Bloody Love
By Eucallysca Putly
Disclaimer Masashi Kishimoto
(Naruto milik Masashi Kishimoto, tapi 'Namikaze Naruto' hanya milik Sasuke. Kyaaaa! Dan Itachi hanya milik Putly #dijitaked(?))
Rate T+
Genre Romance, Fantasy
Main Pair Sasuke x Naruto
Warning! OOC, typo, abal, silsilah keluarga disini aneh! Jadi kalo ada yang mau protes jangan salahkan Putly, salahkan Ficnya aja hohoho~ Putly sebagai author yang ababil lalala~ dll(?)
Hueee! Gomen baru updet! Putly libur-libur malah gak enak badan. Fic satunya malah sama sekali belum buat gegara laptop Putly rusak! Ck! Kalo aja fic ini gak Putly share di Fb, mungkin putly bakal lama updetnya, nunggu laptop Putly sembuh(?) dulu hehehe.
.
.
Previous part
Sasuke merendahkan wajahnya hingga ia bisa menghirup bau shampo Naruto diantara helaian rambut pirang pemuda itu. Pelan, dia berbisik "Lagi pula itu yang terakhir, aku takakan mengganggumu lagi" bisiknya dan segera berjalan meninggalkan pemuda itu sendiri di lorong yang memang sepi karena belum waktunya sekolah.
Naruto masih mematung menatap kepergian Sasuke. Kakinya lemas hingga ia akhirnya jatuh terduduk. Dadanya naik turun karena amarah. Aliran bening masih setia keluar dari pelupuk matanya.
"Kau jahat Teme" ucapnya lirih. "ARRGGGHH!" erangnya dan segera berdiri, berlari meninggalkan tempat menjijikkan itu. Tempat dimana ia mendapat perlakukan paling menyebalkan dan memalukan di hidupnya! "Aku membencimu" ucapnya disela tangisannya yang kini pecah.
.
Bloody Love chap 7
"Aku benar-benar membencimu Teme!" ucap Naruto di sela-sela tangisannya, air matanya tak kunjung berhenti sejak tiga puluh menit yang lalu. Dan kini, ia hanya bisa menangis di balkon kamarnya. Meratapi kejadian yang baru saja menimpanya.
Untuk kesekian kalinya, pemuda itu menyentuh bibirnya. Luka akibat gigitan Sasuke tak lagi membekas, tapi ada sesuatu yang membuatnya perih. Tak lama, ia segera menggelengkan kepalanya cepat dan berjalan masuk karena sinar matahari membuat kulit pucatnya kini menampakkan bercak merah.
"Ku rasa, lebih baik aku tidur" gumannya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Dilihatnya mukanya kini berantakan akibat tangisannya dan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. "Kau jelek sekali Naruto" ia berucap lirih dan menghela nafas panjang.
Dinginnya air yang mengenai wajahnya setidaknya dapat membuatnya merasa lega, walaupun sedikit. Setelah memastikan bahwa wajahnya tak seberantakan tadi, ia menghentikan aktivitas membasuh mukanya dan berjalan keluar dari kamar mandi, bersiap-siap untuk kembali tidur.
Sejenak, ia hanya duduk dengan pandangan kosong ke arah jendela kamarnya, entah apa yang kini ia pikirkan. Tak lama, untuk kesekian kalinya ia kembali menghela nafas berat. "Aaarrrgghh! Aku mau tidur!" erangnya dan segera menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.
Beberapa kali ia menggelengkan kepalanya. Rasanya kepalanya benar-benar akan pecah akibat ingatan-ingatan perlakuan Sasuke tadi terus melintas di pikirannya. Naruto mengacak rambut pirangnya kasar dan segera menutup wajahnya dengan salah satu bantal yang ada di sampingnya.
"Aku mau tidur!"
===EucallyscaPutly===
Sesosok pemuda jangkung kini tengah menatap langit malam yang lagi-lagi hanya berhiaskan awan mendung. Pikirannya berkecamuk. Tak tenang, itulah yang sedari tadi merasuki perasaan ia melihat jam yang masih setia melingkar di pergelangan tangan kanannya. Tepat pukul 7 malam. Dan ia sama sekali tak ada keinginan untuk berangkat ke sekolah walaupun bel telah berbunyi nyaring satu jam yang lalu.
