copyright © 2016 by crownacre

BEAUTIFUL DISASTER

seperti sebuah dosa yang manis

Park Jimin and Min Yoongi fanfiction

[ NOTE ]

Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.

[ WARNING ]

OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated

Terdapat beberapa kalimat kasar dan dirty talk yang mungkin akan menganggu

Yoongi tengah berjalan-jalan di trotoar dengan tas kecil menyampir rapi di bahunya. Angin sore terkadang terlalu berlebihan hingga membuatnya menyesal menggunakan rok favoritnya untuk berjalan-jalan karena daripada memegang sampiran tas ia lebih sering memegang roknya. Ia memakai dalaman memang, tapi Yoongi tidak menggunakan dalaman untuk dipamerkan jelasnya.

Hingga saat ia akan menyebrang, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu menimpa bahunya cukup untuk menambah beban di sana. Rasanya dari punggung hingga seluruh pahanya tertempeli sesuatu dan ia yakin itu sebuah jaket saat tangannya terangkan untuk menyentuh benda itu. Matanya mencari ke sana kemari dari mana asal benda itu dan menemukan tubuh tinggi Jimin saat ia mendongak. Ia terkesima beberapa saat melihat senyuman tampan Jimin, mengabaikan suara lampu hijau untuk pejalan kaki yang berbunyi bahkan lalu lalang orang di sekitarnya. Jimin jauh lebih menarik daripada tujuannya ke toko coklat milik Jieun—sahabatnya.

Mari sebentar membicarakan Jimin, membicarakan bagaimana ia dengan pakaian kasual santai, terlihat indah dengan rambutnya yang biasa dibuat klimis kini jadi lebih lemas dan jatuh. Bajunya pun bukan lagi kemeja kerah kaku dibalut jas serta celana bahan, ia hanya menggunakan kaos bercorak kotak-kotak besar monokrom dan celana jins membalut rapi tubuhnya. Yoongi tidak bisa untuk tidak terpesona karena sekarang Jimin yang santai seperti seorang laki-laki tampan tanpa beban. Luar biasa indah.

"Hey," suara Jimin menyadarkan Yoongi dari keterkagumannya, membuat gadis itu terkesiap. Jimin terkekeh, suaranya tenang seperti air dan matanya lenyap, begitu memesona. "Sendiri saja?"

Yoongi mengangguk manis dengan mata melebar. Ia menggaruk tengkuk terlihat kikuk, "Anda sendiri, Tuan Park?"

"Aku berniat menemui Seolhyun dan Jihyo di café ujung jalan," jemari Jimin menunjuk ke arah sebuah café kecil yang selalu terlihat begitu mewah bagi Yoongi tiap melewatinya. "Mau ikut denganku?"

"O–oh?" Yoongi segera menggeleng mendengar pertanyaan Jimin, bibirnya menyunggingkan senyum tipis penuh sopan santun pada sosok yang lebih tinggi. "Saya harus ke toko coklat Jieun."

"Ingin membeli coklat?"

"Tidak juga," Yoongi terkekeh kecil. "Saya ingin bermain menemui teman saya."

Jimin dengan tiba-tiba menggandeng tangan Yoongi sambil menarik tubuh kurus itu lebih dekat. "Ikut aku ke café dan aku antar kau ke sana. Bagaimana?"

"Tapi Tuan—"

"Itu sebagai biaya sewa mantelku," senyuman penuh dominasi lagi-lagi ke luar dari bibir Jimin. Matanya menatap tubuh kecil Yoongi dari atas ke bawah dan menyadari coat itu membantu banyak agar rok pendek Yoongi tidak tertiup angin. "bagaimana? Sepertinya rok mu butuh bantuan mantelku."

Yoongi menghela napas kemudian mengangguk pasrah. "Baiklah, Tuan. Saya benar-benar berterima kasih."

Jawaban dengusan jengkel dari Jimin membuat Yoongi terkesiap, ia menatap bingung atasnnya yang membuat ekspresi tidak senang.

Jimin sendiri menatap wajah Yoongi kemudian melembutkan pandangannya. "Berapa umurmu?"

"Umur?" Yoongi membeo dengan wajah blank yang berharga. Matanya membulat bingung seperti saat menyadari bahwa sosok yang menyampirkan mantel tadi adalah Jimin. "Saya dua puluh tujuh, Tuan."

