Maaf lama.. Sebenarnya saya berniat tidak update sampai minggu kedua bulan Mei. Saya berusaha konsen untuk SNMPTN TULIS tahun ini. Tapi entah kenapa fic ini terus terbayang di otak saya. Jadilah saya nekat ngetik. Walaupun entah kenapa hasilnya aneh banget. Pendek sangat pula. Hiks
Chapter ini nggak ada konflik. Saya sedang males ngetik yang berbelit-belit. Jadi isinya cuma romansa nggak jelas. Yang minta ItaKyuu, ini saya sempilkan. Mungkin di chapter depan juga saya ikutin lagi. Saya sudah capek nulis "Itachi" salah terus di chapter ini. Entah kenapa jadinya selalu "Iatachi" #parah banget blo'onnya.
Saya juga minta maaf lagi-lagi nggak bales review. Sedang gundah gulana saya. Yang jelas, chapter 8 update sekitar minggu kedua bulan Mei. Bisa juga molor kalau saya ketiban becak #apasih nggak jelas. Hahaha
Oh ya, ada yang review lucu. Buat si Dessy, yang tanya apa Sasuke homo, sudah jelas dari chapter 1 pairingnya SasuNaru, kenapa masih tanya? *geleng-geleng kepala* Tak apa deh. Yang penting kamu baca fic saya ini. Hoho
Sudah cukup curhatnya. Selamat membaca!
##########
Aku tak peduli. Aku akan melakukan apapun asal kau tetap berada di sisiku. Kejahatan macam apapun akan ku lakukan. Kalau dengan itu kau akan tetap tinggal di sampingku, aku rela melakukannya berkali-kali…
##########
Chapter 7 : Do you love me? Yes, I do
##########
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru (main), slight ItaKyuu and KakaIru
Genre : Romance (full of romance) - semoga berasa ya romancenya.. T_T
Rated : T
Warning : AU, Shounen Ai, so much Gajeness, typo, alur membingungkan, cerita ala sinetron, membosankan, penuh dengan romantisme picisan
Notification :
"blablabla" = bicara
'blablabla' = bicara dalam hati
##########
Don't Like, Please Don't Read!
##########
Iruka menatap cemas pada laki-laki di hadapannya. Wajahnya pias. Kabar buruk yang diterimanya jelas membuat hatinya gentar. Pria di hadapannya juga tampak tegang, walaupun sedikit lebih bisa menjaga ekspresinya.
"Jadi, Danzo sudah tiba di kota ini?" Iruka bertanya dengan kerisauan yang menonjol. Itu hanya pertanyaan kosong. Karena dia sendiri sudah tahu jawabannya.
Kakashi menggeleng perlahan. "Belum..."
"Tapi akan." Lanjut Iruka dengan nada pasrah. "Apa yang dicarinya di sini?"
Kakashi menatap Iruka dengan pandangan sedih. "Belum ada bukti yang jelas. Tapi, ini ada hubungannya dengan putra kesayanganmu itu."
Iruka terkesiap kaget. Wajahnya semakin pucat. "Apa salah Naruto?"
Kakashi merangkul Iruka lembut. Membenamkan muka Iruka pada dadanya. Mencoba menenangkannya. "Bukan Naruto yang bersalah, Iruka-chan."
Iruka menatap Kakashi dengan pandangan tak percaya dan hendak membantah. Kakashi dengan cepat melanjutkan.
"Bukan Naruto yang bersalah. Naruto tak pernah melakukan hal yang salah. Yang salah adalah takdir. Dia yang dengan sengaja meletakkan semua nasib buruk di pundak Naruto."
Iruka terisak perlahan. Kakashi benar. Betapa takdir dan nasib begitu tega menyiksa Naruto. Menguji kehidupan yang seharusnya penuh rona bahagia itu. Takdir memang kejam.
##########
Itachi melangkah keluar area bandara dengan senyum ramahnya. Hari sudah menjelang sore saat dia tiba di Konoha. Dia menatap sekeliling. Mengacuhkan para taksi yang berjajar penuh godaan, dia berjalan menuju mobil mewah yang sudah dipesannya.
