A/N : Okeh.. saya udah 4 tahun ngga bikin fanfic.. jadi sekarang harus bertapa dan meditasi lebih keras dari Shaka supaya bisa memberikan cerita yang terbaik untuk permainan ini... #mengernyitkan dahi sambil mengatupkan tangan. Mohon maaf kalau ceritanya ngga sesuai dengan harapan kalian yaah... karena aku akan membuat cerita ini sedikit angst dan banyak berpikir #bow
Disclaimer : seseorang yang mengaku namanya Masami Kurumada tapi ternyata dia hanya manusia biasa yang mempunyai ayah laki-laki dan ibu perempuan.
###
##
#
Sebelumnya di Constellations:
Aiolia beranjak pergi ketika tiba-tiba sebuah cosmo terasa dekat dengan dirinya. Ia menengok ke belakang. Tetapi tidak ada orang. Apakah itu hanya ilusi? Pemuda ini terus berjalan, namun selama perjalanan ia merasa Deja Vu. Seperti pernah mengingat, ia pernah merasakan hal ini.
Orang itu yang merasakan hal yang sama... "SHAKA!"
###
##
#
Chapter 7
"Where are we?"
By: Saint –Chimaira Kari
...
Aiolia berlari secepat yang ia bisa menuju kuilnya..ia tidak menoleh sedikitpun ke belakang. Suara terengah-engah terdengar kecil dari tenggorokannya. Samar-samar tapi pasti, ia masih merasakan cosmo itu mengikutinya. Makin cepat ia berlari, makin cepat pula cosmo itu menerornya dari balik punggungnya yang besar.
Ia merasa jiwanya terancam...
/paling tidak, aku tidak harus berlari dengan empat kaki.. walaupun harus kuakui, kecepatan singa berkali kali lipat lebih cepat daripada kakiku sekarang, tapi untuk sekarang ini, aku harus lari secepat yang aku bisa ke kuilku.../ Aiolia masih sempat bergumam dan larut dalam keputusan yang ia pilih, walaupun ia harus memaksa otaknya untuk berpikir seratus kali lebih cepat karena teror yang ia terima di balik punggungnya mulai membuat ia takut.
BRAK!
Pintu emas yang berat itu tertutup dengan mudah dengan kekuatan Aiolia.. masih terdengar samar2 suara nafasnya yang menderu-deru.. Padahal selama ini, ia bahkan bisa lari marathon tanpa henti ke negara tetangga tanpa mengeluarkan keringat sedikitpun, tapi rasa takut dan mengancam mengalahkan segalanya.
Ia bersandar pada pintu bagian dalam kuil Leo, masih dengan sikap waspada merasakan apakah cosmo tersebut masih mengikutinya. Sambil sesekali ia melihat ke sekeliling kuilnya, otaknya mulai berpikir rasional.
/Tunggu.. kenapa aku sekarang ada di kuilku? Ini abad berapa? Bukannya Athena dan kami semua para Gold Saint ada di Abad 18 bertemu dengan Athena-sama yang satunya lagi..?/
/Bukannya kita lagi menunggu untuk pesta dengan Athena-sama yang satunya lagi?/
Tanpa sadar ternyata tangan Aiolia masih menggenggam surat kaleng yang ia temukan di lantai kuilnya, namun sekarang sudah dalam keadaan lecek dan basah oleh keringat tangannya. Sambil bersandar ia membuka dan membaca kembali isi surat itu.
"Bersiap-siaplah wahai masa depan, masa lalu akan menghapus kalian."
"Aaaaahhh~~~ dalam keadaan kaya gini mana bisa aku mikir yang susah-susaaaah!" Aiolia mulai menggaruk-garuk kepalanya. Ia terduduk lesu di balik pintu emas yang kokoh itu. Pantatnya merasakan dinginnya granit mahal yang menjadi alas duduknya tersebut. Tanpa sadar ia sudah tidak lagi merasakan cosmo yang mengancamnya.
"Kemana dia?" perlahan2 ia membuka pintu tersebut dan melihat sekeliling kuilnya. Sambil sedikit termenung, Ia mengingat-ingat lagi setiap kejadian yang ia dan teman-teman Gold Saint lainnya alami. Semua terasa begitu nyata. Tapi.. yakinkah semua itu hanya mimpi?
Sambil melihat sekeliling dan berjalan ke arah tangga, Ia mencoba mencubit pipinya sendiri.
