Reinkarnasi
Disclaimer : J.K. Rowling and OC is mine
Summary : Ketika cinta tak bisa bersatu, bukan hal yang tak mungkin jika mereka dapat bersatu di lain waktu
"It's about my feel to you!" jawab Draco cepat
"Who? I can't hear"
"Er, it's about my feel to you when I meet you"
"I-I think so, er, me too" balas Hermone gugup. Lalu keadaan menjadi hening, terdengar jelas celoteh anak-anak lain, bahkan suara tawa Ron dan Reo yang dari tadi bersahutan dan tidak terdengar jelas, terdengar sangat keras sekali saat ini.
"By the way, apa kau percaya pada reinkarnasi Hermione?" tanya Draco tiba-tiba.
"Memangnya kenapa?" tanya Hermione bingung.
"Apa kau percaya, bahwa kita, er, punya kehidupan di masa lalu? Dan semua perasaan ini ada hubungannya dengan masa lalu?" balas Draco.
"Aku tak tau, Draco. Tapi pernyataanmu membuatku berpikir dua kali untuk mengatakan bahwa kejadian aneh ini hanya karena faktor kebetulan saja." balas Hermione.
Kemudian keheningan melanda mereka berdua lagi. Sibuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di pikiran mereka. Larut dalam berbagai pemikiran kemungkinan yang ada. Tapi tetap saja, jalan buntu yang mereka temui.
…~…
"Kalian berada di sini untuk mempelajari ilmu rumit dan seni membuat ramuan. Karena tak banyak kibasan tongkat yang konyol di sini, banyak di antara kalian akan susah percaya ini sihir. Aku tidak berharap kalian benar-benar bisa menghayati keindahan isi kuali yang menggelegak lembut dengan asapnya yang menguar, kekuatan halus cairan-cairan yang merayap merasuki nadi manusia, menyihir pikiran, menjerat akal sehat… Aku bisa mengajar kalian bagaimana membotolkan kepopuleran, merebus kejayaan, menyumbat kematian-kalau kalian bukan kepala-kepala kosong seperti anak-anak lain yang biasa kuajar"
Pidato Profesor Sperzeus Prince seakan menghipnotis seluruh siswa. Seluruh siswa diam, tak ramai seperti biasanya. Sepertinya Prof. Prince sama seperti Prof. McGonagall, mampu mendapatkan perhatian siswa tanpa banyak upaya. Kelas menjadi hening, lalu Prof. Prince melanjutkan acaranya dengan mengabsen.
"Granger, Hermione" tiba-tiba suara Prof. Prince berubah ketika sampai di urutan nama Hermione. Prof. Prince seakan mengamati Hermione, lalu sedikit mencibir dan Ia melanjutkan absennya. Begitu pula yang terjadi saat absent jatuh pada nama Harry dan Ron. Semua orang bingung, tak terkecuali para Slytherin.
"Trio Gryffindor, Trio Hogwarts, dan apalah namanya, sedang bangkit kembali, eh?" tanya Prof. Prince dalam hati. Seandainya saja semua orang tau, sebenarnya Prof. Prince mencintai Debriana Evans, yang menikah dengan Fransisko Potter, ya, orang tua Harry James Potter. Same like the old story of Severus Snape and Lily Evans, Sperzeus dan Debriana dahulu bersahabat, hingga akhirnya ketika emosi Zeus – kependekan dari Sperzeus – memuncak, Ia marah kepada Debby, dan memanggilnya Mudblood. Sad ending.
"Weasley! Apa yang kudapat jika aku menambahkan bubuk akar asphodel ke cairan wormwood?" tanya Prof. Prince kepada Ron. Ron sendiri hanya bengong, tidak mengerti tentunya.
"Saya tidak tau Prof" jawab Ron dengan sedikit takut. Prof. Prince hanya mencibir.
"Potter! Di mana kau akan mencari jika kusuruh kau mengambilkan bezoar untukku?" tanya Prof. Prince kepada Harry. Harry pun tidak tau, dan Ia mengatakan hal yang sama dengan Ron.
"Granger, si cerdas di antara Trio Gryffindor junior harusnya, kau pasti bisa menjawab ini" lanjut Prof. Prince dan dengan intens menatap mata Hermione. "Apa bedanya, Granger, monkshood dan wolfsbane?"
Hermione sedikit merasa ngeri, tetapi Ia kemudian menenangkan dirinya dan menjawab pertanyaannya.
