Chapter 7 (belum last kok, masih ada epilog. XD)
Dua hal spesial di chapter 7:
1. Chapter 7 merupakan SongFic, lagunya Byul (Star) by Kim Ah Joong,
2. Point of View memakai dua mode: Penulis serba tahu dan Point of View yang 'biasa'. Contoh: "Mitsuru's POV".
Lagu Byul itu lagu Korea, tapi di sini saya ga tulis bahasa Korea-nya, cuma translationnya aja. =D
DISCLAIMER: Persona 3© ATLUS. Byul© Kim Ah Joong.
Enjoy! ^^
--
The wind is shaking the windows
And
over my small room
The stars fill up the sky
Shining brightly too many to count
Malam hari di bulan Januari itu, rumah sakit sepi seperti biasanya. Musim semi telah datang sekali lagi, membuat bunga-bunga di luar bermekaran seakan siap menyambut sesuatu.
Di malam yang sepi itu, tak ada siapa pun yang menyadari. Seorang gadis cantik tengah duduk di samping jendela kamar rumah sakit, menatap bintang-bintang yang juga sudah mulai menampakkan dirinya.
Gadis itu tahu ia tidak seharusnya membuka jendela, tetapi angin yang membuat daun-daun melambai menggodanya untuk membuka jendela dan merasakan angin musim semi. Sekarang angin itu mengetuk jendelanya dan mengayun daun jendela tersebut pelan bagai musik.
"Bintangnya banyak sekali," Pikir gadis itu. Ia menatap bintang-bintang di langit dengan senyum menghiasi wajahnya yang pucat. "dan indah… Bersinar sangat kuat… tidak seperti aku."
The
stars reassure tired me
They wipe away the many tears that are
deep inside me
Mitsuru—nama gadis itu—telah lama menyadari sesuatu. Tuhan telah memberikan waktu lebih baginya untuk menyelesaikan hal-hal yang tertinggal dalam kehidupannya. Dan sekarang ia menyadari satu hal lagi. Hal-hal itu membuatnya merasa lelah, tetapi ia tetap tidak ingin menyerah.
"Kalau menyerah sekarang, apanya yang sudah tercapai??" Pikirnya lagi. Jauh di dalam hatinya, ia merasa tidak rela. Baru saja delapan belas tahun berada di dunia ini, kenapa harus pergi sekarang?
Ingin rasanya ia menangis, tetapi satu hal berhasil mencegahnya. "Aku belum menyerah, aku tidak akan kalah dengan bintang-bintang itu. Mereka tersenyum, dan mereka membagi senyuman itu denganku." Pikirnya sambil terus memandangi satu per satu bintang yang tak terhitung jumlahnya.
Don't be hurt too much
They
hug me tight, pamper me
and comfort me
Telling me to go to
sleep
Pintu kamar terbuka perlahan. Mitsuru menoleh dan tersenyum melihat Akihiko mendekat dan duduk di sampingnya.
"Hei, sudah malam. Mau bangun sampai jam berapa?" Akihiko menegurnya.
Mitsuru tidak menjawab. Ia menunjuk langit dengan jari telunjuknya. Akihiko mengikuti arah yang ia tunjuk dan melihat bintang-bintang itu. Tetapi perhatiannya teralihkan pada jendela yang terbuka lebar. "Kenapa jendelanya dibuka?? Bahaya, tahu!" Protesnya sambil menutup daun jendela. Tapi tangan Mitsuru menghentikannya.
"Jangan ditutup, mereka sedang bicara padaku." Kata Mitsuru lembut, sempat melirik sekilas pada para bintang.
Mereka saling pandang untuk beberapa saat, sampai Akihiko menyerah dan duduk kembali di kursinya. "Bicara? Apa yang mereka katakan?" Tanyanya cukup penasaran.
Mitsuru menutup matanya, berusaha mendengarkan baik-baik suara bintang dengan hatinya. "Mereka bilang… Aku tidak boleh sedih," Jawabnya. "Mereka ingin memelukku erat dan menenangkanku… Mereka ingin aku tidur dengan tenang." Lanjutnya.
"Tuh, mereka saja sudah ingin kau tidur. Ayo, sebelum tambah malam, nanti keadaanmu tambah parah." Balas Akihiko sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu Mitsuru berdiri juga.
Mitsuru menggenggam tangan Akihiko erat dan berdiri perlahan-lahan. Akihiko menggandengnya ke tempat tidur sampai Mitsuru duduk di atas tempat tidurnya.
