Chapter 7: Camping pt. 1
.
.
[Warning! This fic may contained too much fluff moments!]
.
.
Baekhyun memijakkan kakinya masuk kedalam bus. Tas ransel yang ia bawa di punggungnya tidak bisa dibilang ringan. Semua baju dan keperluan selama tiga hari —belum lagi alat-alat makan dan masak yang wajib dibawa sendiri— kepala Baekhyun saja rasanya sudah mau pecah memikirkan semua hal itu. Ia belum siap untuk nanti. Ia belum siap untuk acara kemah khusus junior.
Kakinya berjalan menuju tempat duduk di bagian tengah bus. Ia tak suka duduk terlalu depan atau belakang karena ia bisa mabuk dan muntah saat perjalanan. No, no. Baekhyun tak ingin kehilangan harga dirinya lagi.
"Hei, Byun! Aku duduk denganmu, ya? Ya? Yaaa?" tanyanya sedikit memaksa. Kebetulan masih ada dua tempat duduk kosong disebelah Baekhyun, dan daripada Sehun merengek tidak jelas lebih baik ia memberikan tempat duduknya.
"Luhan hyung tidak ikut?" Sehun memajukan bibirnya lalu menggeleng. Baekhyun mencubit lengan atas Sehun yang sedikit berotot. "Hentikan aegyo-mu yang menjijikan itu."
Sehun mendecak tak senang. "Ish. Sakit, tahu. Tapi Luhan suka tuh dengan aegyo-ku dan dia langsung luluh."
"Aku bukan Luhan, Oh Satan."
"Ya tentu saja kau bukan Luhan. Kau jahat, kejam, sadis, gendut, bawel, berisik, ceroboh— YAK! YAK! Sakiiiiittt!"
Baekhyun menarik rambut coklat Sehun dengan tanpa perasaan dan sepenuh tenaga agar si lelaki berwajah poker-face itu bungkam. Dan akhirnya Sehun menyerah, Baekhyun melepas jambakannya.
"Akan kulaporkan pada Luhan!"
Baekhyun menatap Sehun tak percaya. Semenjak ia menikah, sifat asli Sehun kembali lagi —sifat manja dan menyebalkannya. Baekhyun mendengus singkat. "Laporkan saja! Aku tidak takut."
"Kalau begitu kulaporkan pada Chanyeol-hyung!"
"EH? Kenapa dia? Memangnya apa hubunganku dengannya?"
Sehun memunculkan senyum jahilnya pada lelaki yang lebih mungil. "Karena hanya dia yang mampu menjinakkanmu, Bacon."
Sebenarnya apa yang dikatakan Sehun benar adanya. Gurat merah tipis perlahan muncul di kedua pipi Baekhyun. "Aha~ Lihat, kau malu~" goda Sehun membuat Baekhyun mencubit pipinya kasar-kasar.
Untunglah Xiumin datang dan melerai mereka yang sedang bertengkar tidak jelas. Jadi, posisi duduk mereka jika diurutkan dari jendela bus adalah Baekhyun, Sehun, dan Xiumin. Dan karena ada Xiumin diantara mereka, Sehun tidak lagi menunjukkan sifat manjanya.
Tanpa berlama-lama bus peserta berangkat disusul bus panitia yang melaju di belakang mereka. Baekhyun dan teman-temannya bernyanyi sepanjang perjalanan. Seseorang mengiringi mereka dengan gitar. Ada yang mendengarkan lagu dari iPod-nya, ada yang sibuk mengobrol —menggosip— sambil menikmati cemilan yang mereka bawa dari rumah, ada yang tertidur, ada juga yang bermain permainan kartu —seperti contohnya Xiumin dan beberapa orang yang duduk diseberang kursi mereka.
Perjalanan ternyata memakan waktu cukup lama. Karena kehabisan lagu untuk dinyanyikan dan si pemain gitar sudah terlelap, Baekhyun dan yang lainnya memutuskan untuk menikmati perjalanan dalam diam. Baekhyun menghadapkan kepalanya ke jendela. Pepohonan lewat dengan begitu cepat. Cuaca hari ini juga tak terlalu gelap, tak terlalu terang. Benar-benar pas untuk acara outdoor seperti ini.
"Ahhhh.. Bosannya.." Baekhyun sedikit memajukan bibir bawahnya dan menaik-turunkan pundaknya asal. Sehun menoleh.
