6

GADIS ITU BERNAMA YURA

.

.

.

"Setelah kematian kakak, rasanya lebih nyaman memakai nama lahir. Nama keluarga 'Sader' hanya akan membuatku terbebani. Jadi, silakan panggil aku 'Dekan Seo'," ujar sang Dekan, sepatu kaca birunya berkeletak-keletuk di jembatan layang dari Valor ke Honor. "Nah, di sekolah ini para perempuan didedikasikan dan dilatih untuk menciptakan kisah seperti dongeng kalian. Kisah kalian baru sekadar permulaan dari apa yang bisa dihasilkan para putri dan penyihir bila mereka bekerja sama. Di sini kalian akan memimpin seisi sekolah."

Kyungsoo tersekat, lalu menyusul wanita itu turun di tangga Honor. "Tapi kami harus pulang!"

"Begini, para mantan Dekan punya pandangan yang berbeda denganku," ujar Dekan Seo saat kupu-kupu muncul dari berbagai arah dan menghilang di gaunnya. "Menurut mereka kalian harus pulang demi kembali menemukan akhir bahagia, tapi menurutku kalian harus tetap di sini."

"Tapi semua anak laki-laki akan membunuhku!" ujar Soojung sambil menyenggol Kyungsoo keras-keras saat menyalipnya.

"Permohonan kalian tidak akan berhasil kecuali kalian bersungguh-sungguh," ujar Dekan sambil melenggangkan bokong besarnya di sepanjang ruang lobi. Lalu dia berhenti tepat di depan pintu es Galeri Kebaikan.

Dia memandang Soojung. "Bagaimana bisa kau memaafkan Kyungsoo sementara kau tahu yang dia harapkan adalah pangerannya?"

Dekan menoleh pada Kyungsoo. "Bagaimana kau bisa memohon untuk bersama Soojung padahal kau takut pada penyihir yang ada di dalam dirinya?"

Dia mendekat sampai-sampai kedua gadis itu bisa mencium aroma krim madu dari kulitnya yang sempurna. "Bagaimana mungkin kalian bisa memohon untuk bersama orang yang tidakkalian percaya?"

Pandangan mata Soojung dan Kyungsoo seketika bertemu, saling berharap sahabatnya akan menyangkal. Namun keduanya diam, telak dikalahkan kebenaran.

"Persahabatan kalian perlu dibenahi sebelum kalian bisa pulang–dan di tempat ini kalian akan memperbaiki apa yang sudah rusak," ujar Dekan Seo, seekor kupu-kupu terakhir terbang menyatu dengan gaunnya. "Dongeng telah mendidik kita bahwa ikatan seperti yang kalian milki tidak langgeng. Kenapa? Karena selalu ada laki-laki yang menjadi penghalang. Seorang laki-laki yang begitu merasa terancam oleh kisah kalian sehingga rela membunuh untuk menghancurkannya. Tapi di sekolah ini, kalian diajari hal yang sesungguhnya." Hanya gelap pekat yang mereka lihat setelah Dekan membuka pintu. "Bahwa kehidupan tanpa pemuda adalah akhir bahagia yang paling hebat bagi seorang gadis."

Jarinya menyalakan obor secara ajai dan seketika nyala api merah menjalar menjadi dentuman suara drum. Soojung dan Kyungsoo melonjak mundur.

Sebanyak 20 barisan gadis berdiri mematung, kepala mereka tertunduk, setiap orang mengenakan cadar putih, celana harem biru benhur, dan korset biru muda dengan lambang kupu-kupu dijahit di bagian dada. Jumlah mereka lebih dari 100 orang, berbaris dari galeri sampai Aula Kebaikan yang luas. Dengan wajah tersamar, mereka berdiri diam mencekam, kedua tangan berlipat dan terangkat seolah memanggil jin. Dua orang gadis duduk di permadani terbang yang melayang-layang di atas mereka, menabuh drum yang semakin lama semakin cepat.

Di depan barisan pawai itu, seorang gadis berdiri sendirian di luar barisan. Berbeda dengan yang lain, cadar yang dipakainya berwarna biru, rambutnya merah terang, dan kulit lengannya yang pucat berbinti-bintik merah stroberi. Perlahan-lahan dia mengangkat tangannya dan bunyi drum pun berhenti.

