Title : Tears in the Thorn

Author : Elle Riyuu

Main Cast : Chanbaek

Genre : Romance, hurt/comfort

Rate : M

Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.

.

.

[CHAPTER 7]

.

.

.

Chanyeol duduk dengan tenang di samping pria yang tengah menyetir dengan rahang mengeras. Jongdae sedang marah dan Chanyeol tahu ia tidak perlu melakukan apapun untuk membuat amarah anak itu meledak padanya.

"Aku yang keliru atau kau memang semakin berengsek?" Suara Jongdae terdengar rendah dan serak, membuat Chanyeol tahu anak itu terlalu menahan emosinya.

"Kita sama-sama tahu kalau aku memang berengsek." Chanyeol tersenyum, sedikit bangga pada dirinya yang sangat tahu tabiat anak itu.

"Tingkat keberengsekanmu naik ke tingkat yang lebih berbahaya." Jongdae menyahut dengan geraman di akhir kalimatnya.

Chanyeol tertawa pelan,

"Semakin berbahaya, maka Phoenix akan semakin hidup." Chanyeol menyahut dengan kejam.

"Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ada jiwa sialan dalam tubuh rupawan? Iblis seharusnya tidak hidup di dunia manusia." Jongdae membelokan kemudinya dan memasuki sebuah bangunan tinggi dan besar, lalu Jongdae menghentikan mobil itu.

"Hanya jiwa iblis yang mampu bertahan di dunia yang kejam. Sekarang hentikan umpatanmu, anak kecil." Chanyeol bersiap keluar setelah pintunya dibuka oleh seorang pengawalnya dan mendengar Jongdae menyebut 'sialan' dengan desisan rendah.

Tapi tiba-tiba Chanyeol menghentikan kakinya yang sudah hampir keluar.

"Ijinkan seorang Wu itu memasuki wilayah Park. Aku perlu si sialan menyedihkan itu untuk mendapatkan Byun Corp." Chanyeol sedikit menyeringai.

"Dan kau. Pastikan tidak ada seorang pun yang menyakitinya selain aku. Ia hanya untukku, 'mainan' itu hanya milikku." Chanyeol akhirnya melangkah keluar disertai dengan mata Jongdae yang menatapnya tajam.

.

.

"Baekhyun hyung! Oh astaga... Aku membawa Yixing hyung, kumohon, berhentilah menangis." Jongdae datang dengan seseorang di belakangnya.

Jongdae cepat-cepat mendekati Baekhyun, hatinya terasa teriris saat melihat tubuh itu bergulung penuh kehampaan. Segera meraih tubuh itu dan mengangkatnya untuk menempatkannya di posisi yang lebih nyaman. Sedangkan Baekhyun hanya terdiam, merasakan kedamaian di hatinya saat tubuh hangat dan besar Jongdae menyentuh tubuhnya.

"Hai, Baekhyun." Yixing mulai dengan membuka peralatannya.

"Padahal aku berharap kau akan membaik hari ini." Yixing sedikit tersenyum dan meraih tangan kanan Baekhyun yang kembali berdarah.

"Berdarah lagi? Aku harap ini tidak memburuk."

Baekhyun ingin menjawab agar pria itu tidak hanya berbicara pada angin. Tapi Baekhyun tidak bisa, suaranya terasa menghilang karena menangis keras tadi.

"Dan Jongdae? Bisa bantu aku? Kau perlu untuk menyiapkan kompres agar mata Baekhyun tidak semakin membengkak." Yixing berujar dengn tatapan mata yang tampak sendu.

Tapi Baekhyun malah kembali menangis karena rasa peduli orang-orang itu. Baekhyun adalah korban kekerasan, dan ia merasa bahagia sekarang. Karena korban kekerasan dapat merasakan kebahagiaan hanya dari rasa peduli, hanya rasa peduli.

.

.

"Aku ingin datang! Tapi kau tahu kalau aku ti- Oh, ya Tuhan! Aku tidak tahu kalau kau akan masuk hari ini, hyung." Mata indah itu membesar dengan tidak biasa saat menatap senyum dari pria berbadan kurus di dekat meja mereka, mereka di cafetaria.

"Ya Tuhan... Ini sangat buruk! Benar-benar sangat buruk!" Bahkan sebuah novel dengan kisah cinta romantis yang ada di atas meja diabaikannya, seseorang di hadapannya bahkan lebih dari kata menyedihkan.

"Aku sudah katakan padamu, sialan! Kalau itu bukan hanya buruk! Tetapi benar-benar buruk!" Joonmyeon menyahut dengan rasa kesal yang mutlak.

