Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Everlasting © Ichikawa Hikaru

Warning :Typo(s), AU, OOC, Lemon will appear soon.

Enjoy~!

Chapter 7A

Sakura melangkahkan kakinya dengan riang pagi itu. Dikepalanya masih berputar-putar kejadian kemarin sewaktu Gaara menunggunya selesai kegiatan klub music. Sesekali dia terkikik geli karena mengingat-ingat saat Gaara tersenyum tipis padanya. Sebenarnya tidak ada yang lucu, tapi entah mengapa Sakura merasa senang.

Flashback

Sakura sedang meniup-niup clarinet nya dengan suara yang menyakitkan telinga. Memang soal alat music tiup meniup gadis ini sangat payah sekali, tapi jika diberikan alat music yang menggunakan tangan dan kaki seperti biola dan drum (walaupun sakura tidak begitu pro dengan drum) gadis ini akan bermain dengan memukaunya. Tapi entah mengapa Iruka sensei langsung memberikannya clarinet tanpa bertanya apapun terlebih dahulu. Jadilah dia sekarang, memainkan clarinet dengan bunyi yang memekakkan.

"Oh Haruno-san, stop! Permainan clarinet mu terdengar seperti sapi yang kesakitan!" Iruka-sensei misah misuh karena permainan clarinet Sakura yang sangat teramat payah.

"Gomenasai sensei, saya tidak bisa bermain alat tiup apapun." Sakura balas menatap Iruka dengan agak kesal.

"Jadi apa yang bisa kau mainkan?"

"Saya bermain cello dan violin sejak kecil, juga piano dan saya juga bisa sedikit memukul drum." Jawab Sakura panjang lebar.

"Namikaze-san, berikan violin yang ada di sebelahmu pada Haruno-san." Setelah Iruka-sensei berkata seperti itu, Sakura melihat seorang pemuda pirang beranjak dari kursi di depan piano yang kemudian berlutut membuka kotak violin, mengambil violin coklat itu dan hendak memberikannya pada Sakura.

"Ehm, Iruka-sensei, bisakah saya memakai violin saya sendiri? Saya sudah memakainya semenjak recital pertama saya sewaktu masih kecil." Tiba-tiba Sakura berbicara dan membuat gerakan si pemuda pirang terhenti dan membuat senseinya itu mengrenyitkan alis.

"Apa kau membawanya?" Tanya Iruka-sensei

"Hai." Jawab Sakura singkat.

"Yah, baiklah. Kau boleh memakainya." Sakura pun bergerak menuju tas dan barang-barangnya yang diletakkan di pojok ruangan music, kemudian berlutut dan membuka kotak violinnya sendiri. Lalu ia menarik sebuah violin yang sepertinya sangat rapuh namun sangat indah yang berwarna coklat gelap, lebih gelap dari pada violin yang biasanya. Violin itu memesona, antik namun tak ada sedikitpun goresan di violin itu. Kemudian Sakura menarik busur violinnya yang terlihat tidak biasa. Gadis itu menggosok rambut busur tersebut terlebih dahulu dengan rosin dengan gerakan yang lembut. Sakura pun berdiri, meletakkan badan bawah violinnya di bahu kanannya lalu menyangga dagunya sendiri di penyangga dagu violin itu. Seketika ruang music itu hening, semua mata hanya tertuju pada Sakura saat gadis itu memejamkan matanya sekilas, mencoba mengumpulkan feel dari lagu yang akan dimainkannya. Sakura pun mulai menggesek biolanya diawali dengan gesekan yang sangat lirih namun sekejap berubah menjadi cepat dan mencekam. Semua orang langsung mengenali bahwa kunci-kunci yang dimainkan Sakura adalah sebuah melodi yang berjudul di'a'vertiment karya composer terkenal Iwasaki Taku. Tapi yang mengherankan adalah walaupun pada melodi aslinya menggunakan perpaduan cello dan violin namun ketika Sakura memainkan semua kuncinya hanya menggunakan violin saja tetap tidak mengurangi rasa mencekam yang tiba-tiba menyergap semua hati para penontonnya. Menakjubkan, bagaimana music bisa menyihir semua orang yang ada di ruangan tersebut. Tiba-tiba suara cello yang berat dan tak kalah mencekam membaur dengan bunyi violin yang melengking tinggi. Sakura melirik sekilas, ternyata pemuda pirang tadi yang duduk di atas kursi piano turut menggesek sebuah cello coklat dari bangkunya itu. Tiba-tiba melodi berubah lirih dan menghanyutkan, kemudian berubah lagi cepat menuju penghujungnya. Sakura dan pria pirang itu menghentikan permainannya dengan tatapan takjub semua orang namun hanya pada gadis itu. Mereka semua seakan baru menyadari sesuatu. Saat Sakura membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat, ruang music itu riuh rendah akan tepukan tangan semua anggota klub dan tentu saja Iruka-sensei juga. Sakura pun mengarahkan pandangannya kepada si pemuda pirang yang diketahuinya bernama Namikaze-san kemudian tersenyum lebar pada pemuda itu yang dibalas dengan senyuman yang tak kalah lebarnya pula.