"Great, aku dua puluh lima," mata sipit Jimin lenyap beberapa saat karena bibirnya menyunggingkan senyuman. "Aku akan memanggilmu noona dan kau panggil aku Jimin. Lakukan itu ketika kita tidak dalam kantor. Jangan memanggilku Tuan tiap saat tiap kita bertemu. Bagaimana?"

Nyaris mulut Yoongi menganga tidak percaya, memberi reaksi berlebihan atas pernyataan mengejutkan yang Jimin berikan. "Tapi Tuan—"

"Noona," Jimin menatap ke dalam mata sipit Yoongi. "Kalau kau memang bersikeras memanggilku Tuan, aku jamin ketika di kantor pun aku akan tetap memanggilmu Noona."

"Jangan!" Yoongi memekik heboh membuat Jimin tersenyum dan kembali teringat pada pekikan berlebihan Yoongi saat Jimin berniat menggantikan sepatu yang Yoongi kenakan. "Baiklah, Jimin. Park Jimin. Kau Jimin dan aku Noona, jangan panggil aku Noona di kantor."

Bibir Jimin pun melebar penuh rasa bahagia dan ia mengangguk. "Senang mendengarnya."

Yoongi menurut saat jemarinya digenggam lengan hangat Jimin dan dibawa menuju sebuah café dengan nuansa coklat yang indah dan menarik, aroma kopi selalu menguar menyenangkan khas sebuah kedai kopi. Yoongi selalu senang saat wajahnya seperti tertimpa jutaan bau menyenangkan dari biji hitam yang digerus mesin dan mengalir menuju cangkir kecil setelah tersiram air, bau yang tidak akan terlewatkan masuk ke dalam aroma menyenangkan setelah bunga mawar kesukaannya.

"Seolhyun yang membuat café ini," Jimin bersuara saat melihat Yoongi menatap takjub ke sekeliling ruangan penuh dengan ornamen indah di tiap dinding. Tertata rapi dan begitu menarik untuk terus memperhatikan sekeliling. "Dan sepertinya sang pemilik tengah berada di lantai atas bersama bosmu."

Yoongi terkekeh kecil mendengar Jimin mengatakan bosmu padahal jelas-jelas dirinya pun juga bosnya, bahkan dalam porsi lebih banyak karena ia memiliki Yoongi sebagai bawahan lebih dari lima jam. "Tu—ah, Jimin, apa tidak masalah aku ikut?" Ia bertanya dengan wajah khawatir.

Anggukan dengan senyuman membuat Yoongi meringis. Sosok yang sudah menapakkan kakinya di tangga kemudian menatap Yoongi kembali dari atas ke bawah, dan setelah itu ia berdiri di belakang Yoongi. "Kau naik lebih dulu, Noona," ujarnya dengan wajah tenang setelah matanya mengedar dan meyadari beberapa laki-laki duduk di meja dekat tangga. Ia berniat menjaga Yoongi dari pandangan nakal laki-laki, menutupi dari belakang—dan sialnya Yoongi tidak paham akan hal itu.

Yoongi menurut, dengan kaku ia memegang sisi tangga lalu melangkah naik. Terkesiap sebentar saat merasakan Jimi nada begitu dekat dengan dirinya, menjaga bagian belakangnya dari orang-orang yang bisa saja melihat dari bawah.

"Hati-hati," Jimin bersuara khawatir saat langkah kaku Yoongi goyah, seperti salah berpijak dan membuat hak pendek sepatunya tergelincir dari ujung anak tangga. Beruntung Jimin dengan sigap menangkap tubuh Yoongi.

Yoongi mengangguk setuju dengan ringisan merasa bersalah, "maaf," ia menggumam sebelum kembali melangkah naik.

"Oppa!" Seseorang dari arah belakang memanggil keras setelah kepala Jimin terlihat dari tempat orang itu berada, yang dipanggil pun menoleh dan memberi senyuman.

Mengakhiri langkahnya di anak tangga paling atas, sosok yang tadi dipanggil dan diberi lambaian ringan itu menarik lengan Yoongi menuju dua gadis yang duduk di bangku dengan payung besar yang indah di atasnya, melindungi diri mereka dari panas.

