Naruto membawa Sakura ke kamar lalu menidurkan wanita itu di atas ranjang tanpa melepas pagutannya di bibir manis Sakura. Tangan Naruto bergerak turun ke bokong bulat Sakura, mengusap dan meremas bokong wanita itu sensual dan tak sabar. Satu tangannya yang lain bergerak mendekati kewanitaan Sakura, mengusap dan membelainya lembut kemudian menyusupkan satu jarinya masuk ke lipatan kecil Sakura. Naruto menggerakkannya perlahan. Sakura melepas ciuman Naruto, kepalanya mendongak merasakan gesekan jari Naruto di dalam. "Anhh! Narutohhh ..."

Naruto menggeram merasakan cengkraman kewanitaan Sakura yang mencengkram dan menghisap kuat jarinya. Sakura sangat sempit dan basah. Dia semakin cepat mengocok lipatan Sakura dengan jari telunjuknya sembari melumat bibir ranum Sakura, menggigit bibir bawah Sakura dan menyelinapkan lidahnya masuk ketika Sakura membuka mulut untuk mendesah.

Mereka bertukar saliva, kedua lengan Sakura memeluk erat leher Naruto, memperdalam ciuman mereka. Naruto merapatkan tubuhnya dengan tubuh Sakura, celananya menyempit, sesuatu di antara selangkangannya mengacung tegak menusuk perut bawah Sakura. Dan semakin tegak dan besar saat dada Sakura menekan dadanya, kedua kaki Sakura melingkari pinggulnya, membuat kejantanan di balik celana dalamnya menusuk kewanitaan basah Sakura. "Ahhh! Sakura -chanhh ..." Desahnya parau.

Naruto menghentikan ciumannya, ia kemudian mengalihkan mulutnya ke payudara Sakura dan melumat putingnya. Satu tangan Naruto mengocok Sakura semakin cepat dengan dua jarinya. Sakura memekik dan menggeliat tak nyaman saat dengan lincah dan ahli bibir Naruto mempermainkan puting dan kewanitaannya. "Aahhh... Auhhh... Akh!"

Napas mereka terengah-engah. Naruto menghentikan semua permainannya. Dengan kasar dan terburu-buru dia melepas celana panjang, boxer beserta celana dalamnya. Dia melempar celananya ke sembarang arah. "Kau siap Sakura- chan?" Napas Naruto memburu karena napsu. Mata birunya menggelap karena gairah. Dengan ibu jarinya Naruto mengusap saliva di sudut bibir Sakura kemudian menyeringai menggoda.

Sakura mengejap lemah, matanya menatap sayu Naruto yang menatapnya berkilat penuh gairah. "Umh. Yah. Lakukan Naruto." Bisiknya malu dengan napas tersenggal-senggal.

Naruto mengecup lembut kening Sakura. Ia membuka lebar paha Sakura, dengan gerak tak sabar dan terburu-buru Naruto menggesekan ujung kesejatiannya di bibir kenikmatan Sakura yang basah dan mengkilat, membuat Naruto semakin tak sabar untuk segera menusuk lubang kecil penuh kenikmatan itu, bergerak kasar dan liar di dalamnya.

"Ahh ... Ahhh ... Ouh!" Desah Sakura. Kesejatian Naruto bergerak naik turun di belahan bibir kemaluan dan menyentuh klotisnya. Sakura menggigit bibir bawah dan memejamkan kedua mata. Kedua tangannya meremas kuat sprei satin di bawah tubuhnya.

Naruto menyeringai. Dia berhenti menggesekan kesejatiannya. "Tidak secepat itu Sakura- chan," Desahnya.

"Eh! Apa yang kau lakukan, kyahhh!"

