Author: Melody-Cinta

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Trans TV and TSKS Channel

Genre: Romance/Friendship

Inspired by: SM*SH, Cinta Cenat Cenut and He's Beautiful

Warning: AU, OC, OOC, Lime, Gaje, dan sedikit plagiat. Tapi Mel usahakan ceritanya berbeda. Ah, ya, dan aku mencoba Rated T semi M.

!

SMACK:

Six Men As Cool Knight

!

"KITA PUTUS?" Karin berteriak kaget. Matanya membelalak tanda tak percaya. "Tapi kenapa? Kita tidak pernah mempunyai masalah," Karin masih memasang wajah bingung, kaget dan juga kecewa. "Kenapa kau bisa-bisanya bilang begitu? Kalau aku ada salah, aku minta maaf. Tapi.. bukan begini caranya.." Karin masih melanjutkan ucapannya.

Sasuke mendecak jengkel sambil memutar bola matanya kesal, "Masalahnya simpel. Aku tidak pernah mencintaimu. Puas?" jawab Sasuke. Mencoba mengemas jawaban dari semua pertanyaan yang dilontarkan Karin.

"Tapi kau tau kan aku masih sayang padamu?" Karin berusaha keras membuat Sasuke memberikan setidaknya sedikit belas kasihan kepadanya, sehingga perjalanan cinta mereka tidak berhenti sampai di sini. "Kau mau apa? Uang? Popularitas? Aku bisa memberikan semuanya untukmu!" ujarnya lagi.

Sasuke kembali memutar bola matanya, "Uang? Popularitas? Menurutmu aku membutuhkan itu? Aku sudah punya banyak uang, dan aku punya popularitas, untuk apa aku memanfaatkanmu untuk itu semua?" tanya Sasuke lagi. "Pokoknya kita selesai, sampai di sini. Aku tak mau kita berhubungan lagi." Sasuke pun memilih untuk pergi meninggalkan Karin yang masih tak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.

"Atas dasar apa Sasuke memutuskanku? Pasti ada motif lain. Dan aku harus mencari apa itu.." Karin tersenyum licik. Ia berjalan ke sebuah bar dan memesan satu gelas champagne. Tujuannya jelas: ia akan mabuk malam ini.

SMACK

"HOAAH!" Naruto menguap. Ia baru saja bangun dari tidur panjangnya hari itu; di rumah sakit. Dengan masih malas, ia berusaha melihat kearah jam tangannya dan merutuk karena ia tidak memakai jam digital. Setidaknya kalau dia memakai jam digital, ia tak perlu membuka lebar-lebar matanya yang mengantuk untuk mengetahui sekarang jam berapa. "Jam tujuh. Hoah, untung saja ini hari sabtu.." Naruto mengacak-acak rambutnya dan meregangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur di sofa.

KRIEEK

Pintu kamar rawat terbuka. Seorang perempuan dengan rambut pirang panjang masuk ke kamar rawat itu. Tak salah lagi, dia adalah Ino. Ia datang dengan sekeranjang buah dan seikat bunga lily yang kelihatannya masih segar dan wangi.

"Ah, Naruto, kau sudah bangun?" Ino tersenyum dan menaruh seikat bunga yang ia bawa ke vas yang berada di samping kasur Sai.

Naruto mengangguk, ia lalu mengambil HPnya dan mengeceknya. Siapa tau ada sms atau mungkin telepon atau apapun itu yang muncul di HPnya.

"Kau sudah sarapan? Kalau belum, kau bisa sarapan di kantin sekarang. Aku yang akan menjaga Sai di sini," ujar Ino lalu menaruh sekeranjang buah itu di tempat yang sama dimana seikat bunga sebelumnya ia taruh, lalu duduk di sebuah kursi di dekat Sai.

Setelah melihat ada satu SMS di sana, Naruto akhirnya berdiri dari posisi duduknya dan berjalan kearah pintu, "Aku sarapan dulu. Tolong jaga dia." Ujarnya lalu menghilang setelah pintu ditutup.

Ino meletakkan tangannya di dahi Sai, lalu tangannya yang lain di dahinya sendiri; cara kuno untuk mengecek suhu tubuh seseorang, "Baguslah, panasmu sudah turun," ujar Ino sambil tersenyum.

"Hhh.." Sai membuka matanya perlahan, dan sekali lagi, orang pertama yang dilihatnya adalah Ino. Bidadari pelindungnya selama ini. "I.. no..?" panggilnya pelan. Suaranya terdengar sangat serak, dan seperti berbisik.

