Len nii-chan marah sama Luka...
Kenapa...?
Kenapa Luka sangat Sedih...?
Luka nggak mau dibenci Len nii-chan...
Sangat tidak mau...
Jangan benci Luka...
Childish
Presented by: Hikari-me
Disclaimer by: Yamaha, Crypton
Pair: LenKa (Len x Luka)
Warnings: Author masih belajar, banyak typo, alur sepertinya lambat
Don't like don't read.
Please, enjoy it
"Berhenti memanggilku nii-chan..."
Luka memandang Len dengan tatapan terkejut, dia tidak menyangka kalau Len akan berkata begitu. Luka tidak sanggup lagi melihat kearah Len, dia menundukkan kepalanya, sebagian poninya yang panjang menutupi matanya, dia menggenggam tangannya yang tadi ditepis oleh Len.
"Ma... maaf..."
Luka mengatakan kata maaf dengan suaranya yang gemetar, dia berusaha untuk menahan air matanya, berusaha tidak menangis. Melihat Luka yang hampir menangis, Len sadar kalau ucapan dan sikapnya barusan cukup keterlaluan untuk Luka, tapi dia memang merasa kesal melihat kejadian beberapa saat yang lalu. Len merasa tidak enak dengan sikapnya tadi, tapi rasa kesal membuatnya sulit minta maaf.
Tidak tahan berlama-lama disana Luka segera berbalik dan meninggalkan tempatnya berdiri, dia berlari kearah gedung rumah sakit, sedangkan Len tidak mengejarnya bahkan memanggilnya, yang dia lakukan hanya berdiri diam sambil memperhatikan Luka yang sudah hampir menghilang kedalam gedung, lalu segera berjalan meninggalkan rumah sakit.
~~~Childish~~~
"Kenapa seperti ada yang aneh antara Luka chan dan Len...?"
Rin yang menyadari ada yang aneh sejak kemarin bertanya pada Luka yang datang kekamarnya. Luka yang biasanya akan menjawab dengan ceria hanya menggeleng, melihat wajah Luka yang cemberut, Rin semakin yakin kalau ada masalah antara dua orang ini. Dia mengusap kepala Luka yang duduk di samping tempat tidurnya.
Hari ini Luki hanya mampir sebentar menengok Luka di pagi hari Karena pekerjaannya yang cukup sibuk. Dan tentu saja siang hari Luka sendiri, karena merasa kesepian dia main kekamarnya Rin walau tahu dia bakal bertemu Len.
"Luka chan cerita dong apa yang terjadi." Rin membujuk Luka untuk menceritakan apa yang terjadi. Beberapa kali Luka menolak untuk menceritakannya, tapi Rin terus saja membujuk Luka.
"Jangan begitu Luka chan, nanti jadi nggak manis lagi." Ucap Rin dengan tersenyum.
"Len nii-chan marah sama Luka..." setelah cukup lama terdian akhirnya Luka mulai mengatakan apa yang ada di pikirannya walau dengan sedikit keraguan.
"Marah kenapa?" tanya Rin lagi.
Luka menjawab pertanyaan Rin tadi hanya dengan gelengan kepalanya, bukannya dia tidak mau mengatakannya, tetapi Luka memang tidak tahu apapun, yang dia tahu hanyalah Len yang marah padanya tanpa dia mengetahui alasannya. Rin yang mulai paham cerita Luka mengangguk, tapi dia masih penasaran apa yang membuat Len marah.
"Luka chan tenang saja, biar aku yang akan memarahi Len." Kata Rin sambil tersenyum, Luka yang mendengarnya hanya tersenyum kecil.
Tok!Tok!
"Masuk saja..." Rin berteriak dari dalam kamarnya. Rin sudah bisa menduga kalau yang mengetuk pintu barusan pasti Len.
"Rin ini..." Len yang masuk kekamar Rin menjeda kata-katanya begitu melihat Luka yang ada dikamar Rin.
"Luka..."