"Aduh" teriaknya kecil sambil mengelus-elus pipinya."Sial sakit.. ternyata ini dunia nyata.. bukan mimpi.." Aiolia kembali melihat kedua belah telapak tangannya. Ia melihat jari2 yang kekar dan telapak tangan yang besar itu masih menjadi bagian dari tubuhnya, bukan bulu dan cakar seperti yang ia lihat sebelumnya. Perlahan ia mengepalkan jari-jemarinya dan melepaskannya lagi sembari menghela nafas. Tiba-tiba ia merasakan aura cosmo kental yang membuat ia mundur dengan cepat, mempersiapkan kuda-kudanya dan meningkatkan kewaspadaannya.
"Siapa disitu!" Tanyanya galak. Peluh berjalan pelan di pelipisnya, menunggu pihak yang bersangkutan untuk menjawab pertanyaannya.
"Tenang saja Lia.. ini aku kok.. jangan galak-galak" suara nyaring itu menyambut pertanyaan Aiolia yang dari tadi merasa diteror dan bingung akan segala kejadian yang ada.
"Ah...kamu.." Aiolia cukup bisa merasa tenang melihat penampakan yang berdiri dan berjalan menuju ke arahnya. Tubuh itu kini terlihat tegap sempurna dan kekar seperti biasanya. Tidak berubah layaknya cewek seksi yang ia lihat sebelumnya.
"Sha...Shaka... ka-kamu juga kembali seperti semula...?" tanyanya pelan dan terbata-bata. "Eh... kamu inget ga yah.. kamu waktu itu seksi banget.. eh.. jadi cewek?" Aiolia mulai bingung mencari kalimat yang tepat untuk dilontarkan pada manusia sesempurna dewa itu.
"Seperti semula? Seksi? Kamu itu ngomong apa sih? Kok ngomong sendiri?" Shaka mengernyitkan dahinya karena bingung dengan Aiolia yang terus menggumam.
"Maksudku.. Shaka...kamu.. udah balik jadi laki-laki?" Aiolia mendekati Shaka perlahan, menyentuh wajah dan tubuhnya.
"Heh... jangan pegang2.. geli tau..." Shaka mulai gerah dengan tangan Aiolia yang sibuk merayap menggerayangi tubuhnya. Tapi ia tidak berusaha untuk menangkis tangan sang Leo itu. "Kenapa kamu ngga pegang-pegang aku aja pas waktu aku masih jadi cewek sih? Kan itu lebih normal" lanjutnya lagi.
"Oh.. sori" katanya gugup dan melepaskan sentuhannya. Mukanya merah padam dan ia jadi salah tingkah.
Aiolia terdiam dan menatap ke arah lantai. Karena Shaka tak juga bicara, Aiolia makin bingung harus bicara apa. Dan percakapanpun sempat terhenti sejenak. Sampai Aiolia merasa janggal dengan perkataan Shaka dan Ia mendongak, menatap mata sang Virgo walau tetap masih tertutup seperti biasanya.
"Hah..." ucap Aiolia memecah keheningan. "Berarti.. kamu inget kalo kamu pernah jadi cewe Shak?" tanyanya lagi hati-hati.
Shaka masih terdiam dan menatap Aiolia sampai akhirnya ia membuka mulutnya.
"Aku ingat semuanya Lia.. dan aku tidak menyangka kau juga ingat akan hal itu.. kupikir hanya aku saja yang merasa gila.. Karena begitu sadar, aku sudah ada di atas kursi terataiku." Katanya pelan.
"Serius Shak? Beneran?" Tanya sang Leo dengan mata berkaca-kaca. "Huweeeeeeee! " tangisnya pecah sambil memeluk Shaka lagi erat-erat "Akhirnya ada yang inget jugaaaa! Beneran aku juga disangka gila gara-gara ini semua! Huweeee!" tangisnya lagi.
"Heh! Udah dibilang jangan peluk-peluk yah... dari geli aku mulai merasa jadi merinding tauk," kata Shaka pelan tapi tegas. Tubuhnya pun tetap tidak berusaha menyingkirkan tangan Lia yang memeluknya semakin erat. Lia pun menangis semakin keras, sehingga mau tidak mau Shaka harus menenangkannya dan mengelus-elus rambut emasnya.
"Hoooi.. itu yang nangis siapa sih! Berisik amat! Ganggu tidur orang aja!" Sang Cancer berjalan tertatih ke arah Shaka dan Lia sambil menyeret bantalnya yang basah karena iler. Shaka dan Lia pun terkejut mendapati Deathmask yang muncul dari balik kamar Lia.
