- For You –
Cast: Hunhan slight Sulay
Genderswitch, Typos, No bash and plagiarism
"Nyonya, sedari tadi Haowen tak berhenti badannya juga tak turun setelah meminum obat dan ku kompres" ucap Luhan yang sedang menggendong Haowen yang menangis dan tak ada hentinya menggeliat tak nyaman di dahi bayi itu pun tersemat sebuah handuk kecil sebagai alat untuk mengompres.
"Aish Sehun juga tak mengangkat panggilanku" kesal Jaejoong yang sedari tadi juga sedang mencoba menghubungi Sehun.
"Lebih baik kita bawa saja Haowen ke itu mungkin Tuan Oh bisa menyusul ke rumah sakit" usul Luhan yang segera mendapat anggukan setuju dari Jaejoong.
"Kau bersiaplah, aku akan menyuruh Pelayan Jang untuk mengantarkanmu ke rumah sakit"
"Nyonya akan ikut ke rumah sakit bukan?" Tanya Luhan yang merasa bahwa ucapan Jaejoong sebelumnya mengisyaratkan ia tak akan ikut ke rumah sakit.
"Tidak Luhan, hari ini Ayah Sehun datang dari Jepang. Dan ia memintaku untuk menjemputnya di bandara" jelas bersalah kini tampak memenuhi wajah Jaejoong.
"Aku akan memberikanmu nomor ponsel Sehun. Kau harus terus mencoba menghubunginya hingga ia menerima panggilanmu" Luhan mengangguk lalu berjalan menuju ke kamar Haowen untuk menyiapkan segala keperluan Haowen yang akan ia bawa.
.
"Bagaimana keadaan janinku dok?"Tanya Yixing setelah selesai melakukan berjalan kembali ke tempat duduk dengan bantuan suster. Ia ingin sekali mengetahui perkembangan bayi yang ada di perutnya.
"Janin anda sehat memiliki berat sekitar 140 gram dan panjang 16 sentimeter. Aku rasa itu merupakan ukuran yang ideal untuk janin berusia empat bulan" jelas dang dokter yang membuat Yixing menghela nafas lega.
"Aku sangat senang ketika pasienku datang bersama dengan suami itu membuktikan bahwa para lelaki sudah siap menjadi suami siaga bagi istrinya yang sedang hamil" dokter yang berusia empat puluhan itu tersenyum ke arah Junmyeon yang tampak serius memandang foto hasil USG yang ada di tangan Yixing.
Junmyeon tak mengingkari menemani Yixing melakukan USG hari ini. Tapi sesuai janjinya pula ia tak berusaha menjadi suami yang baik untuk Yixing. Ia bahkan tak mau membawa tas Yixing atau menggandeng tangan istrinya itu saat berjalan. Ia benar-benar hanya mengantarkannya saja.
"Aku juga sangat beruntung memiliki suami seperti dia" ucap Yixing meski penuh tak mungkin menjatuhkan harga diri suaminya sendiri dengan mengaku bahwa suaminya melakukan semua ini karena terpaksa.
"Aku hanya ingin kau mengkonsumsi banyak makanan yang mengandung zat besi seperti bayam dan juga sudah bisa mulai mengajak anakmu berbicara, dengarkan dia music klasik untuk mengasah stimulus otaknya" Yixing mengangguk yakin.
"Kalau begitu kami permisi dulu" pamit Junmyeon yang segera berdiri dan mempersilahkan Yixing keluar terlebih berjalan tertatih karena kaki serta pinggang terasa pegal akhir-akhir ini.
"Kau akan mengantarkanku pulang bukan?"Tanya Yixing saat sudah berada di luar rumah memandangnya dengan senyum remeh yang terpatri di bibirnya.
"Sebagai Ayah, aku hanya bertanggung jawab atas perkembangan bayiku. Urusan kau pulang, kau tak harus bersamaku aku tak akan bertindak sebagai suamimu yang akan mengantarkanmu pulang" ucap Junmyeon lalu berlalu meninggalkan Yixing sendirian.
"Ya, kau ayah memang akan hanya pedulu dengan anaknya bukan dengan istrinya" ucap Yixing lalu mencari taxi untuk mengantarkannya sampai di rumah.
.
"Aish sebenarnya apa yang sedang ia kerjakan sampai tak menjawab panggilanku?" keluh Luhan saat berulang kali ia mencoba menghubungi Sehun. Berulang kali juga ia mendengar suara provider yang menjawab panggilannya.
Haowen tak bisa dia, ia sedari tadi mengusak kasar wajahnya sambil terisak. Tangan Luhan bahkan rela kebas karena sedari tadi menepuk-nepuk pelan pantat Haowen berusaha agar bayi itu lebih tenang.
