Terjebak

Oke, saya sudah sampai di Jerman dan... hal pertama yang harus saya bilang adalah, kangennya dengan Indonesia T,T. Brrrrr.... dingin ya disini kalau nggak ada sinar matahari. T~T Banyak yang berubah disini, tapi lama-kelamaan saya mulai biasa disini.

Nani??? Satu review untuk 3 bab? Owwww... ke deh, nggak apa. Semoga ada yang masih baca karya ini, saya takut cerita saya berubah jadi terlalu membosankan. ,

Ini ada bab selanjutnya dari Captured in His Eyes. Semoga kalian suka.

Disclaimer: Naruto bukan milikku.... hail Masashi-sensei!!!!

Warning: kalau kalian pikir akan melihat Itachi langsung jatuh cinta pada Sakura dan sebaliknya, kalian salah. Semuanya akan bermula agak kasar, tapi..! Bunga pun bisa mekar di atas salju yang dingin, saya tahu itu dari Jerman. X)


"SAKUUURAAAAAAA!!!" Naruto berlari ke arah tepi jurang, lalu ia menjulurkan kepalanya ke dalam. Sesaat ia melihat senyum Sakura yang memandang ke arahnya dalam lilitan Orochimaru saat mereka berdua terus jauh ke bawah. Lalu mereka tertelan dalam kegelapan.

"TIIIIDAAAAK!! SAKURA! SAKURA!"

Naruto mencoba untuk terjun, tetapi ada seseorang yang menahannya.

"Jangan gegabah Naruto!"

"Lepaskan aku Kakashi-sensei!"

"Dengar dulu Naruto!"

"Aku harus menolong Sakura!"

"NARUTO!"

Naruto akhirnya terdiam. Ia tidak percaya yang barusan ia lihat. Guru Kakashi memang orang yang santai, suka telat, dalam opini Naruto: terlalu berbelit-belit dan kadang pilih kasih antara Naruto dan Sasuke. Tetapi ia tidak pernah melihat gurunya semarah itu.

"Aku tahu persis bagaimana perasaanmu. Percayalah padaku, aku pernah kehilangan seorang teman yang sangat berharga, dan itu pada saat aku akhirnya dekat dengan orang itu. Aku akan pergi menolong Sakura, tetapi jurang ini terlalu dalam. Sedikit kesalahan bisa fatal akibatnya. Dan jika kita kehilangan Sakura... aku tidak mau menambah korban lagi. Kamu mengerti Naruto?"

Naruto menunduk. Wajahnya sedih dan kedua mata birunya mulai meneteskan air mata. Guru Kakashi mengelus kepalanya.

"Sudah kubilang 'kan kalau aku tidak akan membiarkan teman-temanku mati? Aku akan terjun, mencari dan mencoba selamatkan Sakura. Kamu juga punya teman yang belum kamu selamatkan 'kan?"

Naruto melihat Ino dan Hinata mendekat ke arahnya, kedua kunoichi itu berlinangan air mata, terutama Ino yang menutup mulutnya dengan tangannya. Di dekat gerbang barat ia bisa melihat guru Yamato, Sai, Shikamaru, Neji, Chouji, dan Kiba pergi mengejar empat orang yang berlari dengan kecepatan penuh.

Terulang lagi semuanya... hanya saja kali ini lebih buruk. Sasuke... kenapa kamu mengulangi perbuatanmu? Kenapa meninggalkan Sakura yang sudah berkorban untukmu? Apa Konoha, aku, Sakura, guru Kakashi, dan teman-teman yang lainnya sudah tidak ada artinya lagi? Kenapa kamu mengorbankan semua yang menyayangimu demi orang yang kamu benci? Apa balas dendam pantas mendapat semua ini?

"Baiklah, aku pergi dulu," Kakashi menaikkan ikat kepalanya. Sharingan-nya kelihatan.

"Kakashi-sensei?"

Pria berambut perak itu menoleh ke arah Naruto.

