Langkah-langkah yang diuntai kaki kecilnya tak bergema sama sekali. Ini masih sangat pagi. Namun iris obsidiannya sudah terbuka sejak beberapa saat yang lalu. Bahkan ia sudah beranjak dari kamarnya, meninggalkan sang kakak yang masih terlelap di tempat tidurnya. Dengan sangat pelan ia membuka pintu kayu yang diyakini sebagai kamar orang tuanya. Meski ia sudah terlampau sering melakukan hal ini, rasa tegang dan takut ketahuan masih tetap menghantui benaknya.
Kini ia sudah berdiri di samping tempat tidur dimana orang tuanya masih terlelap. Tubuhnya yang kecil membuatnya tidak bisa melihat keseluruhan permukaan ranjang. Namun tak apa, tujuannya kesini memang bukan hal itu. ia hanya cukup memasang pendengaran dengan baik untuk memastikan ayah dan ibunya belum terjaga.
Menarik napas pelan, ia berjinjit meraih vas bunga yang berdiri tegak di atas meja nakas di samping tempat tidur. Iris obsidiannya menatap beberapa tangkai bunga aster yang dua hari lalu ia letakkan ternyata sudah layu dan mengering.
Bibir tipisnya mengulum senyum.
Karena itulah ia datang kesini. Untuk mengganti aster yang layu itu dengan bunga-bunga yang baru. Setelah meletakkan vas yang kini terisi dengan bunga aster yang sudah dipetiknya di halaman belakang ke atas meja, ia pun memastikan sekali lagi keadaan orang tuanya. Tarikan napas ayah dan ibunya masih terdengar stabil dan tenang. Dengan tanpa suara bocah itu kemudian meninggalkan ruangan.
Goodbye, Tears
By
Nightingale
Naruto © Masashi Kishimoto
Begitu Sasuke mendorong masuk pintu yang sudah bertahun-tahun ini ia buka, iris obsidiannya melihat ibunya duduk dan bersandar ke kepala ranjang. Seperti biasa, rambut hitam legamnya yang panjang disampirkan ke pundak. Mikoto tidak menyadari keberadaan si anak, iris kelamnya menatap ke luar melalui jendela yang sudah terbuka. Bulan Februari datang membawa kehidupan untuk kuncup-kuncup bunga dan hijau daun untuk batang pohon yang menggigil di tengah putihnya salju kemarin. Kini, musim semi datang. Untuk para kumbang dan kupu-kupu, juga untuk para kekasih.
"Selamat pagi, Bu." Sapa Sasuke.
Mendengar suara si anak Mikoto segera menoleh, mendapati putra bungsunya berjalan mendekati ranjang yang ditempatinya. Sebelah tangannya menggenggam beberapa tangkai bunga aster putih yang masih segar.
Ada semacam kelegaan yang muncul di dada Sasuke ketika ia kembali melakukan kebiasaan lamanya sewaktu masih kecil. Si raven masih ingat bagaimana dulu susahnya untuk meraih vas yang diletakkan di atas meja dengan ukuran tubuhnya yang waktu itu masih sangat imut, namun sekarang tinggi meja itu bahkan tidak mencapai pingganggnya. Walau kini ia tidak pernah mengendap-endap lagi, Sasuke tetap merasa senang karena bisa melakukannya lagi.
Wanita itu tersenyum. "Selamat pagi, Sayang."
"Bagaimana perasaan ibu pagi ini?" Sasuke bertanya sambil memasukkan tangkai-tangkai bunga tersebut ke dalam vas di atas meja. Tangannya dengan cekatan mengatur tangkai-tangkai bunga itu agar terlihat rapi dan menarik.
"Sangat baik. Bahkan ibu berpikir untuk pergi jalan-jalan ke taman hari ini." Senyumnya masih bertahan menghias wajah pucatnya.
"Apa ibu yakin?" selesai menata bunga, Sasuke duduk di pinggir ranjang. Tangannya menggenggam tangan sang ibu.
Mikoto lagi-lagi mengulum senyum. "Tentu saja ibu yakin. Ah, sekarang sudah jam berapa? Bukankah kau harus berangkat ke sekolah?"
"Iya. Tapi…" wajah Sasuke menyiratkan keraguan. "Aku bisa membolos untuk menemani ibu jalan-jalan. Satu hari absen tidak akan mendatangkan masalah."
"Tidak usah." Mikoto menggeleng pelan. "Kau harus pergi sekolah. Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk membolos. Ibu baik-baik saja, ada banyak pelayan di rumah ini yang menjaga ibu."
Sasuke tidak yakin, ia terlihat masih ingin membantah namun tidak jadi begitu ia melihat keyakinan di manik kelam sang ibu. Menghela napas sekali, ia akhirnya mengangguk.
"Kalau begitu aku pergi dulu, bu." Ucapnya sebelum mengecup kening sang ibu.
"Hati-hati di jalan." Pesannya.
Ode to a Nightingale
Karin berusaha menarik napas sebanyak yang ia bisa. Paru-parunya terasa sesak sehabis berlari melewati lapangan sekolah kemudian menapaki anak tangga hingga mencapai lantai tiga. Hari ini kelasnya akan mengikuti kelas Biologi untuk jam pertama di lantai tiga gedung B yang dulunya merupakan gedung khusus kelas dua, namun setelah peraturan baru itu ditetapkan kini Karin sudah pernah menjajaki semua gedung beserta seluruh lantainya.
Beruntung hari ini Karin tidak terlambat. Selama libur natal dan tahun baru Karin sering begadang hingga jam tidurnya pun berubah, dan ketika sekolah sudah mulai kembali ia berusaha mengubah jam tidurnya lebih awal kembali seperti semula. Namun hal itu tentu butuh waktu, dan hasilnya hari ini Karin terlambat bangun.
"Selamat pagi." Seorang gadis bersurai biru gelap panjang menyapa Karin begitu ia melewati bangku si gadis. Ia menghentikan langkahnya kemudian menoleh.
"Pagi juga, Hinata." Balas Karin tersenyum kecil.
Sejak pesta ulang tahun adik Hinata, mereka berdua mulai sering mengobrol dan saling menyapa satu sama lain.
"Kau baru datang?" tanya Hinata.
Karin menghela napas lelah. Ia membatalkan niat menuju ke bangkunya, beralih duduk di kursi barisan kedua tepat di belakang Hinata.
"Iya. Aku mengira aku sudah terlambat." Jawabnya dengan nada lega yang luar biasa.
Hinata tertawa kecil. Melihat bagaimana kerasnya perjuangan Karin agar bisa sampai kesini tersampaikan melalui kacaunya penampilan gadis itu. Penampilannya tak serapi biasanya. Rambutnya yang dibiarkan tergerai terlihat awut-awutan, seragamnya sedikit kusut, dan keringat mengalir di pelipis hingga leher putihnya.
"Sebenarnya, Karin, Bu Anko absen mengajar hari ini."
"Apa?!" pekiknya tak percaya. Iris ruby-nya terlihat melebar dibalik kaca matanya.
Hinata meringis, merasa tidak enak harus menyampaikan hal yang mematahkan semangat Karin. "Iya. Ketua kelas tadi ditelepon. Beliau sedang ada urusan mendadak di kantor, jadi tidak bisa mengajar."
"Yaaahhh." Karin mendesah kecewa. "Kalau tahu begini lebih baik aku sekalian terlambat saja."
Gadis itu menumpukan dagunya di atas permukaan meja sambil memasang ekpresi sedih. Perjuangannya ternyata hanya sia-sia. Biasanya Naruto mengantarnya ke sekolah menggunakan motor sport kesayangannya, namun sejak bekerja Naruto beralih menggunakan mobil. Meskipun jam berangkat mereka sama namun arah kantor Naruto dan APS tidak searah, sehingga Karin harus menggunakan bus yang berjarak kurang lebih dua-ratus-meter dari gedung apartemen mereka.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Karin bertanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Ada beragam aktivitas. Beberapa siswa lelaki menggambar berbagai macam wajah yang menurut Karin menyerupai makhluk astral, di sudut ruangan siswa perempuan sibuk bergosip tentang entah-apa. Ada pula yang duduk di bangkunya sendirian bermain dengan ponselnya, ada pula yang terlihat serius berkutat dengan buku di depannya. Benar-benar tipikal anak SMA.
Tidak ada yang menarik.
"Bu Anko memberi kita tugas. Sepuluh nomor di halaman seratus-dua-puluh-tujuh. Minggu depan di kumpul."
