BIRTHDAY CAKE (YOUR GUARDIAN)
Chapter 7
MAIN CAST Sehun x Luhan
This is yaoi story, so beware
Genre Romance, Fluff, Family
"Kamu pernah jatuh cinta?"
"Kamu pernah jatuh cinta?"
"Kamu pernah jatuh cinta?" suara Sehun bermetamorfosis menjadi sebuah nada yang lembut. Hembusan napas Sehun mampir di pipi Luhan. Luhan hanya mengerjapkan matanya dan menatap mata Sehun dengan kosong. Sehun menaikkan sedikit alisnya. "Kok bengong?" Luhan masih tidak bereaksi. Sehun menggenggam erat pergelangan tangan Luhan, menggerak-gerakkannya sedikit agar anak laki-laki itu cepat menjawab pertanyaanya.
Dia tidak tahu bahwa memori Luhan kembali ke kejadian tadi malam. Kris yang tiba-tiba berbicara dengan prosa yang aneh, tentang sebuah hati, ruangan dan kunci. luhan butuh beberapa jam untuk mengerti, berjam-jam tadi malam ia mencoba untuk tidur, tapi kalimat Kris nyantol terus di kepalanya sehingga ia terjaga sampai pagi.
"….mereka bilang kalau ada satu ruangan dalam hati yang hanya menerima tamu spesial. Dan sudah lama aku mengharapkan tamu itu untuk datang, sejak semester tiga lalu, sejak saat itu aku lebih mengenalnya, aku baru tahu dia ternyata sangat suka dengan binatang dan banyak hal aneh lainnya yang bahkan kadang suka bikin aku ketawa sendiri, kagum lebih tepatnya. Ternyata aku baru ingat dia butuh kunci untuk masuk ruangan itu, jadi aku akan beri dia kunci, walaupun sebenarnya tanpa kunci pun dia sudah bisa masuk. Semoga tamu itu datang, tamu spesial itu adalah kamu Luhan"
"Belum" akhirnya Luhan menjawab. "Aku belum pernah jatuh cinta, mungkin dulu pernah" kalimat terakhir diucapkan Luhan dengan ragu, Sehun mengangkat alisnya lagi.
"Sama siapa?"
"Jatuh cinta sama Eomma" balas Luhan pelan namun masih dapat ditangkap oleh Sehun, jawaban yang agak kekanakan ini sedikit membuat Sehun ingin tertawa. Pandangan Luhan kemudian turun dari mata Sehun menuju ke pergelangan tangannya yang kini masih digenggam anak laki-laki di depannya. "Bersama Eomma aku jatuh cinta, walaupun tidak ingat rasanya, tapi aku tahu orang yang pertama kali menggenggam tanganku ketika aku lahir ke dunia adalah Eomma. Kemudian aku merasakannya lagi ketika beranjak remaja, setelah itu hilang, dan sudah lama aku tidak jatuh cinta lagi" jelas Luhan yang masih menatap cengkraman Sehun pada pergelangan tangannya. Sehun menelan ludahnya, kemudian melepaskan cengkramannya. Luhan menatapnya kaget, dia tidak menyangka akan membeberkan perasaannya pada Sehun.
Sehun menarik tangannya dan meletakkan telapak tangan Luhan tepat di matanya, membuat anak itu menutup matanya sendiri. "Jangan nangis"
"Siapa yang mau nangis" bantahnya.
"Ya kamu Luhaaan" jawabnya gemas.
"Aku engga mau nangis" jawabnya namun dengan suara yang lirih.
"Yaudah nangis aja"
"Dibilang gak mau nangis" Luhan kemudian meronta.
"Yaudah nangis aja, tapi janji ini yang terakhir"
"Aku engga mau nangis! Udah deh lepasin, pegel nih"
"Katanya tadi mau nangis"
"Engga ada yang bilang aku mau nangis! Lepasin!" ronta Luhan lebih keras, kali ini ia menendang tulang kering Sehun, membuat anak itu mengerang kesakitan.
"Ow!" Sehun kemudian melepaskan tangannya dan berjingkat, merasakan ngilu di kakinya.
