"Hmm...bangun tidur sehabis menunaikan tugas suami istri memang paling enak, dattebayo..."
Naruto menoleh ke arah istrinya. Setiap bangun tidur selesai menunaikan 'itu', Naruto selalu melihat ke arah istrinya yang tertidur pulas. Ia bersyukur sekali punya istri secantik Hinata. Rasanya kalau dia bisa menghabiskan sepanjang hidupnya hanya menatap wajah istrinya, ia akan mengambil kesempatan seperti itu.
Tapi yang dia lihat? Hoo boy, istrinya terlihat seperti Sadako dengan urat di sekitar matanya mencuat. Byakugannya menyala layaknya mau perang lawan Madara untuk yang kedua kalinya. Memang Hinata mengumbar senyumannya, tapi tidak seperti biasanya, senyumannya terlihat jahaaaat sekali.
"KYAAA!" Naruto terkaget melihat istrinya bukan hanya sudah terbangun, tapi terlihat layaknya hantu film asia. "Huff! Huff! Kamu mengagetkanku saja, Hinata!"
Hinata tidak menjawab Naruto sama sekali.
"Ehehe. Kamu kenapa? Kurang puas sama yang tadi?"
Hinata menggeleng, dan masih terlihat sama menyeramkannya seperti yang tadi. Untung saja sedikit rona merah di pipinya. Kalau tidak, runtuhlah kebanggaan Naruto atas performa ranjangnya yang konon nomor wahid di Konoha itu (berdasarkan durasi teriakan para istri).
"Lalu kenapa murung begitu?"
Hinata masih saja menatapnya tajam. Benar-benar membuatnya merinding. Ia pun berancang-ancang kabur dengan berguling ke arah kebalikannya Hinata. Mudah-mudahan saja dia tidak ngambek betulan sampai bakal dikejar nanti...
Sompret! Kenapa si pantat bebek/ayam ada disini?
"ARGH! Jangan bilang kamu tadi ngintip, teme!"
Sama seperti Hinata, Sasuke hanya memandang Naruto dengan Rinnegan dan Sharingannya menggunakan tatapan datar nan dingin. Tapi tidak seperti tatapan Sadako milik Hinata, Sasuke memandang dirinya seperti kotoran kerbau alias bullshit yang harus dibersihkan dari muka bumi ini.
Kontan saja Naruto jadi keringat panas dingin. Apa yang terjadi pada dunianya? Beberapa jam yang lalu ia berada dalam situasi yang tenang damai, langsung tertidur setelah 'sunnah'. Kenapa sekarang ia seperti teroris yang diinterogasi sama ANBU Ne begini?
"Ada apa ini?" Tanya Naruto dengan suara yang sedikit naik karena kesal atas situasi mencekam yang menurutnya sangat tidak diundang. "Kenapa kalian menatapku seperti seorang bajingan yang membunuh adik kandungnya sendiri?"
Keduanya kemudian menyuruh Naruto untuk menoleh ke arah sudut ruangan.
Terlihat seorang pemuda yang mirip Naruto dan Sakura, tertidur karena jutsu yang digunakan oleh Sasuke. Jidatnya yang cukup lebar dan rambut kuningnya menjadi tanda siapa pasangan hidup yang mewariskan genetikanya kepada anak tersebut. Dari postur tubuhnya dia tidak mungkin terpaut lebih dari dua tahun jika dibandingkan dengan Boruto dan teman-temannya.
"Kau memang bajingan, dobe. Inikah yang kau lakukan dengan istriku selama aku meninggalkan desa?"
"Apakah diriku tidak cukup bagimu, Naruto-kun, hingga k-kau mengkhianati ikatan...kita..." Tanya Hinata, yang kini mulai meneteskan air mata. Tampaknya kemarahannya sudah mulai berganti dengan rasa kecewa dan sedih.
Alih-alih keringat dingin tambah banyak keluar, Naruto justru tertawa mendengar perkataan mereka.
"Wahahaha! Kalian ini. Gampang sekali ditipu oleh Boruto dan keluarga Yamanaka."
Kedua orang itu terlihat bingung oleh perkataan Naruto. Tentu saja sang Hokage harus menjelaskannya dengan rinci.
"Dulu, si Sai pernah melukis ilustrasi apa yang terjadi jika aku menikahi Sakura sebagai kenangan untuk reuni tim Kakashi, lengkap dengan anak-anak imajinasinya. Anak ini, ia mirip sekali dengan anak lelaki hasil ilustrasinya Sai. Kebetulan Sasuke lagi tidak ada ditempat, jadi yang tahu cuma aku, Sakura, guru Kakashi dan Boruto yang masih umur 6 tahun waktu itu. Masih ingat aku waktu bertanya apakah dia punya adik kembar yang kasat mata. Aduh, ada-ada saja si Boruto ini."
"Jadi, ini..."
"Cuma bunshin atau henge saja! Bangunkan dia, Sasuke. Biar aku tanya darimana si Boruto atau Sai punya ide sialan seperti ini."
Sasuke pun membangunkan Shinachiku dari tsukoyominya.
"Hah! Apa, what? Nani?"
Naruto pun langsung memukul wajah anak tersebut. Dipukul hilang, terlihat itu bunshin, tidak hilang pasti jadi Boruto dia. Jadi memukuli anak itu adalah solusi yang tepat bagi Naruto untuk membuktikan kalau mereka hanya dikerjai saja. Sekalian hukuman pertamanya juga.
"Aduh! Sakit, ayah! Kenapa ayah memukuliku?"
Naruto pun langsung keringat dingin ketika pemuda itu tidak menghilang atau berubah jadi Boruto atau Sai setelah dipukul. Apalagi ketika si bunshin memanggilnya ayah. Lebih-lebih lagi ketika aura mencekam dari Hinata dan Sasuke kembali dengan intensitas berkali-kali lipat dari yang tadi.
"Hehe. Aku juga tidak mengerti, dattebayo..."
-ng-
"Ah! Sara..."