Dengan lengkingan liarnya, dia menghanguskan kedua permadani terbang itu serta membuat Soojung dan Kyungsoo menelan ludah melihat kobaran api. Ketika drum kembali berbunyi, gadis itu berputar dan bergoyang menarikan tari perut, siulan keras dan getaran menegaskan tiap gerakannya.

"Sekali melihatnya, Kai pasti langsung lupa pada si pembuat permohonan," komentar Soojung dingin.

Kyungsoo mendekati sahabatnya. "Soojung, maafkan aku."

Soojung menjauh.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu demi seorang namja," desak Kyungsoo. Namun seraya memperhatikan si gadis penari, terbersit rasa cemburu dalam dirinya. Apa Kai sudah pernah bertemu dengannya?

Dihancurkannya pikiran itu. Kai ingin membunuh sahabat karibnya dan dia masih memikirkannya? Kai itu musuhmu, dasar bodoh!

Wajah Yunho menghantuinya, memohon padanyauntuk membawa Soojung pulang dengan selamat. Mana Kyungsoo yang rela melakukan apa saja demi sahabatnya? Mana Kyungsoo yang mampu mengendalikan perasaannya? Mana Kyungsoo yang Baik?

Barisan belakang mulai menirukan gerakan tari pemimpinnya, tangan-tangan berayun gemulai. Kemudian, mendadak mereka berayun membalik dan menari berpasangan. Tangan-tangan mereka bersentuhan dan menggenggam seraya saling memunggungi dan mengangkat tanagn serta bertukar tempat, tanpa pernah melepaskan tautan tangan mereka. Berbalut celana harem biru berkilauan dan cadar putih, mereka tampak seperti anemon laut yang berayun. Meski hatinya bak dilanda badai, Soojung masih bisa tersenyum. Belum pernah dia melihat sesuatu yang begitu indah. Terlebih lagi melihat gadis-gadis menari tanpa laki-laki.

Kyungsoo tidak suka ekspresi wajah Soojung.

"Soojung, aku harus berbicara pada Kai."

"Tidak boleh."

"Sudah kubilang, aku minta maaf. Kau harus mengizinkanku untuk memberes–"

"Tidak."

"Si bodoh itu mengira aku ingin kau mati!" ujar Kyungsoo sambil menampik kupu-kupu di bahunya. "Hanya aku yang bisa membuatnya berpikir rasional."

"Pangeran ini mengira dia adalah Sang Guru, mempertaruhkan setengah harta kekayaannya demi kepalaku, dan kau kira dia bisa berpikir rasional?" sahut Soojung, membiarkan kupu-kupu bertengger di bahunya. "Aku heran Kebaikan bsia menang kalau senaif ini."

Kyungsoo memandang sekilas pada Dekan yang berdiri memunggungi mereka. Tidak mungkin dia mencuri dengar sementara bunyi drum bergemuruh serta si gadis penari menjerit-jerit seperti dubuk. Namun anehnya, perasaan Kyungsoo mengatakan kalau wanita itu bisa mendengar segalanya.

"Soojung, aku keliru dan hilang kendali saat itu," bisiknya.

Soojung menonton si gadis pemimpin menyemburkan kobaran api lagi. "Mungkin Dekan benar," ujarnya tanpa berbisik sama sekali. "Mungkin aku harus tinggal di sini."

"Apa? Kita bahkan tidak tahu dari mana asalnya, apalagi bagaimana dia bisa jadi Dekan! Kau lihat sendiri raut wajah Profesor Dovey tadi. Dia tidak bisa dipercaya–"

"Untuk saat ini, aku lebih mempercayainya daripada kau."

Kyungsoo bersumpah dia melihat Dekan menyeringai. "Ini bukan tempat yang aman untukmu. Kai pasti datang mengincarmu!"

"Biarkan saja. Memang itu yang kau mau, kan?"

"Aku mau kau pulang dengan selamat! Aku tidak menginginkan Kai!"

Soojung berputar dan menggeram. "Lalu kenapa kau memohon untuk bersamanya?"

Kyungsoo mematung.

"Pemberian hadiah dimulai!" seru Dekan.

"Hadiah!" Soojung berpaling dari Kyungsoo dengan wajah berseri-seri. Dia berjalan menyamping ke arah Dekan sementara gadis-gadis bercadar merapat ke dinding, menyisakan lorong luas di tengah-tengah ruangan.