"Tolong ke toko kue terdekat. Aku ingin membeli sesuatu untuk adik kecilku yang manis."
Supir hanya mengangguk patuh. Dia bukan yang punya kuasa di sini. Jadi tanpa banyak berdebat, dia pun membawa sang majikan menuju toko kue paling terkenal di kota itu. Dia sudah sangat paham dengan selera seorang Itachi Uchiha yang membenci barang-barang tak berkualitas.
Toko kue yang dituju oleh sopir itu tampak sepi. Hanya berupa bagian depan rumah sang pemilik, membuat toko itu terlihat begitu kecil. Walaupun begitu, toko itu tampak mencolok dengan desain warna cerah. Papan nama besar tergantung di atas pintu. "Fever Bakery". Itachi mengangkat alisnya, heran. Sungguh nama yang tidak biasa untuk sebuah toko kue.
Memasuki toko itu, dengan cepat indera penciuman Itachi dimanjakan dengan harum kue yang baru dipanggang. Dari luar, toko itu terlihat kecil. Tapi rupanya cukup luas. Dan jelas penuh dengan kue.
Itachi melihat-lihat kue yang ada. Berharap menemukan satu yang paling manis untuk adiknya tersayang. Dia tahu Sasuke akan marah dengan hadiahnya. Tapi sudah lama sekali dia tak menggoda adiknya itu. Membayangkan ekspresi yang didapatnya nanti tak urung membuatnya tersenyum geli.
Mendadak, sebuah bau kue yang mencolok membangunkan ingatannya. Kue itu berbau seperti rempah manis. Dia sangat suka harum kue itu. Mengingatkannya pada kue yang selalu dinikmatinya bersama keluarga kecilnya. Kue yang dibuat khusus saat mereka merayakan ulang tahun bersama.
Tanpa sadar, Itachi berjalan menuju dapur. Toko itu sepi dan tanpa pelayan yang berjaga. Dengan mudah, Itachi bisa memasuki wilayah yang seharusnya bertuliskan "Staf Only" itu. Di depannya kini berdiri seorang pria muda yang bertampang pemarah. Dari posturnya, Itachi menebak bahwa pria itu pasti masih sekolah. Pria itu tampak sibuk menaburkan sesuatu di atas kue yang masih tampak hangat. Kue itulah yang menggoda penciuman Itachi.
Tapi bukan kuenya yang menarik perhatian Itachi. Itachi justru terpikat pada ekspresi pemuda itu.
Pemuda itu memang bertampang kasar. Seolah dia benar-benar seorang yang pemarah dan mudah tersinggung. Tapi saat berhadapan dengan kue, entah kenapa ada aura lembut yang memancar. Dengan bibir yang sedikit -amat sedikit- tertarik ke atas, membuatnya terlihat lebih manis. Tanpa sadar, Itachi mengulurkan tangan ke pemuda yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Dengan lembut, Itachi menyentuh pipi pria berambut layaknya langit senja itu. Berusaha menghilangkan jejak putih tepung yang mengotori wajah tampannya.
Sentuhan ringan itu tentu membawa dampak besar. Pemuda koki itu dengan cepat menoleh. Mata dengan iris berwarna merah itu tampak terbelalak kaget. Suara keras dengan cepat membahana, "Siapa kau?"
Itachi tersadar dengan apa yang diperbuatnya barusan. Dia dengan cepat menarik tangannya. Lalu memasang wajah tak bersalah andalannya. "Melihatmu." Jawabnya diikuti senyum.
Pemuda di depannya memicingkan mata tak percaya. "Bagaimana kau bisa masuk ke sini, hah?"
Itachi menggedikkan bahunya santai, "Di depan tak ada orang, karena itu aku menuju kemari. Aku pembeli."