"Halo Tuan, ini aku Luhan" ucap Luhan dengan cepat ketika Sehung mengangkat panggilannya kali ini.
"Bagaimana bisa kau da –"
"Haowen sakit Tuan, panas badannya sangat tinggi dan lagi ia menangis sedari tadi" sela Luhan tanpa memerdulikan bahwa kenyataannya tingkahnya ini melnaggar sopan santun yang orang tuanya ajarkan.
"Apa?Kau dimana sekarang?"Tanya terdengar kalap.
"Aku sedang mengantri di Seoul Hospital Tuan" setelah mendengar jawaban dari Luhan, Sehun segera mematikan panggilannya. Luhan bernapas lega karena akhirnya ia bisa menghubungi Sehun dan majikannya itu kini mungkin sedang dalam perjalanan kesini.
Luhan sedikit berlega hati karena mendapat nomor antrian yang tak begitu besar. Bahkan ia mendapat nomor antrian Sembilan belas sedangkan di papan antrian, ini masih menunjukkan angka enam belas. Tapi ia mengutuk pasien yang terlalu lama berada di dalam ruang periksa. Tak mengertikah bahwa masih banyak yang menunggu untuk diperiksa?
"Sabar sayang" ucap Luhan mencoba menenangkan Haowen meski bayi itu jelas tak mengerti apa yang ia katakan. Tangan Luhan kemudian masuk ke dalam tas yang ia bawa. Ia mengaduk-aduk mencoba mencari mainan karet Haowen yang mungkin saja bisa meredakan atau setidaknya mengalihkan perhatian Haowen hingga bayi itu tak menangis lagi. Setelah berhasil merasakan mainan karet itu, Luhan segera menariknya keluar dari tasnya.
"Haowen, lihatlah aku punya mainan" ucap Luhan sambil meggoyang-goyangkan mainan karet itu di depan wajah Haowen. Haowen segera menyambar mainan yang Luhan tawarkan dan segera memasukkan mainan itu ke Haowen sempat mereda karena mainan itu, dan tentu saja Luhan dapat bernafas lega.
Luhan kemudian mengubah posisi Haowen menjadi duduk di juga sedikit menggerakkan kakinya hingga membuat tubuh kecil Haowen naik dan turun layaknya sedang kuda.
Luhan kembali menghela nafas ketika pasien dengan nomor enam belas baru saja keluar dan digantikan oleh nomor tujuh belas. Kurang satu orang lagi dan Luhan akan tau penyebab suhu panas di badan Haowen meningkat. Jujur saja ia tak akan pernah sanggup melihat seseorang atau tepatnya anak kecil menangis. Ia lemah akan tangisan jika Luhan boleh mengingatkan. Maka dari itu ia bertekad memisahkan Yixing dari Junmyeon karena tak tega melihat kakaknya itu menangis.
Suasana rumah sedikit gaduh ketika Luhan mendengar derap kaki beberapa orang yang terdengar sangat cepat dan banyak. Luhan mencoba mencari dimana arah keributan itu mengarahkan kepalanya ke depan, ke belakang, ke kiri maupun ke kanan. Dan kini ia dapat mengerti darimana keributan ini terjadi. Tentu saja, dari Sehun dan para pengawalnya yang tergopoh mencari keberadaan Haowen.
Luhan dengan reflek berdiri dan melambai-lambaikan tangannya."Tuan Oh!Disini" teriak Luhan hingga membuat Sehun menoleh ke arahnya dan berjalan cepat pula ke arahnya. Persetan dengan orang-orang yang melihat risih ke arahnya maupun ke arah Sehun,
"Bagaimana? Apa yang terjadi pada Haowen?" rentetan pertanyaan itu keluar dari bibir Sehun bersamaan dengan deru nafas yang mengisyaratkan bahwa ia lelah berlari.
"Haowen belum melakukan pemeriksaan Tuan. Ini baru nomor antrian tujuh belas, sedangkan aku mendapatkan nomor antrian sembilan belas" jelas Luhan yang memberikan Haowen ke dalam dekapan Sehun.
"Pasien delapan belas" ucap seorang ada satupun yang beranjak dari tempat bahkan melihat kembali kartu antrian mereka.
"Pasien delapan belas!" kini sang perawat kembali mengulag kata-katanya dengan sedikit keras.
"Hei pasien delapan belas, cepatlah!"Sehun berucap sambil menatap tajam ke seluruh pasien yang ada.
