Secret Admirer
Summary
Menjadi secret admirer bukan hal yang buruk, walaupun cukup menyakitkan. Berkali kali mencoba berpindah hati, tetap saja tidak ada yang sesuai di puzzle hati, selain dia. Kyungsoo! Let's move on! Huh... i can't.
Rate : M
Cast : KAISOO
Other cast : Chanbaek
Genre : Romance, Humor, Hurt
YAOI, Boys Love
Don't Like, Don't Read
Happy Reading
Chapter 7—
.
.
.
.
.
.
[PREVIOUS]
"Kyungsoo-aah..." ujar Sehun melalui sebuah microphone membuat Kyungsoo gelagapan setengah mati karena beberapa teman sekolah yang mengenalnya pun langsung menengok ke arah Kyungsoo. Dan, tepat saat nama Kyungsoo disebut, Jongin mencapai lantai lapangan dengan kakinya dan mulai melepaskan tali yang terikat di perutnya, Kyungsoo terus memandangi Jongin.
"would you be mine?" ujar Sehun lagi membuat orang orang ramai bersorak kegirangan, tapi Kyungsoo tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Jongin. Jongin bahkan tak tertarik sedikitpun pada sesuatu yang ramai tersebut, jangankan ikut ingin tahu 'apa yang terjadi', Jongin bahkan tak menoleh sedikitpun. Kyungsoo benar benar ingin menitikkan airmatanya,
bagaimana bisa kau setidak peduli itu Jongin-aah? lirihnya dalam hati.
Kyungsoo benar benar malu sekarang, ia sunguh ingin menolak Sehun, tapi pasti akan sangat menyakitkan bagi Sehun jika ditolak didepan orang banyak. Tapi jika Kyungsoo mengatakan iya, apa itu tidak menyakitkan bagi Jongin? Kyungsoo merasa frustasi, ia terus saja memikirkan bagaimana perasaan Jongin, padahal bisa saja Jongin memang tidak peduli sama sekali.
Jongin terus berjalan menuju ruang ekskulnya, tapi dalam beberapa detik, Jongin sudah keluar lagi membawa tas dan menuju motornya. Jongin pergi, tanpa sepatah kata.
Kyungsoo tak sanggup lagi menahan airmatanya, dengan cepat Kyungsoo berlari meninggalkan lapangan tanpa peduli bagaimana perasaan Sehun dan bagaimana pula orang orang menyorakinya. Kyungsoo keluar dari gerbang sekolahnya dan terus berlari sejauh mungkin sambil menangis.
"Apa kau benar benar tidak menyukaiku, Jongin-aah..."
.
.
.
.
.
.
Secret Admirer
.
.
.
.
.
Aku baru mengerti rasanya sesakit ini mencintai tanpa kepastian
Menantinya peduli, entah sampai kapan...
Sejak saat itu, Kyungsoo memilih untuk diam. Ia tahu ia telah menyakiti hati Sehun, tapi pikirnya, cinta seperti apa yang bisa ia berikan pada Sehun jika semua cinta yang ia punya sudah ia berikan pada Jongin?
Kyungsoo tak keluar kamar seharian setelah menangis tak karuan dipinggir jalan. Walaupun Sehun terus menghubunginya, tapi tak sedikitpun Kyungsoo hiraukan. Eomma dan appanya pun berulang kali memanggil dan mengetuk pintu kamarnya untuk sekedar mengajak Kyungsoo makan, tapi Kyungsoo terus berteriak mengatakan bahwa ia tidak mau keluar kamar.
.
.
.
.
Cukup sulit bagi Kyungsoo pada akhirnya harus memasrahkan Jongin untuk tidak dekat dengannya lagi. Kyungsoo tidak tahu siapa yang salah, apa presepsinya yang salah karena terlalu berlebihan dalam menanggapi sikap Jongin? atau Jongin yang salah karena telah memberi harapan palsu? ah ani ani, Kyungsoo tahu bahwa pastilah dirinya yang ke-geer-an, Jongin itu memang pada kenyataannya tidak menyukainya, pikir Kyungsoo.
