Ayyy akhirnya apdet setelah berbulan-bulaaan 8'^D
Doh maap banget gak apdet-apdet karena sekolah coretprocrasjugacoret, dedicated buat semua yang masih nungguin ini uvu
Possible OOC.
Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei
"Eh, tau gak?"
"Karma-kun, mau main teka-teki?"
Si surai merah segera mengalihkan pandangan dari smartphone nya ke gadis beriris amethyst di depannya. Mata bulat besar dibalik kacamata itu selalu berhasil menangkap perhatiannya, dia tersenyum.
"Hmm~ Oke, oke, boleh saja."
Gadis itu tersenyum ceria, "Kemanapun aku membawanya dia selalu tersenyum. Apa yang aku bawa?"
Karma pura-pura berpikir keras— walaupun sebenarnya dengan otak seorang Karma Akabane,dia sudah bisa langsung menebak jawabannya. Tapi pasti seru kan melihat orang yang ditanya bingung saat menjawab teka teki? Senangkan hati gadismu, sebagai seorang gentleman itulah yang Karma lakukan.
"Aku menyerah~"
Wajah Okuda jelas terkejut dengan pernyataan menyerah Karma, "Padahal ini masih level mudah." Karma hanya cengengesan. "Jawabannya foto! Biasanya orang akan selalu tersenyum kan kalau di foto."
"Hmm, jadi foto toh jawabannya. Jadi kalau aku bawa fotomu berarti aku bisa bawa senyummu yaa," godanya. Yang digoda langsung memerah dan buru-buru mencari teka-teki lain, menggemaskan, pikir Karma.
"E-errr, oke selanjutnyaaa… Bangunan apa yang punya banyak cerita?"
Yang ini terlalu mudah, bisa-bisa Karma terlihat bego sekali jika dia tidak bisa menjawabnya. Dia menyeringai, yang ini akan dia jawab dengan meminta bonus.
"Perpustakaan," jawabnya santai. "Pasti benar heeh."
"I-iya benar." Okuda menggembungkan pipinya, "Sudah kuduga, yang tadi juga kamu pura-pura gak bisa aja kan?"
"Ehh? Tadi itu beneran kok." Karma menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sebisa mungkin terlihat lesu. "Ada perempuan di depanku yang terlalu manis sampai otakku tidak bekerja. Aaahh, memang sial ya."
"Norak, Karma-kun!"
"Ahahahah," tawanya puas. "Yah, omong-omong karena tadi jawabanku benar tentu saja aku minta sesuatu."
Okuda melebarkan matanya, "Eh sesuatu?" Dia meraba-raba kantongnya tapi hasilnya nihil, tidak ada yang bisa dia berikan kepada Karma—
—Dan tentu saja bukan itu juga yang Karma harapkan.
"Tenang saja Manami, aku bukannya butuh barang," jelasnya saat melihat gadis itu kebingungan mencari-cari. "Sebagai gantinya, coba nyanyi."
"EEHHH!?"
Senyuman si surai merah bertambah lebar karena reaksinya. Okuda terus-terusan menolak sambil menggeleng cepat, tapi wajah merah Okuda justru membuat Karma lebih semangat menggodanya. Jahat? Kalau melihat binatang kecil yang lucu juga semua orang ingin menggodanya kan?
Tapi yang ini sih khusus buat Karma.
"A-aku gak bisa nyanyi, enggak, pokoknya enggak Karma-kun!"
Okuda masih menolak dengan keras, kini giliran Karma yang menggembungkan pipinya. "Ya sudah, cium aku."
Permintaan itu dia ucapkan sambil bertingkah ngambek seperti bocah. Ya gusti, Okuda menahan facepalm,mana ada bocah yang minta dicium.
Okuda menghela napas, "Baiklah, aku pilih err n-nyanyi." Karma menyeringai lagi, Okuda memejamkan matanya dan mulai menyanyi.
Sesuai dugaannya, suaranya merdu. Karma sama sekali tidak mengerti kenapa dia menolak tadi. Perlahan nyanyian Okuda membuatnya mengantuk, tapi dia harus tetap terjaga agar tidak ketinggalan satu nada pun. Setelahnya Okuda selesai menyanyi dan Karma bertepuk tangan.
"Encore~ Encore~"
"Ngggaaaakk." Gadis itu kembali menggembungkan pipinya, Karma tertawa lagi.
"Mau main permainan lain?"
"Asal hukumannya bukan nyanyi."
"Oke, oke hmmph ahahah."
Rekaman yang dia ambil secara diam-diam tadi cukup untuk jadi pengantar tidurnya untuk beberapa lama.
"Tadi pas (numpang) denger lagu di hp Karma, aku kayak denger rekaman suara yang familiar terus judul rekamannya 'My Angel'."