Karena tak ada yang menggubris panggilan sang perawat, akhirnya perawat itu memanggil nomor selanjutnya. "Pasien Sembilan belas"
"Itu kita Luhan" Luhan mengangguk lalu mengikuti langkah cepat Sehun yang masuk ke dalam masuk ke dalam ruangan, Luhan sempat membungkuk minta maaf kepada seluruh pasien maupun perawat atas keributan yang Sehun timbulkan.
Baru saja Luhan masuk ke dalam ruangan, Sehun sudah mencercanya dengan berbagai permintaan."Luhan jelaskan semuanya pada dokter! Apa yang terjadi pada Haowen, sejak kapan kapan, dan apa saja yang dimakan Haowen hari ini" Luhan menghela napas, bahkan ia belum duduk tapi majikannya ini sudah cerewet saja padanya.
"Haowen sedari tadi menangis dok. Ia sama sekali tak ingin makan, suhu tubuhnya pun naik ku rasa" jawab Luhan yang dibalas anggukan oleh sang dokter.
"Baringkan ia disini" ucap sang dokter sambil menunjuk sebuah ranjang. Sehun segera bangkit dan menidurkan anaknya di kemudian kembali dan duduk di sebelah Luhan.
"Apa menurutmu Haowen mengalami penyakit yang parah?"
"Tidak Tuan, aku yakin Haowen hanya sakit biasa" jawab Luhan mencoba menghibur. Luhan melihat Sehun mengusak wajahnya persis seperti apa yang Haowen lakukan tadi.
"Aku takut jika sesuatu terjadi pada Haowen" nada bicara Sehun seketika melemah, ia juga menundukkan kepalanya.
"Tidak Tuan, semu akan baik-baik saja" Luhan menepuk-nepuk punggung tangan Sehun seolah memberikan dukungan pada Sehun. Sehun menatap tingkah Luhan kemudian beralih menatap wajah Luhan yang sedang serius melihat bagaimana sang dokter menangani Haowen.
Ia tak tau apa, tapi ada semacam sengatan kecil saat Luhan menyentuh kulitnya. Ia memasang tampang bodoh khas remaja yang seperti baru saja merasakan apa yang namanya cinta. Ia belum mau meyakini bahwa ia memiliki rasa pada Luhan, tapi ia juga tak bisa menyangkal bahwa tepukan ringan Luhan berhasil membuat Sehun sedikit lebih baik.
"Ayah dan Ibu Haowen, kalian tak perlu cemas" Luhan menghentikan tepukan pada tangan Sehun lalu beralih menerima Haowen yang baru saja di gendong oleh salah satu perawat. Sehun sempat tergelak ketika dokter memanggil Luhan sebagai Ibu Haowen.
"Apa yang terjadi pada anakku dok?" tanya Sehun tak sabaran.
"Anak kalian hanya sedang mengalami pertumbuhan gigi, dan panas tubuh yang meningkat itu sudah sangat wajar terjadi ketika seorang bayi mengalami tumbuh gigi" jelas sang dokter yang membuat Luhan maupun Sehun dapat bernafas lega.
"Aku akan menuliskan sebuah resep untuk menurunkan panas dan mengurangi rasa nyeri untuk Haowen" dokter itu mulai menuliskan resep di sebuah kertas.
"Dan untuk makanan, kau bisa memberikan bubur dan sayur yang sudah juga bisa mengganti sendok makannya dengan sendok yang terbuat dari yakin kau bisa Ibu Haowen" dokter itu memberikan semangat pada Luhan, namun nyatanya itu makin membuat Luhan semakin bingung.
"Ibu Haowen?" gumam Luhan lirih yang masih bisa didengar oleh Sehun.
"Kalau begitu aku permisi dulu, terima kasih akan segera menebus obatnya" ucap Sehun lalu mengajak Luhan keluar dari ruangan itu.
"Kalian, tebuslah obat untuk sesegara mungkin berikan padaku nanti di rumah" perintah Sehun pada pengawalnya yang segera dilaksanakan oleh mereka.
"Dan kau akan pulang bersamaku" ucap Sehun sambil menatap Luhan dengan tatapan menuntut. Sehun kemudian mengambil paksa tas yang bergelayut di lengan Luhan.
"Tapi aku datang bersama Pelayan Jang" ucap Luhan sambil melongokkan kepalanya mencari keberadaan Pelayan memperdulikan Luhan, Sehun menggenggam tangan Luhan lalu mengajaknya beranjak pergi dari rumah sakit. Luhan sempat terhuyung meski akhirnya ia bisa menyamakan langkah Sehun yang menuju ke parkiran mobil.
