Fight to Love

.

HaeHyuk Fanfiction

.

Happy Reading ^^

.

.

Tatapan yang ditujukan dua namja itu masih tetap sama, begitu dalam dan menusuk. Sungguh, kalau bisa Hyukjae ingin menghilang sekarang juga dari sana. Memilih menundukkan kepalanya Hyukjae memandang tangannya yang saling meremas di bawah, sampai suara salah satu dari namja tampan itu membuatnya mendongakkan kepalanya.

" Sepertinya akan mengganggu jika aku tetap disini. Permisi." Nada suara itu begitu tajam dan dingin. Tanpa berkata apapun lagi Donghae melangkah memasuki lift di depannya. Meninggalkan Kyuhyun dan Hyukjae yang kini menatapnya dengan pandangan sayu. Bahkan setelah lift itu tertutup Hyukjae belum mengalihkan tatapannya.

"Hyukkie Hyung." Sampai suara lembut itu terdengar di telinganya, Hyukjae berbalik menatap Kyuhyun.

" Apa yang kau lakukan di sini Kyu?" Hyukjae bertanya bingung. Pasalnya ia melihat Kyuhyun di area apartemennya.

" Aku tinggal di sini sekarang Hyung, dan sungguh tak ku sangka ternyata kau juga tinggal di sini." Tersenyum tipis melihat wajah Hyukjae yang sedikit terkejut mendengar perkataannya. Hyukjae menghela nafas pelan. 'Bagaimana bisa seperti ini? Akan menjadi lebih sulit jika begini.'

Melihat Hyukjae yang terlihat bingung, Kyuhyun menarik tangan Hyukjae lembut menuju kursi yang terdapat di lobby apartemen. "Melihat ekspresi yang ditunjukkannya tadi, sepertinya dia masih belum tahu yang sebenarnya. Iya kan Hyung?"

Mengerti benar apa maksud perkataan Kyuhyun, Hyukjae hanya mampu menundukkan kepalanya, enggan menatap orang yang kini seolah sedang menginterogasinya. Kyuhyun menatap lebih intens pada Hyukjae saat tak mendengar jawaban apapun darinya.

.

.

BRAK...

Donghae membuka pintu apartemennya dengan kasar. Masuk dengan langkah yang begitu gusar Donghae menuju ke kamarnya dan segera masuk ke kamar mandi. Dengan terburu membasuh wajahnya di wastafel, setelahnya matanya menatap lurus ke arah pantulan dirinya yang ada di cermin depannya.

Donghae mengencangkan cengkeraman tangannya di pinggiran wastafel yang dipegangnya. Dari nafasnya yang memburu, jelas sekali jika saat ini Donghae sedang berusaha menahan amarahnya. Cho Kyuhyun, nama dan bayangan wajahnya masih saja melintas di fikiran Donghae.

"AAAARRRGGGGG..."

PRANG!

Dan cermin di depannya hancur begitu saja setelah 'tersentuh' kepalan tangan Donghae.

.

.

" Apa kau baik-baik saja tinggal bersamanya Hyung? Aku yakin dia tidak memperlakukanmu dengan baik." Pertanyaan dan pernyataan itu membuat Hyukjae yang menunduk, semakin dalam menundukkan kepalanya. Dia tidak mungkin menyembunyikan apapun dari Kyuhyun, karena bagaimanapun kyuhyun tahu dengan sangat jelas masalah yang terjadi antara ia dengan Donghae.

Membawa Hyukjae ke pelukannya dengan lembut, itu yang Kyuhyun lakukan saat ini.

'Dia bodoh Hyung, dari dulu sampai sekarang ia memang begitu bodoh. Bagaimana bisa dia tidak melihat kenyataan bahkan yang jelas sudah tampak di depannya.'

"Kenapa kau tak mengatakan yang sebenarnya saja padanya Hyung? Kau tahu ini lebih menyakitimu Hyung." Mendengar ucapan Kyuhyun Hyukjae segera menegakkan tubuhnya, memandang Kyuhyun dengan air mata yang mengalir di wajah pucatnya. Menggeleng pelan Hyukjae menjawab.

" Tidak Kyu, aku tak mau sampai dia mengetahuinya. Aku tak mau nantinya membuatnya lebih terluka dan kecewa. Cukup biarkan seperti ini, biarkan aku di sampingnya selagi masih ada waktu untukku. Mungkin memang lebih baik jika Donghae membenciku, ini akan lebih mudah bagiku jika memang waktuku-."

" Hyung!" Dan bentakan keras dari Kyuhyun menghentikan ucapan Hyukjae. Memandang Hyukjae dengan lembut, menggenggam tangannya erat.

" Apa yang kau katakan? Kau tak lihat sekarang aku di sini. Kau pikir untuk apa aku di sini sekarang hah? Aku di sini untuk menepati janjiku padamu. Tapi, kenapa sekarang kau mau menyerah hm. Kau sudah berjanji Hyung, Kau sudah berjanji untuk tetap berjuang. Dan aku di sini untukmu."

.

Flash Back on

Hyukjae tengah terbaring lemah di ranjang rawatnya. Terlihat Kyuhyun yang duduk di sampingnya menggenggam tangannya erat. Hyukjae menatap Kyuhyun dengan pandangan yang begitu sayu, membuat Kyuhyun berusaha mati-matian menahan air matanya untuk tidak turun.