"Hai Seolhyun, hai Jihyo, aku membawa Noona-ku," Jimin tersenyum menyapa dua gadis yang duduk. Sosok yang dikenalkan pun menunduk malu sambil mengigit bibir bawah.

"Yoongi?" Suara Seolhyun dan Jihyo lolos bersamaan, terkejut melihat gadis yang di bawa Jimin.

"Yoongi–eonni!" Jihyo bersuara lebih dulu, terkejut menyadari orang yang digandeng kakaknya jelas bukan orang asing bagi dirinya. "Yoongi–eonni kekasih Jimin–oppa?"

Yoongi yang mendapat pertanyaan itu mendongak dan menggeleng keras, tangannya yang tidak dalam genggaman Jimin bergerak heboh menolak pertanyaan yang Jihyo lontarkan. "Kita hanya kebetulan bertemu tadi di jalan."

"Jimin–oppa tidak akan sebaik itu membawa bawahannya ke café ini dan membiarkannya bertemu denganku dan Seolhyun–eonni. Kalian pasti punya hubungan khusus, 'kan?"

"Kau tahu aku bawahan Jimin?" Mata sipit Yoongi melebar, tidak percaya dengan pernyataan Jihyo beberapa menit lalu.

Jihyo terkekeh dan mengangguk, pipi tembamnya terlihat begitu manis saat bibirnya terbuka untuk tertawa seperti itu. "Seolhyun–eonni bercerita padaku baru saja tentang dirinya yang mengajak seorang gadis mungil manis bernama Min Yoongi berjalan-jalan ke mall yang merupakan bawahan Jimin–oppa."

"Kalian sudah saling kenal," suara satu-satunya laki-laki di situ menginterupsi, sosok yang bersuara kemudian menarik bangku dan mempersilakan Yoongi duduk terlebih dahulu sebelum dirinya menyusul duduk di sebelah sosok cantik itu. "Itu berarti kita bisa mengobrol akrab 'kan?"

.

"Jimin, terima kasih banyak untuk yang hari ini," Yoongi tersenyum tulus, merasa bersyukur bisa mendapatkan sosok Jimin saat tadi roknya terlalu mudah terbawa angin dan sosok itu muncul dengan mantelnya membuat roknya jadi lebih tenang, juga hal-hal setelah itu.

Jimin sendiri mengangguk dan tersenyum dari dalam mobil, menatap Yoongi yang sudah di luar sambil memegang pintu siap di tutup. "Tapi kau harus membayar yang hari ini, Yoongi."

Mata sipit itu terbelalak kaget, menatap terkejut pada Jimin. "Y–ya? Membayar dengan apa?"

Senyuman tipis dengan sedikit imbuhan seringaian terpatri di wajah Jimin, ia menatap tepat ke mata Yoongi yang nyalang dan mengunci di dalam pandangannya. "Temani aku ke pesta pemilik Coex Mall lusa, aku mau kau menjadi pasanganku di sana. Besok pulang kerja kita beli baju dan sepatu yang perlu kau gunakan. Bagaimana?"

"A–apa?" Suara Yoongi meninggi, terlalu terkejut dengan syarat pembayaran yang Jimin berikan. Ia mendadak seperti kehilangan kesadaran penuh karena yang Jimin ucapkan benar-benar mengejutkan, seperti mendapat nilai seratus di pelajaran kalkulus.

"Aku tahu kau mendengarnya. Jangan menolaknya atau gajimu bulan ini tidak akan ke luar. Sampai jumpa besok sore, Noona."

Jimin menjalankan mobilnya dan membiarkan Yoongi berdiri di tempat dengan wajah hilang akal yang berharga. Sempat menyalahkan diri sendiri untuk tidak mengabadikan wajah itu, tapi lagi pula ia akan menemukan kebahagiaan besok dan lusa, jadi bukan masalah. Ia sekarang semakin dekat dengan Min Yoongi.

.

"Akh! Aku bisa gila!" Yoongi berteriak keras sambil membanting tubuhnya jatuh ke sofa, membuat Seokjin yang berada di dapur melongok dengan bingung pada sahabatnya yang pulang dengan teriakan.