Kyungsoo mengikuti dengan cemas, teringat bagaimana pengaruh dunia ini terhadap sahabat dan dirinya sendiri. Semakin lama mereka tinggal di sini, semakin mereka masuk ke dalam bahaya. Dia harus secepatnya membawa Soojung pulang.

Saat berjalan melewati area yang tertimpa sinar matahari dari jendela kecil, Kyungsoo melihat betapa galeri pameran kini telah berubah. Segala bukti prestasi murid laki-laki sudah ditanggalkan dan diganti dengan barang-barang peninggalan dari dongengnya dan Soojung: seragam Ever milik Kyungsoo, poster-poster Kursus Saat Makan Siang buatann Soojung, pesan Kyungsoo untuk Soojung saat Uji Dongeng, potongan rambut Soojung saat dia dihukum di Ruang Jahanam, dan banyak lagi; semua diabadian dalam peti kaca biru. Pada dinding utama, terdapat mural Ever After yang dulu perayaan pernikahan pangeran dan putri, kini ditutup kain kanvas biru laut dengan bordir kupu-kupu.

Satu-satunya yang tersisa hanyalah pojok lukisan-lukisan Profesor Sader yang dulu. Seorang peramal yang mampu melihat sekelebat masa depan, mantan guru Sejarah yang dulu selalu membuat lukisan setiap Pembaca yang datang dari Jangho ke Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Setiap kali Kyungsoo membutuhkan jawaban, dia selalu melihat lukisan itu, mencari-cari petunjuk. Sekarang dia hanya ingin mempelajari lukisan itu lagi, tetapi dua gadis bercadar berjalan mendekat sambil membawa sebuah vas ungu yang sangat besar.

"Dari Lembah Perawan," ujar Dekan Seo, suara manisnya kini berat dan berwibawa. "Guci dari Putri Riselda, yang sama seperti ratusan putri lainnya, telah mendengar kisah kalian dan menyadari bahwa dirinya akan lebih bahagia tanpa pangeran. Dia telah membakar singgasana pangerannya dan mempersembahkan abunya pada kalian."

Kedua gadis itu menyodorkan guci itu pada Soojung dan Kyungsoo yang lantas meneliti ukiran pada guci bergambar seorang pangeran terlempar keluar dari istana secara ajaib ke buaya-buaya di bawahnya.

"Kami tidak mau," tukas Kyungsoo.

Soojung menoleh pada Dekan dan tersenyum. "Bagaimana kalau ditaruh di kamarku?"

"Kamar?" sembur Kyungsoo. "Soojung, kita tidak akan tinggal–"

Dua orang gadis berjalan di lorong membawa hiasan dinding bambu oriental.

"Dari Bukit Pifflepaff," suara Dekan menggelegar. "Tirai bambu lukis tangan dari Putri Sayuri, yang sudah membaca buku dongeng kalian dan menyadari bahwa tanpa pangeran, para putri dan penyihir akan lebih bahagia."

Lukisan indah pada buluh-buluh bambu itu menggambarkan seorang putri dan penyihir yang berpelukan pada satu panel. Panel lainnya bergambar seorang pangeran yang dicambuk hingga terluka parah oleh raksasa.

"Ini parah sekali," tukas Kyungsoo.

"Gantung di atas tempat tidurku," ujar Soojung pada gadis-gadis bercadar itu. "Apa selanjutnya?"

Kuku jari Sang Dekan yang berkuteks emas menunjuk ke ujung lorong. "Dari Hutan Bawah, hiasan dinding seorang pangeran tunawisma."

"Andai saja Profesor Dovey dan Lady Kwon bisa menghargai seseorang yang elegan seperti Anda," rayu Soojung pada Dekan. Pemberian berbagai hadiah yang menampilkan penyiksaan para pangeran berlangsung, termasuk boneka-boneka voodoo pangeran, rampasan pedang para pangeran, serta sebuah karpet yang terbuat dari rambut pangeran.

"Apa pelajaran dimulai hari ini?" tanya Soojung.

Dekan tersenyum lebar sambil berlalu. "Termasuk mata pelajaranku."

"Sekarang kau mau mengikuti pelajaran?" desis Kyungsoo pada Soojung.

"Semoga saja mereka sudah merenovasi ruang-ruang kelas dari permen itu." Soojung menyisir rambutnya dengan jemari, bersiap memulai hari. "Aku alergi dengan baunya."