Naruto terkekeh. Ia mengangkat kaki kiri Sakura ke bahunya, mengekspos kemaluan Sakura tepat di depan wajahnya. Naruto mengecup dan menjilat kemaluan Sakura, memainkan lidahnya keluar masuk di dalam kewanitaan Sakura dan menghisap kuat lipatan kenikmatan itu. Cairan kewanitaan Sakura meleleh dalam mulutnya yang kemudian ia minum dengan sangat nikmat.

"Akh!" Sakura menggelinjang, merintih dan mencakar bahu Naruto. "Narutoohhh ..." Wanita itu bergerak gelisah yang ditahan kuat kedua tangan Naruto. Sakura melengkungkan tubuhnya seperti busur panah, menandakan ia sudah kembali klimaks. Naruto menghisap semua cairan Sakura sampai bibir kemaluan Sakura memerah dan mengkilat.

"Oh! Shit!" Umpat Naruto merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya. Dengan terburu-buru Naruto mengangkat tubuh Sakura, memindahkan tubuh polos wanita itu ke tengah ranjang.

Sakura terbaring lemas di ranjang Naruto. Sakura hanya bisa menurut saat dengan gerakkan tak sabar Naruto membuka lebar pahanya, kemudian menempatkan kesejatiannya yang besar di depan lipatan kecilnya. "Ahh ..." Desahan lolos dari bibir Sakura saat separu kepala kesejatian Naruto masuk.

"Sshh ... kau sempit, Sakura- chan." Naruto menggeram nikmat. Ia menghentak kesejatiannya sampai masuk sepenuhnya. Pinggulnya bergerak pelan. Dia mendesis keenakan. Semakin lama gerakkannya semakin cepat.

Naruto menatap sayu Sakura di bawahnya. Dia mencium kening, pipi, hidung dan berhenti di bibir Sakura. Tanpa menghentikan gerakkan pinggulnya dia mengecup sudut bibir Sakura, "Aku menyukakaimu, Sakura- chan." Bisiknya kemudian tersenyum dan melumat bibir ranum Sakura. Awalnya lembut dan perlahan lalu berubah menjadi lumatan kasar penuh gairah. Kedua tangan Naruto tidak tinggal diam, meremas kasar penuh gairah payudara dan bokong Sakura. Hentakkan pinggulnya semakin cepat dan kasar.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

Chap terakhir, alias ending. Sampai jumpa di fic NaruSaku lainnya :)

Thanks for Favorite and Follow :)

.

.

.

.

.

.

"Enghh ..." Sakura mengerang merasakan kecupan ringan di pipi dan bibirnya, seringan bulu. Wanita itu menggeliat dan merapatkan tubuh dengan selimut tebal yang melilit tubuhnya.

"Sakura- chan," Panggil seseorang dengan nada seperti desahan.

Sakura menggumam dan menggeliat saat sesuatu menyusup ke dalam selimut meremas pelan payudaranya. Dia juga merapatkan kedua kakinya saat sesuatu mengusap dan menggesek bibir kewanitaannya.

"Sakura- chan, bangun. Bangun Sakura- chan, atau aku akan menyerangmu."

Sakura membuka mata perlahan. Ditatapnya Naruto yang mengurung tubuhnya sayu dan malas. "Jam berapa sekarang." Gumam Sakura parau. Mata Sakura kembali tertutup, wanita itu semakin merapatkan tubuhnya dengan selimut tebal yang membelit tubuh polosnya.

Naruto merangkak naik mendekati kening Sakura, mencium kening wanita itu lembut kemudian memeluk tubuh polos dililit selimut tebal itu. "Jam enam pagi." Ia bergumam. Naruto menatap Sakura intens. Rasanya dia ingin tetap seperti ini, saling memeluk dan membagi kehangatan di atas tempat tidur. Jari telunjuk dan ibu jari Naruto memainkan ujung rambut merah muda Sakura. "Cepat bangun Sakura, kau ada misi, ingat?"

