Disclamer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.
Warning: AU, OOC, Shounen-ai
Just Like Moon and Sun
"Salah satu diantara kami harus memenangkan pertarungan ini." Mikasa tampak serius dan mengacungkan pistolnya ke arah Rivaille.
"Aku tidak keberatan." ujar Rivaille yang mengacungkan pedangnya ke arah Mikasa.
"Mikasa, Rivaille?" gumam Eren.
Mikasa dan Rivaille saling memandang penuh kebencian satu sama lain, mereka tidak akan lengah dan bertarung dengan serius demi Eren yang mereka sayangi. Siapa diantara mereka yang lebih pantas bersama dengan Eren?
Rivaille terdiam dan menatap wajah Mikasa yang tampak serius itu, terlihat sekali aura kebencian disana. Rasanya ia ingin tertawa, entah menertawakan Mikasa yang tampak serius itu atau menertawakan dirinya yang seperti ini. Dirinya yang dulu mana mungkin rela bertarung demi memperebutkan orang yang ia sayangi. Dirinya yang dulu tidak sudi membuang waktu demi orang yang menghambat jalannya.
Tapi semua berubah karena Eren.
Karena Eren, Rivaille menjadi pribadi yang lebih lunak. Rivaille bisa menjadi orang yang seperti dulu, ketika ia masih dilimpahkan kasih sayang. Meski sosok dirinya sebagai penjahat tetap ia pertahankan karena ia butuh uang.
Uang? Satu benda itu dapat membeli apapun yang kita inginkan. Memang dengan uang semuanya bisa didapat. Tapi tentu saja uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Kebahagiaan Rivaille telah sirna dan begitu ia menemukannya dari sosok Eren, ia tidak ingin merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya. Ia tidak ingin masa lalu buruknya kembali terulang.
Flashback On, Rivaille's POV
Saat aku masih berumur 10 tahun dan tinggal dengan keluargaku, aku mengira semuanya akan baik-baik saja. Aku memiliki orangtua yang menyayangiku, aku pun menyayangi mereka. Aku mengira hidupku akan seperti ini untuk selamanya tapi ternyata tidak.
Di malam berdarah itu, kota tempatku tinggal menjadi tempat bagai neraka. Ada sekelompok penjahat yang datang dan membunuh semua warga kota. Aku tidak mengerti apa alasannya tapi aku harus lari dari tempat ini. Tidak ada lagi kedamaian di kota ini, semuanya menghilang bagai debu yang tertiup angin.
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keluargaku dibunuh oleh penjahat-penjahat itu, darah memenuhi tempat itu. Bukan hanya orangtuaku yang dibunuh tapi semua penduduk kota dan aku melihat mereka menyeringai ke arahku. Aku berusaha lari sekuat tenaga demi menghindari mereka. Aku tidak kuat harus melihat hal ini.
Selama aku berlari aku terus mendengar teriakan, tangisan dan permintaan tolong. Tapi pada nyatanya tidak ada seorangpun yang menolong kami. Kemanakah Tuhan disaat seperti ini? Apakah kami akan berakhir menyedihkan seperti ini?
Tiba-tiba aku merasa ada yang menahan tanganku, aku melihat ke belakang dan ternyata ada orang yang menahan tanganku. Aku berusaha melepaskan diri tapi cengkraman tangannya kuat sekali, aku sampai kesulitan untuk melepaskan diri. Tenaga bocah umur 10 tahun sepertiku memang tidak sekuat pria ini.
"Ini anak terakhir yang melarikan diri." ujar pria itu.
"Bawa saja dia. Kita bisa menjualnya bersama dengan anak-anak yang lain."
Aku terkejut mendengar ucapannya, pria itu memandangku dengan seringai yang mengerikan dan langsung mengikat tangan juga kakiku dengan borgol dan rantai. Sial sekali nasibku tertangkap di tempat seperti ini. Mereka langsung menarikku dan membawaku menuju sebuah tempat yang aku tidak tahu.
Apakah itu boleh kusebut sebagai kurungan? Aku dimasukkan ke dalam kurungan lalu dikunci dan dibawa ke dalam sebuah kereta kuda yang membawa beberapa kurungan dengan beberapa orang di dalamnya. Kulihat ada beberapa anak kecil dan gadis muda yang ditangkap. Apa mereka hanya mengincar kami? Apalagi kudengar mereka akan menjual kami. Memangnya kami barang yang bisa diperlakukan seenaknya?
Aku tidak bisa melepaskan diri dan hanya bisa memandang kesal ke arah orang-orang yang membawaku. Aku bisa mendengar tangisan dari anak-anak kecil dan gadis-gadis itu. Tentu saja mereka ketakutan dan merasa shock dengan apa yang terjadi. Meski aku terlihat tenang tapi bukan berarti aku tidak merasakan apa yang mereka rasakan. Aku juga merasa takut seperti mereka, tapi aku tidak bisa memperlihatkan bahwa aku takut. Rasanya aku tidak ingin bersusah payah melakukannya.
Aku hanya terdiam dan memeluk kedua lututku, rasanya kesal sekali aku tidak bisa menyelamatkan kedua orangtuaku. Aku tidak menyangka akan kehilangan mereka secepat ini, semua karena orang yang tiba-tiba masuk ke dalam kota dan menghabisi semua warga. Apa yang mereka bayangkan?
Tidak lama kereta kuda ini berhenti, aku mendengar langkah kaki dan melihat orang-orang itu yang mengeluarkan kami dari kurungan. Tapi mereka memegang kami dan mengajak kami masuk ke sebuah tempat yang gelap dan lembab. Mereka mulai menyalakan lampu minyak dan kulihat ada banyak penjara. Apakah kami berada di penjara bawah tanah?
'Tempat apa ini? Kotor sekali.' batinku.
"Kalian akan berada disini. Besok pagi satu per satu dari kalian akan kujual. Aku yakin di luar sana ada yang menginginkan kalian sebagai budak. Hahaha..."
Terdengar suara yang menyebalkan itu, suara tawa yang menertawakan kami. Aku muak mendengarnya. Aku melihat ada sekitar 10 pria dengan berbadan tegap yang memasukkan kami ke dalam penjara satu per satu. Aku melihat ada seorang gadis yang tidak ingin masuk ke dalam dan ditampar oleh pria itu.
"Kau harus menuruti kata-kataku! Dasar kau-" pria itu hendak menampar gadis itu lagi tapi tangannya di tahan oleh rekannya.
"Kalau kau melakukannya dia tidak akan membawa banyak uang. Jangan sampai dia terluka."
"Cih! Masuk sana!"
Aku melihat gadis itu diperlakukan dengan kasar dan mereka sudah selesai mengunci gadis-gadis itu di sebuah penjara. Lalu giliran mereka memasukkan kami para anak kecil ke dalam penjara yang bersebelahan dengan para gadis itu. Ada juga anak kecil yang menangis karena ketakutan, aku tidak mengenal siapa dia. Aku memandang benci ke arah pria yang memperlakukan kami seenaknya. Memangnya siapa dia sok berkuasa sekali.
Akhirnya mereka berhasil memasukkan kami dan aku masih menatap tajam ke arahnya. Aku melihat pria itu menyimpan kunci penjara dan memakaikannya seperti kalung. Bodoh sekali dia, jika aku berhasil menarik kunci itu aku akan melepaskan mereka semua. Mereka pergi meninggalkan kami di penjara bawah tanah ini.