Pandangan Luhan turun menuju ke tangannya yang sedang dalam genggaman dan hangat, itulah kesan Luhan terhadap tangan suka sensasi hangat itu. Tapi Luhan buru-buru menarik tangannya karena ia tak akan pernah membiarkan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Ada apa?" tanya Sehun yang berhenti setelah merasa tangan Luhan tak lagi di genggamannya.
"Aku hanya kesusahan jika harus menggendong Haowen dengan satu tangan" bohong hanya mengangguk paham lalu kembali berjalan menuju ke mobilnya. Setelah membukakan pintu untuk Luhan, ia kemudian duduk di depan kemudi dan melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
Tak ada obrolan selama beberapa menit setelah Sehun melajukan berdua sibuk dengan kegiatan dengan kemudi dan jalanan di depannya, sedangkan Luhan sedang berusaha menidurkan Haowen yang terlihat lelah karena terlalu banyak menangis.
"Luhan, kau pasti terkejut ya saat dokter memanggilmu Ibu Haowen?" tanya Sehun dengan pelan karena ia tak mau membangunkan anaknya. Luhan tergagap sejenak namun kemudian berdehem seolah mencoba menghilangkan kegugupannya.
"Iya Tuan, aku jadi merasa tak enak hati padamu ketika dokter itu menyangka aku sebagai Ibu Haowen" ucap Luhan yang kini menunduk.
"Tak apa, tak usah terlalu dipikirkan" sebenarnya Sehun sama sekali tak keberatan jika Luhan dianggap sebagai Ibu dari Haowen. Ia tak tau apa yang sedang terjadi padanya. Sensasi nyaman atau kagum bahkan sering kali muncul di hati Sehun saat berdekatan dengan pengasuh anaknya ini. Namun sekali lagi Sehun menggelengkan kepalanya seolah ia tak mau menyakinkan hatinya terhadap perasaannya ini.
.
Setibanya di rumah Luhan segera membaringkan tubuh Haowen di kasur milik duduk di sebelah ranjang Haowen. Luhan tersenyum kecil lalu membelai rambut lurus terusik, namun bayi itu memilih kembali kemudian beranjak ke sebuah membawa baskom berisikan air dan handuk kecil ke nakas yang ada di dekat ranjang Haowen. Dengan kedua tangannya ia memutar kedua sisi handuk secara berlawanan arah. Setelah merasa sedikit agak kering ia menempelkan di kening Haowen.
Tepat dengan selesainya ia mengompres Haowen, Sehun masuk ke dalam kamar Haowen. Reflek Luhan menunduk hormat kepada Sehun."Ini obat Haowen" ucap Sehun sambil memberikan obat Haowen kepada mengambilnya lalu menaruhnya di meja bersebelahan dengan baskom air.
Sedangkan Sehun mendekati anaknya dan memandanginya sejenak. Ia bahkan merasa bersalah melihat keadaan sang anak yang tak berdaya di atas tempat tidurnya. Ia bahjan berpikir bahwa ia adalah salah satu ayah yang payah karena bisa-bisa membiarkan anaknya sakit. Meski seperti yang kita tau bahwa ini sudah wajar dialami oleh bayi yang baru saja tumbuh gigi.
"Tuan apakah kau akan mengizinkan aku untuk tidur disini bersama Haowen. Maksudku aku hanya ingin berada di sisi Haowen selama ia sakit" jelas Luhan yang langsung dijawab anggukan oleh Sehun. Dan itu justru membuat Luhan melongo.
"Benarkah Tuan?"
"Kau sepertinya suka sekali membuat orang mengulangi jawabannya ya" seketika raut wajah Luhan berubah takut.
"Selama kau melakukan untuk kebaikan Haowen aku akan memperbolehkanmu melakukannya" ucap Sehun sembari menepuk pelan kepala Luhan lalu beranjak keluar dari kamar Haowen.
Sementara Luhan terpaku atas perlakuan Sehun yang menyentuh kepalanya. Bahkan tanpa sadar Luhan menyentuh kepalanya, persis dimana Sehun menepuk pelan kepalanya.
"Aish apa yang ada di pikiranmu sih Xi Luhan?" Luhan menggelengkan kepalanya lalu beranjak keluar dari kamar Haoweb. Selagi Haowen tidur, ia akan membersihkan dirinya lalu menyiapkan makan untuk majikan kecilnya itu
.
"Ayah" panggil Sehun saat melihat Oh Yunho duduk di ruang keluarga bersama Ibunya. Priayangmeski sudah berumur lebih dari lima puluh tahun ini masih menunjukkan kharisma yang begitu menawan. Tatapan tajam dan rahang tegasnya begitu sempurna menurun ke Sehun.