Boruto mengerang sambil mengelus paha pacarnya yang tengah menduduki perutnya yang terbuka. Tidak lama kemudian, lidah keduanya kembali bertaut dan bergulat dalam harmoni. Kembali, Boruto sengaja 'kalah' dan membiarkan Sarada menindihnya ke tanah. Ia membiarkan kekasihnya mengambil kontrol sesi cinta mereka yang paling panas hingga saat ini. Meski demikian, tangannya tidak kalah jahil, mengelus seluruh tubuh milik kekasihnya yang terus menggesek tubuhnya kepada tubuh Boruto, keduanya terus melenguh, mendesah dan menikmati sensasi saat ini.
Walau pada awalnya kacau sekali tur filmnya Boruto, tur selanjutnya berjalan jauh lebih baik dan romantis. Sarada sangat senang mendapati seluruh cerita kesukaannya diceritakan ulang oleh Boruto. Tampaknya Boruto benar-benar melakukan penelitiannya dengan bagus. Dan di akhir tur, dimana keduanya terbang layaknya Aladdin dan Jasmine yang tur keliling dunia, Sarada mulai bersender kepada Boruto dan mencoleki tubuh kekar nan ramping miliknya. Ucapan terima kasih, sih, katanya.
Selanjutnya? Ya, akhirnya menjadi begini.
Sungguh, sebagai seorang lelaki, Boruto merasa layaknya dapat durian runtuh. Kekasihnya yang dulu minta ciuman saja tidak mau, kini berani menjadi wanita nakal yang menjamahi seluruh tubuhnya. Tentu sebagai pria yang sedikit gentleman, Boruto sedikit khawatir kalau hubungan keduanya berlangsung terlalu cepat. Tapi sebagai lelaki tulen dan rada mesum, dia saaaangat senang mendapat hadiah sesensual ini. Apalagi Sarada sama sekali tidak marah mendapati Boruto ikut menjamahi lekuk-lekuk tubuhnya, tentunya tidak sampai terlalu dekat dengan area-area yang sakral dan super sensitif.
Satu-satunya yang tidak enak di situasi ini bagi Boruto adalah celananya yang menyempit. Sungguh, Boruto tidak tahu bagaimana celananya tidak robek saat ini. Sarada benar-benar seksi dan menggoda, dia benar-benar membuatnya gila. Pemuda Uzumaki itu benar-benar menggunakan seluruh akal sehatnya yang tersisa untuk tidak sampai terjerumus ke hal yang tidak mereka inginkan sekarang ini. Sekarang saja dia ada sedikit rasa tidak nyaman, dan selamban-lambannya Boruto terkadang, ia juga tahu Sarada yang lebih konservatif itu pastinya ada ketidaknyamanan yang lebih lagi daripada dia. Ia sendiri merasa beruntung, Sarada hingga saat ini belum merasakan betapa mengerasnya bagian bawah dirinya itu.
Baru saja memikirkan hal itu, pantat Sarada menyentuh benda keras yang ada di celananya. Keduanya sangat terkejut mendapati hal itu terjadi dan menghentikan aksi panas mereka.
"Bo...Boruto?"
Boruto memalingkan mukanya dari Sarada. Dalam hati ia berdoa agar ia tidak dipukuli oleh Sarada yang histeris atas pengalaman pertamanya menyentuh kebanggaan laki-laki itu (atau alat yang membuat laki-laki kecewa pada dirinya sendiri), meski baru lewat celananya saja.
"B...besar sekali? Lebih besar dari imaji-UUMPH"
Boruto langsung cengo mendengar perkataan Sarada yang langsung membungkam mulutnya sendiri. Sebesar itu? Dan Sarada sudah berani membayangkan kemaluan pacarnya?
Anak Hokage itu pun hanya dapat tertawa dan memeluk pacarnya itu sambil mengelus-elus rambutnya, pertanda kalau dia tidak marah atau mengejeknya.
Ya. Tampaknya keduanya masih tidak berani untuk maju ke homerun. Biarkan saja. Toh, suatu saat yang juara nanti pasti akan bisa melakukannya jika Sarada sudah mengijinkan. Tentunya mereka berharap terjadinya setelah jenjang pernikahan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk runtuhnya hubungan mereka karena terlalu cepat.
-ng-
"WAAAAA!"
Semua orang nan tengah berlalu-lalang di desa Konoha cuma bisa bengong saja mendengar Hokage mereka yang biasanya selalu terlihat gagah berteriak seperti ayam yang kabur dari rumah jagal. Memang sih, kadang kelakuannya rada bego, tapi tidak pernah dia terlihat ketakutan setengah mati seperti ini.
Dan tambah bengong saja ketika mereka melihat istri dan sahabatnyalah yang mengejar dirinya seperti kesetanan.
"Kenapa dengan mereka?"
"Tenang saja. Palingan Hokage kita ketahuan bikin terusan Icha-Icha yang kebetulan pake inspirasi Shinobi dari Konoha."
"Oh. Iya, iya. Bisa jadi. Serial gelap itu kan lebih nista lagi dari Icha-Icha biasanya. Apalagi Hokage kita mengklaim dia tidak suka hal-hal mesum, walau ia tidak pernah membuat peraturan untuk melarang peredaran buku-buku ecchi dan semacamnya. Pasti dia membencinya karena ia tidak terima kalau dia di kehidupan privatnya bisa ketagihan buku bokep." Kata temannya langsung mengiyakan saja. Padahal alasan Naruto membenci buku berbau ecchi disebabkan buku-buku laknat itu telah sukses membuat kedua anaknya menjadi remaja super mesum. Boruto sih Naruto masih bisa merelakan (dengan berat), tapi ia tidak akan pernah menerima kalau Himawari, gadis berhati mulianya itu telah teracuni hal-hal mesum, meski dasarnya ia masih anak berbudi pekerti yang sangat mulia.
"Atau mungkin akhirnya istri Hokage dan Uchiha Sasuke menemukan kalau Boruto si mesum sudah meracuni pikiran Sarada. Kau tahu sendiri kan kalau cinta segitiga mereka dan Mitsuki itu adalah rahasia publik."
"Wah, kalau begitu, Orochimaru bakal tinggal kenangan sebentar lagi dong!"
-"TOOOLOOOOONG!"