"Tidur saja sana."
Ah, iya juga. Ide yang bagus daripada ia berkicau tidak jelas sampai perjalanan berakhir. "Pinjam pundakmu, ya?" Tanpa menunggu persetujuan Sehun, Baekhyun langsung merebahkan kepalanya di pundak Sehun. Tak sampai lima menit, Baekhyun sudah menyeberang ke alam mimpi.
.
.
Sunyi senyap dan Chanyeol tidak menyukai itu. Orang-orang di bus panitia semua terlelap kecuali sang supir bus dan beberapa temannya yang memilih untuk memainkan ponsel masing-masing, tak terkecuali Chanyeol. Ia benar-benar bosan. Bahkan game yang sedang ia mainkan semakin membosankan. Matanya menjelajah keluar jendela, melihat pemandangan yang tersaji.
Baru saja ia ingin memejamkan matanya, tiba-tiba bus peserta melaju disebelah bus yang ia naiki. Chanyeol membulatkan matanya ketika ia melihat sesosok pria yang ia kenal baik tertidur di pundak teman sebelahnya. Entah kenapa sesuatu didalam tubuhnya berpacu lebih cepat. Ia tak suka pemandangan itu. Ingin ia pisahkan mereka berdua dan meletakkan kepala Baekhyun ke pundaknya. Chanyeol menjadi geram sendiri.
Ia menautkan kedua alisnya dan mencoba untuk tidur. Siapa tahu tidur dapat menetralisir emosinya.
.
.
"Hey, Baek. Dimana tenda kita?"
Baekhyun berjalan mondar-mandir sambil menggigit-gigit jarinya. Masalahnya adalah, setiap kelompok yang terdiri dari dua orang diwajibkan membawa satu tenda. Dan kalian pasti sudah dapat menebak kalau Baekhyun lupa membawa tendanya. Ya, benar. Yang berarti Sehun —teman sekelompoknya— juga tak kebagian tempat untuk tidur selama dua malam.
"Eu..eum..."
Sehun mendecakkan lidahnya. Sepertinya ia sudah tahu kenapa Baekhyun tampak sepanik ini. "Jangan bilang kau lupa membawa tendanya." Baekhyun mengangguk pelan sambil menunjukkan raut bersalahnya.
Lelaki yang lebih tinggi mengacak rambutnya asal. "Arghhh.. Bagaimana ini? Lalu kita tidur diatas rumput, eoh? Bagaimana jika nanti ada binatang buas mau menerkam kita— Astagaaa aku baru saja menikah dan aku belum mau mati!" panik Sehun panjang lebar dalam satu nafas.
"A-aku sudah meletakkannya diatas meja dan ternyata tertinggal! Aku akan coba bertanya pada panitia, oke? Kau jangan panik dulu."
Baekhyun kemudian menghampiri kumpulan panitia yang sedang berunding dan memberitahukan masalahnya. Sialnya, tak ada yang membawa tenda lebih. Yang berarti malapetaka baginya dan Sehun. Dengan raut sedih Baekhyun kembali menghampiri Sehun.
"Aku satu tenda dengan Xiumin."
Baekhyun menganga. Tak biasa-biasanya Xiumin mau tidur bersebelahan dengan orang lain selain si kepala kotak dan ia bersedia tidur bersama Sehun? Tak bisa dipercaya.
"Eh? Bagaimana bisa?" tanya Baekhyun. Sehun mengendikkan bahunya lalu melipat tangannya didepan dada, angin tiba-tiba berhembus. "Entahlah. Mungkin keberuntunganku." Ia menjulurkan lidahnya.
Si pria yang lebih mungil menendang betis Sehun. "Lalu bagaimana denganku?"
"Yang pasti Xiumin-hyung tak mau sempit-sempitan didalam tenda. Tadi saja aku sudah hampir dimarahi karena tendanya hanya muat untuk ia sendiri." jelas Sehun. "Untung saja aku kurus, tak sepertimu yang gendut." lanjutnya sambil terkekeh pelan.
"Tsk," Baekhyun berkacak pinggang. "Matilah aku.."