"Ih! Kalian berdua ternyata! Ternyata! Ternyata! Begitu! Begitu! Begituu!" Deathmask yang tadinya masih ngantuk langsung bangun dan terbelalak kaget. Ia pun tidak tau harus ngomong apa jadinya yang keluar dari mulutnya cuma 'ternyata' dan 'begitu'.
"Kamu juga ngapain.. tidur di kasurnya Lia?" tanyanya sambil menatap Deathmask dan Aiolia secara bergantian "Ternyata... kamu juga begitu..." kata Shaka lagi melanjutkan keambiguan yang dibuat oleh Deathmask sebelumnya.
"Enak aja! Aku cuma numpang tidur karena Kuilku direnovasi! Karena dia nangis terus aku kan jadi kebangun dan ga bisa tidur!" Kata Deathmask sambil marah-marah. "Lagian kenapa nangis-nangis sih! Kaya habis diperkosa aja!" lanjutnya lagi sambil berjalan miring mendekati mereka berdua seraya mendekap bantal kesayangannya yang penuh iler.
"Karena.. kamu tidak mengertiku, DM.. aku jadi sediiiih!" isak Aiolia sambil menarik ingusnya.
"Ih! Jijay! Ngertiin apalagi ini? Yang tadi kamu tanyain? Aku gini-gini aja dari dulu kok.. suer beneran! Emang ada kejadian apa sih dari tadi?" tanyanya penasaran.
Lia menarik dan menghela nafas panjang..
"Jadi gini..." Aiolia memulai cerita tentang segala yang terjadi mulai dari mereka berubah jadi binatang, pergi ke abad 18 dan mengorbankan Athena-sama di masa itu, sampai tiba2 kembali lagi ke kuil masing2 dan mendapati wujud mereka kembali seperti semula, serta keanehan dimana para Gold Saint lain bahkan Athena sendiri hilang ingatan atas kejadian itu. Beruntung sekali ternyata saat itu Deathmask sangat pintar, jadi Aiolia tidak harus bercerita 2x untuk membuat ia mengerti isi keseluruhan cerita.
"Wooow... itu... kaya mimpi yah... seriusan aku ngga inget apa2" kata Deathmask sedikit tertegun dan membelalakkan matanya tanda tidak percaya.
"Terus saat DM mau tidur di kamarku, aku menemukan ini di lantai" Aiolia membuka kembali genggaman tangannya dan merapikan kertas lecek penuh keringat yang baru saja ia gunakan sebagai tissue untuk mengusap air matanya. Ia menyodorkan kertas itu pada Shaka.
"Eww...tolong pegang aja ya Lia.. aku baca dari jauh aja..." kata Shaka yang enggan untuk memegang kertas tersebut. Ia hanya mendekatkan muka dan perlahan membacanya.
"Apaan? Apaan? Ikutan liat donk," kata Deathmask ikut-ikutan.
"Ini..." ucap Shaka dengan suara pelan
"Kau tau sesuatu Shak?" Tanya Lia cepat. Nada suaranya bimbang menandakan ia cemas akan semua hal yang telah mereka lalui.
"Tulisannya pakai digital.. bukan tulisan tangan.. Tandanya orang yang mengirim surat ini mempunyai cukup banyak waktu untuk menyalakan komputer, mengetik dan mencetak, serta mengirimkannya" kata Shaka yang akhirnya mengambil surat itu dari tangan Aiolia dengan muka serius.
"Hah? Plis Shak.. kok malah itu yang dibahas?" Deathmask mulai bingung dengan kata-kata Shaka.
"Loh.. itu benar kok.. saat Athena menelepon Apollo untuk meminta pertolongan, ia mengambil handphone android keluaran terbaru dari sakunya.. Walaupun Saint Seiya anime jadul, kita tetap harus mengikuti perkembangan jaman donk," lanjut Shaka lagi dengan tampang masih serius
"...Shak.. loe meditasi terus tapi tau tentang bentuk android keluaran terbaru... yakin loe meditasi? Atau jangan2 kursi terataimu itu komputer buat browsing?" Tanya Aiolia sambil memicingkan matanya.
"Hah? Hah? Kapan juga Athena-sama nelpon Apollo?" Deathmask mulai tampak bodoh karena tidak tau pembicaraan yang mereka ikuti. Wajar saja, karena Deathmask satu-satunya orang yang hilang ingatan dari antara tiga orang tersebut.