Naruto pun terus berlari dari kejaran istri dan temannya yang sudah tidak bisa diajak berunding lagi. Dunianya yang tenang dan damai benar-benar runtuh hanya dalam waktu satu kali tidur. Sebenarnya, ini sudah ketiga kalinya dunianya runtuh, pertama ketika ia menemukan alasan persaingan Boruto dan Mitsuki, dan yang kedua ketika dia menyadari kalau anak gadisnya yang punya hati emas telah menjadi perempuan super mesum, melebihi dirinya sewaktu remaja. Tapi inilah pertama kalinya jiwanya ikut terancam oleh kejadian tersebut.
Hm. Kau butuh bantuanku, Hokage terhormat?
Kurama! Dari tadi kek! Apa yang ada dibenakmu yang bisa membantu kita?
Dirimu, maksudmu.
Iya, iya. Cere-AAAH! Cepet Kurama! Hampir saja Sasuke berhasil menyunat diriku!
Gunakan bunshinmu untuk membuat distraksi. Gunakan sebanyak mungkin, lebih dari seribu pastinya
Tapi mereka bisa mendeteksi chakraku yang asli dan-
Tenang! Tidak mungkin aku memintamu menggunakan jurus dasarmu tanpa ada trik tersembunyi.
Menggunakan jurus Kage Bunshin alias seribu bayangannya, dia berhasil melarikan diri dengan memencarkan bayangannya yang jumlahnya memang lebih dari seribu itu sambil menutupi jejaknya. Pada beberapa bunshinnya, Kurama memberikan chakranya hingga sama persis dengan jumlah chakra normal Naruto agar Hinata dan Sasuke tidak dapat mendeteksi dirinya untuk sementara. Para bunsin itu pun berpencar, sedangkan Naruto sudah lama pergi ke tempat persembunyiannya.
Jurus Bunshin tebal yang kebal deteksi Sharingan dan Byakugan dan tahan pukulan keras. Kau jenius, Kurama!
Hn. Memang kau ini terkadang bodoh. Ini kan tergolong jutsu mudah kalau kau memintaku.
Ah, diam kau!
Naruto memasuki tempat persembunyiannya; sebuah bar bagi para lelaki yang merasa dirinya sedang hina-hinanya. Tampaknya Naruto ingin mempertaruhkan nyawanya dengan bersembunyi di tempat yang sangat memungkinkan untuk jadi pilihan persembunyian seseorang yang ingin menyendiri. Seperti orang yang meloloskan diri di kerumunan pejalan kaki, atau artis yang bersembunyi sejenak dan sekedar mengubah gaya rambut dan perilakunya hingga tidak dikenali orang awam lagi, tampaknya Naruto memilih tempat itu dengan bertaruh kalau Hinata dan Sasuke tidak akan mencarinya di tempat yang terlau gamblang.
Disana, ia menemukan gerombolan anak yang lebih suram lagi dari orang-orang sekitarnya.
Semuanya berasal dari keluarga klan Yamanaka. Dan mereka semua bahkan lebih mabuk daripada orang-orang sekitar mereka.
"Inojin? Ada apa kau disini?"
"KAU! Ini semhua karena anak perempuyanmuh!"
"SSST!" Naruto meminta salah satu pemuda klan Yamanaka (sebenarnya hanya tukang pacul sewaan mereka yang cukup tampan tapi nggak bisa cari kerjaan lain yang halal) yang mendadak menyerangnya itu untuk diam, tentunya setelah menghindari pukuran mabuknya yang mudah ditangkis.
"Hokage-sama," Inojin menghampiri Naruto, tubuhnya bergetar dan mukanya memerah pertanda dirinya menahan rasa malu, "sebenarnya ini bukan didalangi oleh Hima-chan tapi-"
"Jangan panggil aku Hokage!"
"HUWAAAA! DIA TELAH MEREBUT PRIVASIKUUU! AKU TAK BISA MEMELUK GULING LEEK-CHAN SAMBIL MENGEDOT JARIKU LAGI!"
Naruto pun kebingungan. Inginnya sih dia menyuruh semuanya untuk diam agar Sasuke dan Hinata tidak bisa menemukan dirinya disana. Tapi apa kuasanya, dia dikelilingi oleh orang-orang yang tampaknya sudah mau mati saja. Salah bicara sedikit saja orang tadi sudah berubah dari ingin membunuhnya menjadi histeris, sekali lagi berkata salah mereka mungkin bakal bunuh diri betulan.
"Jadi, sebenarnya, kami menemukan kalau...kalau..."
"Ya, Inojin?"
"A...aku...aku tidak kuat memberitahukannya! Membeberkan semua faktanya terlalu menyakitkan untuk diucapkan! Tanyakan saja pada orang tuaku! Maafkan aku, Hokage-sama! Maafkan aku, para pemuda klan Yamanaka!" Kata Inojin yang telah meneteskan air mata sebelum pergi menggunakan bom asap, membiarkan Naruto untuk kebingungan sendiri sambil mendapati para Yamanaka menangis kencang karena anak petinggi mereka tidak bisa mematuhi janji mereka. Dasar pengkhianat!
"Aduh, gimana ini...cup cup cup?" Kata Naruto yang kebingungan mendapati orang-orang berambut pirang pucat ini menangis cengeng. Apa daya, tangisan mereka malah tambah kencang. "Kenapa aku harus memilih tempat hina seperti ini, sih 'ttebayo?"
"Hn. Menurut hematku, kau tidak pantas berada disini Dobe, karena dirimu bahkan lebih rendah dari mereka ini, bajingan kampret." Itulah yang dikatakan Sasuke yang menggunakan kekuatan Rinnegannya untuk berpindah tempat secara langsung, hingga membuat Naruto teriak ketakutan dan langsung menggunakan jurus Sage Kyuubinya untuk kabur dengan kecepatan kilat. Sasuke dan Hinata yang baru saja menemukan dirinya pun mengekorinya dibelakang, tidak kalah jauh.
-ng-
"Sarada? Dimana kau?" Tanya Mitsuki yang sudah topless sejak memasuki gua itu.