"Arrgghh! Apa yang kau lakukan! Mengapa kau bisa lepas kendali seperti itu!" erangnya frustasi, pemuda berambut raven itu kini hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan mengacak kasar rambutnya dan mendengus pelan.
Pikirannya sedari tadi terus dihantui rasa bersalah karena telah berbuat hal yang menurutnya 'sangat kurang ajar' pada seorang pemuda bernama Naruto. Tapi bagaimana lagi, pikirannya kacau saat itu. Ia kalut. Melihat wajah polos Naruto membuat kekesalannya bertambah!
"Kau tak masuk Sas?" suara lembut dibelakangnya itu sontak membuat Sasuke tersentak. Pemuda itu tahu pasti siapa yang kini dibelakangnya dan berbicara padanya. Sasuke menoleh sekilas dan akhirnya kembali memandang langit yang kini terlihat lebih suram dari biasanya.
"Bukankah kau juga,Nagato-nii?" Ya, pemuda di belakang Sasuke, yang kini tengah berjalan mendekati pemuda berkulit sangat pucat itu adalah Nagato.
Nagato hanya tersenyum melihat wajah Sasuke yang kini berantakan. Tak seperti biasanya Sasuke menunjukkan wajah se'berantakan' seperti itu. Sasuke yang ia kenal adalah orang yang selalu bisa menutupi segala perasaannya, entah itu gelisah, marah atau apa pun itu. Dan kini Sasuke bisa menampakkan wajah seperti itu pasti ada sesuatu yang amat berat yang kini sedang ia pikirkan.
"Ada apa?" tanya Nagato khawatir, pemuda itu, Sasuke, hanya menggeleng tanpa berniat untuk membalas pertanyaan pemuda berambut merah di sampingnya. Nagato menghela nafas melihat kelakuan Sasuke yang lagi-lagi tak ia mengerti.
"Nagato-nii"
"Hm?"
"Iie" ucap Sasuke akhirnya,Nagato hanya bisa mengangkat sebelah alisnya tak mengerti tentang apa yang Sasuke ingin bicarakan.
"Ceritalah otouto, aku akan membantumu sebisaku" ucap Nagato lembut. Sasuke memandang Nagato, masih dengan tatapan datarnya yan kian lama kian melembut. Lalu menghela nafas. Perlahan sudut bibirnya terangkat membuat Nagato tak bisa mengedipkan matanya, menunggu perkataan yang akan Sasuke katakan.
"Aku bingung" ucap Sasuke lirih. Nagato terdiam masih dengan pandangan yang tak lepas dari sosok pemuda tampan berkulit pucat di sampingnya.
"Ini tentang pemuda mani itu? Tentang Naruto?" tanya Nagato yang sukses membuat Sasuke tersentak dan akhirnya menunduk. Nagato tahu jika perkataannya benar adanya. Ia hanya tersenyum dan menepuk bahu pemuda disampingnya lembut. "Kau tahu, awalnya aku tak ingin mengatakan hal itu padamu. Tapi cepat atau lambat pun kau akan mengtahuinya. Lagi pula pemuda itu sendiri ku kira juga belum tahu" ucap Nagato dan Sasuke sontak mengangkat wajahnya dan menatap tajam Nagato.
"Ia tak mengetahuinya?" Nagato hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Sasuke. Dan hening,tak ada yang berbicara lagi. Kedua pemuda tampan itu kini hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Apa kau ingin menghadiri rapat senat? Bersamaku?" tanya Nagato yang akhirnya kembali membuka pertanyaan, memecah keheningan yang beberapa saat lalu tercipta. Sasuke menggeleng disertai tatapan mata yang seolah-olah berkata '-apa-kau-gila?'
"Tidak! Aku tak ingin berkumpul dengan orang tua yang selalu mementingkan ego mereka" ucapnya ketus seraya berdiri dan menepuk-nepuk celana seragamnya yang kotor akibat ia duduk di atas rumput.