" Hyung sebentar lagi aku lulus sekolah, kau lihat kan aku begitu jenius. Bahkan aku yang lebih muda darimu bisa mendahuluimu." Kyuhyun sekuat tenaga menahan suaranya agar tidak bergetar.

" Setelah ini, aku akan berangkat ke Amerika Hyung. Kau sudah tahu cita-citaku kan Hyung. Aku ingin menjadi seorang dokter yang hebat, agar aku bisa menyembuhkanmu." Dan air mata Hyukjae menetes dari mata lelahnya mendengar ucapan Kyuhyun.

" Berjanjilah padaku Hyung, Berjanjilah kau akan menungguku. Berjanjilah kau tidak akan menyerah sampai aku kembali. Kau percaya padaku kan Hyung?" Hanya anggukan lemah dari Hyukjae yang diberikan sebagai jawaban pertanyaannya.

" Jika kau percaya padaku, maka berjuanglah Hyung. Tetaplah berjuang dan aku akan kembali ke sini, menjadi dokter yang hebat dan aku pasti akan menyembuhkanmu. Kau akan sembuh Hyung. Aku janji, kau akan sembuh."

Melihat kesungguhan di mata Kyuhyun Hyukjae hanya mampu terisak lirih. membalas pelukan Kyuhyun saat Kyuhyun memeluk tubuhnya yang masih berbaring. Mengangguk yakin di pundak Kyuhyun.

Flash Back Off

.

Hyukjae kembali memeluk tubuh di depannya erat. Di saat ia tak lagi mampu berdiri di atas kakinya sendiri, kini sandarannya datang. Menopang dirinya untuk tetap bisa berdiri. Sejujurnya Hyukjae tidak terlalu berharap jika ia bisa sembuh, ia sudah pasrah dengan takdir yang ditentukan Tuhan untuknya. Tapi paling tidak, ia bersyukur sekarang. Ia memiliki Kyuhyun sebagai sahabatnya, sahabat tempatnya mengungkapkan segalanya, sahabat yang begitu dipercaya olehnya.

'Terima kasih Tuhan, kau hadirkan sosok ini dalam hidupku .'

'Terima kasih Kyu, terima kasih sudah kembali ke sini.'

Hyukjae membuka pintu apartement nya. Masuk ke dalam kemudian berbalik menutup pintunya perlahan.

" Ku pikir kau tak akan kembali ke sini setelah bertemu dengannya." Hyukjae sedikit terlonjak saat nada dingin itu mengalun dari seseorang di belakangnya. Berbalik Hyukjae melihat Donghae yang menghadap lurus ke arahnya dengan tatapan yang begitu dingin.

" Donghae, A-aku-." Ucapan Hyukjae terputus saat matanya menatap telapak tangan Donghae. Dapat ia lihat darah yang mengalir dari sana.

" Astaga Donghae-ah. Tanganmu.." Hyukjae melangkah khawatir ke arah Donghae, hendak meraih tangan Donghae yang berlumuran darah. Namun sebelum Hyukjae menyentuhnya, Donghae dengan kasar menepis tangannya.

" Untuk apa kau mengurusiku?" Masih, nada dingin itu yang setia terucap dari bibir Donghae, tatapannya pun kini begitu dingin menusuk ke arah Hyukjae.

" Hae akan aku jelaskan nanti, tapi biarkan aku mengobati lukamu dulu." Sungguh, Hyukjae begitu mengkhawatirkan suaminya. Donghae mendecih ke arah Hyukjae.

" Cih, memangnya aku meminta penjelasanmu Hyukjae-ssi? Aku hanya heran ternyata kau masih kembali masuk ke pintu ini. Ku kira kau mungkin saja memasuki pintu lainnya, dengan begitu aku akan menemui seorang 'penghianat' untuk kedua kalinya."

Hyukjae memejamkan matanya erat. Sungguh, perkataan Donghae menghujam begitu dalam di hatinya. Tapi rasa khawatir itu mengalahkan segalanya. Membuka matanya dan menatap Donghae dengan tatapan memohon.

" Terserah apa katamu Donghae-ah. Tapi ku mohon, biarkan aku mengobati lukamu dulu." Donghae menghindar saat Hyukjae kembali mencoba menyentuh tangannya.

" Jangan menyentuhku." Setelahnya Donghae kembali ke kamarnya, meninggalkan Hyukjae yang hanya diam menatap pintu kamar di depannya yang baru saja ditutup pemiliknya.

Sebenarnya ada apa dengan Donghae? Bodoh, itu pertanyaan bodoh. Tentu saja Donghae marah atau mungkin kesal saat tadi ia melihat Kyuhyun. Tapi apa yang dilakukan Donghae sampai membuat tangannya terluka seperti itu?

.

.

Malam sudah larut saat Hyukjae membuka perlahan pintu kamar Donghae. 'Untung tidak dikunci' . Melangkah perlahan dengan gugup menuju ranjang di mana suami tampannya itu tegah terbaring, memastikan jika Donghae sudah tertidur.

