How To Love
•
by willis.8894
•
•
•
Casts: Oh Sehun, Kim Jongin, Kim Kai, Jung Krystal
Pairing: JongHun, KaiHun, Slight!KaiStal, SuSoo
•
•
•
RATE: T+
•••
CHAPTER SIX: RECONSILIATION.
Sehun mengerang. Kepalanya terasa begitu sakit seperti dihantam palu berkali-kali. Kenapa ia seperti ini? Apa yang terjadi? Ia ingat bertemu Luhan di Bar lalu ditawari minuman lalu…
Pria manis itu merengek dan menutup wajahnya dengan lengan kurusnya, kepalanya terasa sangat sakit dan matanya begitu silau. Ia bahkan tak kuat untuk membuka matanya sedikit saja.
"Kau sudah bangun," kata suara baritone yang cukup Sehun kenali itu, suara Jongin.
Kenapa Jongin ada disini? Dimana aku sebenarnya? Pikir Sehun mengintip sedikit dari lengan kurusnya itu.
Perlahan matanya sudah terbiasa dengan cahaya yang masuk dan ia bisa melihat meski tak terlalu jelas karena hantaman palu imajiner yang di kepalanya itu. Ia merasakan dua tangan berotot itu mengubahkan posisinya sehingga ia bersandar di kepala tempat tidur. Sehun merengek pelan merasakan kepalanya semakin sakit, kembali menutup matanya.
"Sehun, aku akan memberikanmu pil, cobalah untuk menelan," kata Jongin mengusap-usap kepalanya dengan lembut.
"Tidak mau," rengek Sehun tapi menikmati perlakukan lembut Jongin.
"Ini supaya sakit kepalamu hilang. Buka mulutmu, Hun," kata Jongin masih sabar menghadapi Sehun.
"Tidaaaak," rengek Sehun menutup mulutnya dengan tangan dan menggeleng pelan. Ia kembali merengek begitu merasakan kepalanya semakin sakit.
Sehun mendengar Jongin menghela nafas lelah, ia berpikir pria itu sudah menyerah menyuruhnya meminum apapun itu. Tanpa bisa diduga, detik berikutnya tangan yang menutupi mulutnya tersingkir dan dua daging kenyal itu menyentuh bibirnya. Mata Sehun terbelalak lebar dan ia bisa melihat wajah tampan Jongin dari dekat, mata Jongin tak terpejam melainkan menatapnya dengan intens.
Bibir Jongin menyentuh bibirnya dan Sehun bisa merasakan sesuatu disela-sela bibir Jongin, sebuah pil.
Sehun membuka mulutnya hendak protes, namun lidah Jongin mendorong masuk benda diantara bibir Jongin itu masuk ke dalam mulutnya, semakin mengejutkan Sehun. Lalu bibir Jongin meninggalkan bibirnya, tergantikan dengan bibir gelas dan air mengaliri tenggorokannya membantunya menelan pil itu.
Sehun hanya bisa terengah-engah sedikit begitu gelas menyingkir dari mulutnya. Ia menatap Jongin dengan mata sayunya. Pandangannya semakin lama semakin jelas begitu juga berkurangnya hantaman palu imajiner itu dan ia bisa melihat tatapan intens Jongin tertuju padanya.
"Kenapa kau menciumku?" tanya Sehun menutup bibirnya dengan punggung tangannya, pipinya merona malu.
"Kau tak mau menurut," jawab Jongin namun matanya masih menatap bibir Sehun yang terhalangi itu dengan intens.
Sehun melemparkan bantal ke wajah tampan pria tan itu, membuat Jongin tampak tersadar dan mengalihkan pandangannya ke mata Sehun, menatapnya heran. "Jangan lihat-lihat!" kata Sehun galak pada pria itu.
Jongin mendengus sebelum tertawa kecil, mungkin karena menyadari rona wajah Sehun yang terlihat jelas itu. "Baik, baik, aku akan berhenti melihat. Kau sudah baikan sekarang?" tanya Jongin.
Sehun mengangguk pelan. "Apa yang terjadi semalam?" tanya Sehun bingung.
"Kami menjemputmu di Bar. Kau bersama seorang pria sedang menari dalam keadaan mabuk berat," kata Jongin menatap tajam Sehun, jelas tampak marah dengan sikap Sehun itu.