Ino membelalakan matanya, "Sai? Kau sudah bangun?" tanyanya kaget, tapi kemudian ia menggeleng, "Ah, pasti aku yang telah membangunkanmu, harusnya kau banyak istirahat agar cepat sembuh," lanjutnya dengan nada sedikit menyesal, membuat Sai dengan refleks tertawa kecil.

"Tidak apa-apa," ujarnya pendek, entahlah, sepertinya ia tidak kuat kalau harus berbicara banyak, "Melihatmu saja bisa membuatku sembuh," lanjutnya diiringi senyuman tipis yang menghangatkan.

Ino memutar bola matanya, "Masih sakit begini, bisa saja gombal," komennya sedikit jengkel. Tapi kemudian ia mengambil buah apel yang ada di keranjang buahnya itu, "Eh, kau mau makan apel? Biar aku potongkan!" ujarnya bersemangat. Sai hanya bisa mengangguk dan menunggu dengan sabar suapan demi suapan yang diberikan Ino dengan penuh cinta. Yang tentu saja diselingi obrolan kecil.

SMACK

Neji mengeratkan obinya dan kembali melihat pantulan dirinya di cermin. Ia menghela napas sebentar, lalu setelah ia merasa cukup rapi dan siap, ia pun keluar dari kamarnya dan menemui keluarganya yang sudah ada di bawah.

"Kau ini lama sekali, Neji! Kau tau? Menurut para orang tua jaman dulu, kita tidak boleh lambat, atau tidak kita akan kena sial!" marah Ayah Neji kepada Neji setibanya ia di bawah.

"Maaf, Otou-san, aku tidak akan mengulanginya lagi," Neji menunduk, membuat Ayahnya hanya bisa mendecak kesal. Setelah Ayah dan Ibunya masuk ke dalam mobil, Neji pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil.

Tak seperti biasanya, kali ini setelah beberapa kali Ayah Neji sudah menstarter mobil, mobilnya tidak kunjung nyala. Ini pun menghambat kegiatan mereka. "Otou-san, kenapa?" tanya Neji sedikit penasaran. Karena daritadi mobil itu tak kunjung bergerak barang sedikitpun.

Ayah Neji mendecak dan memukul stir mobil, "Ini semua karenamu, Neji! Sudah Tou-san bilang kan? Lambat akan membawa sial! Dan sekarang kita tidak bisa memakai mobil ini karena kau!" Ayah Neji terdengar marah.

Neji memutar bola matanya. Sebegitukah benarnya perkataan orang-orang tua? Paling-paling ini hanya kebetulan.

"Satu kesialan akan berlanjut pada kesialan berikutnya. Lebih baik kau turun dari mobil sekarang, dan tak usah ikut pergi ke acara adat hari ini. Itu adalah hukuman untukmu," mendengar perkataan tersebut, Neji justru merasakan senang yang luar biasa di dalam dirinya. Ah, apakah ia harus melakukan hal ini lebih sering sehingga ia tidak perlu ke acara adat membosankan itu? "Ah, ya, dan jangan lupa mandi kembang tujuh rupa! Atau kau akan lebih sial lagi dari ini!"

Neji kembali memutar bola matanya jengkel, "Iya, Tou-san," dan ia pun turun dari mobil. Dan benar-benar di luar dugaannya, tiba-tiba mobil itu berjalan lancar seperti biasanya. Kali ini Neji mulai berpikiran bahwa apa yang dikatakan Ayahnya mungkin benar, atau sekali lagi, mungkin aja ini hanya kebetulan. Tak mau ambil pusing, Neji pun akhirnya masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan.

SMACK

Naruto memilih untuk duduk di dekat sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga cantik. Entah kenapa, sepertinya jika melihat pemandangan seperti itu, semangatnya tiba-tiba saja menjadi penuh. Pikiran untuk bermain di sana pun langsung meloncat ke dalam otaknya.

Tapi tak bisa dipungkiri, ia tak mungkin melakukan itu semua, setidaknya sekarang. Ia belum sarapan, dan ia cukup lapar untuk bisa bermain di sana. Tanpa basa-basi lagi, Naruto pun langsung memanggil seorang pelayan dan memesan semangkuk ramen. Ya, ramen, makanan terlezat baginya.

Setelah beberapa menit menunggu pesanannya datang, akhirnya ramen itu pun kini sudah terhidang di depan matanya. Tanpa ba-bi-bu lagi, semangkuk ramen itu pun langsung dilahapnya. Dalam waktu 5 menit, semangkuk ramen itu pun sudah berpindah ke dalam perutnya.