"Hiks... Apa yang harus kita lakukan?" terdengar isak tangis seorang gadis di sebelah sana.
"Mereka akan menjual kita semua."
"Memangnya siapa mereka?"
"Kurasa mereka adalah penjahat yang paling ditakuti di kota sebelah. Mereka memang sering menangkap para gadis dan anak kecil untuk dijual dan dijadikan budak oleh penguasa yang tidak memiliki hati nurani. Aku pernah mendengar tentang mereka dari orangtuaku. Tapi sekarang mereka sudah..."
"Kejam! Ini terlalu kejam!"
Aku hanya terdiam mendengar kedua gadis itu mengobrol, sepertinya kami berhadapan dengan kelompok penjahat yang kejam dan senang sekali mengambil gadis-gadis serta anak kecil untuk dijual. Untung saja mereka tidak memakai gadis-gadis itu sebagai pemuas nafsu mereka, jika mereka melakukannya mereka bahkan lebih rendah dari sampah.
"Cih." decihku kesal.
Aku melihat tanganku yang diborgol dan di kakiku terdapat rantai, tidak mudah untuk melarikan diri dengan keadaan seperti ini. Aku melirik ke sekelilingku, hanya ada anak seusiaku atau yang lebih muda sedang menangis. Sepertinya semua berpikiran untuk pasrah dengan keadaan.
Tidak! Belum terlambat!
Belum terlambat untuk melarikan diri dari tempat ini. Aku langsung bangun dan menendang jeruji besi itu hingga menimbulkan bunyi yang berisik dari rantai di kakiku. Semuanya menoleh ke arahku dan menatapku dengan pandangan tidak biasa. Tapi aku tidak peduli, aku terus menendang jeruji itu dan seperti yang aku tahu itu tidak menghasilkan apa-apa. Kakiku terasa sakit sekarang karena aku berani melakukan tindakan tadi.
"Sial." umpatku.
"Hentikan saja usahamu yang sia-sia itu, kita tidak bisa keluar dari sini." terdengar suara gadis di penjara sebelah, suaranya tampak bergetar.
"Tidak mungkin! Pasti bisa! Kita pasti bisa keluar!"
Aku tidak mau menyerah begitu saja di tempat busuk seperti ini, apalagi merelakan diriku untuk dijual dan dijadikan budak. Tidak terima kasih. Aku harus bisa keluar dari sini, secepatnya.
Setelah itu kemanakah aku akan pergi?
Aku tidak punya tempat pulang sekarang. Tempatku pulang yang kukenal sebagai rumah sudah tinggal kenangan. Tidak ada orangtuaku yang akan menyambutku pulang, tidak ada senyuman hangat dari kedua orangtuaku.
Tidak ada, semuanya sudah hilang.
Semua yang berarti bagiku sudah dihilangkan dengan sekejap mata. Tuhan, kenapa harus aku yang merasakan kehilangan seperti ini? Kenapa Kau mengambil orangtuaku secepat ini? Aku bahkan belum memberikan mereka apa-apa, aku belum sempat untuk membahagiakan mereka.
Dimanakah Kau berada? Apa Kau mendengar doaku ini?
'Yang sudah meninggal tidak akan kembali.' batinku pelan.
Aku terdiam dan menundukkan wajahku, memeluk erat tubuhku dengan tangan ini. Aku berusaha bertahan tapi aku tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihanku. Aku hanya bisa menangis dalam diam, menangisi kematian orangtuaku yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri.
Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, kejadian semalam masih terbayang dengan jelas di benakku. Mengingat hal itu membuatku mual dan tidak nafsu untuk melakukan apa-apa. Aku terbangun dan melihat seorang gadis kecil yang mungkin seusiaku, ia memejamkan matanya dengan tenang.
Bagaimana bisa ia tidur dengan tenang setelah kehilangan orangtuanya? Tapi mungkin saja karena ia sangat lelah. Aku menghela napas dan melihat orang-orang yang kemarin menangkap kami datang untuk memberi makan. Tapi bisa kubilang itu tidak layak, mana mungkin satu orang hanya dikasih jatah makanan satu buah roti tanpa minuman.
"Ini." ujarnya yang memberiku satu roti itu.
"Apa kami tidak dapat minum?" tanyaku.
"Ah? Kau kira ini rumahmu? Makan saja itu!"
Menyebalkan. Kenapa orang-orang seperti ini bisa hidup di dunia? Apa orang-orang baik selalu dijajah oleh penjahat seperti mereka? Sepertinya teriakan pria itu membangunkan gadis kecil yang ada disampingku. Beberapa anak kecil yang ada dalam satu penjara denganku mulai makan tanpa banyak bicara.
Aku juga mulai makan tapi gadis kecil itu mendekatiku, aku menghela napas dan memberikan roti yang diberi oleh pria itu. Ia terdiam dan menatapku.
"Itu milikmu." ujarku.
"Terima kasih." jawabnya dan ia mulai makan.
Aku memikirkan bagaimana cara untuk lari dari tempat ini, tapi tidak menemukan caranya. Aku memperhatikan gadis kecil di sebelahku, ia memakai sebuah jepitan di rambutnya. Aku langsung menemukan ide dan menatapnya.
"Hei, bisa kau lepas jepitanmu itu?" tanyaku langsung dengan suara pelan.
"Eh?" ia tampak bingung.
"Aku menemukan cara agar kita keluar dari sini."
"Benarkah?"
Aku mengangguk saja, meski tangan kami terborgol tapi bukan berarti tidak bisa bergerak. Gerakan yang terbatas harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Gadis kecil itu melepas jepitan dan memberikannya padaku, aku menerimanya dan berusaha membuka borgol itu dengan jepitan. Pria-pria itu juga sudah tidak ada disini, sepertinya mereka sudah pergi.
Tanganku terus bergerak untuk melepaskan borgol ini, memang cukup sulit tapi aku harus bisa melakukannya. Aku terus mencobanya dan tidak lama terdengar bunyi dari borgol ini, sepertinya aku berhasil melepaskannya. Aku menggerakkan tanganku dan borgol itu jatuh.
"Berhasil." ujarku.
"Hebat!" ujar gadis kecil itu.
Beberapa orang tampak heboh melihatku yang berhasil terlepas dari borgol, aku juga melepaskan rantai di kakiku hingga sekarang badanku benar-benar terbebas dari belenggu ini. Aku juga melepaskan borgol dan rantai gadis kecil itu, karena dialah yang membawa jepitan ini.
"Terima kasih." ujarnya.
"Iya." jawabku.
"Hei, bagaimana cara melepaskan borgolnya?" tanya seorang gadis yang ada di sel sebelah.
"Dengan jepitan. Jika kalian memilikinya kalian bisa membukanya." ujarku lalu aku mulai berusaha melepas borgol yang ada pada anak-anak.
Di penjara kami ada sekitar enam anak dan aku berhasil melepaskan mereka, sekarang aku akan mencoba untuk membuka pintu sel yang mengunci kami. Aku tahu bahwa sekarang tempat ini berisik, banyak orang yang heboh dan saling berebut untuk melepaskan diri. Sebentar lagi aku berhasil membukanya dan akhirnya terbuka.
"Hebat sekali!" terdengar teriakan anak-anak itu.