Karin menghela napas. "Nanti saja kukerja." Ia lalu berdiri. "Aku mau jalan-jalan saja. Kau mau ikut?"
"Kemana?" tanya Hinata.
"Ke tempat persembunyianku." Jawab Karin sambil mengulum senyum.
Hinata nampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "Baiklah."
Ternyata tempat persembunyian yang dimaksud Karin adalah sebuah pohon ek di tengah-tengah taman sekolah. Hinata sering mendengar rumor tentang tempat itu, katanya pohon itu berhantu, seram, dan sebagainya.
"Tidak usah takut. Tidak ada hantu di pohon ini sama sekali." Ucap Karin yang berjalan beberapa langkah di depan Hinata sambil mengedipkan sebelah mata padanya. "Kalaupun ada makanya hantunya adalah siswa berambut merah dan memakai kaca mata."
Hinata hanya tersenyum. "Aku tidak pernah percaya gosip itu, Karin." Sahutnya sambil mengambil tempat di bawah pohon di sebelah Karin.
Suasana di tempat itu hening, hanya angin yang sesekali mendesau memainkan rambut mereka yang kontras namun sama-sama digerai.
"Tempat ini menyenangkan." Ucap Hinata pelan.
Karin yang asik bersandar pada batang pohon di belakangnya mengangguk. Matanya terpejam menikmati udara sejuk yang berasal dari rimbunnya daun.
"Aku sering kesini setiap kali ada kelas kosong. Duduk disini lebih menyenangkan ketimbang berada di kelas yang gaduh."
Hinata ikut menyandarkan tubuhnya. Iris pucatnya memandang langit dengan corak awan putih di beberapa bagian.
"Kau sering kesini sendirian?" Hinata bertanya lagi.
"Begitulah. Tapi kadang aku bertemu Sasuke disini, dia suka duduk di atas pohon seperti monyet." Jawab Karin datar.
"Mo-monyet?" tanya Hinata tak habis pikir dengan cara Karin mengandaikan pemuda tampan itu. "Aku baru tahu kalau ternyata Karin dan Sasuke akrab." Gumamnya.
"Hn?" Karin tiba-tiba membuka mata dan menoleh ke arah Hinata. "Kenapa? Kau suka pada Sasuke ya? Tenang saja, aku dan dia hanya teman biasa. Kau tidak usah cemburu…" ujarnya sambil mengibas-ibaskan tangan.
"A-apa? Bu-bukan begitu!" wajah Hinata memerah. "A-aku sama sekali tidak menyukai Sasuke!" bantahnya.
"Tidak apa-apa, mengaku saja Hina…" lanjutnya. Masih berniat menggoda Hinata.
"Karin… Itu tidak benar…" wajah Hinata sudah sangat memerah, ekspresinya sudah mau menangis.
Karin tertawa kecil. "Iya… iya…Aku hanya bercanda, maaf."
Hinata tidak menjawab. Ia mengerucutkan bibirnya sambil menatap sedikit jengkel pada Karin yang menyengir polos. Sedetik kemudian ia menghembuskan napas dengan suara keras.
"Aku hanya tidak menyangka Karin bisa berteman dengan Sasuke yang terlihat sangat dingin seperti itu." lanjutnya. Mengingat betapa angkuhnya Uchiha bungsu itu. Ia bahkan tak sudi untuk membalas sapaan dari orang-orang yang dilewatinya.
"Hm…" Karin tampak berpikir sejenak. "Pada dasarnya dia baik kok. Dia memang sombong dan menyebalkan, tapi jika kau sudah bisa berteman dengannya maka kau akan tahu kalau sebenarnya dia cukup peduli." Tuturnya dengan pandangan merenung.
Karin ingat bagaimana Sasuke memeluknya dibawah pohon ek ini waktu dia menangis tersedu-sedu. Dan air matanya perlahan-lahan berhenti ketika merasakan pundak Sasuke yang hangat.
"Awalnya aku juga tidak suka padanya, bahkan bisa dikatakan benci." Lanjutnya sambil tersenyum geli. Merasa lucu mengingat awal-awal pertemuan mereka.
Dan tiba-tiba karin kembali teringat akan sebuah mimpi yang sudah lama dilupakannya. Mimpi buruk tentang sosok yang sangat mirip dengan Sasuke, melakukan hal yang membuat hatinya terluka sedemikian rupa. Ia juga kembali mengingat tentang seorang nenek tua yang mengatakan sesuatu yang aneh.
Mimpi itu adalah sebuah kenyataan. Kenyataan di kehidupanmu yang sebelumnya.
"Aah!" suara pekikan Hinata segera membuyarkan lamunan Karin. Ia menoleh cepat ke arah temannya. Hinata tampak terperangah menatap ke atas. Iris pucatnya terlihat melebar. Penasaran Karin pun ikut menengadahkan wajah mengikuti arah pandang temannya.
Diatas sana, di cabang pohon yang cukup besar, sesosok pemuda berkulit pucat duduk dengan posisi bersandar ke batang pohon dibelakangnya. Tangannya bertumpu pada lutut yang tertekuk, sedang kakinya yang satunya tergeletak lurus mengikuti cabang pohon. Surai ravennya bergerak-gerak terbawa angin. Sedangkan kedua matanya terpejam.
"Sa-sasuke?!" pekik Karin kaget.
Mendengar namanya disebut si pemuda membuka matanya perlahan, kemudian menoleh ke bawah dan melihat dua pasang mata berbeda warna sedang menatapnya lekat.
"Hn." Ia kembali memejamkan matanya.
"Sejak kapan kau disana?" Tanya Karin sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sasuke.
Si raven tidak menjawab. Karin kesal. Gadis itu berdiri dari duduknya dan menatap Sasuke yang terlihat sok berkuasa sambil berkacak pinggang.
"Oi, muka datar!" panggil Karin seenaknya.
Sasuke kembali membuka matanya. "Kau berisik sekali." Sahutnya acuh.
"Ugh." Kini giliran wajah Karin yang memerah, namun bukan karena malu melainkan karena kesal. "Dasar menyebalkan." Rutuknya.
"Benarkah?" Sasuke mengangkat alisnya sebelah. "Bukankah tadi ada seseorang yang mengatakan bahwa sebenarnya aku cukup baik dan peduli?" tanyanya membalikkan ucapan Karin.
Skak mat.
Karin tidak berkutik. Si muka datar itu sudah mendengar semua yang tadi ia katakan. Ia lalu memandang sengit ke wajah datar si raven.
"Memguping itu tidak sopan, Tuan Uchiha." Ucapnya penuh nada mencela.
"Aku tidak menguping, Nona Uzumaki." Balasnya namun masih dengan nada datar andalannya. "Aku sudah disini jauh sebelum kalian datang."
Lalu dengan satu gerakan capat ia melompat dan mendarat dengan halus di tanah. Kini ia berdiri tepat di hadapan Karin, posisi mereka hanya terpaut kurang dari dua meter. Sasuke berdiri dengan dua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana, bersikap cool. Sedangkan Karin memasang sikap defensif dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Harusnya aku yang berkata seperti itu, tadi kudengar ada seseorang yang menyamakanku dengan monyet." Lanjutnya.
Karin hanya menatap bosan. "Memang benar kan? Kau baru saja membuktikannya sendiri."
Sasuke mendecih. "Itu karena kau buta. Tidak ada monyet yang memiliki wajah setampan ini."
Karin hanya memutar mata bosan. "Yang benar saja. Tampan dari mananya?"
"Hanya orang buta yang menyangkal." Sasuke membalas lagi.
"Hei, aku tidak buta!" tukas Karin, dua iris ruby-nya melotot.
"Oh ya? Buktinya kau memakai kaca mata. Bahkan dengan benda itupun penglihatanmu masih tetap saja buruk."
"Kau menyebalkan."
"Dan kau tidak bisa menerima kenyataan. Denial."
"Kenyataan apa?"
"Bahwa aku memang tampan." Jawab Sasuke datar.
"Astaga!"
"Uhm, anu…" suara Hinata memutus kontak mata mereka.
Karin langsung menoleh mendapati Hinata berdiri canggung diantara mereka berdua. Ia lupa sama sekali akan eksistensi temannya sejak Sasuke datang dan menarik seluruh atensinya.
"Ah, Hinata. Maaf sudah mengacuhkanmu." Ucap Karin menyesal. Lalu mendelik ke arah Sasuke dengan pandangan ini-semua-adalah-salahmu, sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah teflon andalannya.
"Sekali lagi maaf." Karin kembali menatap Hinata.