Dalam secepat kilat, dirinya dipeluk oleh seseorang dari belakang. Ia tahu lengan halus itu milik siapa, tapi ia juga terkejut mendapati kulit yang hangat mendekap tubuhnya. Hanya ada kain tipis halus yang menjadi pembatas antara punggungnya dengan kedua benda kenyal milik kekasihnya.
Ya. Sarada tidak memakai baju, hanya celana dan pakaian dalamnya.
"Hai tampan. Hmm...aku suka sekali tiap kamu membuka bajumu. Dadamu, absmu. Kau seksi sekali"
Mitsuki bisa merasakan dirinya mulai terangsang dengan semua ucapan tadi, apalagi ketika Sarada mulai bergerak liar, jemari-jemarinya menyentuh otot kekar di dada dan perutnya, hidungnya mengelus-elus leher jenjang Mitsuki. Dengan jahilnya Sarada bermain-main disekitar kebanggaan pria tersebut tanpa menyentuhnya sedikitpun, dan disaat bersamaan, ia menjilat dan menggigiti daun telinga milik Mitsuki, membuat seluruh kulit pucatnya memerah.
Anak Orochimaru itu pun akhirnya tidak tahan lagi. Ia membebaskan dirinya dari dekapan Sarada dan memutar tubuhnya agar ia dapat melihat wajah cantiknya secara langsung. Keduanya tambah bernafsu mendapati wajah rupawan keduanya yang sudah merona. Khusus untuk Sarada, ia ekstra malu karena dia tidak sengaja menyentuh kejantanan Mitsuki yang terbungkus kain celananya, dan ia dapat mengira-ngira ukurannya Mitsuki. Ia sedikit kecewa mendapati Boruto punya ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan Mitsuki, walau Mitsuki sendiri sebenarnya masih sedikit lebih besar dari rata-rata.
Eh? Tapi Mitsuki kan bisa memanjangkan tubuhnya. Berarti, anunya juga...KYAAA! APA YANG KUPIKIRKAN! SIALAN KAU INNER MESUM!
Kenapa marah? Kau suka kan, fakta kalau bayangan si kecilnya Boruto yang kuproyeksikan lebih besar satu setengah kali lipat dari orang biasa ternyata aslinya lebih panjang lagi dan-
CUKUP!
"Sarada..." Suara Mitsuki yang terdengar rendah itu membuyarkan Sarada dari lamunannya, dan dia hanya bisa membiarkan bibir lembut milik Mitsuki melumat miliknya sebelum mendorongnya ke dinding gua. Tapi Sarada masih tidak ingin menurunkan dominasinya. Sarada membalikan posisi mereka dan meloncat ke pangkuan anak Orochimaru itu. Kedua bibir mereka terus saling melumat hingga Mitsuki jatuh terduduk, Sarada masih ada di pangkuannya.
"Hmm. Kamu sekarang mulai berani bermain liar, ya..." Mitsuki terus melihat bagian leher dan dada Sarada yang memerah karena panas.
"Huh. Ini semua gara-gara kalian, tahu." Kata Sarada ketus. "Diperebutkan dua cowok tampan hentai yang seksi telah membuatku gila! Apalagi aku tidak berani lagi untuk menghajar kalian setiap kalian mulai berlaku mesum. Dasar."
"Maaf." Kata Mitsuki masih tersenyum. Ia tahu kalau Sarada tidak terlalu marah. Ya, setidaknya ia tidak akan ditonjok sampai terbang keluar gua.
"Kalau sampai ketahuan Papa atau terjadi apa-apa, kalian harus tanggung jawab atas ulah kalian yang telah meracuni pikiranku." Ultimatum Sarada, sangat jelas apa yang dimaksud gadis Uchiha itu dengan 'apa-apa' tadi.
"Sarada, ada peraturan dari persaingan kami. Apapun yang lebih intim daripada saling menjamahi satu sama lain, kamulah yang harus memintanya lebih dahulu."
"Bagus."Kata Sarada singkat. Namun, ia kemudian melanjutkan pembicaraannya. "Kalau begitu aku minta kalian menyelesaikan drama cinta ini dalam tiga bulan kedepan."
"Eh? Cepat sekali. Kenapa?"
"Pertama, kalian sudah terlalu lama bersaing dan mempermalukan diri kalian sendiri kepada warga Konoha. Kedua, kalian ninja jenius, jadi masalah ini seharusnya lebih mudah untuk diselesaikan oleh otak kalian yang entah kenapa jadi bebal untuk soal seperti ini. Dan yang ketiga..."
"Ya?"
"A...Aku...aku ingin cepat-cepat menikmati malam pertama..." Kata Sarada malu-malu, dalam sekejap ia langsung menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat merah dari Mitsuki. Butuh waktu lama bagi dirinya untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan Sarada. Dan seperti yang Sarada duga, Mitsuki mentertawakan dirinya karena perkataannya tadi. Jika dia tahu jutsu tanah, dia sudah mengubur dirinya hidup-hidup karena saking malunya.
"Hmm...kamu sudah menjadi orang yang mesum, sayang." Goda Mitsuki sambil membalikkan posisi mereka.
"Shannaro...jangan panggil aku mesum, ular hentai..."
Dan mereka berdua kembali bercumbu dan memadu kasih mereka.
-ng-
"Pyuh...akhirnya, kita bisa menghindar."
Kita? Lu aja kalee!
"Diam kau, Kurama!"Naruto berbisik keras kepada makhluk yang ada dipikirannya. Sekarang ia berada di distrik desa Konoha yang menjadi tempat para dokter umum. Salah satu tempat praktek disana adalah psikiater hubungan suami istri. Lagi-lagi Naruto memilih tempat yang dekat tetapi jauh, alias cocok dengan konfliknya tapi terlalu nyeleneh untuk diikuti. "Eh? Ada Konohamaru disini."
Naruto, sepertinya kita harus meninggalkan tempat ini. Aku bisa merasakan ada yang salah dengan Konohamaru.
"Memang. Dia terlihat lemas begitu." Tapi Naruto tidak mengindahkan nasihat Kurama meski menyadari kebenarannya. Ia malah mendekati teman yang terpaut 5 tahun usianya itu.