Sebenarnya Sehun agak tidak tega melihat sahabatnya tak mendapat tenda untuk istirahat. Dengan mata jelinya, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Siapa tahu saja ada yang mau berbagi tempat dengan Baekhyun. Ada beberapa wanita hanya tidur sendiri dalam satu tenda. Tapi mana mau mereka satu tenda dengan laki-laki? Bisa-bisa Baekhyun di-cap lelaki mesum. Sehun menggosok dagu lancipnya sambil meneliti. Obsidiannya berhenti pada satu objek. Aha, kau jenius sekali Tuan Oh, monolognya dalam hati.
"Kau lihat, malaikat penyelamatmu sepertinya sudah turun ke bumi." Sehun menunjuk ke arah jam sebelas dengan tatapan matanya. Baekhyun pun ikut menoleh ke arah yang ditujukan. Sehun menaik-turunkan alisnya seraya tersenyum jahil.
"Kau yakin dia hanya sendirian?"
Sehun mengangguk yakin. "Buktinya saja dia membangun tendanya sendirian, sedangkan yang lain gotong-royong membangun tenda. Sudah sana kau hampiri dia, barangkali dia benar-benar sendirian." Sehun mendorong-dorong Baekhyun lalu berlari menghampiri Xiumin yang meneriakinya agar membantunya mendirikan tenda. Baekhyun menghela nafas panjang. Semoga saja ia dapat istirahat dengan nyaman nanti malam.
Dengan hati-hati Baekhyun menghampiri pria itu. Baekhyun mengulurkan tangannya untuk mengetuk-ngetuk pelan jemarinya di lengan atas si lelaki ber-sweater hitam dan celana panjang robek-robek dilengkapi sepatu high-converse putih yang biasa ia pakai ketika kuliah. Lelaki itu menoleh dan menghentikan aktivitasnya.
"Ya? Ada apa Baek?"
Jantung Baekhyun tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat. Seketika ia merasa sulit berbicara ketika mendengar namanya dipanggil. "A-apa kau tidur sendiri?"
Chanyeol membenarkan kameranya yang tersampir ke belakang, kemudian mengangguk. "Waeyo? Apa tendamu rusak?"
"Aku bahkan lupa membawanya.." cicit Baekhyun sambil tersenyum malu dan mengelus tengkuknya. Chanyeol menahan tawanya. "Pft."
"H-hei kenapa tertawa?" Baekhyun memanyunkan bibirnya tanpa ia sadari. Chanyeol menggeleng heran. "Ckck.. Kau ini. Kau mau camping tapi lupa membawa tenda," Chanyeol terkekeh pelan. "Dasar ceroboh."
Baekhyun terdiam sejenak. "Jadi.. Apa ada tempat kosong untukku?" Chanyeol menatap Baekhyun yang sedang mengeluarkan puppy-eyesnya lalu mengangguk. "Kebetulan aku tidur sendirian. Tidurmu tidak berantakan, kan? Awas saja kalau kau menendangku, kutidurkan kau di tengah-tengah hutan." ancamnya sedikit bercanda yang mengundang pukulan ringan di lengannya.
"Kalau sampai ternyata kau yang tidurnya berantakan bagaimana?" tanya Baekhyun kembali.
"Hmm... Ya tidak apa-apa."
"Aish, menyebalkan!"
Mereka berdua pun mendirikan tenda bersama. Baekhyun menoleh ke arah tenda Sehun yang terletak kurang lebih tujuh meter dari tempatnya, tatapan mereka bertemu. Baekhyun memberikan Sehun jempol pertanda ia sudah berhasil menemukan tempat tidur untuk nanti malam dan Sehun otomatis tersenyum lega. Well, ia lagi-lagi berhasil menjodohkan sahabatnya.
.
.
"Untuk nama yang kupanggil, kalian bertugas untuk mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun. Chunji, Jonghyun, Donghyuk, Xiumin, Dasom, Yerim, Winnie, Irene, Sehun, dan Hyejeong." Siswa-siswi yang dipanggil segera maju dan mengerjakan amanat yang telah diberikan.
"Lalu nama-nama yang tidak kupanggil.. Kalian persiapkan barang-barang untuk kegiatan nanti. Arra?"
"Ne!"
"Bubarkan barisan!"
Dengan sigap para peserta kembali ke tendanya masing-masing dan bersiap. Beberapa peserta membantu tim panitia mempersiapkan acara. Baekhyun bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Terlalu banyak orang yang membantu membuatnya takut bukannya membantu malah mengganggu. Jadi Baekhyun memutuskan untuk kembali ke tenda dan membereskan barang bawaannya.
