Selepas Kyungsoo mengetahui segala beban hidup yang ia tinggalkan—pemuda itu benar-benar ambruk. Dalam artian ini, adalah Kyungsoo yang berubah drastis. Dia tak berhenti merenung, melamun dan kebanyakan mengurung diri. Bahkan menolak diajak bicara ataupun bertegur sapa. Bukan hanya Jongin yang kewalahan—Baekhyun pun kena imbasnya.

Lihat. Wajah pucat-pasi, mata sayu meredup, tubuh lemas melemah dan kepala yang terus mengeluhkan pusing. Kadang, Kyungsoo juga demam dan beberapa kendala lain. Seperti flu—anehnya, sejak seminggu lalu flu itu tak kunjung sembuh.

Syukurlah, Jongin masih mau bersanding dengan Kyungsoo. Tetap ada disampingnya—menyuapi makan, mengelus surai dan mengobrol. Sejauh ini, kegiatan itu mereka lakukan dibawah perlindungan Baekhyun.

Meski Seungbin terus bertanya-tanya, kapan Kyungsoo bisa kembali bekerja. Karena sungguh, selama tujuh hari ini pemasukan bar-nya sangat menipis.

"Umma—Appa, maafkan Kyungsoo—hiks—"

Baekhyun tentu miris melihat keadaan Kyungsoo—bak mayat yang siap dikubur. "Sssh—Kyungsoo, dengarlah. Jangan menyalahkan dirimu, mereka baik-baik saja." Ia tak begitu yakin dengan ucapannya barusan. Memang apanya yang baik-baik saja?

"Jongin—kemana? Hiks—"

Baekhyun mendekat, kedua lengannya memeluk Kyungsoo dari arah belakang. "Tidurlah dulu, saat kau bangun nanti Jongin sudah ada disini. Ya?" Kyungsoo memaku pandangannya—kosong.

Tapi, ia menuruti titah Baekhyun. "Aku lelah, Baek. Aku tidak mau bekerja lagi—aku ingin keluar dari sini. Hiks—" Kyungsoo membaringkan diri, dibantu Baekhyun yang menaikkan selimut sebatas dadanya. "Aku ingin memulai hidup yang lain. Bisakah?"

"Bisa." Semantap itu Baekhyun berucap. Ia meretas senyum dan menghapus setitik airmata yang mengaliri pipi Kyungsoo. "Kau tahu Jongin selalu punya yang terbaik untukmu." Karena Baekhyun percaya pada Jongin, bahwa ia mampu membawa Kyungsoo ke kehidupan yang membaik. Mungkin kelak.

Kyungsoo mengangguk—entah paham atau tidak. Ia mendadak gelisah dan resah. Sepersekian detik itu Kyungsoo malah mengerang kesakitan. Ia meringis tatkala memegangi kepala, bergantian dengan tenggorokan—dan Baekhyun jelas melihat tanda merah menghitam di kulit karibnya ini.

"Uhuk—ah. Tenggorokanku sakit, kepalaku sakit, Baek—ngh!" Setiba-tiba itu Kyungsoo membuat Baekhyun kalang-kabut. "Ah! Badan—ngh, badanku kaku." Kyungsoo menggeliatkan tubuhnya kesana-kemari, seolah tak tahan dengan pesakitan yang menderanya saat ini.

"Ya ampun, Kyungsoo. Kenapa jadi seperti ini? Aku akan menyuruh Seungbin memanggil Dokter—kau tunggu disini." Baekhyun tergopoh berlari menuju pintu. Sayang sekali, belum sempat ia meloloskan diri, seseorang menerjang tubuhnya.

Kim Jongin. "Hei, hei, ada apa, Baek?"

Jongin terburu memegangi Baekhyun—yang berkeringat dingin dan merasa sangat kebingungan.

"Kyungsoo—hiks—dia kesakitan." Baekhyun menunjuk.

Tidak perlu menunggu lagi, karena Jongin sudah menampakkan kekalutannya sekarang. Ia segera melupakan keberadaan Baekhyun dan mendekap Kyungsoo—sedikit berusaha mengurangi gelinjangan-gelinjangan tak beraturan itu.

"Suhu tubuhnya sangat panas, Baek. Dia demam lagi. Oh, bukannya kemarin ia sudah membaik?" Jongin berulang-kali mengecup kening Kyungsoo, memintanya bersabar. "Bilang pada bos-mu, Kyungsoo harus segera dilarikan ke Rumah Sakit."

"Seungbin tidak mau repot-repot melakukan itu, Jongin. Apalagi kalau kau berani memperlihatkan dirimu—bisa kupastikan kau tidak akan bisa bertemu Kyungsoo lagi."

"Tapi, Kyungsoo sekarat, Baek. Hei, yang benar saja dia setega itu pada pekerjanya?" Jongin memekik, frustasi. "Kyungsoo-ya, sadarlah, tetap terjaga. Aku ada disini, ya? Kyungsoo, bertahanlah."

"Sakit, Jong—hh." Nafas Kyungsoo terdengar putus-putus, setengah memaksakan diri. Ia masih merasakan denyut ngilu di kepala, tenggorokan yang panas, dan seluruh kulitnya membentuk ruam. "Aku tidak kuat. Sakit, sakit, Ah!"

Jongin mulai terisak, ia memeluk Kyungsoo seerat mungkin. "Sejak kapan kau merasakan gejala seperti ini, Kyungsoo? Hiks—" Lirikannya terhenti di sudut mata, mendapati Baekhyun ikut bergabung.

"Hh—sudah lama. Aku hanya mengabaikan ini. Pusing, flu, dan ah—sendi serta otot yang kaku. Ngh—sudah lama, Jongin—hh." Jongin berkelana dengan pikirannya, berusaha menemukan jalan terbaik bagi Kyungsoo. "Sakit—hiks—sakit."

"Baek, panggilkan bos-mu. Aku akan bicara padanya." Jongin mengatupkan matanya sebentar. Ia tidak kuat lagi menyaksikan Kyungsoo tersiksa sebegini rupa. "Bagaimanapun, dia harus mau bertanggung jawab tentang penyakit Kyungsoo."

"Tapi—"

"Pergilah sekarang, Baek. Aku siap dengan konsekuensinya."

"Baiklah. Tunggu sebentar."

Karena Baekhyun tak punya celah demi menolak permintaan Jongin. Ya, sepeninggal Baekhyun, Jongin kembali pada Kyungsoo yang beberapa minggu lalu masih memancarkan bias terang dari mata bulat, ocehan cerewet dari bibir hati dan rajukan manja yang selalu berakhir menggelayut dilengannya. Jongin merindukan Kyungsoo yang seperti itu.

"Aku memang tidak bisa mengeluarkanmu, Kyungsoo. Tapi tenanglah, aku selalu siap—tanpa disuruh pun untuk selalu menjaga dan melindungimu."

Kyungsoo tak membalas. Lelaki mungil itu mungkin sudah pingsan—dan untuk sejenak, Jongin membiarkannya. Ia tidak bisa membiarkan penyakit Kyungsoo semakin berlarut. Ia hanya tidak bisa melihat kekasihnya meraung histeris karena sakit-sakit itu tak mau enyah.

"Sebentar lagi, Kyungsoo." Sekilas Jongin mengecup kening Kyungsoo dan berbisik, "Aku akan selalu mencintaimu."