Sakura berbalik menghadap Naruto, melilitkan kedua tangan di leher panjang nan kokoh Naruto, mata hijau Sakura terbuka. Wanita merah muda itu tersenyum manis melihat Naruto yang terus menatapnya. "Aku ... hah. Masih ada setengah jam lagi Naruto. Aku, Ino, dan Shikamaru berangkat jam setengah tujuh pagi."

Naruto berkedip. "Aku tahu. Tapi kau harus bersiap. Mandi, sarapan, menyiapkan kunai dan senjata lainnya. Kau sudah menyiapkannya?"

"Aku benci mengatakannya. Aku belum menyiapkan apapun." Sakura cemberut.

Naruto mengacak poni Sakura. "Mangka dari itu, cepat bangun."

...

Sakura mengecup pipi Naruto. Satu alis pirang Naruto naik, menatap Sakura menuntut. "Hanya pipi," Katanya tak terima. "Tidak di sini Naruto. Lain kali saja." Ucap Sakura sedikit berbisik, mengerti keinginan Naruto. Naruto mulai kembali kekanakan, "Sakura- chan." Ia merajuk. Iruka dan Kakashi hanya bisa geleng kepala melihat mereka berdua. Ino, Shikamaru, Sakura, Naruto, Kakashi, dan Iruka. Mereka semua sedang berdiri di depan gerbang desa. Mengantar Ino, Shika dan Sakura sampai depan gerbang desa, tiga ninja andalan Konoha itu akan pergi misi.

Shikamaru menyenderkan punggung di gerbang. Pemuda berambut nanas itu menguap seraya menatap malas Naruto dan Sakura. "Hoam. Merepotkan."

Ino menatap Naruto dan Sakura bergantian. Gadis pirang itu mendekati dua sejoli yang sedang terlibat pertengkaran kecil itu dengan tatapan ingin tahu. "Jidad," panggilnya. Sakura menoleh. Ino melipat tangan di bawah dada, ditatapnya Naruto dan Sakura penuh selidik. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku,"

Sakura meringis. "Sejak kapan?" Tanya Ino penasaran. Gadis pink itu hanya bisa menggaruk belakang kepala sambil tersenyum kaku. "Apanya Pig?" Tanya Sakura pura-pura tidak mengerti.

Ino baru mau membuka mulut ingin melontarkan pertanyaan pada Sakura namun Kakashi lebih dulu memotong. "Sudah selesai? Cepatlah ini sudah hampir siang, kalian tidak ingin telat sampai tujuankan? " kata Kakashi dengan raut wajah malas seperti biasa.

"Ha'i Hokage- sama!" Ucap Ino dan Sakura ogah-ogahan.

Naruto mencuri cium bibir Sakura. "Bye... Sakura- chan!"

Ino melongo, Sakura tersipu, Shikamaru bergumam. "Merepotkan." Ino menyenggol rusuk Sakura dengan siku dan menatap gadis berambut merah muda itu berang. "Kau berhutang banyak cerita padaku jidad." Disepanjang perjalanan Ino tidak henti-hentinya mengatakan itu, kunoichi pirang ini memang selalu ingin tahu.

...

Dari beberapa menit yang lalu Yamato tidak henti-hentinya menghela napas, dia merasa dilecehkan oleh Kakashi dan Naruto. Kakshi, pria perak bermasker menyebalkan itu bilang mau memberinya misi penting, sebuah misi rahasia. Tapi ternyata. "Hahh..." Tidak jauh dari Yamato Iruka berdiri. Pria itu menggaruk tengkuk seraya tertawa canggung, di belakang Iruka tampak Naruto sedang sibuk memaku papan kayu, menjadikan papan kayu itu dinding.

Dengan wajah malas dan setengah kesal Yamato bergumam. "Mokoton No Jutsu!" Tangan Yamato mengeluarkan banyak papan kayu dengan ukuran yang sama. Papan kayu itu berjatuhan di tanah yang kemudian diambil oleh Iruka. "Aku seperti buruh kayu." Yamato mengeluh.