"Berhenti mengumpat! Itu ada di luar kuasaku! Ada banyak orang di kafe dan hanya ada aku, dan Kun hyung! Aku tidak mungkin mengusir mereka dan menutup kafe! Okay?!"

"Winwin-" Joonmyeon ingin menyahut, tapi seseorang lebih dulu memotong perkataannya.

"Sehun." Luhan yang baru saja datang berjalan mendekati kekasihnya yang berada di dekat Yifan dan mengecup pipi kanan pria berwajah tampan itu sekali.

Sehun tersenyum dan memegang pipi Luhan, mencegah agar wajah itu tidak menjauh darinya.

"Kenapa? Aku cantik?" Luhan terdengar centil.

Dan Sehun terkekeh pelan,

"Lebih dari itu, kau mempesona." Sehun tersenyum lembut, membuat kening orang-orang di sana mengerjit jijik.

"Demi pantat Luhan-mu yang terlalu menggoda! Bisa kalian tidak pacaran di tempat umum?" Joonmyeon berujar sarkartis.

Luhan menegakkan tubuhnya dan memandang Winwin tidak suka.

"Kenapa? Kami romantis."

"Lebih dari itu, kalian menjijikkan." Yifan akhirnya berbicara setelah sebelumnya hanya diam, sedikit meniru cara Sehun berbicara.

"Hei!- Oh... Baekhyun?" Suara tinggi Luhan tiba-tiba menjadi cicitan kecil saat melihat seseorang itu di sana.

"Hai, Luhan." Baekhyun tersenyum terlalu lembut dan Luhan menarik Baekhyun untuk duduk lalu Luhan meletakkan bokongnya di samping tubuh kurus itu.

"Demi apapun yang kau cintai! Baek, kau... Kau masih terluka dan akan lebih baik untukmu tidak masuk hari ini. Kau bisa titip absenmu pada Taemin, dia orang baik dan dia pasti akan membantumu." Baekhyun terkekeh pada bagaimana lucunya wajah Luhan saat mengomel padanya. Luhan memang sebegini cerewet saat ia sedang terluka.

"Dia memang sangat baik dan selalu membantuku. Tapi terlepas dari itu, aku memang harus menyusun berkas agar aku cepat wisuda." Baekhyun tersenyum lembut lalu mengusap sebentar lengan Luhan.

"Oh Tuhan... Betapa aku sangat bersyukur kau tidak terlahir sebagai dominan. Aku bisa mati karena mencintaimu, Baek." Luhan mengerang pada cara Baekhyun tersenyum padanya dan Sehun hanya tertawa dan menarik Luhan ke dalam pelukannya.

Baekhyun terkekeh dan kembali tersenyum,

"Lagipula aku harus menyusul Chanyeol untuk menyelesaikan berkas, ia sudah pada bagian akhir."

Dan Luhan kembali mengerang, menarik diri dari pelukan Sehun dan melupakan belaian pria kebaratan itu di pipinya.

"Jangan sebut nama bajingan itu! Aku membencinya!"

"Hei, yang kau umpat itu adalah calon suamiku." Baekhyun mengingatkan dengan nada canda di dalamnya.

"Persetan dengan calon suami! Kalian akan menikah karena perjodohan konyol dan berengsek itu! Terasa aku akan menggoyangkan bokongku karena hal gila itu bisa-bisanya terjadi." Luhan berujar dengan luapan emosi di dalamnya, mengabaikan siulan Kun pada bagaimana cara ia mengumpat.

"Perhatikan mulutmu, manis. Itu sangat berbisa." Kun menumpukan dagunya di telapak tangan kanan dan tersenyum sedikit mendengar tawa Winwin di sebelahnya.

"Tapi lihatlah dirimu, Baek. Kau terluka dan pucat, kau tampak tidak baik." Joonmyeon menatap Baekhyun dengan kesenduan di matanya, mengacuhkan keributan di sekitarnya.

"Selama aku masih mampu berdiri, aku akan berusaha melakukannya sendiri."

"Oh... Kata-katamu menyakitiku, hyung." Winwin mencengkram kemeja bagian dadanya dengan dramatis.

Dan Baekhyun mendesis dengan wajah berkerut karena itu.

"Yixing memasuki wilayah Park tadi pagi. Kupikir bajingan itu menyakitimu." Suara Yifan membuat mereka bungkam dan menatap Baekhyun dengan keterkejutan.