"Whoaa.. kenyangnyaa.." Naruto memukul-mukul perutnya dengan perasaan puas. Ia sekarang merasa energinya sudah penuh, begitu pula semangatnya. Ingin rasanya ia berlari ke taman dan bermain-main, tapi satu getaran dari HPnya membuatnya kembali duduk, dan mengecek SMS yang baru saja diterimanya. Dan bahkan ia baru ingat, bahwa ia memiliki satu SMS yang belum dibaca. Tapi yasudahlah, ia akan membuka SMS yang baru dulu.

From: Leader (Gaara)

Bagaimana keadaan Sai? Apakah dia sudah membaik?

Naruto tertawa kecil. Memang Gaara ini, meskipun dari luar ia terlihat dingin, tapi sebetulnya ia orang yang sangat perhatian. Apalagi kepada anggota boyband yang telah mereka bentuk ini.

Setelah membalas seadanya SMS dari Gaara, Naruto pun memutuskan untuk membuka SMS yang telah ada sebelum Gaara meng-SMSnya. Nomor yang tidak dikenalnya. Siapa ini? Pikir Naruto sambil menaikkan satu alisnya.

From: Unknown Number

Naruto-kun :)

Naruto menggaruk belakang kepalanya. Ini orang siapa? Masa isi SMSnya hanya seperti itu? Pikir Naruto masih bingung. Tapi ia sama sekali tidak berniat untuk membalas SMS itu. Lagipula ia sayang dengan pulsanya.

Merasa kehilangan hasrat untuk bermain di taman, Naruto pun memutuskan untuk kembali ke kamar Kiba dan pamit untuk pulang. Setidaknya akan ada banyak hal yang akan bisa ia lakukan setelah ia sampai di rumah nanti.

SMACK

From: Naruto

Dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya, kurasa begitu :p

Jawaban SMS Naruto membuat Gaara menggeleng pelan, tak habis pikir akan temannya yang satu ini. Bagaimana ia masih bisa bercanda di saat seperti ini?

Gaara kembali memasukkan HPnya ke dalam kantong celananya. Ia pun mengangkat secangkir ekspreso dan menyesapnya pelan, lalu kembali melihat kearah laptopnya. Mungkin sekilas ia terlihat seperti seorang penulis yang sedang mencari inspirasi di sebuah kafe, tapi itu sama sekali tidak benar.

Ia hanya sedang menelusuri internet dan mencari referensi untuk aksi panggung dan kostum mereka kalau saja mereka nanti mendapat tawaran manggung lagi; tentu saja setelah Sai sembuh. Ia sengaja pergi ke sebuah kafe agar mendapat free wifi yang terdapat di kafe itu. Lagipula ia hanya perlu memesan secangkir ekspreso hanya untuk internetan berjam-jam.

"Hei, sedang apa?" sebuah suara memecahkan konsentrasi Gaara pada layar laptop itu. Dengan spontan ia menengok ke asal suara itu. Dan di sana terdapat Melody yang kini sedang serius melihat ke layar laptop Gaara. "Oh.. referensi.." ujarnya sambil menangguk.

"Duduklah," Gaara pun menyuruhnya untuk duduk di sampingnya, "Kau sendiri sedang apa?" tanya Gaara sambil sesekali melihat ke layar laptopnya. "Kau tidak bersama Kiba?" tanyanya lagi, sedikit melirik menggoda kearah Melody.

Melody tersenyum lalu tertawa kecil, "Aku ada janji dengan seseorang, dan orang itu adalah Kiba," jawabnya sambil tertawa kecil, disambut tawa kecil Gaara.

"Kau tidak mau pesan sesuatu?" tanya Gaara lagi, mencoba mencari sesuatu yang bisa dibicarakan oleh mereka berdua, sambil menunggu Kiba datang.

"Nanti saja tunggu Kiba datang," jawab Melody singkat. Keheningan pun mulai terjadi diantara mereka. Gaara sudah kembali fokus ke laptopnya, sedangkan ia sudah bingung akan membicarakan apa. Melody kembali mendekatkan dirinya ke laptop Gaara, "Lagi buka apa sih? Serius banget?"

"Melody? Gaara?"

Melody sontak menengok dan mendapati Kiba di sana. Ia pun tersenyum dan menghampiri Kiba. "Kibaaaa, kenapa lama sekali?" ujar Melody dengan nada sedikit manja.