Seokjin mematikan kompor setelah menyadari rebusan sup jagungnya sudah matang dan enak, ia lalu menghampiri sahabatnya begitu melepas dan menggantung apron di tempat ia biasa menggantungkannya. Ia duduk di single sofa untuk sekedar melihat Yoongi yang terbaring putus asa. "Apa masalahmu bocah?" Ia bertanya setelah Yoongi benar-benar seperti orang mati sejak tadi tanpa pergerakan apapun kecuali dada tipisnya yang naik turun kala bernapas.

Yoongi duduk cepat hingga Seokjin memekik dan menyebutkan nama Tuhan banyak kali, terkejut pada gerakan tidak manusiawi sahabatnya. Yang duduk pun merengut, bibirnya bisa jatuh jika otot tubuhnya tidak dibuat dengan sangat baik untuk menjaga benda itu tidak meleleh ke bawah. "Bagaimana menurutmu tentang seorang laki-laki yang mengajamu pergi ke pesta?"

"Wow—," mata bulat Seokjin terbelalak, terkesima pada pertanyaan Yoongi yang luar biasa. Sejak kapan Yoongi peduli pada ajakan pesta? Dia bahkan sudah melupakan eksistensi laki-laki sebagai lawan jenis yang perlu didekati dan dipikirkan sejak patah hati di sekolah menengah dulu; ia memandang laki-laki sebagai teman bermain dan itu terbukti pada Hoseok. "Siapa orang yang mengajakmu pergi memangnya?"

"Jawab dulu pertanyaanku!" Suara Yoongi terdengar jengkel bercampur frustasi.

Melihat sahabatnya yang seperti orang kalap, ia pun terkekeh dan mengangguk mengiyakan. "Baiklah, Min Yoongi," ia menghentikan kekehannya susah payah saat mendapati death glare dari Yoongi yang mengerikan. "Menurutku? Kalau menurutku dia menyukaiku lalu ingin lebih dekat denganku atau karena dia tidak memiliki teman kencan untuk di ajak ke pesta lalu ia berpikir ia memerlukanku setidaknya untuk teman mengobrol."

"Kalau kau tidak akrab dengan laki-laki itu, bagaimana?"

"Aku positive thinking kalau dia menyukaiku," ia tersenyum. "Jadi, siapa orang yang mengajamu ke pesta."

"Park Jimin."

"Oh, Park Ji—APA?!" Seokjin berteriak nyaring menyadari nama yang Yoongi sebutkan. Matanya menatap takjub sosok sahabatnya dengan binar yang mengerikan, memberi ekspresi menggelikan karena kagum pada nama yang baru saja ia dengar sebagai orang yang mengajak sahabatnya menuju sebuah pesta. "Yoongi, kau serius?!"

Anggukan lesu Yoongi terlihat begitu jujur, "aku tidak pantas ke sana, Seokjin-ah."

"Kau diajak ke pesta apa? Coex Mall?" Seokjin terkekeh kecil,

sialnya anggukan Yoongi cukup untuk membuat Seokjin kembali bersuara heboh dengan mata lebih nyalang daripada sebelumnya. "Kau serius? Wow! Aku bahkan tidak bisa masuk jika Namjoon bukan orang yang mengajakku ke sana karena dia yang membuat lagu khas Coex Mall. Daebak! Kau benar-benar daebak!"

"Daebak kepalamu!" Mata Yoongi mendelik jengkel, menatap kesal Seokjin dan melemparinya dengan bantal yang sebelumnya ada di punggung. "Yang benar saja, Kim Seokjin! Aku bukan siapa-siapanya, kenapa dia mengajakku?"

"Dia menyukaimu. Omong-omong mantel siapa itu di sofa?" Seokjin menuding mantel hitam yang ada di sofa dengan gerakan matanya.

"Astaga!" Yoongi memekik, teringat pada benda yang sejak tadi bertemu dengan Jimin berada pada bahunya. "Ini milik Jimin—dan jika aku mengembalikannya besok, bisa-bisa aku diseret di bawa ke toko baju untuk membeli dress seperti yang ia katakan tadi. Astaga, Seokjin, aku tidak mau datang!"

Seokjin terkekeh melihat sahabatnya yang heboh. "Kau harus datang, itu undangan spesial."

"Aku bahkan tidak mendapat telur," bibir tipis itu kembali merengut.