"Tolong bawa Sakura kembali."

Kakashi mengangguk. "Percayalah padaku, tetapi percayalah juga pada Sakura. Dia bukan shinobi yang lemah."

Naruto mengepalkan kedua tangannya. Ia lalu berlari ke arah gerbang barat, mengejar teman-temannya. Ia sudah bertekad untuk pulang ke Konoha hari ini dengan semua anggota timnya!

Kakashi tersenyum di belakang kain yang menutupi mulutnya. Ia sangat mempercayai semua muridnya. Ia sesaat berbicara pada Ino dan Hinata dan meminta mereka untuk menolong Shino, Lee, dan Tenten mengalahkan para shinobi Otogakure yang tersisa. Setelah mengatakan pada mereka bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Sakura dan melihat mereka berlari kembali ke dalam medan pertempuran, ia merapalkan beberapa segel dengan kedua tangannya, lalu mengumpulkan cakra di kedua telapak kakinya. Setelah memastikan cakranya cukup kuat untuk menahannya, ia melangkah ke tepi jurang lalu berlari menuruni sisinya.

Semoga belum terlambat!

---

Sakura mencoba mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Yang keluar hanyalah kata-kata yang terbata-bata dan tidak jelas. Itachi memandangnya tanpa mengatakan apa-apa, seolah-olah kelakuan Sakura kelihatan menarik.

Akhirnya terdengar kalimat yang jelas. "Bisa lepaskan aku nggak?"

Tanpa pikir panjang, Itachi melepaskan Sakura. Gadis berambut pink itu merintih kesakitan sambil mengusap pantatnya sebentar. Terdengar tawa mengejek di depan mereka.

"Nampaknya Itachi nggak punya bakat meladeni para wanita ya? Itu sesuatu yang tidak biasa. Si Pengguna Jurus Dengan Sempurna tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik."

"Aku melakukan apa yang ia minta Deidara. Lagipula aku tidak punya waktu untuk meladeninya. Kita sebentar lagi akan menginterogasikannya."

"Hm, aku hanya mengutarakan pendapat. Tetapi melihat kamu menggendong cewek dengan lembut memang sesuatu tidak biasa aku lihat setiap hari," Deidara tertawa lalu duduk di atas sebuah kursi, mengibaskan rambut pirangnya yang menurut Sakura agak mirip dengan model rambut Ino. Sakura langsung tahu kalau orang ini laki-laki.

Sekarang Sakura memperhatikan sekelilingnya. Ruangan ini tidak punya jendela. Hanya disinari lampu yang tergantung di atas kepala mereka. Di sekitar Sakura ada beberapa kursi dan di depan hanya ada satu kursi yang di atas sandarannya bergantungan beberapa tali. Melalui insting medisnya, Sakura bisa tahu kalau di dalam ruangan ini pernah ada beberapa orang tewas. Masih tercium sedikit bau amis.

Sempurna. Tempat ini tidak kalah dengan neraka. Tinggal lautan apinya saja.

Tiba-tiba Itachi mencengkeram lengan Sakura dan memaksanya bangun. Sakura yang tahu kalau berlaku cengeng dan lemah hanya akan menambah buruk keadaan, menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit pada kedua lututnya saat berjalan tertatih-tatih ketika Itachi menyeretnya ke kursi yang di tengah. Itachi mendudukkan Sakura dengan paksa di atasnya. Tangannya melakukan beberapa segel. Tali-tali itu seketika melilit dan mengikat Sakura. Cakra Sakura yang mulai ia kumpulkan beberapa saat lalu, langsung menghilang. Sakura merasa jurus ini mirip jurus rahasia yang ia gunakan pada Kabuto. Sakura sedikit tersenyum frustasi. Sudah dua kali ia dililit hari ini dan saat itu juga ia berada dalam ambang maut.