Luka terkejut mendengar Len memanggilnya, dia mencengkram seprai tempat tidur Rin dengan kuat, dengan ragu dia menoleh kearah Len lalu menunjukkan senyumnya, senyum yang dipaksakannya. Len bingung harus bagaimana setelah kejadian kemarin, memang dia menyesal mengatakan hal itu dan setelah melihat Luka tersenyum dengan sedikit dipaksakan begitu dia tambah menyesal.
"Selamat datang Le..." Luka memotong kata-katanya, dengan cepat dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Beberapa saat Luka melepas tangannya lalu melanjutkan kalimat yang terpotong tadi. "Kagamine san..." Lanjut Luka.
Len terdiam mendengar Luka memanggilnya begitu, perasaan aneh yang terasa sekarang. Memang dia sudah mengatakan 'berhenti memanggil nii-chan', tetapi cara Luka memanggilnya barusan benar-benar aneh mendengarnya. Cukup lama suasana menjadi hening, Luka yang tidak tahu harus apa lagi segera berdiri lalu berjalan cepat kearah pintu, dia berjalan meninggalkan kamar Rin.
"Bagaimana rasanya dipanggil begitu oleh Luka?" Rin tersenyum kearah Len yang masih berada didekat pintu. Len diam tidak menjawab pertanyaan Rin.
"Seperti dianggap orang asing, seperti orang yang tidak dikenalnya dekat kan?" Tanya Rin lagi begitu melihat Len yang terdiam.
"Kau mau cerita kenapa kau bisa marah pada Luka...?" Rin semakin tersenyum lebar.
Len yang dari tadi diam, merasa tidak punya pilihan lain kecuali menceritakannya. Dia menceritakannya, Rin hanya mendengarnya tanpa menjeda sama sekali, dia memilih untuk mendengar cerita lengkapnya dulu sesudah itu dia akan berkomentar banyak pada Len.
"Lalu karena hal itu kau boleh mengatakan yang begitu pada Luka chan?" tanya Rin saat Len selesai menceritakannya. Terlihat kalau Rin jadi kesal pada Len.
"Memangnya tidak boleh kalau aku bilang begitu?" Len balik bertanya pada Rin.
"Bukannya tidak boleh, tapi caramu mengatakannya itu yang salah. Walau aku tidak lihat tapi aku bisa tahu bagaimana cara dan ekspresimu saat mengatakannya." Rin bersandar di dinding tempat tidurnya, dia melipat tangannya dan memandang tajam.
"Jangan sok tahu." Len kesal melihat Rin yang memandangnya begitu.
"Aaaahhhh... Sebenarnya siapa sih yang kekanakan...?" Rin frustasi sendiri menceramahi saudara kembarnya ini.
"Dengar Len, Apa kau lupa kalau Luka itu umurnya 5 tahun?" Rin mengingatkan Len.
"Memang sekarang Luka itu gadis berusia 16 tahun, tapi jiwanya masih 5 tahun. Jadi wajar saja dia bersikap kekanakan begitu dan kau yang sudah SMP ini bersikaplah dewasa sedikit, walau hanya sedikit saja." Rin diam menunggu reaksi dari Len. Len yang hanya diam dengan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Rin menghela napas berat lalu melanjutkan kata-katanya.
"Apa kau suka dipanggil 'Kagamine san' oleh Luka begitu...?"
"Kau suka pada Luka kan?"
Sebelum Rin menambah pertanyaanya lagi, dia menunggu jawaban dari Len atas pertanyaanya yang tadi. Dia memperhatikan Len yang terlihat tidak peduli, tapi dia tahu kalau sebenarnya Len memikirkan pertanyaannya tadi. Rin menuggu dengan sabar, dia memberikan waktu untuk Len berpikir. Setelah cukup lama terdiam. Len menghela napas panjang, berniat menjawab pertanyaan Rin.
"Ya... Aku suka dia..." Len menjawab pertanyaan Rin.
"Aku suka dia, aku bukannya benci dipanggil nii-chan oleh Luka tapi apa kau tahu kalau dia memanggilku begitu karena dia menganggapku sebagai kakaknya? Aku tahu kalau dia lebih memikirkan kakaknya. Aku tidak mau kalau dianggap kakaknya." Ucap Len dengan nada kesalnya. Rin teringat sesuatu saat Len menjawab pertanyaannya barusan.