"Monkshoods dan wolfsbane sebetulnya adalah tanaman yang sama, yang juga disebut aconite" jawab Hermione dengan tegas.
"Bagus, bisa kau jawabkan pertanyaan yang ku lontarkan pada dua anggota Trio Emas junior yang lain?" tanya Prof. Prince.
"Campuran asphodel dan wormwood menghasilkan obat tidur yang sangat kuat sekali sehingga disebut Tegukan Hidup Bagai Mati. Bezoar adalah batu yang diambil dari perut kambing dan bisa menyelamatkan semua orang dari hampir semua racun" jawab Hermione dengan tegas.
"Bagus, dan kalian catat hal itu!" lantuj Prof. Prince dengan dingin kembali. Dan kelas menjadi hening kembali, pelajaran dimulai, dan hampir seluruh murid menjalani jam pelajaran ini dengan perasaan yang tidak enak.
…~…
"Aku belum pernah melihat penyihir terkena bisul! Buat apa sih dia mengajari kita ramuan itu? Kenapa kita tidak belajar ramuan yang lain saja!" omel Ron. Kondisi hati Ron sedang tidak enak, dikarenakan dia tidak berhasil membuat ramuannya dan terkena potongan poin. Walau Harry juga menjalani hal yang sama, dia tetap saja ceria, bukan tipe sensitive seperti Ron.
"Ya, memang, tapi kau juga tau, Ron, ada mantra pembuat bisul! Dan itu gunanya kau belajar" balas Hermione.
"Tapi, Prof. Prince bukan salah satu guru yang baik. Kau lihat sorot matanya? Sepertinya dia tidak suka dengan kita!" celetuk Harry
"Ya, kau benar, Harry. Sejarah lama Ibumu dengan dia, eh?" canda Hermione
Dan keadaan pun tidak setegang tadi lagi. Dan mereka terus bercanda, membicarakan hal ini itu selama perjalanan ke ruang kelas pelajaran Jimat dan Guna-guna.
Dari kejauhan, dapat kau tangkap sorot pandangan yang mengintai. Dan menghilang begitu saja, setelah 3 jubah itu menghilang di belokan. Oh, tunggu! Sepertinya dia perempuan! Dengan rambut hitam, siapakah gerangan dirinya? Sorot matanya menandakan benci yang dalam. Adakah yang dibencinya?
…~…
1 bulan telah berjalan.
Para murid mulai sibuk dengan tugas-tugas dari semua Profesor.
Para murid tingkat 5 mulai sibuk mencatat – berpura-pura menjadi anak rajin – untuk OWL mereka nanti.
Para murid tingkat 7 jauh lebih sibuk lagi – menjadi sok serius – untuk NEWT mereka nanti.
Perpustakaan kembali menjadi tempat nongkrong yang ramai bagi beberapa murid. Mencari jawaban atau reverensi tugas essay mereka. Atau, benar-benar ingin menimba ilmu.
Hermione Jean Granger
Siapa yang tak kenal dia? Yang selalu keluar masuk perpustakaan dan mendekam selama berjam-jam disana tiada bosan
Hermione Jean Granger
Siapa yang tak tau dia? Yang selalu membawa buku bertumpuk-tumpuk dan menutupi pandangannya
Hermione Jean Granger
Siapa yang tak pernah melihatnya? Yang selalu mengacungkan tangannya di setiap kelas
Hari ini pun sama, Hermione Jean Granger sedang menikmati jam-jam emasnya di dalam perpustakaan dengan membaca buku tebal berjudul 'Sejarah Transfigurasi Abad 18', membosankan sekali sampulnya. Buku yang kertasnya sudah kecoklatan, berdebu, dan sepertinya sudah lama tak tersentuh. Sepertinya hanya dia yang membacanya.
Jam berdentang tiga kali, menandakan jam 9, jam dimana semua aktifitas harus berhenti dan pergi ke satu tujuan, Asrama. Hermione menenteng tasnya dan membawa bukunya, tak lupa memberi salam kepada Madam Prince, pustakawati sekolah.
Dengan santainya ia memeluk buku tadi yang dipinjamnya, dan berjalan ke asrama. Dan, ups, seseorang menabraknya, siapa sih yang berlari-lari di malam hari ini? Sedang apa? Dan kenapa? Batas waktu kembali ke asrama masih setengah jam lagi kan?