Iruka tertawa canggung. "Maaf ya." Gumamnya. Iruka mendekati Naruto sambil membawa papan kayu buatan Yamato. Naruto menerimanya dengan sangat baik. Naruto menoleh menatap Yamato yang sedang membuat kayu dengan jutsu Mokoton No Jutsu. Pria pirang itu tersenyum tiga jari seraya mengacungkan ibu jarinya. "Ayo semangat Sensei dettabayo!"

Misi penting dan rahasia yang Kakashi katakan ternyata memperbaiki rumah lama Naruto, rumah yang dulu ditinggali Kushina dan Minato.

Naruto, Iruka dan Yamato menyelesaikan perbaikan rumah lama kedua orang tua Naruto dalam kurung waktu kurang lebih dua jam. Setelah menyelesaikan perbaikan rumah itu Naruto mengajak kedua Senseinya ke kedai Ramen Ichiraku, menelaktir keduanya makan Ramen sepuasnya di sana.

Hari mulai senja saat ketiganya keluar dari kedai. Dengan cengiran khas, Naruto mengucapkan terimakasih pada Yamato dan Iruka karena sudah membantunya memperbaiki rumah. Pemuda pirang itu menunduk dalam pada kedua Senseinya. Yamato yang awalnya kesal karena merasa dilecehkan Naruto dan Kakashi karena menjadikannya buruh kayu tersenyum dan mengatakan sama-sama. Begitu pula Iruka, Sensei kesayangan Naruto itu juga mengatakan sama-sama. Keduanya pergi meninggalkan Naruto di depan kedai.

Naruto mendongak menatap langit yang mulai menggelap dan kini dihiasi beberapa bintang. Pemuda pirang itu tersenyum kemudian berjalan pergi meninggalkan kedai. Ia ingin melihat rumah baru yang nanti akan ia tempati dengan seseorang.

Naruto merapikan meja kayu dan kursi, menatanya menjadi meja makan. Setelahnya ia pergi ke kamar, merapikan pakaian dalam lemari, memasang sprei dan menutup gorden jendela.

Pemuda berkulit tan itu memasang foto dalam bingkai. Menatap foto pria pirang, yang memiliki rupa hampir sama dengannya, sedang memeluk mesra wanita berambut merah panjang berperut buncit yang tertawa lepas sampai kedua matanya menyipit. Naruto tersenyum seraya mengusap permukaan bingkai foto itu. Di letakkannya bingkai itu di atas nakas lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Naruto menjadikan kedua lengannya sebagai bantal. Perlahan, kedua matanya tertutup.

...

Satu minggu meninggalkan desa rasanya seperti satu tahun. Sakura sudah tidak sabar sampai desa, gadis itu sangat merindukan ehem. Lupakan. Pipi Sakura merona, gadis berambut merah muda itu berhenti melompati pohon untuk menggaruk pipinya yang menghangat saat mengingat si rubah pirang Naruto.

"Cepat sedikit jidad! Sudah hampir gelap." Ino memprotes. Shikamaru yang ada di paling depan melirik Ino dan Sakura kemudian memutar mata malas.

Sakura menggembungkan pipi kesal. Dia hiraukan Ino dan menambahkan kecepatan melompatnya.

Sakura berjalan sendiri di jalan setapak desa tanpa Ino dan Shikamaru, gadis pirang itu sudah lebih dulu pulang sementara Shikamaru mengantar gulungan hasil misi ke kantor Hokage. Gadis bermata indah itu ingin berjalan-jalan sebentar, sebenarnya Ino tadi mengajak Sakura pulang bersama tapi Sakura menolak dengan cara halus.

"Hai, Sakura- chan."

Sakura menoleh ke sumber suara. Di sampingnya, Naruto berdiri dengan kedua tangan di belakang kepala, entah sejak kapan pemuda pirang itu berdiri di sana. "Naruto?" Tanya Sakura, satu alisnya naik. "Sejak kapan?"