"Kau pikir martabak apa? Lawakanmu garing!"

.

.

.

"Noona?" Suara seseorang dari arah belakang membuat Yoongi meloncar terkejut. Ia hampir berteriak saat melangkah menuju bandari jika saja ia tidak punya kontrol diri yang cukup baik.

Yoongi menoleh, menemukan sosok Jimin yang tersenyum lebar di belakangnya hingga matanya lenyap. Itu orang yang seharian ini ingin Yoongi hindari dan berhasil saat di kantor, lalu kenapa ia gagal menghindari sosoknya saat berniat menuju tempatnya bekerja part time?

"Ya, Tuan Park?" Ia menjawab sopan dengan ekspresi jengkel yang tak ketara, membuat wajahnya seramah mungkin daripada harus bersikap tidak baik pada atasannya dan setelah itu mendapat black list.

"Membeli baju dan sepatu, kau lupa?" Sosok itu terkekeh sambil meraih lengan kurus Yoongi. "Kau seharusnya ingat pada bayaran yang kau berikan."

Padahal sebenarnya Yoongi siap sedia gajinya tidak diberikan selama sebulan ini karena ia tidak ingin pergi ke sebuah pesta besar. Park Jimin benar-benar hebat dalam memaksa kehendak.

Tidak tahu sejak kapan mobil hitam mengkilap Jimi nada di dekatnya, tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam mobil itu lagi setelah belum lewat dua puluh empat jam lalu di dalamnya. Ia menghela napas tipis saat menyadari satu-satunya kesempatan yang ia punya untuk kabur sudah lenyap, apalagi setelah Jimin mengatakan dirinya telah menelepon Jihyo bahwa Yoongi tidak bisa berangkat bekerja hari ini. Terkadang seorang ketua memang sosok yang berperan sebagai dominan menjengkelkan; jika di generalisasikan berarti pemeran antagonis.

Mereka tiba di sebuah butik dengan nama JK Boutique yang lambangnya terpampang jelas di depan. Warna putih yang elegan terlihat begitu indah menghiasi hampir seluruh sudut tempat itu, terlihat dari dinding kaca luar meski beberapa manekin berdiri angkuh dengan jarak renggang di balik dindingnya.

"Ayo turun," Jimin menarik pelan lengan Yoongi yang sejak tadi tidak ke luar, memaksa tubuh kurus itu agar mau masuk ke dalam butik putih yang terlihat begitu terang di sana. Karena memiliki kekuatan lebih besar, tentu saja Yoongi pasrah dan membiarkan dirinya ditarik ke luar untuk masuk ke dalam sana.

Saat tiba di dalam, seorang gadis berambut panjang warna coklat gelap menghampiri mereka. Yoongi menggumam kagum pada sosok cantik dengan pakaian apik yang menarik, senyumnya ramah dan mata bulatnya terlihat begitu indah, belum lagi saat ia tersenyum lebar gigi kelincinya terpamerkan sempurna. Ia terlihat seperti gadis cantik dari surga, indah sekaligus menarik hati.

"Jungkook-ah," sapaan Jimin dengan senyuman sopan membuat gadis yang terlihat lebih tinggi dari Yoongi namun tetap lebih rendah dari Jimin melenyapkan mata bulatnya menjadi bulan sabit.

Gadis itu melirik Yoongi dengan ramah sambil memperhatikan penampilan gadis yang lebih pendek darinya dari atas ke bawah. "Hai," suara lembut seperti alunan musik merdu membuat Yoongi yang awalnya memasang ekspresi blank berubah kerkesiap dan menunjukkan senyuman. "Apa gadis ini alasanmu datang ke sini, Park Jimin?"

Jimin terkekeh, tangannya merangkul tubuh kecil Yoongi hingga makin merapat padanya. "Namanya Min Yoongi, dia temanku ke pesta besok. Bisa pilihkan pakaian terbaik untuknya? Aku mau dia jadi primadona karena pergi bersama seseorangku."

Jungkook, gadis dengan gigi kelinci yang manis, mengangguk paham dan tersenyum cerah. "Aku punya pakaian terbaik yang mungkin bisa ia kenakan. Tunggu di sini, biar aku ambilkan." Gadis itu kemudian melangkah menuju serentengan baju dengan desain yang indah, dalam hati Yoongi menggumam kagum pada keindahan pakaian di sana.