"SELERA NAMA KARMA NORAK BANGET ANJIR!"
"SUGINO, NUNDUK LO CEPETAN KALO GAK MAU MATI BUJANG."
.
.
.
.
"Hey, sudah dengar belum?"
"T-tunggu dulu, aku sama sekali belum dengar soal ini."
Okuda spontan beranjak dari kursinya saat melihat papan tulis. Disana tertulis nama-nama yang akan memerankan tokoh dalam drama kelas nanti.
'The Little Red Riding Hood'
Si tudung merah : Okuda Manami
Serigala : Terasaka Ryoma
Nenek : Sumire Hara
Pemburu : Nagisa Shiota
Etc.
Matanya melebar saat melihat namanya tercantum sebagai pemeran Si Tudung Merah.
Jelas sekali itu pemeran utama dan Okuda sama sekali tidak ahli tampil di depan umum.
"Okuda-san, ini sudah ditentukan melalui lotre saat kau tidak masuk nyuaah, sayang sekali ya n-nurufufu." Koro-sensei tertawa gugup sambil menautkan tentakelnya. "T-tapi jangan khawatir, kau pasti bisa Okuda-san! Sensei akan membantumu!"
Okuda tetap tidak tenang, apalagi saat membayangkan nanti dia akan ditonton banyak orang. Dia melirik dengan isyarat minta tolong ke belakang, tepatnya kearah seseorang bersurai merah yang sedang bermain game di hp nya— Karma.
Karma yang peka, melirik ke depan lalu menyunggingkan senyum. "Uwaah, Manami kau dapat peran utama! Tenang saja, aku akan mendukungmu di kursi paling depan."
"K-Karma-kun, kau tidak keberatan kan?"
"Kenapa, sensei? Aku tidak ada masalah kok."
Karma menjawab santai danbenar-benar terlihat tidak keberatan. Okuda menghela napas sedikit kecewa, dia memutuskan untuk pasrah.
Akhirnya setelah berulang kali latihan, hari untuk tampil datang juga. Drama berjalan dengan baik berkat kesungguhan mereka saat berlatih, termasuk Okuda. Sekarang sudah sampai dimana Si Serigala memakan Nenek dan berpura-pura menjadi dirinya.
Si tudung merah berjalan mendekati si 'nenek' yang berbaring di tempat tidur.
"Nek, kenapa telingamu sangat besar?"
"Agar bisa mendengarmu lebih jelas, sayang."
Deg.
Suara ini terlalu familiar di telinganya, Okuda punya firasat kalau ini bukan Terasaka tapi dia mengabaikannya.
"Nek, kenapa tanganmu sangat besar?"
"Tentu saja," si serigala beranjak dari balik selimut. Tapi ini bukan orang yang seharusnya memerankan serigala. Dia berambut merah dengan seringai khas terpampang jelas. "Untuk membawamu pergi dari sini dengan mudah."
Dengan cepat Karma menggendong Okuda di bahunya, seperti bagaimana penjahat menawan putri. Semua penonton terlihat bingung— bukan hanya penonton, kelas 3-E juga terlihat bingung karena kemunculan Karma.
Sebelum pergi dia menghadap para penonton, "SETELAHNYA SI SERIGALA MENCULIK SI TUDUNG MERAH DAN MEREKA HIDUP BAHAGIA SELAMANYA AHAHAH DAAH~."
Karma berlari sambil menggendong Okuda melewati pintu keluar aula lalu menjatuhkan diri di rerumputan sambil terengah-engah. Setelah beberapa saat mereka tertawa bersama.
"Apa-apaan kamu… Yang lain tadi beneran bingung tau!"
"Hee, aku cuma membawa pergi perempuan yang kuinginkan. Serigala itu pasti selalu berusaha mendapatkan mangsanya kan." Dia tersenyum jahil lalu meraih tangan Okuda dan mengecupnya, "Atau kau lebih suka diperlakukan seperti putri dibanding tawanan?"
Okuda memukul lengannya pelan dan mereka masih tertawa bersama. Sesekali mengacaukan sesuatu rasanya tidak buruk juga.
"Katanya ada yang mengunci Terasaka di kamar mandi loh!"
"SIAPA AJA TOLONG BANTU GUE SANTET KARMA."
"TERASAKA, GAK BOLEH MAIN SANTET NYUAAH!"
"BERISIK SENSEI, AKU SUDAH LELAH. BUNUH SAJA AKU DI RAWA-RAWA."
.
.
.
.
"Ehh,denger deh.."
Karma Akabane punya rahasia.