"Oke balik ke topik" sambung Shaka sambil menyodorkan tulisan mesin tik itu ke muka Aiolia. "isi surat ini jelas-jelas menyampaikan kekecewaannya karena ia tidak berhasil mendapatkan Athena-sama sebagai korban. Namun ia mengembalikan kita semua ke wujud semula, bahkan menghapus ingatan kita semua. Tapi kalau dipikir-pikir, waktu yang kita lalui begitu cepat. Bahkan kita tidak mengingat upacara penyerahan diri Athena-Sasha-sama untuk menggantikan pengorbanan Athena. Kalian tau artinya? Tanyanya pada Aiolia dan Deathmask untuk menghentikan sejenak ceritanya.
"Emm..artinya... pesta itu tidak pernah terlaksana?" kata Deathmask asal jawab.
"Ya," jawab Shaka cepat. "Tandanya, orang ini tau, bahwa Athena-sama TIDAK AKAN menyerahkan dirinya untuk menyelamatkan kita semua"
Aiolia dan Deathmask hanya terdiam mendengar hipotesa Shaka yang telah ia rangkum dengan kata-kata yang sangat sempurna. Tapi.. hipotesa ini terlalu menyakitkan.
"Ia sudah membuat surat ini sebelumnya dan ngambil Athena-Sasha-sama sebagai korbannya. Bahkan ia sempat mengirimkan surat ini kepadamu sebagai tanda bukti bahwa Athena-Sasha-sama telah dimanfaatkan, diculik..."
"Atau bahkan sudah dibunuh.. benar kan?" potong Aiolia sambil menatap Shaka tajam
Shaka perlahan membuka matanya dan membalas tatapan Aiolia
"Tepat" jawabnya singkat.
Aiolia menelan ludahnya, namun matanya tidak bergerak dan tetap melekat pada mata sang Virgo tersebut. Ia takut untuk mulai berbicara lagi. Terlalu banyak hal yang ia tidak mengerti, namun ia memberanikan diri untuk menanyakannya.
"Tapi... kenapa surat itu ada padaku... kenapa di kamarku?" Tanya Aiolia bingung. Masih tetap menatap Shaka. Deathmask pun jadi ikut-ikutan takut mendengar percakapan mereka berdua. Walau ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun Ia tau, bahwa sebelumnya ia juga pasti imengalami kejadian yang sama.
"Entahlah... mungkin asal kirim?" jawab Deathmask asal-asalan.
"Kalau begitu..bisa kau ceritakan kronologis kau bisa kembali ke sini, Lia?" nada suara Shaka yang datar menandakan ia bisa mengontrol emosinya dalam keadaan yangc ukup aneh ini. Ia menutup matanya kembali dan mengajak Aiolia berbicara lebih tenang.
"Rasanya tadi kita sedang menunggu pesta.. lalu aku jalan-jalan ke kuil Leo di masa lalu.. aku melihat cermin, menggumam tentang tubuhku yang berubah menjadi anak singa, lalu tiba-tiba aku berubah kembali menjadi manusia..terus.. tiba-tiba DM dateng dan numpang tidur.. saat itulah aku menemukan surat ini di bawah kakiku..
"Lalu apa yang kamu lakukan habis itu?" Tanya Shaka lagi dengan gaya polisi yang sedang mengintrograsi pelaku kejahatan.
"Aku tanpa berpikir panjang langsung berlari ke Papacy dan mendapati Athena sedang pedicure-menicure tanpa ingat kejadian sebelumnya..."
"Dan disitu ternyata kita tiba-tiba sudah kembali ke abad 20.." kali ini Shaka memotong pembicaraan.
"Dan hanya kita berdua yang ingat kejadian sebelumnya" potong Lia lagi
"Dan sebelumnya hanya Dohko dan Shun yang tidak berubah sesuai konstelasi masing-masing" Shaka memotong lagi.
"Dan sekarang semuanya menghilang entah kemana" Aiolia semakin meninggikan nada bicaranya.
"Dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab" ucap Shaka juga terheran-heran.
"Dan kita harus menyelamatkan baik Athena-sama maupun Athena-Sasha-sama..." Ailoia menjadi semakin bingung dan memutar kedua bola matanya.
"Sebelum terlambat..." ucap Shaka pelan tiba-tiba...
