Satu nama, satu eksistensi yang bernyawa, menyimpan seribu makna di dalamnya. Setiap kali sepasang netra memandanginya, ibarat ia melihat pantulan di atas permukaan air. Terlihat begitu nyata, nyaris tak tersentuh, namun jauh di dasarnya tiada seorang pun yang sanggup mengira. Andai saja senyuman maupun kata-kata tak selalu hadir membisukan suara yang tak ingin mengemuka.
Proved Me Wrong
By: Koyuki17
© Boboiboy Monsta Studio
Chapter 6 : Asing
Jika piano telah menjadi satu obsesi bagi Fang, maka si kulit bundar bisa dibilang sebagai obsesi bagi Boboiboy. Seingat Fang, sejak pertama kali ia mengenal Boboiboy, anak itu seringkali membawa bola pemberian sang mendiang kakek setiap kali bermain di taman yang tak jauh dari rumah. Sampai saat ini, ketika mereka akan lulus dari bangku SMP sekalipun, keseharian Boboiboy tak pernah lepas dari si kulit bundar.
".. Nanti, aku juga ingin bermain bola di turnamen.. Banyak orang juga yang akan menonton! Pasti hebat juga ya.."
Entah mengapa, penggalan kalimat dari percakapan masa kecilnya dengan Boboiboy kembali diingat Fang. Dan sekitar delapan tahun setelah mereka berdebat soal mimpi mereka itu, siapa yang menyangka hal yang mereka bayangkan menjadi kenyataan. Fang sudah beberapa kali tampil di lomba piano, sementara ini menjadi keempat kalinya Boboiboy ikut dalam turnamen sepakbola antar sekolah.
Belum ada seorang pun di antara mereka yang bisa merebut gelar juara, dan sekali lagi, Boboiboy selangkah lebih depan dari Fang soal hal ini.
"Tsk!" hanya mengingat itu saja, entah mengapa membuat Fang kesal.
"Oi.. Fang!" Suara panggilan Ying dan sikutan gadis itu mengenai Fang dengan telak "Jangan cemberut ngga jelas begitu dong! Kita ke sini kan buat beri dukungan!"
Saat ini, masih berlangsung pertandingan final perebutan juara ke-3. Ada waktu sebelum laga final tim sepakbola mereka berlangsung, dan Fang yang sedari tadi gusar, kena tegur Ying. Fang hanya memutar kedua manik violetnya, seolah ia tak peduli. Beginilah ketika pride nya sebagai seorang rival menemui jalan buntu.
"Ish, kalian berdua ini ya. Lagipula Fang, masa lomba piano dan sepakbola dibandingkan, kan jelas berbeda. Menurutku kalian berdua sama-sama hebat kok." Yaya mencoba menengahi, gadis itu tahu betul alasan gusarnya Fang, tak lain karena melihat rivalnya selangkah lagi menuju garis finish. Tapi ayolah...
"Pfft.. sampai dihibur anak cewe begitu kamu Fang." Halilintar bergumam sambil tersenyum puas.
".. A.. aku ngga minta dihibur kok!" Fang membantah dengan muka memerah, baginya diledek oleh seorang Halilintar adalah sebuah pelecehan. Namun reaksinya hanya mengundang tawa kecil Halilintar.
"Hoo, akhirnya pertandingan perebutan juara 3 selesai juga..!" Ying pun mengalihkan topik sembari menunjuk ke arah lapangan.
"Wah benar, akhirnya.." Yaya ikut menimpali. "Berarti sebentar lagi Boboiboy dan yang lainnya bertanding yaa, tak sabar rasanyaa!"
-PmW-
Sebuah lorong yang mengarah ke lapangan kini dipenuhi oleh kedua tim yang akan bertanding di laga final. Dan di barisan paling depan, Boboiboy berdiri dengan campuran perasaan gugup dan semangat luar biasa. Jantungnya berdegup kencang, ia mencoba menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya ia justru terbatuk-batuk. Melihat itu, Gopal langsung menghampiri dan menepuk punggung sang kapten.
"Woa Boboiboy kamu kenapa?"Tanya Gopal sedikit khawatir.
"Ngga apa-apa Gopal.." Lalu Boboiboy berdeham dan suaranya terdengar sedikit lebih baik. "Cuma tersedak kok,, ehehe.."