Don'tJudgeMeLikeYou'reRight

Proudly Present

"If This is a Virus?"

Chapter Seven

Kim Jongin—Do Kyungsoo—Byun Baekhyun—Kim Joonmyeon—Park Chanyeol | Angst—Hurt/Comfort—Romance | Chaptered | Mature

© 2015

Disclaimer : Stories are mine. But, not for the cast. Fiction, not real. Don't copas or plagiat it without my permission.

-ooo-

Jongin tahu, kini hanya ia satu-satunya sandaran untuk Kyungsoo. Memang kemana lagi pemuda mungil itu mengadu jika bukan padanya? Terhitung sejak pertama kali bertemu—sosok rapuh itu jelas sudah menyembunyikan banyak hal—dan ia terlalu bodoh untuk sedikit peka. Kyungsoo memang tak terbaca, tapi Jongin mudah saja melihat tulisan-tulisan mengenai si mata bulat dan bibir hati tersebut, Jongin mudah saja membahas satu-persatu kesaksian hidup kemudian menguraikannya hingga menjadi butiran. Kyungsoo—punya segalanya yang tak dimiliki Jongin.

Ketulusan.

Cukup sudah melamun. Jongin sedang menunggu sang pawang untuk datang menemuinya. Ia berdiri di pojok ruangan—membiarkan kursi itu kosong—hingga dorongan pintu berderit nyaring. Jongin berbalik, dan seketika menemukan si tambun dengan batang cerutu itu menyeringai ke arahnya.

"Oh, kau yang namanya Jong—"

"Kyungsoo sakit." Desis tajam Jongin memotong sapaan Seungbin. "Ia harus dibawa ke Rumah Sakit, sesegera mungkin."

"Kau meminta ijinku?" Seungbin memicing, agak tak terima dengan kelakuan tidak sopan dari tamunya barusan. "Dia baik-baik saja. Aku mengenalnya lebih dulu darimu." Lalu Seungbin mematikan cerutunya di asbak sambil sesekali melirik sinis kearah Jongin.

"Tapi, aku memiliki hal yang tak kau miliki. Kau mau tahu apa?" Jeda. "Yaitu, perasaan kemanusiaan. Kau memperlakukan Kyungsoo seperti sampah dan—"

"Dia memang sampah." Agaknya, Seungbin memang tak punya nurani. "Dia kubayar, dia pekerjaku. Kau tak berhak ikut campur dengan kami, hei orang baru." Seungbin acuh, ia duduk di kursi tunggalnya dan sejenak memperhatikan gelagat Jongin.

Tidak ada emosi yang bisa dibendung lagi, Jongin akhirnya maju. "Aku meminta keadilanmu. Kyungsoo harus diselamatkan kalau kau ingin bar ini juga selamat." Keputusan final dari mulut Jongin memang tak terduga. Namun, apalagi yang bisa ia katakan selain ancaman?

"Begitu? Kurasa dia hanya demam."

"Kau tidak tahu."

"Aku tahu. Kyungsoo sering begitu kalau banyak pelanggan yang—"

"Kubilang kau tidak tahu!"

Gelegar suara berat Jongin memenuhi ruangan—dan Seungbin merasa terganggu. "Hei, hei. Kau ingat ini tempat apa dan dengan siapa kau berhadapan, kan?" Jongin mengangguk, ia kemudian menarik lengan Seungbin agar tubuhnya ikut berdiri.

"Aku ingat—aku sedang berhadapan dengan iblis yang turun ke bumi."

Jongin sedikit mengangkat kerah Seungbin meski hasilnya tak membuat tubuh tambun tersebut naik. Selang sedetik, secekatan itu tangan Seungbin melepas cengkeraman Jongin—membuang wajah dengan dalih angkuh sejuta langit.

"Kenapa kau mencintai pekerjaku?" Lirih. Sapuan kalimat tanya itu membelai telinga Jongin yang berdengung dan mau tak mau memikirkannya pula. Kenapa? Benar. Kenapa ia mencintai Kyungsoo? "Kau kan tahu, kalau setiap pekerja disini ingin menjalin hubungan dengan orang luar harus mendapat persetujuanku. Ah—kini, aku mau bilang kalau aku tak setuju kau menjadi pacar Kyungsoo, perangaimu tidak sopan sama sekali."

"Omong kosong!" Wajah tan-nya memerah dan kepal tangannya sudah mengudara—Jongin sadar ia memang keterlaluan untuk seseorang yang belum resmi berkenalan. Namun, apa boleh buat, baginya melihat raut kurang ajar Seungbin telah membakar habis belas kasihnya. "Aku mencintainya—karena aku punya perasaan. Karena aku manusia dan karena Kyungsoo juga manusia. Setiap orang butuh kasih sayang."

"Cih, jangan sok menggurui, Jongin. Oh, namamu Jongin, kan?"

Seungbin bersedekap. Beberapa langkah mundur menjauhkan diri.

"Jangan basa-basi." Jongin memekik agak keras. "Kyungsoo kritis dan biarkan aku membawanya ke Rumah Sakit." Nada yang digunakan Jongin memang sudah melunak, tapi tidak sama sekali dengan garis-garis wajahnya yang menegang.

Seungbin terkekeh, sedikit-banyak merendahkan dengan decakan-decakan tak berarti.

"Sepenting itukah Do Kyungsoo, hei anak muda?"

Jongin diam. Ia geram seribu godam -benar tiada ampun bagi Seungbin yang seenaknya merumitkan masalah. "Kau mau apa dariku agar Kyungsoo bisa segera ke Rumah Sakit, hah?!" Seungbin bertepuk tangan. Beberapa kali saja tapi sempat membuat Jongin lebih-lebih ingin menghajar dan ciptakan lebam disana.

"Memohonlah."

Bangsat. Dasar gila hormat. Tapi, Jongin tidak menyuarakan batinannya itu.

"Baiklah."

Terlalu mudah satu kata itu terucap dari Jongin si serba mustahil dengan hal picik seperti ini. Namun, jika ini menyangkut nama Kyungsoo—ia bisa melakukannya dengan senang hati. Lalu, apa ini yang mereka sebut untuk saling melindungi?

Jongin mulai berlutut dan Seungbin merasa tersanjung. Jongin menunduk baru Seungbin mengangkat wajah. Suara berat yang tadinya berapi, kini memelan sarat melas. "Kumohon. Biarkan aku menyelamatkan Kyungsoo. Ia sekarat." Memikirkan tentang sekarat—Jongin sendiri juga tidak tahu bagaimana asalnya Kyungsoo bisa sebegini mengenaskan. Jongin hanya perlu memutar memorinya, kalau setelah Kyungsoo pulang dari rumah saat itu—kesehatannya sudah drop.

"Bagus." Seungbin mencuri perhatian dengan tawa khasnya. Setelah merasa situasi membaik, Jongin akhirnya bangkit dari injakan harga diri yang ia cecer sendiri. Menggelikan—bagaimana bisa ia berlutut dan memohon pada orang sebengis Seungbin? "Kau boleh membawanya—dengan satu syarat. Aku beri waktu opname seminggu dan jika lebih dari itu, pihakku akan menjemputnya paksa. Jangan coba-coba membawanya kabur."

