saat masuk sekolah tinggi, kau pindah ke Amerika. Kau tidak bilang apa-apa padaku, ada apa memangnya?" kau dapat merasakan bola matamu membesar. Tidak disangka, orang bernama Neil ini adalah teman sejak kecil Private.
"Bisa dibilang urusan keluarga. Orang tua harus pindah karena pekerjaan, aku harus ikut."
"Ngomong-ngomong soal orang tua, bagaimana keadaan mereka?"
"Mereka? Oh, sudah meninggal. Setahun setelah kami pindah ke Amerika." kau melirik ke arah Neil dan Private. Terlihat Private kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"M-maaf, aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa." dengan jelas kau dapat melihat Neil menyunggingkan sebuah senyuman.
"E-erh. O-oh ya, kau masih ingat saat kita bertemu di universitas?"
"Tentu saja, justru aku bingung kenapa kau mengikutiku ke New York." matamu menangkap semburat merah di wajah Private.
"S-siapa yang mengikuti, k-kebetulan saja universitas yang kita ambil sama."
"Oh, berarti telfon ibumu kalau kau pindah ke New York karena tahu aku kuliah di sini serta perintahnya untuk menjagamu tidak benar, eh?" kau dapat melihat wajah Private semakin memerah. Rasa kesal serta penasaran bercampur aduk di benakmu.
"Eh, Neil. Ada yang ingin kutanyakan."
"Hmm?"
"Saat aku datang ke Amerika dan bertemu kau di universitas, kenapa kau melarangku untuk memanggilmu Blowho–"
"Jangan."
"E-eh, bahkan walau hanya kita berdua?"
"Pokoknya jangan. Jangan panggil lagi. Anggap nama panggilan kecil itu sudah tidak ada."
"N-Neil?"
"Ahahaha, aku hanya malu dengan panggilan itu. Kau tahu, panggilan itu akan membuat kepopuleranku di universitas menurun. Kau tahu 'kan bagaimana para wanita melihatku di universitas dulu, liebe."
"Kalau begitu kau juga hentikan panggilan memalukan itu!" sekali lagi kau menangkap wajah Private bersemu.
"Ahahahaha–"
Skipper mematikan penyadap suaranya. Dugaan kalian berdua sudah mantab. Kalian telah berhasil mengetahui siapa identitas pria berkacamata yang duduk bersama Private. Tidak ada lagi keraguan. Bahkan kalau kalian ingin menjadi perfeksionis dengan menghitung tahun kasus pertama Blowhole dengan kedatangan Neil di Amerika, semua akan cocok. Akan tetapi kau tahu tidak semudah itu untuk mengungkap identitas Neil dan menyeretnya ke negara. Kalau sekarang kau menyergapnya, ia akan dengan mudah mendapat sandera. Apalagi mengingat kemampuannya berdasarkan kasus-kasusnya. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.
~~xxXxx~~
"Even if you're in the ends of the earth, I will seek you out right now." - Even If You're In the Ends of the Earth–Sekai no Hate ni Kimi ga Ite mo / Shuuhei Kita
Author's note: Well, expect the unexpected. Blowhole bener-bener...sempurna banget ya? Udah ganteng, jenius, skill-nya di atas orang-orang lagi, beuh. Tapi mau gimana lagi, di kartunnya juga Blowhole digambarkan penjahat terhebat, 'kan? Beberapa refrensi saya ambil dari kartunnya, seperti Coney Island yang jadi latar beberapa chapter terakhir. Saya mohon maaf banget kalau kali ini alurnya terkesan dipaksain atau terlalu cepat. Semoga mengerti bagaimana asal-usul Blowhole dan Private yang diselipkan di chapter ini. Saya minta maaf apabila ada typo, salah penuturan, kalimat bertele-tele, dan lainnya.
Thank you for reading