"Dasaar, waktu latihan tempo hari juga kamu bikin khawatir tahu!" Sahut Gopal sembari menggerutu.
"Hee, ada apa? Ada apa?" Tanya Api, yang tiba-tiba berada di samping Boboiboy.
"Cuma ngobrol biasa kok Api.." Jawab Boboiboy "Oh ya, kakimu benar-benar ngga apa-apa kan?" Boboiboy berbicara tentang cedera kecil di kaki kiri Api yang didapatnya di pertandingan sebelumnya.
"Boboiboy, dia dari kemarin jingkrak-jingkrak di rumahmu loh." Gopal mengingatkan.
"Udah sembuh kok. Tapi tetap saja aku ingin main dari babak pertamaa...!" Api pun merengek, kecewa dengan tidak dimainkannya ia dari menit pertama.
"Sudahlah Api. Ingat, ini perintah kapten, bersabarlah sampai babak kedua.." Hibur Gopal, beralih menepuk pundak temannya itu.
Boboiboy tak bisa banyak berkata, ia tahu Api tak sabar untuk bermain. Yah, memang ada alasan kenapa Boboiboy memilih untuk fokus bermain dengan tempo lambat dan bertahan di babak pertama.
"Tapi tak disangka yaa.." Gopal pun tiba-tiba berkata "Kita yang awalnya cuma bermain bola di taman bisa sampai di sini.."
Boboiboy dan Api saling berpandangan, lalu mereka pun tertawa. Keduanya langsung mengingat tim sepakbola kecil mereka, yang terbentuk di taman dan dipelopori oleh Gopal.
"Padahal waktu itu, kapten mau nendang bola saja belum bisa..! hahaha.." Api pun kini tertawa semakin keras.
"Ish, Apii.. jangan di sini lah..!" Boboiboy pun memperingatkan Api, pasalnya orang-orang mulai melirik ke arah mereka dengan keheranan.
-PmW-
"Lihat, Boboiboy dan yang lain sudah masuk ke lapangan!" Seru Yaya.
"Hoo.. mereka tampak keren yaa." Ujar Ying sembari memperhatikan teman-temannya berjalan dengan gagahnya menuju ke tengah lapangan.
"Lawan mereka badannya besar-besar ya.." Yaya pun beralih pada tim lawan, yang memang memiliki tinggi rata-rata seperti Gopal.
"Di pertandingan kemarin, mereka bermain cukup kasar. Semoga mereka sekarang tidak bermain keras." Halilintar pun buka suara.
"Oiya, kak Hali kemarin nonton pertandingan juga ya.." Ujar Yaya.
"Hmm.. mereka mirip gorila.." Fang pun berkomentar dengan sompralnya.
"Fang.."
"Memang.. mirip gorila.." Di luar dugaan Halilintar ikut setuju.
"Yaampun Fang, kak Hali.. ngga baik begitu tahu.." Yaya mengingatkan.
Namun benar saja, segera setelah peluit tanda awal pertandingan terdengar, tim lawan memang langsung bermain keras. Tubuh mereka yang lebih besar membuat mereka lebih sering melakukan body charge, dan merebut bola dari tim Boboiboy. Beruntung tim Boboiboy fokus pada bertahan sehingga lawan tak berhasil mencetak gol.
Ketika entah untuk keberapa kalinya Boboiboy dilanggar oleh tim lawan, Fang jadi penasaran dengan reaksi seorang Halilintar. Namun pemuda bersurai berantakan itu terdiam melihat ekspresi Halilintar.
"Ini orang.. bukan sedang mengutuk pemain itu kan?" Terkadang Fang lupa betapa khawatirnya Halilintar kalau bicara soal Boboiboy.
-PmW-
Api pun akhirnya masuk tepat sebelum babak kedua dimulai. Segera saja remaja hiperaktif itu berlari menghampiri rekan setimnya yang telah berkumpul melingkar di tengah lapangan. Skor saat itu masih 0-0.
"Yoosh! Akhirnya bisa masuk ke lapangan! Bosan di bench denger Papa Zola jerit-jerit setiap kali tim kita diserang tadi!" Sebuah ungkapan terlewat jujur itu disampaikan Api begitu saja.