Sehun menunduk menghindari tatapan Jongin dan punggungnya merosot perlahan, berusaha membuat dirinya terlihat semakin kecil dihadapan Jongin yang marah itu. Tangannya mengambil bantal disampingnya dan berniat untuk menutupi wajahnya, namun Jongin sigap merebut bantal itu dan menyingkirkannya. Masih menatap tajam Sehun.
"Sehun," kata Jongin tegas memegang dagu Sehun dan memaksanya untuk menatapnya. "Kenapa kau lakukan itu?" tanyanya menuntut jawab.
"Maaf," cicit Sehun berusaha menghindari tatapan Jongin meski dagunya tetap ditahan oleh pria itu. "Aku takkan melakukannya lagi," bisik Sehun terdengar begitu menyesal.
Jongin masih menatapnya intens, berusaha menangkap mata Sehun dengan matanya meski Sehun menghindarinya. Lalu pria itu menghela nafas pelan dan melepaskan dagu Sehun, mengusap pipi mulus itu dengan lembut.
"Kau berjanji?" tanya Jongin terdengar begitu rendah dan seksi ditelinga Sehun, membuatnya semakin tak berani menatap pria tampan itu dan jantungnya berdebar-debar.
"Aku janji," bisik Sehun.
Jongin tersenyum lembut padanya dan sedikit mengangkat tubuh kurus Sehun agar duduk dengan benar sambil bersandar dengan kepala tempat tidur. Pria tan itu bergeser agar semakin dekat dengan Sehun sementara pria manis itu hanya menunduk, tak berani menatapnya.
"Bisa kita bicara tentang kita sekarang?" tanya Jongin.
Sehun mengulum bibirnya masih tak menatap Jongin, lalu mengangguk kecil.
"Ketika kau mabuk semalam, kau bicara semuanya yang kau pendam selama ini. Kau marah karena aku tiba-tiba berhenti membalas suratmu dan memiliki sahabat baru," kata Jongin memulai.
Sehun merengek pelan mendengar itu. Kenapa aku begitu bodoh?! Kenapa mulutku tak bisa tertutup rapat ketika mabuk?! Pikir Sehun mengerang, hendak menutup wajahnya dengan kedua tangannya, namun tangan Jongin sigap menahannya.
"Sehun, bicara padaku," kata Jongin memerintah dengan lembut.
"Aku tak tahu," jawab Sehun lirih. "Aku tak tahu apa yang ingin kudengar darimu. Kebohongan manis atau kenyataan pahit, dua-duanya terasa menyakitkan bagiku. Dan kau… sudah punya Taemin," kata Sehun yang suaranya semakin lama semakin mengecil.
"Aku tak pernah membuangmu, Hun. Itulah kenyataannya," kata Jongin tegas.
Sehun menangkat wajahnya dan menatap Jongin tajam, marah, kesal, frustasi. Air mata perlahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tak pernah membuangku? 9 tahun, Kim Jongin! 9 tahun kau mengabaikanku! Kau mengabari orang tuamu tapi kau tidak mau mengabariku! Aku merindukanmu selama 9 tahun ini tapi tak satu kabarpun kuterima langsung darimu!" kata Sehun berseru dan tak bisa menahan air matanya, tangan kurusnya itu memukul-mukul dada Jongin untuk melampiaskan rasa frustasinya.
Jongin tak melawan ataupun menghindar, hanya menerima pukulan Sehun begitu saja. Hanya diam dan menunggu hingga Sehun berhenti dan hanya terisak sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Jongin.
"Aku merindukanmu," kata Sehun disela isakannya. "Aku menangis ketika terlalu merindukanmu. Terkadang nafasku terasa begitu sesak hanya karena merindukanmu."
"Aku minta maaf," bisik Jongin memeluk Sehun, satu tangannya mengusap punggung pria itu dengan lembut dan satunya mengusap rambut Sehun.
"Kau jahat!" kata Sehun lagi disela isakannya, memukul dada Jongin dengan lemah.
"Ya, maafkan aku menjadi pria yang jahat," bisik Jongin menyesal, mengecupi pelipis dan rambut Sehun penuh sayang. "Bolehkan pria jahat ini mengatakan kebenarannya sekarang?" tanya Jongin pelan masih menciumi rambut Sehun.
