HEAL ME

Main casts : Park Chanyeol, Oh Sehun

Side casts : Suho, Xiumin, Baekhyun

Disclaimer : member EXO yang milik orang tuanya dan SMEnt semata, author pinjem nama doang

Warning : Yaoi, BL, typo


PARK CHANYEOL. Nama itu tertulis apik di buku puisi Sehun. Tak ada embel-embel apapun, hanya sebuah nama. Entah sudah berapa lama Sehun duduk di meja belajarnya memandangi nama tersebut. Pikirannya menerawang jauh. Dan entah sudah berapa kali Sehun mengulang-ulang nama itu di dalam pikirannya. Sambil mengetuk penanya pada meja dan sesekali meneguk susu cokelat dingin favoritnya, nama itu terus terngiang di kepala Sehun. Perlahan ia mulai menulis kembali dengan sedikit berpikir.

P for positive

A for appreciative

R for reliable

K for kind

C for charismatic

H for hardworking

A for adorable

N for nurturing

Y for youthful

E for energetic

O for optimistic

L for lovable

Setelah mengeja nama itu, Sehun tersenyum simpul. Setidaknya itu adalah gambaran tentang Chanyeol di matanya. Sehun membaca ulang kalimat-kalimat itu lalu merebahkan diri di atas kasurnya yang empuk ditemani beberapa boneka kesayangannya.

Ini sudah malam, bahkan hampir tengah malam, tapi Sehun tidak bisa tidur nyenyak. Tak apalah sedikit begadang. Batinnya. Toh besok hari libur, bangun sedikit lebih siang juga tidak apa-apa.

.

.

Hampir tiga bulan ia mengenal Chanyeol lebih dekat, membuat dirinya tak percaya. Ini sudah tahun ketiga Sehun kuliah, dan dia tidak menyangka bahwa akhirnya ada seseorang yang mau mengenalnya lebih dekat. Pandangan aneh orang lain terhadapnya sudah menjadi hal biasa bagi Sehun. Apa benar aku sudah terlalu menutup diri? Tapi, komentar miring setiap orang di sekitarku membuatku tak nyaman. Aku risih. Menyendiri adalah hal terbaik bagiku. Aku tak perlu mendengar celotehan orang lain, aku tak perlu merasa tersakiti karena orang lain, dan aku juga tidak perlu…. Mata Sehun berkaca-kaca, ia tau pasti akan menangis lagi kalau mengingat masa lalunya.

Chanyeol baik padaku. Dia tidak menganggapku aneh. Bahkan dia menyukai senyumku. Apakah aku pantas baginya? Aku tak ingin dia jatuh cinta padaku. Sehun kembali terisak. Bodoh! Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menjauh? Tapi berada di dekatnya membuatku nyaman…

Sehun mengingat kembali bagaimana Chanyeol mengatakan bahwa ia menyukai senyumnya, ketika jemari Chanyeol menyentuh dagunya, aroma tubuh Chanyeol yang khas ketika ia mendekatkan diri untuk membantu Sehun memakaikan sabuk pengaman. Sehun juga teringat bagaimana ketika Chanyeol menyebutnya malaikat, dan princess.. Meskipun Sehun seorang laki-laki tapi entah mengapa ia suka ketika Chanyeol memanggilnya princess. Bagi Sehun, Chanyeol memiliki kepribadian yang tak berbeda jauh dengan kakaknya. Ramah dan bisa diandalkan.

Sehun masih larut di dalam lamunannya. Berpikir apa yang akan dia perbuat. Haruskah aku belajar merubah diriku? Atau haruskah aku mengatakan semuanya kepada Chanyeol? Ya, semuanya! Apa aku bisa? Bagaimana kalau ia membenciku dan menjauhiku? Lelah berpikir membuat Sehun tertidur lelap.

.

.

"Tidak! Jangan! Aku mohon hentikan!" Sehun berteriak, meronta.

"Diamlah, manis. Kalau kau diam maka kami tak akan menyakitimu" ujar salah seorang lelaki yang ada di hadapan Sehun.

Suasana agak gelap. Sehun tak bisa melihat dengan jelas siapa ketiga bayangan yang ada di dekatnya. Yang Sehun tahu bahwa bayangan itu terlihat mengenakan seragam sekolah yang sama dengan Sehun.

Dengan suara terisak Sehun memohon lirih, "Aku mohon jangan lakukan ini padaku…", tapi ketiga orang yang ada dihadapannya tak menggubris perkataan Sehun.

"Tolong aku…" hampir habis suara Sehun, badannya letih dan sakit semua. Ingin memukul orang-orang tersebut sudah tak ada tenaga. Kepalanya pusing. Badannya juga menggigil. Lantai dingin dan kotor yang ia rasakan.

"Aaahhhhh!" Sehun berteriak keras.

"Sehun! Sehun!" terdengar suara Suho panik menggedor pintu.

Sehun bangun dengan napas tersengal-sengal, keringatnya membasahi wajah dan tubuhnya. Itu hanya mimpi. Mimpi buruk yang seperti kenyataan!