Semua orang di sana langsung membayangkan sang pelatih, yang entah kenapa bisa berteriak melengking ala wanita. Mungkin karena ini pertama kalinya mereka bertanding di final, sang pelatih kumat mode paniknya. Sudahlah, tak ada maknanya mereka mengkhawatirkan hal itu .
"Karena Api sudah masuk saatnya kita menyerang balik!" Ujar Boboiboy lantang.
"Oooo!"
Dan babak kedua pun dimulai, babak penentuan. Ying dan Yaya kini ikut berkumpul dengan tim sorak dari sekolah mereka ikut memberi semangat lewat yel-yel. Sementara itu, Fang dan Halilintar memilih tetap menyaksikan di kursi mereka.
Sama seperti babak pertama, babak kedua berlangsung dengan cukup keras. Pemain lawan tidak menurunkan tempo, dan malah semakin berani untuk memotong bola walau seringkali berujung pelanggaran. Baru saja Boboiboy menerima bola, ia sudah mendapat tackle telak dari tim lawan.
Melihat itu, Fang langsung khawatir bukan main, pasalnya sang rival jatuh dan tampak tak bisa berdiri sampai dipapah ke luar lapangan. Gawat, apa dia baik-baik saja? begitulah pikirnya.
Tapi jujur saja, Fang lebih ngeri dengan hawa membunuh yang muncul dari Halilintar. Walau pria beriris ruby itu tidak berkomentar apapun, hawa membunuhnya terpancar bahkan sampai ke pemain lawan yang mentackle Boboiboy dengan keras barusan. Kontan saja, pemain itu tiba-tiba merinding bukan main.
-PmW-
Boboiboy mencoba mengatur napasnya yang masih terengah. Suara-suara dari orang-orang di sekitarnya mulai merasuki sadarnya, pandangannya sedikit buram tapi masih cukup untuk mengenali sekelilingnya. Ia kembali ditanyai wasit apa ia sanggup untuk bermain, tapi Boboiboy mengangguk dan mencoba berdiri.
Boboiboy pun kaget ketika ia melihat Api tengah dilerai oleh teman-teman lainnya. Gawat, rupanya Api terpancing amarahnya dan nyaris membuatnya berkelahi dengan pemain lawan. Wasit pun terpaksa memberikan kartu kuning pada Api, juga pada pemain yang melakukan pelanggaran pada Boboiboy.
"Api, aku sudah bilang kan jangan mudah terpancing oleh mereka.." Boboiboy pun menghampiri Api yang kesal bukan main.
"Habisnya.. mereka.." Api mencoba berkelit tapi akhirnya ia terdiam, Boboiboy menepuk pundak Api.
"Kita harus tetap fokus, ingat kita pernah berlatih tanding sebelumnya dengan tim SMA, dan tipikal permainan mereka pun sama. Kita bisa menghadapinya sekali lagi dan lakukan yang terbaik!" Ujar Boboiboy, tidak hanya kepada Api tetapi untuk rekan setimnya yang lain.
Mendengar itu, Api langsung lupa akan rasa gusarnya dan yang lain pun ikut berseru. "Siap kapten!"
Permainan berlanjut kembali, dan ketika menit akhir semakin dekat, tim Boboiboy akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Dimulai dari pergerakan cepat Api, mereka memulai serangan balik. Api bisa melakukan sprint yang sulit dikejar oleh siapapun yang menjadi lawannya. Boboiboy dan beberapa rekan setimnya telah terbiasa dengan pace milik Api dan mencoba mengimbangi si lincah itu.
"Api, oper ke sini!" Sebuah seruan dari Boboiboy membuat yang dipanggil langsung mengoper bola pada sang kapten, yang telah ikut maju ke depan.
Setelah menggiring bola sampai ke samping kotak pinalti, Boboiboy berhenti lalu bersiap memberi umpan lambung. Di kotak pinalti, Api telah menunggu dan bersiap untuk melompat menyambut bola. Boboiboy tahu bahwa setinggi apapun tubuh lawan, Api tetap bisa melompat lebih tinggi dan mengimbangi. Bola pun kali ini berhasil disundul oleh Api, dan melesak dengan cepatnya merobek gawang lawan. Gol tunggal di pertandingan itu pun akhirnya tercipta, peluit panjang pun terdengar.