Ini kali pertama Hyukjae berani –memberanikan diri- memasuki kamar suaminya. Setelah pertengkarannya dengan Donghae beberapa jam yang lalu, Hyukjae memang tidak tidur. Sengaja menunggu Donghae tertidur untuk mengobati luka di tangannya.

Dengan hati-hati Hyukjae meletakkan baskom berisi air hangat yang dibawanya di meja nakas. Perlahan mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur Donghae dan meletakkan kotak P3K yang juga di bawanya. Hyukjae menatap miris telapak tangan Donghae yang berlumuran darah, bahkan darahnya juga menodai sprei berwarna putih itu.

Mengambil handuk kecil di pundaknya, Hyukjae membasahinya dengar air hangat yang tadi di bawanya. Mengambil tangan Donghae sepelan mungkin agar tak membangunkan suaminya, Hyukjae membasuhnya perlahan. Membersihkan darah yang mulai mengering di sana.

" Sebenarnya, apa yang kau lakukan sampai terluka seperti ini?" Hyukjae berbisik perlahan, masih sambil membersihkan luka Donghae. Setelah benar-benar bersih Hyukjae mngambil kotak P3K di sampingnya. Mengambil alkohol dan perban dari dalamnya. Mengusapkan perlahan alkohol ke luka di telapak tangan itu, mengoleskan obat di sana kemudian membalutnya dengan hati-hati.

Masih memegang tangan yang kini terbalut perban itu, Hyukjae menatap intens wajah tampan Donghae. Beberapa saat kemudian tatapannya beralih pada tangan dalam genggamannya, mengelusnya lembut sembari mengucapkan kata maaf beberapa kali.

Tak ingin suaminya terbangun, perlahan Hyukjae meletakkan tangan Donghae. Bangkit dari duduknya, Hyukjae memperbaiki letak selimut di tubuh Donghae. Segera setelahnya Hyukjae bergegas membereskan semua peralatan yang tadi ia gunakan, kemudian beranjak keluar dari kamar Donghae. Sebelum benar-benar sampai di depan pintu, Hyukjae kembali membalikkan tubuhnya.

" Selamat malam Donghae-ah. Mimpi indah". Dan setelahnya Hyukjae benar-benar keluar dari kamar itu.

Sedetik kemudian setelah pintu kamar itu ditutup, Donghae membuka matanya perlahan. Ya, Donghae memang tidak tidur, ia hanya berpura-pura tidur saat tadi Hyukjae masuk dan mengobati lukanya. Donghae mengangkat dan menatap tangannya yang kini terbalut rapi dengan perban. Tanpa membuka matanyapun, Donghae tahu benar apa yang tadi dilakukan dan dikatakan Hyukjae padanya. Donghae menarik nafas dalam, kembali memejamkan matanya kali ini membiarkan kegelapan benar-benar membawanya.

-HAEHYUK-

Hari masih cukup pagi. Tiga orang anggota keluarga Kim sedang sarapan saat mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Taemin bangkit dari duduknya, hendak membuka pintu saat tak dilihatnya seorangpun pelayan yang berada di situ.

"Kyuhyun!" Seruan Taemin terdengar saat melihat siapa tamu yang kini berdiri di depan pintu rumahnya. Sedikit terkejut memang melihat Cho Kyuhyun di depannya.

" Selamat pagi bocah." Kyuhyun terenyum evil sembari mengacak surai Taemin dengan gemas. Dengan segera Taemin menepis tangan Kyuhyun di kepalanya, mendengus kesal dengan panggilan yang Kyuhyun berikan untuknya.

"Dasar evil. Jangan menyebutku bocah, karena aku bukan bocah." Omelan itu hanya ditanggapi dengan kedikan bahu acuh dari Kyuhyun. Tanpa ragu ataupun sungkan Kyuhyun melangkah masuk ke dalam rumah, melewati Taemin yang hanya terbengong melihatnya.

" Selamat pagi ahjumma, ahjussi." Kangin dan Leeteuk serempak menoleh ke arah seseorang yang baru saja menyapa mereka. Mendekat ke arah Kangin dan Leeteuk, kemudian Kyuhyun memberikan pelukan singkat pada mereka, yang tentunya mendapat balasan yang begitu hangat.

" Selamat pagi Kyu. Suatu kejutan kau datang pagi-pagi ke sini. Kau belum sarapan kan? Duduklah, kita sarapan bersama." Leeteuk berucap sembari meletakkan piring dan sendok di depan Kyuhyun.

" Ah... Ahjumma memang yang terbaik. Itulah sebenarnya tujuanku ke sini, hahahaha." Dan tanpa sungkan Kyuhyun mulai mengambil sarapannya. Kangin dan Leeteuk tersenyum melihatnya, terlalu hafal dengan kebiasaan seorang Cho Kyuhyun yang tidak pernah berubah.

" Ck, dasar tidak tahu malu. Datang pagi-pagi hanya minta makan." Taemin yang baru saja kembali kini sudah duduk di kursi samping Kyuhyun.

" Hei, kenapa kau sinis sekali padaku bocah. Ah, apa kau iri karena kau tak mendapat pelukan dariku seperti ahjussi dan ahjumma?" Taemin menoleh dengan tatapan yang seolah mengatakan –apa kau bercanda?- ke arah Kyuhyun.