"Wah-wah, bagaimana aku bisa lupa bahwa kau Nona Haruno yang itu? Bodohnya aku mengapa aku malah memberimu clarinet?" Ucap Iruka masih dengan wajah takjub.

"Haha, biasa saja sensei." Ucap Sakura malu.

Setiap Violist di Jepang apalagi yang muda walaupun tidak tahu bagaimana rupa orang itu, namun pasti pernah mendengar nama Sakura Haruno. Gadis muda yang sangat cemerlang ketika memainkan semua alat gesek dan petik. Cello, Violin, Harpa, Gitar adalah keahlian gadis ini. Tangannya luar biasa, walaupun masih muda telah menjuarai kompetisi-kompetisi tingkat nasional bahkan sempat bersaing di kancah Internasional walaupun tidak menjadi juara pertama di dunia, paling tidak Sakura Haruno adalah nomor 1 di negaranya untuk remaja seusianya.

"Hebat sekali, inikah Violin mu yang luar biasa itu, Nona Haruno? Kalau boleh tahu, apa kelebihannya?" tatapan Iruka-sensei mengarah kepada Violin yang ada di genggaman Sakura.

"Uhm, tidak ada kelebihan khusus sensei, hanya saja aku menganggap Violin ini adalah bagian dari diriku yang sangat berharga. Dan yaah, memang ada sedikit kelebihan pada busurnya." Jawab Sakura malu. Walaupun telah sering dipuji tentang permainan Violinnya, Sakura tetap saja masih suka tersipu jika ada yang memujinya.

"Kalau boleh tahu, apa itu?" Tanya Iruka Sensei penasaran. Sakura pun mengangkat busur violinnya ke depan wajahnya, ke depan Iruka sensei dan semua anggota klub music.

"Sensei lihat rumbut busur ini?" Iruka sensei pun mendekat dan melihat rambut busur Sakura. Kemudian menyentuhnya. Iruka sensei kaget saat merasakan teksturnya yang agak sedikit berbeda dengan rambut busur yang biasanya dan Sakura pun cepat-cepat menjelaskan "Busur ini tidak menggunakan melainkan masih menggunakan rambut ekor kuda putih seperti busur violin yang terdahulu." Iruka-sensei pun manggut-manggut mendengar penjelasan Sakura, namun tiba-tiba mengrenyitkan dahi lagi.

"Tapi bagaimana kau bisa mendapatkan busur seperti itu?" Tanya Iruka-sensei

"Entahlah, sepertinya itu hadiah dari Kami-sama. Seseorang dari pengiriman barang mengirimkan busur dan violin ini sebelum recital pertama ku." Jelas Sakura sambil tersenyum, namun membuat Iruka mengrenyitkan dahi lagi. Bagaimana bisa? Namun Sakura benar-benar tidak berbohong tentang itu. Violin ini memang muncul begitu saja, bahkan Sakura tidak tahu siapa pengirimnya. Setelah menutup pembicaraan mereka Iruka-sensei pun membubarkan kegiatan klub dan mengatakan kegiatan klub music akan diadakan 3 hari lagi pada waktu dan tempat yang sama. Setelah itu semua murid pun bubar.

Sakura berjalan cepat berusaha menyamai langkah kaki pemuda pirang yang menenteng tas cello, pemuda yang mengiringinya bermain tadi.

"Namikaze-san." mendengar panggilan seseorang pria itu sontak menelengkan kepala ke asal suara, ternyata gadis pink itu, Sakura Haruno. Namikaze pun menghentikan langkahnya berbarengan dengan berhentinya langkah Sakura. Sakura pun mengulurkan tangannya dan langsung dijabat hangat dengan pemuda Namikaze.

"Sakura Haruno."