"Jangan acting, itu ga sakit" Sehun menatapnya garang, anak laki-laki di depannya kini sudah tertawa pelan. Gak jadi nangis tapi nyiksa juga, gimana sih, dumel Sehun dalam hati. Namun melihat Luhan yang sudah tertawa, hati Sehun sedikit lega.
"Kamu udah pernah jatuh cinta?" pertanyaan itu kini dilontarkan Luhan pada Sehun.
"Kamu udah tau jawabannya, jangan nanya lagi" Sehun mendegus kesal.
"Apa emang? Belum juga?" Sehun memutar bola matanya. Luhan mengangguk khidmat, "Oh iya yah, kan pria satu ini masih belum percaya akan arti bahagia hidup. Oh, your life seems cruel brother" katanya sambil menepuk punggung anak laki-laki berambut hitam legam di depannya.
"Hey!" Sehun menepis tangan Luhan. "Setidaknya aku bahagia kalau ngebut di jalanan"
"Iya, iya terserah. Lebih baik sekarang kita ke luar sebelum Jinwoo menghancurkan kelas"
"Yang bawa aku kesini kan kamu, gimana sih!" Luhan tertawa keras sambil memutar kenop pintu dan melenggang keluar ruangan. Sehun membuntutinya dari belakang sambil ngedumel. Mereka tidak sadar bahwa dari tadi ada dua sosok yang mengintip dari balik pintu itu sebelumnya. Kedua sosok mungil itu sekarang mengintip dari balik dinding di ujung koridor, melihat dua orang dewasa yang habis keluar dari dalam ruangan. Sosok yang satu memegang dagunya, berlagak seperti detektif yang sedang berpikir, rambutnya dikuncir dua dan digoyangkan ke kanan dan ke kiri. Sementara sosok yang satu lagi berdiri di belakangnya, anak laki-laki itu menatap bingung anak perempuan di depannya.
"Hey Rami, tadi kak Luhan kenapa nyebut namaku ya? Jinwoo, jinwoo gitu. Kamu denger gak?"
"Shuush! Aku sedang konsentrasi!" Rami menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, isyarat untuk diam. Jinwoo buru-buru mengatupkan bibirnya. Sekarang justru Jinwoo yang takut dengan Rami akibat insiden mumi itu, apalagi dengan Sehun, dia jauh lebih takut. Entah, kalau memikirkan bagaimana Sehun berjalan dan mengeram dengan perban di sekitarnya membuat bulu kuduknya merinding lagi. "Kak sehun ngapain ka Luhan yah Jinwoo-ah, masa tadi di dalam kak Luhan nangis" Jinwoo hanya bisa terbengong mendengar Rami yang semangat menyelidiki 'kasus' ini. Anak perempuan itu masih berusia sekitar tiga sampai empat tahun, namun dia terdengar cerdas sekali, sedangkan Jinwoo yang berusia lima tahun hanya bisa bingung.
"Tadi juga a da suara OW! Gitu kan?" tambah Jinwoo.
"Iya kenapa ya…" keduanya kini mengedikan bahu. Jinwoo kemudian mengikuti pose Rami yang sedang memegang dagunya, persis sekali layaknya detektif, detektif cilik.
"Terimakasih hari ini yang sudah membantu. Kuharap semangat kalian tidak luntur ya, demi mengajar anak-anak ini" Luhan menutup kalimatnya sambil membungkuk dan tersenyum sumringah. Di hadapannya adalah adik tingkatnya di kampus yang kini turut menjadi volunteer. Mereka adalah anggota baru, berjumlah empat orang. Sungguh tidak disangka, yang tadinya luhan agak terseok-seok karena kekurangan sumber daya, kini para adik kelasnya berdatangan untuk membantu. Park Seungyoon, adik kelasnya kemudian bertepuk tangan, yang diikuti dengan yang lain. "Jujur aku senang kalian mau bergabung, silahkan kalian sesuaikan jadwal mengajar dengan jadwal kuliah kalian. Dan oh iya minggu depan kita akan keluar bersama dengan anak-anak lagi, aku harap kalian semua datang"
"Ne, sunbae~" jawab mereka kompak. Keempat orang tersebut adalah wanita. Mereka tertawa kecil sebelum akhirnya pamit pulang. Seungyoon mendekat ke arah Luhan sambil membawa sebuah map.