Saat perjalanan menuju tenda, ia menemukan seekor kumbang tanduk sedang berjalan tepat didepannya. Hampir saja Baekhyun menginjak serangga tak bersalah itu. Baekhyun berjongkok dan mengamati serangga itu dari dekat.
"Lucunya.." gumamnya pelan sambil tersenyum. Tangannya terulur untuk mengelus serangga itu, tapi sebenarnya dia agak ragu untuk menyentuhnya. Jadi ia menarik lagi tangannya dan memilih untuk mengamatinya saja.
CKLIK!
Reflek Baekhyun menoleh ke arah suara shutter kamera di arah jam tiganya. "Ck! Kenapa memotretku?" protes Baekhyun yang kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Chanyeol si juru kamera kegiatan.
Baekhyun mengambil alih kamera yang dipegang Chanyeol untuk melihat hasil candid barusan. "Hmm.. Tidak buruk.."
"Tentu saja, aku ini kan profesional." Baekhyun memutar bola-matanya malas. "Sudah sana kau foto yang lain saja." usir Baekhyun sambil bergestur mengusir.
"Tunggu."
Chanyeol tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Baekhyun, lebih jelasnya wajah mereka sangat dekat. Chanyeol memperhatikan ada sesuatu di atas bibir Baekhyun. Lalu tangannya terulur untuk mengusap daerah itu.
"Eh? Kukira itu noda.."
Baekhyun menelan ludahnya kasar. Tidak, tidak. Ini terlalu dekat. Baekhyun belum sanggup untuk mengendalikan pikirannya. Ia coba untuk tidak menatap Chanyeol, tapi ia tak bisa. Manik matanya selalu terpikat dengan wajah tampan Chanyeol. Mengetahui Baekhyun yang tanpa sadar mundur selangkah, Chanyeol menjauhkan tubuhnya.
"A-aku baru tahu kau punya tahi lalat kecil disana." kata Chanyeol kikuk sambil tersenyum aneh dan mengacak poni Baekhyun lalu berlalu begitu saja memotret peserta lain di ujung sana.
Baekhyun berjongkok lagi, kemudian mengacak wajahnya asal. Ia sungguh malu, mungkin wajahnya sudah memerah sempurna sekarang. "Astaga.." gumamnya lirih.
"Hey! Kau peserta yang disana!" teriak seorang panitia. Baekhyun menoleh, tatapannya bertemu dengan panitia yang barusan berteriak.
Baekhyun menunjuk dirinya dengan telunjuknya sambil menunjukkan wajah bingungnya. "Aku?"
"Ya, kau! Kemari."
Dengan sigap Baekhyun menghampiri panitia itu. "A-ada apa, sunbaenim?"
"Kenapa kau tidak membantu temanmu atau mengerjakan tugas yang tadi diberikan? Kau lihat, semua peserta tak ada yang menganggur." tanyanya dengan nada bicara yang sangat tidak menyenangkan. Seingat Baekhyun seniornya yang ini memang tegas dan lumayan galak.
"Maafkan aku."
Chanyeol melihat adegan peneguran-junior-dari-senior-karena-terlihat-tidak-sedang-bekerja itu dari jauh. Ia yang penasaran pun berjalan ke tempat Baekhyun sedang ditegur habis-habisan.
"Ada apa, hyung?" tanya lelaki tinggi itu.
"Dia tidak membantu teman-temannya dan malah melakukan hal tidak jelas. Beralasan kalau ia takut mengganggu temannya karena sudah banyak yang membantu."
Astaga, sunbae-nim! Kau terlalu membesar-besarkan masalah kecil, geez!
Chanyeol menatap Baekhyun yang sedang menunduk sambil menggigit bibirnya. Tak lama Baekhyun juga melempar tatapan pada Chanyeol seakan meminta pertolongan untuk segera dibebaskan dari senior bak iblis ini.
Chanyeol-ah! Selamatkan aku! batinnya dalam hati.
Lelaki tinggi itu mengerti tatapan yang sedang diberikan si mungil. Tapi ia sedang ingin bermain-main dengannya. Sebuah ide jahil muncul.
"Hukum saja dia."
What the?
"A-apa?" tanya Baekhyun tak percaya.