Jongin hanya sanggup memberikan tatapan menusuk. Sesekali memutar bola mata malas dan kedua tangan berkacak pinggang. Ia tidak peduli dengan semua omongan Seungbin barusan. Dia juga yang telah menghancurkan hidup Kyungsoo—lalu sekarang, ia cuci tangan seakan tak ada yang salah?

"Lakukan sesuka hatimu saja, Tuan Seungbin."

Jongin mengucap dengan sepenuh tekanan oktaf suaranya. Ia berbalik dan membanting pintu saat benar-benar sudah ada diluar. Tidak ada pamit dan sapa penutup, bagi Jongin sudah selesai. Demi Kyungsoo—sekian kali ia mengingatkan diri sendiri.

"Bertahanlah, Kyungsoo."

-ooo-

Baekhyun masih mengompres kening Kyungsoo dengan air hangat. Karena toh, sejak satu jam Jongin meninggalkan kamar, demam Kyungsoo tak kunjung turun. Baekhyun berulang kali mengelus surai Kyungsoo—berharap igauan-igauan yang keluar dari bibir hati itu tak terus meracau.

"Sssh, Kyungsoo-ya, sebentar lagi kita ke Rumah Sakit untuk tahu apa penyakitmu, ya."

"Ngh—" Kyungsoo menggigil, ia memeluk dirinya sendiri sekalipun Baekhyun sudah sukarela menggantikan. Ada selimut rangkap lima dan Kyungsoo masih mengeluh kedinginan. Ada suhu teratas penghangat ruangan dan Kyungsoo bilang disini sangat dingin. "Sendi uhm, tulang ungh, seperti mau lepas—hh, Baek."

"Tunggu, bersabarlah. Jongin sebentar lagi kembali dan kita akan ke Rumah Sakit, ya?"

Kyungsoo pura-pura paham. Ia juga tak bisa menelisik mengapa reaksi tubuhnya begitu menjemukkan seminggu belakangan. Ia tak habis pikir mengapa setelah raganya hilang—jiwanya juga seakan pupus. Memorinya terputar lagi, memberi kilas balik mengenai orangtua dan keluarga bahagianya yang terdahulu. Kenapa takdir bisa secepat dan semudah ini membalikkan keadaan?

"Baek, ungh—kurasa tidak perlu ke Rumah Sakit—hh." Baekhyun jelas mendelik, ia menggeleng tak serantan.

"Kenapa? Tidak. Jangan khawatir tentang biaya. Kalau Seungbin tidak mau menanggung, biar menggunakan uangmu dan uangku saja. Ya?"

"Bukan. Mmh—jangan uangmu, Baek. Uangku sudah kuberikan ke Appa untuk tahap penyembuhannya."

"Kalau begitu, jangan pikirkan tentang uang dulu. Ada aku, Kyung." Baekhyun menyentuh kening Kyungsoo dan hasilnya masih sama.

Baekhyun sadar saja kalau penyakit yang diderita Kyungsoo ini tak jelas asal-usulnya. Segala macam pertanyaan berkecamuk di kepala—tentang mengapa, kenapa, bagaimana bisa. Ini terlalu aneh dan cenderung sangat tiba-tiba.

Brak

Siku Jongin berhasil mendobrak pintu kamar, lalu menampakkan dirinya yang datang terburu dan nafas terengah. Ia segera menuju ranjang Kyungsoo, memeriksa kondisi tubuh dan meletakkan tangan diatas keningnya.

"Kita ke Rumah Sakit sekarang, Baek."

"Eh? Apa?" Baekhyun jelas tidak sinkron antara pikirannya sendiri dan gerak amburadul Jongin. Ia malah mendelik tajam ke arah tangan-tangan Jongin yang mulai membopong Kyungsoo. "Kau sudah meminta ijin dari Seungbin?"

"Ukh, aku tidak peduli lagi pada manusia laknat itu. Bantu aku, Baek."

Jongin mengisyaratkan Baekhyun agar segera berdiri atau sekedar membukakakn pintu lebih lebar, tapi apa yang dilakukannya malah menghadang Jongin. "Kau tidak bisa seenaknya, Jongin. Kau termasuk orang luar disini."

"Apa-apaan, Baek. Persetan dengan apapun, temanmu sedang sekarat. Minggir!" Jongin membentak, bahkan dengan berani menyentak dua tangan Baekhyun yang terentang didepannya. Tidak butuh waktu lama bagi Jongin untuk segera melesat keluar seraya berteriak, "Terserah padamu, Baek, kau mau ikut atau diam disana—aku tidak peduli!"

Brengsek. Baekhyun sadar sebesar itu perasaan Jongin yang telah dikorbankan demi Kyungsoo.

-ooo-

Ternyata Baekhyun menyusul aksi lari Jongin bersama Kyungsoo. Sementara Jongin membopong Kyungsoo, Baekhyun berani bertaruh nyawa untuk memohon pada Jaehyun—agar ia bisa ikut mengantar Kyungsoo—si pembawa kunci utama. Beruntung, kebesaran hati Jaehyun memudahkan segalanya hingga mereka sampai di lobby Rumah Sakit sekarang.

"Tolong, Unit Gawat Darurat." Jongin berteriak seketika tubuhnya dan tubuh Kyungsoo berada di meja administrasi. "Aku mohon selamatkan dia."

Seluruh perawat yang ada disana bergerak sigap dan cekatan. Mereka menyiapkan tempat begitu melihat raut kalut Jongin dan Baekhyun. Ranjang beroda itu pun sudah terisi sekujur tubuh Kyungsoo yang tak sadarkan diri. Jongin dan Baekhyun bersamaan mengikuti kemana perawat-perawat tersebut membawa Kyungsoo bersama panik yang taka da habis-habisnya.

"Tunggu disini, biarkan kami memeriksanya dulu." Kemudian, dua pintu itu tertutup rapat dengan Kyungsoo yang ikut bersama mereka. Sisakan Jongin dan Baekhyun di ruang tunggu.

Keduanya duduk di bangku panjang—Jongin memejamkan mata dan meremat rambutnya sedang Baekhyun berulangkali membuang nafas tak serantan. "Apa yang terjadi dengan Kyungsoo, hm? Menurutmu, dia kenapa?" Jongin bersua, meminta balasan Baekhyun. Namun, beberapa detik keheningan itu menjadi pembuka awal sebelum Baekhyun menyahut.

"Sejak pertama kali aku mengenal Kyungsoo, ia memang ringkih, ia terlalu rapuh dan selalu memaksakan diri."

"Bodoh," Entah pada siapa Jongin tujukan umpatan itu. Tapi kesannya, ia hanya bicara pada udara.

"Kadang, kalau seseorang merasa kasihan padanya, ia tidak mau dikasihani. Lalu ia memilih untuk mengasihani orang lain."

Jongin menyimak sedikit detail tentang Kyungsoo dan Baekhyun menceritakannya turut dengan kesenduan. Mereka tidak saling memandang, tapi suasana telah menukar perasaan keduanya. Entah berdasar apa—simpati tertujukan pada satu orang yang sama benar-benar membuat mereka agak ganjil.

Berjam-jam. Belum ada kepastian, belum ada berita baik atau buruk. Sejak tadi, Jongin dan Baekhyun hanya memangu menung berdua—entah topik apalagi yang bisa dibahas. Karena pikiran mereka telah jauh berkelakar, memecah hasil observasi atas nama Kyungsoo. Jongin tidak menemukan jawaban.

"Baek," Jongin memanggil.