" Ya sudah, sini ku peluk. Sini... sini..." Kyuhyun kemudian berusaha memeluk Taemin di sampingnya walaupun Taemin mati-matian berusaha menghindar.

" Yak, apa yang kau lakukan evil. Sudah kubilang jangan memanggilku bocah dan jangan memelukku. YAK Lepaskan. Umma... Appa..." Kangin dan Leeteuk yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil terkikik geli. Selalu saja jika Taemin dan Kyuhyun bertemu. Pasti suasana menjadi begitu berisik. -_-

.

.

Di sinilah Kyuhyun berada sekarang. Duduk di ruang tengah di rumah keluarga Kim dengan tiga orang yang kini duduk di hadapannya. Setelah selesai sarapan bersama, Kyuhyun mengutarakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya ke rumah itu.

" Kemarin, aku sudah melakukan pemeriksaan keadaan Hyukkie Hyung,-." Sedikit menjeda ucapannya guna melihat ekspresi tiga orang di depannya, yang kini justru menatap cemas dan tegang ke arahnya.

" Sejujurnya, kondisinya tidak cukup baik saat ini." Mendengar ucapan Kyuhyun, seketika membuat tubuh Leeteuk menegang. Kangin yang menyadarinya segera menggenggam tangan istrinya, mencoba memberikan ketenangan padanya walaupun dirinya juga tengah cemas saat ini. Berbeda dengan Taemin yang saat ini hanya menatap datar ke arah Kyuhyun.

" M-Maksudmu apa Kyu?" Tak ingin salah persepsi Taemin bertanya, dia tak mau dulu berburuk sangka tentang keadaan Hyung nya.

"Kelainan katub jantung yang dialami Hyukkie Hyung sudah parah sekarang. Jantung yang semestinya menjadi organ utama untuk berlangsungnya seluruh metabolisme tubuh itu sekarang ini sudah tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi seperti ini yang paling dikahawatirkan karena sangat berpengaruh kepada kondisi tubuhnya sekarang. Bukan hanya di katub jantung, gangguan ini bahkan mulai merambah bagian yang lainnya. Hal ini setiap saat bisa membuat kondisinya memburuk." Penjelasan Kyuhyun kali ini benar-benar membuat tiga orang di depannya meneteskan air matanya. Tak menyangka jika kondisi orang yang begitu mereka sayangi seburuk itu sekarang.

" Jangan bohong Kyu. Hyukkie Hyung bahkan terlihat begitu sehat sekarang? Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu tentang Hyungku." Mencoba menyangkal diagnosa Kyuhyun, Taemin belum siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi pada Hyungnya.

Menghela nafas Kyuhyun mencoba menenangkan hatinya. Sejujurnya dadanya tak kalah sesak saat membicarakan kondisi Hyukjae pada keluarganya. Tapi, Kyuhyun sudah memantap kan hatinya. Walau bagaimana pun, keluarga Hyukjae harus tahu tentang ini.

" Kau tak ingat jika dia memang 'selalu' baik-baik saja jika di depan orang lain, bahkan disaat dia jelas tengah tergeletak tak berdaya sekalipun." Menghapus setetes air mata yang berhasil lolos di sudut matanya, Kyuhyun menatap Taemin yang kini wajahnya benar-benar penuh dengan air mata.

"Lalu bagaimana sekarang? Pasti ada cara meyembuhkannya kan Kyu? Apa yang harus kita lakukan untuk bisa menyelamatkannya?" Di tengah suasana yang begitu kelam itu Kangin berucap dengan nada putus asanya, membuat Kyuhyun mengalihkan pandangan padanya.

" Untuk saat ini, kita hanya bisa melihat bagaimana kondisi Hyukkie Hyung. Berharap semoga kondisinya tetap stabil dan tidak memburuk. Percayalah, apapun yang terjadi aku akan berusaha menyelamatkan Hyukkie Hyung. Aku akan menyembuhkannya. Aku berjanji, aku berjanji pada kalian."

' Dan pada diriku sendiri'

Kyuhyun berucap mantap sembari memandang penuh keyakinan kepada tiga orang di depannya. Melihat tatapan keyakinan dan kesungguhan di mata Kyuhyun, ketiga anggota keluarga Kim mengangguk bersamaan. Mencoba percaya pada sosok di depan mereka, berdo'a dan meyakinkan hati bahwa seorang Cho Kyuhyun adalah perantara dari Tuhan untuk menyelamatkan 'permata' mereka.

. -HAEHYUK-

Hyukjae sedang duduk sendirian di taman kampusnya. Menikmati udara di siang hari dengan duduk di kursi yang berada tepat di bawah pohon , merasakan udara di sekitarnya begitu sejuk. Memejamkan matanya sedikit merileks kan tubuhnya. Entah kenapa akhir-akhir ini Hyukjae merasa mudah sekali lelah. Dadanya sering berdenyut nyeri, tak jarang disertai dengan sesak nafas. Bahkan beberapa kali ia pingsan di apartemennya. Ia bersyukur, sampai saat ini Donghae tidak mengetahui kondisinya yang sebenarnya.