"kau mau tahu siapa yang salah?" tanya Baekhyun setelah Baekhyun ditelepon eommanya Kyungsoo untuk mengunjungi anaknya yang sedang frustasi beberapa hari itu.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya,
"apa menurutmu Jongin menyukaimu?" tanya Baekhyun lagi,
"baekhyun-aah, kau akan membuatku menangis lagiiii..." rengek Kyungsoo sambil memeluk bantal miliknya,
"Kyungsoo-aah..." panggil Baekhyun kemudian mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Kyungoo diatas kasur, Baekhyun merangkul sahabat mungilnya itu, Kyungsoo diam tak menjawab,
"kenapa kau sulit sekali sih menentukan perasaan? aku sudah bilang, pilih salah satu, Jongin atau Sehun. Tapi kau terus dekat dengan Sehun, aku tahu mungkin saja kau sudah menganggap Sehun sebagai sahabat, tapi perasaan Sehun? ia pasti akan tetap berharap padamu karena kau terus menanggapinya, dan Jongin? tentu saja dia akan menganggapmu sudah bahagia dengan Sehun." omel Baekhyun membuat Kyungsoo menangis lagi sambil menenggelamkan kepalanya pada bantal yang ada didalam pelukannya.
"mian aku malah mengomelimu, tapi kau pernah tau sebuah cerita? persis sepertimu, orang itu diantara dua orang yang menyukainya, yang satu cuek, dan yang satu lagi agresif. Tapi, karena ketidakmampuannya dalam menentukan pilihan dan perasaannya, ia malah tidak mendapat satupun dari kedua orang itu" ucap Baekhyun kemudian memeluk erat Kyungsoo yang semakin terisak karena ucapan Baekhyun. Baekhyun bukan berniat jahat, tapi ia ingin sahabatnya menyadari kesalahannya, bagi Baekhyun, lebih baik memaparkan kepahitan daripada harus berpura pura manis menghibur sahabatnya. Walaupun menyakitkan, tapi itulah yang harus Kyungsoo ketahui dan sadari.
.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian,
Entah dapat ilham darimana, Kyungsoo akhirnya mau lari pagi sendirian disekitar rumahnya di hari minggu. Kyungsoo sudah bertekad merubah beberapa kebiasaan untuk membiasakan diri dengan kegiatan yang lebih baik menjelang beberapa bulan depan menuju kuliahnya. Kyungsoo menghentikan langkahnya didepan sebuah minimarket untuk menyeduh kopi susu hangat dan bersantai sebentar. Kyungsoo menarik nafasnya dalam dalam sambil menatap ke depan,
"ujian dan kuliah, Fighting! Kyungsoo-aah kau pasti bisa!" ucap Kyungsoo dengan suaranya yang kecil untuk sekedar menyemangati dirinya sendiri sambil tersenyum.
Kyungsoo tahu, sudah saatnya ia harus benar benar fokus memikirkan kuliahnya dan bagaimana masa depannya. Masa depan? baiklah, untuk masa depan yang itu... Kyungsoo pikir ia harus sedikit menyerah dan merelakan perasaannya. Kyungsoo tidak menyangka bahwa pada akhirnya, ia tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Jongin sejak kejadian itu. Kyungsoo sempat terpuruk, dan jatuh sedalam dalamnya. Tapi bagaimanapun ia harus segera bangkit lagi walaupun beberapa waktu yang lalu Kyungsoo melihat Jongin dekat dengan seseorang melalui media sosialnya. SAKIT? TENTU SAJA!