"Kau 'kan bersalah, jadi ya harus dihukum. Benar 'kan, hyung?" Baekhyun dapat melihat senyum iblis yang terpampang di wajah tampan itu. Sial, sepertinya sekarang bukan harinya.
Sunbae itu mengangguk setuju. "Ide bagus, Chanyeol-ah." Seorang panitia lain tiba-tiba memanggil sunbae galak itu untuk meminta bantuan. "Ah, Chanyeol. Kau saja yang urus dia, oke? Disana tampaknya ada sedikit kendala. Kutinggal dulu." Ia pun berlalu.
Ya sudah batalkan saja hukumannya, Yeol. Please! Rasanya Baekhyun ingin meledak saat itu juga.
Chanyeol mengambil sebuah tali plastik lalu mengikat kedua tangan Baekhyun dan mengikat simpul borgol. "Kenapa tanganku diikat?!"
"Itu karena kau nakal."
"Salahkan kumbang itu! Dia terlalu menarik perhatianku.." cicit Baekhyun sedikit memajukan bibirnya yang tanpa sadar membuat Chanyeol menelan ludah karena Baekhyun tampak benar-benar imut.
Chanyeol mendengus singkat. "Kau saja yang terlalu mudah terkecoh. Sudah, jangan dilepas ikatannya."
.
.
Langit semakin menggelap, sang bulan mulai menampakkan sinarnya bersama para bintang walaupun masih ada secercah sinar matahari. Seluruh peserta diperintahkan untuk berkumpul di dekat api unggun yang sudah disiapkan oleh panitia dan beberapa peserta lain. Para peserta dikelompokkan, satu tim terdiri dari dua tenda alias empat orang. Baekhyun memutuskan untuk berkelompok dengan Sehun dan Xiumin. Kemana Chanyeol? Dia adalah bagian dari tim panitia, jadi bisa dibilang ia tidak ikut mengerjakan tugas kelompok nantinya.
Tugas kelompok yang pertama adalah menyiapkan makan malam dengan alat-alat yang sudah dibawa dari rumah. Bahan makanan telah disiapkan oleh panitia, yang peserta harus lakukan hanyalah mengolahnya. Setelah berdiskusi makanan apa yang harus dibuat, kelompok Baekhyun pun memutuskan untuk memasak ramyeon saja —karena waktu pembuatannya paling singkat dan perut mereka sudah berteriak kelaparan. Sialnya, Baekhyun belum boleh melepas ikatan di tangannya.
Setelah jam makan malam selesai, datanglah saat-saat yang paling ditunggu seluruh peserta. "Baiklah, semuanya! Kita mulai saja game-time nya, oke!?" teriak salah seorang panitia yang adalah bagian dari tim acara yang disambut meriah oleh semua peserta. Mereka sengaja mengadakan games agar kemah ini terasa lebih tidak kaku dan menyenangkan. Para peserta sudah duduk dengan rapi mengelilingi api unggun.
"Ehm!" Bora, pemandu acara pada malam ini, berdehem sekeras-kerasnya agar suasana menjadi lebih hening. "Permainan pertama adalah permainan khusus peserta laki-laki!" Sejumlah peserta wanita berteriak kegirangan, mereka tahu pasti ini adalah permainan tidak lazim dan mereka buru-buru mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam. Sedangkan para peserta laki-laki berbisik-bisik pada temannya was-was apa yang akan dilakukan pada mereka nanti.
Bora mengambil sebuah mangkuk berisikan kertas yang sudah dilipat kecil dan mengaduknya dengan tangan, lalu ia mengambil beberapa kertas. "Dundundun~ Ini adalah peserta yang beruntung~ Yang namanya kubacakan tolong maju dan berdiri disebelahku dengan pasangan satu tendanya,"
"...Yoseob!" Peserta pertama yang terpanggil pun maju bersama teman satu tendanya dan berdiri diiringi sorakan teman-temannya.
"...Junghan!"
Semoga bukan aku...
"...Hanbin!"
Fiuh.. Untung saja..
"Dan yang terakhir... Baekhyun!"
Oh, sialan.. Perasaanku tidak enak tentang permainan ini..
Baekhyun pun maju dan berdiri sesuai arahan sang pemandu acara. Ketiga temannya yang juga dipanggil sudah berdiri berhadapan dengan teman satu tendanya. Sedangkan Baekhyun berdiri sendirian karena Chanyeol menghilang entah kemana.