Baekhyun terdiam, pandangan matanya berubah kosong. Tapi jika memandangnya lebih lekat, akan terlihat satu goresan kesenduan di sana. Rasa sengsara dan tersakiti kembali memenuhi hatinya. Calon suaminya, pria yang akan menjadi belahan jiwanya adalah pria yang menyakitinya. Pria yang ditakdirkan untuk memilikinya adalah pria yang kasar padanya. Dan Baekhyun sebenarnya sudah tidak kuat, Baekhyun tidak bisa untuk terus disakiti.

"Kau... Ma'af, Yifan hyung. Ia adalah takdirku dan aku tidak bisa mengatakan apapun. Ia adalah orang yang akan kucintai dan kuhormati. Ia adalah orang yang akan menjadi ayah untuk anak-anakku. Hanya... Aku harap kalian selalu bahagia."

Baekhyun memang tersakiti dan hatinya tidak bisa untuk terus dilukai. Tapi Baekhyun lebih tidak bisa untuk merusak pandangan memuja orang-orang pada calon suaminya. Dan Baekhyun akhirnya memilih untuk pergi.

.

.

Baekhyun melangkah menuju perpustakaan dengan sangat pelan, bertekat mengerjakan berkasnya. Tubuhnya memang kesakitan, tapi pendidikannya adalah yang utama. Tapi ada yang mengganjal di hatinya, Baekhyun memang tidak merasakan nyaman di hatinya. Rasa tidak nyaman karena pembicaraan tadi dan karena meninggalkan teman-temannya tanpa pamit. Kepala Baekhyun terasa penuh karena rasa bersalah.

"Oh, Byun Baekhyun..." Seorang wanita memanggil nama Baekhyun dan Baekhyun menatapnya untuk menemukan wanita itu melihat ke jam tangannya sebentar.

"Selamat pagi." Ini pukul 10.32 am, masih pagi.

"Selamat pagi, Mrs. Seo." Baekhyun membungkukan tubuhnya lalu tersenyum lembut.

"Aku perlu bukumu pagi ini." Baekhyun mencoba berbicara sedikit sementara wanita itu tengah mendatanya.

"Oh... Betapa buku-buku itu mencintaimu, aku bisa mendengarnya." Mereka tertawa karena cara wanita itu berbicara.

"Baiklah, nikmati waktumu." Baekhyun tersenyum dan membungkukkan tubuhnya sekali seraya menggumamkan terima kasih dengan lembut.

Baekhyun berjalan menuju ke meja paling ujung, tempat yang tertutup oleh sebuah rak besar yang terisi oleh deretan buku-buku sejarah. Baekhyun perlu tempat yang tenang untuk menyelesaikan berkasnya yang sebenarnya sudah sedikit ia kerjakan bagian awalnya. Sedikit yang sedikit sekali, sehingga Baekhyun harus mengambil beberapa buku untuk referensi.

Baekhyun menyalakan laptopnya lalu mengetik dengan cepat. Sedikit lagi, Baekhyun akan menyelesaikan awalan berkasnya. Baekhyun hanya perlu membaca dan memperbaikinya.

"Hah..." Baekhyun menghela napasnya, sedikit merasa lega karena awalan berkasnya akan segera selesai.

Baekhyun akhirnya berdiri dengan sedikit senyum di bibirnya. Ia akan meletakkan buku itu di tempat semula dan mengambil buku lain lalu membaca ulang ketikannya. Karena, serius, kesalahan pengetikan dan tata bahasa bukan hal yang bisa ditoleransi.

Keadaan perpustakaan menjadi sangat sepi, tapi Baekhyun tidak peduli. Perpustakaan memang sangat sering sepi, karena kebanyakan mahasiswa berpikir kalau bau buku bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka akan pergi ke tempat itu hanya jika mendapatkan tumpukan tugas. Tapi bagi Baekhyun perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan. Terlebih jika sepi seperti ini, Baekhyun akan lebih berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

"Ternyata tempat ini masih menjadi tempat kesukaanmu."

Deg!

Jantung Baekhyun terasa berhenti secara tiba-tiba saat suara itu menyapa gendang telinganya. Tidak, kehadiran orang itu kembali membuka paksa memori menyakitkannya, membuat lidahnya kelu.

"Setahun. Sudah setahun, Baekhyun. Sudah setahun aku berusaha melupakanmu." Suara itu terdengar rendah seraya tubuh itu sedikit demi sedikit mendekati Baekhyun.

Keringat mulai muncul di pelipis Baekhyun. Wajahnya yang tadi pucat sekarang menjadi lebih putih, tidak berwarna. Bulatan kecokelatannya tampak gemetar. Tubuhnya yang gemetaran tampak mengkerut dengan ketegangan. Baekhyun takut, sangat ketakutan. Ingatan yang menyiksanya terasa melayang-layang di permukaan matanya.