Pintu ruangan itu terbuka dan anggota Akatsuki yang lainnya masuk. Pandangan yang mereka lontarkan pada Sakura terlihat beda-beda. Seseorang yang diduga Sakura sebagai Zetsu karena ia yang paling aneh di antara semua, memandangnya dengan lapar. Seorang pria yang mulutnya tertutup kain seperti guru Kakashi memendangnya acuh tak acuh.

Matanya aneh. Lalu aku merasakan kalau ada yang tidak beres dengan tubuh orang ini. Analisis Sakura.

Di sampingnya berdiri seorang pria yang memakai kalung segitiga di dalam lingkaran. Rambutnya yang lurus mencapai bahu. Ia tersenyum kejam ke arah Sakura. Ia terlihat tidak sabaran untuk memulai interogasinya. Sakura mencoba menahan rasa takutnya. Yang terakhir masuk adalah seseorang dengan wajah hiu, berbadan besar dengan pedang yang sangat besar pula.

"Mana Tobi?" tanya Deidara dengan satu kaki terlipat di atas lututnya yang lain. Ia merentangkan kedua lengannya di atas sandaran kursi.

"Lho? Dia nggak ada di sini?" ejek pria yang berkalung.

Deidara terlihat kesal. "Zetsu! Cepat lihat dimana si Bodoh itu sekarang!"

Sakura mengira Zetsu marah atas perintah kasar Deidara padanya karena ia berdiri mematung selama beberapa detik tanpa bergerak sedikitpun, tetapi kemudian ia berbicara.

"Aku bertemu Tobi di dekat sini, di selatan sejauh dua km. Dia bilang dia lagi tersesat. Sebentar lagi dia akan sampai."

Sakura lebih memikirkan bagaimana caranya Zetsu bertemu Tobi sementara ia ada disini, dibanding memperhatikan reaksi Deidara.

"Dasar nggak berguna! Orang seperti itu menggantikan Sasori?!"

Sakura terkejut medengar perkataan Deidara. Gerakannya yang tiba-tiba diperhatikan oleh Itachi yang berdiri tidak jauh darinya, dengan satu lengan yang digantung di atas celah jubahnya seperti orang yang lagi melewatkan waktu dengan santai.

"Seandainya ia nggak kuat dan diakui ketua, aku sudah mengusir orang itu jauh-jauh! Udah sifatnya yang goblok! Nggak hormat ama senior!" Deidara nggak henti-hentinya memaki.

"Bisa kita mulai?" tanya Itachi dengan wajah yang terlihat membosankan, atau seidaknya itu yang dilihat Sakura.

Deidara memalingkan mukanya dari Itachi sambil mendengus kesal. Selain dia, para anggota yang lainnya berdiri di sekeliling Sakura. Itachi mendekat padanya lalu mengajaknya bicara. Jantung Sakura berdegup tak karuan karena rasa takut. Tetapi ia mencoba menahannya dan tidak memperlihatkannya di depan para anggota Akatsuki.

"Sebelum kita mulai, kami akan memberimu dua pilihan," kata Itachi dengan wajah tanpa emosi.

"Terima kasih sudah bersikap adil. Akan aku ringankan beban kalian semua. Bunuh saja aku sekarang," ujar Sakura dengan suara sedikit bergetar, setidaknya ia senang suaranya terdengar sedikit berani melebihi perkiraannya.

"Wow! Dia langsung memilih Zetsu padahal dia nggak ada dalam daftar pilihan," ujar seseorang di belakang. Selain Itachi, semua menoleh ke belakang. Terutama Deidara.

"Kebodohan apa kali ini yang kamu lakukan?" Deidara menumpahkan seluruh kekesalannya.

"Aduh Deidara-senpai, jangan marah begitu. Tobi anak baik kok," terlihat seorang pria dengan topeng aneh masuk ke dalam ruangan.

"Kalau begitu cepat duduk! Kita baru mulai!"

"Anu... Deidara-senpai?"

"Apa?!"

"Iiiihhh serem," Tobi mundur beberapa langkah.

"Cepat bilang!"