"Namikaze Naruto." Naruto pun melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar ruang music yang sangat besar itu di iringi dengan Sakura.

"Tidak keberatan kalau aku panggil Naruto-kun?"

"Tidak apa. Tidak keberatan aku panggil Sakura-chan?" Tanya Naruto masih dengan senyum hangatnya yang sehangat mentari pagi, seketika membuat Sakura nyaman untuk berdekatan dengannya.

"Tidak apa. Hey, ngmong-ngomong kau bermain cello? Dan di'a'vertiment? Wow." Sakura tidak menyembunyikan kekagumannya dan hanya dibalas cengiran bersahabat dari Naruto.

"Yaaah, begitulah. Hahaha. Aku payah sekali dalam pelajaran, tapi setidaknya aku cukup oke dibidang ini."

"Souka? Selain cello kau bisa bermain apa lagi?" Tanya Sakura.

"Semua alat tiup yang kau tahu," Sakura meringis kecil "lalu piano, gitar, dan drum. Tapi aku payah sekali jika disuruh memegang Violin." Naruto misah misuh

"Haha, Honto? Padahal kunci cello tidak jauh berbeda dengan violin. Itu keren sekali! Kau lihat tadi aku bermain clarinet? Seperti orang tolol." Wajah Sakura berubah sedikit masam sehingga membuat Naruto terkekeh kecil.

"Tapi sebenarnya—"

"Sakura-san!" Mereka telah keluar dari ruang music saat mereka mendengar seseorang memanggil si gadis Haruno.

"Gaara-kun!" Sakura balas menyahut panggilan Gaara. Naruto yang sebenarnya sedikit sebal karena perkataannya telah dipotong oleh seseorang namun ekspresinya segera berganti menjadi terkejut dan bingung, bukan karena Itu adalah Gaara yang mencari Sakura—wajar karena mereka sesame ketua murid—melainkan karena Gaara memanggil nama kecil Sakura. Gaara yang dingin yang hanya mampu bersikap hangat hanya pada orang tertentu, termasuk dirinya. Gaara teman baiknya semasa di Shogakko.

"Gaara?" penggil Naruto ragu. Seakan baru menyadari keberadaan Naruto, Gaara sedikit terkejut mendengar panggilan itu.

"Hei Naru! Kau ada?" Jawaban Gaara membuat Naruto mengrenyitkan dahi cukup dalam, saat itu pula Gaara ingin menggeplak kepalanya sendiri karena merasa bodoh sekali. Tentu saja Naruto ada disana! Memangnya siapa yang mengajarinya bermain gitar dulu sewaktu masih di Shogakko?

"Tentu saja aku ada disini." Respon Naruto dengan nada yang aneh, membuat Gaara merasakan perasaan tidak enak seketika. Sepertinya dia akan diinterogasi nanti malam.

"Naruto-kun, kau kenal Gaara-kun?" Tanya Sakura bingung. Segera Naruto mengalihkan pandangannya pada Sakura lagi dan memberikan senyuman tipis.

"Yah begitulah. Tuan Sabaku ini sahabat baikku dari Shogakko." Jawab Naruto pada Sakura. Mendengar panggilan 'Tuan Sabaku' Gaara pun mendelik pada Naruto.

"Hontodesu ka? Suge~ kalian berdua sama-sama keren!" Sakura menjawab dengan polos membuat Gaara tersenyum tipis. Hal ini pun tak luput dari mata Naruto. Kemudian dengan tak terduga sebuah seringai muncul di wajah tampan Naruto.

"Sakura-chan~" Naruto merangkul pundak Sakura membuat Gaara melotot seketika.

'Chan?' Ulang Gaara dalam hati. Gaara pun memperhatikan ekpresi Sakura dengan lekat. Bukannya merasa risih, Sukura malah tidak menghilangkan senyumnya dan menatap Naruto.

'N-nani? K-kore wa…nani?' Gaara masih terkejut dalam hati.

"Nani?" Tanya Sakura pada Naruto. Naruto melirik Gaara yang masih melotot sekilas kemudian berkata lagi pada Sakura.

"Hari ini ajari aku Violin ya? Mana tahu kalau diajari gadis cantik aku bisa cepat mahir. Biasanya yang mengajari ku tante-tante keriputan! Mau ya sensei?~" Naruto mengeluarkan segenap pesona yang dimilikinya untuk menarik gadis-gadis untuk mendekat padanya.