Aku menatap mereka dan terdengar langkah kaki yang buru-buru mendekat tempat ini. Apakah kami ketahuan? Aku langsung menggenggam tangan gadis kecil sebayaku itu dan mengajaknya keluar dari sel ini.
"Kalian berisik sekali. Apa?!" pria itu terkejut melihat kami sudah keluar dan beberapa orang tampak tidak memakai borgol.
Aku langsung saja menarik tangan gadis kecil itu dan berlari meninggalkan tempat ini. Dia tampak terkejut tapi berusaha menyamakan langkahnya denganku. Demi hidup kami yang masih layak sebagai manusia kami harus berjuang untuk hidup, kami bukan barang yang bisa dijual seenaknya.
"Sial! Tidak akan kubiarkan kalian lolos!"
Aku mendengar suara pria itu tapi aku cuek saja, samar-samar aku mendengar bunyi tembakan pistol. Aku menoleh sejenak dan melihat pria itu menembak ke arah anak yang berusaha kabur lalu berusaha menembak kami. Aku berusaha menghindar dan merasa ada yang mengejar kami.
"Kamu tidak apa?" tanya gadis kecil itu.
"Kita harus keluar dari tempat ini!" teriakku.
Aku terus saja berusaha lari dan masih menarik tangan gadis kecil ini. Kenapa aku menyelamatkannya? Karena tanpa dia aku juga tidak bisa melepaskan diri. Aku kembali mendengar bunyi tembakan, aku berusaha menghindar tapi aku merasa genggaman tanganku mulai terlepas. Aku menoleh dan melihat gadis kecil itu tertembak.
"Ah?!"
Aku terkejut melihatnya yang tertembak di punggung. Tapi di saat terakhir itu aku melihat senyuman tipis darinya sebelum ia ambruk. Aku langsung saja berlari meninggalkannya. Aku tidak mungkin bisa membawanya denganku jika ia terluka.
"Sial! Kita belum menembak bocah itu."
Suara itu lagi, sepertinya ada sekitar dua orang yang ada dan berusaha menembak. Tapi aku berhasil bersembunyi. Aku menatap sekelilingku, gelap. Tapi kurasa ini aman. Aku melihat ke arah lain dan ada sebuah jendela. Aku langsung saja menendang jendela itu karena ingin cepat keluar, biar saja suara ini terdengar oleh mereka. Aku tidak peduli. Aku langsung keluar dari celah-celah jendela yang kutendang itu dan sudah ada di luar tempat itu. Aku melihat banyak orang yang berlalu lalang disini, sepertinya aku berada di keramaian kota.
'Kalau begini aku bisa menghilang dari mereka.' batinku.
Aku terus berlari dengan kencang dan kurasa sosokku tidak akan mudah ditemukan oleh mereka. Ini di keramaian kota dan banyak sekali polisi yang berjaga, sepertinya sedang ada festival atau apapun itu namanya. Aku terus berlari dan sampai di sebuah danau. Aku mengatur napasku, rasanya lelah juga terus berlari.
Aku memperhatikan kaki dan tanganku, ada darah dan juga seperti sayatan. Mungkin terkena pecahan kaca saat aku memecahkan kaca tadi. Aku menggunakan air itu untuk membersihkan luka. Rasanya perih tapi aku harus mengobatinya. Setelah itu aku terdiam dan menatap ke arah danau. Sekarang aku sudah mendapatkan kebebasanku tapi kemanakah aku harus melangkah?
Aku tidak ada tujuan.
Aku tidak tahu harus melangkah kemana. Tidak ada seorangpun yang akan menyambut kedatanganku, aku sendirian disini. Aku memegang lututku dan menatap hampa ke arah danau itu. Tidak ada yang tersisa dalam hidupku. Bahkan aku harus mengupayakan diri sendiri untuk melarikan diri.
Aku bangun dan memutuskan untuk berjalan, aku ingin mencari makanan. Rasa lelah dan lapar menjadi satu hingga membuatku kesulitan untuk bergerak. Aku melihat keramaian itu lagi, mungkin memang ada festival atau semacamnya karena banyak orang yang memadati tempat ini. Aku harus melakukan sesuatu demi mendapatkan makanan.
Mencuri?
Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak boleh mencuri, itu hal yang tidak baik. Tapi aku juga tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Dan aku benar-benar lapar juga haus. Siapa saja tolong aku.
Aku terus berjalan dan menabrak seseorang, aku terjatuh karena tidak memiliki tenaga lagi. Aku melihat sosok seorang wanita berkacamata dengan rambut abu-abu terang sebahu. Dia menatapku dengan tatapan sedikit bersalah.
"Ah? Kau baik-baik saja?" tanya wanita itu.
"I-iya." jawabku pelan.
Wanita itu membantuku untuk berdiri, ia memperhatikan penampilanku. Aku terdiam saja saat wanita itu menatapku, entah apa yang ingin ia katakan.
"Kau hanya sendiri saja? Dimana orangtuamu?" tanya wanita itu.
Aku terkejut mendengarnya, dia tidak salah bertanya itu padaku. Wajar, tapi entah kenapa aku merasa sakit mendengar pertanyaan itu. Orangtuaku tidak akan pernah kembali untuk menemuiku. Aku menundukkan wajahku.
"Mereka... sudah tewas dibunuh."jawabku.
"Ma-maafkan aku bertanya seperti itu," wanita itu meminta maaf dan menatapku. Aku juga menatapnya dalam diam. "Lalu, apa ada keluarga lain yang tinggal denganmu?"
"Tidak."
Wanita itu terdiam dan ia membelai puncak kepalaku. Kenapa ia melakukan itu? Aku merasa aneh dengan sentuhan wanita ini, tapi aku tidak membencinya. Rasanya seperti ibuku yang melakukannya.
"Kalau begitu apakah kau mau tinggal denganku? Memang aku hanya orang biasa saja tapi aku juga ingin merawatmu. Apa kau mau?"
Aku terdiam mendengar tawaran wanita ini. Kenapa ia berbuat seperti itu padaku? Belum ada satu jam kami bertemu tapi ia sudah seperti ini. Apa ia iba denganku? Aku bisa melakukan semuanya sendiri tapi apakah aku harus menerima tawarannya. Ia menggenggam tanganku dan tersenyum.
"Kalau kamu mau aku akan memberimu makanan. Apa kau lapar?"
"Iya..."
Ia tersenyum dan mengajakku pergi dari kerumunan ini. Entah akan dibawa kemana diriku ini, tapi aku merasa wanita ini bukan orang yang jahat seperti pria-pria itu. Aku merasa bahwa wanita ini memang berniat untuk menolongku.
.
.
.
Tidak lama kami sampai di sebuah rumah yang cukup sederhana, rumah kecil yang menurutku cukup nyaman. Wanita itu membuka pintu dan kami masuk ke dalam, suasana di dalam rumahnya memang sederhana. Ia mengajakku ke ruang makan.
"Silahkan kamu duduk, aku akan mengambilkan makanan untukmu." ujarnya.
Aku mengangguk dan duduk di kursi yang ada, tidak lama ia datang dan membawakan sebuah sup juga minuman. Aku menerimanya dan mulai makan, seketika rasa lapar dan haus yang kurasakan hilang. Apalagi makanan ini juga terasa enak.
"Maaf aku belum memperkenalkan diri, namaku Rico Brzenska. Siapa namamu?" tanya wanita bernama Rico itu.