Yang ditatap hanya tersenyum maklum. "Tidak apa-apa Karin. Aku sama sekali tidak merasa diacuhkan, malah aku seperti sedang menonton drama percintaan anak sekolah."
"Hah?" Karin melongo.
Hinata malah tertawa. "Ternyata Karin dan Sasuke benar-benar akrab." Ucapnya.
Gadis itu lalu beralih menatap Sasuke, dengan kikuk ia berkata, "Maafkan kata-kataku tadi Sasuke. Aku sudah menyebutmu dingin." Ucapnya sambil menunduk.
"Kenapa harus minta maaf, Hinata? Dia memang seperti itu kok." Karin tiba-tiba menyahut.
"Karin!" Hinata menegur Karin melalui tatapan mata.
"Hn. Tidak apa-apa. Hal itu tidak sepenuhnya salah."
Hinata tersenyum. "Terima kasih, Sasuke."
"Oh ya, aku rasa kita belum berkenalan secara resmi." Ucap si raven sambil melangkah hingga berdiri tepat di depan Hinata. "Perkenalkan, namaku Uchiha Sasuke." Si raven mengulurkan tangan.
Hinata melakukan hal yang sama kemudian menjabat tangan Sasuke. "Senang berkenalan denganmu Sasuke."
Tanpa melepaskan tangan Hinata si raven membungkukkan badan kemudian mengecup punggung tangan Hinata sebelum berkata, "Aku juga, Hime."
Setelah itu Sasuke mengangkat kepalanya dan tersenyum manis pada Hinata yang kini wajahnya sudah seperti tomat.
"Hey! What the hell is that?" Karin memaki sambil menatap Sasuke tajam
"Apa? Aku hanya berusaha bersikap ramah padanya." Kilah Sasuke datar.
Sedangkan Hinata hanya bisa berdiri kaku, masih tersihir oleh tindakan Sasuke yang menyapanya bak seorang pangeran atau kesatria dari Inggris.
"Tapi kenapa harus seperti tadi? Kau kan bisa berkenalan dengan cara yang biasa saja."
"Memangnya kenapa? Apakah tindakanku mengusikmu?" tanya Sasuke heran.
"Aku baru tahu kalau ternyata kau juga bisa merayu." Tukas gadis itu ketus.
"I am. Tapi hanya untuk orang-orang tertentu."
"Oh ya? Orang seperti apa?"
Sasuke menoleh ke arah Hinata yang hanya berdiri menatap mereka berdua. "Cantik, anggun, dan elegan."
Ucapan si raven lagi-lagi membuat Hinata tersipu, apalagi pemuda itu bicara menatap Hinata sambil tersenyum miring. Lalu pandangan Sasuke kembali terarah ke Karin yang menatapnya penuh cela. "Tentu saja aku tidak akan bersikap seperti itu pada gadis yang urakan, kasar, dan tidak ada manis-manisnya sama sekali."
Karin baru saja hendak membalas Sasuke ketika sebuah gagasan terlintas di kepalanya. Sedetik kemudian ekspresinya berubah. Kedua matanya melebar dan mulutnya terbuka.
"Jangan-jangan…" ucapnya tak percaya.
Hinata dan Sasuke menatapnya bingung.
"Jangan-jangan gadis yang ingin kau kencani waktu di pesta adalah Hinata?!"
Hinata sukses memasang wajah bodoh. "Hah?"
Sedangkan Sasuke hanya diam dengan alis yang terangkat sebelah.
"Waktu itu kau juga bilang bahwa aku mengenalnya. Jadi yang kau maksud itu Hinata?" Karin bertanya lagi.
"Apa maksudmu Karin?" Hinata terlihat sangat bingung.
Karin menoleh ke arah Hinata. "Sasuke ingin berkencan denganmu, Hinata." Ucap Karin dengan penuh keyakinan.
"Eh?" jawaban Karin justru membuat Hinata jadi bingung. Ia menatap Karin dan Sasuke bergantian.
"Jangan dengarkan dia." Ucap Sasuke tiba-tiba. Ia mengajak Hinata untuk berjalan meninggalkan tempat itu, juga Karin.
"Apa maksud Karin, Sasuke?" Hinata bertanya sambil berjalan disamping si raven.
"Tidak usah dipikirkan, dia hanya masih mengantuk." Jawaban Sasuke jelas sama sekali tidak memberi pencerahan apapun.
Karin yang sadar sedang ditinggal langsung segera mengejar dua temannya.
"Hei, jangan tinggalkan aku." Panggilnya sambil mengejar Sasuke dan Hinata dan mensejajarkan langkah mereka.
Mereka bertiga melangkah pelan dengan Sasuke yang berjalan diantara Hinata dan Karin.
"Hei, Sasuke. Hinata kan sudah tahu, jadi ajak dia berkencan. Hinata pasti tidak akan menolak, ya kan Hinata?" ucap Karin lagi.
"Yang dimaksud Sasuke bukan aku." Sahut Hinata sambil tersenyum.
"Huh?" Karin mengerutkan alis. "Kau tahu dari mana?"
"Sasuke sudah memberitahuku tadi."
Karin ganti menoleh ke Sasuke. Iris ruby-nya menatap curiga pada si raven. Sedangkan yang ditatap hanya mendengus tanda ia tak peduli.
"Kalau bukan Hinata, lalu siapa?" Karin bertanya lagi. Tampak begitu penasaran.
"Itu bukan urusanmu." Jawab Sasuke datar.
"Dasar menyebalkan." Karin menggerutu.
"Dan kau payah." Balas Sasuke.
"Bagaimana kalau kita pergi ke kantin saja?" pertanyaan itu membuat perhatian dua manusia yang asik berdebat teralih padanya. "Hentikan dulu untuk sementara perdebatan kalian, nanti setelah makan baru kalian saling mengolok-olok lagi."
Sindiran Hinata membuat Karin dan Sasuke tertegun. Mereka tiba-tiba saling pandang namun detik selanjutnya mereka langsung membuang muka ke arah yang berlawanan. Hinata yang melihat itu hanya bisa tersenyum maklum.
Ode to a Nightingale
"Oi, Naruto. Ayo pergi makan siang."
Naruto mengalihkan pandangan dari layar komputer yang sedang ditekuninya dan menatap Neji. Pemuda itu sudah mematikan komputernya dan kini sedang menatap Naruto. Dari pandangan matanya Neji seolah berkata kau-tidak-boleh-berkata-tidak. Sebenarnya Naruto belum terlalu lapar, dan pekerjaannya masih belum selesai. Tapi ia tahu sahabatnya yang satu ini tidak suka di tolak. Jadi yang dilakukannya adalah menghela napas sekali kemudian berkata,
"Baiklah. Ayo kita pergi makan."
Neji tersenyum tipis. Tahu bahwa Naruto takkan menolak ajakannya.
Hari ini Neji dan Naruto memutuskan untuk makan siang diluar. Mereka sedang ingin menikmati menu yang berbeda dengan yang sering mereka santap di kafetaria kantor. Dengan menggunakan mobil Neji mereka menuju sebuah restoran cepat saji yang tidak terlalu jauh dari gedung kantor mereka.
"Bagaimana hubunganmu dengan Karin?" tanya Neji begitu mereka keluar dari antrian sambil membawa makanan yang mereka pesan.
"Baik-baik saja." Naruto mejawab santai .
Si pirang memutuskan duduk di meja yang dekat dengan dinding sehingga mereka bisa melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya atau pejalan kaki di trotoar.
"Hn?" Neji mengangkat sebelah alisnya. Kurang puas dengan jawaban yang diberikan si pirang.
"Oh, yeah, aku melamarnya sewaktu natal."
Tidak ada riak terkejut yang muncul di wajah Neji. Ekspresi pemuda itu tetap tak terbaca seperti biasa.
"Oh. Lalu bagaimana responnya?"
Dengan pandangan menerawang, Naruto menjawab, "Itu…"
.
"Menikahlah denganku." Ucap Naruto lantang.
Karin memekik terkejut, wajahnya memucat dengan gestur tubuh yang tegang dan kaku. Melihat Karin terpaku menatapnya, Naruto mengulangi kata-katanya.
"Menikahlah denganku, Uzumaki Karin." Kali ini kata-katanya lebih tegas dan jelas, menyiratkan keseriusan yang dalam.
"I-itu bukanlah pertanyaan." ucap Karin setelah ia bisa menemukan suaranya lagi.
Naruto sedikit mengerutkan alis. "Memang bukan, itu adalah permintaan."
"Permintaan yang lebih terdengar seperti sebuah pernyataan yang tak boleh dibantah."