"Kalau begitu aku akan memberitahu sesuatu yang bagus." Kata Rin sambil sambil tersenyum jahil. Len hanya menatapnya bingung.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini padamu, karena aku sudah bisa menebak bagaimana reaksimu kalau mendengarnya." Kata Rin yang semakin membuat Len penasaran.
"Kau ingin bilang apa sebenarnya?" Tanya Len yang tidak sabar lagi.
"Saat dia demam kemarin, Luka mengigaukan sesuatu. Dia memanggilmu beberapa kali dan mengatakan 'sangat suka Len nii-chan'..." Rin mengatakannya dengan nada sedikit jahil. Wajah Len memerah saat mendengarnya, entah kenapa Len merasa senang mendengar hal itu. Rin tersenyum geli melihat wajah Len yang memerah sesuai dugaannya.
"Kalau mendengarnya kau pasti akan merasa sangat senang, makanya aku malas bilang ini padamu." Rin pura-pura menyesal padahal ini cukup ampuh untuk membujuk Len.
"Apa kau masih berpikir kalau Luka lebih memikirkan kakaknya dari pada kau, setelah mendengar ini?" Rin tersenyum senang karena cara ini benar-benar ampuh.
"I, Itu... sepertinya tidak..." Jawab Len gugup.
"Lupakan dulu masalah kemarin itu. Sekarang minta maaflah pada Luka." Rin tersenyum kearah Len. "Kalau kau masih ingin di panggil Kagamine san, tidak usah juga tidak apa-apa." Lanjut Rin.
"Baiklah, aku akan minta maaf." Jawab Len. "Aku akan mencarinya dulu." Lanjutnya sambil meninggalkan kamar Rin. Rin yang mendengarnya tersenyum, dia merasa puas kerena berhasil menceramahi Len untuk berbaikan dengan Luka.
"Sulit juga menceramahinya begitu." Kata Rin saat len sudah meninggalkan kamarnya.
~~~Childish~~~
Len mencari Luka di kamarnya tapi seperti biasanya tidak ada siapapun disana, Luka memang paling jarang berdiam diri disatu tempat, dia lebih suka berjalan keliling disekitar rumah sakit yang sudah seperti rumahnya sendiri. Karena sifatnya yang seperti itu biarpun kakaknya sudah meminta kalau keberadaan Luka dirumah sakit ini merupakan rahasia tapi sudah cukup banyak yang mengenali Luka, walaupun sebagian besar hanya menyapa saja saat bertemu Luka.
Len sudah mencari Luka di tempat yang kira-kira Luka datangi seperti dihalaman tapi tidak ketemu. Hanya satu tempat yang belum dicarinya yaitu ruang kerja Kaito. Dia segera menuju lantai 19 dan benar saja saat hampir sampai didepan ruangannya Kaito, dia melihat Luka sedang mengobrol dengan Kaito, terlihat dia membawa beberapa lembar kertas dan map tipis di tangannya yang sepertinya itu milik Kaito. Len mempercepat langkahnya mendekat kearah mereka.
"Luka...!"
Luka dan Kaito menoleh kearah Len yang masih beberapa langkah dari mereka.
"Le..." lagi-lagi Luka memotong kata-katanya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, map dan kertas yang tadi ada di tangannya jatuh berserakan dilantai begitu saja, beberapa kali dia mencoba mengatakan sesuatu tapi selalu dibatalkannya.
"Nggak bisa!"
"Hah?" Kaito yang ada disamping Luka heran mendengar apa yang baru saja dikatakannya dengan berteriak itu.
"Luka nggak bisa!" setelah mengatakan untuk kedua kalinya Luka langsung berbalik dan berlari dari sana. Len yang melihatnya segera menambah kecepatannya.
"Luka tunggu...!" Len berlari melewati Kaito begitu saja, sedangkan Kaito hanya bengong melihat dua orang ini dan kejadian yang seperti de javu saja.