-PmW-
Sebuah trofi mengakhiri perjuangan tim Boboiboy, setelah selama tiga tahun menunggu, setelah tiga tahun berlatih sembari mengambil setiap kesempatan untuk berlaga. Tentunya bukan perjalanan yang mudah untuk mereka semua. Dari tribun sana, Fang, Halilintar, maupun Ying dan Yaya (yang bukan main kegirangan keeduanya) melihat sang kapten dan kawan-kawannya yang telah menaklukan puncak kini berdiri di podium, menerima trofi dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Saat itu, sebuah lamunan singkat menghampiri Fang.
Pertarungan keduanya mungkin memang kekanakan, ia dan Boboiboy yang selalu bersikeras mengatakan siapa yang akan menang. Kini, ketika sang rival mewujudkan satu mimpinya menjadi nyata, mungkin rasa kesal dan iri pun ada pada diri Fang. Namun pemilik iris violet itu tahu bagaimana sang rival sekuat tenaga berjuang, tahu betul jalan panjang yang dilalui olehnya. Dan hal itu selalu menjadi penggerak baginya untuk berlatih piano dengan lebih sungguh-sungguh. Meraih asa yang sedari dulu mereka sebutkan, untuk kesempatan berikutnya, untuk pertaruhan selanjutnya.
Dan pada akhirnya, Fang menghela napas pelan sembari mengangkat sudut bibirnya. Untuk kali ini kau yang menang, Boboiboy.
Halilintar mungkin tak banyak berbicara, namun iris rubynya tak luput menangkap perubahan di bibir Fang. Pria itu pun kembali memandangi ke arah podium sembari bergumam pelan. Rival yang aneh ya, kalian ini.
-PmW-
Sebuah telepon diterima Halilintar dari Papa Zola, tak begitu lama setelah Ying dan Yaya pamit untuk pulang terlebih dahulu. Fang hanya bisa menangkap satu atau dua percakapan telepon itu, dan ia langsung menelan ludah. Mereka nampak berbicara tentang perayaan di rumah sang pelatih atas kemenangan hari ini. Namun masalahnya adalah Boboiboy yang setelah penerimaan trofi, langsung izin untuk lebih dulu pulang karena tidak enak badan. Segera saja Halilintar melirik ke arah Fang, namun sang remaja telah menghilang.
Setelah semua sorak sorai, semua euforia, Fang tidak pernah menyangka kemenangan sang rival akan berujung seperti ini. Ia harusnya tahu.. ia seharusnya menyadarinya, jauh sebelum Gopal menghampirinya dan berkata, "Syukurlah Fang, kukira kau sudah pulang.."
Melihat Gopal yang sedikit terengah seolah habis berlari-lari mencarinya, kening Fang pun berkerut. Ia entah kenapa bisa menebak ada yang terjadi dengan sang rival.
"Boboiboy ada di kursi di ujung koridor sana, dari sini tinggal lurus terus belok kanan." Ujar Gopal pelan.
"Dia ngga enak badan?" Tanya Fang ingin meyakinkan.
Gopal pun mengangguk. "Aku rasa dia demam dan agak batuk, dan barusan langsung pamit setelah kita kembali ke ruang ganti tim. Papa Zola pun jadi khawatir, tapi aku ngga sengaja bertemu dengannya di sana. Dia memintaku mencarimu Fang, kalian pulang bareng dengan kak Halilintar kan?"
Fang hanya menjawab dengan gumaman tak jelas sebelum mulai berlari ke arah yang ditunjuk Gopal barusan. Benar saja, ia pun mendapati remaja bertopi oranye itu terduduk di kursi ujung koridor. Fang pun menyadari bahwa Boboiboy belum sembuh benar dari sakitnya yang kemarin, karena sang rival menunjukkan gejala yang sama. Boboiboy pun hanya bisa tersenyum pasrah sementara Fang menepuk jidatnya.
"Ayo pulang, tapi kita ngga bisa bohong lagi ke Kak Hali." Fang pun mendekati sang rival, meraih tangan Boboiboy dan menjadikan bahunya sebagai tumpuan remaja itu. Perlahan, ia memapah Boboiboy menuju ke lapangan parkir dimana Halilintar berada terakhir kali.