Naruto tersenyum khas. "Apa yang sedang Sakura- chan lakukan malam-malam seperti ini? Dan... ugh, Sakura- chan bau." Bukannya menjawab pertanyaan Sakura Naruto malah balik bertanya sambil menutup hidung.

Sakura memukul pelan kepala pirang Naruto. "Aku memang belum mandi baka!" Katanya malu.

"Oh, pantas saja."

Sakura melipat tangan di bawah dada lalu membuang muka. "Sebaiknya Sakura- chan cepat pulang. Ini sudah malam." Naruto tersenyum sekilas lalu pergi meninggalkan Sakura. Putri tunggal Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki itu menatap punggung Naruto. Apa Naruto marah karena dia memukul kepala dan mengatainya baka? Tidak biasanya Naruto seperti ini.

Sakura menghela napas, kepala merah mudanya menunduk lesu, kaki jenjangnya melangkah malas menapaki tanah menuju rumah.

...

Sejak kakinya melangkah memasuk Rumah Sakit, Sakura mendengar setiap orang yang berpapasan dengannya membicarakan Naruto dan sang Miko, Shion. Dari pembicaraan yang ia dengar mereka mengatakan kalau Naruto akan menikah, tapi belum diketahui siapa wanita beruntung yang dipilih pria kuning baik hati itu. Sakura menghela napas lega, setidaknya masih ada sedikit harapan kalau dialah wanita beruntung itu. Tapi kelegaan Sakura tidak bertahan lama saat mendengar kabar Shion ada di Konoha, yang membuat Sakura menghela napas berat bukan karena wanita cantik itu berkunjung kemari, melainkan gosip yang menggosipkan kalau Shion ke Konoha karena akan menikah dua hari lagi dengan Naruto di Kuil Shinto.

Hari mulai sore saat Sakura keluar dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Wanita berambut merah muda itu berjalan berdampingan dengan Yamanaka Ino, sahabatnya, wanita berambut pirang poni tail itu terus saja bercerita tentang kencannya dengan Sai semalam. Mereka berpisah di jalan setapak karena arah menuju rumah mereka berlawanan.

Sakura melambai tangan dan menggumam , "byee... Ino." Yang dibalas sama oleh Ino. Kakinya berjalan ringan menuju rumahnya, tapi saat ia melewati jalan menuju apartemen kecil Naruto, Sakura menghentikan langkahnya. Sakura terdiam beberapa saat, sekitar tujuh menit, sebelum kakinya melangkah membelok jalan menuju ke apartemen Naruto.

Langkah kaki Sakura serasa memberat saat mendengar tawa bahagia laki-laki dan perempuan dari dalam apartemen Naruto. Sakura mendekati jendela kamar Naruto, mengintip apa yang sedang dilakukan pria pirang itu di dalam. Emeraldnya meredup melihat Naruto yang sedang bergurau sambil tertawa bersama Shion, satu tangannya mencengkram kuat kusen jendela. 'Seharusnya aku tidak terlalu berharap banyak. Seharusnya aku tidak datang ke mari.' Pikir Sakura sedih. Sakura berpikir, mungkin ini juga alasan Naruto bersikap aneh padanya kemarin malam, mungkin Naruto tidak mau membuat ia terlalu berharap banyak padanya.

"Ini bagus sekali, Naruto. Aku tidak mengira kau pandai memilih kimono. Warnanya, motifnya, bahannya, semuanya bagus! Berapa banyak kau habiskan untuk membeli ini?" Shion bertanya antusias yang dibalas cengiran lebar oleh Naruto.

Sakura menghela napas. Ada baiknya ia segera pergi dari sini sebelum emosinya benar-benar meluap dan menghancurkan apartemen Naruto.

...

"Sakura..."