"Maafkan aku" kata seseorang, ya, yang menabrak Hermione tadi.
"Tak apa, sedang apa ka- DRACO?" seru Hermione begitu menyadari siapa yang menabraknya.
"Oh, hai, Hermione, maaf aku terburu-buru" balas Draco sambil membantu Hermione mengambil isi tasnya yang berceceran. "Untung tintanya tidak tumpah" gumam Hermione sambil mengambil barang-barangnya.
"Oh, terima kasih, Draco. Kau mau kemana?" tanya Hermione
"Ke suatu tempat, bye Mione" jawab Draco sambil berlalu, dan berlari lagi
Hermione mengernyitkan dahinya dan mengendikkan bahunya, lalu berjalan lagi kembali ke asramanya. Lelah rasanya dengan hari ini, oh nikmatnya bersantai di asrama, ia jadi tak sabar sampai asrama. Hermione mempercepat langkahnya, batas waktu kembali ke asrama sudah semakin dekat.
…~…
"Hosh, hosh, hosh, hosh" suara desahan Draco ketika sampai di tujuannya, sambil mengelap keringat, ia bersandar di salah satu sisi.
Ia telah sampai, ya, di asramanya. Aneh memang, buat apa ia harus lari-lari, sedangkan Hermione saja tidak, padahal Hermione masih harus naik 2 lantai lagi, sedangkan ia? Cuma butuh turun 1 lantai.
"Kurang ajar! Apa maksudnya ini!" geram Draco. Ia sudah berada di kamarnya, membuka sebuah perkamen, dan membacanya.
"Siapa yang melakukannya!" geramnya lagi.
Dear Draco,
Hai Draco, kau tak perlu tau siapa aku, tapi yang jelas, aku tak suka melihat kedekatanmu dengan Granger-si-kutu-busuk itu. Jauhi dia, atau kau akan tau akibatnya!
"Andai aku tau siapa orangnya, akan ku habisi dia" geram Draco lagi.
"Hei, mate, apa yg sedang kau baca itu" sahut Brian yang baru saja datang dan melirik perkamen Draco.
"Bukan apa-apa" jawab Draco, dengan wajah yang masih terlihat geram.
"Tak mungkin bukan sesuatu yang penting melihat wajahmu seperti itu, mate" sergah Brian, ingin tau.
"Kau tak perlu tau kurasa, sudahlah aku mau tidur" sergah Draco, ingin menutup obrolan, menyimpan surat-sialan-pembawa-petaka itu ke tempat yang dia rasa aman, dan pergi tidur.
"Baiklah" balas Brian sambil mengendikan bahu, dan pergi tidur juga.
Siapa sebenarnya dia?
Apa tujuannya?
Apa yang akan dia lakukan?
"Kenapa aku peduli?" tanya Draco dalam hati, seakan tersadar akan sesuatu.
"Ya, kenapa pula aku marah? Mengapa aku bisa sebegitu dekat dengan Hermione?"
"Tapi apa yang menarik dari Hermione? Tunggu, ada sesuatu yang rasanya selalu menarikku dan memaksaku untuk dekat dengan Hermione, apa itu?"
Dan banyak pertanyaan yang muncul di benak Draco tiba-tiba, dan semuanya sama, tak terjawab.
"Aaaaarrrrgggghhhh!" teriak Draco.
"Ada apa, mate?" tanya Reo yang baru saja masuk ke kamar.
"Tak ada" jawab Draco singkat.
Keheningan kembali datang, menemani malam dan bulan yang saat itu sedang menunjukkan seluruh wajahnya. Bintang-bintang masih tetap sama, terus terang dan benderang, setia menemani rembulan. Dinginnya malam menusuk kalbu, membuat semua yang tertidur menarik selimut mereka. Semua tenang, setenang danau hitam, tapi tidak dengan seseorang. Datangnya sepucuk surat misterius mampu mengubah 180 derajat perasaan seseorang. Tapi malam tak mau berkompromi untuk berteman dengan perasaan itu, waktu terus berjalan, dan tak bisa dihentikan. Keputusan harus segera dibuat.
sorry reviewnya gak aku bales..
gak sempet.. :)
btw thx for all..
iia aku ush'n ASAP kok.. :)
mulai bosen iia bacanya..?
iia garing juga sih iia..?
tenang aja abis ini aku mau rombak ulang..
supaya lebih menarik..
Review please.. :)