Gaara menggeleng-geleng tak habis pikir, "Kasian kan kalau pacarmu disuruh menunggu selama itu," Gaara melanjutkan sambil melihat sepasang sejoli itu berdampingan.

Kiba memutar bola matanya, "Bukannya kau senang, hm? Bukankah dengan begitu kau bisa lebih lama dengan pacarku?" tanyanya dengan nada sedikit sinis. Ia mendecak kesal.

"Maksudmu?" tanya Gaara mengangkat satu alisnya.

"Kau juga, Melody! Kenapa kau dekat-dekat dengannya? Apa karena dia lebih kaya? Lebih tampan? Oh, ya, harusnya sudah kusadari itu," Kiba semakin menjadi. Ia mulai mengeluarkan semua yang ada di pikirannya.

"Aku? Dekat-dekat dengannya? Aku tidak.."

"Tapi aku melihatnya barusan!" Kiba memotong. Entah kenapa rasanya ia kesal sekali melihat Melody yang sangat dekat dengan Gaara itu.

"Kau cemburu?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Melody. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia tangkap saat ini, "Kiba, ya ampun, dengar ya, aku tadi tidak sedekat itu dengan Gaara. Aku hanya ingin melihat dia sedang membuka apa," jelas Melody sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku tidak cemburu," Kiba memutar bola matanya sedikit kesal dan jengkel, "Dan apapun alasanmu, aku tak bisa semudah itu percaya," Kiba kembali melanjutkan.

Melody mencubit pipi Kiba gemas, "Lalu aku membuktikannya bagaimana? Dasar kau ini! Cemburunya jangan seperti ini! Lagian kan Gaara juga teman satu boybandmu!"

Kiba kembali memutar bola matanya jengkel, "Aku mau pulang."

Melody menghela napas pasrah, "Kau terlihat seperti anak kecil."

"Aku bukan anak kecil!"

"Tapi kau memang begitu!"

"Aku bukan! Kau yang seperti itu!"

Suara pertengkaran mereka makin lama makin kecil seiring dengan makin jauhnya mereka dari kafe tersebut. Gaara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya maklum. Andai saja aku punya pacar, apakah hubunganku akan terlihat seharmonis mereka?

SMACK

"Wah, kacau, benarkah dia secemburu itu?" tanya Hinata memasang tampang kaget dan juga ingin menahan ketawa.

"Benar, dia sampai bilang, 'Kenapa kau dekat-dekat dengannya? Apa karena dia lebih kaya? Lebih tampan? Oh, ya, harusnya sudah kusadari itu,'! Sungguh saat itu aku ingin tertawa, tapi mukanya serius sekali, aku jadi tidak enak," Melody membenarkan perkataan Hinata lalu menceritakan kembali kejadiannya tadi siang.

Ya, malam ini Hinata mengajak Sakura, Melody, dan Ino untuk menginap di rumahnya. Semacam 'acara menginap para wanita' yang isinya gosip, bicara tentang laki-laki yang disukai, cinta, baju yang lagi tren, dan masih banyak yang lainnya.

"Ino, bagaimana keadaan Sai?" tanya Melody tiba-tiba. Membuat Ino sedikit tersentak.

Ino hanya bisa tersenyum, "Keadannya sudah lebih baik," jawab Ino singkat.

"Hah, enaknya kalian berdua yang sudah punya pasangan! Aku sama Naruto masih gitu-gitu saja. Naruto.. entahlah.. ia kurang sedikit peka, padahal aku cinta mati padanya!" Hinata menunjukkan raut muka kesal, tapi justru itu disambut tawa Melody dan Ino.

"Sabar saja ya Hinata, lama-kelamaan juga Naruto pasti mengerti. Dia kan memang orangnya seperti itu.." Sakura bersuara sambil tersenyum menggoda kepada Hinata. Hinata hanya mengangguk tanda menyetujui perkataan Sakura.

"Kalau kau sendiri?" tanya Hinata membuat Sakura diam, "Sakura, sudahlah, akui saja, kau suka dengan Sasuke kan?" tanya Hinata menyenggol lengan Sakura yang sedang mengecat kukunya. Sakura merasa terusik, tapi tak bisa dipungkiri, ada rona merah di pipinya.

"Aku.."

To Be Continue…

Udah lama banget gak apdet ini cerita haha! Tapi tiba-tiba pengen apdet gitu aja._. Okelah, leave a review please? Kalo gak…. Tau deh :P