Belum sempat ada pertanyaan balik, sebuah panggilan membuat mereka berdua menoleh. "Hei, Kyuu! Kau membuat sesuatu lagi, ya?" Sesosok gadis berambut pirang panjang memasuki ruangan itu. Tampaknya dia saudara sang koki itu. Dahinya tampak berkerut menyadari adanya orang asing di ruangan itu.
Itachi dengan cepat menjelaskan, "Maaf sebelumnya. Hanya saja di depan tak ada siapapun. Jadi aku mencari pemiliknya ke dalam sini. Aku ingin membeli beberapa roti."
Wajah perempuan itu berangsur tenang. Sebuah senyum segera terpasang di wajahnya. "Oh, maaf kalau begitu. Kami memang sedang kekurangan orang akhir-akhir ini." Dia memasang wajah galak pada pemuda yang kini sibuk dengan rotinya lagi itu. "Hey, Kyuubi! Berhentilah berada di dapur! Kau harusnya memperhatikan pelanggan di luar!" Sebuah jitakan mampir ke kepala Kyuubi.
Kyuubi menatap kesal pada kakak perempuannya itu. "Hey, Ino pig! Jangan menyuruhku! Kenapa tidak kau saja yang berjaga di luar?"
"Eeh, kau berani yaaa?" Perempuan itu sudah bersiap-siap menjitak Kyuubi lagi kalau Itachi tak berdeham keras. Gadis bernama Ino itu pun kembali memasang senyum penjual pada Itachi.
"Jadi, kue apa yang anda mau?"
Itachi tersenyum, "Kue yang paling manis dan…"
Ino menunggu dengan penasaran. Sementara Kyuubi melanjutkan kesibukannya menyelesaikan sentuhan terakhir pada kuenya.
"Kue itu." Itachi menunjuk pada kue yang baru saja selesai dibuat Kyuubi. Kyuubi segera memasang wajah "Jangan macam-macam kau!". Itachi tertawa kecil melihat ekspresinya itu.
"Apakah kue itu tak dijual? Aku benar-benar tertarik dengan kue itu." Itachi berwajah penuh harap. Ino langsung terjebak. "Tentu saja boleh. Kalau itu mau anda. Biar saya yang bungkus."
Itachi menyeringai puas, Kyuubi mengerutkan kening tak suka. Tapi pelototan dari kakaknya membuatnya mengangguk patuh walaupun tak rela.
##########
Sementara di tempat lain, di sepenggal sore itu, dua tokoh utama kita masih saling berpelukan di taman. Sasuke belum berniat meninggalkan taman itu. Dia takut membangunkan Naruto. Karena dia tahu, begitu bangun, Dobenya –ya, Dobe miliknya- itu akan bersikap kaku lagi.
Angin berhembus semakin dingin di sekitar mereka. Sasuke bahkan tak merasakannya, dia terlalu menikmati suhu tubuh orang di pelukannya itu. Tapi rupanya Naruto merasa sedikit dingin, dan karena itu dia merangsek semakin dalam ke pelukan Sasuke. Yang tentu saja di balas Sasuke lebih erat.
Sasuke memeluk Naruto seolah-olah itu adalah hal yang paling benar di hidupnya. Tapi memang itulah adanya. Bagi kehidupan Sasuke yang cenderung datar dan tanpa warna, pemuda pirang berisik ini jelas membawa gairah baru. Semangatnya yang meledak-ledak, tawanya yang menular, semua itu adalah godaan yang tak bisa ditepis oleh Sasuke. Bahkan hanya sekedar senyumnya saja sudah bisa mendobrak dinding kebekuan hati Sasuke. Naruto itu istimewa. Karena itulah dia berharga di mata Sasuke.
Semakin malam, suasana taman itu kian gelap dan sepi. Tak banyak yang berkunjung seharian ini. Seandainya ada, mungkin mereka memilih untuk menyingkir melihat dua sejoli sibuk bermesraan. Hanya ada dua orang di taman itu.
Sasuke mengambil telepon genggam dari sakunya. Sedikit sulit memang, mengingat ada Naruto di pelukannya. Setelah berhasil, dia segera menghubungi Kakashi. "Naruto akan tidur di rumah hari ini." Hanya berucap begitu dan dia pun mematikan sambungan. Membuat yang dihubungi mendesah kesal.