"Hm?"

"Kau tahu kenapa Kyungsoo sebodoh itu mempercayai Sehun? Dia siapa?" Ia hanya teringat akan cerita Kyungsoo malam itu. Sedangkan Baekhyun tidak berani bersuara sebelum Jongin menoleh padanya. "Kenapa Sehun menjadi makelar yang membuat Malaikatku tersiksa?"

"Sehun, um." Baekhyun bergumam. "Aku hanya melihatnya sekilas—asal kau tahu, aku terjun didunia ini juga karena dia." Entah mengapa, rasanya Baekhyun ingin bernostalgia. "Yah, meski nasibku masih lebih beruntung daripada Kyungsoo."

Jongin memajukan tubuh seraya matanya mampir pada sosok Baekhyun. Teman semasa sekolahnya itu sedang bersandar dengan ujung bibir yang terus meniup anakan rambut. "Sampai sekarang—limapuluh persen bagian dari diriku masih tidak percaya bagaimana kau bisa bekerja untuk Seungbin. Byun Baekhyun yang Nerd, telah berubah menjadi si pria nakal?"

Enggan masa lalunya terkuak lebih jeru, Baekhyun harus memutuskan sesuatu. Ia tidak mau Jongin membicarakan perubahan drastis yang ia alami selama duapuluhan hidupnya, ia tidak mau masa-masa kelam itu terbuka kembali—karena saat ini, sang subjek utama adalah Do Kyungsoo.

"Lebih baik, kuceritakan bagaimana Oh Sehun, Jongin. Aku merasa tersisihkan kalau kau ingin membahas ketololanku."

Oh Sehun. Ini dia yang dicari Jongin—hingga pancingannya berhasil membuat Baekhyun membuka mulut.

"Dengan senang hati, kawan lama."

-ooo-

Luhan melipat dua tangan didepan dadanya—berdiri angkuh di hadapan jendela besar. Jubah putihnya tersingkap hingga bagian paha dan ia sama sekali tidak peduli. Matanya nyaris kosong memandangi kebebasan diluar sana, karena ia tak munafik—ia ingin keluar dari sini melebihi apapun.

Namun, merebut hati si pemilik bar bukan suatu kemudahan. Apalagi, jika itu milik Seungbin yang terlalu mengutamakan Kyungsoo? Do Kyungsoo, rekan sepekerjaan yang begitu ia benci. Mengapa? Karena ia lebih dulu menjalankan rencana Luhan—merebut hati Seungbin.

"Si China yang kesepian, uhm?"

Sebuah suara maskulin menginterupsi lamunan Luhan. Ia enggan berbalik untuk sekedar tahu siapa pemiliknya, karena toh Luhan sudah sangat hafal pria mana lagi yang kurang ajar memeluk pinggangnya seperti ini. Secara sembarang dan benar-benar melupakan fakta dimana ia berada sekarang.

"Kau lupa ini lingkungan berbahaya milik Boss-mu?" Tapi Luhan lebih banyak diam setelah melontarkan kalimat tadi. Jeda berapa lama hingga ia berdesis tajam, "—Oh Sehun?" Ya, nama si makelar.

"Aku suka caramu memanggil namaku, Sayang. Seperti—kau ingin menggodaku."

Luhan menggeleng sekali, membantah. "Kenapa kau bawa Kyungsoo kemari waktu itu?" Ia malah keluar dari asal-mula pembicaraan.

"Hei, kau marah? Apa dia berbuat sesuatu yang membuatmu kesal?"

Akhirnya, Luhan berbalik cepat. "Dia selalu membuatku kesal saat memerankan protagonisnya didepan Seungbin. Ini salahmu, karena membawanya kemari dan menjadikan dia pesaingku. Sehun-ssi." Luhan berhenti menunjuk dada Sehun—sebelumnya emosi kini agak berkurang intensitasnya.

Sehun terburu menangkap tangan Luhan, ia menggenggamnya dalam dekapan dada. "Kenapa kau marah padaku? Kyungsoo, anak yang manis—waktu itu aku membawanya kemari karena ia seperti kehilangan arah."

"Lalu kau kasihan padanya?"

Sehun mengangguk begitu saja.

"Tindakan bodoh."

Kini, tidak ada suara-suara keras yang beradu lirih. Koridor mendadak sepi tatkala Sehun tanpa tahu malu malah mencumbui ceruk leher Luhan. "Lalu, aku harus apa agar kau tidak semarah ini, Sayang?"

"Bantu aku." Luhan tetap membiarkan Sehun membuat tanda disana sementara ia hanya mendesah sesekali. "Bantu aku untuk—menyingkirkan Kyungsoo."

Sehun menaikkan sudut bibirnya hingga membentuk seringaian, ia melepas Luhan. Salah satu alisnya dinaikkan beserta dahinya yang sengaja dikerutkan. Sehun terkekeh, "Pasti, aku pasti membantumu asal kelicikan kita tak terendus. Asal statusku dan statusmu yang berhubungan kekasih tak dicium Seungbin—itu tak masalah, Luhannie."

"Aku senang kalau kau menurut begini." Luhan meletakkan dua lengannya diatas bahu Sehun, a maju beberapa jengkal dan seketika bibir keduanya bertemu—ciptakan tautan panas. "I Love You."

Sehun mendekat ke telinga kanan Luhan dan bisikannya membagi gairah, "I Love You, too."

-ooo-

Mulut Baekhyun seakan berbusa saat ia berulangkali menyebut nama Sehun—si makelar. Sedangkan Jongin, ia tak punya minat untuk menyela cerita-cerita melankolis dari sahabat lamanya ini. Mereka masih duduk di bangku ruang tunggu, agak melupakan bagaimana kelanjutan Kyungsoo didalam Unit Gawat Darurat.

"Oh Sehun, dibalik wajah datarnya selalu tersimpan sejuta kelicikan." Baekhyun berucap dengan mata nyalang. "Kau tertarik menemuinya?"

Tanpa perlu berpikir lagi, Jongin menyahut, "Kapan-kapan. Kau bisa membiarkan ia bertatap muka denganku."

"Uhm, dia orang yang penuh tempat persembunyian—selalu sulit melacak keberadaannya."

"Sepertinya, kau terlalu mengenal dia, Baek. Memang bagaimana cara—"

"Jongin. Jangan membuatku mengingat masa lalu. Yang jelas, aku disini kau tak perlu tahu."

Bungkam. Jongin tidak berani menyinggung apapun mengenai Baekhyun dan waktu-waktu terdahulunya. Ia diam begitu Baekhyun memberi aba-aba, ia diam karena ia tahu Baekhyun tidak suka dibantah.

"Baiklah. Maafkan aku, Ba—"

"Kau berkomitmen pada Kyungsoo?" Tiba-tiba dan terburu. Baekhyun mengambil alih pembicaraan. "Jongin, jangan bengong. Aku tanya padamu sekarang, apa kau—mm, istilahnya, mencintai Kyungsoo?"

Jongin mengerjap tanpa diminta, "Kenapa?" Baru ia benar-benar memperhatikan si mata sipit disebelahnya. "Kenapa kau meragukanku?"

"Hm?" Baekhyun tidak bisa membendung keterkejutannya. Ia terlanjur ternganga meski tangannya menutup mulut. "Kau serius? Oh, Jongin, sejak kapan? Oh, oh, aku tahu sekarang bagaimana teman sebangkuku ini mencintai seseorang, uh?"