"Yak! Kepalamu dipertaruh–"

"Dan yang terakhir, hadiah dariku," Dekan Seo mengumumkan seraya berdiri di depan mural Ever After yang tertutup kain. "Anak-anak, sekolah yang lama mengajarkan kalian untuk mengalahkan Kebaikan atau Kejahatan. Tapi bagaimana mungkin bisa ada keseimbangan antara Kebaikan dan Kejahatan sebelum tercipta keseimbangan antara Laki-laki dan Perempuan? Tidak salah jika para Pembaca kita kembali ke sekolah ini, karena kisah mereka belum selesai."

Dia menatap kedua gadis itu. "Dan pertempuran menuju akhir baru saja dimulai." Dia menjatuhkan kain penutupnya. Kyungsoo dan Soojung menarik napas.

Kalimat 'EVER AFTER', megah dan berkilauan, masih mengintip dari balik gambar awan pada bagian atas mural dengan huruf-huruf besar emas. Sisanya sudah diperbarui.

Kini yang tergambar di sana adalah pemandangan dua kastel kaca biru di sekitar danau, sementara para gadis berseragam biru langit berkumpul di balkon-balkon menara, berjemur di tepi danau, berjalan-jalan di taman yang dibatasi pagar. Sebagian gadis-gadis itu cantik, sebagian lagi buruk rupa, tetapi mereka bekerja, tinggal, dan bermalas-malas bersama tanpa pemisah, seolah putri dan penyihir memang selalu ditakdirkan untuk berteman.

Dalam lukisan itu juga ada anak-anak lelaki. Namun mereka berpakaian compang-camping dan wajah tak keruan, mereka menciduk kotoran hewan, menyapu Hutan Biru di belakang kastel, membangun menara-menara, sementara mereka dibelenggu rantai secara mengenaskan sebelum akhirnya kembali ke penjara kumuh dan kotor di pinggiran pagar.

Pengawas perempuan menggiring mereka bagaikan ternak dan tak seorang pangeran pun melawan. Budak-budak itu pasrah mengabdi selamanya. Mata Kyungsoo beralih ke bagian atas lukisan; di sana terdapat dua orang perempuan yang membelakangi matahari, mengenakan mahkota kristal, tengah mengawasi kerajaan mereka dari atas balkon.

"Itu kita," Soojung terkesiap.

"Itu sekolah ini," gerutu Kyungsoo.

"Akhir bahagia kalian yang sesungguhnya," ujar Dekan sambil menyempil di tengah-tengah mereka. "Kapten-kapten gedung suci ini, memimpin para gadis menyongsong masa depan tanpa pangeran."

Kyungsoo meringis sambil melihat anak-anak lelaki Ever dan Never yang dibenci dan diperbudak. Hatinya memberontak, mengatakan bahwa itu perbuatan salah yang keji. "Sekolah ini bukan akhir kita," katanya sambil menoleh pada Soojung. "Katakan padanya kita harus pergi!"

Namun Soojung sedang memandang lukisan itu, matanya terbuka lebar. "Bagaimana caranya kami bisa mewujudkan ini?"

Kyungsoo berdiri kaku.

"Sama seperti semua pahlawan memenangkan akhir bahagia mereka, Nak," jawab Dekan seraya menyentuh bahu mereka. "Dengan cara menghadapi musuh mereka," dia tersenyum lebar sambil memandang menara Kai di luar jendela. "Dan membunuhnya."

Kyungsoo dan Soojung saling berpandangan, terkejut.

"Anak-anak yang kukasihi," Dekan menyapu tangannya ke seluruh kerumunan. "Sambutlah kedua Pembaca kita di sekolah ini!"

Sambil berkoar, kerumunan itu melepas cadar mereka dan menghampiri kedua gadis itu.

"Kalian sudah pulang!" ujar Irene antusias sambil memeluk Kyungsoo bersama Rosé yang wajahnya berbintik-bintik merah, sementara Chaerin dan Jennie mendesak Soojung ke dalam pelukan mereka.

"Aku tidak tahu kita berteman–" ujar Soojung dengan suara parau dan sesak napas.

"Kami di pihakmu untuk melawan Kai," kata Jennie riang. Rosé merangkulnya seolah Ever dan Never mendadak jadi sahabat karib. "Kami semua!"

"Kalian adalah pahlawan kami," ujar Reena pada Kyungsoo yang menyadari bahwa putri Arab itu tampak lebih besar di bagian bokongnya. "Kau dan Soojung mengajari kami hal yang sesungguhnya tentang cowok!"