"Hahaha, jangan menatapku seperti itu, baiklah jika kau tak ingin. Atau kau ikut saat pesta saja?" tawar Nagato untuk kedua kalinya yang dihadiahi oleh Sasuke dengan tatapan tajam menusuk.
"Cukup! Aku tak ingin membahas masalah ini!"Sasuke hanya bisa menghentakkan kakinya sebal dan berjalan meninggalkan Nagato yang kini tengah tersenyum menatap punggungnya yang berjalan perlahan.
"Dasar tempramental" guman Nagato masih dengan senyuman yang terpatri di wajah tampannya. Perlahan kakinya melangkah, berjalan menuju arah Sasuke yang telah meninggalkannya jauh.
===EucallyscaPutly===
Naruto POV_
Entah untuk yang keberapa aku menghela nafasku. Akhir-akhir ini aku memang sering menghela nafas, entah kenapa. Jika diingat-ingat mungkin sejak aku memasuki sekolah ini. Haaah~sekolah ini membuatku berubah menjadi laki-laki tak jelas seperti saat ini!
Sebenarnya, ini adalah hari dimana rapat senat akan berlangsung. Dan sekarang aku di sekolah karena rapat dimulai jam 10 malam nanti, mengingat kaumku adalah kaum malam, tak mungkin kami mengadakan rapat antara pagi hingga sore karena matahari masih bersinar.
Ku lihat jam yang ada di depan kelas, menunjukkan jam 9 tepat dan pandanganku kini beralih ke sebuah bangku kosong tak jauh dari bangkuku. Bangku Sasuke. Ia tak berangkat lagi. Saat-saat paling menyebalkan sekaligus menyeramkan kini memenuhi otakku seperti putaran rol film acak. Saat dimana Sasuke menciumku dengan brutalnya. Tak terasa, kini aku telah menggingit bibirku sendiri menyebabkan luka hingga aku dapat mencium bau tembaga amis namun harum(?) yang berasal dari bibirku. Darah.
Aku hanya bisa menyekanya dengan tissue yang selalu ku bawa di tas, tak terlalu banyak darah yang keluar. Dan sisa darah yang masih menempel di sudut bibirku kuhisap. Aku lapar.
"Sumimasen sensei" kutolehkan kepalaku ke arah suara yang begitu familiar di telingaku. Uzumaki Kyuubi, pemuda itu kini tengah berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah kertas, entah itu apa. "Aku hanya ingin memberikan surat izin untuk Naruto" ucapnya kemudian membuat semua yang ada di kelas memandangku dan Kyuubi senpai bergantian. Menyebalkan.
"Baiklah" ucap sensei muda itu ramah. Aku yang telah mengerti apa isi dari surat izin itu hanya bisa tersenyum dan segera membereskan barang-barang di atas mejaku dan membawanya berjalan menghampiri Kyuubi senpai.
"Ayo!" aku hanya mengengguk setuju seraya berjalan mengikutinya dari belakang.
===EucallyscaPutly===
Shimura Mansion
Jam telah menunjukkan tepat pukul 12 tepat dan rapat senat telah selesai,memang rapat ini hanya berisikan sesuatu yang tidak terlalu penting-menurut Naruto-. Dan tak seperti biasanya yang bisa menghabiskan lebih dari 5 jam untuk sebuah rapat kali ini tak ada 2 jam rapat telah selesai dengan keputusan yang menggantung.
Naruto, pemuda pirang itu kini hanya duduk santai seraya meminum minuman bewarna merah pekat yang ada di gelas yang ia pegang. Sesekali ia menggoyangkan gelas itu layaknya meminum wine. Rasanya kali ini pemuda bernama Naruto itu sedang tak ingin diganggu, terbukti, saat ini ia duduk sendiri di kursi paling pojok.
Mata pemuda itu kini menelisik kesetiap sudut mansion yang tergolong mewah itu. Bukan karena mengaguminya karena mansionnya di Inggris, tempat kelahirannya pun tak beda jauh dari mansion milik keluarga Shimura itu. Ia hanya bingung, pemuda yang tadi membawanya ketempat ini, Kyuubi tak terlihat sejak rapat tadi.