Kyungsoo yang paham betul bagaimana Jongin, merasa ada yang berubah pada pria idamannya itu, Jongin yang awalnya tak pernah menanggapi orang lain, membalas chat orang orang yang mendekatinya, atau bahkan sekedar memberikan love di instagram mereka, Jongin tidak pernah melakukannya. Jongin sangat dingin, dan itulah mengapa Kyungsoo menganggap Jongin bersikap lebih pada dirinya, tapi sekali lagi, Kyungsoo harus mengingatkan dirinya kembali bahwa mungkin saja itu hanyalah arti kedekatan dari sebuah persahabatan.
Kyungsoo akhirnya pasrah saat tahu Jongin dekat dengan seseorang dan bahkan ia sendiri sudah tidak pernah berbincang lagi dengan Jongin walau sepatah kata saja.
From: Sehun
'kau dimana? nanti sore kita ke toko buku, ya'
To: Sehun
'iya'
Ya, Kyungsoo mengikuti perkataan Baekhyun dengan baik kali ini, ia sudah memilih salah satu yang tepat untuknya.
Kyungsoo melangkahkan kakinya keluar dari minimarket untuk kembali pulang ke rumahnya, tiba tiba... Kyungsoo melihat seseorang tengah jatuh diantara kerumunan orang dipinggir jalan, Kyungsoo berlari menghampiri. Kyungsoo menelusup masuk dari kerumunan orang orang tersebut dan mendapati seseorang tanpa sebelah kakinya yang sempurna jatuh tersungkur dibawah, tongkatnya tergeletak disampingnya. Wanita itu berteriak meminta semua orang menyingkir dan menjauh dari tubuhnya sambil menangis, Kyungsoo menjongkokkan dirinya dan melihat wajah wanita itu,
"Ahjumma...?" Kyungsoo membelalakkan matanya karena terkejut, ia langsung mendekati tubuh itu dan memegang bahu wanita yang sedang menangis didepannya, wanita itu menoleh ke arah Kyungsoo dengan pipinya yang basah. Saat itu juga orang orang yang mengerubunginya langsung pergi setelah Kyungsoo meminta mereka untuk pergi.
"ahjumma gwaenchana?" teriak Kyungsoo panik membuat wanita itu semakin terisak sebelum akhirnya memeluk erat tubuh Kyungsoo.
Kyungsoo membelalakkan matanya lagi karena bingung, apa yang telah terjadi pada wanita yang telah melahirkan pria tersayangnya itu? batinnya. Kyungsoo terus memeluk tubuhnya saat wanita itu semakin terisak didalam pelukannya. Buru buru Kyungsoo menghentikan taksi yang lewat untuk mengantar wanita yang ternyata adalah eommanya Jongin itu.
Kyungsoo rasanya ingin ikut menangis melihat keadaan eommanya Jongin walaupun jujur saja ia tidak tahu apa apa lagi mengenai Jongin dan keluarganya, Kyungsoo memberikan bahunya untuk membiarkan eommanya Jongin tidur disampingnya setelah menangis cukup lama tanpa menceritakan apapun pada Kyungsoo.
Kyungsoo mencoba menelepon Jongin tapi Jongin tak menjawab,
"EOMMA?!" teriak Jongin saat mendapati Kyungsoo susah payah menggendong eommanya yang masih tertidur didepan pintu rumahnya. Jongin buru buru memindahkan tubuh eommanya itu ke dalam pelukannya kemudian membawanya masuk kedalam kamar, Kyungsoo mengikutinya. Jongin membaringkan eommanya yang sudah tertidur lelap kemudian menyelimuti tubuh lemah itu.
"kau bertemu dimana dengan eomma?" tanya Jongin sambil berjalan mengantar Kyungsoo keluar.
"hmm.. dipinggir jalan saat aku keluar dari minimarket" jawab Kyungsoo dengan gugup, jujur saja, walaupun sudah berbulan bulan tidak pernah berbincang lagi, bahkan mungkin bertemu hanya satu atau dua kali dan tentu saja tidak saling menyapa, Kyungsoo masih saja merasa canggung di samping Jongin.