"Ja-jangan..." Cicitan akhirnya terdengar setelah besarnya usaha ia menimbulkan suaranya.

"Kenapa melarangku, Baekhyun? Berhenti melarangku, aku tidak bisa tanpamu. Kau menghadiri mimpiku setiap malam, lalu kenapa aku harus menjauh?" Orang itu telah berdiri di samping kiri kursi Baekhyun, membuat Baekhyun semakin termakan oleh rasa takut.

"B-berhenti, hyung... Berhenti... I-ini salah... Jangan..." Baekhyun berusaha memberontak dengan tubuhnya yang lemah saat orang itu menarik lengan kirinya untuk membuatnya berdiri dan memeluk tubuhnya.

"Kenapa, Baekhyun? Aku menginginkanmu dan tidak ada yang salah dengan itu." Orang itu mencoba mendekatkan wajahnya pada Baekhyun yang terus mencoba menjauh.

"Kau s-suami noona-ku. K-kita tidak b-bisa. Kita ti-tidak b-boleh, Minho hyung..."

Kejadian malam itu terasa mengaduk-aduk otaknya. Malam saat pertama kali suami kakaknya mencoba menyentuhnya. Malam saat orang yang tidak dicintainya mencoba menjamahnya.

"Itu bukan alasan yang tepat untuk membuatku berhenti menyukaimu." Minho berhasil mengecup pipi kanan Baekhyun dan terkekeh setelahnya, membuat Baekhyun memekik kecil dan memberontak dengan lebih keras.

Baekhyun menangis karena rasa takut dan kesakitan. Baekhyun ingin berteriak, tapi suaranya terasa menghilang ditelan rasa panik. Ini yang selalu ia sesalkan dalam kelahirannya. Baekhyun yang lemah dan tidak bisa melakukan apapun saat keskitan terus menamparnya. Terkadang ia bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa kesakitan selalu menghampirinya? Kenapa ia harus selalu terluka? Tapi sering kali sebuah jawaban muncul di kepalanya. Karena ia adalah anak haram. Ia adalah anak yang muncul karena kebejatan orang-orang tidak berhati. Ia adalah anak yang tidak diharapkan. Dan semua rasa kesakitan adalah karma yang harus dijalaninya di kehidupan.

"Akkhh!" Baekhyun sedikit memekik saat pria bejat itu menghisap lehernya.

Baekhyun terkunci dan tidak bisa berkutik. Sekali lagi ia meratapi kesedihan yang menimpanya. Ia tengah dinikmati suami kakaknya yang tidak dicintainya. Dan orang yang dicintainya telah pergi jauh meninggalkannya. Baekhyun sendirian dan terus tersiksa.

"Berhenti, hyung... Hiks.. Jangan..." Baekhyun menggeliat kecil saat tangan besar Minho meremas bokongnya, Baekhyun sangat takut.

"Mmh... Baekhyun... Mmh..." Minho terus menerus bergumam karena rasa manis kulit Baekhyun yang memabukkan.

"Tidak, hyung... Tidak..." Baekhyun kembali memberontak dengan tangisnya yang semakin meledak.

Baekhyun membenci dirinya sendiri. Baekhyun benci kehidupannya. Baekhyun benci takdirnya. Semua kejadian menyakitkan berputar di kepalanya, membuatnya menggigil dalam pelukan pria itu. Ingatan-ingatan itu melemahkannya, membuat kakinya mundur perlahan mengikuti keinginan pria itu, menyandarkannya pada sebuah rak besar di belakangnya yang berisikan buku seni. Baekhyun kalah dan ia menyerah mempertahankan kehidupannya. Baekhyun akan mengakhiri dirinya sendiri setelah ini.

"Baekhyun.. Mnh... Kau- oh... Manis sekali..." Sekarang tangan Minho beralih ke tubuh bagian depan Baekhyun, bergerak acak.

Baekhyun hanya terus menangis dan membiarkan tubuhnya bersandar nyaris seutuhnya di rak buku di belakangnya saat merasakan pria itu mengelus-elus dadanya dan berputar acak di perutnya yang cekung.

"Baekhyun, aku akan melakukannya sekarang." Minho memulai dengan menjilat cuping telinga Baekhyun dengan lidahnya yang panas dan basah, mengabaikan Baekhyun yang menggeleng lemah.