"Eh? Kenapa kau sendirian, Baekhyun-ssi?" tanya Bora.
"Uhm.. Partner-ku hil—"
Suara derap langkah seseorang membuat Baekhyun menggantungkan kalimatnya dan menoleh. Chanyeol baru saja kembali entah darimana dan entah kenapa Baekhyun tersenyum tipis. "Ah, dia sudah kembali." Baekhyun menunjuk Chanyeol yang sedang berdiri dengan wajah konyolnya.
Chanyeol menghampiri Baekhyun yang sedang melambai-lambaikan tangannya menyuruhnya untuk kesana. "Ada apa ini?" Chanyeol bertanya pelan pada Baekhyun yang sudah berdiri berhadapan dengannya.
Baekhyun mengelus tengkuknya canggung. "Game-time,"
"Ehm!" Bora berdehem sekali lagi. "Permainan ini bernama 'We Are Best Friend'. Jadi, permainan ini akan dilakukan secara berpasangan, pasangan kalian adalah teman setenda kalian. Kami akan memberikan instruksi apa saja yang harus kalian lakukan dengan pasangan kalian, dan jika kalian tidak mampu melakukannya maka kalian akan gugur. Pemenang akan mendapatkan hadiah istimewa yang pasti diinginkan kalian semua."
"Sejak kapan ada permainan seperti ini? Aku sendiri bahkan tidak mengetahuinya." gumam Chanyeol namun masih tertangkap indra pendengaran Baekhyun. Pemuda yang lebih pendek itu tidak mengindahkan perkataan pemuda yang lebih tinggi, ia malah memberikan tatapan 'Aku ingin hadiah istimewa itu'.
Chanyeol menangkap apa yang diinginkan Baekhyun, ia pun tertawa lalu mengacak-acak rambut Baekhyun. "Baiklah, Baek. Kita akan mendapatkan hadiah itu." Baekhyun kembali memberikan tatapan aneh dengan tangan terikatnya ia goyangkan naik dan turun. "Chan, bagaimana kita bisa memenangkan hadiah itu kalau kau masih mengikat tanganku?" Tanpa ba-bi-bu lagi, Chanyeol segera melepaskan ikatan ditangan Baekhyun karna game-time akan segera di mulai.
"Instruksi pertama!" Tampaknya seniornya yang satu ini memang suka mengagetkan orang. Keheningan tiba-tiba tercipta. Semua sorot mata peserta yang tidak ikut bermain tertuju pada pasangan-pasangan di depan mereka.
"Injak kaki satu sama lain." tuturnya.
"Baek, kau injak kaki kiriku. Aku injak kaki kananmu, oke?" Baekhyun pun mengangguk dan menuruti apa kata Chanyeol. Tak dapat dipungkiri, jarak mereka sangatlah dekat. Baekhyun dapat merasakan deru nafas Chanyeol di pucuk kepalanya.
Astaga ini terlalu dekat!
Baekhyun tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tangannya reflek menarik baju Chanyeol dan lelaki tinggi itu juga reflek memeluk pinggang Baekhyun, menahannya agar ia tidak jatuh. "C-chan.."
"Hampir saja.." bisik Chanyeol penuh kelegaan sambil tersenyum aneh. Baekhyun mendongakkan kepalanya, matanya bertemu dengan milik si tinggi. Lagi-lagi sensasi aneh di dadanya itu kembali bergejolak.
"Pegang pipi pasangan kalian satu sama lain."
Permainan macam apa ini!?
Chanyeol meneguk liurnya bulat-bulat ketika ia merasakan tangannya bersentuhan dengan pipi halus Baekhyun. Ia merasakan jantungnya berdebar-debar. Tanpa ia sadari ibu jarinya mengelus pipi itu lembut. Di lain sisi, jantung Baekhyun juga berdebar tak kalah cepatnya. Juga, ini bukanlah kali pertama mereka berada sedekat ini. Namun tetap saja rona merah itu muncul di kedua pipi Baekhyun.
Well, tetap saja mereka saling memegang pipi satu sama lain. Tim Hanbin sudah menyerah lantaran malu diledeki dan disiuli teman-temannya. Otomatis timnya gugur. Teriakan ala fan-girl pun tak terelakkan lagi ketika melihat pasangan Chan-Baek berpose seperti yang diinstruksikan. Tak sedikit dari mereka yang mengabadikan momen indah ini.