Aiolia tertegun sejenak dan menelan ludahnya lagi. Deathmask hanya bisa mendengarkan sambil tetap mendekap bantalny yang dari tadi dia bawa.
"Sebelum terlambat.. kita harus mencari Roushi dulu.. mungkin saja, ia juga ingat kejadian itu" sambung Shaka. "Belum tentu sekarang semua sudah kembali seperti semula tanpa tahu apapun. Mungkin saja masih ada teman-teman kita yang terjebak dalam wujud konstelasinya dan mengharapkan bantuan kita. Dan juga ada kemungkinan lain kita akan perlahan-lahan kembali menjadi konstelasi kita sebelumnya." ucap Shaka sambil menatap ke arah lantai.
Aiolia mengngat kejadian yang lalu. Hampir semua Gold Saint akhirnya berbicara dengan bahasa binatang yang terbata-bata.. mungkin saja domba di taman yang mereka lihat saat ini adalah Mu yang telah berubah sepenuhnya jadi domba, atau kalajengking di antara bebatuan ternyata adalah Milo yang akan secara tidak sengaja ditangkap Athena untuk dijadikan obat untuk diberikan kepada Apollo kakak tersayangnya. Dan jika dipikir-pikir, saat Deathmask mendekati mereka berdua, jalannya pun miring bak kalajengking, tapi Deathmask sendiri tidak menyadari perbuatannya.
"Kamu sendiri.. bagaimana caranya bisa ingat kembali bahwa kamu sudah kembali seperti semula dan mendapatkan dirimu di abad ini Shak?" Tanya Aiolia lagi.
"Hmm..." gumam Shaka sambil mengelus dagunya dan berpikir sejenak. "Kamu ingat ga waktu aku merasa ada bayangan orang di balik jendela?"
"Yang aku bilang kamu strum... eh.. stress?" kata Aiolia mengoreksi.
"Ya" lanjutnya. "Aku merasa seperti dibuntuti dan kalian tidak percaya padaku, makanya aku jalan-jalan untuk menenangkan diri dan sampailah di kuil Virgo. Saat itu aku sedang meditasi sejenak sampai tiba-tiba ada cahaya hangat menyinari tubuhku dan akhirnya aku kembali seperti semula." Shaka mengepalkan kedua tangannya dan melihat otot lengannya sudah kembali kekar, tidak lagi halus dan putih ala lengan miss universe.
"Sebenarnya, setelah aku kembali dari Papacy, aku juga merasakan cosmo yang kental.. mungkinkah itu cosmo yang sama dengan yang membuntutimu saat di Abad 18, Shak?" ucap Aiolia pada Shaka yang masih memandangi tangannya.
"Hah? Kamu juga merasakannya Lia?" Tanya Shaka heran.
"Iya.. aku merasa terancam, karena itu aku lari secepat kilat sampai ke kuil Leo, tapi akhirnya cosmo itu hilang dan kamu muncul di hadapanku."
"Itu karena aku juga mencari teman-teman Gold Saint yang lain, dan saat itu yang cosmonya sangat pekat hanya cosmo-mu, Lia. Jadi aku memutuskan untuk menemuimu terlebih dahulu." Jawab Shaka dengan cepat.
"Jadi... apakah alasan kita masih mengingat semuanya karena kita juga sadar akan cosmo orang mencurigakan yang membuntuti kita itu Shak?" Tanya Aiolia makin bingung sambil menggaruk kepalanya.
"Bisa jadi... Deathmask sendiri.. kenapa bisa ada disini tapi tidak mengingat semuanya?" Tanya Shaka lagi. Kali ini tatapannya berpindah dari Aiolia menuju Deathmask. Deathmask yang dari tadi mendengar dengan seksama sampai hampir tertidur di bantal kesayangannya, akhirnya bangun juga dan merasa bingung harus menjawab apa pada Shaka.
"Ma... mana kutahu! Kan tadi udah gue bilang kuil gue direnovasi! Makanya gue numpang tidur di tempatnya Lia!" jawabnya agak canggung.
"Kenapa ke tempat Lia? Kenapa ga ke tempat Aphrodite?" Tanya Shaka seenaknya
"Kenapa juga gue kesana? Gue ga mau pas tidur enak2 ternyata begitu bangun muka gue ala banci pasar minggu didandanin dia semaleman. Belum tentu juga gue ga diperkosa sama dia! Ogah lah yah!" Deathmask nyerocos tentang berbagai kemungkinan yang ada saat dia tidur di kuil Pisces. Walaupun dekat dengan Athena dan kemungkinan untuk menyelamatkan Athena jauh lebih besar jika Ia tidur disana, tapi ia lebih memilih menyelamatkan muka gantengnya daripada menyelamatkan dewi gila yang sekarang jadi atasannya itu.