Merasa keadaan taman semakin tak mengenakkan, Sasuke memutuskan menggendong Naruto pulang. Naruto bahkan tak merasa perlu bangun. Dia tetap terlelap dalam rengkuhan Sasuke yang membawanya pulang. Pulang ke rumah mereka.
##########
Itachi merenung bingung. Harusnya saat ini dia sudah ada di rumah adiknya. Mengganggunya dengan lelucon bodoh. Atau mungkin memaksanya makan roti manis yang baru saja dibelinya. Namun yang terjadi adalah, dia berada di tepian lapangan kecil. Memandangi beberapa anak laki-laki sibuk bermain sepak bola.
Sejujurnya, tak ada maksud aneh. Setelah dia membeli kue di toko itu, melihat bagaimana sang koki manis tiba-tiba sudah berganti seragam sepak bola dan berlari menuju sini, membuatnya tanpa sadar megikuti. Kyuubi sendiri hanya melirik heran melihat kelakuannya, tak berniat mendebatnya.
Itachi sendiri bingung. Ini hanyalah latihan sepak bola biasa. Tapi entah kenapa, dia bisa begitu berkonsentrasi menontonnya. Sebenarnya bukan sepenuhnya latihan sepak bola itu yang menarik. Tapi entah kenapa, pemuda bernama Kyuubi itu begitu menarik di matanya. Begitu berkilauan di hidupnya. Tampaknya, seorang Itachi sudah jatuh. Jatuh ke dalam pelukan cinta. Dan pada pesona seorang Kyuubi yang memabukkan.
##########
Sakura benci kondisi seperti ini. Dia benci jika ada yang mengusik perasaannya. Dia benci harus merasa bersalah. Terlebih, di hadapan para sahabatnya.
Saat ini, dia sedang duduk dalam sebuah kafe terkenal. Dengan dua gadis cantik di hadapannya. Tatapan mereka tampak aneh. Aura perselisihan mengambang di sekitar mereka. Membuat para pelanggan lain memilih meja sejauh-jauhnya dari meja mereka.
"Jadi, tadi itu ulahmu, kan?" Temari menatap curiga pada Sakura.
"Kalau iya, kenapa?" Tanya Sakura mencoba cuek.
"Tidakkah kau rasa itu keterlaluan? Apa salah Naruto?" Temari benar-benar geram dengan kelakuan Sakura kali ini. Dia tahu Sakura benci tersaingi, tapi belum pernah kasus itu sampai separah ini. Paling berat, mangsa mereka hanya akan di skors. Kebanyakan justru hanya perlu digertak. Ini benar-benar bukan tipe seorang Sakura.
"Dia mendekati Sasuke. Aku tidak suka itu." Sakura mencoba mencari pembelaan.
"Menurutku bukan begitu. Dia tidak tampak menggoda Sasuke. Dia malah terlihat menghindarinya." Temari membantah dengan cepat. Sama sekali mengacuhkan pandangan Hinata yang tidak menyukai pertengkaran.
Sakura menatap Temari kesal. "Tapi aku tidak suka dia! Aku benci saat melihat mata Sasuke setelah dia datang! Di mata Sasuke ada binar saat menatap Naruto. Aku benci itu! Selama ini, dia begitu kaku padaku. Kenapa pada Naruto harus berbeda? Apa kekuranganku? Apa yang Naruto punya yang tak ku punya?" Mata Sakura berkaca-kaca. Tumpah semua yang membuatnya kesal selama ini. Iri, cinta, dan sakit hati, membuat seseorang begitu rapuh.
Temari berusaha merangkul Sakura, begitu pula Hinata yang sedari tadi hanya menatap penuh kekhawatiran. "Itu bukan alasan untuk menimpakan semua kekesalanmu pada Naruto. Dia tak bersalah. Cinta, mencintai, dicintai. Itu bukan hal yang bisa kita atasi dengan kepala penuh amarah. Itu bukan hal yang bisa kau dapatkan dengan mudah. Berpikirlah positif Sakura. Lihat apa yang kau dapat sekarang? Aku bahkan yakin Sasuke akan melindungi Naruto. Kau hanya akan semakin sakit hati."