Jungkook kembali dengan dua dress formal warna merah agak gelap yang cukup terbuka, menarik perhatian Yoongi tapi membuatnya meringis kecil membayangkan dirinya memakai sesuatu seperti yang di bawa tangan kiri Jungkook. Jadi sebelum Jungkook mengatakan apapun, Yoongi langsung menunjuk dress pada tangan kanan Jungkook.

"Aku lebih suka yang itu," ujarnya cepat. Jari telunjukknya tertarah pada dress tanpa lengan dengan lace yang akan membalut bahunya jika digunakan, warna merahnya pasti akan terlihat begitu kontras dengan kulit putih pucat Yoongi.

Menyadari bagaimana cara Yoongi berpakaian dan pilihan dress-nya, Jungkook terkekeh kecil. Ia yakin bahwa gadis yang berada di sebelah Jimin pasti tidak biasa dengan memamerkan bahu terlalu banyak, itu sebabnya baju dengan lace yang membalut bahu jauh lebih menarik hatinya dibanding tanpa lengan yang bisa saja memamerkan dadanya.

Jungkook mengulurkan dress yang ada di tangan kanan untuk berpindah pada Yoongi, yang mendapat uluran pun menerimanya dengan senyuman dan mata berbinar kagum.

"Ini indah," Yoongi berkomentar melihat bagaimana dress di tangannya ternyata penuh dengan renda sederhana namun sangat elegan di seluruh permukaannya, membuat benda itu jadi terlihat begitu mahal karena terlihat seperti tanpa jahitan.

Jungkook tersenyum dan mengangguk, "sangat indah dan pas untuk dirimu. Seperti keindahan mawar putih yang bertemu dengan mawar merah, menarik dan memesona."

Jimin memperhatikan baju di tangan Yoongi kemudian tersenyum tipis, "Jungkook-ah, ganti pakaian Yoongi dan biarkan aku melihat keindahannya."

Mendengar permintaan Jimin, Jungkook pun menurut dan menarik lengan Yoongi menuju kamar pas di ujung ruangan. Ia mendorong masuk Yoongi dan membiarkan gadis itu mengganti pakaiannya di dalam.

Yoongi membuka pintu setelah mengganti pakaiannya dengan dress merah tadi, ke luar dengan wajah gugup yang lucu namun tidak melenyapkan keindahan mawar putih dan mawar merah yang melebur menjadi satu pada diri Yoongi.

Gadis itu benar-benar indah hingga Jimin menganga dan Jungkook berdecak kagum. Dibanding memiliki kecantikan layaknya Venus, Yoongi jauh lebih pantas disebut seseorang dengan daya tarik tersendiri tanpa perlu memperlihatkan keelokan wajahnya namun sangat menarik hanya dengan melihatnya dari atas ke bawah. Pada sosok itu tidak ada satupun cela, flawless, seperti Snow White yang punya daya pikat tersendiri meski rambutnya pendek—yang berarti bukan rambut khas seorang gadis cantik normalnya digambarkan.

Jimin melangkah dengan sejuta kekaguman pada keindahan di sebelah Jungkook, terpesona sepenuh hati akan sosok Yoongi. Ia lupa ada Jungkook di situ, kekasih sahabatnya yang juga pernah ia sukai dan ia klaim sebagai gadis paling cantik yang pernah ia lihat. Ia menyadari bahwa kecantikan Yoongi benar-benar tak tertandingi meski beberapa menit lalu Jungkook mengatakan gadis itu seperti mawar. Yoongi lebih indah dibandingkan mawar, lebih indah daripada Aphrodite ataupun Venus. Tidak ada yang seindah Yoongi di mata Jimin. Tidak ada kecuali Yoongi.

"Kau—," napas Jimin tercekat, kalimatnya tertahan dan tak mampu lolos begitu saja setelah meloloskan satu patah kata. Ia mengeram rendah melihat bagaimana merah gelap menantang putih pucat, sangat berani dan berbahaya.

"Amazing!" Jungkook menimpali kalimat Jimin yang tidak selesai, wajahnya menatap Yoongi penuh pujaan. Senyuman tulus ia lontarkan pada sosok di sebelahnya. "Kau benar-benar indah, Yoongi–ssi."