"gomawo..." ucap Jongin lirih sambil menghentikan langkahnya didepan teras rumahnya. Kyungsoo memejamkan matanya, susah payah ia menahan degup jantungnya untuk sekedar menanyakan apa yang terjadi pada eommanya Jongin, bagaimana kabarnya sekarang, kabar Taeoh dan juga appanya? Kyungsoo menguatkan hatinya untuk sebentar saja merubah kembali hatinya dan berusaha bersikap layaknya seorang sahabat,
"jongin-aah..." panggil Kyungsoo setelah baru saja menoleh pada Jongin yang berdiri disampingnya, Jongin ikut menengok ke arahnya kemudian berdeham,
"hm?"
"sebenarnya... apa yang terjadi dengan eommamu?" tanya Kyungsoo dengan gugup.
Jongin tak langsung menjawab, ia diam dan menunduk sebentar,
"eomma disandera sekumpulan orang saat rumahku mengalami perampokan, kemudian eomma didorong hingga jatuh dari tangga rumah"
"JINJJAAA?" teriak Kyungsoo spontan karena terkejut, Jongin hanya mengangguk.
"kapan?"
"sudah lama, sejak lima bulan yang lalu. Tapi eomma masih terus frustasi sampai sekarang, ia bahkan tadi keluar rumah sendirian tanpa izin dengan appa atau denganku."
"ne.. aku mengerti perasaannya. Pasti sangat menyakitkan tidak bisa bebas berjalan lagi seperti dulu"
"iya... ditambah lagi, eomma pasti merasa kesepian harus diam dirumah sendirian dan tidak bisa pergi kemana mana."
Kyungsoo mengangguk dengan raut khawatirnya, belum sempat Kyungsoo berbicara lagi, tiba tiba Taeoh datang dan berlari dari pintu pagar rumah Jongin setelah diantar pulang oleh mobil jemputan sekolahnya,
"KYUNGSOOO HYUNGGGGG!" teriak Taeoh sambil berlari menuju Kyungsoo setelah melihat Kyungsoo yang tengah berdiri disamping Jongin sambil tersenyum menyambut Taeoh, Taeoh langsung memeluk tubuh Kyungsoo dan memintanya untuk menggendong tubuh mungil itu,
"TAEOHHH-YAAA? Kau sudah sekolah sekarang, hm?" tanya Kyungsoo setelah Taeoh baru saja mencium pipinya, Taeoh mengangguk kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Kyungsoo.
"Hyung temani aku mengerjakan pr yaaaaa" pinta Taeoh pada Kyungsoo dengan manjanya,
"belajar dengan hyung saja, kasihan Kyungsoo hyungnya mau pulang Taeoh-yaaa..." ejek Jongin pada Taeoh yang sudah memanyunkan bibirnya,
"SHIREO! Kyungsoo hyung harus menemani Taeoh!" Jongin dan Kyungsoo tertawa karena Taeoh semakin memanyunkan bibirnya dan semakin mengeratkan pelukannya pada Kyungsoo, Jongin mengusak rambut Taeoh sambil tertawa sebelum akhirnya membiarkan Kyungsoo membawa Taeoh kedalam kamar dongsaengnya itu.
.
.
.
Jongin masuk ke kamarnya setelah mengantar Kyungsoo masuk kedalam kamar Taeoh. Taeoh sepertinya benar benar merindukan Kyungsoo, ia tak sedikitpun melepaskan Kyungsoo keluar dari kamarnya, bahkan meminta Kyungsoo juga menemaninya tidur siang setelah mengerjakan beberapa pr nya. Jongin sesekali masuk dan ikut bercanda, tapi tak lama kemudian diusir lagi oleh Taeoh, sampai akhirnya, Jongin datang lagi setelah tak mendengar suara bising dikamar adiknya itu, Jongin membuka pelan pintu kamar Taeoh dan mengintip, ia mendapati Taeoh tertidur didalam pelukan Kyungsoo yang juga sedang tertidur membelakanginya. Jongin tersenyum tipis,
.