Dalam hati ia hanya bisa menggerutu tak jelas. Ia membenci pesta, itulah kenyataannya. Memang aneh jika seorang bangsawan vampire membenci pesta-pesta sosialita, tapi bagaimana lagi. Ia tak terlalu suka dengan keramaian. Pesta yang hanya berisikan vampire-vampire yang hanya ingin memamerkan kekayaan mereka. Hanya satu kata yang tepat bagi Naruto saat mendengarnya – saja bukan karena ia adalah penerus keluarganya, jika ia punya seorang kakak dan bukannya anak tunggal, ia akan lebih senang membaca buku atau membuat cerita bukannya terlibat pada kumpulan vampire-vampire menyebalkan yang ada disitu.
Naruto kembali menghela nafas seraya meminum sedikit cairan merah pekat hingga tersisa setengah. Pandangannya kini beralih pada seorang pria paruh baya yang kini berjalan menghampirinya. Pria itu tersenyum seraya berdiri dan membungkukkan badannya sedikit.
"Tou-sama" ucap Naruto setelah menegakkan punggungnya kembali. Pria paruh baya itu tersenyum lembut menatap putra satu-satunya itu.
"Ada yang harus Tou-san bicarakan padamu chagi"ucapnya, rautnya yang lembut kini digantikan dengan tatapan serius walaupun tak menghilangkan wajah lembutnya saat menatap Naruto. Pemuda itu hanya mengangguk tak mengerti, ia kembali duduk mengikuti ayahnya yang telah terlebih duduk di bangku sampingnya.
"Ada apa tou-sama?"
"Mungkin ini memang terlalu cepat dan mendadak, kau tahu sendiri kan kita adalah kaum vampire bangsawan?" ucap ayah Naruto, Namikaze Minato. Naruto kembali mengangguk walaupun tak mengerti apa maksud sesungguhnya dari perkataan appanya itu.
"Lalu?"
Minato menghembuskan nafasnya perlahan dan memandang wajah tampan sekaligus manis putranya itu serius "Dan kau tahu juga kan jika pasanganmu juga harus seorang bangsawan?" setelah mendengar perkataan terakhir Tou-sannya sontak mata Naruto membulat sempurna. Ia tahu pembicaraan ini akan mengarah kemana.
"Ma-maksud Tou-sama? A-aku-" ucapnya bergetar. Jujur, ini terlalu cepat. Yah, walaupun umurnya sesungguhnya sudah lebih dari 500 tahun tapi bagaimana pun juga ia masih belum siap.
"Ya, kau akan bertunangan" ucap Minato mantap. Naruto hanya diam membeku tak tahu lagi apa yang harus ia katakan saat ini. Sejenak hening menyergap mereka hingga akhirnya Naruto lah yang membuka suara.
"Siapa? Apa orang yang dulu pernah Tou-sama katakan padaku saat kecil?" tanya Naruto. ayahnya menggeleng membuat Naruto mengeryit tak mengerti.
"Iee, kau akan bertunangan dengan putra dari tuan Shimura" lagi-lagi Naruto membelalakkan matanya.
"T-tuan Shimura?"
"Ne, Shimura-sama, Ketua senat" ucap Minato melembut tatapan matanya ikut melembut tak menampakkan raut serius seperti tadi.
"Maksud appa Uzumaki Kyuubi?"tanya Naruto tak percaya dengan apa yang kini tengah mereka berdua bicarakan. Minato hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Shimura Kyuubi lebih tepatnya" Lagi-lagi Naruto terdiam. Tapi ada satu pertanyaan lagi yang masih mengganjal dipikirannya. Ia melirik ayahnya yang kini tengah memandangi orang-orang yang kini tengah bercakap-cakap tak jauh dari tempat mereka berada kini. "Kapan?" tanya Naruto lagi, kali ini dengan wajahnya yang menunduk.
"Saat ini"
"Eeh?"
"Iya saat ini, Tou-san dengar kau cukup dekat dengannya. Sebenarnya kami telah merundingkan ini beberapa tahun lalu" ucap Minato tanpa mengalihkan pandangannya ke Naruto. Sedangkan Naruto hanya bisa membelalakkan matanya tak percaya. Saat ini juga?