"Hyung, seminggu ini luar biasa, kita terbantu dengan banyaknya volunteer baru yang mendaftar" Seungyoon sumringah. "Tadi aku sudah melihat kerja mereka, sepertinya cukup aktif, kalau begini kita bisa buka cabang baru" tambahnya sambil tertawa, luhan pun ikut tertawa. "Tapi aku curiga, kenapa kebanyakan yang daftar adalah wanita ya? Hanya satu orang saja prianya" katanya sambil membuka dokumen dalam map tersebut.
"Masa sih?" Luhan meneliti dokumen di tangan Seungyoon. "Wah iya juga yah.."
"Ah apa jangan-jangan…." Seungyoon menatap ke arah ujung ruangan, Luhan mengikuti pandangannya. Terlihat disana Sehun bermain dengan kedua anak, yang ternyata Rami dan Jinwoo. Sehun menggendong Rami dan memutar-mutarnya, sedangkan Jinwoo terlihat takut di bawahnya.
"Jinwoo ya! Ini daebak…dae…..bak!" Rami tertawa geli, sehun juga. Anak perempuan itu terlihat senang melayang di udara, sedangkan Jinwoo kelihatannya masih trauma untuk sekedar menatap Sehun.
"Jinwoo ya, tidak ingin mencoba ini?" Sehun kemudian menurunkan Rami, anak perempuan itu lompat kegirangan.
"Jinwoo ya, coba! Coba! Coba!" Rami menarik Jinwoo yang masih berdiri terpaku di tempat, anak itu benar-benar takut dengan Sehun.
"Ayo?" Sehun mengulurkan tangannya dan berjongkok menatap Jinwoo. "Hey kamu masih takut denganku ya? Tidak apa-apa, kali ini aku Sehun, bukan mumi" mendengar kalimat itu membuat Jinwoo bergidik, Sehun segera menyentuh kepalanya dan mengelusnya lembut. "Hey, aku Sehun. Ayo bermain"
"Maksudmu karena Sehun para wanita itu berdatangan?" Seungyoon mengangguk cepat. Luhan mengangkat alis. "Masa sih?" rengut Luhan sambil mengunci gedung, mereka berdua beranjak pergi dari tempat itu mengingat malam telah datang. Badan yang letih sudah teriak ingin tertidur lelap, sedangkan bagi Luhan yang hampir di semester akhir harus berkutat terlebih dahulu dengan tugas. Sehun terlihat sibuk mengikat tali sepatunya, Luhan dan Seungyoon sudah berjalan di depannya "Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Luhan sedikit berbisik takut-takut anak dibelakang mereka mendengar, lalu Seungyoon pun mendekat. Bahu mereka bersentuhan.
"Begini hyung, memangnya kau tidak tahu reputasi dia di jurusan seni? Sebenarnya, sehun hyung itu banyak yang ngejar, dulu dia kan sempat ikut club kesenian mahasiswa, aku tahu itu karena aku juga salah satu anggotanya sampai sekarang. Ya tahu sendiri hyung, buat masuk club itu lumayan sulit, karena banyaknya pendaftar mereka harus melakukan seleksi. Dan salah satunya itu ya sehun hyung, aku dapat cerita dari kaka tingkat disana juga. Dia jago narinya, bahkan sampai menantang buat battle dance dengan salah satu ketua disana. Saking jagonya, dia dicalonkan untuk jadi dance leader pada saat itu. Kalau hyung lihat dari ke semua volunteer wanita yang mendaftar, mereka kelihatannya memang dari jurusan Seni. Mereka bahkan tidak mengisi kolom jurusan sewaktu menulis form pendaftaran, aku yakin aja soalnya style mereka keliatan beda. Soalnya yang aku dengar, di jurusan seni itu sudah ada klub pencinta Sehun Oppa. Aku tidak bohong hyung, kaka tingkat ku sendiri yang bicara padaku. Dia awalnya bertanya padaku, kenal Sehun apa tidak. Ya aku jawab aja satu jurusan. Taunya cerita panjang lebar" Seungyoon menoleh ke belakang, dilihatnya Sehun sudah menyusul mereka, tetapi matanya sibuk menatap layar handphone. Seungyoon kemudian melanjutkan, "Sejak tiga semester lalu, sehun hyung itu sudah resign dari club, belum ada yang tahu kenapa. Tapi sepertinya sih karena dia