"Duduklah di sini, Akihiko." Kata Mitsuru, meminta Akihiko duduk di sebelahnya.
Tanpa membalas, Akihiko menuruti permintaan Mitsuru. Mereka duduk bersebelahan tanpa mengatakan satu patah kata pun.
"Kalau boleh jujur, masih banyak hal-hal yang ingin kulakukan sebelum malaikat pencabut nyawa datang padaku. Tapi aku tahu itu mustahil, aku nyaris tidak punya kekuatan untuk melakukan satu pun dari sekian banyak hal yang kuinginkan." Pikir Mitsuru. Kemudian ia menyandarkan kepalanya pada bahu Akihiko.
"Untuk mencintaimu lebih lama lagi di dunia ini pun mustahil, Akihiko."
Though
I'm exhausted to the point where I can't walk
Though my tears
blur my vision
I'll still smile in front of my love that I'm
not able to get
Even though our happy times were short
I'll
treasure it deep inside my heart
Like those countless number of
stars
Forever…
"Sudah, ayo tidur sana…!" Akihiko mendorong pelan tubuh Mitsuru supaya mau tidur, tapi Mitsuru tetap menolak dan malah memeluk Akihiko.
"Aku capek, Aki…" Bisiknya pelan.
"Ya sudah, makanya tidur." Balas Akihiko berusaha terdengar normal, walaupun hatinya kacau balau oleh kata-kata dan suara yang begitu lemah.
Mitsuru dapat merasakan matanya yang panas digenangi oleh air mata. Ia tidak tahu kenapa ia menangis, ia tidak tahu kenapa ia merasa sedih dan sakit, dan ia tidak peduli akan alasannya.
"Aku ingin tetap tersenyum….!" Tekadnya dalam hati. Ia tidak membiarkan air mata terus menerus menghalangi penglihatannya di malam gelap tanpa penerangan satu pun di dalam ruangan ini.
Mitsuru duduk menghadap Akihiko dan menatapnya—sekarang dengan mata yang jernih tanpa air mata lagi. Orang yang berada di depannya adalah seseorang yang telah ia cintai dan telah mencintainya selama ini.
"Jangan lupakan aku, ya." katanya tiba-tiba.
Akihiko menghela nafas dan mengusap kepala Mitsuru lembut, lalu tersenyum. "Bicara apa kau? Tidak mungkin aku bisa melupakanmu." balasnya.
Mitsuru ikut tersenyum. "Aku juga tidak akan bisa melupakanmu," ia memeluk Akihiko. "terima kasih untuk segala kebaikanmu tahun kemarin. Waktu yang singkat, tapi menyenangkan." lanjutnya.
"Apa maksudmu singkat? Kau masih punya banyak sekali waktu. Berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun… Iya, kan?" balas Akihiko. Mitsuru menjawab dengan anggukan, dan melepaskan pelukannya.
"Kau tahu, Akihiko? Bintang-bintang di langit juga menyimpan banyak kenangan. Mereka berbagi satu sama lain, sehingga kenangan itu tidak pernah hilang." katanya. "Aku juga akan melakukan hal yang sama, tapi sekaligus tidak sama. Aku akan menyimpan kenangan-kenangan selama hidupku bersama kau dan teman-teman jauh di dasar hatiku. Di sana, kenangan-kenangan itu tidak akan pernah terhapus." ia menjelaskan.
Akihiko benci sekali mendengar Mitsuru mengatakan semua itu seakan-akan ia benar-benar akan pergi sebentar lagi. "Kalau begitu siapkanlah kapasitas hatimu, karena kita akan membuat lebih banyak lagi kenangan." balasnya.
Mitsuru tersenyum dan mengangguk.
My dream is coming
Though it is unusual
That
my one star is bright
It is very bright, even blinding
It comes down to my shoulder
"Sudah, sekarang kau tidur ya. Sudah malam." kata Akihiko yang dijawab dengan persetujuan Mitsuru. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan Akihiko menarik selimutnya sampai menutupi lehernya. "Selamat tidur." katanya sambil tersenyum.
Mitsuru's POV
Akihiko meninggalkan ruangan dan aku sendirian sekarang. Aku memejamkan mata dan melihat 'bintang-bintang' dalam kegelapan saat aku menutup mataku. Entah sejak kapan aku telah jatuh tertidur—bahkan aku pun tidak tahu aku sudah tidur dan berada dalam dunia mimpi.