Rahasia yang benar-benar menjadi aibnya, kalau terbongkar mampus aja nasib image nya yang terkenal tampan, kece, pintar, dan tanpa cacat.
Oh iya, sadis juga.
Rahasianya tersimpan di smartphone nya, karena itu dia tidak pernah meminjamkannya ke siapa-siapa. Pernah sekali Terasaka mengambilnya diam-diam, untungnya dia sudah memasang password sehingga si bodoh itu tidak bisa membuka apa-apa.
Tapi setelahnya kekesalan Karma belum hilang juga, sampai dia membuat keset dengan gambar muka Terasaka. Buat penghilang stress, katanya.
Oke, kembali ke masalah rahasia. Sebenarnya rahasia Karma Akabane adalah—
Galge.
Tenang, dia gak main eroge kok, anti malah. Lagipula dia juga gak asal main, dia cuma main kalau salah satu pilihan perempuannya ada yang mirip Okuda. Ciyus, cuma kalau ada yang mirip Okuda aja dia mainin.
Tapi ya kan sama aja kalau ketauan pastinya di cap aneh-aneh.
Emang aneh sih.
Karma baru saja kembali dari kamar mandi saat dia melihat Okuda sedang memainkan hpnya, dia meneguk ludah.
Oke, tenang Karma. Masih ada password jadi pasti dia gak bisa buka apa-apa. Eh, tunggu sebentar—
—Okuda kan sering liat dia unlock hp nya.
Mampus.
Karma melangkah perlahan, cengiran khas terpasang untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Maaanami, Itu.." Dia menunjuk ke hp yang dipegang Okuda, "Milikku, kan?"
"O-ohh, maaf Karma-kun, tadi ini ada di meja terus bosen jadi aku iseng mainin."
Asalkan itu Okuda Manami, dia gak akan marah walaupun gadis itu memainkan hp nya tanpa izin. Masalahnya cuma, apa saja yang sudah dilihatnya.
"Err, terus password nya gimana?"
"Ahh, aku jadi hapal karena sering liat!" Okuda tersenyum, "Oh iya, tadi aku nemu sesuatu yang menarik!"
Dobel mampus.
"A-apa?"
"Ternyata kamu nyimpen hal yang memalukan juga ya, Karma-kun.." Dia tertawa kecil, sedangkan jarinya mencari-cari sesuatu lagi di hp Karma.
Memalukan…. Apa lagi hal memalukan yang dia simpan di hp nya—
Selain galge.
"Iiiiiniii diaaaaaa—"
"JANGAAANN!"
Teriakan spontan Karma saat Okuda memperlihatkan layar hp nya membuat Okuda kaget. Ternyata yang diperlihatkan Okuda bukan galge-nya, tapi foto memalukan hasil editan yang dikirim Itona. Oh, dia lupa hapus toh.
Karma bernapas lega,
padahal sama aja bikin malu.
"K-kamu kenapa, Karma-kun? Aku kelewatan ya? Maaf, Karma-kun kan gak biasa keliatan memalukan jadi aku—" Okuda terlihat panik, matanya berkaca-kaca. Dia pasti berpikir kalau Karma marah. "M-maaf ya."
Melihatnya, Karma tak kuasa menahan senyum. Dia mengelus-elus kepala Okuda lalu menariknya ke dadanya. Karma bisa merasakan Okuda bingung, tapi tidak mungkin Karma melepaskannya sekarang, terlalu cepat.
Dia berpikir sejenak soal galgenya, mungkin akan dia hapus saja semuanya.
Karena dia sudah punya yang asli.
"Waktu itu kan gue ngedit fotonya Karma terus gue kirim ke dia. Berani kan gue."
"Tona, gue pulang duluan ya mau nyari bunga."
"Hah buat apaan—"
"Buat pemakaman lo."
.
.
.
.
"Hey, sudah dengar belum?"
Tanggal 25 Desember, Natal sekaligus ulang tahun seorang yang berambut merah—
—Karma Akabane.
Hari itu, kelas 3-E sudah menyiapkan pesta natal sekaligus merayakan ulang tahun Karma di kelas mereka. Tentu saja Karma sudah menolaknya, sumpah, padahal Karma sudah merencanakan kencan berdua. Tapi Koro-sensei terlalu cepat menyiapkan semuanya, kalau sudah siap semua gak mungkin bisa ditolak kan?
Pestanya berlangsung menyenangkan, bohong kalau Karma bilang dia tidak senang. Mereka semua menikmatinya, termasuk Okuda. Tapi seringkali Karma melirik ke arah Okuda, dan yang dilirik tertangkap sedang melihat ke arahnya juga.
The feeling is mutual.
Layaknya telepati, Okuda bisa langsung mengerti apa yang dipikirkan Karma.