"Jadi, tou-sama mengirimku kemari dan menyekolahkanku di sini agar aku dapat mengenal Kyuubi senpai?"tanya Naruto tak percaya. Dan appanya kini mengalihkan pandangannya ke Naruto dan tersenyum lembut.
"Bisa dibilang begitu, tapi bisa dibilang juga tidak. Kau tahu juga kan sekolah itu adalah sekolah terbaik untuk kaum vampire seperti kita, dan juga yang mendirikan adalah teman lama Tou-san"
"Tapi, aku tak mencintainya" ucap Naruto lirih walaupun ia sendiri meragukan perkataannya barusan. Memang setiap kali ia bertemu Kyuubi ada perasaan aneh yang menjalari tubuhnya. Tapi itu saja tak cukup untuk dikatakan cinta bukan?
"Sebagai bangsawan, selayaknya kita juga harus mencari pendamping hidup bangsawan pula, kau tak bisa begitu saja memilih pasangan dari kasta yang berbeda. Dan jika soal kita mencintainya atau tidak, Tou-san mengerti perasaanmu. Tou-san dan Kaa-san mu dulu pun begitu, tapi berjalannya waktu cinta bisa tumbuh dengan sendirinya. Bukankah Kyuubi adalah pemuda yang baik? Ia pasti bisa membahagiakan dan melindungimu" . Sementara Naruto, pemuda itu hanya diam menunduk dengan badan yang bergetar.
Pikirannya kini tak menentu, antara marah, kecewa, ia bahkan tak bisa mengartikan dengan benar apa yang kini benar-benar dirasakannya. Pemuda itu hanya menunduk hingga akhirnya sebuah tangan menepuk bahu mungilnya membuat pemuda bernama Naruto itu mengangkat wajah manisnya.
"Acara inti akan dimulai, kita harus ke tengah. Nikmatilah, ini memang sudah seharusnya dilakukan oleh kaum bangsawan" Naruto hanya terdiam sejenak menatap wajah rupawan ayahnya dan dengan ragu ia tersenyum.
"Baiklah" ucapnya ragu dan segera berjalani mengikuti ayahnya yang kini berjalan menuju tuan Shimura Danzou dan pemuda calon tunangannya Shimura Kyuubi atau biasa disebut juga Uzumaki Kyuubi. Dikarenakan hubungan ayah dan anak yang memang tak terlalu baik membuat Kyuubi lebih memilih menggunakan marga ibunya walau pun mendapat tentangan keras dari sang ayah, Danzou.
Dan seketika itu juga suasana berubah menjadi hening setelah tuan rumah menepuk tangan meminta perhatian dari seluruh tamu yang hadir.
"Pertama-tama saya, selaku tuan rumah mengucapkan terima kasih telah datang pada acara malam ini. Dan pada akhirnya kita telah memasuki acara inti yaitu pertunangan anak kami Shimura Kyuubi dengan Namikaze Naruto" dan seketika suara tepuk tangan kini memenuhi ruangan acara tersebut.
Perlahan Kyuubi berjalan mendekati Naruto yang hanya bisa tersenyum dengan dipaksakan ke arah tamu yang entah ikut berbahagia atau tidak dengan pertunangan mereka. Kyuubi, pemuda itu membungkukkan tubuhnya sedikit. Kini wajahnya mendekati telinga Naruto hingga bisa mencium aroma citrus yang menguar kuat dari rambut pirang pemuda itu.
"Maaf jika ini membuatmu kaget dan terlalu cepat" bisik Kyuubi, Naruto hanya tersenyum masih dengan kini membuka kotak kecil yang berisikan sepasang cincin bertahtakan blue diamond besar. Pemuda itu kini memegang tangan mungil Naruto dan memakaikan cincin itu di salah satu jari lentik milik pemuda cantik itu. Naruto kembali tersenyum dan melakukan hal yang sama pada Kyuubi. Dan untuk kedua kalinya ruangan megah itu kini terdengar suara tepuk tangan yang lumayan keras disertai music yang kini mengalun lembut hingga membuat beberapa pasangan turun ke lantai untuk berdansa.