Sehun terdiam sebentar lalu mengangguk pelan, masih menyandarkan kepalanya di dada Jongin. Jongin kembali menyandarkan tubuh Sehun dikepala tempat tidur dan berpindah ke sampingnya, menyandarkan punggung lebarnya ke kepala tempat tidur sebelum mengangkat Sehun untuk duduk di pangkuannya. Wajah Sehun merona dengan posisi mereka yang begitu intim itu, jadi ia memilih untuk memeluk bahu lebar Jongin dan menenggelamkan wajahnya dileher Jongin.
Detak jantung dan hembusan nafas Jongin yang teratur membuatnya tenang, seperti dulu. Sehun kembali mengingat ketika masih kecil, Sehun sering duduk dipangkuan Jongin ketika pria itu membacakannya dongeng. Atau jika mereka berbaring bersama, Sehun selalu meletakan kepalanya diatas dada Jongin karena detak jantung Jongin yang teratur itu selalu sukses membuatnya tertidur.
Jongin memeluk pinggang ramping Sehun dan kembali menciumi rambut Sehun dengan sayang. "Apa kau ingat surat terakhir yang kau kirimkan padaku, yang membuatku tiba-tiba berhenti membalas suratmu?"
Sehun terdiam sebentar lalu menggeleng. Ia tak ingat sama sekali. Ia hanya menulis dan mengirimkannya pada Jongin, ia bahkan lupa apa yang ia tuliskan. Mungkinkah aku menyinggung perasaan Jongin saat itu? batin Sehun bertanya-tanya.
"Sebenarnya tak ada yang salah dalam suratmu, Hun. Hanya saja… itu berdampak cukup besar bagiku," kata Jongin.
Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Jongin bingung. Jongin hanya tersenyum sendu dan menangkup wajah Sehun dengan tangan kanannya, jempolnya mengelus-elus pipi Sehun dengan lembut.
"Kau menceritakan tentang teman barumu, Huang Zitao yang baru datang dari Cina. Kau menulis tentang Kai hampir 2 halaman dan 1 halaman terakhir kau menulis tentang Pria Huang ini," kata Jongin memberitahu. "Saat itu aku menyadari kau bahagia. Kau bahagia bahkan tak ada aku disini."
Sehun mengerutkan keningnya, jelas masih tak mengerti sepenuhnya. "Kau tak suka aku bahagia?" tanya Sehun heran.
"Ya," jawab Jongin semakin membuat Sehun bingung. Pria Tan itu mengeratkan pelukannya di pinggang Sehun hingga dada Sehun merapat dengan dadanya. "Aku pria jahat yang egois, Sehun. Aku tak suka melihatmu bahagia tanpaku. Aku iri pada Kai dan teman-temanmu yang lain yang bisa membuatmu tersenyum, tertawa. Anggap aku pria sadis yang posesif, tapi aku senang membaca suratmu yang tampak begitu menderita karena merindukanku. Maafkan aku, Sehun."
Air mata Sehun kembali mengalir di pipinya dan ia menenggelamkan wajahnya di bahu Jongin, mengeratkan pelukannya pada tubuh berotot pria itu. Ia tak tahu harus merasa tersanjung atau sedih mendengarnya. Jongin sudah berubah, ada bagian dalam diri Jongin yang tak Sehun kenal, suatu sisi yang tak pernah Sehun tahu ada di dalam diri sahabatnya itu.
Tapi Sehun juga mengenal Jongin bahkan ketika masih dini. Sehun tahu Jongin, meski begitu tenang dan pendiam, adalah sosok yang tak berteman baik dengan kesepian. Jongin benci kesepian, itu sebabnya Jongin tak suka jika Sehun meninggalkannya untuk bermain dengan Kai ketika kecil. Karena Sehun satu-satunya temannya, satu-satunya sahabatnya. Jongin bukan orang yang suka berteman dengan banyak orang, ia hanyalah seorang pria yang mudah kesepian. Hal itu tak pernah berubah sejak dulu.
"Kudengar kau sibuk belajar karena mengikuti program khusus. Apa kau kesepian disana?" tanya Sehun lirih.
Jongin menenggelamkan wajahnya dirambut Sehun, menciumi wangi yang begitu menenangkannya. "Ya, sangat. Hari-hariku, hatiku, hidupku terlalu sepi tanpamu," jawab Jongin memeluk erat pinggang ramping Sehun seakan tak ingin pria ini pergi dari pelukannya.