Karma segera minta izin dengan pura-pura pergi ke toilet, sedangkan Okuda bilang ke Kayano dan yang lain kalau dia ingin mencari udara segar. Dengan itu, mereka berdua berhasil kabur dari pesta tadi untuk sejenak.
Mereka berjalan bersebelahan menuruni gunung. Okuda beberapa kali meniup-niup tangannya, mengerti, Karma menarik salah satu tangan Okuda dan memasukannya ke kantung mantelnya— tipikal scene shoujo manga yang berpotensi menyebabkan diabetes.
Sesampainya di sebuah taman, mereka berhenti untuk duduk di bangku taman.
"Hey, Karma-kun.." Okuda memulai setelah beberapa saat dalam keheningan, "Setelah ini selesai kita akan berbeda jalur ya?"
Ah, benar juga. Setelah mereka lulus, ada kemungkinan mereka berbeda sekolah. Karma menoleh kea rah Okuda, dia tersenyum, tapi terlihat sekali kalau dia khawatir.
Karma tidak menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum dan menggenggam tangannya semakin erat, berusaha meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Sebenarnya Karma juga tidak ingin memikirkan itu sekarang.
"Karma-kun, salju!"
Dia hanya ingin menikmati saat-saat ini.
"Katanya Karma-kun dan Okuda-san pergi keluar saat pesta natal dan tidak kembali sampai pesta selesai loh!"
"Bukannya koro-sensei juga ikut ngilang?"
"NURUFUFUFU, SENSEI BERHASIL DAPAT BAHAN NOVEL LAGI LOOH~"
.
.
.
TBC?
Balasan review dari review ke-100 :
Re-yuu : KENAPA BAHAGIA NYA CAMPUR SEDIH? Gapapa ya biar netral /APA/ Makasih review dan tanggapannya www
Adera1896 : BAGUS DONG KALO BIKIN MELEK /GAK/ Kapan sih si setan merah ga modus doohh :'D siap-siap buat gombalan yang lebih norak lagi nantinya
Yuuki : Makasih xD Akhirnya ini apdet juga yah :'D
Selingkuhankuh :IYA AKHIRNYA ADA BABY'S BREATH, MAKASIH IDE IDE DARI LO BEB :* Bagus kan berarti yha, kebiasaan gue gombal ada manfaatnya /G
Kona-nyan : Makasiih hshshs / Kalo buat slight-slight kapal yang lain entah deh mungkin bakal muncul random di chapter-chapter tertentu secara goib/?
faecallia : Indah yak mimpinya, coba tidur di kelas pas pulang sekolah mungkin bisa mimpi nikah ama Karma juga /GAKLAH/ Kamu ga dapet restu jadi anaknya :^(
KA aka CarolMegumi : gatau harus merasa berdosa atau enggak tapi saya seneng. Enggak bukan gegara kamu dikira gila,suer, tapi gegara kamu fangirling abis baca fic ini. Maap ya apdetnya lambat :'D
Aruchaner : Iya apa sih yang engga buat kamu /SKSDLO/ apalah arti malam minggu :'D Akhirnya ff ini apdet lagi ya abis berbulan-bulan
Kurosawa Azusa : Ga ada balesan buat lo. /DIHAJAR
Syifa-chan : Iya nih sampe telat apdet berbulan-bulan 8'D
Daisatsu : Makasih, ini apdetannya xD
nyan-himeko : Karma saya yang ajarin gombal jadi di chap-chap selanjutnya dia juga bakal gombal norak /JANGAN/ makasiih
Yamashita Aruka : /kasih obat diabetes/ IYA KARMA EMANG LOPELOPE DEH POKOKNYA
Neemarishima : Iya saya juga cekikikan kok kalo baca review kalian /YHA/ Tugas bikin surat udah kayak ajang cari jodoh 8'D Sini sini biar tak usap air matamu /siap tisu
shianata55 : /pegangin biar ngeplai nya ga jauh-jauh/ tengkyuuh
Akari Hikari : Doh makasih udah suka fic ini / hints nya diusahain deeeehh pankapan ya /DIBUANG
Kirarachama : Iya mau baca kok cerita kamu, tapi bacanya dimana qwq
Lamiela 'Aiko' Lila : Seneng deh kalo bisa bikin ngakak xD /YHA/ makasiiiihh
cieru cherry : Boleh boleh aja kok www doain aja authornya gak coretprocrasmulucoret kena writerblock x'D /FI
Kyra Kazuya : /kasih kumis kucing /buat obat diabetes /GAK / iya makasih cyiin
Hikaru Kisekine : Iya ya ini akhirnya apdet lagi 8'DD
Sekiaan, reviews are loved
Salam kapal armada