Naruto masih terdiam,pandangannya kini menatap sesosok pemuda yang ia kenali. Nagato kini tengah bersandar di dinding dengan membawa segelas cairan bewarna pekat di salah satu mereka bertemu, Nagato tersenyum, namun tidak dengan Naruto. Pemuda itu kembali melihat ke sekeliling mencari seseorang yang biasanya dekat dengan Nagato. Tapi ia sama sekali tak dapat merasakan kehadiran orang itu. Orang aneh yang hawa kehadirannya tak dapat Naruto rasakan. Hanya dia lah pemuda yang tak dapat Naruto rasakan hawa kehadirannya. Uchiha Sasuke.
Pemuda itu menggelengkan kepala pelan saat ia menyadari jika lagi-lagi ia memikirkan pemuda kurang ajar itu. Tapi entah mengapa ada rasa lega bahwa pemuda itu tak ada disini, lega karena pemuda itu tak harus melihat keadaannya yang berantakan. Tapi tunggu, lagi-lagi ia menyadari sesuatu yang mengganjal. Lega? Mengapa ia harus lega? Itulah yang kini berkecamuk dalam pikirannya.
"Naru" ucap Kyuubi yang sukses membuyarkan lamunan Naruto, pemuda itu menoleh dan mendapati Kyuubi tengah tersenyum ke arahnya dan mengulurkan tangan padanya. Tanpa ditanya pun ia telah mengerti bahawa Kyuubi mengajaknya untuk berdansa. Naruto terdiam sejenak hingga akhirnya ia mengangkat tangannya yang berbalut sarung tangan hitam dengan ragu dan menerima uluran tangan Kyuubi.
Alunan music yang merdu menemani langkah demi langkah mereka. Kedua tangan Naruto kini dikalungkan ke leher Kyuubi sementara tangan Kyuubi memegang erat pinggang Naruto. Keduanya terdiam tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
"Apa kau menyesal?" tanya Kyuubi pada akhirnya yang tidak suka dengan keadaan canggung yang berlangsung beberapa menit belakangn ini. Naruto tetap terdiam dengan sorot mata yang tak dapat pemuda itu artikan. "Apa kau menyesal bertunangan denganku?" tanya Kyuubi lagi, kini Naruto menatap wajahnya seraya menggeleng lemah.
"Bukankah ini memang sudah seharusnya? Penyesalan tak akan berarti" ucapnya lirih. Kyuubi menghela nafasnya pelan namun senyumnya kini terukir jelas di wajah rupawannya.
"Kau benar" ucapnya, Kini Naruto tersenyum manis membuat desiran aneh menjalari tubuh pemuda yang kini telah resmi menjadi tunangan pemuda di hadapannya itu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah pemuda yang kini masih tersenyum manis menatapnya. Entah setan apa yang membuatnya berlaku seberani itu.
Naruto mematung menyadari wajah Kyuubi yang kini tunggal beberapa centi lagi menempel di wajahnya. Ia bergetar,namun ia mengingat perkataan appanya - berjalannya waktu cinta bisa tumbuh dengan sendirinya -. Naruto perlahan menutup matanya. Menutup segala sesal yang kini menumpuk dalam hatinya. Membuka lembaran baru untuk belajar mencintai seorang Shimura-Uzumaki Kyuubi yang telah resmi menjadi tunangannya.
Kini, bibir Kyuubi telah menempel sempurna di bibir mungil Naruto, melumatnya lembut. Naruto masih diam, ia sama sekali tak berniat untuk membalas ciuman Kyuubi. Walaupun ia telah mencoba untuk menikmatinya namun tetap saja ada yang mengganjal. Ia juga tak mengerti perasaan apa yang tengah ia rasakan. Seakan ciuman ini salah, tak seharusnya.
Dan entah mengapa bayangan sosok Sasuke berkelebat cepat di kepalanya. Bayangan Sasuke tersenyum, sedih dan ia pun tak mengerti, Sasuke terluka? Entahlah. Dan yang membuatnya tercekat adalah mengapa ia ingin bahwa Sasuke lah yang menciumnya, bukan Kyuubi.