"Apa kau merindukanku?"
"Sangat. Selalu. Setiap hari. Setiap jam terasa bagai neraka bagiku."
"Tapi kau punya Taemin," bisik Sehun serak dan air matanya mengalir deras.
"Taemin sekretarisku sejak aku menjadi CEO ketika umurku 18 tahun. Dia sahabatku, tapi tak ada yang menggantikan posisimu, Hun," kata Jongin tersenyum lembut dan mengangkat wajah Sehun dari bahunya, menatap dalam pada mata cokelat pria manis itu. "Apa ada yang menggantikan posisiku disini? Kau terlihat memiliki banyak teman."
Sehun menggeleng. "Tak bisa tergantikan," bisik Sehun dan mengecup pipi Jongin penuh sayang. "Aku menyayangimu," katanya kembali memeluk Jongin erat dan mengistirahatkan kepalanya di bahu Jongin.
"Aku juga sangat menyayangimu," kata Jongin mengecup pipi Sehun hingga seluruh sisi wajahnya yang bisa bibir tebalnya jangkau dengan posisi mereka ini. "Apa kita sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Jongin pelan.
Sehun menggeleng, membuat tubuh Jongin kaku seketika. Ia menangkat wajahnya dan menatap wajah tampan Jongin yang begitu datar. "Kau harus membelikanku Bubble Tea cokelat dan Strawberry Cheese Cake," kata Sehun tersenyum dengan manisnya dan terkikik kecil melihat Jongin menghela nafas lega.
"Jadi ini maksudmu mengatakan kau suka dua hal itu, huh?" kata Jongin tertawa kecil.
Sehun cemberut dan menonjok dada Jongin pelan. "Kau tak peka! Taemin juga!" rengek Sehun.
"Dia Hyungmu, ngomong-ngomong," kata Jongin tertawa melihat wajah cemberut Sehun. "Baiklah, aku akan belikan sekarang. Kau juga perlu mandi kurasa," kata Jongin menurunkan Sehun dari pangkuannya dan turun dari tempat tidur.
"Jongin," panggil Sehun membuat sahabatnya itu menengok. "Soal perjodohan kita—"
Jongin tersenyum lembut dan mengusak rmabut Sehun. "Kita bisa bicarakan pelan-pelan, tak perlu dibahas sekarang. Kurasa Kai juga perlu bicara denganmu, kau mengatakan terlalu banyak hal ketika mabuk semalam."
Sehun merengek dan menenggelamkan wajahnya di bantalnya mendengar itu. Jongin hanya tertawa kecil dan mengecup puncak kepalanya sebelum meninggalkan Sehun sendirian di kamarnya.
Kurasa Jongin benar. Aku harus bicara dengan Kai, pikir Sehun menghela nafas. Tapi aku harus mandi dulu.
•JongHun — KaiHun•
Setelah Sehun mandi pagi, ia keluar dari kamarnya. Kai sedang berada di dapur, sibuk dengan kulkas mereka. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya sahabatnya itu baru saja keluar. Itu aneh karena Kai bukan tipe orang yang suka bangun pagi.
Pria putih susu itu melangkah pelan menuju dapur, membuat susu cokelat untuknya. Ia melirik Kai yang menyadari keberadaannya dan mengamati setiap gerakannya dengan intens.
"Siang," sapa Kai setelah keheningan cukup lama.
Sehun mengerutkan keningnya mendengar itu dan melirik jam dinding. Kai benar, ini sudah pukul 12. Sepertinya Sehun bangun sangat siang hari ini. "Siang," balas Sehun pelan, berbalik menatap Kai dengan mug berisi susu cokelatnya.
"Bagaimana keadaanmu? Kepalamu sakit? Perutmu mual?" tanya Kai cemas.
Sehun menggeleng. "Jongin sudah memberikanku obat tadi, aku baik-baik saja," jawab Sehun memperhatikan bagaimana mata Kai menggelap dan wajahnya berubah datar ketika mendengar itu.
"Oh."
Canggung. Itu yang Sehun rasakan. Terasa begitu aneh karena ini adalah Kai yang berdiri dihadapannya. Pria yang 16 tahun ia kenal. Tak pernah ada kata canggung sebelumnya antara Sehun dan Kai, ini adalah pertama kalinya.