Alis Naruto semakin mengerut. Ia sedang melamar namun yang dipikirkan gadis itu adalah redaksi kalimat yang digunakannya? Oh, yang benar saja?! Tidakkah Karin melihat tubuhnya yang menggigil kedinginan karena baru saja melakukan aksi melamar yang keren hingga membuatnya terjatuh ke dalam parit di malam hari seperti ini?
Naruto memutar bola mata jengah. "Kenapa kau harus mempermasalahkan hal itu? Kau hanya perlu menja- haaatcchhi!"
Seolah tersadar dengan keadaan kakak sepupunya, Karin segera membawa Naruto menuju sebuah stand terdekat untuk mengeringkan tubuhnya. Gadis itu bersyukur karena beberapa stand disini merupakan stand yang menjual baju hangat dan mantel, sehingga Naruto tidak perlu masuk angin dan terkena flu karena pulang dengan sekujur tubuh basah dan kedinginan.
Sekembalinya ke apartemen, Karin membuat teh hangat yang dicampur dengan perasan lemon dan madu untuk menghangatkan tubuh Naruto.
"Ini, minumlah." Ucap Karin sambil meletakkan secangkir teh ke permukaan meja ruang tamu.
Naruto hanya menggumamkan 'terima kasih' kemudian menyeruput cairan berwarna merah gelap tersebut. Untuk beberapa saat ruang tamu itu hanya diselimuti oleh keheningan. Karin sibuk bergelut dengan pikirannya, sedangkan Naruto berusaha keras meredakan detak jantungnya yang sedang kudeta. Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya.
Seperti inikah rasanya menunggu jawaban atas lamaran yang dilakukan oleh laki-laki?
Jantungnya berdetak cepat dan tak karuan, meletup-letup seolah akan meledak keluar.
Dalam hari Naruto menertawakan dirinya sendiri.
"SMA…"
"Huh?" Naruto refleks menoleh ketika mendengar Karin menggumamkan sesuatu. Namun gadis itu tidak menatap si pirang, melainkan menunduk dengan kedua tangannya terkepal di atas pahanya. Ahh, entah mengapa Naruto sudah tidak asing lagi dengan gestur tubuh Karin yang satu itu.
"Aku masih SMA, kelas satu, tidak mungkin menikah." Ucap Karin lirih.
Setelah mengerti apa yang dirisaukan Karin, Naruto tersenyum. Pemuda itu meraih kedua tangan Karin yang terkepal dan menarik jari-jari itu, meluruskannya dengan tangannya sendiri kemudian mengelusnya. Naruto selalu melakukan hal itu tiap kali Karin mengepalkan jari-jarinya terlalu erat.
"Kakak tidak melamarmu untuk mengajakmu menikah besok. Tentu saja kau harus sekolah dulu, kakak hanya ingin mengutarakan perasaan Kakak saja, karena momen tadi terasa begitu pas."
Perlahan-lahan Karin mengangkat kepalanya lalu menatap Naruto sambil membalas senyum si pirang.
"Baiklah, kalau begitu mana cincinnya?" tanyanya sambil menengadahkan tangan.
"Eh?"
"Kenapa 'eh'? Kita harus saling memasangkan cincin sebagai tanda bahwa kita terikat satu sama lain. Itukan yang dilakukan orang-orang?"
"Err, itu…" Naruto tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. "Kakak tidak punya cincin seperti itu." ucapnya dengan wajah menyesal.
"Tidak ada? Kenapa bisa tidak ada?" tanya Karin bingung.
"Acara melamar tadi sebenarnya tidak Kakak rencanakan sama sekali." Sampai disini alis Karin semakin mengerut. "Kakak mendapat gagasan itu setelah mendengar ceritamu tentang sejarah mistletoe, apalagi momennya juga sangat cocok jadi… ya begitulah. Hehehe." Si pirang tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Sementara Karin hanya terdiam menatap Naruto yang salah tingkah dengan mimik wajah datar.
"Jadi, seandainya tadi aku tidak menjelaskan tentang tumbuhan itu berarti Kakak tidak akan melamarku?"
Naruto semakin salah tingkah, iris birunya memandang ke segala arah dengan gelisah. Melihat ke sembarang objek apapun selain iris ruby Karin yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan dari wajahnya. Kalau dirinya menjawab iya maka kemungkinan Karin akan marah dan bisa jadi menolak lamarannya, tapi kalau ia menjawab tidak, maka harus ada alasan logis yang mendukung dibaliknya.
"Jadi semua ini hanya karena kebetulan?" Karin bertanya lagi.
"Bukan begitu…" Naruto berusaha menjelaskan.
Karin menghela napas. "Sudahlah. Tidak apa-apa. Aku mau tidur saja."
Bibir Naruto membuka dan menutup melihat Karin berdiri dan berjalan menuju tangga. Ia segera mengubah posisi duduknya, menghadap ke belakang dan berdiri dengan kedua lutut sambil bertumpu pada sandaran sofa.
"Karin, tunggu!" panggil si pirang begitu Karin sudah sampai di depan tangga. "Bu-bukan begitu…"
Karin menunda langkahnya, ia menolehkan kepala untuk bertemu pandang dengan Naruto yang tampak sedang berusaha menyusun kata yang tepat. Pemuda itu menarik napas sekali sebelum memulai.
"Memang benar aku melamarmu malam ini karena mendengar cerita tentang mistletoe itu, tapi bukan berarti aku tidak akan melakukannya jika tidak ada hal tersebut. A-anggap saja tumbuhan itu sebagai perantara, tapi kalaupun kau tidak menjelaskannya, aku yakin pasti akan ada perantara lain. Kau mengerti maksudku?" tanyanya sambil menatap iris ruby Karin penuh harap. Naruto memakai kata ganti yang berbeda dari yang biasanya si pirang gunakan. "Aku bukan orang yang pandai berkata-kata, tapi aku serius dengan permintaanku tadi."
Karin terdiam. Tanpa melepas tatapannya dari wajah Naruto, ia berjalan menuju belakang sofa dan berdiri berhadapan dengan si pirang. Posisi Naruto yang berlutut membuat Karin –yang saat ini sedang berdiri- menjadi lebih tinggi darinya, membuatnya harus sedikit mendongak sehingga mata mereka bisa tetap bertemu.
"Kau percaya pada Kakak, bukan?" tanya si pirang. Kembali menggunakan kata ganti 'kakak' dalam kalimatnya.
Karin tidak segera menjawab. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Naruto hampir mengatakan hal lain lagi ketika Karin mendekatkan wajahnya ke Naruto. Semuanya terjadi terlalu cepat, ketika ia sadar tahu-tahu Karin sudah membelakanginya dan berjalan menuju tangga. Namun sebelum menapaki tangga tersebut, ia berhenti.
"Kalau begitu segera bawakan aku cincinnya, agar orang-orang tahu aku sudah ada yang punya. Jangan terlalu lama, atau nanti aku akan berubah pikiran." Ucapnya dengan kepala tertunduk menyembunyikan rona merah pekat yang merayapi wajahnya. Setelahnya Karin naik ke kamarnya meninggalkan Naruto yang masih terpaku di tempatnya. Sebelah tangan si pirang terangkat dan menyentuh pipi kirinya. Bekas bibir Karin masih menempel disana, terasa sedikit basah dan hangat.
.
"Begitulah." Ucap Naruto menyudahi ceritanya. Ia meneguk cola-nya yang tersisa setengah. "Bagaimana menurutmu?"
Selama Naruto bercerita, pemuda bersurai coklat kusam itu hanya duduk bersandar dengan kedua tangannya terlipat di dada. Naruto tahu Neji selalu memakai gestur itu ketika ia sedang serius mendengarkan. Detik berikutnya Neji akan menghela napas satu kali kemudian mengeluarkan satu kalimat kaku yang mewakili seluruh analisanya akan seluruh penjelasan si pirang. Nada bicaranya selalu terdengar datar dan tenang.
"Itu berarti dia menerima lamaranmu." Naruto tersenyum ketika semua yang tadi dipikirkannya benar-benar dilakukan oleh sahabatnya. Pemuda dengan manik langit itu menyadari ia sudah begitu mengenal karakter sosok di hadapannya ini.
"Aku juga berpikir begitu." Sahut Naruto masih tetap mempertahankan senyumnya.
Mereka berdua sudah selesai makan siang. Namun sama-sama dari mereka masih belum mau beranjak dari sana.
"Bagaimana denganmu?" Naruto
"Hn?" Neji menatap sahabatnya tidak mengerti.