"Ah, bos Naruto." Sang Sarutobi memanggil Hokage ketujuh dengan tidak formal, seperti ketika mereka belum dewasa. Namun nadanya terlalu pelan, lirih sekali untuk seorang Konohamaru yang juga terkenal sebagai ninja yang semangat bin nyeleneh seperti kakeknya dan Hokage ketujuh, Naruto.
"Kenapa kamu? Pisah ranjang dengan Hanabi?"
"Ti, tidak. Hubungan kami masih baik-baik saja." Kebohongan Konohamaru tidak dapat ia sembunyikan dengan baik. Naruto pun memeriksa seluruh tubuhnya untuk melihat apakah ada luka yang membekas untuk memeriksa jika ada yang serius. Namun yang ia temukan justru membuat jiwa kemesumannya muncul. Ya, mau tidak mau hati kecil Naruto mengakui kalau ajaran Jiraiya tidak hanya membantunya menyempurnakan Oiroke no Jutsu, tapi juga pikirannya sendiri. Ya, setidaknya hal-hal itu hanya ia lakukan kepada istrinya sendiri.
"Bekas ikatan? Wah. Akhirnya kalian menggunakan teknik tingkat lanjut 'ttebayo! Apa yang kalian gunakan sebagai referensi? Kamasutra? Website untuk majalah pria?"
"Ju...justru itu, kore! Dia menggunakan buku Icha-Icha buatanku!"
Naruto langsung dibuat speechless. Dia membuat apa?!
"Di...dia menerapkan seluruh bagian yang paling memalukan dalam Icha-Icha! Bahkan buku paling baruku pun ia gunakan. Padahal itu kan kutulis dengan niat untuk memparodikan gerakan-gerakan yang super tidak memungkinkan di buku-buku erotika! Tubuhku sakit semua, Kore!"
"JADI KAMU YANG MERACUNI PIKIRAN KEDUA ANAKKU, HAH!"
"Hah? HEI!" Sang Sarutobi kaget bukan kepalang mendapati kerah bajunya dicengkram oleh Naruto. "Apa-apaan ini, bos? Jangan bikin aku memunculkan Hanuman dan seribu monyetnya karena kau lepas kontrol! Kau tahu kerusakan yang akan terjadi pada Konoha kalau sampai seperti itu!"
"KAU MENGAJARI BORUTO UNTUK MENGGAET CEWEK-CEWEK DENGAN PERILAKU SUPER MESUM! GARA-GARA KAMU SEMUANYA JADI KACAU TAUUU!"
"Bos, tunggu dulu! Aku benar-benar tidak mengerti. Memangnya ada yang salah kalau si Boruto jadi super popular? Dan apa yang tadi kau bilang tentang Himawari?"
Amarah Naruto yang meledak-ledak pun berubah menjadi kesedihan mendengar nama bidadari kecilnya yang telah tumbuh besar. Terlalu besar malah. Sampai kapanpun ia tidak akan siap menerima kalau anaknya sudah menjadi super pervert. Ia menurunkan Konohamaru, sebelum menangis tidak elit seperti anak kecil. "HUAAA! Himawariku telah ternodai. Otaknya kini penuh pikiran-pikiran kotor karena semua buku itu! Ibu, maafkan aku karena aku gagal membesarkan cucu-mu!"
"Hima? Si Himawari juga jadi mesum?! Sumpah, aku sama sekali tidak mengajari Hima apa-apa!"
"HUAAAAA! HIMAWARIIII!"
"B...bos! Bos! BOS! Maafkan aku! Aku tidak tahu kalau bakal begini!" Konohamaru mulai ikut menangis, sadar atas kesalahan yang telah ia perbuat. "Kami-sama, ma...maafkan dosa-dosaku karena meracuni pikiran gadis suci seperti Hima!"
"Hiks hiks...HIMA-KU..."
"Bos...BOSSS!"
Kedua ninja kuat di Konoha itu pun menangis sekeras-kerasnya tanpa memedulikan konsekuensi. Konsekuensi itu sendiri bukan hanya warga Konoha yang memandang keduanya dengan nista. Dan mereka akan mendapat getahnya...
SEKARANG!
"Oh. Jadi inilah yang kau sembunyikan dariku selama ini, Naruto."
"Hi...Hinata himeku!"
"WAT DE PUK!" Teriak si Konohamaru. "Kenapa nyonya Hinata dan Sasuke berdiri di atas Susanoo?"
"Itu bisa dijelaskan di belakang. Sekarang, Naruto, apa yang kau sembunyikan tentang Himawari?"
"Hi...Hinata..."
"Kemesuman Himawari memang pilihannya sendiri, tapi tetap ada yang harus. Naruto, kalau kau jujur, mungkin ia sudah bisa kita selamatkan?" Hinata meneteskan air matanya mengatakan semua itu, memikirkan pernikahan mereka yang ada di ujung tanduk dengan dua kebohongan besar yang terjadi di hari itu.
"T...tolong dengarkan aku Hinata! Aku sama sekali tidak tahu soal kemesuman Himawari hingga 1 bulan yang lalu, dan kamu waktu itu masih sangat shok! Mana mungkin aku bisa membicarakannya denganmu dalam kondisi itu, kan?"
"Jadi kau menggunakan alasan yang sama untuk menyembunyikan anak milikmu dan Sakura, hah?" Sasuke langsung membeberkan dosa terbesar Naruto
"Bos, kau punya anak dengan Sakura 'kore?"
"Tidak 'ttebayo! Aku juga masih nggak paham kenapa ada anak mirip aku dan Sakura yang memanggilku ayah waktu pertama kali bertemu! Kupikir Boruto atau Sai iseng menggunakan lukisan buatannya, tapi anak itu bukan Henge."
"Dobe, mengaku saja kalau kau selingkuh!" Sasuke sudah tidak sabar untuk mencincang sang Hokage yang ia pikir sudah tega memanfaatkan ketiadaannya di desa, dimulai dari anunya hingga ke bagian atas kepalanya.