Tobi menggaruk kepalanya dengan gugup. "Baru saja ketua memberitahuku misi yang selanjutnya. Aku sudah mencatatnya sih, tetapi catatanya hilang dalam perjalanan kesini. Dan aku lupa misinya seperti apa."

Para anggota yang lainnya tahu, kalau dalam keadaan seperti ini Deidara akan meledak, memakai tanah liat atau tidak. Deidara mengejar Tobi sampai keluar. Semua yang memperhatikan pertengkaran kedua orang itu tiba-tiba menoleh ke arah datangnya sebuah suara tawa.

Sakura yang terikat di atas sebuah kursi masih tertawa kecil. Tetapi senyumnya langsung menghilang saat melihat pandangan para anggota Akatsuki. Ia menundukkan kepalanya dengan wajah sedih dan putus asa.

"Jadi, kami akan memberikan kamu dua pilihan," lanjut Itachi seolah-olah nggak terjadi apa-apa sebelumnya. "Hidan sangat ahli dalam penyiksaan. Dan aku punya..." ia menutup kedua mata Sharingannya, tetapi sebelum ia melanjutkan, Sakura sudah menyelesaikan kalimatnya.

"Mangekyou Sharingan. Sharingan level tertinggi yang bisa dimiliki oleh seorang anggota klan Uchiha. Memiliki tiga jurus: Amaterasu, Susanoo, dan Tsukiyomi yang telah kamu pakai pada adikmu Sasuke Uchiha sebanyak dua kali."

Semua tertegun mendengar perkataan Sakura. Gadis itu sekarang menatap lurus ke arah mata merah milik orang yang telah memberikan masa lalu dan masa depan yang buruk pada orang yang paling dicintai Sakura. Itachi masih berwajah tanpa ekspresi, tetapi ada kobaran aneh dalam kedua matanya saat Sakura berbicara tadi.

"Aku terkesan," Itachi menutup kedua matanya. Dahi Kisame berkerut. Tidak bisa dibilang angkat alis sejak ia nggak punya alis.

"Kalau aku nggak salah kamu adalah Sakura Haruno, shinobi Konoha, tingkat Chuunin, murid khusus didikan Hokage kelima, anggota tim di bawah pengawasan Kakashi Hatake, si ninja peniru, dengan para anggota yang lain, si 'Kyuubi' Naruto Uzumaki dan Sai, bekas anggota ANBU 'Ne' yang menggantikan Sasuke Uchiha."

Sakura tersenyum pasrah. "Tepat. Apa kalian juga sampai tahu hobi dan makanan favouritku?"

"Itachi! Kita langsung interogasi kunoichi menyebalkan ini dengan caraku! Nampaknya kita terlalu diremehkan!" Hidan menarik sebuah senjata tajam dari kantong jubahnya, tetapi tangannya ditahan oleh Itachi.

"Tanpa memilih metode interogasi yang kita tawarkan, kunoichi ini sudah mau berbicara pada kita."

"Itu menurutmu," Hidan menarik tangannya kembali, tetapi sesaat kemudian ia terdiam. Wajahnya tiba-tiba berkeringat. Saat Itachi yang menatap matanya berpaling darinya, napas Hidan menjadi tersengal-sengal. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat sambil menggigit bibirnya. Ia terlihat sangat kesal.

"Jadi? Kamu mau memilih apa?" tanya Itachi dengan nada datar.

Sakura sudah memilih. Lebih baik siksaan fisik daripada mental. "Interogasi dengan cara Hidan-san."


Dan saya akan tersiksa kalau para pembaca mulai demo tentang betapa tidak bermutunya ceritaku...

Hehe bercanda.

Oh ya, Cherry89, boleh kok save cerita ini. Saya pun save fanfic-fanfic kesukaan saya. Terima kasih juga untuk semuanyaaaaaaaaaa yang review fanfic saya semuanya. Saya suka! :)

Selamat menikmati liburan kalian di home sweet home Indonesia. Hiks, saya kangen kampung halamanku.