"Sudah, sudah. Kalian sudah boleh berdiri seperti biasa," ujar Bora sambil sedikit terkikik geli melihat tingkah para juniornya yang sedang dikerjai itu. Melihat beberapa pasangan masih sibuk memandangi partnernya, Bora melanjutkan, "Hei jangan sampai tiba-tiba ada pasangan kekasih baru selesai kemah ini!" candanya membuat pasangan yang tersisa —termasuk Chanyeol dan Baekhyun— berdiri tegap dengan wajah merona.
Ya ampun, ini memalukan...
"Next! Ada request dari kalian?" tanya Bora seraya melihat ke arah penonton. Banyak dari mereka yang mengangkat tangan dan Bora menunjuk salah satu dari mereka.
"Tempel kening!"
"Uwooo~" goda yang lainnya, secara tak langsung mereka menyetujui ide itu.
Bora tampak menimbang permintaan itu. "Call!" Dan dia menyetujuinya. Sedangkan Baekhyun tampak sedang merutuk dalam hati. Memang sih niatnya hanya untuk mendapat hadiah yang dijanjikan oleh panitia, tapi ia juga harus menanggung malu dan menahan debaran abnormal didalam dirinya itu. Bagaimana jika permintaannya akan semakin aneh-aneh? Bagaimana jika ternyata ia disuruh untuk striptis— ah, yang itu tampaknya tidak mungkin. Yang paling parah, bagaimana jika nanti hubungan pertemanannya dengan Chanyeol menjadi canggung? Baekhyun menggeleng pelan mengusir semua pikiran buruk itu.
GREP.
Tiba-tiba Chanyeol memegang tengkuknya dan memajukan wajahnya untuk menyentuhkan keningnya pada Baekhyun. "Chan—"
Benar. Benar. Sangat. Dekat.
Baekhyun merasa tubuhnya seketika terasa amat ringan saat matanya semakin jatuh kedalam tatapan intens Chanyeol. Dan mendadak ia merasa tuli, tak dapat mendengar sorakan yang dilontarkan untuk mereka karena merekalah pasangan yang pertama kali nekat melakukan instruksi itu.
Dan pada akhirnya, Baekhyun mendapatkan hadiah yang ia inginkan, yaitu tidak ikut jurit malam yang paling ia hindari di acara kemah ini.
.
.
"Terima kasih telah membuatku tidak ikut jurit malam."
Alhasil, ketika yang lain sedang ketakutan karena jurit malam, Baekhyun yang menganggur pun diajak —coret, lebih tepatnya ditarik paksa— Chanyeol ke suatu tempat daripada ia tidur didalam tenda dan menyayangkan pemandangan malam yang indah yang disajikan oleh alam.
Chanyeol tersenyum. Tangannya masih menggenggam tangan Baekhyun semenjak ia menarik Baekhyun ke tempat indah yang ia maksud. "Bukan hal yang sulit dilakukan," Tatapan mereka bertemu. "Lagipula aku senang membantu."
Senang membantu atau senang berduaan dengan Baekhyun, hm?
Tak lama kemudian mereka sampai di suatu tempat beralaskan rumput dengan langit bertaburan ribuan bintang yang amat indah. Ternyata alasan Chanyeol terlambat saat game-time tadi adalah karena ia menemukan tempat ini. Dan tempat ini cukup aman karena tidak ada binatang buas seperti yang ditakutkan Sehun.
Mereka pun merebahkan tubuh mereka yang lelah —mereka harus mendaki dan berjalan beberapa puluh meter untuk sampai kesini— diatas rerumputan. Pemandangan langit yang begitu memanjakan membuat lelaki imut itu melupakan sejenak tumpukan tugas yang menanti di rumah dan juga lelaki tinggi disampingnya itu. Sayangnya, Chanyeol tidak membawa kameranya jadi ia tak dapat memotret pemandangan itu —pemandangan Baekhyun yang sedang menikmati alam. Ia pun memutuskan untuk mengabadikan momen itu didalam benaknya saja, menikmatinya sendiri.
Tatapan Chanyeol tak luput dari Baekhyun, begitu dalam dan lama sampai-sampai membuat lelaki yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini menoleh padanya sambil melempar tatapan bingung.
"A-ada apa?"
