Author : Di cerita ini fokus ke Kiba, bagaimana dia merasa bersalah karena tidak bisa membawa sahabatnya pulang. Meski Naruto sama Sasukenya tidak tampil tapi sai aharap yang baca tetap bisa enjoy.

Warning : T rate, transgender, sho-Ai.

Pairing : NaruXSasu/ Slight InoXKiba.

Disclaimer : I do not own Naruto, belong to Masashi Kishimoto.


Angel Of Tears

Chapter 6

(Kiba Vs Red evil)

.

.

Malamnya Kiba kembali menemui Tsunade-sama untuk melaporkan keberadaan Naruto.

"Kau sudah kembali Kiba. Apa kau sudah menemukan Naruto?" tanya Tsunade yang sepertinya terlihat begitu gelisah berkat kejadian hilangnya Naruto ini.

"Aku sudah menemukannya … Tapi dia tak mau pulang" balas Kiba yang seperti menyesalkan kenapa dia tidak bisa membujuk Naruto lebih keras lagi.

"Sudahlah, Tsunade. Yang jelas Kiba sudah berhasil menemukan Naruto. Setelah puas anak itu pasti kembali" kata Jiraiya berusaha menenangkan Tsunade yang tegang.

"Kau selalu saja begitu! Anak itu tak bisa dibiarkan berkeliaran disana!" balas Tsunade setengah membentak sambil menghela napas dengan kesal.

"Sudah, sudah jangan bertengkar!" Orochimaru yang mulai bosan melihat pertengkaran Jiraiya dan Tsunade berusaha menengahi.

"Kau juga sama saja seperti Jiraiya! Kalian laki-laki lembek!" Akhirnya Orochimaru ikut kena sasaran omelan Tsunade.

"Tsunade-sama … Aku ada satu berita lagi" kata-kata Kiba berhasil menghentikan pertengkaran antara tiga tetua tersebut.

"Berita apa lagi?" tanya Tsunade dengan napas memburu.

"Naruto … Dia berada dikediaman Sasuke Uchiha" ketiga para tetua yang mendengarnya langsung membelalakan matanya tak percaya. Butuh beberapa menit untuk mereka mengatur napas masing-masing, ternyata hal yang selama ditakutkan terjadi. Selama ini mereka berusaha menjauhi Naruto dari Sasuke sebelum Naruto menyadari siapa sebenarnya dirinya.

"Kepalaku jadi sakit … " kata Tsunade sambil memijit keningnya. Jiraiya dan Orochimaru juga hanya bisa terdiam.

"Kiba, kau keluarlah dulu" kata Orochimaru yang sepertinya mengerti keadaan Tsunade saat ini sedang tidak baik. Kiba mengangguk pasrah mengikuti perintah.

~o0o~

.

"Kiba!" tampak seorang angel berambut merah menghampiri Kiba dengan tergesa.

"Hai, Gaara … " sahut Kiba tidak bersemangat.

"Apa kau sudah menemukan dimana Naruto?" Gaara langsung bertanya dengan rasa penasaran sekaligus cemas.

"Sudah … ".

"Lalu mana dia?".

"Aku tak bisa membujuknya pulang".

" … Sudahlah Kiba, kita bisa membujuknya bersama-sama nanti!" Gaara berusaha menyemangati Kiba begitu tau sahabatnya sedang dalam kondisi yang tidak baik suasana hatinya.

"Dia ada bersama dengan Sasuke Uchiha" sontak Gaara tak kalah terkejutnya dari Tsunade tadi, matanya yang kecil itu melotot lebar, mulutnya setengah terbuka seakan dia tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.

"Kau serius? Tapi bagaimana bisa? Kalau sampai Naruto tau tentang jati dirinya bagaimana? Lalu apa keputusan Tsunade-sama dan yang lainnya?" Gaara bertanya dengan kekhawatiran yang besar, pertanyaan beruntun dilontarkan begitu dia bisa mengatasi rasa terkejutnya.

"Itulah, Tsunade-sama sedang merundingkan dengan yang lain di dalam … Kita hanya bisa menunggu" jawab Kiba mengeluh lelah, kemudian dia menyenderkan dirinya disebuah pilar untuk melepas beban berat yang dia rasakan sekarang.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan kalau sudah begini?" Tsunade sejak tadi berbicara sendiri seperti kebingungan, Jiraiya dan Orochimaru yang ada disana seolah-olah tak dianggap oleh Tsunade.