"Ada apa lagi ini? Kemarin Luki dan sekarang Len." kata Kaito sambil menghela napas panjang. Hei, hei Kaito... kalau menghela napas panjang begitu kebahagiaan akan berkurang ada pepatah begitu kan?
"Hei Kaito, Apa kau tahu dimana Luka?"
Kaito yang sibuk membereskan kertas yang berantakan dilantai menghentikan kegiatannya sebentar lalu menoleh kearah orang yang memanggilnya yang ternyata orang itu adalah Luki.
"Luka baru saja pergi tadi." Jawab Kaito sambil menunjuk arah Luka berlari tadi.
"Kalau begitu aku akan mencarinya." Kata Luki sambil membalikkan badannya dan mulai meninggalkan Kaito.
"Tunggu sebentar, ada yang mau kubicarakan denganmu." Kata Kaito dengan nada serius. Luki yang sudah berjalan beberapa langkah menoleh kearah Kaito.
"Soal apa?" tanyanya dengan sedikit malas.
"Tentu saja soal Luka." Jawab Kaito sambil membuka pintu ruang kerjanya. Luki berpikir sebentar.
"Baiklah." Jawab Luki.
~~~Childish~~~
"Luka tunggu...!"
"Nggak! Luka nggak bisa!"
"Berhenti!"
Suasana rumah sakit yang awalnya tenang dan sedikit sepi mulai gaduh berkat dua orang yang sedang lari-lari sambil berteriak ini. Orang-orang yang mereka lewati sampai memperhatikan mereka dan suara mereka terdengar sampai di kamar-kamar pasien lain termasuk kamar Rin. Rin yang sedang asik memainkan PSP nya terkejut mendengar suara mereka.
"Oh, suara mereka berdua toh." Kata Rin singkat.
Walau tadi sempat terkejut Rin hanya menanggapinya dengan santai dan melanjutkan permainanya tadi.
Setelah cukup lama, akhirnya Len bisa memperpendek jarak, dia berhasil meraih tangan Luka dan menghentikannya, dengan cepat Len memeluk Luka dari belakang. Sesaat mereka diam mengatur napas masing-masing.
"Nggak bisa! Hiks... Luka nggak mau Len nii-chan marah lagi! Luka nggak mau dibenci..." Luka mulai terisak, airmatanya mengalir jatuh membasahi pipinya, sesekali dia menyekanya dengan punggung tangannya.
"Aku tidak akan marah lagi dan aku tidak membencimu..." ucap Len lembut.
"Bohong! Hiks...Pasti nanti marah lagi... Huuaaaa..." tangis Luka semakin menjadi. Len semakin bingung bagaimana menghentikannya. Len berjalan kedepan Luka, lalu memandang Luka yang masih terisak. Luka menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Len.
"Maaf... Maafkan aku Luka, waktu itu aku mengatakannya tanpa berpikir dulu." Len mengatakannya dengan nada menyesalnya.
"Tapi, Luka nggak tahu harus manggil bagaimana... hiks..." Luka menyeka airmatanya lagi.
"Maaf, Kau boleh memanggilku nii-chan." Kata Len sambil menghapus airmata Luka dengan lengan bajunya.
"Nanti nggak suka... Hiks... Luka benar-benar tidak mau dibenci..." Luka masih tidak berani menatap Len, airmatanya masih menetes berkali-kali.
"Aku senang Luka memanggilku begitu dan aku benar-benar tidak bisa membencimu Luka." Len tersenyum lembut pada Luka. Luka yang awalnya tidak berani menatap Len kini mengangkat kepalanya dan menatap mata Len langsung.
"Su... Sungguh? Luka boleh manggil nii-chan...?"
"Iya boleh."
"Len nii-chan nggak benci Luka kan...?"
"Tidak."
"Len nii-chan sayang sama Luka...?"
"Iya, Aku sayang Luka."
Kata-kata terakhir Len justru membuatnya jadi malu sendiri. Sedangkan Luka merasa sangat senang mendengar perkataan Len. dengan gembiranya Luka langsung memeluk Len dengan erat.
"Hore... Luka sayang Len nii-chan..."