"Gahahahahaha.. tadi aku ke tempat Athena-sama nanya tentang surat ini dan dia jawab mungkin aja dari Artemis.. Jawabnya slengean sambil meni-pedi lagi.. gue udah ilfil duluan jadi aja langsung pulang ke kuil. Eh.. di tengah jalan malah dibuntutin, jadinya aja gue kabur secepat kilat"
"Athena-sama memang gitu sih.. pas kita bilang mau jalan-jalan saja, dia cuma bilang supaya jangan sampai ketauan kalau kita bisa bicara.. hahaha.. dewi macam apa itu..." celetuk Shaka mengiyakan keluhan Lia dan Deathmask.
"Sudahkah anda mendapatkan cinta dari saint anda?"
Tiba-tiba Shaka terbelalak kaget. Ia ingat akan perkataan Athena-Sasha-sama kepada Athena-sama yang menjadi bos besar mereka sekarang, serta kemungkinan surat yang dikirimkan kepada Aiolia yang telah ditulis terlebih dahulu karena mengetahui bahwa Athena-sama tidak akan mengorbankan dirinya demi para Gold Saintnya.
"Semua cocok..." gumam Shaka pelan tapi sedikit panik. Ia membuka matanya, konsentrasi terhadap surat kaleng yang sekarang ia baca kembali perlahan-lahan
"Hah?" kata Aiolia dan Deathmask bersamaan. Antara bingung dengan apa yang dikatakan Shaka dan takut karena manusia sesempurna dewa itu membuka matanya.
"Deathmask...kenapa Kuilmu direnovasi sedangkan kuil-kuil yang lain tidak?" tanya Shaka lagi.
"Errr.. sebenarnya aku gagal membuat patung pesanan seorang kaya di Athens, jadi saking kesalnya aku mengobrak-abrik tempat kerja dan menghancurkan tiang2.. jadinya ya.. perlu direnovasi.. hahahaha" jawab Deathmask agak canggung. Ia tau bahwa kedua temannya sekarang sedang memandangi dia dengan wajah ilfil begitu mengetahui alasan dibalik itu. "Sampai cermin yang sebelumnya kupecahkan juga tersebar di seluruh kuil.. aku jadi bingung mau beresin dari mana.. hahhahahahah..." lanjutnya lagi.
"Cermin? Sejak kapan kamu punya cermin? Ganjen banget cuy?" Tanya Aiolia masih dengan tampang ilfil.
"Lah.. kan emang di tiap kuil pasti ada cermin yang diberikan sebagai hadiah dari Athena-sama.. hanya saja tau sendiri laah.. para Gold Saint kan kalau latihan dalam ruangan pasti heboh banget.. jadi cermin-cerminnya pada pecah semua.. termasuk aku. Wahahahahaha" tawa Deathmask keras menjawab pertanyaan Lia dengan seenaknya. "Yaaah.. mungkin yang ngga pecah cuma punya Aphrodite sama Shaka kali yah..." ucapnya seraya memandangi wajah Gold Saint berambut emas panjang tersebut. "Kamu kan meditasi terus Shak.. jadi pasti ngga ngapa2in.. Kalo si Aphrodite.. tau sendiri laah kacanya dipake buat apa" lanjutnya sambil mengusap air mata akibat ketawa terus-menerus.
"Maksudmu.. cermin ini?" Tanya Lia sambil menunjukkan cermin yang berada di balik pintu tempat ia berdiri pertama kali memandangi tubuhnya yang masih berupa anak singa dengan cakar dan bulu sekujur tubuhnya. Deathmask berjalan miring mendekati cermin itu. Jalannya kini semakin mirip dengan kepiting.
"Iyeee.. yang ini! Cuma disini ada lambang Leo kan? Yang punya gue ya pasti ada lambang Cancer donk.. wahahahaha... tumben Lia.. ternyata Kacamu belum pecah, pasti kamu rajin banget bersolek" jawabnya lagi sambil tertawa.