Baekhyun heboh sendiri. Beruntung suaranya tidak memenuhi lorong Rumah Sakit yang saat ini mereka tempati. Jongin meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh Baekhyun diam. "Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah tertarik." Polos. Jawaban Jongin terlalu polos.

"Ya Tuhan, Kim Jongin sudah dewasa rupanya." Baekhyun terus berdecak dan menggoda rona merah di pipi Jongin. "Selamat. Semoga secepatnya kau bisa berpacaran dengan Kyungsoo—oh, hanya hati-hati bila dia cerewet tentang kesehatanmu."

Jongin menguap sekali, "Sementara dia tidak mempedulikan kesehatannya sendiri." Sekali lagi, tatapannya terhenti pada pintu ruangan dimana Kyungsoo terbaring disana.

"Kau benar. Kapan dia keluar? Kenapa pihak Rumah Sakit ini lama sekali menanga—"

Belum sempat dumelan Baekhyun terselesaikan, hal yang ditunggu-tunggu pun akhirnya terjadi. Pintu itu tebruka dan menampakkan seorang Dokter laki-laki matang, jangkung dan—tampan. Anehnya, hingga membuat Baekhyun harus menahan pekikannya.

"—Chanyeol? Park Chanyeol? Oh, kau bekerja disini?"

Crap. Ya, pacar Baekhyun atau lelaki idamannya adalah seorang Dokter. Tidak masalah, kan, kalau seorang pelacur memiliki kekasih semulia Chanyeol? Baekhyun segera menghampiri Chanyeol yang telah memasang senyum lebar—ia tak terkejut sama sekali.

"Halo, Byunie. Uhm, aku tahu dia temanmu. Yah, aku bukan bekerja disini, aku Dokter disini, Sayang." Chanyeol mengacak rambut Baekhyun dan membuat si mungil itu merasa pendek.

"Ish, kau membuatku terlihat berantakan. Tsk."

Tapi, Jongin tidak ingin berlama-lama menyaksikan adegan romantis sepasang kekasih ini. "Uh, maaf. Bagaimana keadaan Kyungsoo?" Ia menyerobot.

Chanyeol beralih pada Jongin, "Dia—kurang baik." dan mulai menampakkan raut khas Dokter ketika keluarga pasien menanyakan kondisi seseorang yang ia sembuhkan. "Ada vonis."

Deg.

Dentum jantung Jongin pun Baekhyun berdetak kencang. "Vonis apa?" Ini suara Baekhyun—sarat khawatir. "Apakah mengerikan?"

Chanyeol menghela nafas panjang, "Dia belum sadarkan diri sekarang. Tapi, bisa aku bicara dengan keluarganya?" Ia melirik Baekhyun—karena merasa Jongin bukan disini sebagai sanak saudara.

"Kau lupa kalau dia sama saja denganku? Tidak punya keluarga, Yeol. Hanya kita. Aku dan Jongin."

Kini, Chanyeol merasa bersalah. Ia seolah salah bicara. "Ah, benar. Maafkan aku, Sayang." Ia memaku lagi tatapannya pada Jongin. "Kalau begitu, aku bicara denganmu saja. Aku tidak yakin kekasihku ini mampu menahan diri jika aku mengatakan kebenarannya."

"Ya! Memang apa yang terjadi dengan Kyungsoo? Apa separah itu? Yeol! Katakan saja padaku, aku jan—"

Chanyeol menggeleng, "Tidak, Byunie. Ayo, uh—Jongin, ya? Ayo, ke ruanganku." Ajakan si Dokter disambut anggukan oleh Jongin. Sementara langkahnya berderap mengekor, Baekhyun sekuat itu ingin menyusul.

"Jongin! Nanti beritahu aku!" Baekhyun berteriak dari kejauhan—berkat perintah Chanyeol yang meminta perawat disana menahannya. "Sial! Lepas!"

Chanyeol berbalik dan membisikkan sesuatu di telinga Jongin, "Jangan beritahu dia. Kalau dia memaksa, tetap jangan beritahu. Kau mau membantuku, kan?"

"Asal kau juga mau membantuku menyelamatkan Kyungsoo—tunggu, memang apa yang terjadi padanya?"

Chanyeol mengangguk sekali, "Tahan sebentar. Kita bicarakan di ruanganku." Entah mengapa, Jongin seolah terhipnotis dengan wibawa yang dijunjung lelaki didepannya. Begitu ia membuka pintu dan mempersilahkan Jongin duduk, ruangan serba putih ini seolah mengintimidasinya.

"Jadi, jelaskan padaku sekarang. Kau membuatku sangat takut, Uisanim."

Kilat mata Jongin telah menuntut, sedikit-banyak sengaja mendesak Chanyeol. Sementara Chanyeol membuka map berisi riwayat pasien barunya—Kyungsoo—Jongin sangat tidak sabaran karena sampai detik ini ia belum mengerti apa-apa.

"Ehm," Deham pertama dan tangkup jemari yang menyatu—Chanyeol memandang lurus manik mata Kim Jongin. "Kyungsoo—maafkan aku. Tapi terjadi sesuatu yang fatal padanya."

"Penyakit kronis?" Sambungan Jongin terdengar cepat. "Kau bisa menyembuhkannya, kan?"

"Aku tidak mau berbelit-belit, aku akan bicarakan kasus dan penyebabnya dulu." Chanyeol menutup map dan menggesernya ke pinggir meja. "Detailnya, kau bisa menyimpulkan sendiri."

Jongin mulai kalut, ia memilih rapat menutup mulut agar simakannya pada Chanyeol berbuah hasil. "Kasus apa dan penyebab apa?"

"Ini sebuah virus. Sayangnya, bukan penyakit dan sayangnya lagi, pihak medis belum memiliki titik temu atas penyembuhan total. Kebanyakan penderita virus ini—kesulitan sehari pun untuk merasa sehat."

Jongin mendelik, penuturan Chanyeol barusan seolah merobek ulu hatinya. Terlalu sakit. Ini kenyataan yang paling ia hindari jika sudah menyangkut orang tersayangnya. "Aku memang belum menjadi siapa-siapa bagi Kyungsoo, tapi aku yakin ia sudah menganggapku seseorang yang spesial. Tolong, jangan buat aku kehilangannya."

"Aku tidak bisa menjanjikan itu, Jongin." Lemah. Chanyeol berpasrah tentang tema pembicaraan ia dan Jongin. "Kau simpulkan sendiri—lewat bagaimana kesehariannya, apa yang ia lakukan, dimana dia tinggal?"

Jeda.

Hening.

Terlalu lama.

"—Aku tahu. Aku tidak mau mengatakannya, aku tidak mau mempercayainya. Uisanim, kenapa ini hanya menimpa Kyungsoo?"

"Kau pikir aku tidak takut kalau hal ini juga menimpa Baekhyun?"

"—Tapi, dunia tidak pernah adil padanya. Aku sudah menyaksikan bagaimana bab-bab hidupnya berkejaran. Ia—tersakiti."

Chanyeol mengesah, ia menunduk terlalu dalam. "Aku akan berusaha sebaik mungkin. Jangan khawatir, jangan takut. Aku akan memperjuangkan dia—agar setidaknya untuk mengulur waktu. Tenanglah."