Sakura menoleh ke asal suara. "Oh, Naruto. Ada apa?" Tanya Sakura sembari menoleh ke segala arah seperti sedang mencari sesuatu, mencoba bersikap biasa di depan Naruto. 'Ayooo... Sakura kau pasti bisa! Tidak baik terlalu berharap pada pria yang sebentar lagi akan menikah.'

Naruto mengernyit merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Sakura. Sifatnya, tingkahnya, gerak tubuhnya, bahkan suaranya pun terdengar aneh. "Apa yang kau lakukan di tempat ini ... malam-malam,"

Sakura menunduk, "kencan, tentu saja!" Dengan cepat ia menoleh dengan senyumnya yang lebar. "Seseorang menasehatiku, tidak baik terlalu berharap pada pria yang akan menikah." Sekilas Naruto melihat senyum sedih di bibir Sakura.

"Saku ..." belum sempat Naruto menyebut nama Sakura ada pria lain yang lebih dulu menyebut nama wanita itu.

"Sakura- chan."

"Ah. Gaara sudah datang," Sakura tersenyum paksa, "byee Naruto." Wanita berambut merah muda itu berjalan cepat mendekati Gaara meninggalkan Naruto yang diam terpaku.

Kejadiannya begitu cepat. Saat Naruto menarik satu tangan Sakura dan menggendongnya ala bridal style. Dalam satu kali kedipan mata mereka sudah berada di apartemen Naruto, lebih tepatnya kamar lelaki itu. Sakura mengejap beberap kali, ditatapnya Naruto tidak percaya. "Apa yang kau lakukan?" Kenapa Naruto melakukannya? Kenapa Naruto membawanya ke tempat ini? Seharusnya Naruto membiarkannya pergi dengan Gaara karena ia ditugaskan oleh Kakashi- Hokage- mengantar Gaara ke penginapan, yeah sebenarnya itu bukan kencan.

Naruto merapal segel tangan, menyegel apartemennya agar Sakura tidak melarikan diri dari tempat ini, kemudian melirik Sakura sekilas. "Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan,"

"Bodoh!" Maki Sakura sembari berjalan mendekati pintu kamar Naruto. Sakura menarik-narik handle pintu berusaha membukanya, tapi sulit. Pintunya seperti menempel dengan kusen. "Bagaimana Kalau Shion tahu, baka! Dia pastikan marah padaku dan menganggap aku wanita kurang ajar yang merebut calon suaminya," tanpa menghentikan usahanya membuka pintu Sakura terus berbicara.

Naruto yang berdiri tidak jauh dari Sakura menaikkan satu alisnya, calon suami? Shion? Kemudian menyeringai saat mengerti apa yang Sakura katakan barusan. Sakura salah paham dan cemburu.

Sakura menyiapkan ancang-ancang bersiap mendobrak pintu kamar Naruto yang telah disegel pria rubah itu, namun belum sempat ia meninju kamar Naruto pria itu lebih dulu melakukan sesuatu padanya, membuatnya lemas dan mengantuk. Entah apa yang dilakukan Naruto yang jelas saat ini kelopak mata Sakura memberat. Tubuh Sakura akan jatuh tersungkur kalau saja Naruto tidak sigap merengkuh tubuhnya. Samar-samar Sakura mendengar Naruto berbisik. "Tidurlah Sakura- chan, kau membutuhkannya untuk semua kegiatan besok pagi."

Ketika Sakura bangun dari tidurnya ia mendapati dirinya mengenakan kimono yang dibicarakan Shion dan Naruto beberapa malam lalu. Sakura menatap tidak mengerti sekitarnya saat ia berdiri di depan altar kuil Shinto bersama Naruto. Semua teman-temannya ada di sana, bahkan Kakashi- sensei juga. Ada apa ini? Bukankah yang mau menikah itu Shion dan Naruto, bukan dirinya dan Naruto.

...