"Maaf.. Fang.. hehe.." Hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulut Boboiboy.
Sementara itu, Halilintar yang memutuskan menunggu di depan mobil, langsung menyadari kedatangan kedua remaja itu. Ia tentunya sedikit kaget melihat Boboiboy yang dipapah oleh Fang. Segera saat Boboiboy mulai benar-benar kehilangan kesadarannya dan membuat Fang panik karena tak siap menanggung berat tubuh sang rival, Halilintar langsung berlari menghampiri.
Fang awalnya mengira Halilintar akan marah dan bertanya macam-macam ketika melihat kondisi Boboiboy yang seperti itu. Tapi pria itu hanya terdiam, membawa tubuh Boboiboy ke mobil, dan memberi isyarat pada Fang untuk duduk di jok belakang bersama Boboiboy sebelum melajukan mobil dengan kecepatan penuh.
Terdengar suara Halilintar yang menelepon Taufan singkat, memberitahu bahwa Boboiboy pingsan setelah turnamen. Halilintar tetap memasang ekspresi dan nada suara yang datar dan sulit dipahami oleh Fang. Lalu Fang pun teringat bahwa mungkin ini bukan pertama kalinya pria beriris ruby itu menghadapi situasi seperti ini. Jadi setidaknya, ia bisa lega karena Halilintar tahu apa yang harus dilakukan sekarang.
"Yang pasti setelah semua ini, aku pasti akan diinterogasi habis-habisan..." pikir Fang, sebelum kedua visinya terarah pada sang rival.
Jemari Fang bisa merasakan panas ketika menyentuh kening Boboiboy, didengarya juga suara napas yang terengah dan sesekali terbatuk-batuk itu.
"Kita bahkan belum sempat bilang apapun ke kak Hali loh.. dasar.." Ujarnya pelan, ia menghela napas panjang.
-PmW-
Sesuai dengan prediksi Fang sebelumnya, ia langsung berhadapan dengan Halilintar dan Taufan, dalam satu sidang mendadak di malam harinya. Fang awalnya ingin membela diri dan menganggap Boboiboy yang dibawa ke rumah sakit setelah pingsan itu agak berlebihan. Tapi ketika ia ingat Boboiboy pernah sakit (walaupun Fang tak tahu sakit apakah itu dan seberapa seriusnya), Fang urung mengucapkan sepatah kata pun pembelaan. Ia bisa menebak bahwa pemikirannya barusan hanya akan membuatnya semakin jatuh ke dalam situasi semakin runyam.
Mereka bertiga saat itu memutuskan untuk sejenak berdiam di ruang tunggu, dengan maksud agar Boboiboy tidak terganggu dengan percakapan mereka. Lalu remaja berkacamata itu menceritakan semuanya pada Halilintar dan Taufan. Tentang latihan intens yang dilewati Boboiboy sebelum babak final kompetisi sepak bola. Tentang Boboiboy yang sempat sakit dan ia gusur untuk memeriksakan diri ke dokter. Ya, tentang bagaimana Boboiboy memaksakan dirinya selama sepekan terakhir dan berujung pada hari ini. Setelah menceritakan semua itu Fang pun kembali terdiam, pasrah sembari menunggu kedua orang yang sedari tadi mendengarkan mulai angkat bicara soal pengakuannya barusan.
Halilintar pun bangkit dari kursi, dan mendekati Fang yang mulai berkeringat dingin. Satu dua kalimat tajam dari Halilintar dikira akan langsung didengar oleh Fang, namun orang yang dimaksud hanya memberikan Fang sebuah jitakan yang sukses membuat remaja bersurai berantakan itu mengaduh.
Pria itu selanjutnya menggumam bahwa ia akan pulang ke rumah sebentar untuk mengambil baju dan barang Boboiboy lainnya yang sekiranya akan dibutuhkan. Setelah pemilik manik ruby itu pergi, Taufan pun mulai berkata pada Fang. Berbeda dengan Halilintar yang jelas-jelas marah, nada bicara Taufan tetaplah santai dan berusaha mencairkan suasana barusan.
"Duuh, Kak Hali dingin banget ya. Tapi kalian juga main rahasia-rahasiaan. Kan dia jadi ngambek."
Mendengar itu, Fang hanya tertunduk. Ia sebenarnya malas untuk menyahut apapun saat ini.