"Berapa lama?" Jongin tidak lagi benar-benar memandang lawan bicaranya. Ia fokus pada wajah Kyungsoo di ambang pikirannya. "Berapa lama—ia hidup?"

"Sejauh mana virusnya cepat menyebar." Chanyeol berkata pasti. "Aku akan memberi obat penghambat virus-virus itu agar tidak sampai ke jaringan otak dan organ pentingnya."

"Menghambat? Tapi, pasti sampai kesana, kan?" Jongin terus menggelengkan kepalanya. Sungguh demi apapun yang telah ia terima di dunia ini—semuanya berujung bahagia. Lalu, bagaimana dengan Kyungsoo? Apa dia merasa bahagia? "Aku harus bagaimana? Mengeluarkannya dari tempat itu?"

"Aku tidak berhak memberimu keputusan dan kau tidak sepantasnya meminta pendapatku." Ia mengedikkan bahu. "Saranku, kau pikirkan kemungkinan terburuk dan cari solusi terbaik."

Jongin menyedak tenggorokannya sendiri, ia memejamkan mata barang sebentar. "Menurutmu, apa salah aku datang ke kehidupan Kyungsoo?"

"Hei, Jongin. Kita saja baru resmi berkenalan sekarang, lalu bagaimana aku bisa tahu sejauh mana kau mengenal pasienku—yang bahkan belum membuka matanya? Ah, jangan pikirkan hal macam-macam. Aku pasti menanganinya dengan kemampuan maksimalku."

Tanpa perintah apapun, setitik airmata dari pelupuk Jongin jatuh. Basahi bagian pipi kanan dan mengalir hingga ke bibir. Ia tak kuasa menahan tangis sekarang—pun ia tak peduli dihadapan seorang Dokter.

"Tolong aku, selamatkan dia."

Chanyeol tidak bisa memberi alasan ia mengucap sanggup. Maka, ia memilih untuk tersenyum.

"Spesialisku adalah penanganan HIV dan Aids. Kurasa, dia aman di tanganku, Kim Jongin."

Ya. Ini bukan tentang penyakit, tentang kronis atau parah. Tentang operasi, kemo atau tahap penyembuhan lain. Tidak ada perawatan inap. Kyungsoo tak perlu opname. Jongin hanya benci bagaimana Kyungsoo sepandai itu menyembunyikan gejalanya—bagaimana ia menahan sakit-sakit itu.

Sayang, virus ini belum mendapat perhatian khusus dan penderitanya—hanya perlu menunggu takdir. Jongin benci—Jongin benci. Sekali ia bertemu Kyungsoo, jatuh dalam pesonanya, bertekuk lutut padanya, dan mulai mencintainya—mengapa Tuhan memiliki rencana baru untuk memisahkannya?

Hell, Jongin tergugu disana.

-ooo-

Kyungsoo melenguh saat merasa tangannya telah digenggam seseorang. Ia menggeliat meski tak begitu kentara kemudian kerjapan matanya berusaha menyesuaikan cahaya. Tenaganya seolah dilolosi dan hirupan nafasnya seakan tersedot udara—Kyungsoo benar-benar seperti pesakitan sekarang.

"Hei," Tidak biasanya. Ia mengenal suara ini, yang selalu berat tapi kini tanpa semangat. "Hei,"

Bahkan ulangan katanya belum mendapat balasan dari Kyungsoo. Karena jujur, untuk menoleh saja ia kesulitan.

"Seungbin memberimu waktu seminggu opname disini. Kau boleh pulang minggu depan, ya."

Baekhyun tidak mendapat ijin dari Chanyeol sekalipun ia memaksa masuk kemari. Tapi, Jongin ada disini, ia duduk tepat disebelah Kyungsoo dan matanya tak lepas dari sosok rapuh itu. Baringan tubuhnya yang kurus, selalu membuat Jongin miris hati. Bagaimana tega jika ia meninggalkannya tanpa pendamping?

"Jongin—ngh."

"Ya? Jangan beranjak dulu kalau masih belum kuat." Nadanya melembut.

"Ma—maaf merepotkanmu." Jongin mawas diri, enggan mendapati Kyungsoo menanyakan penyakitnya, karena ia tetap tidak memiliki jawaban konkrit. "Dimana Baekhyun?" Fiuh. Bukan.

Sekarang, yang perlu ia pikirkan adalah bagaimana caranya memberitahu Kyungsoo. tentang virus ganas yang tak main-main, kini sedang menikmati tubuh Kyungsoo dan bersiap menyerang apapun didalam sana. Ah, membayangkannya saja sudah membuat Jongin ngeri.

"Baekhyun, ya? Kau tahu, ternyata Chanyeol—pacarnya itu menjadi Dokter disini." Jongin menggebu—kedok pengalihan topik. "Kau pasti ingin menemuinya, kan?"

Secercah senyum tipis mengembang diwajah pucat Kyungsoo, ia sempat meringis. "Ah, aw. Oh, begitu? Wah, beruntung sekali mereka bisa bertemu disini. Jo—Jongin, lalu siapa yang membayar biaya perawatanku?"

"Serahkan saja padaku, Kyung. Aku bisa pinjam uang Suho Hyung, tetangga apartemenku, ya. Ah, tidak perlu memecah tabunganmu, simpan saja." Jongin bak cenayang.

Tebakan Jongin tentang pikirannya membuat Kyungsoo membeku. Kenapa Tuhan mempertemukannya dengan manusia seelok Kim Jongin sementara lelaki tan itu mendapat musibah karena bertemu iblis sepertinya?

"Terima kasih, Jongin. Ka—kau ah, sudah banyak membantuku." Kyungsoo menerawang langit-langit kamar. "Aku berhutang padamu, kan? Ingat, ya. Do Kyungsoo harus mengembalikan semuanya padamu."

Tapi Jongin terkekeh, menggeleng lalu mengelus kening Kyungsoo. "Aku akan marah kalau kau mengembalikannya. Aku tulus memberikannya padamu, Kyungsoo." Meski ia juga tidak tahu—apakah tetangga kaya rayanya itu mau meminjami uang atau tidak.

Senyum Kyungsoo hadir kembali. Selaras dengan jeblakan pintu kamar dan tampakkan sosok Baekhyun berdiri gamang disana. Kyungsoo dua kali lipat tersenyum lebih lebar. "Baekhyun!" Ia masih tak berdaya, tapi jika sekedar memanggil sahabatnya, Kyungsoo tidak mau berpura-pura bisu. Ia harus terlihat—setidaknya, sehat.

"Bodoh." Baekhyun mendekat, tapi ia tak seberapi-api tadi. Jongin berkelana dengan ingatannya, apakah Chanyeol yang memberi tahu tentang penyakit Kyungsoo? Dasar plin-plan, Jongin bisa menarik kesimpulan kalau Baekhyun sudah tahu—ia bisa lihat dari gelagatnya yang lebih banyak lesu. "Kenapa harus sakit? Aku merindukanmu."

Jongin terenyuh, benar-benar tersentuh saat Baekhyun memeluk Kyungsoo seerat itu. "Sssh, kau ini kenapa menangis, Baek? Aku sudah agak baikan, kok." Kyungsoo bisa merasakan tetes demi tetes airmata Baekhyun yang meluruh di bahunya. Basah. "Aku juga merindukanmu. Ah, ya, ceritakan tentang Chanyeol. Kata Jongin kau bertemu dengannya disini."