'I-ie! Anata ga suru koto wa dekimasu! Siapapun asal jangan dia!' tiba-tiba Gaara sudah kesal sendiri dalam hatinya. Namun ekspresinya tidak berubah, malah kembali normal, dingin seperti biasanya. Namun pemuda Sabaku ini tidak dapat menyembunyikan seberkas raut ke khawatiran dari wajahnya. Memang fangirl Naruto sewaku di Shogakko tidak sebanyak fangirlnya, tapi siapa yang bisa menolak Naruto? Tampan, hangat, humoris, menyenangkan, ditambah lagi kaya? Dulu, tidak sedikit fangirlnya yang berubah haluan menjadi fangirl Naruto. Naruto kadang bisa begitu bodoh, tapi bisa begitu memikat jika pemuda pirang itu menginginkannya. Kembali Gaara memperhatikan ekspresi Sakura lekat-lekat. Sepertinya gadis ini tidak mudah terpengaruh…baguslah.

Sakura bingung dengan perubahan sikap Naruto yang tiba-tiba berubah, namun gadis itu hanya menanggapi dengan tertawa kecil sambil melepaskan rangkulan Naruto.

"Gomen Naruto-kun, aku sudah membuat janji dengan Gaara-kun. Tidak apa kan?" jawab Sakura dengan sedikit rasa tidak enak. Untungnya Naruto tidak mengendurkan senyumnya.

"Um, nai mondai. Bagaimana kalau besok?" saat Sakura hendak mengiyakan tiba-tiba Gaara menarik tangan Sakura hingga Sakura bergerak mendekat padanya.

"Gomen, Naru. Tapi Sakura san juga akan bersama ku besok." Kata Gaara tiba-tiba. Sakura pun segera menatapnya heran dan saat itu pula Gaara ingin membenturkan kepalanya ke dinding karena dengan bodohnya berbicara seperti itu. 'Bersama ku? Buat janji saja belum! Baka Gaara!' kesalnya dalam hati. Untung saja ekspresinya tidak berubah. Kalau sempat berubah sedikit saja, Naruto pasti akan mengoloknya habis-habisan nanti.

"Souka? Wakatta. Jaa na, Sakura-chan!" Naruto berkata cepat sambil tersenyum aneh, dan sebelum pergi Naruto mengelus rambut Sakura singkat, membuat Sakura sedikt memerah. Gaara melotot lagi.

"Jadi, kau dekat dengan Namikaze itu?" Gaara mencoba bertanya pada Sakura

"Nggak. Aku baru mengenalnya tadi. Dia hebat sekali bermain cello, bahkan mengiringi permainan violin ku tadi." Gaara mengrenyitkan dahi mendengar perkataan Sakura yang ini. Gadis ini bisa bermain violin? Oh, cocok sekali sengan si baka itu!

"Gaara-kun? Jadi… café?" Tanya Sakura ragu karena tiba-tiba Gaara tenggelam sendiri dalam pikirannya.

"Hn." Gaara melangkah mendahului Sakura ke white lambhorgin nya yang kemudian diikuti oleh Sakura.

(end half of chapter)

* Anata ga suru koto wa dekimasu! = You can't!

Minna-sama! Gomen hamba baru bisa up sekarang, mana cuma setengah chap lagi! Ah! *pundung ngorek aspal* gomenasai, salahkan koneksi, jangan salahkan hamba A minna-sama, review akan dib alas di akhir chap 7 yang hamba usahakan update dalam waktu dekat, jadi tetap support hamba ya minna-sama, to be true, hamba agak stuck sama cerita ini. Semua yang sudah terkonsep tiba-tiba hamba ngerasa hambar dan harus hamba rombak ulang. Jadi, maaf ya? Please review supaya hamba tau minna-sama bosan kah sama cerita ini? Ok? Domo Arigatou buat minna-sama yang sudah follow twitter hamba! It's so nice to be closer with readers, hoho~ Then, yang soal fic Gather roses hamba mohon minna-sama bersabar nunggu sequel nya, otak pervert hamba kayanya lagi kesumbat lemak (?) yang pasti lagi on going juga, mohon bersabar ya! Last, let's pray for Japan yang lagi kena Tsunami, mari berdoa untuk Akihabara, Otaku, AKB48 (LOL), bang Ruki the Gazette dan bang Byou Screw. Hope God always bless them.

Once again, REVIEW please!

Kampaii!

Ichikawa Hikaru