"Rivaille." jawabku.
"Salam kenal, Rivaille. Ah, aku juga memiliki anak angkat yang aku asuh disini, dia ada di kamar. Nanti aku akan mengenalkanmu padanya."
Aku mengangguk pelan dan memakan sup ini hingga habis, setelah itu wanita ini mengajakku untuk menemui anak angkatnya yang berada di kamar. Wanita ini atau kusebut Miss Rico mengetuk pintu dan membukanya, aku melihat sosok gadis kecil berambut pirang yang sedang duduk di atas ranjang.
"Petra, mulai hari ini dia akan tinggal bersama dengan kita. Namanya Rivaille." ujar Miss Rico.
Gadis kecil bernama Petra itu menatapku dan tersenyum, senyuman yang manis. Tapi aku merasa aneh melihatnya duduk di atas kasur dan memakai selimut. Padahal menurutku hari ini cukup panas.
"Salam kenal, Rivaille. Namaku Petra." ujar Petra.
"Iya." ujarku pelan.
"Maafkan aku tidak segera bangun, aku masih sedikit pusing."
"Petra, kau jangan paksakan dirimu." Miss Rico langsung mendekatinya dan menyentuh kening Petra, seperti memeriksa kondisinya.
Apakah ia sedang sakit?
Mungkin saja, aku melihat wajah Petra yang tampak sedikit pucat. Sepertinya ia memang sakit, aku hanya berdiri di dekat pintu kamar ini. Miss Rico merawat Petra dan Petra tampak beristirahat. Lalu Miss Rico mengajakku keluar dari kamar ini dan melihat ke arah kamar sebelah yang kosong.
"Ini kamarmu, Rivaille. Kamu bisa tidur disini, ayo masuk dulu untuk melihat kamarmu." ujar Miss Rico dan ia mengajakku masuk.
Aku terdiam dan memperhatikan kamar ini, ada sebuah kasur dan lemari. Kamar yang sederhana tapi rapi dan bersih. Aku suka dengan suasana kamar yang seperti ini. Aku menatap ke arah Miss Rico dan mengangguk.
"Terima kasih Miss Rico, aku suka dengan kamar ini." ujarku.
"Syukurlah." Miss Rico tersenyum melihatku.
"Apakah Petra sedang sakit?"
"Begitulah, dia memang sering sakit. Sebenarnya aku sudah mengasuhnya sejak ia bayi karena orangtuanya membuang dirinya, aku menemukannya di depan rumahku. Jadi aku mengangkat Petra sebagai anakku dan berusaha merawatnya hingga ia sembuh. Tapi begitulah kondisinya, jika ia sembuh tidak lama ia kembali sakit."
Ternyata ada juga orang yang kehidupannya lebih rumit daripada aku. Dibuang oleh orangtua kandung? Rasanya pasti menyedihkan, tapi untung saja ia menemukan orangtua angkat seperti Miss Rico. Sepertinya Miss Rico sangat menyayangi Petra, aku bisa merasakannya.
"Aku akan merawat kalian berdua. Rivalle tolong jaga Petra ya. Aku mengandalkamu, karena kamu satu-satunya anak laki-laki di rumah ini." Miss Rico tersenyum dan membelai rambutku, aku mengangguk saja dan tersenyum. Wanita ini memang baik.
Apakah aku menemukan secercah kebaikan lagi?
Apakah kali ini aku bisa berharap bahwa hal ini tidak akan sirna? Aku ingin baik Miss Rico maupun Petra akan menjadi orang-orang yang selalu bersama denganku. Meski ini pertemuan pertama kami tapi aku merasa orang-orang baik seperti mereka tidak perlu dicurigai. Aku merasa beruntung bertemu dengan mereka.
Tapi waktu itu cepat sekali bergulir, tidak ada yang tahu nasib seseorang. Sudah lima tahun lamanya aku berada di rumah Miss Rico dan aku menganggapnya sebagai sosok ibu. Petra yang umurnya dua tahun lebih muda dariku kuanggap sebagai adik, tapi terkadang ada hal lain yang aku rasakan padanya.
Ia masih sakit-sakitan seperti dulu. Kondisinya memang lemah dan ia tidak bisa berada jauh dari rumah, jika memaksa ia akan pusing. Aku dan Miss Rico bergantian untuk menjaga dan merawat Petra, terkadang aku merasa Miss Rico terlalu memaksakan diri untuk merawat Petra padahal ia sendiri juga sibuk dengan pekerjaannya.
Sekarang aku menjaga Petra yang terbaring di kasur, tapi ia masih sempat tersenyum manis padaku. Aku ingat sekitar dua bulan yang lalu ia mengeluh sesak di bagian dada dan batuk, aku melihatnya batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku mendengar dari Miss Rico bahwa Petra mengalami tuberculosis dan sejak saat itu Miss Rico bekerja semakin keras demi membeli obat untuk Petra.
Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa menjaga dan merawatnya. Sesekali membantunya untuk meminum obat. Aku merasa kasihan melihatnya yang sakit seperti ini, apalagi sekarang ia menderita penyakit ganas seperti itu. Sejak seminggu yang lalu Miss Rico tidak ada di rumah karena ia bekerja di luar kota, entah kapan ia akan pulang. Di rumah hanya ada aku dan Petra, berdua saja.
"Kau istirahat saja, Petra. Jangan memaksakan diri." ujarku.
"Tapi Rivaille..." gumam Petra.
"Tidak ada tapi."
Petra mengangguk lemah dan ia menurut untuk istirahat. Aku memandang wajah gadis itu, ia memang terlihat cantik tapi sayang sekali kondisi tubuhnya lemah. Aku merasa beruntung bisa sehat tanpa menderita penyakit fisik seperti dirinya. Aku membelai rambutnya dan menatapnya, wajahnya memerah dan ia memilih untuk memejamkan matanya lagi.
Aku tidak tahu setiap kali melihat Petra ada hal aneh yang kurasakan padanya, aku ingin menjaganya dan melindunginya. Melihat dirinya yang terbaring lemah membuatku sedih, aku menggenggam tangannya lembut dan tersenyum tipis.
Ah? Apakah ini...cinta?
Aku telah jatuh cinta kepada Petra, gadis manis berambut pirang ini. Aku tahu mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu maka aku simpan perasaan ini dalam-dalam. Mungkin jika ia sudah sembuh aku akan mengatakan padanya perasaanku yang sebenarnya.
Saat aku sedang menjaga Petra aku mendengar bunyi pintu diketuk. Syukurlah Petra sudah tidur, aku keluar dari kamar Petra dan hendak membuka pintu itu. Mungkin saja Miss Rico sudah pulang dari pekerjaannya. Aku membuka pintu dan terkejut melihat sosok pria yang tidak aku kenal, pria itu berambut pirang dengan belah tengah dan ia memakai perban di tangannya. Sepertinya ia terluka tapi apa peduliku.
"Apakah kau Rivaille?" tanya pria itu.
"Iya, saya sendiri. Ada apa?" tanyaku.
"Maafkan saya telat memperkenalkan diri, nama saya Ian Dietrich. Saya adalah rekan kerja Rico Brzenska dan datang kemari untuk menyampaikan berita bahwa Rico sudah meninggal dalam kecelakaan sehari yang lalu."
"Eh?"