"Tidak ada satupun gadis yang menarik perhatianmu?" tanya Naruto lagi, memperjelas maksudnya.
Tidak ada jawaban. Kebungkaman Neji menjawab secara tidak langsung pertanyaan Naruto.
"Aku rasa adik sepupumu tertarik padamu."
"Kau bicara omong kosong." Tukas Neji.
"Di pesta kemarin gadis itu tidak henti-hentinya menatapmu, dan aku heran karena kau tidak menyadarinya sama sekali."
"Dan bagaimana kau bisa tahu Tuan Namikaze? Bukankah matamu sendiri tak pernah lepas dari gadismu itu?" tanya Neji sarkastis.
Naruto hanya tertawa kecil. "Kau benar." Akunya. "Tapi itu bukan salahku, kau tahu. Malam itu dia terlihat sangat cantik, sebenarnya setiap haripun dia juga cantik," sampai disini Neji memutar bola matanya "tapi waktu itu dia terlihat sangat berbeda dengan gaun merah yang bagian punggungnya terbuka. Itu adalah pertama kalinya aku melihat dia berpenampilan seperti itu. Kau tahu, dia tidak suka berpakaian seperti itu, dan make up beserta high heels bukanlah sesuatu yang mencerminkan dirinya, tapi menurutku dia malah sangat cocok dengan hal-hal yang menunjukkan sisi perempuannya. Aku tidak tahu apakah aku harus marah pada Ino atau justru berterima kasih padanya."
Naruto tertawa lagi, sedangkan Neji hanya mendengus.
"Tapi aku benar-benar melihat Hinata terus memandang ke arahmu, Neji. Aku serius."
Neji kembali menghela napas. "Aku tahu." Jawabnya. "Tapi aku berpura-pura tak melihatnya."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau membuatnya mengharapkan sesuatu yang takkan bisa kuberikan."
"Kenapa tidak?" cecar Naruto. "Kau menyukai orang lain?"
"Bisa dibilang begitu." Ucapnya lirih mengalihkan pandangan dari wajah Naruto.
"Siapa? Lalu kenapa kau tidak mendekatinya?"
"Karena dia sudah memiliki seseorang yang ia cintai."
Kali ini Naruto tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia memandang Neji yang sedang berusaha menutupi perasaannya dengan memasang wajah tanpa ekspresi andalannya. Namun Naruto sudah terlalu lama berteman dengan pemuda beriris ungu pucat tersebut sehingga ia tahu bahwa sahabatnya itu tidak baik-baik saja.
"Tapi aku tidak masalah dengan itu, karena memang aku terlambat mengenalnya. Lagipula dia sudah bahagia, jadi tak ada yang bisa kulakukan." Lanjutnya.
Beberapa saat tidak ada satupun yang berbicara. Namun ketika Naruto sudah tidak tahan dengan atmosfir berat itu, akhirnya si pirang memutuskan untuk mengubah arah pembicaraan itu ke hal yang lebih ringan.
"Kadang aku tak habis pikir bagaimana bisa aku mempunyai sahabat yang kaku sepertimu, bukan dalam artian yang buruk tentunya."
Kini manik pucat itu kembali terarah padanya, dan seringai arogannya terkembang di wajahnya yang rupawan. "Kenapa? Apa kau menyesal?"
"Tentu saja tidak." Tawa renyah meluncur mulus dari bibir Naruto. "Hanya tidak pernah menduga sebelumnya. Tapi kau dan yang lain sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri."
Mau tak mau Neji ikut tersenyum sambil menatap manik cemerlang Naruto. "Tentu saja. Aku memang terlalu tampan untuk dilewatkan." Sahutnya dengan nada angkuh yang terlalu kentara.
Naruto memutar bola mata jengah, ia sudah hampir mambalas disaat sesuatu yang penting teringat olehnya.
"Oh ya, sebentar sore temani aku pergi mencari cincin yang bagus untuk Karin. Aku tidak mau kalau dia benar-benar berubah pikiran hanya karena aku lupa membawakan apa yang diinginkannya."
"Hn. Ayo kembali ke kantor sebelum ayahku menelepon."
"Oke." Mereka berdua berdiri bersamaan lalu keluar dari restpran tersebut.
Begitu mereka menapakkan kaki di pinggir jalan Neji mengeluarkan kunci mobilnya, melemparnya ke arah Naruto dan ditangkap dengan mulus oleh si pirang.
"Kau yang menyetir." Ucap Neji sambil tetap melangkah menuju kendaraannya terparkir.
Naruto hanya mengangguk kecil dan segera melangkah ke pintu sebelah kanan, sedangkan Neji menuju arah sebaliknya. Naruto sudah hampir membuka pintu mobil ketika ia lagi-lagi mengingat sesuatu yang ingin disampaikannya ke Neji.
"Oi, Neji." Sosok yang dipanggil sudah membuka pintu mobil dan bersiap masuk ketika si pirang memanggilnya. Naruto menghadap ke badan mobil dengan kedua tangannya berada di atas kap. "Kau akan menjaga Karin jika misalnya suatu saat nanti aku tidak ada kan?"
Alis Neji bertaut erat, heran sepenuhnya begitu mendengar pertanyaan Naruto. Ia memilih untuk tidak langsung menjawab, dan memaasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Karena jujur saja, mereka sudah cukup terlambat dan ia tidak mau mendapat stigma buruk oleh pegawai lain. Meskipun ia adalah putera dari presdir Hyuuga bukan berarti ia bisa bersikap seenaknya.
Naruto ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. Setelah memasang sabuk pengaman, ia memegang setir mobil namun iris matanya tertuju pada sosok yang duduk di sebelahnya.
"Cepat jalankan mobilnya, kita sudah terlambat." Ucap Neji. Sedikit menyesal karena tadi ia meminta si pirang untuk menyetir.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Sahut Naruto keras kepala. Entah kenapa ia merasa tak bisa tenang sebelum Neji menjawab pertanyaannya.
Neji menghela napas lelah. Sudah berapa kali Naruto menanyakan hal yang aneh sejak tadi padanya? Sekarang giliran dirinya yang bertanya-tanya dalam hati kenapa ia bisa mempunyai sahabat seperti Naruto?
"Memangnya kau mau kemana?" tanya Neji tidak sabar. "Kau seperti orang yang mau pergi jauh, Bodoh."
"Ya siapa tahu suatu saat nanti aku harus meninggalkannya, misalnya pergi keluar negeri untuk urusan pekerjaan selama tiga minggu, bagaimana?"
"Kau tidak perlu pergi, biar aku saja. Jadi kau tidak perlu meninggalkannya." Tukas Neji cepat.
"Tidak bisa begitu dong! Bagaimana jika itu adalah proyekku? Kau tahu kemampuan persuasifku lebih tinggi darimu." Balas Naruto sambil menyeringai.
"Aku tidak sependapat, jela-jelas aku bisa melakukan lebih baik." Sahut Neji dengan ketus.
"Belum ada bukti sampai ada salah satu dari kita yang dipanggil." Naruto membalas keras kepala.
Neji mendengus kesal. "Baiklah, baiklah. Kau sendiri yang bilang bahwa aku dan yang lainnya adalah saudaramu, jadi itu berarti Karin adalah adik sepupu kami juga, bukan? Tentu saja aku akan menjaganya." Tutur Neji panjang lebar.
Puas mendengar jawaban Neji, akhirnya Naruto tersenyum lebar menampakkan barisan giginya yang rapi.
"Terima kasih. Dengan begitu aku tidak perlu khawatir." Ucapnya tulus.
"Yaya. Sekarang, bisakah kita kembali ke kantor secepatnya, Tuan Namikaze?"
Naruto menyengir sambil mulai menyalakan mesin. "Aye, Captain."
Dan sedetik kemudian mobil Neji melaju dengan cepat di tengah jalan.
Ode to a Nightingale
Karin menatap layar ponselnya selama beberapa detik kemudian mengeluh dalam hati. Tadi pagi ia terlambat bangun sehingga tidak sempat untuk me-recharge ponselnya, ia bahkan lupa memasukkan power bank ke dalam tasnya saking terburu-burunya. Sekarang daya beterai ponselnya bahkan tidak mencukupi lima-belas persen. Dan semua usaha serta perjuangannya itu hanya mendapat kesia-siaan karena ternyata jam pertama kelasnya kosong sama sekali. Ah, sudahlah, biarkan saja. Ia akan mengisinya ketika ia sampai di rumah.
"Karin."