"Sehun buka pintunya!" teriak Suho lagi. Dengan badan yang tak bertenaga Sehun menjatuhkan dirinya ke lantai dari tempat tidur. Sehun memaksa kakinya untuk berdiri, dengan terseok-seok ia berjalan menuju pintu.

"Hyung…" suara Sehun melemah

Suho mendapati adiknya basah oleh keringat. Matanya sayu dan napasnya terengah-engah. Suho memeluk erat dan mengusap pelan punggung adiknya.

"Mimpi itu datang lagi?" bisik Suho pelan. Sehun mengangguk.

"Sudah, kau tenang ya. Semua hanya mimpi" Suho membelai rambut Sehun yang basah oleh keringat. Suho sendiri merasa khawatir dan ketakutan ketika mimpi buruk itu mendatangi Sehun lagi, tapi ia harus berusaha tenang di depan adiknya. Mimpi yang selalu sama.

"Hei.." kata Suho sambil membelai lembut pipi Sehun, "duduklah dulu di depan televisi. Aku akan mengambilkan minuman untukmu"

Sehun mengangguk dan berjalan pelan. Sehun melingkarkan tangannya di pundak Suho dan Suho melingkarkan tangannya di pinggang Sehun. Setiap kali mimpi itu datang, Sehun tampak rapuh di hadapan Suho.

Segera Suho berjalan ke arah dapur, membuatkan susu cokelat hangat kesukaan Sehun. Setelah itu ia mengambil handuk yang sudah dibasahi air hangat.

"Minumlah ini dulu" Suho memberikan segelas susu hangat itu pada Sehun. Perlahan-lahan ia mengelap peluh yang ada di wajah Sehun. Suho melihat pandangan Sehun sedang kosong, ia pun mencium kepala Sehun kemudian membelainya lembut.

"Aku takut.." suara Sehun masih melemah

"Bukankah sudah beberapa minggu ini kau tak bermimpi itu lagi? Ku dengar tidurmu sudah tenang. Apakah kau memikirkan sesuatu sebelum tidur tadi?"

Sehun menggeleng. Berbohong pada kakaknya. Sehun sendiri takut tapi ia juga tak ingin membuat kakaknya khawatir. Sehun tahu, ini kesalahan dia sendiri, terlalu memikirkan masa lalunya dan Chanyeol sebelum tidur.

Air mata Sehun sudah mengering. Napasnya sudah mulai teratur. Susu hangatnya pun juga telah habis. Sehun sudah lebih tenang sekarang. Tapi pandangannya masih menerawang jauh. Kosong.

"Bajumu basah. Gantilah dulu, setelah itu tidurlah denganku. Pagi masih lama dan aku tak ingin terjadi apa-apa lagi padamu"

Sehun mengangguk dan menuruti apa yang kakaknya perintahkan. Sehun berjalan dengan langkah gontai ke kamarnya, membuka lemari dan mengambil kaos sekenanya. Setelah berganti baju, ia berjalan menuju kamar Suho yang ada di sebelahnya.

"Kau tidur saja di kasurku, aku akan menggelar matras dan tidur di bawah"

"Hyung di sini saja.." rengek Sehun sambil menepuk-nepuk kasur tidurnya.

"Kasur itu tak terlalu besar, Sehun. Nanti kau malah tak bebas bergerak"

"Aku ingin dekat dengan hyung…"

"Ya sudah begini saja, kita tidur di depan televisi saja ya.. supaya lebih leluasa" Suho mengusap lembut kepala Sehun.

Kemudian Suho menyiapkan alas tidur mereka. Menggelar kasur lipat, menata bantal-bantal dan menyiapkan selimut. Selesai Suho mempersiapkan itu semua, Sehun langsung merebahkan badannya dan menutupi badannya dengan selimut hingga ke dada. Sehun letih.

Terdengar napas Sehun semakin teratur dan melambat. Itu tandanya dia sudah tidur terlelap. Suho memandangi wajah adiknya. Kenapa kau harus mengalami itu semua, Sehun? Ada raut kesedihan di wajah Suho, tapi ia harus kuat. Tinggal berdua dengan Sehun dan jauh dari kedua orang tua membuat Suho harus berperan ganda, tak hanya sebagai kakak tapi juga sebagai orang tua. Di sisi lain, ia dituntut harus kuat seperti ayahnya yang pekerja keras, dan di sisi satunya harus berperan sebagai ibu yang penuh kelembutan. Seorang ibu yang selalu memanjakan Sehun, memeluk ketika Sehun menangis, dan mencium kening Sehun sebelum tidur. Dan menjadi seorang ayah yang tegar, yang selalu memberi semangat kepada Sehun ketika ia terjatuh. Secara usia memang Sehun telah dewasa, tapi jauh di dalam dirinya ternyata lembut seperti bayi. Seperti porselen yang bagus dilihat dari luar tapi juga mudah rapuh.


TBC

Sorry.. karna ga ada chanhun moment dan singkatnya cerita di chapter ini maka author berbaik hati kasi update dobel

next chapter yuk...