Ciuman yang kini ia lakukan dengan Kyuubi memang sangat berbeda dengan Sasuke yang terkesan memaksa dan menuntut, ciuman Kyuubi lebih lembut tapi tetap saja ia tak merasa nyaman dengan semua itu. Ini salah, ciuman ini salah.
Dan satu hal lagi, setiap berciuman dengan Sasuke ia dapat merasakan desiran aneh yang membuat seluruh tubuhnya panas, kaku tak dapat di gerakkan. Dan hal itu tak terjadi saat bersama Kyuubi. Satu hal yang kini baru ia sadari yaitu ia-mencintai seorang Uchiha Sasuke-.
Naruto, menyesal. Ya, ia baru menyesal sekarang. Walaupun ia berkata bahwa penyesalan itu tak berguna, memang itu kenyataannya. Tapi ia tetap menyesal. Jika saja ia tahu lebih awal mungkin ia tak akan pernah mengikuti acara kali ini. Tak akan pernah. Perlahan, Kristal bening mengalir dari matanya yang tertutup, mencerminkan kesedihan yang dialaminya. Penyesalan yang terlambat.
Mereka berdua kini tak menyadari jika ada salah satu tamu pesta yang memandang pasangan itu dengan tatapan tak suka. Dia adalah Nagato, pemuda itu masih ditempat yang sama saat Naruto melihatnya. Gelas yang ia pegang tadi telah pecah karena terlalu kuat ia pegang. Dengan tatapan sinis ia membuang muka pada pasangan yang kini tengah berciuman. Dan segera meninggalkan tempat membosankan itu.
"Menyebalkan!"gerutunya.
===EucallyscaPutly===
Awan tebal kini bergulung ditemani alunan angin yang menerbangkan helaian daun yang ada di pohon. Sesosok pemuda serba hitam kini duduk di atap sebuah bangunan sekolah megah yang ada di Tokyo. Mata pemuda itu tertutup, mencoba menikmati setiap hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Coat hitam yang digunakan pemuda itu berkibar. Namun tak membuat pemuda tampan itu membuka kedua kelopak matanya.
"Sampai kapan kau ingin berdiri disitu?"ucap pemuda serba hitam itu tanpa membuka matanya. Membuat pemuda lain yang berada di dekat pintu beberapa saat lalu tersentak dan berjalan mendekatinya.
Pemuda dengan jas hitam itu kini duduk disamping pemuda tampan yang masih menikmati kesunyian malam yang menyelimuti mereka.
"Kau tak apa otouto?" tanya Nagato, pemuda berjas hitam. Sasuke hanya menggeleng. Sebuah lengkungan indah kini tercipta di bibir pemuda itu dan perlahan membuka kelopak matanya, memperlihatkan sepasang manik mata indahnya.
"Hn" Nagato hanya terdiam memandang senyuman yang terukir jelas diwajah Sasuke. Ia tak menyangka, Sasuke dapat setenang itu mengingat kemarin ia begitu berantakan akibat mendengar rencana pertunangan Naruto dengan Kyuubi. Tapi setidaknya, ia pun bersyukur, sifat Sasuke yang terlewat tenang itu membantu juga.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"tanya Nagato seraya mengalihkan pandangannya ke arah langit tanpa bintang. Sejujurnya ia pun heran, mengapa Sasuke terlalu menyukai memandang langit. Entah itu berbintang atau pun tidak. Ia merasa itu tidaklah menarik sama sekali.
"Mungkin aku akan menunggu lagi"ucap Sasuke lirih. Ucapan Sasuke kini meruntuhkan senyuman yang terpasang di wajah tampan Nagato. Pemuda itu segera memandang Sasuke yang kini masih menampakkan senyuman indahnya. Nagato tak tahu, apa yang ada di pikiran Sasuke saat ini. Ia tak mengerti. Semudah itukah Sasuke melepaskan Naruto? Pemuda yang dicintainya?