Ya, mudah-mudahan saja Hinata bisa menyambungkannya kembali, atau menggunakannya untuk keperluan yang lebih baik. Benda sehebat itu kan tidak bisa dimusnahkan begitu saja, kan?
"Bos, kalau cuma gara-gara mabuk dan kesalahan satu malam rasanya mereka masih bakal memaafkan deh!" Bisik dan sugesti seorang Konohamaru.
"Sugesti macam apa itu! Malah tambah aneh kan kalau Sakura hamil tanpa sepengetahuan siapapun termasuk aku?!"
"Bukannya Tsunade bisa pake henge super biar kulitnya tetap mulus dan dadanya jadi super gede? Bisa aja kan Sakura menggunakan tekhnik yang sama agar tidak ketahuan hamil."
"Tapi tetap aneh 'ttebayo! Buat apa disembunyikan lalu dibuang ke tempat lain sampai hari ini? Lantas darimana pula anak itu tahu kalau aku ayahnya? Dan kenapa kau malah setuju dengan teori kalau aku punya anak haram dengan Sakura?"
"Sudah selesai bicaranya? Karena kalian akan kami cincang, kami rebus, dan kami-"
"Uchiha-sama! Jangan bilang kalau anda akan melangsungkan rencana anda di masa lalu untuk membunuh semua Kage di seluruh negara?! Dan lepaskan kakakku dari genjutsu Sharinganmu!"
"Oh, Hanabi!"
"Kampret." Naruto dan bawahannya dari masa kecil hanya bisa mengeluarkan keringat dingin melihat tambahan prajurit yang siap mencincang diri mereka. Diam-diam Kurama juga mempersiapkan diri dengan mengisi kejantanan Naruto banyak chakra. Barangkali Sasuke dan Hinata bisa dilumpuhkan ketika anunya terluka oleh mereka.
"Bisakah kau menolong kakak? Ada masalah...kesetiaan rumah tangga yang ingin kuselesaikan."
"NARUTO NII-CHAN SELINGKUH?!" Hanabi langsung berdiri di depan Hinata dengan kecepatan instan, tanpa menggunakan Shunshin apapun.
"Hn. Dan cerita buatan suamimu membuat Himawari-chan jadi semesum Jiraiya."
"ASTAGA!" Hanabi lalu menatap kedua tersangka dengan tatapan dingin dan mengerikan ala semua Hyuuga. "Kalian..."
"KABUUUUR!"
Dan untuk pertama kalinya, Susanoo dapat terlihat berpikir. Apa yang ada dalam pikirannya ya?
Gila. Dikeluarin cuma buat menghajar teman yang selingkuh...
Ya, kalau belum nikah memang gak akan ngerti.
-ng-
"Chouchou, akhirnya aku akan menikah dalam tiga bulan lagi!"
"Dengan siapa? Setahuku kau kan masih diperebutkan sama Mitsuki dan Boruto."
"Itu dia! Dalam waktu dekat, mereka berdua akan dan harus menyelesaikan permasalahan ini. Bayangin, deh! Dua ninja tertampan di Konoha, bertarung untuk mendapatkan hati seorang gadis! Dan gadis itu adalah aku! IIIH! Romantis banget!"
Chouchou cuma bisa merinding melihat temannya OOC parah karena cintanya. Mending kalau kena genjutsu Yamanaka lagi. Inimah benar-benar berubah total orangnya! Natural tanpa obat dan bahan pengawet, coy! "Ah, sayang Mitsuki dan Boruto bukan tipeku. Padahal mereka berdua cukup tampan."
"Saangat tampan, Chouchou! Dan kalau mereka bukan tipemu, kenapa masih bilang kalau mereka tampan?"
"Dasar kasmaran. Namanya orang ganteng ya pasti ganteng! Hanya karena nggak kesengsem sama tuh dua orang bukan berarti aku tidak dapat melihat ketampanan mereka!"
"Kyaaa! Aku beruntung sekali, kami-sama! Yang nggak ngerasa cinta aja tahu kedua calon suamiku benar-benar tampan! Duh, benar-benar deh!"
Chouchou tambah mual melihat kelakuan OOC akut yang disengaja Sarada. Seharusnya dulu ia tidak berdoa 40 hari 20 malam untuk membuat Sarada menjadi lebih gaul seperti cewek lainnya biar nggak bikin orang sakit hati. Sekarang keliatan banget betapa tidak pasnya Sarada berkelakuan girlish binti genit. Duh, memang penyesalan selalu datang terlambat. "Aku mau pergi dulu." Semoga kalau nanti ketemu jodoh nggak bakal kerasukan virus OOC tingkat labil kayak gini.
"Ya, ya, kapan-kapan kesini lagi. Ngomong-ngomong, tipemu seperti apa sih? Perasaan dari dulu tiap ketemu yang ganteng bilangnya bukan tipemu mulu."
"Mau tau aja!" Mungkin kayak ayah pas lagi kurusan, tapi lebih berotot? Ah, aku juga tidak tahu.
Setelah Chouchou meninggalkan dirinya sendiri lagi, Sarada melihat dua gulungan kertas pemberian Boruto dan Mitsuki.
Keduanya memberikan fuinjutsu buatan mereka sendiri. Mengingat keturunan mereka, jelas kalau mendalami jutsu tentang segel-segel akan menjadi prioritas mereka di suatu hari. Apalagi Boruto ingin tampil beda dengan ayahnya yang walau shinobi hebat tetap terlalu bebal untuk mendalami jutsu andalan nenek moyangnya.
"Hmm...keduanya memberikan ini untuk digunakan kalau aku sedang tidak bisa menemui mereka, pelepas rindu..." Sebenarnya apa ya isinya?
Tanpa pikir panjang, Sarada langsung mengaktifkan keduanya secara bersamaan untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Langkah buruk, Sarada. Langkah buruk.
Sarada mendapati dirinya berada dalam sebuah genjutsu. Genjutsu yang membuat dirinya hanya mengenakan pakaian dalam.
Dan terikat oleh empat tali untuk kedua kaki dan lengannya.
"Apa-apaan ini?!"
"Hm. Ia lebih berisi dari yang kuduga."
"Hampir C-cup. Bagus juga, Sarada."