Kyungsoo masih mencari kata-kata ketika sebuah pekikan disertai pelukan erat menerjangnya dan Soojung. "Teman-teman sekamarku!" pekik Seulgi melengking. "Kalian senang sekali, kan? Dekan menempatkan kalian di kamarku!"

Baik Kyungsoo maupun Soojung tidak sempat mencerna kegemparan itu karena mereka sedang memelototi sesuatu yang lebih mengejutkan–"Rambutmu!" teriak Soojung.

"Tidak ada cowok berarti tidak perlu tampil seperti putri konyol," ujar Seulgi sambil mengusap sisi kiri kepalanya yang dicukur hampir gundul dengan bangga. "Coba pikir, sudah berapa banyak waktu yang kuhabiskan tahun lalu demi Kai dan Pesta Dansa serta mempercantik diri sepanjang hari. Coba tebak apa yang kulakukan sekarang? Sekarang aku membaca, aku belajar bahasa Kurcaci, dan akhirnya aku tahu apa yang terjadi di dunia kita!"

Kyungsoo melongo tak tanggung-tanggung. Kalau Seulgi baru membaca buku pelajarannya sekarang, lalu bagaimana bisa dia berkali-kali menempati peringkat tinggi tahun lalu?

"Tapi bagaimana dengan Biutifikasi?" tanya Soojung dengan cemas.

"Sudah tidak ada lagi. Tidak ada cantik atau jelek di Sekolah Perempuan!" kata Jisoo yang Soojung sadari dengan rasa ngeri, sama sekali tidak memakai riasan. "Kita memakai celana, kita tidak merawat kuku, dan kita bahkan makan keju!"

Soojung ternganga dan menoleh pada Dekan, tetapi kupu-kupu membuntutinya keluar galeri.

"Tapi sedikit lipstik boleh, kan?"

"Kau boleh melakukan apapun yang kau mau!" kata Chaerin sambil memperlihatkan polesan perona pipinya yang mengerikan. "Anak-anak Never boleh berdandan, Ever tidak harus. Semua terserah kalian!"

Yeri bersandar sambil tersenyum lebar. "Aku sudah sebulan tidak mencuci rambut."

Soojung dan Kyungsoo menjauh, tapi kemudian disambut oleh teriakan bertubi-tubi.

"Kyungsoo-yaaa! Kau kembali! Aigoo, sahabat terbaikku di seluruh dunia!" Baekhyun tersenyum palsu pada Soojung. "Kau juga." Lalu Baekhyun memeluk Kyungsoo lagi, mata cokelatnya berair. "Kau tidak tahu betapa aku terus berdoa supaya kau kembali. Di sini serasa surga! Tunggu sampai kau mengambil pelajaran Sejarah. Dekan yang mengajar dan kita masuk ke dongeng! Ada juga latihan tari, koran sekolah, juga klub buku. Dan kita akan membuat pertunjukan drama sebagai ganti Pesta Dansa! Kita juga boleh tidur di kamar siapa saja dan–"

Baekhyun tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena segerombolan anak perempuan kini mengepung Soojung dan Kyungsoo; setiap orang bertingkah seolah dirinya adalah sahabat terdekat mereka.

Kyungsoo berusaha mengelak dari gerombolan yang mengepungnya dan terjun meraih Soojung di tengah-tengah kepungan. "Kita harus keluar dari sini seka–" Dia tersandung dan jatuh menelungkup.

"Maukah kau menandatangani bukuku?" tanya Giselle, rambut hitamnya sudah dipapas menjadi model mohawk.

Kyungsoo merangkak mundur seperti kepiting menuju kerumunan penggemar yang lebih meriah.

Selagi gadis-gadis itu menyodorkan buku, kartu, dan bagian tubuh mereka untuk ditandatangani, Seulgi memaksa mereka berbaris dan memberikan penghargaan satu per satu. Soojung hampir tidak bisa membedakan siapa dari Kebaikan dan siapa yang berasal dari Kejahatan karena banyak gadis Ever yang memangkas rambut dan mengabaikan bentuk tubuh mereka, sementara para gadis Never bereksperimen dengan riasan dan diet.

Akhirnya Kyungsoo berhasil membebaskan diri dari kerumunan itu. Ketika dia menarik lengan Soojung demi mengakhiri ketololan itu, dia diam terpaku.