"Tidak" tanpa sadar Nagato mengucapkan kata itu membuat Sasuke memandangnya heran. "Aku ingin kau bersamanya" ucap Nagato lirih. Suaranya sedikit serak. Entah mengapa ia mengingat cerita-cerita Sasuke dulu. Itu semua membuatnya sedih.
Sasuke memandang lembut 'nii-san'nya itu dan tersenyum "Arigatou ne, nii-san" ucapnya.
======(TBC)======
Review, Riview please!
Kalau reviewnya banyak Putly bakal cepat updet deh hohoho~
huft... kenapa makin lama makin dikit ya yang riview? ceritanya tambah aneh ya? hahaha gomen, gomen~ Putlu masih ababil hehehehe *ngaku*
Saatnya membalas review~
Nauchi Kirika - Chan
Sasu-teme baru galau Kirika-chan #sok akrab!
Huweee! Jangan goncangin tubuh Putly, pusing~
Guest
Un! Identitas Sasuke emang baru ketahuan chap 11, tapi masalahnya laptop Putly baru ngadat(?) dan sekarang opname di rumah sakit(?) jadi, kalau belum pulang, Putly gak bisa updet chap 11 hikss... Doain aja ya, biar kitty (nama laptop Putly*stress*) cepet sembuh hehehe.
Guest
Un! Sasuke dulunya vampire? Umm, Putly sendiri bingung sebenernya Sasu-teme itu makhluk apa *ababil*. Intinya, masih Putly pikrin sebenernya identitasnya Sasuke, walau pun chap 11 udah ketahuan, tapi belum semuanya hehehe.
hanazawa kay
balasannya digabung ya! Sasu pergi ke hatinya Putly *digebukin Naru*
hi aidi
hehehe gomen, gomen kalo alurnya keburu-buru. Putly aja bingung, takutnya bakal kepanjangan fic ini. Masalahnya sekarang Putly baru buat sampai chap 11 tapi itu sebenernya ceritanya baru dimulai, yang lainnya mah, Cuma pembukaan aja(?) hahahaha.
puja911
balasannya sekalian ya. Hehehe, gomen Putly selalu potong di waktu yang gak tepat. Idenya mentok sih *PLAKK*. Sasu manusia bukan ya? Menurutmu?*dilempar sandal* kalo dari sikap, penampilan dll si Teme pantat ayam manusia bukan?
Nyahahaha, Sasu baru galau, ditinggal tunangan Puja-san. Dianya sih jaim banget gak mau bilang kalo dia suka sama Naru ditinggal tunangan kan jadinya *dichidori Sasu-teme*
Axa Alisson Ganger
Ini udah dilanjut
Sasu dingin sama Naru gara-gara Sasu mau ditinggal tunangan sama Naru, galau gitu ceritanya hahahaha
Mel
Kalo Putly kasih tau siapa Sasu sebenernya, besok gak seru dong hahaha
Wookie
Silahkan ninggalin jejak hohoho
Guest
Gomen kalo Naru kaya ngemis sama Sasuke. Tapi karena masa lalunya berhubungan makanya disini secara gak sadar Naru merhatiin Sasu berlebihan. Mereka punya ikatan sendiri yang bakal ketahuan tapi masih lama hehehe *Gyaaa! Putly bocorin cerita! Bocorin cerita!*
Guest
Disini ketahuan kan yang disembunyiin Nagato itu tentang pertunangan Naruto sama Kyuubi. Disini Naru gak bakal benci Sasu kok karena sejak awal mereka punya ikatan, jadi mau gimana pun sifatnya Sasu, Naru masih bisa maklumin wkwkwk
.5
Uwaaa! Makasih udah mau selalu kasih review, Putly terharu deh *lap ingus*
hahahaha, Putly sengaja buat penasaran, masalahnya disini terlalu banyak mistery sampai Putly bingung sendiri nyusunnya.
dark blue
gomen baru updet! Putly akhir-akhir ini baru gak enak badan. Padahal liburan, malah sakit -_-
Lee Kiamho
Hahaha, arigatou ne, udah mau bilang fic Putly keren. Ini udah dilanjut chap 7!
Uzumaki Prince Dobe-Nii
Ne! Ini udah di lanjur ^^