Kecelakaan? Miss Rico telah meninggal karena kecelakaan sehari yang lalu? Pria bernama Ian ini mengatakannya dengan wajah yang datar. Aku tidak mengerti dan menatap pria itu baik-baik, aku harap ia hanya bercanda.
"Itu tidak mungkin, Sir." ujarku.
"Ini kenyataan. Kemarin kami hendak pulang ke kota setelah selesai bertugas, tapi dalam perjalanan kereta kuda yang membawa kami berdua tidak melihat jalan dan terjatuh ke jurang. Aku memang merasa aneh dan segera saja melompat sebelum kereta kuda jatuh. Tapi naas bagi Rico dan sang pengemudi, karena mereka telat menghindar mereka meninggal." jelasnya.
"Tangan Anda terluka karena insiden itu?"
"Iya. Maafkan saya tidak bisa menyelamatkan Rico."
Aku terdiam mendengar ucapan pria ini, sepertinya ia tidak berbohong. Tangan kanannya yang terluka itu sudah menjadi bukti yang kuat bahwa indisen itu memang terjadi. Aku tidak menyangka Miss Rico yang telah menyelamatkanku dari kehidupan kelamku lima tahun yang lalu sekarang telah pergi meninggalkanku. Apakah orang-orang baik selalu kembali ke Tuhan secepat ini?
"Kau dan Petra hanya tinggal berdua saja. Jika kalian berdua butuh apa-apa bilang saja, saya akan sering mengunjungi kalian," ujar Sir Ian. "Saya permisi dulu."
Akhirnya Sir Ian pergi dari hadapanku dan aku hanya menatap punggungnya dengan pandangan datar. Aku tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu. Miss Rico sudah tiada, apa yang harus aku katakan kepada Petra nanti? Aku tidak bersedih tapi aku merasa suatu sudut di hatiku tidak puas dengan keadaan ini.
Kenapa orang yang baik selalu cepat dipanggil oleh Tuhan?
Apakah tugas mereka untuk berbuat baik sudah selesai? Aku tidak mengerti dan kurasa tidak ingin mengerti. Aku segera masuk dan akan memberitahu Petra tentang kondisi yang sebenarnya. Aku membuka pintu dan melihatnya yang sudah bangun.
"Kau sudah bangun. Ada hal yang harus aku katakan." ujarku.
"Apa itu?" tanya Petra.
Aku mendekatinya dan menggenggam tangannya erat. "Miss Rico... kemarin meninggal karena kecelakaan. Tadi temannya, Sir Ian Dietrich datang kemari dan memberitahuku."
Aku menatap wajah Petra, terlihat raut terkejut disana tapi tidak ada air mata yang gadis ini keluarkan. Ia tersenyum dengan wajah sendu dan membalas genggaman tanganku. Senyuman sendu itu bisa menggambarkan kesedihan yang berusaha ia tahan.
"Begitukah? Miss Rico sudah... Ini memang takdir dan kita tidak bisa mengubahnya." gumam Petra.
"Petra? Kukira kau akan-" ujarku sedikit terputus.
"Aku memang sedih tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Seseorang yang sudah meninggal tidak akan kembali di hadapan kita sekeras apapun kita memanggil namanya. Aku tahu suatu saat nanti aku pasti akan ditinggalkan, seperti kedua orangtuaku yang meninggalkanku."
"Tapi Miss Rico meninggalkanmu karena kecelakaan, bukan ia yang menginginkan hal itu!"
"Aku tahu, aku tahu itu..."
Aku terdiam melihat Petra dan kulihat air mata mulai mengalir dari kelopak matanya, sepertinya kesedihan yang ia tahan sejak tadi mendesak keluar. Siapa yang tidak sedih kehilangan seseorang yang menyayangimu sepenuh hati? Miss Rico yang sudah mengasuh Petra sejak bayi dan menganggap gadis itu sebagai anaknya dan mereka saling menyayangi, wajar saja ia merasa sedih.
Aku juga demikian, tapi aku tidak bisa menangis seperti Petra. Bukan air mata yang ingin aku keluarkan tapi kekesalan yang entah apa. Aku tidak mengerti kenapa orang-orang baik selalu cepat dipanggil Tuhan untuk menghadap-Nya? Apakah Ia tidak ingin melihat kami bahagia? Kenapa tidak dicabut saja nyawa para penjahat-penjahat di luar sana? Bukankah itu lebih baik?
Kami masih saling bergandengan tangan, aku memejamkan mataku sejenak. Apapun yang terjadi aku akan melindunginya sebagai adik juga gadis yang aku cintai. Mungkin bukan saat yang tepat untuk mengatakannya jadi aku akan mengatakannya di lain hari. Aku membuka mataku dan menatap matanya, pandangan kami saling bertemu.
"Karena sekarang hanya ada kau dan aku, jadi kita harus saling bertahan hidup." ujarku.
"Iya. Mohon bantuannya." ujar Petra sambil tersenyum.
Tapi beberapa hari telah berlalu sejak kematian Miss Rico dan kehidupan kami menjadi lebih sulit, kami mulai merasakan krisis keuangan. Tidak ada uang untuk membeli makanan, obat Petra juga hampir habis dan harus membeli yang baru, banyak hal lain yang harus dipikirkan. Ternyata hidup itu sulit juga seperti ini, aku sudah tahu itu. Tapi memikirkan beban seperti ini sendiri rasanya sangat berat.
Dan aku mulai melakukan hal yang ketika lima tahun yang lalu tidak ingin kulakukan, mencuri. Tidak ada pilihan lagi. Omongan Sir Ian waktu itu kurasa hanya basa-basi saja, lagipula ia tidak pernah datang lagi untuk melihat kami. Aku tidak butuh kata-kata manis darinya, aku akan berusaha sendiri demi hidupku dan Petra.
Bermula dari mengutil makanan yang dijual di toko-toko yang ada. Awalnya hanya karena aku sangat butuh makanan, ketika aku mengambil makanan tidak ada yang tahu bahwa aku telah mencuri. Jadi aku langsung melarikan diri ke rumah. Petra sempat bingung melihatku pulang membawa makanan tapi aku mengatakan padanya bahwa aku bekerja.
Inilah awal aku mulai melakukan sebuah kebohongan lalu kututupi lagi dengan kebohongan, begitu pula seterusnya.
.
.
.
"Petra, kenapa kau tidak bilang padaku bahwa obatmu sudah habis?"
Aku tidak habis pikir dengannya. Aku melihat ia terbatuk terus dan kondisinya semakin memburuk, aku mulai mengecek obat-obat yang ada dan terkejut melihat sudah tidak ada isi di dalam botol obat itu. Kenapa ia tidak memberitahukan hal sepenting ini padaku?
"Aku tidak ingin merepotkanmu." ujar Petra.
"Kau tidak akan sembuh kalau seperti ini! Aku akan melakukan apa saja demi kau agar bisa sembuh. Kumohon, jangan bertindak seperti itu."
"Tapi-"
"Ini demi kebaikanmu, Petra. Aku janji akan segera membeli obat yang baru. Aku pergi dulu."
Aku melangkahkan kaki keluar dari kamarnya dan hendak menuju kota. Aku memang mengatakan akan membeli obat untuknya tapi biaya untuk membeli obat itu mahal, dan kami tidak punya uang sebanyak itu. Selama ini aku hanya mencuri makanan dan tidak melakukan apa-apa lagi.
'Aku ini mengerikan.' batinku.