"A-aku akan kembali ke kamar—"
"Aku minta maaf, Sehun," kata Kai menyela omongan Sehun dan menatap tepat ke mata pria itu. "Aku minta maaf atas semua yang kulakukan padamu hari itu. Aku cemburu, aku tempramental, aku idiot. Tapi aku tak pernah bermaksud membuangmu meskipun aku memiliki Soojung sekarang," kata Kai melangkah mendekat pada Sehun, suaranya bergetar mengatakan kalimat yang terakhir itu.
Sehun menunduk menatap cokelatnya. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia sudah memaafkan Kai bahkan sebelum pria itu meminta maaf, tapi tetap ia meragukan kalimat terakhir itu.
Kai mengambil mug itu dari tangan Sehun dan meletakannya di konter dapur lalu memeluk tubuh kurus itu dengan erat, mengistirahatkan kepalanya di bahu Sehun. Sehun bisa merasakan bahunya basah dan ia baru menyadari bahwa Kai sedang menangis.
"Aku minta maaf. Aku sangat menyesal, Hun. Kumohon maafkan aku. Aku membutuhkanmu dalam hidupku," bisik Kai memohon lirih, memeluk tubuh Sehun semakin erat. "Kumohon maafkan aku, untuk semua hal yang menyakiti hatimu."
Suara Kai bergetar dan pecah dikata-kata terakhir. Tubuh Kai bergetar dan lengannya memeluk Sehun erat. Sehun tak ingat kapan terakhir kali Kai seperti ini, begitu sedih, begitu hancur hati, begitu frustasi, begitu—
Menyesal…
Dan hati Sehun justru sakit dan hancur melihat sahabatnya seperti ini. Ia tak ingin melihat Kai terus-terusan menyalahkan dirinya, baginya Kai menyadari apa yang ia lakukan salah dan takkan melakukannya lagi itulah yang terpenting.
Sehun balas memeluk tubuh Kai dengan erat dan mengusap rambut pirang sahabatnya. "Aku memaafkanmu, Kai. Aku tahu kau hanya emosi," kata Sehun pelan.
Kai melepaskan pelukannya, memandang Sehun dengan ragu dan tak percaya karena Sehun memaafkannya begitu saja.
Sehun tersenyum dan mengusap air sahabatnya itu. "Aku yang paling mengenalmu dengan baik, bukan begitu?" tanya Sehun retorik membuat Kai tersenyum lega padanya.
"Ada hal lain yang perlu kubicarakan denganmu," kata Kai menggenggam tangan Sehun dan mengambil mug cokelatnya, membimbing pria manis itu ke ruang TV dan mendudukannya di sofa. Kai langsung duduk disampingnya.
Sehun menatapnya bingung, Kai terlihat begitu serius membuatnya bertanya-tanya hal lain apa yang ingin Kai bahas.
"Ketika kau mabuk semalam," kata Kai memulai, tampak begitu gugup. "Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Kau mencintaiku diam-diam 7 tahun ini," kata Kai menatap ke mata Sehun, mencoba melihat reaksinya.
Jantung Sehun serasa berhenti seketika mendengar itu. Ia tak menyangka mulut bodohnya ketika mabuk membongkar rahasia terbesarnya! Rahasia yang hanya ia simpan sendiri! Bahkan Tao dan Baekhyun-pun tak tahu apapun! Bahkan Kyungsoo atau Suho juga tak tahu! Tak ada yang tahu sama sekali! Dan kini orang yang ia cintai juga tahu karena mulut bodohnya!
"Hei, Sehun, tenang. Sehun, bernafaslah perlahan," kata Kai buru-buru menangkup wajah Sehun agar fokus menatapnya.
Sehun tak menyadari tapi jantungnya bekerja begitu cepat dan nafasnya juga dua kali lebih cepat dari biasanya dan dadanya justru menjadi sesak. Air matanya mengalir karena kesesakan itu.
"Dengarkan aku, Sehun. Bernafaslah perlahan," kata Kai membuat Sehun fokus mendengarkan suaranya. "Hirup."
Sehun menghirup udara sebanyak yang ia bisa.
"Buang perlahan."