Ia bisa melihat kedua kekasih pervertnya, Mitsuki dan Boruto.
Hanya mengenakan celana boxer ketat yang membuat mereka saaangat sekseh!
Oh, kami-sama. Darimana mereka mendapatkan ide hentai yang memalukan seperti ini?
"Kai. KAI!" Sial. Genjutsunya kuat sekali! Bahkan sharingannya tidak berkutik meski sudah berbentuk lebih dari sekedar tiga tomoe.
"Biarkan aku membahagiakanmu, Sarada, sahabat dan cinta sehidup sematiku."
"Kau gadis dingin yang membuatku selalu penasaran, dan ketika kau membuatku jatuh cinta, aku harus jatuh bangun hanya untuk mengerti apa yang ada di hatimu. Hmm...kamu memang benar-benar harus dihukum untuk membuatku kesusahan." Mitsuki menambah gombalan Boruto yang tampaknya menghiraukan
Gadis Uchiha itu tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi. Satu-satunya yang dapat ia simpulkan ialah kedua gulungan jutsu tadi seharusnya tidak dinyalakan bersamaan, karena keduanya sama sekali tidak menghiraukan satu sama lain. Berarti Mitsuki pantas dihajar lebih parah karena kelewat ekstrem genjutsunya. Tidak pernah sekalipun dalam imajinasinya Sarada memikirkan dirinya dirantai oleh kekasihnya.
"Ah...Sara..." Desah Genjutsu Boruto begitu dada dan perut berototnya mulai menyentuh Sarada. Genjutsu Boruto juga memunculkan satu bunshin lainnya yang berada di bawahnya, mengabaikan meja hasil genjutsu Mitsuki. Satu menyentuh tubuh atasnya, satu lagi di bawah. Sentuhan keduanya membuat dirinya gila, membuatnya menginginkan lebih lagi. Sayang, itu berarti si Boruto juga akan dihajar setara dengan rivalnya. Sarada juga tidak pernah bermimpi basah threesome dengan bunshin seseorang. Sedangkan Mitsuki memasang sebuah segel di keempat ikatan kekasihnya. Setiap ia menarik rantai atau pergelangan kekasihnya, Sarada merasakan sensasi yang menakjubkan di balik perihnya pergelangan kaki tangan miliknya."Hmm. Sempurna. Kita mulai ya, Sarada..."
Kyaaaa...
Sarada hanya bisa pasrah untuk menerima/menikmati hukuman yang juga berfungsi sebagai hadiahnya. Perasaannya bercampur aduk. Bayangkan saja seorang gadis konservatif mengalami mimpi basah dimana ia dijamahi oleh dua lelaki idamannya dalam hubungan BSDM.
Di dunia nyata, Sarada telah terkapar dengan air liur mengalir deras dari mulutnya.
-ng-
"HANABI-CHAN! DENGARKAN DULU KATA-KATAKU!" Kata Konohamaru yang tengah dipasung oleh sang istri. Hanya kata-katalah yang dapat menyelamatkannya. Melawan tidak mungkin, pasti dia akan langsung di-Jyuuken sebelum menyelesaikan jurusnya. Memang mengerikan perempuan yang tengah mengamuk itu
"Apalagi yang harus kudengar, hah? Kakakku adalah seorang yang cukup polos dan juga pembohong yang buruk. Apa kau bilang kalau Hinata nii-chan adalah seorang pembohong?"
"Aku tidak mencoba mengklaim kalau Hinata-san adalah pembohong, sayang! Aku hanya bilang kalau ada miskomunikasi fatal yang terjadi di sini!"
"Siapa lagi yang ingin menyebarkan ajaran Jiraiya si Sannin mesum selain dirimu, Konohamaru?"
"Hanabi, aku memang seorang mesum yang ingin menjadi super mesum, tapi bahkan aku tidak akan menjual buku dewasa kepada para Kunoichi, tidak peduli kalau ninja yang mengambil misi kelas B memang dipaksa dewasa sebelum waktunya karena faktor tertentu!" Bantah Konohamaru.
"Lalu siapa..."
"Oh, begitu ya Gai-sensei?"
Hanabi langsung berlari menuju suara yang benar-benar sudah ia kenal.
Disana ia dapat melihat keponakannya yang imut, lucu, dan sudah tidak polos lagi, dengan temannya yang berambut ungu. Di depan mereka ada dua ninja dua generasi sebelumnya, satu guru akademinya Naruto dan satu lagi Jounin super yang terpaksa mengenakan kursi roda setelah perang Shinobi ke-empat.
"YOSH! Tubuh orang berbeda-beda, jadi jika kau merasa ada yang aneh jika ada reaksi yang tidak tertulis di dalam buku, atau berbeda dengan yang ada di referensi-referensi, itu normal!"
"Oh, pantas Hima suka sedikit merasa aneh kalau lagi membersihkan ketiak. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan bagian ke-12 Icha-Icha GPR-Ground Penetrating RAAAAWdar?"
Eh? Icha-Icha?
"Ini! Jangan sebarkan ke yang lain, ya!"
"SIAP!" Himawari dan Sumire langsung meninggalkan tempat itu. Konohamaru dan istrinya tidak mengejar kedua perempuan yang sudah me
"YOSHH YOUTH! Lihat semangat muda keduanya, Iruka! Kita tidak perlu menyebarkan spandex untuk membuat orang ceria kembali, hanya cukup dengan pidato, dan pelajaran untuk pengetahuan penting di kemudian hari!"
"Benar sekali, Gai Sensei!" Kata sang chuunin yang mengobati krisis masa tuanya dengan meniru pola hidup Maito Gai beserta spandex-spandexnya. Anko terpaksa menjauhinya karena Iruka terus memintanya untuk diet dengan menjadi seorang Gai. Belum lagi spandexnya yang super bau. "Seperti menyelam sambil minum air, bukan hanya kita menyebarkan semangat juang Shinobi, tapi juga menyebarkan edukasi seks yang sangat diperlukan oleh masyarakat Shinobi yang banyak berumur pendek!"