"Tenangkan pikiranmu Tsunade" Orochimaru mencoba menasehati, diantara ketiganya memang Orochimaru lah yang paling bisa mengkontrol emosi.

"Tenang katamu? Keadaan seperti ini bisa dikatakan keadaan berbahaya! Dan kau menyuruhku tenang?" Tsunade yang amarahnya sudah keluar segera melampiaskannya kepada Orochimaru.

"Tsunade, jangan kau lampiaskan amarahmu pada Orochimaru! Omongannya memang benar, kau harus tenang. Disaat seperti ini kita harus berpikir jernih". Ucap Jiraiya yang sedari tadi diam, karena dia sama paniknya seperti Tsunade.

"Kalau sudah begini, tak ada cara lain. Kita harus membawa Naruto meskipun harus memaksanya!" kata Tsunade yang sepertinya bisa meredakan sedikit rasa emosinya.

"Kau pikir Naruto tipe anak yang bisa dipaksa begitu saja? Selain itu apa kita sanggup menahan anak itu?" Jiraiya berkata seolah ingin mengingatkan Tsunade siapa sebenarnya Naruto.

"Aku rasa meskipun kita bergabung bertiga, kalau anak serius dia bisa saja mengalahkan kita" sambung Orochimaru yang membuat Tsunade semakin kesal saja. Dia jadi teringat saat dulu mereka bertiga menghadapi Naruto secara bersamaan, mereka harus melawannya habis-habisan, itupun berkat bantuan dari seorang angels legendaries yang bernama Minato. Kalau bukan karena dia mungkin saat itu mereka bertiga tidak bisa mengalahkan Naruto yang mengamuk saat itu.

"Sigh … Kalian benar, maafkan sikapku barusan … Tapi aku jadi ada ide untuk membawa Naruto kembali" jawab Tsunade yang sepertinya menemukan cara yang lebih baik untuk membawa Naruto. Orochimaru dan Jiraiya hanya saling pandang tak mengerti, tapi kalau Tsunade sudah tersenyum seperti itu, artinya dia sudah menemukan cara yang bagus.


"Tsunade-sama, apa yang perlu kulakukan?" tanya Kiba yang masuk bersama dengan Gaara tanpa mau untuk bertele-tele, rasanya dia sudah ingin sekali cepat-cepat tau rencana Tsunade.

"Kiba, kau oleskan benda ini pada tubuh Naruto saat anak itu tertidur" jawab Tsunade sambil menyerahkan sebuak kotak berwarna biru tua, dari dalamnya dapat tercium aroma yang sangat wangi sekali.

"Apa ini, Tsunade-sama?" tanya Kiba begitu mencium wangi dari kotak tersebut.

"Benda itu dapat membuat Naruto akan kembali kemari" kata Tsunade dengan senyum yang bisa dibilang cukup membuat orang penasaran tanpa memberikan penjelasan yang sesungguhnya.

"Ada baiknya kau tanya dulu sekali lagi pada Naruto. Kalau dia masih tidak mau pulang juga baru kau oleskan padanya" kata Jiraiya yang masih berusaha mencari jalan damai.

"Aku mengerti! Baiklah aku akan menjalankan tugas ini!" balas Kiba sambil menggenggam erat kotak tersebut.

.

.

"Kiba aku ikut denganmu!" kata Gaara ketika melihat Kiba sudah bersiap untuk terbang keluar pembatas.

"Tidak usah Gaara, biar aku sendiri saja … Ini adalah tanggung jawabku" balas Kiba sambil meremas kotak yang masih dia pegang.

"Tapi Kiba … Aku merasakan firasat buruk, aku merasa akan terjadi hal yang buruk" kata Gaara tanpa menyembunyikan rasa cemasnya. Gaara termasuk salah satu angels yang memiliki insting dan firasat yang kuat selain Hinata, dan apa yang mereka rasakan biasanya berubah jadi kenyataan.

"Aku akan baik-baik saja!" kata Kiba mantap penuh keyakinan.

" … Baiklah, tapi … Kalau terjadi apa-apa segera kabarkan padaku" kata Gaara yang akhirnya membiarkan temannya itu pergi.

"Aku janji, aku akan kembali bersama Naruto!" jawab Kiba yang kemudian terbang melesat pergi.