Sehun membuang nafasnya perlahan-lahan, mengikuti perintah Kai pelan-pelan. Mereka begitu untuk beberapa saat, Kai memberi instruksi dan Sehun mengikuti hingga nafas Sehun perlahan kembali normal.
"Bagus, kau melakukannya dengan baik," bisik Kai memuji dan mengusap-usap pipi Sehun lembut dengan jempolnya.
"Jangan menjauhiku," kata Sehun, suaranya pecah dan air matanya mengalir deras. "Kau bilang kau tak bisa hidup tanpaku. Aku juga. Jadi jangan menjauhiku hanya karena perasaanku padamu. Aku akan—"
Kai memeluk Sehun erat membuat ocehan panik Sehun itu terhenti. Sehun hanya bisa terisak dan memeluk Kai erat. Ia sangat takut. Ia sangat takut Kai akan meninggalkannya karena perasaannya ini. Ia masih tak siap untuk kehilangan persahabatannya dengan Kai.
"Aku takkan pernah menjauhimu hanya karena hal ini, Sehunnie," bisik Kai serak. "Aku minta maaf tak pernah menyadarinya dan menyakitimu selama ini. Aku selalu berpikir kau menyukai orang lain, aku tak pernah berpikir kau akan jatuh cinta padaku."
Sehun melepaskan pelukan Kai dan menatap wajah tampan sahabatnya itu dengan seksama, mencari kebohongan dalam perkataannya. Tapi Kai tetaplah Kai. Kai takkan pernah berbohong pada Sehun, sekalipun tidak. Kai, seorang Kai yang homophobic, menerima Sehun apa adanya meski ia gay dan tak merasa jijik bahkan setelah mengetahui perasaan Sehun padanya.
Kai, seorang Kai yang homophobic, meminta maaf pada Sehun karena telah menyakiti perasaan Sehun selama ini meski itu tak sepenuhnya salahnya. Meski itu sejujurnya adalah salah Sehun. Salah Sehun jatuh cinta padanya, salah Sehun menyembunyikannya begitu lama. Salah Sehun karena tak pernah mau berpindah hati meski tahu cintanya tak berbalas.
"Kau tidak jijik padaku," kata Sehun tak bisa menutupi nada terkejutnya.
Kening Kai berkerut tak setuju. "Kenapa aku harus jijik? Kau sahabatku, Sehun. Aku mengenalmu jauh lebih baik dari yang lain. Dicintai olehmu adalah keberuntungan terbesar dalam hidup orang yang mendapatkannya, Sehun. Kau seorang pria yang setia, menerima apa adanya, dan tak egois. Demi Tuhan, Sehun! Kenapa kau bisa berpikir aku jijik mengetahui perasaanmu padaku? Kau orang terbaik yang kukenal dalam hidupku!"
Air mata Sehun mengalir deras namun senyumnya mengembang mendengar semua pujian dan sanjungan Kai itu. Kai bukanlah seorang penjilat, ia tak suka menyanjung orang, ia sukar memuji orang. Dan Sehun tahu jelas itu. Apa yang baru saja Kai ucapkan adalah sanjungan terbaik yang pernah Kai ucapkan seumur hidupnya. Sehun yakin itu.
Kai mengusap air mata Sehun dengan lembut. "Aku minta maaf, Sehun. Aku minta maaf atas semuanya. Aku minta maaf karena tak bisa membalas perasaanmu. Kumohon jangan biarkan ini mengakhiri persahabatan kita. Aku akan melakukan apapun yang kau mau, apapun asal kau jangan pergi dari hidupku," kata Kai begitu memohon hingga seperti orang depresi.
Mungkin ini saatnya. Mungkin ini saatnya aku melepaskan cintaku pada Kai dan mencari cinta yang baru. Sudah saatnya aku mengakhiri cinta yang tak seharusnya ini dan berpindah hati, batin Sehun menatap wajah tampan Kai yang begitu frustasi. Demi kita berdua. Demi persahabatan kita.
"Aku takkan pergi, kau juga takkan pergi kemanapun. Kita akan bersama sebagai sahabat, Kai," kata Sehun tersenyum pada sahabatnya itu. "Mungkin penyebabku bertahan mencintaimu diam-diam karena kau belum jatuh cinta pada siapapun dan kau tak tahu perasaanku yang sebenarnya. Tapi Sekarang kau sudah mencintai Krystal dan sudah mengetahui perasaanku padamu, kurasa aku bisa bilang bahwa aku siap untuk berpindah hati," kata Sehun menatap tepat ke mata Kai, ingin sahabatnya ini menyadari betapa bersungguh-sungguhnya ia.