Saat aku berjalan aku melihat seorang wanita berparas cantik dengan memakai pakaian yang mewah, ada banyak perhiasan yang berkilauan padanya. Kalung, cincin dan juga anting dipakai oleh wanita itu. Aku memperhatikannya dan entah kenapa aku memikirkan hal lain yang bisa membawa uang lebih banyak.
"Wah, seperti biasa ia selalu saja pamer dengan rakyat disini."
Aku mendengar suara seorang pria yang berkomentar tentang wanita itu. Aku mendekatinya dan ingin menggali informasi lebih dalam mengenai wanita yang aku lihat tadi.
"Memangnya dia siapa, Sir?" tanyaku.
"Ah, kau tidak tahu? Dia itu orang yang paling kaya di kota kita, rumahnya itu mewah sekali. Kau pasti akan tahu bahwa itu rumahnya dilihat dari betapa luasnya rumah itu, hanya dia saja satu-satunya yang memiliki rumah seluas itu di kota ini."
"Begitu rupanya."
"Tapi wanita itu sombong karena merasa dirinya paling kaya disini. Memang ia memiliki usaha berlian tapi kurasa tidak usah sesombong itu."
Aku terdiam mendengar ucapan pria ini, tanpa ia sadari ia telah memberikan banyak informasi untukku. Wanita itu yang entah siapa adalah targetku. Aku tidak akan mundur lagi demi membeli obat untuk Petra dan membiayai kehidupan kami agar menjadi lebih baik.
"Saya pamit dulu, Sir. Maaf sudah mengganggu Anda."
"Tidak apa. Kalau sudah besar jangan jadi seperti wanita itu yang sombong ya nak."
Aku tersenyum tipis mendengarnya dan segera melangkahkan kakiku untuk pergi. Sepertinya bukan hal yang buruk untuk mencoba sesuatu yang baru. Aku tidak peduli apa yang terjadi, ini semua demi kehidupan kami.
.
.
.
Malam telah tiba, lebih tepatnya sekarang tengah malam dan aku merasa Petra sudah tertidur, memang kondisinya tidak terlalu baik maka dari itu aku harus cepat mendapatkan uang demi membeli obat. Aku meninggalkan rumah dan ingin menuju rumah wanita tadi. Memang ini pertama kalinya aku mencoba untuk mencuri perhiasan, aku tidak membawa persiapan yang berarti. Hanya kantung untuk membawa hasil curian dan juga sebilah pisau.
Tidak lama aku telah sampai dan benar kata pria tadi siang bahwa rumah ini sangat luas, sepertinya tidak ada penjagaan di rumah seluas ini. Pagar yang ada juga tinggi, tapi tidak menghambatku karena aku tinggal memanjat lalu melompat ke dalam. Dan aku sudah berada di dalam pagar, tidak ada alasan untuk kabur. Aku harus melakukan hal ini.
Aku terus berjalan dan mencongkel pintunya dengan peniti yang aku bawa, bisa dibilang kejadian lima tahun lalu itu berarti untukku. Aku bisa memakai bermacam alat untuk membuka kunci seperti ini, tidak lama pintu terbuka dan aku masuk ke dalamnya.
Di dalam rumah ini sangat mewah, berbagai macam benda-benda ada disini. Kurasa vas yang ada diatas meja itu cukup mahal karena memiliki motif yang rumit. Aku tetap waspada dan berusaha mencari kamar wanita ini untuk mencari perhiasan, ia pasti menyimpannya disana.
Aku menaiki tangga perlahan dan membuka pintu satu per satu, belum juga menemukan kamarnya. Tidak lama aku menemukan kamarnya dan kulihat wanita itu sedang tidur di ranjangnya. Perlahan tapi pasti aku masuk ke dalam kamarnya tapi sedikit terkejut saat melihat wanita itu bangun.
"Siapa kau?" tanya wanita itu langsung.
Aku terdiam dan tidak memperdulikannya, tapi bohong kalau aku tidak gugup. Aku belum berhasil mendapatkan perhiasannya dan ia telah bangun. Sial sekali nasibku ini. Ia turun dari ranjang dan mendekatiku lalu menatapku dengan wajah yang entah apa artinya, tapi aku melihat senyuman yang meremehkan dari wajahnya.
"Sepertinya ada pemuda kecil yang tersesat ke rumahku ya. Apa ada yang bisa kubantu? Tapi bagaimana kau bisa masuk kemari? Apa kau seorang pencuri?" tanyanya yang langsung menuduhku.
Aku tidak menjawab dan menatapnya datar, mana mungkin seorang penjahat mengatakan dirinya adalah penjahat. Di saat terdesak seperti ini tidak ada cara lain untuk melakukan dengan kekerasan. Aku mengeluarkan pisau yang aku sembunyikan dan langsung menusuknya tepat di jantungnya, wanita ini berteriak kencang lalu ambruk. Aku terdiam dan melihatnya yang telah tewas.
"Ah? A-aku telah..."
Entah kenapa melihatnya tewas membuat seluruh badanku gemetaran. Entah rasa apa yang aku rasakan, seperti ketakutan akan ketahuan tapi di satu sisi ada bagian dari diriku yang tidak keberatan dengan hal ini. Rasanya seperti puas saja.
Ah, aku telah sama dengan para penjahat.
"Ahahaha..."
Aku langsung tertawa dan menatap sosok wanita itu yang telah tewas. Aku menertawakan diriku yang telah sama dengan para penjahat itu. Aku langsung mencabut pisau itu dan menyimpannya, aku akan membuangnya di tempat lain. Lalu aku mulai mencari-cari perhiasan miliknya, ia menyimpannya di lemari pakaian.
"Ada banyak sekali." gumamku.
Cincin, kalung, gelang, batu permata semuanya lengkap. Orang ini memang sombong atau ia sengaja menyimpannya di dalam sini, aku tidak peduli dan mengambil semuanya. Setelah itu aku pergi dari rumah ini dan membiarkan sosok wanita itu tergeletak disana. Kurasa dengan ini aku bisa membeli obat untuk Petra dan membiayai hidup kami.
"Wah, darimana kau mendapatkan semua ini, nak?"
Aku terdiam dan membiarkan pria itu mulai menghitung dan menukar semua perhiasan yang kuambil dengan uang. Tentu saja aku tidak menukarkan hasil curianku di kota tempatku tinggal, aku pergi ke luar kota demi menukarkan semuanya. Tidak lama ia sudah selesai menghitung dan memberikan sekantung berisi koin-koin emas yang memiliki harga tinggi.
"Kau beruntung bisa mendapatkan barang bagus seperti ini. Ini hasilnya. Kalau kau memilikinya datang lagi, nak."
Aku mengangguk saja dan pergi meninggalkan tempat ini, aku harus segera pulang dan membeli obat. Rasanya tidak enak juga sudah dua hari meninggalkan Petra sendiri di rumah, memang jarak dari kota ini ke kotaku butuh waktu satu hari dengan berjalan. Tapi tidak apa karena ada saja orang yang aku tumpangi.
'Dengan ini ia pasti bisa meminum obatnya lagi.' batinku.
.
.
.
Keesokan harinya aku telah tiba dan membeli makanan juga obat, dengan ini kami bisa menghidupi diri kami untuk beberapa minggu ke depan. Aku masuk ke dalam rumah dan sedikit terkejut melihat kondisi Petra yang tampak lemas.