Donghae? Haaah, membuka mata Hyukjae menghela nafasnya. Mengingat tentang Donghae entah kenapa perasaannya menjadi campur aduk sekarang. Rasa bahagia, sedih, menyesal, cemas, takut, semuanya menjadi satu. Sampai saat ini, perasaan Hyukjae pada Donghae tak pernah berubah sedikitpun, sejak awal pertemuan mereka sampai sekarang Hyukjae masih amat sangat mencintai Donghae. Kembali memejamkan matanya, Hyukjae mengingat kembali saat-saat itu.

.

Flash Back On

Hyukjae sedikit berjalan tergesa sambil sesekali melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. Ia sudah hampir terlambat di hari pertamanya memasuki Senior High School, salahkan Ummanya yang memaksanya meminum obatn yang begitu banyak di saat ia justru bangun kesiangan.

Raut wajah bingung begitu kentara di wajahnya saat ia mencari aula di sekolah tersebut, karena sebelum memasuki kelas pertama siswa baru diharuskan berkumpul di aula guna memperkenalkan mereka kepada dewan guru, staf, serta pengurus organisasi di sekolah itu. 'Astaga, kenapa sekolah ini besar sekali. 'Bagaimana aku bisa menemukan aulanya? Haah.. Mungkin saat jam pelajaran sudah berakhir aku baru bisa menemukannya. Umma, bagaimana ini?' Dalam hati Hyukjae meratapi keadaannya saat ini, sungguh rasa-rasanya hyukjae ingin menagis sekarang.

" Kau terlihat kebingungan, apa kau murid baru?" Mendengar suara seseorang di belakangnya, dengan cepat Hyukjae membalikkan tubuhnya. Tertegun begitu melihat seseorang di belakangnya. Seorang namja bertubuh tegap memandang Hyukjae dari mata sendu miliknya dengan senyum lembut yang ditunjukkanya menampakkan kesan childish di wajahnya. TAMPAN, itulah satu pemikiran yang terlintas di benak Hyukjae. Namja itu berdehem saat dilihatnya Hyukjae tak merespon ucapannya.

" A-ah... N-Ne... S-saya murid baru. B-bisa tolong beri tahu di mana letak aulanya." Entah kenapa tiba-tiba Hyukjae menjadi begitu gugup. Melihat tingkah Hyukjae namja tersebut justru semakin tersenyum lebar. Tanpa aba-aba mengambil lengan hyukjae kemudian menariknya lembut mengikutinya.

" Kajja, aku akan mengantarmu ke aula." Hyukjae yang terkejut hanya mengikuti langkah namja di depannya. Menatap tangannya yang berada dalam genggaman pemuda di depannya, kemudian menatap punggung tegapnya. Tanpa sadar Hyukjae tersenyum, entah kenapa tiba-tiba perasaannya menghangat.

Sesampainya di aula Hyukjae segera masuk ke barisan siswa baru. Acara yang dimulai sejam yang lalu itu ditutup dengan perkenalan ketua OSIS. Ketika sang ketua di panggil, Hyukjae tak mampu menahan mata sipitnya untuk tak membulat. Di sana orang yang berdiri gagah di depan sana dengan jabatan ketua OSIS itu adalah orang yang sama yang tadi di temuinya.

"Annyeong haseyo, Lee Donghae imnida." Dan Hyukjae benar-benar tak bisa mengalihkan pandangan saat tatapan mata sendu itu terkunci dengan matanya, serta senyum lembut yang tak pernah lepas dari wajah tampannya.

.

.

Sejak saat itu, Hyukjae tak pernah bisa melupakan sosok itu. Entah kenapa getaran halus itu selalu saja muncul saat ia menatap Lee Donghae. Seiring berjalannya waktu, tak ada yang berubah dengan hubungannya dan Lee Donghae. Lee Donghae adalah sosok idola di sekolahnya. Sosok dengan wajah tampan, pintar, ramah, berwibawa dan sifat yang begitu sempurna lainnya, membuat Hyukjae sedikit enggan mendekatinya walaupun sejujurnya Hyukjae ingin mengenalnya lebih jauh. Mereka hanya akan saling tersenyum saat berpapasan atau tak sengaja bertemu di jalan. Sampai suatu ketika,

" KIM HYUKJAE, JADILAH KEKASIHKU!" Suara itu terdengar begitu jelas di lingkungan kantin yang begitu sunyi walaupun saat ini penuh dengan para siswa. Hyukjae baru saja berbalik setelah membayar makanannya dan ingin kembali ke kelas saat tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang Lee Donghae yang berlutut di depannya. Menggenggam satu bucket bunga mawar putih di tangan kanannya, dan satu kotak susu Strawberry di tangan kirinya.

Hyukjae yang terkejut hanya mematung menatap Donghae sembari beberapa kali mengedipkan matanya. Donghae mendongak, menatap Hyukjae dengan tatapan memohon.

" Aku tahu ini gila karena melakukannya tiba-tiba di depanmu, tapi aku akan lebih gila lagi jika tak mengutarakan perasaanku padamu. Kim Hyukjae, aku Lee Donghae menyukaimu, Ah aniyo. AKU MENCINTAIMU bahkan sejak pertemuan pertama kita. Jadi Kim Hyukjae maukah kau menjadi kekasihku?"