"Dan karena kedewasaan mereka, ditambah Sumire juga seorang ANBU, kita tidak perlu khawatir soal kejadian buruk menimpa siapapun karena pengetahuan baru mereka!"
"Oh, jadi kalian telah mengajari para Kunoichi sex ed tanpa program yang benar dan sepengetahuan kami, hah?"
Iruka dan Gai menoleh kebelakang. Iruka sudah bisa mengetahui nada bicara yang mencekam dan tidak bersahabat dari kedua orang di belakang mereka, tapi Gai sensei masih tersenyum ceria seperti orang tidak berdosa. Benar-benar aneh orang itu.
Terlihat jelas kedua orang itu. Bibinya Himawari dan suaminya, cucu Hokage ketiga. Kedua Jounin Konoha itu menatap keduanya dengan dingin seperti sampah masyarakat.
"Oh, Hanabi dan Konohamaru-chan! Kami baru saja menerangkan edukasi seks bagi para Kunoichi di Konoha! Harus kukatakan kalau Himawari dan Sumire adalah Kunoichi yang paling antusias soal edukasi seks dan-"
"B...baka! Lihat wajah mereka! Jelas kalau mereka marah kepada kita!"
"Oh! Kalau begitu harus didiskusikan! Ya, semua masalah, ada solusinya. Dan ketidaktahuan bisa berakibat fatal, termasuk Hai, kepala keluarga Hyuuga! Ada masalah?"
"Buku itu! Buku itu hanya untuk 17 tahun ke-atas, dan Himawari masih 2 tahun terlalu muda untuk membaca Icha-Icha. Belum lagi Sumire punya sejarah yang cukup berbahaya, termasuk persekongkolan melawan Konoha, dan Icha-Icha punya banyak plot. Apa yang kalian pikirkan, membagikan buku-buku itu kepada remaja dengan sejarah berbahaya dan belum cukup umur?!"
"Tenang saja, nyonya pemimpin klan Hyuuga! Kami telah mengambil langkah-langkah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dari penyebaran buku ini, termasuk penyebaran yang sangat terbatas."
"Ceritakan." Kata Hanabi langsung to the point.
"Kami telah menyensor buku itu! Ha! Jadi tenang saja, tidak ada bagian super vulgar dan eksplisit yang kami berikan kepada mereka!"
Konohamaru menyabet bagian buku yang tadi dibagikan kepada kedua Kunoichi Konoha yang telah terlibat spionase untuk alasan pribadi. Amarahnya malah tambah memuncak setelah membaca bagian termesum di dalam buku itu. "Buku ini memang telah disensor...tapi tingkat kemesumannya masih akut! Kenapa kalian sama sekali tidak menyensor bagian yang memberikan detail soal keseksian kharakter-kharakternya yang juga sama parah dan menggodanya?! Ini sama saja bohong!"
"Kami tidak menyensor adegan penting, seperti rayuan gombal dan goyangan yahud yang menjadi bagian yang mendorong alur cerita berjalan! Buku ini terlalu bagus untuk disensor lebih dari 10%. Dan dari yang kubaca, tidak apa-apa untuk lelaki maupun perempuan untuk punya rasa yang lebih dari sekedar cinta, yakni nafsu dari naluri. Jadi kupikir, tidak ada salahnya kalau Himawari terkadang punya pikiran kotor. Ada yang salah? Hei, kemana kau Iruka? Kita masih harus menyelesaikan kesalahpahaman ini!"
-ng-
"Hmm...ayah kemana, ya?"
Mata emerald remaja berambut kuning itu terus mencari-cari orang yang ia kenal, namun tidak ada yang bisa ia temukan. Ibunya yang berambut pink pun tidak ada di rumah sakit.
Tentu saja ia harus menemukan sang ayah. Ia harus menyelamatkan dirinya dari virus irasionalisme yang disebarkan oleh Daitsu, musuh bebuyutannya. Ia yakin kalau paman Sasuke dan istrinya telah dirasuki oleh segel gelap buatannya hingga menyerang teman sejati mereka sendiri
Ngomong-ngomong, kenapa para penduduk Konoha terus membisikan sesuatu tentang Hokage? Memang ia anak Hokage, kan? Dan ada pula yang memelototinya sembari mengucapkan sesuatu tentang mata hijau yang familiar. Memang seharusnya familiar, wong ibunya juga Shinobi super seperti ayahnya. Ada apa dengan mereka? Apakah mie ayam, eh, maksudku ramen Teuchi ada kasus keracunan hingga ada delusi masal?
Di sudut sebelah kanan, ia dapat melihat seseorang berpakaian hijau di kursi roda dikejar-kejar oleh Konohamaru dan temannya, Hanabi. Ia juga bisa melihat dua perempuan terkekeh-kekeh sambil membaca sesuatu. Alisnya berkenut-kenut. Kenapa anaknya Hinata Hyuuga mengenakan kumis Uzumaki?
Di sudut sebelah kiri, ia juga menyaksikan komplotan keluarga Yamanaka melakukan sebuah perencanaan. Alisnya kembali berkenut-kenut melihat pemandangan yang tidak mengenakan. Ia melihat anaknya Ino dan Shikamaru menjelma menjadi Shinobi yang keseringan idem di rumah alias pucat abis. Rambutnya juga berubah tidak lagi mirip dengan ayahnya. Apa dia sedang melakukan sebuah misi klannya?
Anak itu menghempaskan nafasnya melihat ke atas langit dan entah kenapa, ia berhasil menemukan apa yang ia cari:
Ayahnya dikejar-kejar oleh Sasuke dan Hinata. Susanoo mengejar sage Kyuubi.
Hanya ada satu komentar darinya untuk hari ini.
"Hari ini benar-benar sableng." Komentar Shina sebelum mengekori ayahnya yang masih dikejar Sasuke dan Hinata.
-ng-
Nah! Akhirnya rampung juga chapter ini! Maaf karena membuat kalian menunggu!
Dan kenapa musuhnya Shinachiku dinamai Daitsu? Ia diambil dari Daihatsu, seperti Kawaki yang diambil dari Kawasaki. Simpel kan?
Kalau gak suka namanya...FLAME TAI ASHOOO! FLAAAAAME!