"Iya, Luka berhenti menangisnya ya?" Len membalas pelukan Luka.
"Hehehe..." Luka menjawabnya hanya dengan tawa kecilnya.
"Nah, sekarang kita kembali kekamar ya?" Len melepas pelukannya lalu menghapus sisa airmata Luka. Sesaat Luka ingat kata-kata mamanya.
"Len nii-chan."
"Ya..."
Cup...
Belum sempat melanjutkan perkataannya, Luka sudah memberikan ciumannya tepat dibibir Len, dan karenanya sekarang wajah Len memerah, malu sekaligus bingung.
"A, apa...?" tanya Len dengan gugupnya.
"Hehe... kata mama itu cara menyampaikan rasa sayang.." Kata Luka dengan polosnya.
"La, lalu yang kemarin...?" Tanya Len lagi, dia berusaha mengendalikan rasa malunya.
"Kemarin...?" Luka memiringkan kepalanya sedikit bingung dengan pertanyaan Len, merasa Luka tidak mengerti Len mencoba mengganti pertanyaannya.
"Kemarin Luka mengantar seseorang kan? Siapa dia?" kali ini Len merasa Luka bisa menjawab pertanyaannya.
"Oh, Onii-chan..." Jawab Luka singkat.
"Hah!?" Len bingung dengan jawaban singkat dari Luka.
"Kemarin itu Onii-chan." Luka mengulangi jawabannya.
"ha.. O.. Oh begitu..." Len menggaruk pipinya yang tidak gatal, Kali ini dia benar-benar merasa menyesal karena sudah salah paham sekaligus lega mengetahui siapa orang kemarin.
"Kalau begitu Luka..."
Cup...
Kali ini giliran Len yang mencium Luka, memdadak pipi Luka terasa panas dan mulai memerah, padahal tadi dia tidak begitu sekarang dia jadi salah tingkah. Melihat wajah Luka yang memerah Len jadi ikutan salah tingkah juga.
"Itu karena aku juga sayang padamu." Kata Len. Luka masih bengong karena tindakan Len tadi. "Kenapa?" Tanya Len yang melihat Luka tidak bereaksi.
"Tidak..." Jawab Luka sambil tersenyum setelah sadar dari bengongnya.
"Kalau begitu ayo..." Len mengulurkan tangannya, kemudian disambut oleh Luka degan tersenyum.
"Iya..."
~~~To be Continue
Hikari's note:
Hai semuanya...
Apa kabar...?
Sudah sebulan ya fic ini nggak di update, sesuai janji kan ngupdate bulanan. Tapi sepertinya terlalu lama ya? Gimana menurut kalian?
Authornya nggak kreatif nih, masa' 2 chapter jalan ceritanya hampir sama. Apa boleh buat juga, soalnya saya ngetik ini lagi kehabisan ide, tapi aku lebih suka adegan kejar-kejarannya Luka sama Len daripada Luka sama Luki, itu menurutku lho... pendapat kalian gimana...? (kepo...)
Bales review dulu deh...
Dari Aprian. 3/3/13 . chapter 6: terima kasih sudah di review lagi. iya tuh kalo Luki tahu, Len pasti dihajar sama Luki gara-gara buat Luka nangis... haha... terima kasih sudah memberitahukan nama fb mu, seharusnya aku yang bilang maaf karena lupa namanya...
Karena sepertinya update bulanan terlalu lama jadi chapter seanjutnya akan ku update 2 minggu lagi, chapter selanjutnya juga sudah jadi sih, tinggal di benarkan di berbagai tempat...
Nah...
Segini dulu salam dari ku...
Kalau ada saran, kritik, typo dan yang lainnya silakan sampaikan lewat review...
Review kalian sangat menambah semangatku menulis Fic ini maupun fic yang lainnya...
Salam Hikari-me
Sampai jumpa di chapter berikutnya...
Oh ya... hampir lupa...
Bocoran ceritak selanjutnya: Kaito mengatakan sesuatu pada Luki yang membuatnya benar-benar bingung antara jujur atau berbohong... kira-kira apa yang di katakan Kaito ya...?