Dan Baekhyun menggigit bibir bawahnya saat tangisnya semakin keras. Merasakan tangan besar dan kasar Minho mulai menanggalkan kancing-kancing kemejanya. Hingga dingin menyapa kulit tubuh bagian depannya, ia tahu seluruh kancingnya telah terbuka. Baekhyun mengalihkan pandangannya saat melihat tatapan pria bejat di depannya. Hanya bisa terisak-isak karena merasakan kehancuran. Tapi malah membuat ia semakin tampak menggoda di mata kakak iparnya.

"Baekhyun.. Oh... Kau sangat indah, kau sangat cantik..."

"Akkhh... Hiks..." Minho mulai menyesap dadanya.

Baekhyun memejamkan matanya, membiarkan kehancuran melumpuhkannya. Tapi tiba-tiba sesuatu melintas di matanya. Wajah Chanyeol, wajah calon suaminya. Dan itu membuat sesuatu membara di hatinya. Baekhyun harus menjaga kehormatannya untuk Chanyeol.

"Ti-tidak! Menjauh dariku!" Entah kekuatan dari mana Baekhyun berhasil mendorong tubuh orang itu menjauh darinya.

Minho menggeram dan Baekhyun segera berlari menuju pintu yang terlihat menutup. Meraih kenopnya dan memutarnya. Tapi mata Baekhyun membesar, pintu itu terkunci. Dan Baekhyun segera berbalik dengan tubuh gemetar saat mendengar suara tawa puas di belakangnya.

"Kau kira akan semudah itu kau lari dariku?" Minho mendekati Baekhyun dengan wajah yang menyeringai.

"Ja-jangan mendekat!" Suara Baekhyun terdengar bergetar dan punggungnya menekan pintu, seakan ingin menyatu dengan pintu itu.

"Kemari, Baekhyun. Kemarilah." Minho meraih lengan Baekhyun dan menariknya paksa.

"Lepaskan aku!" Baekhyun berontak sambil menatap tempat dimana Mrs. Seo berada tadi.

Dan Minho tahu apa arti tatapan itu, tatapan mencari pertolongan.

"Kau kira bagaimana aku bisa ada disini dan mengunci pintunya?" Minho mendekatkan wajahnya, ingin mencium bibir Baekhyun. Tapi Baekhyun menolehkan wajahnya, membuat Minho terkekeh karena keberanian Baekhyun menolak sentuhannya.

"Mrs. Seo memiliki beberapa urusan dan aku adalah dosen yang dipercayakan untuk menjaga perpustakaan ini sementara ia menyelesaikan urusannya. Menarik bukan?" Dan Minho kembali disudutkan ke rak terdekat, rak yang berisikan deretan buku-buku Sastra Korea.

"Tidak! Menjauh!" Baekhyun memberontak dan Minho menyeringai karena permainan mereka yang semakin menarik.

"To-tolong! Chanyeol!" Baekhyun tidak tahu apa yang ada di kepalanya, yang ia tahu dirinya hanya memanggil nama calon suaminya dengan tiba-tiba. Ada sedikit ketenangan di hatinya saat menyebut nama itu. Baekhyun rasa ia membutuhkan pertolongan calon suaminya.

"Apa kau baru saja memanggil nama calon suamimu yang berengsek itu? Jangan banyak bermimpi, sayang. Ia tidak akan membantumu." Minho melepaskan dasinya dengan cepat lalu mengikat tangan Baekhyun dengan paksa.

"Tidak! Tidak!" Baekhyun tidak mampu terus melawan karena tangan kanannya kembali berdarah.

"Sekarang kita mulai..." Dengan lapar memandang Baekhyun yang menangis keras, Minho dengan cepat memagut bibir yang tampak gemetar itu.

Dan Baekhyun memejamkan matanya, mengecap bagaimana pahitnya keadaannya saat ini. Membiarkan air matanya terus mengalir, Baekhyun benar-benar kalah dan hanya bisa berharap dalam hati.

'Chanyeol... Kumohon... Tolong aku..."

.

.

"Hyung, aku ada kelas. Aku harus pergi." Nada suara itu terdengar sedih.

Tapi Chanyeol malah terkekeh dan mencubit gemas hidung pria-nya.

"Masuklah dulu. Hyung akan mengantarmu." Chanyeol lalu berdiri. Mereka sedang duduk di taman dekat fakultas kedokteran. Taman yang cukup indah dan sepi.

"Tapi aku masih ingin bersama hyung..." Pria mungil itu menunjukkan ekspresi wajah merajuk dengan memajukan bibirnya.

Chanyeol kembali terkekeh dan mengecup bibir itu sekilas.