Iris ruby-nya mendongak dan mendapati Hinata berdiri di samping mejanya dengan kedua tangan menjinjing tas sekolahnya. Bel tanda pulang sudah berdenting di seluruh penjuru sekolah beberapa detik yang lalu. Gadis itu tersenyum. Sedang Karin memasang wajah bertanya.
"Ayo pergi ke taman bermain!" ajak Hinata dengan nada kelewat senang.
Dan disinilah Karin sekarang. Berdiri di pintu masuk taman bermain terbesar di Konoha. Ia menatap taman bermain itu dengan pandangan bersemangat. Ini pertama kalinya Karin pergi ke suatu tempat bersama 'teman-teman', karena biasanya Naruto yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi.
"Kak Neji hari ini tidak bisa menjemputku sepulang kerja, katanya ada urusan. Tenang saja, aku yang akan membayar tiketnya!" ucap gadis itu sebelum Karin sempat mengutarakan penolakan.
Karin kembali teringat dengan ucapan Hinata tadi sewaktu masih di sekolah. Dan Karin sama sekali tidak keberatan. Naruto selalu pulang diatas jam tujuh malam, sehingga ia akan sendirian saja di apartemen sambil menunggu pemuda itu datang. Jadi tidak masalah jika ia pergi bermain dulu setelah pulang sekolah, asal ia sudah ada di rumah ketika Naruto datang.
Ia menoleh pada Hinata yang tampak sibuk mempelajari peta taman bermain tersebut, terlihat sangat antusias memilih kira-kira wahana mana yang bagus untuk dinaiki pertama kali.
"Oi, Hinata." Panggilnya.
"Iya?" sahut gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya dari peta tersebut.
"Aku sangat senang kau mengajakku kesini." Karin mengucapkan kalimat itu tanpa nada senang dalam suaranya sama sekali. "Tapi kenapa orang itu juga ikut?" lanjutnya jengkel sambil menunjuk-nunjuk manusia lain di sebelah Hinata yang satunya. Sedangkan yang ditunjuk tampak cuek dan tidak ambil pusing.
"Loh, memangnya kenapa?" kali ini Hinata menoleh menatap Karin yang memasang wajah muram.
"Dia hanya akan merusak suasana." Jawab Karin ketus.
Hinata memutar bola mata. "Jangan begitu, bukankah kau sendiri yang bilang kalau Sasuke adalah temanmu?"
"Memang, tapi sikapnya itu menyebalkan sekali." Balasnya keras kepala. Ia kembali curiga ke dua temannya tersebut.
Jangan-jangan mereka berdua memang benar-benar saling suka? Kalau iya kenapa Hinata juga mengajak dirinya? Harusnya kesempatan ini mereka gunakan untuk pergi kencan. Oh, mungkin Hinata malu jika harus pergi berdua dengan si raven maka dari itu ia mengajak Karin. Tapi jika itu memang benar bukankah itu berarti Karin hanya berfungsi sebagai obat pengusir nyamuk? Astaga, yang benar saja?
Karin segera mengenyahkan pikiran itu dari benaknya.
"Sasuke sudah berjanji untuk tidak membuatmu marah sepanjang sore ini, karena kita semua akan bersenang-senang! Bukan begitu, Sasuke?" kini ia menoleh menatap pemuda di sebelahnya.
"Hn." Sasuke hanya menjawab dengan gumaman.
Hinata tersenyum puas dengan jawaban itu. "Nah, mana yang pertama kali kita datangi?" tanyanya sambil membentangkan peta itu lebar-lebar.
Seperti yang dikatakan Hinata, mereka benar-benar bersenang-senang sepanjang sore itu. Mereka berdua tampak antusias saat menaiki tiap wahana yang mereka pilih. Sedangkan Sasuke hanya mengikuti di belakang tanpa mengatakan apapun. Kenyataannya justru malah Karin dan Hinatalah yang berkencan sedangkan Sasuke menjadi baygon dadakan. Karin agak heran juga dengan si raven yang ternyata memenuhi perkataanya, si raven benar-benar tidak pernah membuatnya jengkel sejak mereka memasuki taman bermain ini.
Hari sudah menjelang sore ketika mereka memutuskan untuk istirahat di sebuah bangku panjang di bawah pohon. Wajah keduanya berkeringat namun tampak sangat puas. Sasuke datang menyusul membawa tiga botol minuman dingin yang di bagi padanya dan juga Hinata.
"Ini menyenangkan sekali!" Hinata memekik senang setelah meneguk minumannya.
Karin mengangguk sambil menyeka sudut bibirnya menggunakan ujung kemeja. "Kau benar, masih banyak wahana yang ingin kucoba."
"Sayang sekali aku tidak bisa berlama-lama disini, kapan-kapan kita kesini lagi di hari libur, oke?" tanya Hinata bersemangat.
"Tentu saja, aku tak pernah menolak gratisan." Jawabnya sambil cengengesan.
Karin tertawa melihat Hinata yang tampak tidak lelah sama sekali. Ia menoleh ke arah Sasuke yang duduk disebelahnya yang lain dan menemukan pemuda itu hanya menatap ke depan dengan wajah tak berekspresinya seperti biasa. Ia baru saja akan membuka mulutnya ketika ponsel di saku roknya berdering. Ia tersenyum melihat nama yang tertera di layar bercahaya tersebut.
"Permisi sebentar." Ia berdiri dan berjalan menjauhi bangku taman tersebut. Meninggalkan Hinata yang masih sibuk mengipas-ngipaskan tangannya sedangkan Sasuke yang kini mengikuti langkahnya dengan tatapan.
"Halo?"
Ode to a Nightingale
Hari sudah benar-benar sore ketika Naruto berjalan keluar dari toko perhiasan dengan perasaan bahagia dan senyum sumringah. Ia sudah membeli sepasang cincin sesuai dengan permintaan Karin, dan ia tidak sabar untuk menunjukkannya pada gadis itu lalu melihat bagaimana reaksinya. Mungkin saja Karin akan memelukny dan menciumnya lagi seperti di malam Natal itu. membayangkannya saja sudah membuat hati Naruto disergap oleh ribuan kupu-kupu yang menggelitik rongga dadanya. Ah, betapa bahagianya…
"Berhenti tersenyum seperti itu, Naruto." Ucap Neji yang berjalan di sebelahnya. Entah kenapa matanya terasa sakit melihat banyak bunga imajiner berwarna-warni yang beterbangan di sekitar si pirang.
"Ehehehe…" Naruto tertawa cengengesan tidak jelas. "Aku sangat bahagia, Neji."
"Hanya orang buta yang tidak bisa melihatnya, idiot! Tapi bisakah kau tidak usah memasang wajah menjijikkan seperti itu? Kau terlihat seperti om-om pedofil."
"Enak saja!" Naruto memukul belakang kepala Neji. "Aku tidak setua itu, dan aku bukan om-om!"
"Jangan pukul kepalaku, Bodoh!" hardik Neji sambil memandang sengit si pirang. Yang ditatap malah tersenyum polos. "Pulang naik taksi saja sana!"
Naruto berlari kecil mengejar Neji yang berjalan meninggalkannya menuju tempat mobil mereka terparkir. Tiba-tiba seorang nenek tua muncul di belokan jalan setapak kecil, Naruto yang melihatnya segera mengerem langkahnya sekuat tenaga sebelum tubuhnya menabrak nenek tua tersebut. Nenek itu hanya terkejut dan tanpa sadar menjatuhkan keranjang yang dibawanya.
"Ah, maaf Nek. Aku benar-benar tidak sengaja." Naruto meminta maaf sambil membantu memunguti barang-barang nenek tersebut yang keluar dari keranjang.
"Tidak apa-apa anak muda." Ucap nenek itu sambil menerima keranjang yang diangsurkan oleh si pirang.
"Apakah Nenek baik-baik saja?" Naruto bertanya khawatir, takut telah melukai wanita tua itu meski si pirang yakin tadi ia tidak sampai menabrak si nenek.
Ia meneliti penampilan nenek itu, terusan abu-abu bermotif bunga-bunga kecil berwarna hitam yang dipakainya hanya sampai selutut. Di lehernya terpasang syal tipis berwarna merah gelap, rambutnya yang berwarna putih perak disanggul. Penampilannya sederhana namun rapi dan bersih. Namun yang terpenting adalah Nenek itu tidak terluka dan baik-baik saja.
Melihat ekspresi cemas terukir di wajah si pirang, Nenek itu tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja, Nak. Tadi itu aku hanya kaget, kau tidak menabrakku sama sekali."
Naruto menghela napas lega. "Syukurlah, kalau begitu. Sekali lagi maafkan saya Nek."