Chanyeol yang tersadar dari lamunannya buru-buru menggeleng. "Ani, hanya terpesona."
"Ah.. Iya, pemandangannya juga membuatku terpesona."
Kemudian Chanyeol meletakkan lengannya sebagai alas kepala Baekhyun sambil menahan tawanya. Baekhyun tak keberatan diperlakukan begitu oleh lelaki di sebelahnnya. Jika kalian melihat adegan ini, mungkin kalian akan berasumsi bahwa mereka adalah pasangan kekasih sungguhan. Ah, romantisnya.
"Bukan itu maksudku,"
Baekhyun menolehkan kepalanya menghadap tepat disamping wajah Chanyeol. "Lalu?"
Lelaki bersenyum lebar itu ikut menoleh, alhasil hidung mereka secara tak sengaja bersentuhan. "Maksudku adalah kau. Kau yang membuatku terpesona."
Deg deg. Lagi-lagi perasaan ini. Suara rendah khas Chanyeol menyapa telinga Baekhyun dan hembusan nafasnya dapat terasa pula olehnya. Tangannya yang menganggur terulur menyentuh pipi lembut itu. Lalu ia mencubit pipinya.
"Awww! Sakit, bodoh!" Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal, lagi-lagi membuat Chanyeol harus menahan diri agar tidak mencium bibir semanis stroberi itu. Chanyeol terkekeh pelan, lalu kembali menghadapkan wajahnya pada hamparan langit.
Kesunyian menghinggapi kedua insan itu. Hanya bunyi kerik jangkrik yang dapat tertangkap oleh indera pendengaran mereka. Bulu kuduk Baekhyun meremang ketika angin tiba-tiba saja berhembus pelan melewati kulitnya. Anginnya tidak dingin, hanya sejuk. Helaan nafas pelan mengakhiri perdebatan pikiran Chanyeol, yang ternyata membuat lelaki berparas lebih cantik itu meliriknya seakan bertanya kenapa.
"Hei, Baek." panggilnya masih menatap langit.
Baekhyun bergumam. "Hm?"
"Apakah ada seseorang yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini?" tanyanya. Baekhyun tampak sedang menautkan alisnya, mencoba berpikir. Lalu mengendikkan bahunya pelan.
"Entah, sepertinya tidak begitu."
"Belakangan ini... aku kerap memikirkan seseorang.." Obrolan ini membuat Baekhyun sedikit tertarik. "Benarkah?" Baekhyun mengubah posisi tidurannya menyamping dengan tangan menumpu kepalanya, menatap Chanyeol berbinar. Entah apa yang membuatnya berbinar. Masalah pribadi Chanyeol sudah seperti masalah pribadinya juga. Begitu juga dengannya. Itu adalah salah satu bukti kedekatan mereka, saling berbagi apa yang ada didalam pikiran mereka.
Chanyeol mengangguk, masih menatap langit. "Siapa?" tanya Baekhyun penasaran.
"Seorang perempuan?" Chanyeol menggeleng.
"Hm.. Seseorang yang ada di kelasmu?" Ia menggeleng lagi.
Baekhyun seakan sedang mencari jawaban dari manik indah milik Chanyeol. Tapi ia masih belum menemukannya. Kemudian Chanyeol mengikuti pose tiduran Baekhyun, mereka saling berhadapan.
Baekhyun masih mencari jawaban itu. Namun yang ia temukan hanyalah pantulan dirinya yang terlihat di manik indah itu.
Jarak diantara wajah mereka pun semakin tereliminasi. Perlahan Baekhyun memejamkan matanya, sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan pria bertelinga lebar itu padanya. Hal yang secara tidak langsung candu dan memabukkan. Baekhyun merasa perutnya tengah diaduk ketika sepasang benda kenyal itu menempel di bibirnya. Ia menyesapnya sekali, lalu melepas tautannya.
"Kau seharusnya sudah tahu jawabannya, Baek." bisiknya tepat didepan bibir Baekhyun.
.
.
.
.
to be continued.
Chingchongs:
LONG TIME NO SEE! Udah sebulan lebih ff ini terabaikan huhuhu~ T.T Mianhae~ sempet kena writer block pas mau lanjut ff ini hiks
Gimana chanbaeknya? dapet kah feel nya? leave your thoughts di kolom ripiu hehe~
.
last, REVIEW juseyooooooo~
.
saranghaja,
exoblackpepper