Karena tidak bisa berkata-kata, Jimin mengangguk setuju. Rasanya belum pas mengatakan sosok itu indah, seharusnya ada kata lain yang menjelaskan sesuatu lebih dari kata indah tanpa imbuhan sangat terlalu banyak. Karena seribu kata sangat pun tidak akan menyelesaikan keterkaguman Jimin pada sosok Yoongi.

"Benarkah?" Suara ragu Yoongi dengan wajah tidak percaya membuat Jimin mendesis jengkel, kesal pada sosok di hadapannya yang tidak mempercayai betapa indah dirinya. Tapi Yoongi sendiri tidak sadar, ia justru menunduk dan melihat bagaimana dress merah bersatu dengan pucat kulitnya. "Aku merasa bukan diriku."

"Ini kau, Min Yoongi," Jimin menyela gemas, menatap meyakinkan pada gadis indah di hadapannya. "Kau Min Yoongi, dengan sejuta keindahan terpancar yang menarik seluruh hatiku. Kau sangat indah dan sosok indah itu adalah Min Yoongi."

Napas Yoongi tercekat, terkejut pada pernyataan luar biasa lantang yang Jimin lontarkan padanya. Bagaimana bisa sosok itu mengirimkan begitu banyak kalimat gombal yang menggetarkan hati dan nyaris membuat Yoongi tersedak ludahnya sendiri? Salah, ini salah, tidak seharusnya Jimin melakukan itu atau tubuhnya akan bergelenyar terlalu menyenangkan bercampur menjengkelkan; membuat friksi menganggu dan membuat otaknya ingin meledak.

"Kau berlebihan," Yoongi menanggapi malu-malu untuk sekedar menghilangkan rasa gugup diberi pujian berlebih dari Jimin.

Jungkook menyela sambil menggeleng keras, "Jimin benar, kau sangat indah. Sekarang kau ambil baju itu dan biarkan aku memilihkan sepatu untukmu,"

gadis dengan gigi kelinci itu melangkah tegesa menuju ruang kecil di tempat sebesar butiknya, ia terlihat meracau terlalu ribut hingga Yoongi mendengarnya. Gadis cantik itu seperti mengatakan tentang koleksi sepatunya yang belum lengkap, juga mendekte kode sepatu yang menurutnya akan pas untuk dikenakan Yoongi.

Jungkook kembali membawa membawa heels jenis peep toe dengan platform di bagian depannya. Warnanya hitam gelap yang indah dan gadis itu mendecak kagum sendiri membayangkan betapa indahnya Yoongi dengan baju merah dan heels hitam di tangannya. "Ini akan benar-benar cocok untukmu, aku bersumpah!"

Yoongi sendiri sebenarnya ragu melihat betapa tinggi hak sepatu itu, tapi mendadapti ekspresi yakin dan senyuman cerah yang Jungkook berikan, Yoongi lebih memilih melepas kitten heels-nya dan menggunakan heels pemberian Jungkook. Saat mencobanya, ia mendesis tipis merasakan tubunya yang tiba-tiba jadi begitu tinggi, rasanya ia yang awalnya hanya ada pada bahu Jimin kini bisa meraih telinga laki-laki itu. Benar-benar efek yang luar biasa dari sebuah heels pemberian Jungkook.

"Perfect!" Jimin memuji setulus hati saat melihat penampilan Yoongi kali ini benar-benar mengagumkan. Ia mendorong tubuh kurus Yoongi pada Jungkook kemudian berbisik pada yang lebih rendah, mengatakan padanya untuk mengurus barang yang menempel pada diri Yoongi dan akan membelinya.

Setelah membiarkan Yoongi mengganti bajunya, Jungkook segera membungkus sepatu dan dress itu. Ia menggumamkan beberapa kalimat pujian pada Yoongi sebelum akhirnya berpisah dengan lambaian tangan juga ucapan sampai jumpa besok. Setelah dua orang tadi benar-benar pergi dengan mobil Jimin, ia memuji bagaimana cocoknya Jimin bersama Yoongi dan membatin akan medukung penuh hubungan Park Jimin dan Min Yoongi.

.