"Nanti juga bisa kan, Kyungsoo? Ayolah, hyung akan mengantarmu." Chanyeol menarik tangan Kyungsoo untuk berdiri.

Dan Kyungsoo akhirnya berdiri, mengalah pada Chanyeol dan membiarkan pemuda yang dicintainya itu merangkulnya. Membiarkan rasa bahagia meledak-ledak di perutnya.

Mereka telah lama saling mengenal, sejak keduanya baru menginjak usia remaja. Jadi Kyungsoo rasa itu tidaklah salah jika ia jatuh cinta pada Chanyeol. Tidak salah untuk mencintai orang yang selalu menemani dan menyayanginya. Chanyeol adalah miliknya dan akan selalu bersamanya, meski sebenarnya ia tahu kalau Chanyeol tidak mencintainya. Chanyeol hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Tapi Kyungsoo adalah keturunan Wu, seorang bungsu dari Wu. Meski ia tidak dilahirkan sebagai dominan, tapi ia tetap memiliki pengaruh yang besar.

"Kita sampai." Chanyeol berhenti di depan ruangan Kyungsoo.

"Masuklah dan belajarlah dengan benar." Chanyeol mengusak rambut Kyungsoo disertai dengan senyuman lembut dan penuh dengan kehangatan.

"Baiklah, sampai jumpa, hyung. Aku mencintaimu." Kyungsoo juga tersenyum lembut.

"Aku tahu." Jawaban itu yang selalu keluar dari bibir Chanyeol saat Kyungsoo berkata kalau ia mencintai Chanyeol.

Dan Kyungsoo sudah sangat terbiasa, meski sedikit rasa sakit masih timbul di hatinya

.

.

"Bagaimana kabar Jeno?" Winwin mencoba mencairkan atmosfer beku sejak Baekhyun pergi tadi.

"Baik. Anak itu baik-baik saja." Sehun tersenyum, mengingat betapa menggemaskannya kaki tangan paling diandalkannya itu.

"Terkadang aku merasa kasihan padanya. Ia masih terlalu kecil untuk pekerjaan mengerikan itu." Joonmyeon ikut menimpali.

Karena, serius, Jeno sangat menggemaskan untuk mahasiswa yang memasuki semester awal.

"Sehun menyayangi anak itu, Jeno tidak akan disakiti." Luhan mengerti bagaimana Joonmyeon mencintai anak-anak. Jeno telah Joonmyeon anggap bagai putra sendiri.

"Tapi bagaimana bisa bocah sekecil itu menarik pelatuk dan melesakkan peluru di antara mata seseorang? Itu terlalu mengerikan untuk anak seusianya." Joonmyeon berkata dengan rasa khawatir yang kental. Kerena, serius, Joonmyeon bahkan tidak mampu melakukan apa yang Jeno lakukan.

"Ia harus bisa karena itu kewajibannya. Ia bisa karena ia terlatih." Chanyeol tiba-tiba datang dan bergabung dengan duduk di sebelah Sehun.

"Oh, Chanyeol... Aku pikir kau tidak ke kampus hari ini." Yifan menyapa duluan.

"Aku ke kampus untuk beberapa urusan dan juga untuk Kyungsoo." Chanyeol menyahut dengan senyuman kecil di bibirnya.

"Oh... Romantis sekali. Kau pacar yang romantis." Luhan berucap sarkartis seraya melesakkan kepalanya ke dada Sehun.

"Tentu, tentu saja. Hanya katakan pada dunia bahwa priamu adalah pria teromantis sejagat raya." Chanyeol sudah terlalu kenyang dengan sikap kurang ajar Luhan.

"Dengan senang hati. Ouh... Puppy-nya master Sehun akan melakukannya tanpa segan." Luhan mengusap-usapkan kepalanya pada dada Sehun, membuat Sehun terkekeh pelan.

"Sehun, apa kau tidak malu memiliki pacar seperti itu?" Chanyeol dan pertanyaan bodohnya membuat kepala Luhan mendidih.

"Hei!-"

"Ngomong-ngomong, Baekhyun hyung masuk hari ini." Winwin segera memotong perkataan Luhan, mencegah terjadinya amukan memekakkan telinga yang berbahaya.

"Aku sebenarnya tidak tahu ia masuk hari ini. Aku meninggalkanya tadi pagi saat ia masih dalam 2 pilihan." Mata Chanyeol menunjukkan sedikit rasa sesal.

"Ia masuk dan membawa laptop-nya." Joonmyeon menyahut dan meletakkan kepalanya di bahu Yifan.