Tak hanya Hyukjae yang merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Donghae. Bahkan seluruh siswa yang berada di kantin itupun hanya bisa menatap tak percaya ke arah Donghae. Hei, seorang Lee Donghae ketua OSIS mereka, sosok yang begitu terlihat berwibawa dan seakan tak pernah tertarik dengan yang namanya cinta walaupun banyak yang tergila-gila padanya, kini sedang berlutut menyatakan cinta, siapa yang tak shock.

"S-sun-Sunbae... A- Apa maksudmu. A- Aku... Aku..." Sungguh Hyukjae tidak tahu harus bertindak seperti apa. Sejujurnya ia bahagia karena ternyata Donghae memiliki perasaan yang sama padanya, tapi ini terlalu tiba-tiba.

" Tak perlu memaksakan diri untuk bicara. Kau lihat dua benda di tanganku? Kau pilih salah satu." Hyukjae memperhatikan benda di kedua tangan Donghae, kemudian kembali menatap ke arah Donghae.

" Jika kau menerimaku maka ambillah bucket bunga ini. Tapi, jika kau menolakku maka ambillah susu Strawberry ini." Keheningan benar-benar menyelimuti kantin setelah Donghae selesai berucap. Melihat Hyukjae yang hanya diam menatap benda di tangannya, Donghae menunduk. Menunggu jawaban yang akan diberikan Hyukjae dengan detak jantung yang begitu menggila di dadanya. Tidak hanya Donghae, bahkan seluruh manusia di sana ikut tegang menyaksikan acara pernyataan cinta Donghae.

Menghela nafas sembari memegang dadanya yang berdetak tak beraturan Hyukjae sedikit memajukan langkahnya mendekat ke arah Donghae. Kembali menarik nafasnya Hyukjae mengulurkan tangannya mengambil salah satu benda di tangan Donghae. Merasa salah satu benda yang dipegangnya diambil, Donghae mendongakkan kepalanya menatap terkejut ke arah Hyukjae di depannya. Bersamaan dengan itu pekikan samar terdengar di sekitar mereka, Tak percaya dengan pilihan Hyukjae. Hyukjae memilih mengambil susu Strawberry dan saat ini ia tengah memandang Donghae dengan senyum yang begitu manis di wajahnya.

" Hyu- Hyuk, Kau-." Menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Hyukjae membuang susu Strawberry yang tadi di ambilnya kemudian dengan segera mengambil bucket bunga di tangan Donghae. Tersenyum saat melihat wajah Donghae yang masih terkejut.

" Aku juga menyukaimu. Ah ani, Kim Hyukjae juga MENCINTAI Lee Donghae." Dan detik berikutnya tubuh ramping Hyukjae sudah berada dalam dekapan erat Donghae, diiringi dengan tepuk tangan dan teriakan riuh di sekitar mereka.

.

.

Hyukjae menyamankan diri di pelukan Donghae. Hari sudah cukup sore saat ini, setelah bel berakhirnya pelajaran berbunyi, pasangan kekasih ini memilih sejenak menikmati sore bersama di atap sekolah. Hyukjae kini berdiri di tepi pagar pembatas dengan tinggi sebatas pingganggnya, dengan Donghae yang memeluk pinggangnya erat dari belakang.

Semakin menyamankan dirinya, Hyukjae bersandar di dada bidang Donghae dan meletakkan tangannya di atas tangan Donghae yang saat ini melingkari perutnya. Sementara Donghae, melatakkan dagunya di pundak kanan Hyukjae, sesekali mengecup rambut Hyukjae dan menghirup aroma manis dari tubuh kekasihnya. Keduanya memandang jauh ke depan, ke arah matahari yang kini perlahan mulai kembali ke peraduannya.

" Hyukkie..." Suara Donghae mengalun indah tepat di samping telinga Hyukjae. Masih tetap mempertahankan posisinya, Hyukjae menjawab dengan gumaman kecil.

" Saranghae." Satu kata bermakna itu membuat Hyukjae membuka matanya perlahan, kemudian memutar tubuhnya menghadap Donghae yang kini menatapnya begitu lembut. Menunjukkan senyum terbaiknya.

" Nado. Nado saranghae Lee Donghae." Saling menatap intens orang yang mereka cintai, perlahan Donghae mendekatkan wajahnya. Semakin dekat hingga Hyukjae mampu merasakan hembusan nafas hangat di wajahnya. Tepat saat kedua bibir itu bertemu, Hyukjae menutup matanya. Merasakan kehangatan bibir Donghae yang mengunci bibirnya, menikmati setiap kecupan yang Donghae berikan disertai dengan pagutan lembut yang begitu memabukkan. Tak ada nafsu di dalamnya, sama sekali. Hanya ada rasa cinta yang membuncah di hati keduanya.

Hyukjae membuka matanya saat merasakan Donghae melepaskan tautannya. Kembali memejamkan mata saat Donghae menangkup kedua pipinya dan mengecup keningnya lembut. Tak seberapa lama, sebelum ia merasakan bibirnya kembali terkunci oleh sesuatu yang hangat dan lembut. Di tengah cahaya surya yang mulai meredup, seolah menjadi saksi cinta kedua anak manusia itu.