"Boboiboy yang minta rahasiakan ini kan?" Sebuah ujaran dari Taufan membuat Fang terkejut dan sedikit mengangkat wajahnya sembari mulai mengangguk.
"Haah, ternyata benar begitu ya." Taufan menghela napas panjang. "Kamu juga ngga usah sampai begitu Fang, Aku maupun kak Hali ngga akan menyalahkanmu kok."
Fang kini mencoba menatap Taufan, yang dibalas oleh cengiran santai Taufan.
"Yang penting Boboiboy ngga apa-apa sekarang, aku dan Kak Hali juga kemarin terlalu sibuk dan ngga sempat menengok ke rumah."
Ada jeda panjang sebelum Fang menyahut dan mengiyakan. Lalu Taufan pun kini mendekati Fang, tangannya terulur menepuk kepala Fang sebelum mulai mengacaknya.
"Lain kali, kalau ada apa-apa jangan lagi main rahasia-rahasiaan oke?"
Fang mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kalian berdua sudah besar sekarang. Aku maupun Kak Hali juga tahu kalian sudah lebih mandiri dibandingkan dulu."
Kata-kata selanjutnya membuat Fang terdiam dan mengesampingkan rasa kesalnya dengan situasi saat ini.
"Kamu tahu Fang, karena kalian berdua seumuran, Boboiboy pastinya lebih terbuka jika bersama denganmu. Jadi kalau ada apa-apa, kami titip Boboiboy, oke?"
Fang terdiam, dalam hati ia sedikit ragu 'Apa memang begitu? Rasanya ada yang keliru..' dan yang lebih penting..
'Kesambet apa barusan sampai Taufan mendadak berkata bijak seperti itu?' entahlah, bagi Fang hal itu masih menjadi misteri.
-PmW-
Kedua manik hazel itu perlahan mengerjap, sebelum akhirnya semburat cahaya mentari pagi yang menembus tirai putih itu membuat Boboiboy mulai mengingat apa yang terjadi kemarin. Ketika melihat ruangan sekeliling, Boboiboy langsung menyadari dimana ia berada (ruangan bernuansa pucat, tempat yang tak asing lagi dan tak pernah ia sukai sejak kecil). Lalu ia pun mendapati Taufan mendekatinya dan duduk di kursi di sebelah ranjangnya.
"Akhirnya bangun jugaa, selamat pagi kapteen" Sapa taufan sembari tersenyum riang "Gimana, sudah baikan belum? Kemarin kamu sukses bikin Kak Hali marah tuh."
Mendengar itu, Boboiboy langsung merasa bersalah namun pada akhirnya ia menjawab sapaan Taufan. "Ma.. Maaf kak, hehehe..." terdengar Boboiboy tertawa canggung.
"Boboiboy, jangan begitu lagi, janji? Nanti kalau kak Hali pulang kerja dan kembali ke sini, minta maaflah baik-baik" Ujar Taufan, Boboiboy mengiyakan dengan nada yang masih lemas.
"Fang juga kemarin sampai kena jitak Kak Hali loh.." Mendengar itu, Boboiboy menelan ludah, oh iya sebelum mereka sempat meminta maaf bersama, ia sudah pingsan duluan
Suara pintu yang terbuka membuat kedua orang itu menoleh dan mendapati Fang yang masuk dan memasang ekspresi datar dan seolah tak terjadi apa-apa.
"Oh Fang, pas sekali. Lihat siapa yang sudah bangun..!" Taufan menyapa Fang dengan santai, namun Fang tak menyahut dan memberikan sebungkus roti isi kepada Taufan- yang langsung kegirangan.
"Terima kasih Fang sarapannya, Kakak berangkat kerja dulu ya, tolong jaga Boboiboy."
Taufan pun pamit dan sempat menasehati Boboiboy untuk beristirahat, sebelum akhirnya beranjak dari kursi dan menghilang di balik pintu.
Kini hanya ada Boboiboy dan Fang yang ada di sana, dan suasana justru menjadi lebih canggung. Selama beberapa saat, tidak ada yang buka suara, lalu Fang pun melemparkan sebungkus roti isi yang langsung disambut Boboiboy.