"Tak ada pelukan hangat untuk Ayahmu?" Sehun tersenyum ringan lalu berjalan mendekati Ayahnya. Yunho segera berdiri dan merentangkan tangannya seolah menyambut Sehun yang akan memeluknya. Kedua pria ini saling memeluk seolah menyalurkan rasa rindu mereka.
"Baiklah, aku akan menjadi penonton setia disini" sindir Jaejoong yang mendapat kekehan dari suami dan anaknya. Yunho melepaskan pelukan anaknya dan berjalan mendekati Jaejoong. Kecupan singkat ia sematkan di dahi istri tersayangnya. Sehun tertawa singkat melihat Ibunya yang bertingkah layaknya remaja yang akan malu-malu jika pacarnya menciumnya di depan umum.
"Kapan Ayah pulang?"tanya Sehun yang duduk di depan kedua orang tuanya.
"Baru saja Ayah pulang. Ibumu bilang Haowen sakit" Yunho berubah serius ketika menyinggung soal cucunya.
"Haowen hanya akan tumbuh gigi, jadi panas itu sudah biasa dalam fase tunbuh gigi" jelas Sehun yang membuat Yunho maupun Jaejoong bernafas lega.
"Bagaimana proyek yang ada di Jepang?"tanya Sehun yang tau jelas bahwa Ayahnya akan sangat bersemangat jika ia membahas pekerjaan.
"Sangat berjalan dengan baik. Mereka menyukai kontruksi yang kita buat. Bahkan mereka merekomendasikan perusahaan kita ke sebuah perusahaan properti untuk menggarap proyek apartemen anti gempa di Jepang" jelas Yunho dengan antusias, sedangkan Jaejoong menggenggam tangan Yunho dengan sesekali memijat lengan suaminya.
"Pantas saja Ibu menyayangi Ayah" puji Sehun pada menatap Jaejoong kembali dengan tatapan sayang.
"Tapi Sehun, aku ingin memberimu sebuah proyek resort di Pulau Jeju" Sehun tampak mencondongkan tubuhnya tanda ia sangat antusias dengan proyeknya kali ini. Karena daripada ia bergelut dengan proyek apartemen, jalanan atau jembatan, Sehun lebih suka proyek mengenai tempat wisata seperti resort contohnya.
"Proyek ini milik Bae Joo – Hyun. Jadi ia akan ..."Yunho menjelaskan detail proyek ini hingga membuat Sehun mengangguk-angguk paham. Sesekali Sehun akan mengerutkan alisnya mencoba mencerna ucapan Ayahnya.
Jaejoong hanya memutar bola matanya bosan. Memiliki suami dan anak yang workaholic membuatnya sedikit jengah. Mereka akan mengabaikannya begitu saja jika sudah mengobrol soal pekerjaan.
Mata Jaejoong berbinar saat melihat Luhan yang menggendong Haowenberjalan melewati ruang keluarga. Jangan lupa tangan kirinya yang memegang sebuah mangkok berisikan makanan Haowen.
"Luhan" panggil Jaejoong yang membuat Luhan berhenti dan menolehkan kepalanya ke sumber suara. Mengerti jika Jaejoong yang memanggilnya, Luhan segera menunduk hormat. Sehun maupun Yunho merubah fokus mereka ke Luhan yang berdiri mematung di depan pintu ruang keluarga. Tau jika ia dipandangi oleh kedua pria dewasa ini, Luhan kembali mengangguk canggung ke arah keduanya.
Jaejoong menepukkan tangannya ke sofa seolah memerintahkan Luhan untuk mendekat dan duduk disampingnya. Dengan patuhnya Luhan mendekat ke arah Jaejong dan duduk di samping Jaejoong. Yunho maupun Sehun hanya memperhatikan interaksi antara Jaejoong dan juga Luhan.
"Bagaimana keadaan Haowen?"
"Sudah baikan Nyonya, tapi panas tubuhnya belum juga turun. Jadi setelah aku menyuapi Haowen bubur, aku akan meminumkan obatnya" Jaejoong mengangguk mengerti akan penjelas. Luhan.
"Siapa dia?" tanya Yunho bingung.
"Dia Luhan, dia pengasuh Haowen. Kau sih terlalu sibuk dengan pekerjaanmu hingga tak tau bahwa cucumu memilik pengasuh baru" cerca Jaejoong yang membuat Sehun terkikik pelan.
"Ah aku punya ide Ayah. Bagaimana jika aku ingin membawa Haowen dan Luhan ke Pulau Jeju?"
"A – apa?"
TBC