Chanyeol mengernyitkan keningnya, matanya tampak kebingungan.

"Ia pergi setelah kami merusak mood-nya. Mungkin ke perpustakaan untuk menyelesaikan berkasnya." Sehun bersuara setelah tahu apa arti tatapan Chanyeol tadi.

Tapi kening Chanyeol semakin berkerut dan manik hitamnya bergerak-gerak gelisah, menimbulkan kebingungan di wajah orang-orang di sana. Bukan sesuatu yang buruk, tetapi sangat buruk. Yang Chanyeol ingat pintu perpustakaan tertutup saat ia mengantar Kyungsoo tadi. Dan Sehun mengatakan Baekhyun kemungkinan besar ada di perpustakaan. Mata Chanyeol membesar dramatis, ia yakin seribu persen ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Baekhyun dalam masalah dan Chanyeol harus bertindak.

.

.

"Sial! Sesuatu yang buruk tengah terjadi!" Chanyeol berlari ke arah perpustakaan, mengabaikan teman-temannya yang mengejarnya.

Entah mengapa Chanyeol merasa sangat khawatir dan marah saat ini. Memikirkan Baekhyun dalam masalah cukup untuk membuat amarahnya meledak-ledak.

"Baekhyun! Kau di dalam?!" Chanyeol berteriak keras sambil mencoba membuka pintu perpustakaan yang baru sedetik lalu disentuhnya.

"Sial! Terkunci!" Chanyeol mendesis dan mengacak rambutnya frustasi.

"Baekhyun! Kau di dalam?! Jawab aku!" Chanyeol menggedor-gedor pintu kokoh di depannya.

"Kita dobrak, hyung. Yifan hyung, Sehun hyung, cepat bantu!" Kun segera menghampiri Chanyeol diikuti Yifan, dan Sehun.

Dan pada dobrakan ketiga pintu itu terbuka dan menampilkan ruangan yang tampak sepi dan kosong. Chanyeol lalu masuk dengan langkah lebar.

"Jangan! Biarkan Chanyeol menyelesaikan urusannya." Yifan menahan Sehun yang ingin menyusul Chanyeol dan Sehun hanya mengangguk setuju, berpikir tidak salah jika Chanyeol menjadi benar-benar pria untuk calon istrinya.

"Bangsat! Bedebah sialan!" Teriakan murka Chanyeol menarik seluruh teman-temannya masuk.

Tapi mata orang-orang itu tiba-tiba membola, selanjutnya ada yang menggeram dan ada yang merasakan rahangnya hendak jatuh. Baekhyun benar-benar terlihat mengerikan dan menyedihkan, benar-benar berantakkan.

Baekhyun melihat Chanyeol yang menatapnya, matanya semakin terasa memanas lalu menggumamkan,

"Chan- Chanyeol..." dengan begitu lirih.

Chanyeol menggeram saat calon istrinya menggumamkan namanya. Baekhyun-nya terlihat menyedihkan dengan wajah terluka. Tubuh kurus calon istrinya yang tidak berdaya terlihat gemetar, setengah telanjang dengan kancing kemeja yang terbuka seluruhnya. Sabuknya telah terlempar ke dekat pintu dan zipper celananya terbuka, menampilkan satu penutup terakhir di dalamnya.

Baekhyun terlihat mengerikan dengan tangan kanannya yang kembali berdarah. Wajah tirusnya tampak memancarkan keputusasaan, sudut bibirnya terluka, pelipisnya lebam, dan matanya bengkak. Tangannya terikat dan terdapat bercak-bercak kemerahan di tubuh bagian atasnya. Lebam di perut cekung Baekhyun masih terlihat dan semakin tampak mengganggu dengan bercak-bercak kemerahan menjijikkan itu. Baekhyun tampak tidak berdaya dengan kaki terbuka lebar dan terisak-isak.

"Menjauh darinya, sialan!" Chanyeol berjalan cepat dan menarik pria di depan Baekhyun dengan beringas.

BUGH!

Pria itu tersungkur pada pukulan pertama yang Chanyeol berikan pada wajahnya, terlalu lemah karena hasrat yang belum tercapai. Chanyeol mendekati Baekhyun dengan keseriusan yang mutlak, merasa satu pukulan cukup untuk merobohkan pria itu. Biar teman-temannya yang mengurus sisanya, Chanyeol hanya ingin menenangkan calon istrinya.

"Baek, ini aku." Chanyeol menutup zipper Baekhyun, merasa sedikit panik saat Baekhyun menggigil ketakutan dan memejamkan mata saat ia menyentuhnya.