Mimpiku sangat indah, tapi juga aneh dan menyimpan misteri. Aku memimpikan alam yang sangat indah. Di sebelah kiri terdapat sungai yang airnya mengalir tenang dengan bukit-bukit hijau di sekitarnya. Di sebelah kanan terlihat padang bunga yang sangat luas dan dipenuhi berbagai macam bunga berwarna indah. Aku memandang lurus ke depan, dan melihat jalan setapak yang dihiasi bunga-bunga di sekitarnya, dan jalan itu bercabang dua. Satu mengarah ke kiri, dan satu lagi ke kanan.
Aku menikmati pemandangan di depanku, dan mulai melangkah perlahan-lahan. Sambil berjalan, aku berpikir. Jalan mana yang sebaiknya kupilih? Tapi aku memutuskan untuk membiarkan aku berjalan ke mana pun kaki ini membawaku.
Akhirnya aku sampai di persimpangan jalan. Tanpa berpikir panjang, aku memilih jalan ke kiri; menuju sungai dan bukit-bukit. Airnya tampak sangat jernih dengan ikan-ikan yang berenang riang mengikuti arus sungai. Aku mendekati sungai itu dan merasakan airnya; dingin dan menyegarkan. Saat aku mendongak, terlihat beberapa binatang lain—ada kelinci, domba, rusa—sedang bermain di sekitar tempat ini.
Entah sejak kapan, pemandangan di hadapanku berubah gelap. Ini sudah malam, tetapi air sungai masih terlihat jernih mengalir. Air itu memantulkan cahaya bulan yang bersinar dengan sangat terang. Di sampingnya bertaburan bintang-bintang yang tak kalan kuat sinarnya.
Di antara bintang-bintang itu, aku melihat satu bintang. Bintang yang paling terang di antara bintang-bintang yang lain. Perlahan-lahan, sering semakin lama aku memandangnya, bintang itu turun, menyentuh tanganku, dan memelukku dengan sinarnya yang terang, lembut, dan hangat.
'Berhentilah bersedih', kata bintang itu. Aku tersenyum padanya, dan bintang itu membawaku pada kenyataan.
Though I'm exhausted to the point where I can't walk
Though
my tears blur my vision
I'll still smile in front of my love
that I'm not able to get
Even though our happy times were short,
I'll
treasure it deep inside my heart
Like those countless number of
stars, forever
Aku terbangun di pagi hari, seorang diri di kamarku. Tetapi beberapa saat kemudian, Akihiko masuk dan tersenyum melihat mataku yang sudah terbuka.
"Selamat pagi." ia menyapaku.
Aku tersenyum kecil, masih mengantuk. "Pagi." balasku.
"Dokter mengizinkanmu pulang." katanya tiba-tiba.
Mataku langsung terbuka lebar, dan aku tersenyum senang. "Benarkah?" tanyaku yang dijawab oleh anggukannya.
"Kita akan pulang hari ini. Aku akan membantumu beres-beres." katanya.
"Aku tidak akan perlu menginap di rumah sakit lagi?" tanyaku.
"Ya, tidak perlu. Kau hanya perlu istirahat yang banyak di rumah." jawabnya.
Akihiko's POV
Saat menceritakan ini pada Mitsuru, rasanya sedih melihat senyumnya. Akihiko teringat percakapan tadi.
-flashback-
"Pulang?"
"Ya. Dia kuizinkan pulang."
Aku menatap dokter yang duduk di depanku ini dengan tatapan heran. "Tapi… kau sendiri yang bilang keadaannya tambah parah!" protesku.
Dokter Ozawa menghela nafas. "Sanada-kun, itulah satu-satunya alasan kenapa aku membiarkan Mitsuru pulang. Aku ingin ia berbahagia di saat terakhirnya; di rumahnya sendiri dengan sahabat-sahabatnya di sekitarnya." balas dokter Ozawa.
Aku terdiam dan menunduk. "Kau mengatakannya seakan ia akan pergi sebentar lagi…" bisikku.
"Aku tidak bilang begitu. Aku yakin Mitsuru bisa bertahan, tapi aku tidak ingin ia berjuang seorang diri saja di rumah sakit. Tenang, kalau ada apa-apa, segera hubungi aku." balasnya.
Aku hanya bisa menghela nafas pasrah.