Flash Back off

.

Hyukjae membuka mata saat dirasakannya air mata menetes di atas pipinya, tak sadar entah sejak kapan ia menangis. Menghapus setetes air mata itu kemudian tersenyum miris saat mengingat itu hanyalah sepenggal masa lalu yang pernah dialaminya. Mengambil nafas dalam untuk sedikit menenangkan hatinya Hyukjae bangkit dari duduknya. Beranjak perlahan dari tempat itu untuk pulang ke apartemennya, mengingat hari sudah mulai sore tanpa ia sadari.

.

Hyukjae masih duduk di meja makan di apartemennya, seperti biasa ia begitu setia menunggu suaminya pulang. Hyukjae menatap gelisah jam dinding di depannya. Tadi pagi saat dia bangun, Donghae sudah tak berada di apartemennya sampai saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Donghae belum juga datang. Biasanya paling malam, jam sepuluh Donghae sudah kembali. Saking cemasnya bahkan Hyukjae tak menyentuh makan malamnya sama sekali.

Lagi, rasa sakit itu tiba-tiba datang saat Hyukjae hendak berdiri dari tempatnya duduk membuat ia menghempaskan kembali tubuhnya. Mencengkeram erat dada kirinya berharap bisa sedikit mengurangi sakit yang dirasanya, Hyukjae berusaha bangun. Melangkah perlahan ke kamarnya hendak mengambil obat, Hyukjae berjalan tertatih. Secepat yang ia bisa segera mengambil obatnya dan menelannya sesaat setelah ia mendudukkan diri di ranjangnya. Merasa sakit yang dirasanya mulai berkurang, Hyukjae bernafas lega. Perlahan dibaringkannya tubuh lemah itu, berharap itu dapat membantu menghilangkan sakit yang menderanya.

Sekitar lima belas menit kemudian, Hyukjae kembali menegakkan tubuhnya saat dirasa sakitnya sudah benar-benar menghilang. Hyukjae beranjak dari ranjangnya berjalan keluar kamar ia memutuskan untuk menunggu donghae di ruang depan. Menggenggam ponselnya guna mnghubungi suaminya, namun tak ada jawaban dari orang yang dihubungi.

" Kau kemana Hae ah, kenapa belum pulang? Apa yang terjadi denganmu? Ku harap tak terjadi apa-apa padamu."

Hyukjae masih setia menunggu Donghae pulang, tak peduli dengan malam yang semakin larut dan tubuhnya yang terasa lelah. Hingga tanpa sadar Hyukjae tertidur, berbaring di sofa ruang tengah apartemennya.

.

.

CEKLEK.

Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi saat pintu apartemen itu terbuka. Donghae melangkah masuk dengan keadaan yang begitu kacau. Rambut dan pakaiannya acak-acakan. Berbeda sekali dengan Donghae yang biasanya.

Seharian ini Donghae tak pergi ke kantor. Berangkat pagi-pagi sekali sengaja menghindari Hyukjae, Donghae pergi ke rumah kekasih sepupunya yang sekaligus sahabatnya. Di sana Donghae benar-benar meluapkan emosinya dengan minum-minum sampai ia tak sadar. Dan begitu ia sadar saat hari menjelang sore, ia sudah menemukan Siwon di sana.

Entah apa yang dikatakan Siwon tadi di rumah Kibum, Donghae tidak terlalu menggubrisnya. Yang jelas Donghae ketahui adalah Siwon sedang menceramahinya habis-habisan. Karena tidak tahan dengan omelan Siwon Donghae memutuskan untuk keluar dari rumah Kibum Menghirup udara luar berharap bisa sedikit menenangkan fikirannya, sampai ia baru kembali ke apartemennya di saat menjelang pagi.

Setelah menutup pintu, donghae berbalik hendak melangkah masuk, namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang berada di ruang depan. Masih pada posisinya Donghae menatap Tubuh Hyukjae yang tidur meringkuk di sofa. Mengambil nafas perlahan setelahnya Donghae melangkah mendekat ke arah Hyukjae.

Merendahkan tubuhnya Donghae mensejajarkan wajahnya dengan Hyukjae yang kini tidur menyamping. Dalam diam Donghae menatap intens wajah Hyukjae yang tertidur. Masih sama seperti dulu, Hyukjae terlihat begitu cantik. Wajah yang terlapisi kulit putih tanpa cela, mata bulat sipit dengan bulu mata indah yang kini terpejam erat, serta bibir mungil namun penuh yang begitu menggoda.

Tapi, wajah ini tak sesempurna biasanya, pipi putih yang biasanya terlihat merona itu kini terlihat begitu pucat, bibir menggoda yang biasanya berwarna semerah cherry itu sedikit memutih sekarang. Dan melihatnya, Donghae sama sekali tak dapat menyembunyikan sinar sendu di matanya.

Tanpa sadar tangan kanan donghae terangkat, perlahan menyentuh surai lembut Hyukjae yang kini berwarna coklat. Menyibak poni yang sedikit menutupi dahi dan matanya, membuat Donghae bisa lebih leluasa memandang wajah di depannya. Perlahan tangan Donghae tergerak menyentuh pelan pipi putih itu, tersentak saat Donghae merasakan pipi Hyukjae yang begitu dingin di tangannya.