sering berkelahi di club, hanya sunbae-sunbae tua yang tahu. Sekarang Sehun Lovers masih ada, tapi sepertinya susah untuk mendapatkan info tentangnya. Kemarin, dua hari yang lalu lebih tepatnya, kaka tingkat aku itu melihat form Sehun hyung, dia lalu bertanya-tanya mastiin apa bener Sehun hyung daftar di club kita, ah aku mau bilang apa lagi, aku jawab aja iya, lalu tiba-tiba berbondong-bondong wanita datang ke sini. Padahal ya hyung, buat dapetin lima volunteer aja minta ampun susahnya, ya tahu sendiri club kita kan bukan buat orang-orang terkenal" Luhan mengetuk kepala anak laki-laki berkacamata itu. Ah tapi ada benarnya juga apa yang dikatakan Seungyoon, sekarang sih sudah lebih dari lima volunteer sebelum Sehun bergabung pun sudah ada lebih dari lima, dulu sih lumayan susah, club yang didirikan Luhan ini memang jarang peminatnya. Mungkin karena faktor zaman juga kali ya, anak muda zaman sekarang jarang sekali menunjukkan minatnya pada mengajar, padahal sayang sekali lho, ya kalau bukan kita, para remaja dan mahasiswa, ya siapa lagi. Manusia semakin menua, yang muda harusnya bergerak dari sekarang. Harapan justru dipegang di tangan para generasi muda.
"Ya berarti gara-gara kamu juga para Sehun lovers itu datang ke club kita kan?"
"Apanya yang Sehun lovers?" suara berat khas ala Sehun terdengar dari belakang. Kedua anak laki-laki itu menoleh.
"Anni, ini si Seungyoon katanya mau bikin Sehun lovers di TK, ya membernya paling Rami dan Jinwoo, sisanya takut sama kamu" ceplos Luhan, disebelahnya Seungyoon sudah ciut. Keringat menyembul di dahinya. "Ada yang lapar tidak? Aku lapar nih" luhan mengalihkan pembicaraan. Smooth talker luhan, you really a smooth talker
"Aku lapar!" Sehun mengacungkan tangannya.
"Seungyoon ah, kamu ikut?" tanya Luhan pada anak berkacamata itu, wajahnya cemas, mungkin dia takut percakapan panjang lebar tadi tertangkap oleh Sehun.
"Eung, aku pulang dulu deh hyung. Besok aku ada presentasi, belum siapin bahan. Annyeong! Sampai berjumpa besok" anak itu langsung melenggang pergi tanpa menoleh.
"Kayaknya itu anak masih sawan deh sama kamu, Sehun-ssi" Luhan menoleh ke Sehun yang disambut dengan angkatan bahu dan gelengan kepala.
"Yakin mau makan disini?" Sehun menatap nanar restoran di depannya. Berdesign layaknya sebuah kerajaan, ada dua pilar besar berwarna putih menyambut mereka di pintu depan. Keseluruhan dinding restoran didominasi oleh warna abu-abu dan putih, gedung ini terdiri atas empat lantai jika dilihat sekilas, dua lantai paling bawah dipakai untuk restoran dan dua lantai diatasnya Sehun tidak yakin itu tempat apa. Dinding gedung digantikan oleh kaca, semua hal yang terjadi di dalam terlihat dari luar, begitu transparan.
Rentetan mobil mewah diparkir manis di depan toko. Walau terlihat mungil dan sederhana namun warna kelap-kelip lampu dari baliho sudah terlihat dari kejauhan. Di depan gedung ini terpampang sebuah papan besar yang bertuliskan Idée Fixe, yang Sehun yakini itu adalah sebuah bahasa antah berantah dari Negara Eropa. "Hey yakin mau makan disini?" sebuah Porsche hitam lewat di depan mereka. Sehun tidak yakin malam ini uangnya akan cukup untuk memesan sebuah makanan, harganya pasti bikin dia terperanjat. "Bukannya menghina atau apa, tetapi emangnya kamu punya uang cukup makan disini, kalau aku sih bisanya cuma bisa minumannya aja kayaknya" Luhan masih berjalan mantap di depannya, "Hey kita makan malam di kaki lima saja" Sehun menarik tangan Luhan. Anak itu menoleh, wajahnya datar, keletihan.