"Mm.. terima kasih Fang.. soal kemarin.. maaf ya.." Boboiboy akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
Fang hanya menggumam tak jelas, lalu akhirnya sepi kembali.
"Boboiboy.."
"A.. ada apa Fang?"
Hening sejenak sebelum Fang menyahut. "Kamu.. waktu dulu pernah sakit apa sih?"
Lalu akhirnya, Fang tak lagi melempar pandangan ke jendela, melainkan melirik Boboiboy. Ia menyadari sang rival tampak sedikit terperanjat dengan pertanyaan randomnya barusan. Tak aneh jika Boboiboy kaget jika ditanya hal itu mendadak. Tapi Fang tampak sangat serius dan menunggu sebuah jawaban.
"Hmm.. itu sudah lama sekali lah Fang.. Aku sudah lupa.. hehe.." Jawaban itu, tawa canggung itu pun tak lagi membuat Fang bertanya.
Dalam benak Fang, masih terbayang bagaimana Taufan berkata bahwa Boboiboy lebih terbuka padanya dibandingkan kedua orang itu. Tapi nyatanya? Fang tahu jika Boboiboy mulai menyembunyikan sesuatu darinya, ketika ia mulai tersenyum dan tertawa kecil untuk membuatnya seolah tak apa-apa. Dan Fang kembali melihatnya pagi ini.
Hanya satu hal yang tidak disukai Fang dari sang rival dan hal itu tidak berubah sejak mereka pertama kali bertemu dulu. Karena Boboiboy selalu menanggung semua masalahnya sendirian, bersembunyi di balik seulas senyum yang dipaksakan. Padahal Fang seringkali ada bersamanya, apakah itu saja tak cukup menjadi alasan untuknya tahu?
Berlanjut pada chapter 7: April
Bonus Scene
Adakah yang ingat tentang orang yang ketinggalan di acara menginap tim sepak bola? Inilah kelanjutannya bagi siapapun yang penasaran.
Malam sebelumnya, tak begitu lama setelah sidang Fang, Taufan menerima kembali telepon dari Halilintar. Fang saat itu sedang tidur-tiduran di sofa, semua kejadian hari ini dan kemarin membuatnya lelah dan ingin meluruskan punggungnya sejenak.
Tiba-tiba Taufan menghampiri sofa dan menyerahkan ponselnya pada Fang "Fang, Kak Hali nanya tuh"
Fang kebingungan, sebelum akhirnya mengangkat telepon itu "Ha.. halo..?"
"Barang yang ketinggalan ini belum diambil?" Tanya Halilintar datar. Bisa dibayangkan, nun jauh di rumah sana, Halilintar mendapati sosok asing yang tertidur dengan pulasnya di sofa ruang tengah.
Sebuah pertanyaan itu langsung membuat Fang terperanjat. Astaga, ia lupa soal Air! Dia nampaknya hibernasi sampai kak Hali pulang untuk mengambil barang.
"Se..sebentar kak.. aku hubungi dulu Api.."
Belum sempat Fang mencari kontak Api, ponselnya langsung berdering dan sebelum Fang memastikan siapa yang menelpon, ia mengangkat panggilan itu.
"FAAANG... AIR MENGHILAAANG... KAMU TAHU DIA DI MANAAA?" Teriak Api kencang dari balik telepon, sampai-sampai Fang merasakan telinganya tuli mendadak.
"Berisik Api! Datang ke rumah sekarang dan bawa pulang Air!" jawab Fang sambil setengah berteriak.
"Okeee.. aku ke sana sekarang... AIIIIIRR... TUNGGU AKUUU!"
Ia pun langsung menutup panggilan itu sambil sedikit emosi, mencegah gendang telinganya benar-benar pecah oleh teriakan Api barusan.
"Wah.. sabar tuan muda... ini cuma masalah orang yang ketinggalan kan?" Taufan berusaha menenangkan Fang.
A/N: Terima kasih kepada pembaca sekalian, akhirnya chapter ke-6 selesai jugaa. ^W^ dan apabila chapter ini gaje OOC dsb, mohon dimaklumi..
Bagi yang telah mereview juga, author haturkan terima kasih banyaak,, karena jujur saya penasaran dengan tanggapan readers sekalian tentang ff ini
Akhir kata sampai jumpa di chapter selanjutnyaa :`)