Si gadis penari bercadar biru langit mendesak ke arah mereka. Tubuhnya tinggi dan sekurus burung bagau, cara berjalannya seperti berjinjit, tumit sandal putihnya bahkan tidak menyentuh lantai. Dia berjalan cepat di lorong, melewati gadis-gadis yang melongo, lalu berhenti mendadak di hadapan kedua Pembaca. Gadis berambut merah nan indah itu mengangkat kepalanya dan mengibak cadar dari wajahnya.

Soojung dan Kyungsoo sama-sama kebingungan. Gadis itu sama sekali tidak mirip dengan siapapun yang pernah mereka temui, tetapi rasanya agak familier. Dia berhidung mancung dan lancip, rahangnya kokoh, matanya besar lengkap dengan iris biru. Lehernya panjang dan tampak aneh, baju atasannya menampakkan otot-otot perut yang berombak sempurna di balik kulit pucatnya yang berbintik-bintik merah.

Gadis itu tersenyum kecil, menatap mata mereka kemudian berkuak dengan suara berat yang membuat Kyungsoo dan Soojung melonjak. Lalu dia melemparkan ciuman, memasang kembali cadarnya, dan mendesak keluar dari aula.

Semua gadis diam dan mengawasi gadis tadi sambil melongo sampai akhirnya kerumunan kembali mendorong-dorong ke arah Soojung dan Kyungsoo, Seulgi pun bersiul keras.

"Siapa dia?" tanya Kyungsoo pada Baekhyun.

"Namanya Yura," bisik Baekhyun. "Tidak ada yang tahu bagaimana dia bisa masuk sekolah ini. Dia tidak pernah bicara, tidak pernah makan, dan sejauh yang kami tahu, dia selalu menghilang. Mungkin karena tidak punya tempat tinggal. Kasihan, tapi Dekan mengizinkannya tinggal di sini karena kebaikan hatinya. Sebagian orang berpendapat dia itu keturunan burung stymph."

Kening Kyungsoo berkerut, mengingat burung kurus pemakan daging yang membenci anak-anak Never. "Bagaimana bisa dia keturunan sty–"

Renungan Kyungsoo terpecah karena Soojung telah menguasai semua kerumunan, tersenyum penuh kemenangan, memberi tanda tangan, dan mengecup pipi seolah dia telah pulang ke rumahnya.

"Boleh tidak aku membantumu melawan para cowok?" tanya Chaerin keras-keras.

"Aku boleh jadi Wakil Kapten, tidak?" tanya Jennie.

"Aku boleh jadi Wakil Wakil Ketua?" tanya Jisoo.

"Duduklah bersama kelompokku saat makan siang!" seru Rosé.

"Jangan, duduk dengan kami saja!" sergah Yeri.

"Senang sekali rasanya punya penggemar lagi," ujar Soojung yang mengabaikan tatapan ngeri Kyungsoo dan menambahkan tanda tangannya dengan bentuk hati. "Sebelumnya aku berusaha pulang ke tempat di mana tak ada orang yang menginginkanku. Sekarang aku malah tersesat ke tempat di mana semua orang menginginkanku."

"Kalau kau kesulitan menghadapi Seulgi, jangan khawatir. Kau bisa tidur di kamarku kapan saja," ujar Baekhyun yang menangkap raut murung Kyungsoo.

Kyungsoo menoleh padanya dan Baekhyun langsung paham.

"Kau tidak akan tinggal di sini, ya?"

Kerumunan di sekitarnya terdiam.

"Nah, sekarang ceritakan padaku tentang pertunjukan drama itu," kata Soojung keras-keras. "Apa sudah ada audisi untuk pemeran utam–"

Soojung berhenti bicara karena semua murid mengikuti arah pandangan Kyungsoo ke luar jendela. Di seberang teluk, kabut bertambah pekat di sekeliling kastel merah yang suram.

"Kalau kami tinggal di sini, berarti kami memulai perang. Kalian semua berada dalam bahaya," kata Kyungsoo pada mereka. Dia menoleh pada Soojung. "Kau dengar sendiri apa kata para profesor. Kita bisa membereskan perbuatanku tanpa harus mengorbankan siapapun. Kau, Kai, dan siapapun di sini. Kita buat permohonan untuk saling bersama dan lupakan tempat ini." Dia menyentuh bahu sahabatnya. "Tetap tinggal di sini adalah perbuatan Jahat, Soojung. Dan kau tidak Jahat."