Kai jelas terkejut mendengar itu sebelum menghela nafas lega. Pria itu berbaring, meletakan kepalanya di paha Sehun dan memeluk pinggang ramping Sehun, menenggelamkan wajahnya di perut rata Sehun itu.
"Kau akan mendapatkan pria yang lebih pantas dariku, Sehun. Pria yang jauh lebih baik dariku. Dan aku akan menghajar siapapun yang berani mempermainkanmu," kata Kai bersumpah.
Sehun tertawa mendengar itu. Suara Kai sedikit teredam perutnya, tapi Sehun bisa mendengarnya dengan jelas. Pria manis itu hanya memainkan rambut Kai sambil menatap menerawang, menikmati waktu berdua dengan sahabatnya itu. Hatinya terasa begitu lega dan rasanya bernafas terasa begitu mudah. Ia patah hati tentu saja, tapi ini adalah patah hati terbaik yang pernah ia alami sejak menyadari perasaannya pada Kai. Tak ada kesesakan, tak ada rasa sakit.
Merelakan cinta yang 7 tahun kupendam ternyata tak sesulit yang kukira, batin Sehun memejamkan matanya dan mengambil nafas dalam. Menikmati bagaimana hidupnya terasa begitu ringan karena ia tak lagi menyimpan rahasia dari Kai.
Mereka hanya terdiam, menikmati keheningan itu. Tangan Sehun bermain-main dengan rambut Kai dan Kai tampak berbaring dengan nyaman, masih memeluk pinggang Sehun. Pikiran Sehun kembali pada insiden makan malam kemarin, bagaimana Kai terlihat begitu marah mendengar perjodohannya dengan Jongin.
"Kai," panggil Sehun pelan.
Kai bergumam menjawab.
"Kenapa kau begitu marah mendengar aku dijodohkan dengan Jongin?" tanya Sehun menunduk, menatap sahabatnya itu.
Kai terdiam sejenak sebelum memutar tubuhnya, melepaskan pelukannya dari pinggang Sehun dan berbaring telentang. Saling menatap dengan Sehun yang menunduk. "Aku ingin yang terbaik untukmu, Hun," kata Kai pelan, menghela nafas.
"Jongin bukan yang terbaik untukku?" tanya Sehun bingung.
"Aku ingin kau bahagia, Sehun. Ini memang perjodohan, tapi aku ingin kau memiliki pernikahan yang bahagia. Aku ingin kau menikah dengan pria yang mencintaimu, yang menjagamu layaknya hal terpenting dalam hidupnya. Aku tak ingin semua itu hanya status, aku tak ingin kau menunggu suamimu pulang dirumah sementara ia bekerja gila-gilaan di kantor dan mencari pelepasan pintas dari sekretarisnya. Aku tak menginginkan itu terjadi, Hun. Dan itu akan terjadi ketika kau menikahi Jongin karena ia seorang yang gila kerja," kata Kai menjelaskan, mengutarakan semua pikirannya. "Aku ingin kau menikahi orang yang pasti membahagiakanmu, Hun. Aku tak ingin kau mendapatkan suami brengsek yang tak bisa menghargaimu."
Sehun tak bisa menahan air mata harunya mendengar itu. Kai, Kim Kai, sahabatnya yang tempramental, kini begitu dewasa. Ia bagaikan kakak yang protektif pada Sehun, yang menjaga Sehun sebagai adiknya yang berharga.
"Aku tak tahu kau bisa sedewasa ini," kata Sehun meledek sambil mengusap air matanya.
Kai mendengus mendengar itu. "Kau benar-benar pintar merusak momen, huh?"
Sehun tertawa mendengar itu, namun tawanya tiba-tiba terhenti ketika teringat sesuatu. Ia kembali menunduk untuk menatap Kai yang mengamatinya itu.
"Kenapa kau tidak menghubungi dari kemarin-kemarin, Kai? Kenapa harus menunggu hari ini?" tanya Sehun pelan.