"Ya, karena dia Dokter yang menanganimu, Kyungsoo." Baekhyun melepas dua lengannya yang tersampir di leher Kyungsoo. Membiarkan lagi pemuda mata bulat itu rebah di ranjang dengan bantal yang disusun tinggi. Meski agak takut jika Kyungsoo bertanya—apa yang telah menimpanya, atau apa yang dikatakannya, Baekhyun tetap bicara. "Dia Dokter teladan, Kyung."

"Wah, benarkah? Beruntung sekali pacarmu itu menanganiku, Baek. Aku harus berterima kasih pada kalian berdua, ya."

Entah kenapa. Tapi, Kyungsoo malas bertanya penyakit apa yang dideritanya. Hingga membuat Jongin dan Baekhyun saling berpandangan—tak mengerti situasi dan kondisi.

"Apapun akan kami lakukan asal kebaikannya memang untukmu, Kyung." Baekhyun mengulas senyum pahit ketika ia memandang mata sayu Kyungsoo. "Ya, kan, Jongin?"

Kyungsoo meretas senyum untuk ketiga kalinya, ia salurkan pada Jongin sekarang. "Kalau begitu, aku beruntung bisa bertemu kalian berdua."

"Aku yang lebih beruntung bisa bertemu denganmu, Kyungsoo." Jongin menelurkan asa-nya, ia hampir-hampir sekuat tenaga agar airmatanya tak muncul lagi. "Aku akan selalu disandingmu."

Kyungsoo tertawa, "Selalu? Kau berubah puitis, Jong. Seperti aku akan kemana saja. Belum waktunya aku mati, jadi—tenanglah. Aku percaya kau akan menemaniku."

Crap.

Ya, dan itu pertanda bahwa Kyungsoo berakting seolah ia tahu segalanya. Peran yang ia geluti terlalu apik, dan tersamarkan. "Aku harus pulang, Kyung. Tolong jaga Kyungsoo, Jong. Kau harus sembuh, berjuanglah. Ah ya, saatnya aku bekerja jadi—dah."

Baekhyun mengecup kening Kyungsoo dan menepuk bahu Jongin, ia melambai saat langkahnya menuju pintu. "Hati-hati, Baek." Lalu wanti-wanti Kyungsoo telah mengiringi kepergian Baekhyun dari ruangan ini. Tersisa ia dan Kim Jongin dalam sunyi senyap.

Hening merayap dalam jiwa mereka masing-masing. "Jangan melamun, Kyung. Ajak aku bicara, aku bukan patung, kan?"

"Aku tidak mau mengganggumu, kau terlihat banyak pikiran, lebih baik ak—"

"Tidak. Ajak aku bicara." Jongin mengejar.

"Habis, kukira kau sedang tidak mau bicara. Jadi, aku memberimu waktu."

Jongin berpindah, ia membelai punggung tangan Kyungsoo. "Kalau Seungbin berbuat macam-macam padamu, lawan." Kyungsoo tidak tahu arah mana yang dituju Jongin. "Aku membawamu kemari dengan segenap adu mulut tadi."

"Kau melakukannya? Astaga, apa kau baik-baik saja? Dia tidak menghajarmu, kan?" Kyungsoo mengamati wajah Jongin—tidak ada memar, Kyungsoo juga memperhatikan sekujur tubuh Jongin—ia baik-baik saja. "Jangan lakukan hal berbahaya seperti itu lagi."

"Dia pasti memarahimu sepulangnya kau dari sini."

"Pasti. Aku bisa menduganya dan tidak akan meleset."

"Aku mengantarmu, selanjutnya akan mempamitkanmu pada Seungbin." Jongin menarik nafas, lekat-lekat ia memaku tatapan di mata Kyungsoo. "Kau harus keluar dari sana dan tinggallah bersamaku."

Deg. Baru kali ini seseorang memperhatikan dan mempedulikannya—Jongin melakukan keduanya. Memintanya kabur dan menyelamatkannya dari belenggu penyiksaan? Siapa yang tidak mau?

"Tidak." Kyungsoo melirih, matanya tertuju lurus dan menghindari intimidasi Jongin. "Kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu karena memintaku pergi dari tempat Seungbin. Sampai kapanpun aku tidak akan pergi."

Tentu saja Jongin tidak terima. Oh ayolah, maksudnya siapa yang tidak mau dibebaskan? Sementara ada peluang besar terbuka lebar didepan mata? Sedangkan ada seseorang yang siap menampung kehidupannya? Kyungsoo—telah gila.

"Kenapa? Beri aku sebuah alasan, Kyungsoo."

Diam. Kyungsoo bisu.

"Kenapa? Aku tanya, Kyungsoo, maka jawablah."

Satu detik, dua detik dan tiga detik. Kyungsoo akhirnya membuka mulut, "Aku punya alasan yang harus kusimpan, Jongin. Kau sudah pernah kuberi garis besarnya. Kau sudah tahu sebagian kehidupanku. Kau masuk begitu saja, dan sekarang memintaku meninggalkan masaku yang baru?"

"Kalau begitu kau tak menganggapku penting." Jongin membuang nafasnya ke udara. "Kau takut tak punya tempat tinggal dan enggan kesulitan mencari makan? Kau tidak mau merepotkanku? Cih, alasan klise macam apa, Kyungsoo?"

Tapi, Kyungsoo berpegang teguh pada gelengan kepalanya. "Apa aku menderita penyakit yang mematikan?"

Deg. Jongin tercengang—merasa mustahil Kyungsoo bisa sejitu ini menebaknya.

Si tan itu sempat memalingkan wajah, ia kemudian berucap. "Belum saatnya kau tahu. Tapi kumohon, hiduplah bersamaku."

"Bujuk dan rayumu juga belum saatnya mempan untukku. Masih ada banyak hal yang harus kulakukan di tempat Seungbin." Termasuk membalaskan dendam padanya. Kyungsoo tidak akan menyuarakan alasan utamanya barusan. "Pulanglah, jernihkan pikiranmu, Jongin."

Kyungsoo dan Jongin akhirnya memadu pandangan dalam satu dimensi.

Jongin berulang kali mendesah frustasi, acakan tangan di rambut tak membuahkan kesegaran. Ia jengah, polah Kyungsoo hari ini begitu pongah. "Aku tidak akan pernah mengerti bagaimana alur pikiranmu. Tidak, aku tidak akan pergi. Aku disini, tetap disini."

"Terserah. Tapi aku ingin beristirahat."

"Silahkan. Aku akan menunggumu sampai kau bangun."

Ya, dan Kyungsoo membiarkan Jongin sibuk dengan buah pikiran yang mungkin berkecamuk dalam kepalanya. Si mata bulat membelakangi posisi Jongin dan si tan itu hanya bisa menemukan punggung sempit Kyungsoo disana. Kyungsoo tidak benar-benar tertidur.

Tapi, ia juga sama pusingnya dengan Jongin. Mengapa tiba-tiba lelaki itu mengajaknya pergi—secara paksa—kalau bukan karena ada hal aneh yang terjadi? Kyungsoo bukannya lupa untuk bertanya, Kyungsoo bukannya naïf untuk ingin tahu—tapi ia tidak mau merasakan kesedihan yang mendalam lebih jauh lagi.