-end of flashback-
--
Mitsuru's POV
Hari itu aku benar-benar pulang. Kamar rumah sakitku sudah kosong, dan aku tidak akan perlu memasuki ruangan ini lagi.
"Sudah siap? Ayo pulang." kata Akihiko.
Aku mengangguk, dan ia menggandengku; membantuku berjalan. "Kalau sudah sampai di rumah, Mitsuru istirahat dulu ya." katanya.
Aku mengangguk. Bisa pulang saja aku sudah sangat senang, aku tidak ingin menuntut lebih banyak lagi.
Rumah memang tempat yang paling menyenangkan, paling nyaman, dan paling aman bagiku. Senyum dan uluran tangan sahabat-sahabatku terasa begitu hangat, sanggup untuk membuatku terus tersenyum.
Waktuku bersama mereka untuk berbahagia bersama memang hanya sebentar. Beberapa hari kemudian kondisiku memburuk.
Only
for today, I won't cry though my eyes fill with tears
I want to
laugh like those stars
I want to cherish all my happy moments deep
inside my heart
Like those countless number of stars,
Akihiko nyaris menelepon rumah sakit, tapi aku mencegahnya.
"Jangan… aku… tidak mau kembali ke sana…" bujukku dengan suara lemah.
Akihiko menatapku sedih. "Tapi aku tidak bisa membiarkannya begini saja, Mitsuru. Aku—" Aku menghentikan kalimatnya.
"Bawa aku turun ke bawah. Aku yakin aku akan merasa lebih baik di sana." kataku.
Akihiko terdiam sejenak, tapi lalu mengangkatku ke bawah. Ia menurunkanku di sofa panjang.
"Aku ngantuk…" kataku sambil tersenyum kecil.
"Tidurlah, aku akan menemanimu." balasnya. Ia duduk di lantai dan menggenggam tanganku erat, dan meletakkan kepalanya di sofa di samping tanganku.
Aku tidak bisa melihat matanya, tapi aku tidak peduli. "Akihiko… Aku sangat bahagia…" aku memulai. "Aku bisa bertemu denganmu, menjalani hari-hariku denganmu, aku bisa dicintai dan mencintaimu. Aku sangat bahagia." kataku.
Keheningan menyelimuti kami. Akihiko tidak bergerak dari posisinya, tapi ia membalas perkataanku. "Aku juga sangat bahagia dipertemukan denganmu, dan aku bahagia melihatmu bahagia." balasnya.
Aku tersenyum senang, walaupun mataku dipenuhi air mata—entah ini air mata bahagia atau sedih. "Aku juga bahagia… karena bisa bersamamu di saat terakhirku…" kataku pelan sambil mengusap kepalanya lembut.
Aku yakin Akihiko mengetahui sesuatu, aku yakin kalau ia tidak merasakannya, ia pasti akan memprotesku dengan mengatakan, 'Jangan bicara begitu.', tapi kali ini tidak. Ia tahu, dan ia merasakan, bahwa aku memang sudah tidak bisa bertahan lagi.
"Akihiko, terima kasih. Waktu yang singkat, tetapi menyenangkan, bukan? Akan terus kusimpan dalam hatiku, walaupun jiwa ini telah dicabut dari raganya. Seperti bintang-bintang di langit malam yang terus menjaga kenangan di antara kita dan mereka, selama apa pun, sejauh apa pun, dan sampai kapan pun."
Sekali lagi, aku tersenyum.
forever…
"Dengan begini, aku… aku bisa tersenyum untuk selamanya. Aki… hiko…"
--
When I woke up that day
I thought I wouldn't find you anywhere
But I was wrong
You were right beside me
Smiling peacefully
Like there's no burden inside your heart
Forever, I'll remember that smile
Sayonara, Mitsuru.
-Akihiko Sanada-
Summer days, winter nights.
After a hundred years,
I'll come back to you.
-Mitsuru Kirijo-
--
Saya tidak tahu apakah chapter ini menyedihkan apa ngga, tapi saya nyaris nangis saat proses penulisan adegan terakhir. T_T
Untuk poem dari Akihiko, itu saya buat sendiri. Kalo poem dari Mitsuru, itu diambil dari drama Sekai no Chuushin de, Ai wo Sakebu (Drama yang sudah sangaaaat memberi segudang inspirasi bagi saya. Thanks to the director, script writer, casts, and all of the crews!)
See you in the epilog of this FanFic!