Perkataan Temari itu membuat Sakura menangis. Dia sadar dia salah. Dia begitu dibutakan oleh kebencian hingga tak menyadari betapa sia-sianya hal yang dia lakukan.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Sakura bertanya perlahan. Berharap kedua temannya itu bisa menawarkan sebuah solusi. Temari dan Hinata hanya bisa diam. Mereka semua tak tahu harus bagaimana untuk memperbaiki hal ini. Kerena mereka pun tak bisa memutar waktu. Yang mereka bisa hanyalah melihat dan menyesali kejadian yang sudah terjadi itu.
##########
Malam kian pekat. Beberapa orang masih terjaga. Mereka jelas orang-orang dengan dedikasi hidup yang tinggi. Atau sekedar orang-orang dengan hidup yang penuh masalah yang perlu perenungan. Yang manapun, ini adalah malam untuk setiap orang bermetamorfosis untuk jadi lebih baik di esok hari.
Begitu pula yang terjadi di rumah milik Sasuke dan Naruto. Setelah dengan sekuat tenaga menggendong Naruto pulang, Sasuke kini mendapat masalah baru. Naruto tak mau turun dari gendongannya. Tangannya sangat erat mencengkeram kemeja Sasuke. Seolah-olah hal itu lah yang menopang hidupnya.
Mengacuhkan rasa lapar yang sedikit muncul, Sasuke pun akhirnya ikut membaringkan diri di samping Naruto. Mencoba menawarkan rasa hangat untuk mengganti rasa letih dan lapar. Dan benar saja, baru sekejab dia berbaring, kenyamanan berada di samping Naruto, membuatnya dengan cepat menuju pulau mimpi.
Namun, belum lama mereka tidur, udara dingin yang masuk dari jendela yang terbuka, membuat Naruto terbangun. Masih setengah sadar, dia dengan cepat mencari sumber hangat di sebelahnya. Sasuke pun dengan senang hati memeluk pemuda itu kian erat.
Naruto terseyum tanpa sadar. 'Sasuke'.
Tapi dalam sekejab, kesadaran menghantamnya. Posisi ini, rasa hangat ini, jelas bukan hal yang biasanya dia dapat saat tidur sendirian. Dengan cepat, dia berusaha membebaskan diri dari pelukan Sasuke.
Sasuke sendiri dalam keadaan masih terlelap, hanya bergeser sedikit. Tak rela kehangatan dari tubuh Naruto menghilang.
Naruto mengangkat sebagian tubuhnya. Memperhatikan laki-laki lain yang terlelap itu. Dia tersenyum kecil. Dengan perlahan menyentuhkan ujung jarinya ke pipi pucat Sasuke. Mencoba merasakan tekstur wajah pria itu. Hanya sentuhan kecil, seolah-olah takut jika sentuhan itu akan merusak wajah Sasuke. Namun melihat Sasuke tak merespon, Naruto semakin berani.
Dia mengelus lekuk-lekuk halus wajah itu. Mencoba mematrinya di dalam ingatan. Dia tak ingin melupakan Sasuke. Walaupun kelak Sasuke akan melupakannya, dia tak peduli. Dia sudah menitipkan separuh hatinya pada pria yang lebih tua darinya itu. Dan dia tak merasa menyesal sama sekali.
Jatuh cinta pada seorang Uchiha Sasuke terasa sangat menyenangkan bagi Naruto. Dan selamanya, dia berniat akan terus jatuh cinta pada Sasuke. Sekalipun akan bertepuk sebelah tangan.
Ya, bertepuk sebelah tangan. Naruto tahu kalau perjalanan hidupnya tak pernah mudah. Tentu saja perjalanan cintanya akan bernasib sama. Apalagi dengan adanya Sakura. Dia tahu dia akan kalah. Dia tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan primadona sekolah itu.