"Petra!"
Aku langsung mendekatinya dan memeriksa kondisinya. Apa kondisinya semakin memburuk? Ia menatapku dan tersenyum tipis. Aku tidak kuasa melihatnya berwajah seperti itu, wajah yang menurutku memaksakan diri untuk tersenyum.
"Aku sudah pulang membawa obat. Diminum ya." ujarku.
"Tapi, kondisiku semakin parah. Sudah tiga hari aku kehabisan obat dan artinya harus mengulang lagi dari awal. Aku tidak mempermasalahkannya selama kau ada disini. Jika besok aku harus meninggal pun tidak apa."
"Jangan bicara seperti itu!"
Ia terkejut melihatku berteriak, aku mengeluarkan obat dan sudah menyiapkan air putih untuknya. Ia meminum obatnya dan aku keluar dari kamarnya untuk menyiapkan makanan. Tidak lama aku kembali dan melihatnya yang berbaring di kasurnya.
"Kau tidak perlu khawatir lagi tentang apapun, kau hanya perlu sembuh." ujarku.
"Bagaimana dengan-"
"Aku sudah bekerja dan bisa membeli obat untukmu, makanan juga. Kau jangan khawatir."
Lagi-lagi aku berbohong tapi ini demi kebaikannya.
Petra mengangguk lemah dan ia memejamkan matanya. Aku menggenggam tangannya dan menatap wajahnya. Wajahnya terlihat pucat tanda bahwa ia masih sakit, belum ada gejala ia akan sembuh. Apalagi dia telat meminum obat, berarti aku harus semakin berusaha untuk mendapatkan uang demi dirinya.
'Aku tidak peduli jika harus mencuri demi dirinya.' batinku.
"Rivaille, aku merasa senang kau peduli denganku." ujar Petra tiba-tiba.
Aku terdiam saat ia bicara seperti itu, ia tampak tersenyum. Aku menatapnya dan membiarkannya meneruskan ucapannya.
"Aku merasa tidak sendirian lagi, kau ada disini. Terima kasih kau mau ada disampingku." lanjutnya.
"Kau memang tidak sendiri." ujarku.
"Iya. Kita berdua sekarang, aku berterima kasih padamu."
"Petra, ada hal yang ingin aku katakan padamu sejak lama."
"Eh? Apa itu?"
Aku terdiam dan berusaha mengatur napasku, aku tidak bisa mundur sekarang. Aku akan mengatakan apa yang selama ini aku rasakan padanya, aku tidak bisa selamanya memendam perasaan ini. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku...
"Aku mencintaimu, Petra." ujarku.
"Eh?" ia tampak bingung mendengar ucapanku.
"Iya, aku mencintaimu sebagai seorang pemuda. Apa aku bisa berada di sisimu untuk selamanya?"
Petra terkejut dan wajahnya sedikit memerah tapi aku melihatnya tersenyum sendu. Apa arti di balik senyumannya itu? Apa ia akan menyampaikan sesuatu yang tidak ingin kudengar? Mungkin saja, tapi aku harus mendengarkannya.
"Terima kasih untuk perasaanmu tapi maafkan aku Rivaille, aku tidak memikirkanmu sampai seperti itu." ujar Petra.
"Tidak apa. Aku hanya ingin mengatakan apa yang aku rasa saja."
"Lagipula... Aku ini sakit-sakitan dan bisa meninggal kapan saja, kau tidak harus bersama denganku. Suatu saat nanti kau akan menemukan orang yang lebih baik lagi, yang akan mencintaimu apa adanya dan rela melakukan apa saja demi dirimu."
Aku terkejut mendengar ucapannya, apalagi ia mengatakannya dengan wajah yang santai seolah-olah tidak ada beban. Apa ia memang tidak memiliki rasa yang sama denganku? Aku tidak masalah tapi rasanya sedih juga mendengar kata-kata itu. Ah, konyol. Aku merasa sedih karena cinta ya?
"Tapi kau hanya perlu sembuh, urusan itu bisa lain kali kita bahas lagi."
Ia tersenyum dan mulai beristirahat. Aku hendak meninggalkannya di kamar sendiri dan tersenyum tipis melihatnya. Setidaknya aku sudah mengatakan apa yang selama ini ingin aku katakan, sudah tidak ada beban lagi di hatiku. Aku hanya perlu mendapatkan uang untuk membuatnya sembuh. Sepertinya tidak buruk juga mulai menjalankan profesi baruku.
Aku memang berhasil mencuri dan membuat kota sedikit gempar dengan adanya pembunuhan sekaligus pencurian. Aku memberi petunjuk bahwa yang melakukan teror di kota adalah Dark tapi tidak ada polisi yang bisa menangkap sosokku sebagai Dark, mereka tidak tahu siapa pelakunya. Sehingga aku terus melakukan kejahatan lagi dan lagi.
Aku berhasil mendapatkan uang untuk mengobati Petra tapi takdir berkata lain. Dua minggu setelah aku mulai mencuri Petra telah meninggal. Dokter yang merawatnya juga tidak bisa berkata apa-apa lagi karena memang sudah saatnya Petra untuk pergi dari dunia ini. Aku hanya terdiam dan sekarang menatap nisan dimana Petra telah dimakamkan.
Sekali lagi, orang yang aku sayangi kembali diambil oleh Tuhan.
Kenapa selalu aku yang merasakan hal ini? Kenapa harus aku? Keluargaku, Miss Rico dan Petra sudah meninggalkanku untuk selamanya. Apakah ini jawaban untukku ataukah musibah? Apakah Tuhan tidak tahu bahwa aku menderita selama ini? Selalu saja orang-orang yang baik padaku akan pergi meninggalkanku untuk selamanya.
"Apakah aku tidak berhak menerima kebaikan?" gumamku.
Aku teringat dengan kata-kata Petra bahwa suatu hari nanti aku akan menemukan orang yang mencintaiku dan rela berbuat apa saja demi aku. Rasanya aku mau tertawa, apakah orang seperti itu ada? Setelah aku melakukan yang terbaik untuk mereka dan akhirnya aku ditinggalkan. Lagipula sekarang aku telah berubah dari diriku yang dulu. Aku tidak ada bedanya dengan penjahat yang busuk itu.
"Aku akan pergi dari sini."
Aku meninggalkan nisan ini dan hendak pergi ke kota lain. Aku tidak memiliki tujuan yang jelas tapi aku akan terus berkelana dan melakukan pencurian. Aku melakukannya demi mendapatkan uang untuk menghidupi diriku dan untuk "seseorang" yang Petra sebutkan itu, seseorang yang akan mencintaiku apa adanya itu.
Aku merapatkan jubah hitam yang kupakai dan melirik ke arah pedang yang aku bawa. Sejak mulai melakukan pencurian, aku sudah membeli pedang ini dan memakainya untuk membunuh targetku. Membunuh dan mencuri adalah hal yang dapat membuatku tenang. Mungkin terdengar gila karena aku melakukan ini tapi dengan membunuh target, aku merasa beban yang kutanggung selama ini terlepas. Seolah-olah menyiksa mereka adalah pelampiasanku pada kebencianku terhadap dunia ini.
Dunia yang busuk, dunia yang hanya dipenuhi orang jahat.