Renungan mereka bukan tanpa maksud. Keduanya sama-sama dilemma. Kesimpulan yang bisa Jongin dapat adalah—Kyungsoo tidak mau hidup bersamanya karena mungkin si mungil itu belum terlalu nyaman. Sebaliknya, Kyungsoo tahu Jongin punya niat baik—hanya ia tak perlu penasaran dengan diagnosis penyakit yang sengaja Jongin tutupi.

Virus. Apalagi virus yang merasuki seorang pelacur—yang hobi berganti pasangan—jika bukan HIV/Aids? Ya, Kyungsoo sudah tahu isi kartu AS-nya.

-ooo-

Chanyeol segera merengkuh Baekhyun begitu kekasihnya itu keluar dari ruangan Kyungsoo. ia terlalu tahu orang seperti apa Baekhyun—lelaki sepertinya tidak akan kuat menahan tangis. Apalagi jika ini menyangkut orang yang paling ia sayangi.

"Hiks—Yeol. Selamatkan Kyungsoo."

"Sssh. Kau tidak perlu secengeng ini, bodoh." Chanyeol mengelus punggung Baekhyun, kemudian mengusap puncak kepalanya. "Seharusnya kau yakin, Kyungsoo mampu bertahan melewati semua ini."

"Lalu dia akan mati? Hiks—apa maksudmu bertahan?"

Chanyeol menghela nafas, "Percayalah ada aku, percayalah ada Jongin dan percayalah ada dirimu. Kyungsoo telah dikelilingi orang-orang terbaiknya, pabboya."

"Ya! Kenapa malah mengataiku?" Secuil rasa tak terima mencuat begitu saja, tapi Baekhyun kepalang tahu jika Chanyeol hanya bercanda.

"Habis, kau berisik sekali. Masa lelaki seperti ini malah menangis, sih?" Chanyeol seolah ketagihan menggoda Baekhyun. "Mau kuantar pulang?"

Baekhyun mengerucutkan bibir, berpura-pura marah. "Kalau kau mengantarku, pasien-pasienmu bagaimana? Kau tidak mau dituntut karena telah melalaikan mereka, kan?" Selanjutnya, ia malah bersedekap. "Urusi saja dirimu. Aku bisa urusi diriku. Si bodoh ini kan tidak perlu bantuanmu. Uh, terus saja mengataiku bod—"

Namun, seketika itu jemari besar mampir di pipi Baekhyun. Chanyeol telah menghapus kristal-kristal bening yang berjatuhan dari pelupuk kekasihnya. "Kau juga termasuk pasienku. Aku tetap tidak mau pacarku terjangkit virus yang sama seperti Kyungsoo. Jadi, pakailah pengaman selalu, Sayang." Chanyeol tak malu saat ia mendaratkan kecupan di kening Baekhyun. Meski keadaan koridor sedang ramai—ia tak peduli.

Baekhyun berdecak, ia menjauhkan wajahnya. "Tsk. Banyak yang melihat, Yeol." Chanyeol malah tergelak. "Ya, jangan tertawa. Bau nafasmu itu sangat busuk. Uh, tapi ingatlah. Kalau aku bersetubuh dengan banyak pria—yang ada di hatiku tetap dirimu, kok." Mungkin Baekhyun bermaksud menjadi lelaki yang romantis. Sayang, Chanyeol malah menertawai aksinya barusan.

"Kau tidak pantas berkata seperti pujangga seperti itu, tahu. Hentikan. Ahahaha~" Bahkan si jangkung itu masih memegangi perutnya yang kegelian. "Sialan. Kau lucu sekali, Byunie."

"Tsk. Kau menjijikkan, Yeol."

"Jangan menangis lagi, ya. Aku yakin Kyungsoo termasuk orang yang tegar."

"Kau mau bilang kalau dia tidak sepertiku?"

Chanyeol tersenyum lima jari seraya menjentikkan jemarinya. "Mm-hm. Baguslah kalau kau tahu. Setidaknya, Kyungsoo memang jauh lebih normal daripada dirimu, Byunie." Lagi-lagi Chanyeol terbahak dengan leluconnya sendiri. Agak-agak membuat merasa konyol. "Tenanglah, aku berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi kadar virus berlebih dalam sel-sel darahnya."

"Ish, aku tidak akan mengerti isitilah medismu, Yeol."

Kemudian, Chanyeol mencekal pinggang Baekhyun—mengajaknya keluar dari gedung Rumah Sakit.

"Memangnya apa yang kau mengerti? Dasar otak bebal."

Baekhyun menggembungkan pipi, "Ya! Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus menyelamatkan Kyungsoo~"

"Astaga, memang sepenting apa dia dibanding diriku sebagai kekasihmu, hm?" Chanyeol mencubit pipi Baekhyun—gemas. "Uh, kalau kau janji tidak menangis lagi—aku juga janji akan menetralisir virus-virus Kyungsoo."

Baekhyun terkesiap, dan memilih untuk tidak memperhatikan jalannya. "Apa? Hanya menetralisir?"

"Kau tahu, virus ini belum menemukan penawarnya, Byunie. Mengertilah, aku sedang mencoba segala hal yang terbaik untuk sahabatmu."

"Baiklah, aku percaya padamu dan banyak sekali menaruh harapan agar kau bisa mengembalikan Kyungsoo-ku yang dulu." Baekhyun menunduk, tapi Chanyeol sigap mendekap tubuh itu ke dadanya. "Kau dan Kyungsoo? Umh, sama pentingnya."

Chanyeol tersenyum dalam samar. Ia senang Baekhyun mengakui seberharga apa dia. Meski status pelacur melekat dan terpampang jelas—yang namanya cinta memang benar telah membutakan sekaligus menulikan. Blur. Cinta itu—alami.

-ooo-

TO BE CONTINUE

Don'tJudgeMeLikeYou'reRight a/n :

Hellaw!

Bagaimana chapter ini? Ada unek-unek, silahkan beri komentar. Yah, aku ngga tahu kenapa tapi mengingat tentang kolom review—agak bikin nyeri. Mm, aku ngga mau munafik, gais, seorang penulis ngga gampang buat sebuah karya, makanya penghargaan itu penting banget. Meski cuman sekedar pujian singkat atau kritikan pedas. Itu worth it banget. Oh, atau mungkin faktor lainnya adalah :

Penghuni FFN hilang entah kemana

Pengunjung Kaisoo Shipper berkurang dan terus terkikis

Apa karena FF-FF aku ngga lagi menarik minat kalian buat dibaca?

Kayanya yang ketiga deh ya wheheheh. Yah, aku sih ngga mau ngemis-ngemis minta komen, aku ngga mau mohon-mohon buat baca ketertarikan kalian sama cerita yang aku buat. Tapi tolong, seenggaknya hargai. Heheheh~ maaf kalo menyinggung dan berbelit2 tapi yasudahlah. Kan mungkin aja bisa jadi bahan pertimbangan, atau sekedar penyemangat buat aku biar bisa nerusin.

p.s : terka-terka sendiri ya kenapa Kyungsoo ngga mau keluar dibantu Jongin dari tempat Seungbin, tapi kadang dia kepengen Cuma ada sesuatu yang yah—dia harus lakuin. Istilahnya, dilemma gitulah.

Hah. Sudahlah.

Selamat menikmati.

Sincere,

-Don'tJudgeMeLikeYou'reRight-

SEE YA ON NEXT CHAPTER!