"Sudah kamu ikut saja. Janji deh, ga akan mahal" Sehun mentapnya bingung. "Udah masuk aja dulu" wajah Luhan meyakinkan Sehun, tetapi anak didepannya masih bingung.
"Aku tidak mau ya kalau harus cuci piring"
"Sehun…..janji deh. Ikut aja dulu"
Sehun menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya. Matanya menyapu warna langit malam yang gelap yang kini terhampar di depannya. Andai saja langit bisa bicara, pasti saat ini dia merasa sedih, karna tak satu pun bintang menemaninya bercengkrama. Malu-malu para bintang memilih untuk diam dan tertidur lelap, langit kelabu pun yang malam ini bisa disuguhkan. Tak lupa sang bulan sabit, ah rasanya langit harus berterima kasih padanya.
Luhan disebelahnya sedang menyeruput sebuah teh hangat, jemarinya menangkup gelas di pangkuannya. Dari sini Sehun bahkan bisa melihat bulu matanya yang panjang dan lentik. Poninya bergeser ke kanan dan ke kiri diterpa angin malam. Mereka diam seribu bahasa, masing-masing sibuk melihat pemandangan di depan mereka. Sebuah kudapan tersaji di tengah-tengah mereka, kudapan khusus Luhan kata para karyawan.
Sehun melongok lebih rendah, melihat hamparan kelap-kelip lampu kota menghiasi ruangan malam, a rooftop meeting¸ begitu Luhan bilang. Pantas saja Luhan meyakinkan bahwa tempat ini adalah tempat yang cocok untuk makan, tentu saja karena tempat mereka makan bukan di dalam Idée Fixe tetapi diatas loteng restoran tersebut. Makanan yang disajikan pun berbeda. Tapi untungnya bisa menghilangkan rasa lapar keduanya.
"Obsesi" Luhan membuka pembicaraan. Sehun bergumam bingung. "Idée Fixe adalah sebuah bahasa perancis yang artinya obsesi, Sehun" tambahnya tanpa menengok. Matanya lurus ke depan, melihat lalu lalang kendaraan yang terlihat sangat mungil dari sini. "Pemiliknya bernama Lee Taehyun Ahjussi. Dulu aku bekerja disini sebagai karyawannya, makanya karyawan yang lain sudah hapal betul" kali ini Luhan menengok ke arahnya dan tersenyum. Sehun bingung kenapa tidak ada alasan baginya untuk tidak tersenyum, senyum megawatt-nya terkadang membuat Sehun ketar-ketir.
"Taehyun ahjussi dulunya juga hanya mahasiswa biasa. Dia suka membaca sekaligus makan dan inilah mimpinya, obsesinya, membuat sebuah restoran dan tempat koleksi-koleksi bukunya" Sehun mengangguk dalam diam. Jadi dua lantai diatasnya ini adalah sebuah perpustakaan. Pantas tadi ketika melihatnya dari luar hanya ada rak baru yang berjejer rapi.
"Seperti di drama…"
"Ha?"
"Tempat ini seperti di drama-drama romantis" jelas Sehun. "Kenapa sih laki-laki kaya kamu suka hal-hal yang romantis"
"Hey! Aku bahkan tidak pernah menonton drama, yang aku tonton tiap malam di asrama aja cuma reality show tiga bayi kembar. Tidak, tidak, aku bahkan tidak pernah menonton drama" Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gotjimal" Sehun bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke bagian tepi bangunan, berpegangan pada pagar dia melongok kebawah. Puluhan meter dibawahnya hiruk pikuk suara kesibukan beradu.
"Aku gak bohong" tiba-tiba Luhan sudah disampingnya. "Indah kan?" tambahnya lagi. "Dulu sih waktu kecil kalau mau lihat yang seperti ini aku harus ke sebuah pegunungan atau sebuah dataran tinggi, tapi sudah banyak gedung disini yang menyiapkan tempat seperti ini untuk melepas lelah dan semacamnya. Walau sudah terlalu mainstream tapi aku tetap saja suka. Kau tahu, dekat dengan bintang, aku merasakan kalau berdoa disini doa cepat terkabul" Luhan sibuk merogoh saku celananya dan Sehun mengalihkan pandangannya lagi ke hamparan lampu di depannya.