"Kau bersamaku, kau aman bersamaku." Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan melepaskan ikatan di pergelangan tangan yang terlalu kurus itu, sedikit merasa tenang karena Baekhyun membuka mata.

"A-aku ti-tidak bisa. A-aku tidak i-ingin. A-a-aku-" Napas Baekhyun mulai tersengal-sengal, manik cokelatnya tampak bergerak-gerak ketakutan.

"Tidak, tidak. Ja-jangan s-sakiti aku! Ku-kumohon." Baekhyun memeluk dirinya sendiri dan mulai memohon.

Chanyeol merasakan kebingungan dan panik menyerangnya setengah mati. Chanyeol terlalu takut untuk apa yag akan ia lakukan kemudian, karena Chanyeol tidak tahu apapun.

"Aku di sini. Aku di sini, sayang. Tenanglah." Chanyeol memeluk tubuh kurus Baekhyun yang terasa menggigil.

"Tidak! Ti-tidak, Chan! Pergi! Pergi! Me-mereka bisa menyakitimu!" Baekhyun memberontak dengan usaha yang sia-sia. Chanyeol sudah menyelamatkannya dan Baekhyun tidak bisa membiarkan Chanyeol terluka. Karena mereka ada di sana, mereka yang akan menyakiti Chanyeol ada di sana, Baekhyun melihat mereka.

"Tidak ada yang akan menyakitimu. Tidak ada yang akan menyakiti kita. Kau aman bersamaku, sayang." Chanyeol mengusap peluh dan air mata yang muncul di wajah Baekhyun yang tengah menangis keras.

"Tidak, ti-tidak..."" Napas Baekhyun tersengal-sengal dan terdengar berisik, membuat Chanyeol semakin termakan rasa khawatir.

"Bernapaslah. Bernapaslah, sayang. Bernapaslah seperti aku. Kau bisa, kau bisa melakukannya." Chanyeol meletakkan tangan calon istrinya yang kurus dan gemetar di dadanya, menginstruksinya untuk bernapas. Baekhyun harus bernapas seperti dirinya.

Tapi Baekhyun malah menggeleng kuat dan perlahan-lahan matanya tertutup rapat, membuat satu pukulan terasa menghantam jantung Chanyeol dengan keras.

"Baekhyun! Baekhyun!" Chanyeol berteriak seraya menggoncangkan tubuh Baekhyun yang sudah terkulai lemah.

"Aku akan menyetir, hyung! Ayo!" Sehun tiba-tiba memanggilnya dan menginstruksinya untuk segera keluar.

Dan Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun yang terasa terlalu ringan dengan cepat, merasakan rasa khawatir yang asing memenuhi dadanya.

.

TBC/END?

.

.

Semi-M, buat pemanasan XD dan aku lupa bilang kalo disini ada Minho, aku mau pinjem nama babang ganteng dulu :* kkk.. sengaja buat Baek hampir di-rape Minho, tapi hampir lho ya.. ga tega aku buat dia bobol sama orang lain, maunya ama Chan ajahh.

Buat yang udah review :

rusacadel (welcome to ma world~ semoga kamu suka kelanjutannya ya~) | yousee | Guest | Baekbooty | baekyeol1097 | Guest(2) | rimaa | cbeakkie614 | ceciliagata | park yeolna (makasih sudah sampe review 3 kali, say~ syukur deh kamu suka sama ff ini, tungguin chap selanjutnya ya~) | dianarositadewi4 | chanbaekdear6104 | sarahriyad04 | Flakesscarlet | BabyWolf Jonginnie'Kim | Park RinHyun-Uchiha | egatoti | meliarisky7 | Nurfadillah | Eka915 | Baek13erry | winter park chanchan | yehet98 | byankai | AlexandraLexa | mbsbtbujcc

Wahh makasih banget buat respon kalian, aku ga nyangka bakal segini banyak. Jadi makin semangat nulis nih. Gimana aku bisa ga semangat kalo reader aku ngasih banyak feedback. Semoga kalian suka ya sama update aku yang ini, jangan lupa review lagi. Luv ya :*

Nah.. alasan aku buat M-Preg itu karena kan udah jelas tuh kan ya kalo Chanyeol itu bakal jadi pewaris Park Corp, ga mungkin dong dia ga punya keturunan yang nanti bakal ngelanjuti? Jadilah Baekhyun harus hamil anak Chanyeol. Gituuu.. sekali lagi makasih ya reviewnyaa, makasih banyak.

.

Hmm.. 15 reviews for update, more than 15 for FAST update.

Last, you reviewing and I writing~ ^^