"Aku harap kau senang dengan hari ini," Jimin bersuara setelah beberapa waktu hening di dalam mobil. Suara alunan musik yang menenangkan membuat Yoongi yang sudah kelelahan itu terlihat terkantuk-kantuk dan langsung berjengat kaget mendengar suara Jimin. Jimin tertawa dalam hati melihat tingkah lucu gadis di sebelahnya.

Yoongi menoleh dan mengerjap, memberi tatapan blank yang lucu. "Kenapa harus tidak senang?" Ia memberi senyuman canggung setelah menyadari kalimat uang Jimin ucapkan tadi meminta pendapatnya.

Jimin tersenyum senang dan mengangguk. "Baiklah kalau kau senang," ujarnya tulus. Ia kemudian menunjuk apartemen yang sudah ada di sebelah mobilnya berhenti dengan telunjuk, "kau sampai di rumah, Min Yoongi–noona. Sampai jumpa besok, aku akan menjemputmu pukul delapan. Aku harap kau berdandan cantik dengan pesona mengalahkan Aphrodite."

Gadis itu merona malu mendengar penuturan Jimin dan buru-buru ke luar sebelum wajahnya meledak karena terlalu panas mendapat pernyataan seperti itu dari atasannya. Ia membungkuk sopan pada Jimin dari luar, menggumamkan terima kasih kemudian menutup pintu. Sayup-sayup ia bisa melihat lambaian tangan dari dalam mobil sebelum akhirnya mobil itu menjauh, dalam hati Yoongi membatin tentang rasa herannya dan juga bimbang.

TBC.

Makin dekat dan makin dekat, yehey! Wah, kalau gini terus aku kayanya mau buat next chapter ada kissingnya deh! Hahaha.

Omong-omong, say hi to Jungkook! Dia sudah muncul di chapter ini, itu berarti tinggal Namjoon yang perlu aku usung masuk ke ff ini hahaha. NamJin dan TaeKook bakal muncul di chapter berikutnya, aku usahakan. Mungkin sekedar slight karena mereka juga tamu yang diundang. Hoseok sendiri juga muncul, tapi aku pikir bakal bikin Hoseok sendiri aja—itu berarti tanpa Jihoon. Kenapa? Lihat aja nanti! Hahaha

Ini ngalamin perkembangan lumayan pesan di chapter ini, kalau di awal-awal sekedar basa-basi, aku pikir di chapter ini udah mulai masuk ke inti cerita hahaha. Outsider, aku kurang yakin, tapi sepertinya aku mau bawa seseorang yang bakal jadi perusak. Menurut kalian, kalau itu cewek, siapa ya yang pantes?

Oh iya, apa kalian lebih pilih ff ini fokus ke YoonMin aja atau juga merambat ke TaeKook dan Namjin? Kalau kalian emang pingin cerita ini merambat ke TaeKook dan NamJin, apa kalian keberatan kalau aku buat ff ini jadi panjang? Aku kurang yakin sama ff panjang, tapi aku bakal berusaha lebih kuat buat engga terlalu bertele-tele. Soal penjelasan yang terlalu panjang, maafkan, sepertinya itu emang gaya tulisku deh :')) Kadang aku juga ngerasa terlalu ikat reader aku sama detail cerita, tapi aku juga pingin kasih lihat imajinasi aku tentang cerita ini kalau di visualisasikan itu gimana, ya jadilah begitu. Maafkan aku, aku beneran bingung harus gimana begitu baca ada yang bilang kadang sampe di skip, sepertinya aku buat cerita jadi terlalu membosankan. Maafkan :'))

Tanggal 21 aku study tour, jadi semoga aja minggu ini aku bisa update dua kali. Mungkin di hari Minggu? Tinggal ff ini yang jadi chaptered fic-ku, jadi aku mungkin bisa lebih sering update karena ini satu-satunya fokusku (enggak jamin aku bakal bikin ff baru lagi atau enggak loh ya).

Ya udah sih, mungkin segini aja kali ya? Makasih buat reader yang udah sempatin baca dan tinggalin komentar. Kritik dan Saran yang kalian kirim bener-bener bantu aku, makasih! Aku bakal usaha lebih banyak lagi dan buat tiap chapter jadi makin panjang. Sampai jumpa chapter berikutnya!