"Doa seperti apa yang kamu minta sampe-sampe pengen banget cepet dikabul?" setelah Sehun pikir-pikir dia jarang sekali berdoa, karena Sehun sama sekali tidak tahu apa yang ia inginkan, sepertinya yang dia punya sekarang ini sudah cukup memuaskan. Ketika kamu doa kamu pasti sedang menginginkan sesuatu bukan? Kalau tidak ada yang aku inginkan, berarti aku tidak usah berdoa, begitu? Sehun urung mengulasnya lebih jauh.
"Berdoa bukan hanya ketika kita ingin minta sesuatu Sehun, ketika kamu sudah merasa cukup dan tidak butuh apapun yah kamu tetap harus berdoa. Manusia bukan apa-apa tanpa tuhan" Pertanyaanya sudah terjawab tanpa Sehun utarakan. Apa Luhan bisa membaca pikiran sekarang?
"Ya sekarang kamu sekarang ngajak aku kesini, ke tempat ini, berarti ada sebuah doa yang kamu ajukan supaya cepat-cepat dikabul Tuhan, iya bukan?" Sehun kini menoleh, melihat sisi wajah Luhan. Wajah luhan sangat mungil, mirip seperti wajah anak kecil, dagunya runcing dan hidung yang unik itu bertengger disana, mirip sekali dengan Ibunya, Minri. Rambut luhan ternyata lebih panjang dari dugaanya, diterpa angin rambut coklatnya bergoyang kesana kemari.
"Iya ada, tapi bahkan aku ragu apakah aku benar-benar menginginkan doa ini atau tidak, tapi akhir-akhir ini aku merasa membutuhkan sosok ini"
"Sosok? Apa sih aku engga ngerti"
"Aku berdoa untuk seorang pelindung, guardian walaupun sebenarnya aku tahu, Tuhan sudah cukup menjadi pelindung dan penjagaku selama ini. Tapi akhir-akhir ini ada kekhawatiran yang.." Luhan menerawang menatap langit di depannya.
"Yang apa?"
"Tidak, lupakan" katanya sambil mengalihkan pandangannya ke depan. Sehun tidak berani bertanya lebih lanjut, warna air muka Luhan tiba-tiba berubah. Dia pum merasa masih punya hutang penjelasan pada anak itu, jadinya ia ragu untuk menggali isi hati Luhan yang paling dalam, ragu dan takut.
"Aku merasa yah betul kata kamu, indah. Tapi disini terlalu sepi, terlalu hening" Luhan tertawa kecil di sebelahnya. Kemudian tiba-tiba ia mendengar sebuah musik mengalun di telinganya. Ia menoleh dan mendapati Luhan sedang menempelkan earphone di kedua telinga. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti, kedua lengannya sibuk menempelkan earphone, jantung Sehun berdegup lebih cepat. Bibir Luhan tepat di pipinya, mungkin jika dia bergerak sedikit saja, mungkin jika dia sedikit menoleh ke wajah itu..
"Dari tadi aku pikir juga seperti itu, biasanya disini juga sambil mendengarkan lagu" celotehnya sambil tersenyum. Sehun sama sekali tidak habis pikir kenapa jantungnya kali ini seakan ingin melompat keluar. Suara penyanyi laki-laki terdengar dari earphone tersebut. "James Morrison, penyanyi kesukaanku" katanya, kini kedua lengannya sudah pindah dari Sehun, anak itu bernapas lebih lega.
"Judulnya?"
"You make it real" Lalu suara penyanyi laki-laki itu mengalun lembut di telinga Sehun. Sayup-sayup ia mendengar,
I guess there's so much more I have to learn, But if you're here with me, I know which way to turn. You always give me somewhere, somewhere I can run, you make it real for me...
Make it real for you?
"Aku berdoa untuk seorang pelindung.."
A.N :
Halo, terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca ini! ^^
Kritik dan saran sangaaaaaat saya harapkan dari kalian. Oh iya saya masih newbie di ini, jadi agak sedikit canggung maaf ya hehe. Mohon bantuannya guys! :)
See you in the next chapter.