Tiba-tiba sebelah tangan nenek itu terangkat dan menyentuh pipi kirinya membuat Naruto berdiri terpaku.
"Kau pemuda yang baik. Kau sudah melakukan semua yang terbaik untuknya, dan membahagiakannya." Naruto terdiam mendengar ucapan si nenek. Sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang perempuan tua itu katakan. Apakah nenek itu bukan orang waras? Tapi dari penampilannya ia terlihat seperti orang-orang pada umumnya. "Ia menyebutmu malaikat, dan itu memang benar, namun malaikat tidak seharusnya berada di bumi selamanya. Tempat malaikat adalah di surga. Kau harus pulang nak Naru, dan kau tidak boleh membawanya, ataupun bersamanya."
Selesai berkata seperti itu si nenek berjalan melewati Naruto, meninggalkan si pirang yang mematung dengan wajah bingung. Apa maksud nenek itu? Ah, sepertinya nenek tadi memang bukan orang waras. Naruto sudah akan melangkah menyusul Neji ketika suatu kesadaran merasuki otaknya.
Kau harus pulang nak Naru, dan kau tidak boleh membawanya, ataupun bersamanya.
Tubuhnya diserang tremor mendadak dan iris safirnya terbelalak lebar. Dia baru menyadari satu hal, nenek itu mengetahui namanya. Secepat kilat ia berbalik untuk berbicara dengan nenek itu, namun perempuan tua itu sudah tidak ada dimanapun. Padahal harusnya nenek tua itu belum jauh dan masih ada dalam jarak pandang Naruto. Memangnya sejauh apa seorang nenek tua sanggup berjalan?
Kenapa nenek itu bisa tahu namanya?
Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?
"Naruto."
Yang dipanggil menoleh dan melihat Neji berdiri di belakangnya, menatapnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya. "Aku menunggumu di mobil tapi kau tidak segera muncul, ada apa?"
Neji mengamati sahabatnya. Pemuda itu memperlihatkan berbagai macam ekspresi, namun yang paling mudah terbaca oleh iris ungu pucatnya adalah mimik bingung. Pemuda pirang itu tak kunjung menjawab, ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Oi, Naruto, ada apa?" Neji mengulangi pertanyaannya.
"Tidak apa-apa." Jawabnya, meskipun mimik bingung masih terpancar jelas di wajahnya.
"Kalau begitu ayo kita kembali ke mobil."
Naruto mengangguk. Berjalan bersisian dengan Neji tanpa mengatakan apapun. Padahal biasanya si pirang tak pernah bisa diam dan selalu merecoki Neji dengan berbagai macam pertanyaan. Neji tahu ada yang sedang dipikirkan pria jangkung disampingnya, namun ia juga tak mau terus bertanya jika memang Naruto tidak berniat bercerita. Bukanlah sifatnya terus menerus bersuara seperti itu, sifat seperti itu adalah milik Naruto.
Mereka sudah sampai di tempat parkir mal yang mereka tempati ketika iris safir Naruto melihat sesuatu di seberang jalan menarik perhatiannya. Ia membatalkan niatnya untuk membuka pintu mobil.
"Oi, Neji, tunggu sebentar disini. Ada sesuatu yang mau kubeli, hanya sebentar."
Neji bahkan belum sempat mengutarakan apapun namun Naruto sudah keburu menyeberangi zebra cross di dekat mereka. Pandangan Neji mengikuti langkah kaki Naruto, dan begitu Naruto berdiri memasuki toko dengan tulisan 'Flowers & Words' diatasnya Nejipun akhirnya mengerti. Si bodoh itu ingin membelikan calon istrinya bunga. Neji berdiri bersandar pada badan mobil sambil memandang ke arah pintu dimana sahabatnya menghilang. Ia merasa lega karena ia sudah memberi tahu Hinata bahwa ia tidak akan bisa menjemput gadis itu sore ini.
Sementara itu Naruto yang berada di dalam toko bunga meraih ponsel di dalam saku celananya, mengetuk-ngetuk layar ponselnya sebentar kemudian menempelkannya di telinga. Dalam deringan kedua, sebuah suara yang sudah sangat familiar segera menyapa indera auditorinya.
[Halo?] sapa seseorang di jalur seberang.
"Hey, kau masih di sekolah?" tanya Naruto to the point.
[Umm, sudah tidak Kak, saat ini aku sedang berada di taman hiburan.]
"Oh ya? Dengan siapa?" seorang perempuan datang menghampirinya. Naruto mengangkat jari telunjuknya ke depan bibir, meminta secara isyarat untuk tidak mengeluarkan suara.
[Dengan teman-temanku, apakah Kakak marah?]
Telinga Naruto mendengarkan ucapan Karin namun matanya memperhatikan si pegawai melakukan gestur menunjuk seluruh bunga yang ada di dalam tokonya seolah berkata 'pesan bunga apa?'
"Tentu saja tidak, Kakak senang akhirnya kau bisa akrab dengan teman-teman sekolahmu."
Naruto berbicara sambil meraih kertas dan pena yang sudah disediakan di atas meja kemudian menulis: 'Mawar putih.'
[Sekarang Kakak dimana?]
Si pegawai mengambil kertas tersebut, membacanya, dan ikut menulis.
"Kakak berada di dekat mal Konoha."
Naruto membaca tulisan si pegawai yang berada tepat di bawah tulisannya sendiri. Kalimatnya berbunyi:
'Hanya itu, Tuan? Tidak ada campuran yang lain?'
[Apa yang Kakak lakukan disana?]
Naruto membalas pertanyaan si pegawai. Menuliskan: 'Campur dengan bunga Lilac.'
"Kakak bersama Kak Neji." Jawabannya tidak sesuai dengan konteks pertanyaan Karin, namun sepertinya gadis itu tidak berniat bertanya lebih jauh lagi.
Si pegawai membaca sekilas tulisan Naruto dan mengangguk singkat. Ia mengangkat sebelah tangannya dengan jari-jari yang terbuka, mengatakan dengan isyarat bahwa bunganya akan siap dalam lima menit. Sambil menunggu rangkaian bunganya jadi ia terus berbicara dengan Karin, menanyakan bagaimana rasanya pergi ke taman bermain bersama teman-teman sekolahnya.
.
Neji bersandar ke samping mobil sambil bersedekap tangan dengan pandangan yang tetap terarah pada bangunan dua lantai berwarna coklat muda yang dimasuki si pirang sebelas menit yang lalu, dan sampai sekarang si bodoh itu belum keluar sama sekali. Dan begitu Naruto keluar, Neji menghela napas lega sambil merubah posisinya menjadi berdiri tegak. Neji memperhatikan si pirang yang berjalan keluar dari toko kemudian berjalan ke trotoar. Sebelah tangannya menggenggam sebuket bunga mawar putih dengan hiasan bunga-bunga kecil berwarna ungu yang Neji tidak ketahui namanya, sedang tangannya yang lain berada di telinga. Dari wajah si pirang –yang tak henti-hentinya mengulas senyum- Neji tahu dengan siapa Naruto sedang berbicara.
.
"Oh ya, ngomong-ngomong Kakak punya sesuatu untukmu." ucap Naruto sambil keluar dari toko bunga tersebut.
[Apa?] tanya Karin antusias.
"Nanti kau akan lihat sendiri. Tunggu disana, Kakak akan menjemputmu."
Ia terus berbicara sambil berjalan menuju zebra cross yang berada sekitar dua puluh meter dari letak toko bunga tersebut.
[Baiklah. Apa Kakak membawa sesuatu?]
"Begitulah." Naruto tersenyum. "Tapi mungkin Kakak akan sedikit lama baru bisa sampai kesana karena Kakak harus kembali ke kantor mengambil mobil."
[Seberapa lama? Apakah sampai satu jam?]
"Mmm, mungkin. Kembalilah bersenang-senang, Kakak akan menelponmu begitu Kakak disana."
[Baiklah. Tapi jangan terlalu lama ya Kak.]
"Memangnya kenapa? Apakah kau sebegitu tidak sabarnya untuk bertemu dengan Kakak?" tanya Naruto dengan nada usil.
[Bu-bukan begitu! Kakak percaya diri sekali.]
Naruto tertawa, ia bisa membayangkan dengan jelas bagaimana wajah Karin sekarang. Pipi memerah, hidung berkerut dan alis bertaut.
[Benarkah? Tapi Kakak sudah merindukanmu.] Dia sudah sampai di pinggir jalan dan siap menyeberang.
"Karin?" panggilnya.