Pandangan Soojung perlahan menyapu lautan gadis tak berdosa yang sudah pasti akan mati di tangan Kai dan pasukan tudung merahnya. Namun Kyungsoo melupakan peringatan Dekan. Mereka bisa pulang kalau mereka beruda membuat permohonan itu dengan sungguh-sungguh. Soojung tahu Kyungsoo tidak mungkin bersungguh-sungguh membuat permohonan akhir kisah bersama sahabatnya. Tidak untuk yang kedua kalinya karena nyatanya Kyungsoo tidak melupakan sekolah ini.

Karena seorang sahabat sudah tidak cukup lagi untuk Kyungsoo.

Kyungsoo menginginkan seorang pangeran.

"Kita harus sembunyi di Hutan Biru dan membuat rencana," bisik Kyungsoo pada Soojung, begitu ingin segera melarikan diri sebelum Dekan kembali. "Mungkin kita bisa bermogrif ke Sekolah Laki-laki."

Tercengang, Soojung tidak berkata apa-apa sampai kemudian tatapannya bersirobok dengan matanya sendiri pada lukisan di dinding. Memakai mahkota kristal di puncak kastel, dia terlihat persis seperti seseorang yang dikenalnya. Jalinan rambut keemasan yang sama, sendirian kehilangan akhir bahagianya karena seorang laki-laki. Seorang yang mati sendirian karena hal itu.

"Kau terlalu cantik untuk dunia ini, Soojung."

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan ibunya.

Eomma ingin aku menemukannya, pikir Soojung. Menemukan dunia yang tidak akan membuatnya berakhir seperti ibunya. Dunia tempat dirinya dan Kyungsoo bisa bahagia selamanya. Dunia tempat mereka tidak akan lagi diganggu oleh laki-laki.

Dunia tanpa pangeran.

Dan hanya satu pangeran yang menghalangi mereka. Soojung menggertakkan giginya, air matanya menggenang. Seorang pangeran yang pasti akan dilupakan Kyungsoo setelah mati.

"Bukan Jahat, Kyungie. Sekolah ini adalah satu-satunya harapan kita," cetus Soojung.

Kyungsoo menegang. "Apa yang kau–"

"Dia bilang dia mengincarku, kan?" seru Soojung pada pasukan yang menantinya. Dia meringis marah sambil memandang kastel Kai. "Kalau begitu, biarkan dia mendatangiku."

Gadis-gadis itu bersorak parau dan mengerubuti pemimpin baru mereka.

"Kai mati!"

"Cowok-cowok mati!"

Kyungsoo pucat pasi saat mata Soojung bertemu dengan matanya sebelum menghilang di tengah-tengah keramaian.

Satu permohonan saja, dan dia sekarang sudah menggiring mereka ke dalam peperangan. Perang antara dua pihak yang memperebutkan hatinya. Perang antara dua orang yang disayanginya. Perang antara sahabatnya dan pangerannya.

Jiwa Kyungsoo dihanguskan rasa bersalah, janjinya pada seorang ayah habis terbakar.

Aku butuh bantuan, doanya sembari mengawasi Soojung melemparkan ciuman pada para tentaranya. Seseorang yang bisa melihat ini semua dengan jelas. Seseorang yang bisa memberitahunya siapa yang Baik dan siapa yang Jahat kali ini.

Saat dia menjauh dari keramaian itu, dilihatnya kilatan aneh di sudut, melayang-layang di atas lantai dekat pojok gelap lukisan Sader. Perlahan, sepasang mata kuning kecil melayang ke arahnya seperti dua butir kelereng yang digantung. Tiba-tiba sepasang lagi menyala di sebelahnya, lalu sepasang lagi, sementara sosok-sosok bayangan membungkuk berjalan cepat di balik tiang marmer.

Tiga ekor tikus memelototi Kyungsoo seakan dia telah mengucapkan kalimat ajaibnya. Kemudian mereka bergegas pergi lewat pintu belakang untuk memandunya ke tempat pemilik mereka berada.

.

.

.

TBC

Hi! Sekali lagi, bagi kalian yang ingin kontak saya bisa cek profile yaa. Ada ID Line saya di sana. Terima kasih : )

Dan maaf, untuk beberapa alasan, update kali ini tidak terlalu banyak rombakan, terutama chapter 4. Saya harap ini tidak mengecewakan readers :[