~o0o~

.

.

Kiba terbang keluar wilayah, sebelum terbang ketempat Sasuke, dia harus melewati salah satu hutan yang menjadi wilayah para iblis. Meski agak takut karena itu pertama kalinya Kiba terbang dimalam hari ditambah lagi melewati wilayah para iblis, dia tetap memberanikan diri karena dia tak mungkin putar arah. 'Aku harus berani, semua ini demi Naruto!' ucap Kiba berulang-ulang di dalam hatinya, sambil terus terbang perlahan.

.

Tapi ketika terbang mendadak Kiba terhantam suatu energi, membuatnya terjatuh dan menabrak beberapa pohon hingga akhirnya dia jatuh menyentuh tanah.

BRUK!

"A-aduh … Sa-sakit sekali!" Kiba meringis sambil memegangi punggungnya yang terasa remuk akibat benturan tadi. Kini Kiba berdiri sambil berusaha mencari-cari kotak yang terjatuh, tapi mendadak ada sebuah suara mengagetkannya.

"Kukira siapa, rupanya ada seorang angels kecil bermain-main di wilayah kami" ucap sebuah suara yang berada tepat beberapa meter di depan Kiba.

'Celaka … ' batin Kiba terkejut, begitu menyadari ada sosok iblis di depannya. Mata Kiba hampir keluar begitu melihat sang iblis berdiri tepat di depan kotak yang dia bawa.

"Apa yang kau lakukan disini angels?" tanya iblis itu kepada Kiba. Dengan perlahan Kiba mendongakkan kepalanya. Dapat terlihat iblis itu memiliki rambut merah yang hampir sama dengan Gaara, dengan mata emerald dan kulit putih. Sosok itu terlihat seperti seorang anak tanpa dosa, tapi tidak dengan seringai yang dibuatnya, dapat membuat siapapun merinding ketakutan.

"Hey, kenapa kau tak menjawab!" bentak iblis itu yang kemudian hendak maju tapi dihentikan Kiba. Tampaknya iblis itu belum menyadari kotak yang ada di depannya.

"A-aku, aku hanya ingin sedang mengunjungi seorang teman!" jawab Kiba tanpa pikir panjang lagi.

"Hah … Hahahahaha, jangan membuatku tertawa bocah! Sejak kapan seorang angels memiliki teman didunia manusia!" tentu saja iblis itu tau Kiba berbohong dia tertawa seolah mentertawakan kebodohan Kiba.

'Cepat pikirkan alasan lain Kiba!' Kiba memutar otaknya sambil terus-menerus memandang kotak kecil miliknya yang berada tepat di depan kaki sang iblis. Tapi sikap Kiba yang aneh ini malah menarik perhatian si iblis.

'Hmm … Apa yang dari tadi dilihatnya?' pikir iblis itu mulai curiga. Dia mengikuti pandangan mata Kiba yang terus-menerus tertuju ke arah kakinya. Setelah diikuti iblis itu menyeringai.

"Apa benda ini yang membuatmu khawatir?" tanya sang iblis sambil mengambil kotak yang sejak tadi dilihat Kiba.

'Ah, ketahuan!' Kiba terbelalak begitu menyadari kotak miliknya sudah pindah tangan.

"Benda yang menarik, bagaimana kalau benda ini menjadi milikku? Ketua pasti senang dengan hadiah yang kubawa ini" kata iblis itu yang kemudian menyelipkan kotak kecil itu dibalik bajunya.

"Cepat kembalikan kotak itu padaku!" Kiba akhirnya menggeram marah, wajahnya berubah. Taring dan cakar yang tajam menghiasi tubuhnya.

"Cih, jadi tidak boleh ya? Hmm … Apa boleh buat kalau begitu, kau akan kusingkirkan!" kata iblis itu yang bersiap menerima serangan Kiba. Pertarungan antara keduanya terjadi.

.

Diluar dugaan, dibalik fisiknya yang kecil, iblis itu cukup tangguh untuk dapat menyaingi kemampuan bertarungnya Kiba. Berkali-kali Kiba dibuat terdesak.

"Menyerah saja" ucap iblis itu santai dan memacu emosi Kiba.

"Diam saja kau!" kata Kiba yang kemudian melakukan gerakan jurus segel. Kiba memanggil hewan andalannya Akamaru.