"Kau memblokir nomorku, Sehun. Aku tak bisa menghubungimu sama sekali. Aku menunggu hingga kau membuka blokiran nomorku, tapi kau tak juga membukanya," jawab Kai mengamati Sehun baik-baik.
Sehun berkedip. Satu kali. Dua kali. Tiga kali, memproses omongan Kai lamat-lamat. Matanya membola tampak panik dan mulutnya terbuka lebar begitu menyadari semuanya. Menyadari kebodohannya.
"Sehun?" panggil Kai, heran dengan reaksi Sehun itu.
"Aku lupa kalau aku memblokir nomormu," kata Sehun menatap Kai horor.
Kai langsung bangkit untuk duduk dan menatap Sehun seakan Sehun adalah alien yang datang dari planet tak dikenal. "Kau lupa?" tanya Kai tak percaya.
"Dan aku menunggu pesan permintaan maafmu, tapi tak pernah sampai padaku. Kupikir kau tak mau minta maaf," cicit Sehun menunduk tak berani menatap Kai yang menatapnya tampak tak percaya, terlihat ingin marah tapi tak bisa, dan frustasi.
"Aku tak bisa tidur tenang karena berpikir kau tak bisa memaafkanku dan ternyata kau lupa sudah memblokir nomorku?"
"Ma-maaf," cicit Sehun takut-takut.
"Oh Sehun, akan kubuang Bubble Tea dan Strawberry Cheese Cake yang kubeli untukmu tadi!" kata Kai menatap tajam sahabatnya itu dan bangkit berdiri, siap-siap ke dapur.
"TIDAAAAK!" seru Sehun menerjang Kai. Takkan kubiarkan tangan-tangan jahat ini menyentuh Bubble Tea dan Strawberry Cheese Cake-ku!
•THE END?•
Udahin aja yah disini biar happy ending HEUHEUHEUHEUHEU
OR
Continue to part II? #EAAAK
POKOKNYA MAKASIIIIIIIH BANYAAAAAAK REVIEWNYAAAAAAA BUAT KALIAN SEMUAAAAAA.
tanpa kalian apalah arti fic ini :')
Aku update karena kuliat laptopku nganggur '-')/
Sepertinya semua readers melewatkan satu bagian di Chap 5. Dimana Kai sejak awal mau minta maaf sama Sehun tapi ternyata Sehun udah ngeblokir nomor Kai. Dan ternyata Sehunnya sendiri yang oon karena lupa :"( Yaiyalah Hun semua sms/telpon dari Kai gak masuk ke hapemu, orang kamu blokir nomornya :"(
Inti dari chap ini:
JONGIN: Baik diluar tapi di dalam dia gak mau Sehun bahagia sama orang lain selain dia.
KAI: Brengsek diluar tapi yang diprioritasin Kai itu kebahagiaan Sehun.
Jadi kalian team mana? #TeamJongHun or #TeamKaiHun?
Atau team mana ajalah yang penting Sehun bahagia HEUHEUHEUHEU.
MOHON REVIEWNYA YAAA SEMUAAAA, Kritik dan saran akan sangat diterima ;D
Mau lanjut ke part II? 30 reviews bos ;D Aku udah kobam nulis chap2 di depan full KaiHun-JongHun moment xD
-willis.8894
P.S: -Aku inget ada yang pernah bilang: Jongin itu Daddy Material banget gak sih, thor? Di chap ini kukasih sedikit Daddy Jong yang marahin Princess Hun gara-gara mabok sama Luhan semoga puas yaaaa xD
-Aku belom sempet bales ini, tapi ada review yang bilang; Kak, kok Sehun menderita banget disini, memang Sehun salah apa sama kakak? Tapi aku suka karakter Sehun yang kakak buat.
Aku cuman mau bilang, di Part III cerita ini, semua karakter di cerita ini bakal menderita KEKEKEKEKE *othor evil mode on* jadi gak Sehun doang yang menderita, Jongin menderita, Kai menderita, Soojung menderita, Taemin menderita. Pssst, bahkan nanti ada yang jauh lebih menderita dari Sehun. /apa ini othor spoiler amat sih -_-/
-SPOILER NEXT CHAP: Giliran Daddy Kai yang marahin Dedek Hun karna mabok. Wayoloh Hun, diapain lu nanti ama Kai HEUHEUHEUHEU