"Sasuke-teme…" Bisiknya pelan. Tak ingin sang lawan bicara terbangun.
"Terima kasih untuk beberapa hari ini. Tampaknya sudah waktunya aku pergi. Sampai jumpa."
Dan dengan lembut, dia berusaha melonggarkan tangan di pinggangnya. Berusaha bangkit dan pergi tanpa suara.
Tapi baru saja kakinya menyentuh lantai kamar, sepasang tangan dengan cepat menjatuhkannya ke tempat tidur. Posisi berubah. Kali ini, Sasuke tampak berada di atas tubuhnya.
"Te-teme!" Naruto terkejut. Wajahnya memerah malu mengingat apa yang dilakukannya tadi saat Sasuke –atau mungkin pura-pura- tidur.
Sasuke menyeringai di atasnya. Wajahnya keliatan sedih tapi juga menakutkan.
"Jangan pikir kau bisa pergi dariku semudah itu."
Mata Naruto memanas. Dia tahu itu benar. Sekalipun dia pergi, selamanya dia akan mencari kesempatan untuk sekedar melihat wajah pria di depannya ini.
"A-aku, aku hanya akan jadi beban di hidupmu." Bisiknya lirih. Dia menolehkan wajahnya ke samping. Tak sanggup menatap wajah Sasuke lebih lama.
"Aku pembawa masalah. Nasibku penuh masalah. Lebih baik kau jangan terlibat."
Sasuke terdiam. Naruto yakin kalau pria itu akhirnya sadar dan akan melepaskannya. Walaupun di hati kecilnya, dia berharap bahwa Sasuke akan berlaku sebaliknya.
Sebuah sentuhan kecil di pipinya membuat Naruto kembali fokus pada Sasuke. Wajah pria itu tampak keras dan penuh tekad.
"Tidak akan. Aku tak peduli. Aku akan melakukan apapun asal kau tetap berada di sisiku. Kejahatan macam apapun akan ku lakukan. Kalau dengan itu kau akan tetap tinggal di sampingku, aku rela melakukannya berkali-kali…."
Lelehan air mata mengalir di pipi Naruto. Ucapan Sasuke itu terlihat seperti surga. Keteguhan di wajah Sasuke membuatnya yakin bahwa Sasuke benar-benar akan melakukan apa yang diucapkannya itu.
"Kau akan menyesal." Naruto berucap dengan bibir bergetar.
"Tak akan. Selamanya bersamamu adalah yang ku mau. Aku tak akan berubah pikiran."
Kata-kata yang diucapkan penuh keyakinan itu membuat air mata Naruto mengalir semakin banyak. Perlahan, dia melingkarkan tangannya di leher Sasuke. Mencoba meyakinkan bahwa apa yang dialaminya ini nyata. Bahwa Sasuke tak akan meninggalkannya.
"Do you love me, Dobe?" Sasuke berbisik perlahan tepat di telinga Naruto. Dengan tangan yang mendekap erat di pinggang Naruto.
Naruto membenamkan wajahnya di dada Sasuke. Mencoba menjawab tapi suaranya teredam. Lalu, perlahan dia mulai menggerakkan kepalanya. Menempelkan pipinya di pipi Sasuke.
"Yes, I do."
Jawaban singkat itu sudah lebih dari cukup. Tak perlu banyak kata. Cukup keyakinan bahwa mereka saling memiliki.
Dan sisa malam itu pun, berlanjut dengan kecupan-kecupan hangat yang dilayangkan Sasuke pada sang pujaan hati. Malam tak pernah seindah ini dalam hidup Sasuke dan Naruto.
^)TBC(^
Apa ini memuaskan? Apa ini jelek? Apa ini membosankan? Atau kurang romantis?
Silakan sampaikan uneg-uneg anda di review.
Mungkin saya tak akan membalasnya. Tapi saya pasti akan membacanya dan berusaha mengabulkan permintaan anda.
Jadi, tetap lah setia menekan tombol review ya! ^^