"Ayo Akamaru!" teriak Kiba yang kemudian berlari bersamaan dengan Akamaru. Akamaru tak lama berubah menjadi seperti Kiba.

'Mau apa mereka?' iblis itu diam menanti serangan yang akan dilakukan Kiba dan Akamaru.

Seketika Kiba dan Akamaru menyerang bersamaan dan membentuk tubuh keduanya seperti tornado besar. Mereka berputar dan menyerang iblis itu.

DUAGH!

Serangan itu mengenai sang iblis tapi sepertinya tak cukup kuat untuk melukai iblis itu.

"Lumayan juga, tapi kau butuh waktu lebih lama lagi untuk membunuhku dengan seranganmu yang tidak berguna itu!" kata sang iblis merasa penuh dengan kemenangan.

"Bodoh, sejak awal aku tak berniat untuk membunuhmu! Tapi aku mengincar ini!" kata Kiba yang ternyata tadi dia melompat dengan cepat ketika melihat kotak miliknya terlempar dari dalam baju iblis itu.

"Kali ini kau benar-benar membuatku marah!" kata iblis itu dengan aura yang lebih kuat dari yang sebelumnya. Kiba dengan cepat menghilangkan Akamaru, agar anjing summon miliknya itu tak terluka.

"Rasakan ini!" keluar puluhan boneka dan kini mengitari Kiba. Masing-masing dari boneka itu memegang senjata-senjata yang menakutkan. Kiba terperangkap di dalam lingkaran boneka-boneka itu.

Kiba mengepakkan sayapnya dan berusaha keluar dari lingkaran itu dengan cara terbang, tapi boneka-boneka itu ikut semakin meninggi seolah mengikuti setiap gerakannya.

"MATI KAU!" bersamaan dengan aba-aba dari sang iblis, boneka-boneka itu menyerang Kiba secara bersamaan.

BLARRR! terjadilah ledakan dahsyat dan dapat terlihat tubuh Kiba terhempas.

.

"Suara apa itu?" tampak seorang gadis yang mendengar bunyi ledakan itu segera pergi keluar ke beranda. Dapat terlihat ada kepulan asap berwarna hitam kecoklatan tak jauh dari kediamannya. Tak lama gadis itu melihat Kiba yang meluncur cepat jatuh ke bawah.

"Aku harus menolongnya!" kata gadis itu setelah yakin dengan apa yang dilihatnya. Dia bergegas keluar dari rumahnya.

~o0o~

.

Gadis itu berlari kedalam hutan, dengan cepat dia terus berlari berharap orang yang dilihatnya masih selamat. Dia berlari menelusuri semak dan menerjang jalanan hutan yang tak rata dan banyak batu meskipun tanpa alas kaki.

"Hah … Hah … Hah … Kemana ya? Aku yakin jatuhnya tepat disini" gadis itu berhenti sejenak, dia mulai berjalan perlahan-lahan mencari disekitar situ.

"Ergh … ".

"Disana!" ucap gadis itu setengah berteriak begitu mendengar suara erangan dari balik semak sulur-sulur pohon. Gadis itu bergegas menarik-narik sulur pohon itu agar mampu menjangkau orang yang terperangkap di dalamnya.

"Astaga? Dia … " Gadis itu sangat terkejut sampai-sampai dirinya mematung untuk beberapa saat begitu melihat siapa yang ada disana. Dia menemukan seorang pemuda yang tubuhnya penuh dengan luka seperti akibat benda-benda tajam, pemuda itu berambut coklat dan yang membuatnya kaget adalah sayap yang berada dipunggung pemuda itu. Dia berasal dari ras angels.

Ini baru pertama kalinya dia bertemu langsung dengan ras angels yang selalu dianggap sakral oleh manusia. Untuk sesaat gadis itu sempat mengagumi pemuda di depannya ini.

"Eh? Kenapa aku jadi melamun! Aku harus cepat menolongnya!" gadis itu akhirnya mendekati Kiba yang berada dalam keadaan pingsan dan membawa Kiba ke rumahnya.

TBC …


Author : Ceritanya agak aneh, karena fic ini mengalami nasib yang sama dengan fic author yang lain, dokumennya hilang gak jelas dan saia terpaksa ngetik ulang lagi, dan saia ngetiknya dengan ingatan saia yang terbatas jadi begini lah hasilnya. Maap kalau banyak typos.

.

.

HAPPY READ!.