"Aku tidak tau kalau tiap Gold Saint memiliki cermin ini..." Lia memandangi cermin tinggi dengan siluet taburan bintang di seluruh permukaan cerminnya. Ia memandangi cermin itu dan melihat lambang Leo pada tengah ukiran kaca tersebut.
"Cermin...? Saat aku berubah menjadi manusia biasa, cermin ini memantulkan cahaya yang silau sampai menyilaukan mata" kata Shaka mengingat kejadian itu.
"Eh masa? Aku juga loh...waktu aku merenung memandangi buluku... tiba-tiba cahaya itu juga muncul" sambung Lia yang kini ingat akan kejadian dia akhirnya jadi manusia kembali.
"Bulu? Bulu apa dulu nih?" Tanya Deathmask menggods.
"Bulu ketek nih gue kasih 3 biji buat loe supaya bangun terus ga tidur2. Jadinya patung loe bisa selesai tepat waktu! Tapi ada bonusnya! Bonus bau ketek!" tukas Lia yang kesal atas pertanyaan Deathmask yang asal-asalan. Karena itu ia menjawab dengan asal-asalan juga.
"Gyahahahahahahaha! Jahat loe! Padahal cerminnya tadi belum pecah sih.. tapi karena dia ngeluarin sinar aneh juga pas gue lagi kesel, ya udah gue pecahin aja tuh cermin"
Shaka kembali mencerna setiap perkataan yang kedua temannya utarakan. Ia merasa makin janggal dengan semua dari Athena, surat bahkan cermin. Apakah artinya cermin itu ada hubungannya dengan para Gold Saint yang hilang?
"Jangan-jangan cermin itu..." ucap Aiolia berasumsi.
"Aku juga berpikiran yang sama denganmu Lia.. Karena hanya cermin kita yang tidak pecah, kita bisa mengingat kembali setiap kejadian yang kita alami!" kata Shaka tegas. Kini semuanya semakin menjadi jelas.
"Kalau begitu.. ada baiknya kita menemui Aphrodite dulu! Ia pasti masih ingat dengan segala hal tadi!" Aiolia menyarankan begitu karena tau cermin di kuil Pisces tidak mungkin pecah. Kalau pecah, pasti bakal ada surat permohonan kepada Athena-sama untuk menggantikannya dengan yang baru.
"Loh.. ke Roushi-nya ngga jadi?" Tanya Deathmask bingung.
"Aphrodite aja dulu.. biasanya dia punya ide-ide gila buat ngasih jalan keluar." Kata Lia sambil menatap wajah tampannya yang terpantul di cermin tinggi itu.
"Kita harus bergegas cepat Lia, Deathmask" pinta seorang saint Virgo kepada kedua temannya itu. Aiolia dan Deathmask menoleh pelan kepada Shaka yang kini wajahnya tidak setegas saat pertama kali mereka membicarakan hal ini. "Kalau tidak cepat.. kita tau, bahwa baik nyawa Athena-Sasha-sama maupun Athena-sama tidak akan lama lagi"
Mereka berdua tetap tertegun di tempatnya, masih menatap lekat kepada dua bola mata sang Virgo yang cantik
"Kalau sampai terlambat..aku tau bahwa semua ini akan berakhir menyedihkan, baik untuk kita maupun untuk Athena-sama" katanya lagi dengan suara pelan.
Tanpa harus menunggu hitungan ketiga, mereka semua berlari menuju kuil Pisces, walaupun Deathmask harus berlari dengan langkah menyamping, tapi kecepatannya bahkan bisa menyamai mereka berdua. Sementara Aiolia semakin cepat saja dalam berlari,dan memimpin mereka di barisan paling depan.
Sementara itu, Athena masih sibuk dengan urusan meni-pedinya di singgasana kekuasaannya tanpa tau masalah yang tengah dihadapi para anak buahnya...
To be continued
###
##
#
Okeh! Masih banyak hal yang mesti dipecahkan.. ayo ayo para saint-holic lain terutama yang baru pertama kali ikut cerita berantai kaya gini, kami tunggu kreativitas kalian dalam membuat cerita yah! Jangan lupa untuk baca dulu cerita-cerita sebelumnya supaya hint-hint yang terjadi bisa dipecahkan semua dan tidak ada yang menggantung ;)
###
I tag : RedQueen19
Tag to go :
Mini Author Gita / Saint-Chimaira Kuo /Seika Hoshino / Pelayan Hermes / Kenedict leo / LittleSunion / LittleScarlet.
Have fun~~ 3 3 3