Dan aku termasuk dari orang-orang jahat itu. Karena menjadi orang baik tidak akan membawa perubahan apa-apa kecuali berakhir dengan kematian yang bahkan tidak ingin dirasakan. Aku tidak ingin tewas, aku ingin mencari jawaban dari pertanyaanku.
Apakah orang yang Petra katakan itu benar-benar ada?
Apakah orang jahat selalu menguasai orang yang baik?
Apakah dunia ini busuk?
Pertanyaan ini terus bermain di benakku dan aku berusaha menemukan jawabannya. Aku akan tetap menjadi Dark dan terus melakukan kejahatan ini. Apakah ada seseorang yang bisa menghentikan diriku untuk melakukan kejahatan? Minimal membuatku jatuh cinta pada orang itu.
Flashback Off
Rivaille melihat sosok Mikasa yang menatapnya tajam, tatapan mata itu seperti siap untuk membunuh jika berani mengganggunya. Rivaille tidak memperdulikan Mikasa dan ia melirik ke arah Eren yang ada disampingnya. Eren tampak terkejut dan pandangan mata mereka bertemu, hijau dan hitam yang saling memiliki arti tersendiri.
"Rivaille, kumohon jangan bertarung ya. Aku, aku tidak ingin melihatmu terluka." ujar Eren langsung.
"Adikmu ini yang menantangku dan aku tidak keberatan." ujar Rivaille.
"Menyingkir darinya Eren. Akan kubawa kau bersamaku." ujar Mikasa.
Eren terkejut melihat Mikasa yang tampak sangat serius, itu artinya Mikasa tidak akan menyerang dengan kekuatan yang biasa. Mikasa akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membunuh Dark. Membayangkan Rivaille dan Mikasa yang akan bertarung lagi membuatnya merasa sedih.
"Pergi dari sini Eren, cari tempat aman." ujar Rivaille.
Eren terdiam dan ia melangkahkan kakinya perlahan untuk mundur, sebenarnya ia ingin mencegah pertarungan mereka tapi ia juga tidak ingin terkena serangan mereka. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk menghentikan mereka. Mikasa mulai menembak Rivaille dan Rivaille berhasil menghindar. Tapi tidak sampai disitu, Mikasa memberikan tembakan bertubi-tubi ke arah Rivaille.
"Kau tidak akan bisa menghindar!" teriak Mikasa.
Rivaille tidak peduli, ia memotong semua peluru itu dan Mikasa terkejut melihatnya. Kemampuan Dark memang tidak bisa dianggap remeh. Mikasa mengisi ulang pelurunya dan ia terkejut melihat Rivaille sudah berada di hadapannya, Rivaille hendak menghunuskan pedangnya ke arah bahu Mikasa tapi Mikasa menahannya dengan pistolnya. Rivaille sedikit terkejut karena tidak menyangka Mikasa berhasil menghindari serangannya.
"Hoo, tidak buruk juga." gumam Rivaille dan ia menjauh dari Mikasa.
"Cih!" Mikasa tidak terima dan ia kembali menembak Rivaille.
Mikasa tidak berhenti menembak dan Rivaille selalu berusaha untuk menghindar atau kembali memotong peluru-peluru itu. Ketika Mikasa lengah, Rivaille langsung melempar pedangnya dengan kencang. Ia memperkirakan pedang itu akan mengenai Mikasa, tapi Mikasa menangkisnya dengan pistol. Tapi karena tindakannya itu tangan Mikasa sedikit terluka.
Mikasa terlihat kesal dan Rivaille langsung mengambil langkahnya untuk mengambil pedangnya dan hendak menusuk Mikasa. Sepertinya Mikasa menggunakan pistolnya sebagai pertahanan jika Rivaille hendak menusuknya. Mereka berdua terus bertarung tanpa henti.
Eren yang melihat kedua orang yang ia sayangi bertarung itu membuat hatinya miris. Ia tidak tega melihat kekasihnya dan adik angkatnya seperti ini, ia menyayangi mereka dan tidak ingin melihat mereka berdua terluka.
"Mikasa, Rivaille tolong berhenti!" teriak Eren.
Tapi tampaknya teriakan Eren dianggap angin lalu oleh Mikasa dan Rivaille, mereka berdua tampak sangat serius dengan pertarungan dan hendak mengalahkan musuh satu sama lain. Mereka memiliki tujuan yang sama yaitu tidak akan menyerahkan Eren begitu saja. Mereka merasa bahwa mereka lebih pantas di sisi Eren.
"Akan kubuat kau menyesal, Dark." ujar Mikasa yang mencari celah untuk menembak Rivaille.
Rivaille terdiam dan ia juga berusaha menyerang Mikasa, masing-masing dari mereka berusaha mencari celah untuk mengalahkan lawan. Eren menatap pertarungan mereka dan berharap secepatnya pertarungan ini berhenti tapi tanpa ada yang terluka. Naif memang, tapi itulah yang Eren inginkan.
'Eh?' batin Eren.
Ia terkejut saat melihat Rivaille yang menatap ke arahnya, entah apa yang Rivaille pikirkan. Rivaille lengah karena sedikit menoleh ke arah Eren, Mikasa memanfaatkan kesempatan itu dan berusaha menembak Rivaille. Eren yang melihatnya terkejut dan ia langsung berlari ke arah mereka.
"Rivaille!" teriak Eren yang berusaha mendekati Rivaille.
"Eren?!" Mikasa panik melihat Eren yang mendekati Rivaille padahal tadi ia sudah mengeluarkan tembakan dan jika Eren tidak mendekat otomatis peluru itu akan mengenai Rivaille.
Semuanya terjadi dengan cepat, hitungan detik itu bagai hitungan menit atau jam saking berputar terlalu lambat. Mikasa dan Rivaille tidak menyangka bahwa Eren akan mendekat saat mereka sedang bertarung dan sedetik kemudian badan Eren terkena peluru dari Mikasa. Eren berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan dan menatap ke arah Rivaille.
"Ri-Rivaille... Syukurlah, kau...tidak apa." gumam Eren yang tersenyum dan ia langsung ambruk tepat di hadapan Rivaille.
"EREN!" Mikasa langsung berteriak dan mendekati Eren yang tergeletak itu sedangkan Rivaille menatap Eren dalam diam.
'Tolong katakan kalau ini bohong.' batin Rivaille.
To Be Continued
A/N: Halo semuanya, akhirnya aku sempat update lagi dan terima kasih kepada SeraphelArchangelaClaudia, Kunougi Haruka, Kim Arlein 17, Keikoku Yuki, Nacchan Sakura, Sedotan Hijau, Azure'czar, Novula dan Hasegawa Nanaho yang sudah memberi review di chapter sebelumnya... ^^
Untuk Azure'czar: Aku belum tahu sampai chapter berapa fic ini tamat tapi setidaknya sudah ada konsep hingga ending, ditunggu saja sampai chapter berapa tamatnya...^^
Khusus chapter ini ada moment Rivaille x Petra, padahal aku sendiri tidak terlalu suka dengan mereka, biasa saja tapi menurutku untuk masa lalu Rivaille lebih cocok jatuh pada Petra daripada Hanji. Rivaille awalnya memang straight tapi berubah sejak ada Eren, mungkin karena pesona Eren sebagai uke terlalu kuat... XDD
Akhir kata terima kasih kepada kalian semua dan mungkin saja ada silent reader yang membaca fic ini, sekali lagi terima kasih.
Sampai jumpa di chapter berikutnya...^^