'Kenapa tidur di sini? Kau menungguku eoh?' Donghae bergumam dalam hati.

Bangkit dengan gerakan yang amat pelan Donghae menyusupkan tangan kirinya di bawah tengkuk Hyukjae dan tangan kanannya di bawah lutut Hyukjae. Membawa perlahan tubuh ramping itu dalam gendongannya. Donghae melangkah hati-hati tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Hyukjae, membawa Hyukjae ke kamarnya.

Sesampainya di depan ranjang Hyukjae, Donghae menundukkan tubuhnya. Meletakkan dengan amat pelan tubuh dalam gendongannya, berusaha sebisa mungkin tak membuatnya terbangun. Merasa Hyukjae sudah berbaring nyaman, Donghae perlahan menarik tangannya dari tengkuk dan lutut Hyukjae. Hendak melangkah saat ia merasakan lengan kemejanya di cengkeran dengan erat. Donghae menatap Hyukjae yang masih menutup matanya erat, namun terlihat sekali raut kegelisahan di wajahnya.

" Mian... Mianhae Hae-ah... Hiks... Mianhae..." Hyukjae bergumam dalam tidurnya bersamaan dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. Setelahnya, Dapat Donghae rasakan jika genggaman di kemejanya terlepas dan juga raut wajah Hyukjae yang kembali tenang. Menatap Hyukjae dengan tatapan yang begitu sulit diartikan, Donghae merendahkan tubuhnya, mengusap perlahan air mata Hyukjae sebelum mencium keningnya lembut. Donghae memejamkan matanya erat, menekan rasa sesak di dadanya dan membiarkan setetes air bening lolos dari matanya.

.

.

Hyukjae berjalan tergesa sambil menggenggam payungnya di tengah gerimis yang mulai turun. Matanya sudah tergenang air yang bisa tumpah kapan saja. Berjalan tergesa menuju tempat yang sudah sangat dihafalnya, Hyukjae merasa begitu bodoh sekarang. Ia baru saja tahu jika Donghae mengiriminya pesan. Hyukjae baru menyentuh ponselnya karena tadi dia tertidur setelah meminum obatnya. Donghae mengirim pesan itu tadi siang dan hari sudah menjelang sore sekarang. Donghae menunggunya untuk datang ke taman dekat sekolah mereka, dan ia bilang akan menunggu Hyukjae sampai datang.

Hyukjae sangat mengenal Donghae, bagaimana Donghae begitu keras kepala dan bisa saja melakukan hal-hal bodoh jika sudah punya keinginan. Sesampainya di sana Hyukjae mengedarkan pandangannya. Air matanya benar-benar menetes saat melihat seseorang yang masih mengenakan seragam duduk di salah satu bangku taman dengan tubuh yang setengah basah. Secepat yang ia bisa Hyukjae melangkankan kakinya.

Donghae mendongak saat menyadari seseorang yang berdiri di depannya. Tadi ia memang menunduk dengan tangan yang memeluk tubuhnya sendiri untuk sedikit mengurangi rasa dingin. Sedikit kaget saat Hyukjae memandangnya dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, Donghae segera berdiri.

" Hyukkie, Kau kenapa? Kenapa menangis? Apa ada yang menyakitimu?" Sungguh Donghae merasa cemas melihat kekasihnya menangis. Mengaduh kecil saat Hyukjae memukul dadanya dan menatap bingung ke arah kekasihnya manisnya.

" Bodoh... Hae Bodoh. Kenapa disaat hujan seperti ini kau masih di sini Eoh. Kau benar-benar Bodoh." Hyukjae terisak sekarang, membuat Donghae memeluknya.

" Aku hanya ingin melihat permataku, aku merindukannya." Mendengarnya Hyukjae justru semakin terisak dan kini membalas pelukan kekasihnya.

"Mian... Hiks.. Mianhae Hae- ah... Hiks...Mianhae..." Hyukjae menggumamkan kata maaf berkali-kali. Donghae menjauhkan tubuhnya dari Hyukjae, menghapus air mata yang mengalir di pipi kekasihnya. Menecup kening Hyukjae lembut sebelum kembali menatapnya.

" Aku tak apa Hyukkie, jangan meminta maaf. Jangan menangis sayang, kau tahu air matamu menyakitiku. Sungguh Hyukkie, Semuanya tak apa, asal akhirnya kau tetap kembali datang padaku. Aku mencintaimu, sangat." Dan Hyukjae kembali menubruk tubuh kekasihnya, menenggelamkan dirinya di dekapan Donghae sambil masih menggumamkan kata maaf berkali-kali. Membuat Donghae tak berhenti mengecup puncak kepalanya guna menenangkan namja manisnya.

.

.

TBC

.

.

UPDATE... Nah ini dah mulai flash back hubungan Haehyuk di masa lalu. Buat yang penasaran #EmangAda?Plak# sudah mulai bisa menebak kan ke mana nantinya ini berlanjut? Kekekeke...

Terima kasih untuk semua yang sudah review di chap kemarin. Mian jika tak bisa balas semuanya ne. #Bow

Harap maklum jika terdapat begitu banyak typo yang mengganggu.

See you next chap... ^_^