Setiap harinya berjalan begitu cepat, bahkan Naruto maupun Sakura tidak percaya bila mereka sudah menikah. Sudah sebulan lamanya mereka tinggal satu atap, berbagi tempat tidur dan selimut, terkadang juga mandi bersama dengan waktu yang sangat lama. Bisa kalian bayangkan apa yang mereka lakukan di kamar mandi? Ya, mereka melakukannya. Mereka melakukannya di setiap kesempatan. Kamar tidur, kamar mandi, meja makan, meja bar, bahkan lantai sekalipun. Mereka begitu panas dan bergairah.

Sakura mengenakan kimono handuk berjalan mendekati Naruto yang duduk di sofa yang ada di kamar mereka sambari mengusap rambut merah muda basahnya. "Naruto,"

Naruto mengemas gulungan kertas pentingnya, memasukkannya dalam nakas, kemudian mendongak menatap Sakura yang berdiri di samping sofa.

"Keran air mati,"

Ia menjelajah tubuh berbalut kimino Sakura di depannya. Leher basah minta dijilat, paha putih kencang dan mulus yang minta diraba. Tiba-tiba tangan Naruto gatal ingin meraba paha putih Sakura. Dan belahan dada yang menggodanya untuk menenggelamkan wajah di sana.

Sakura yang merasa tidak diperhatikan melipat tangan di bawah dada membuat dada profesiaonalnya membusung. "Kau mendengar, ku? Keran air mati,"

Naruto berdiri dan mendekati Sakura. Tangan kekarnya mengusap pipi kiri Sakura. Sementara tangan yang satunya mencari ikatan kimono di punggung wanita itu. "Kau sudah mandi?" Bisiknya tepat di telinga Sakura kemudian mengecup leher basah wanita itu. Sakura mengangguk. Naruto melepas tali kimono Sakura dan dengan terang-terangan menatap kedua buah dada menggiurkan Sakura membuat wanita merah muda itu merona. "Jangan dilihat seperti itu," Sakura menarik kimono handuknya sampai menutupi payudaranya dari mata nakal Naruto yang kemudian ditarik kembali oleh pria itu. Kedua telapak tangan besar Naruto mengusap payudara Sakura membuat Sakura mendesah dengan pipi merona. "Apa kau membersihkannya?" Lidahnya dengan ahli menjilat puting Sakura bergantian.

"Enhh..." Sakura mendesah. Kedua tangannya menarik kepala Naruto menjauh dari payudaranya. "Hentikan mesum!" Kedua lengannya menutupi payudaranya dari mata nakal penuh gairah Naruto.

Naruto menyeringai melihat rona merah di kedua pipi Sakura. "Biarkan aku membersihkannya dengan lidahku, Sakura ..." Naruto mengatakannya dengan nada sensual dan diakhiri desahan.

Sakura tersenyum malu dan mendorong dada bidang Naruto menjauh kemudian berlari meninggalkan Naruto. "Tidaak!"

Naruto berlari mengejar Sakura ke kamar mereka. "Jangan lariiii!"

"Kyaaahhh...! Naruto ini masih pagi!" Terdengar teriakan Sakura dari kamar disusul suara jatuh dan deritan ranjang.

"Siapa peduli!" Dan suara kemenangan Naruto.

.

.

.

.

ZN (Z dan Naruto) area:

Fin. Tamat. Ending. Selesai. Complete #ditimpuk rame-rame.

Lemon satu kali saja Z, satu kali! #timpuk Naruto pake pohon lemon.

Nah, udah Z kasih pohon lemon tu Naruto.

Bukan lemon yang ini.

Kontrak kita udah abis Nar, di fic lain aja yah.

Tapi...

Gak ada tapi. Byee... :)

.

.

.

.

.

Guest, firdaus minato, nona fergie kennedy, Kevin913, Guest, Guest, hana, indah permata18, Lalaki224, NS NS NS, alviecz alviecz, Hikari Cherry Blossom24, uchiha jeremy 39

Thanks for Review :)