Lampu tanda menyebrang masih berwarna hijau, jadi ia mulai melangkah. Karin tidak langsung menjawab, membuat Naruto heran.
[A-aku juga merindukan Kakak.] balasnya.
Tanpa sadar langkah kakinya melambat
"Aku tahu, Gadis Kecil." Ucapnya lembut dan setengah berbisik. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia.
[Kak Naru, aku mencin-] tut tut tut
"Huh?" Naruto bingung. Sambungan telepon terputus.
"NARUTO, AWAS!" iris safirnya menoleh ke Neji yang berdiri di pinggir jalan dengan mata melebar.
Naruto ingin bertanya kenapa Neji berteriak ketakutan seperti itu namun sebuah benda besar menghantam tubuhnya begitu keras dan cepat. Ia merasakan tubuhnya terhempas di udara, hal terakhir yang didengarnya adalah suara kepalanya yang membentur aspal dengan bunyi 'duk' yang terdengar jelas di telinganya. Lalu semuanya menjadi gelap.
Ode to a Nightingale
"Yah…" Karin mendesah kecewa. Ponselnya mati disaat yang sangat tidak tepat.
Ia lupa sama sekali kalau daya ponselnya memang sudah sangat kritis. Padahal ia baru saja ingin mengatakan 'itu' pada Naruto. Sesuatu yang sangat ingin dikatakan pada si pirang namun selalu tertahan di ujung lidahnya, dan ketika ia sudah siap mengucapkan kalimat sakral itu takdir dengan kejam malah membuat segalanya gagal. Ia memutuskan untuk kembali ke bangku panjang tempat dua temannya menunggu.
"Loh, mana Hinata?" tanya Karin heran. Sosok yang duduk disana hanya tinggal satu orang.
"Dia sudah pergi." Sasuke menjawab datar.
"Eh? Kenapa?"
"Adiknya menelpon."
Karin menghela napas. Kalau begini apa yang dia lakukan? Terjebak di taman hiburan bersama expresionless person seperti Sasuke bukanlah hal yang menyenangkan. Namun ia juga tidak mau mati bosan menunggu Naruto yang sepertinya tidak akan datang dalam waktu yang cepat.
"Apakah kau sudah mau pulang?" suara Sasuke menghamburkan lamunannya.
Dengan pelan Karin menggeleng. "Belum."
"Kalau begitu ayo kita mencoba wahana yang lain."
Si raven berdiri kemudian menoleh pada Karin menatap Sasuke dengan sorot mata tak yakin.
"Memangnya kau mau naik wahana apa?" tanya gadis itu sedikit sangsi.
Ia sedikitnya tak menyangka jika Sasuke akan berkata demikian, sedangkan sejak tadi si raven hanya diam dan berjalan di belakangnya. Dari wajahnya sama sekali tidak terlihat kalau Sasuke juga bersenang-senang. Karin mengikuti arah tangan si raven yang terangkat dan menunjuk sebuah benda besar berbentuk lingkaran yang sedang berputar tak jauh dari mereka.
"Bianglala." Jawab si raven.
.
Karin menatap kebawah ketika benda raksasa itu mulai berputar. Perlahan tapi pasti mereka dibawa menuju ketinggian. Iris ruby-nya terlaih menatap ke depan dan menemukan Sasuke yang duduk dengan tangan tersilang di dada, bsias cahaya matahari senja menyentuh sisi wajahnya. Sepasang iris obsidian itu menatap ke luar, entah apa yang sedang dipikirkannya. Meski berkali-kali menatap wajah itu, Karin masih sering terpana akan pandangan matanya sendiri.
"Aku tidak menyangka kau suka naik benda ini." Suara Karin memecah senyap disekitar mereka.
"Aku lebih suka wahana sejenis Dragon Tower, sebenarnya" sahut Sasuke datar.
"Oh ya? Tapi tadi wajahmu biasa-biasa saja."
"Memangnya aku harus terlihat bagaimana?"
Karin mengedikkan bahu. "Yah, tertawa atau berteriak, mungkin? Pokoknya yang seperti orang lain lakukan ketika naik wahana seperti itu."
"Aku rasa tidak perlu. Itu hanya akan membuat tenggorokanku sakit."
Jawaban Sasuke sukses membuat Karin melongo. Bisa-bisanya pemuda di depannya ini memikirkan hal seperti 'tenggorokan sakit karena berteriak', hal seperti itukan memang dilakukan secara naluriah oleh manusia ketika adrenalin mereka terpacu. Oh ya, Karin lupa, pemuda di hadapannya ini bukan manusia seperti kebanyakan. Dia adalah manusia seperti robot.
"Lalu kenapa kau memilih Bianglala?" Karin bertanya lagi.
"Karena aku tahu kau akan menyukainya. Lihat itu."
Karin mengikuti arah pandang Sasuke dan seketika iris ruby-nya melebar.
"Wah…"
Mereka sudah berada di puncak, tanpa sadar ia mendekat ke dinding dan menempelkan kedua telapak tangannya kesana. Dari ketinggian seratus meter ia bisa melihat pemandangan kota Konoha di penghujung hari. Matahari yang baru setengah terbenam di ujung cakrawala mengeluarkan warna jingga dengan kombinasi kuning dan kemerahan. Semburat mega di kaki langit juga ikut terkena biasan cahaya tersebut. Bayangan gedung yang tercipta dari semburat cahaya itu sedikit memberikan kesan misterius, membuat keseluruhan pemandangan itu terlihat sangat menakjubkan. Ah, andai saja ponselnya sedang tidak mati, Karin pasti akan memotret pemandangan yang terpampang di matanya sekarang.
Puas melihat matahari pandangannya teralih ke bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Lampu-lampu penerang jalan sudah dinyalakan, begitupun dengan lampu-lampu kendaraan yang bergerak lambat karena terjebak macet. Pantulan sinar dari lampu jalan dan kendaraan itu terlihat seperti bola-bola cahaya blur dari tempat Karin sekarang.
"Cantiknya…" Karin menggumam.
Sasuke tersenyum kecil melihat rasa kekaguman terpancar jelas dari iris ruby Karin yang dilapis kaca mata. Ia tidak perlu repot-repot melihat pemandangan kota, karena bagi Sasuke apa yang ada didepannya sekarang jauh lebih indah. Sampai sekarang Sasuke masih gagal paham kenapa ia begitu betah memandang wajah gadis Uzumaki tersebut. Seolah ada magnet khusus dalam diri gadis itu yang terus menarik atensinya. Dan setiap saat gadis itu tersenyum –pada siapa saja- si raven selalu ada perasaan asing yang anehnya justru terasa akrab dengan matanya. Seolah-olah ia sudah mengenal gadis itu sejak ratusan tahun yang lalu.
Hell, Sasuke sendiri bahkan belum hidup selama itu, bagaimana bisa ia merasa sudah mengenal Karin hingga satu abad?
"Sasuke, ada apa?" suara Karin menarik kembali konsentrasi si raven.
"Apa?" Sasuke bertanya balik.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Karin dengan jari telunjuk terarah ke wajahnya sendiri.
Sasuke mengerutkan alis, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Karin.
"Sejak tadi kau terus menatap wajahku, apa ada sesuatu yang menempel?" tanyanya lagi. Iris ruby-nya mengerjap-ngerjap polos.
"Aku..."
Tbc
Oke, saya tahu saya tidak konsisten.
Kemarin saya bilang chap ini adalah chap terakhir, nyatanya tulisan "tbc" diatas membuktikan sebaliknya. Tolong ampuni Night... Menurutku chap ini akan sangat panjang jika kutamatkan sekarang juga, jadi Night memutuskan untuk memotongnya. Heheh...
Ada begitu banyak haal yang menghambat Night segera meng-update fict ini. Ada kegiatan kampus yang Night ikuti minggu lalu, dan jangan lupakan tentang fakta bahwa sekarang Night sedang tidak pegang laptop, dan semua draft fict Night terpaksa Night simpan di aplikasi OneDrive. Jadi sekarang Night mengetik di warnet kampus atau melalui ponsel, dan percayalah guys, itu sama sekali tidak menyenangkan.
Namun apapun yang terjadi ff ini pasti akan tamat, untuk kalian dan juga untuk diri Night sendiri.
Oh ya, banyak yang bertanya kenapa fict ini tamatnya cepat sekali, dan untuk apa sebenarnya mimpi Karin di chap 1 itu? Jawabannya akan kalian temukan nanti, lagipula perjalanan kita masih panjang, jadi tetap bersabar menanti, ya kawan? Love you, guys.
See ya!