.
.
.
Kyungsoo terkejut saat mendapati tubuhnya terbangun dikamar orang lain, ia melihat Taeoh didepan tubuhnya yang masih setia memeluknya. Pelan pelan Kyungsoo melepaskan tangan Taeoh dari pelukannya kemudian ia membangunkan tubuhnya dan keluar dari kamar Taeoh.
Kyungsoo mencari cari keberadaan Jongin, tapi belum sempat Kyungsoo mengetuk pintu kamar Jongin yang berada didepan kamar Taeoh, Jongin keluar dari kamarnya,
"eoh? kau sudah bangun? kau mau langsung pulang?" tanya Jongin,
Kyungsoo mengangguk,
"mianhae, aku tidak sengaja tertidur dikamar Taeoh." ucap Kyungsoo tidak enak.
"gwaenchana~~" Jongin tersenyum,
"kau tahu tidak, aku bahkan belum mandi.." bisik Kyungsoo pada Jongin membuat Jongin tertawa kecil dan mereka tertawa bersama sebelum akhirnya berjalan keluar rumah Jongin,
Tapi, sepertinya Kyungsoo tak ingin berpisah dari Jongin. Kyungsoo mencoba mencari berbagai topik percakapan agar bisa berbincang lagi dengan pria yang masih melekat dihatinya itu,
"Jongin-aaah..." ucap Kyungsoo sambil menghentikan langkahnya ditempat mereka berbincang tadi pagi, dan hampir seperti dejavu, Jongin ikut menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kyungsoo,
"kau... hmm... aku lihat kau sedang dekat dengan seseorang di media sosialmu.." ucap Kyungsoo susah payah, dan lagi lagi berpura pura bersikap layaknya sahabat biasa.
Jongin terlihat berpikir,
"dengan siapa?" tanya Jongin balik,
"ah molla~ kan kau yang sedang dekat, mana aku tahu..." jawab Kyungsoo dengan gaya santainya.
"aaahh itu~~~~" jawab Jongin tiba tiba setelah mengingat sesuatu,
"ani... itu teman temanku yang melakukannya, setelah rumahku mengalami perampokan beberapa bulan lalu, dan eomma diamputasi, aku cukup frustasi. Aku tidak fokus dalam kegiatan voli ku, aku sering absen ikut naik gunung, dan teman temanku pikir aku perlu seseorang untuk menemaniku" jawab Jongin santai sambil tertawa, tapi Kyungsoo terus mencermati perkataan Jongin, dan kini ia khawatir apa kelanjutan dari perkataan nya,
"tapi... aku pikir percuma saja. Aku tidak tertarik, bahkan jika kau melihat aku mengirim pesan pada orang lain di media sosialku, itu bukan aku, itu kerjaan teman temanku, hehe" Jongin terus tertawa kecil disela sela perkatannya.
Kyungsoo tersenyum,
"aaah~~ pantas saja, aku pikir kau yang dulu bukan seperti itu hehehe, kalau benar itu kau, aku lebih suka Jongin yang dulu" ucap Kyungsoo sambil tersenyum kecil dan megangguk ngangguk pelan.
"memangnya... kau menyukai aku yang seperti apa?" tanya Jongin membuat jantung Kyungsoo berdegup kencang, Kyungsoo rasanya ingin terbang hanya karena kalimat yang baru saja Jongin ucapkan,
Kyungsoo tertawa kecil sebelum menjawab,
"aahh itu... tentu saja aku lebih suka kau yang dulu~ Jongin yang cuek, dingin, pendiam, tidak pernah menanggapi orang lain yang mendekatinya, yaaa... begitu~~ hehehehe..." Kyungsoo tertawa memaksa di akhir kalimatnya, Jongin tersenyum ke arah Kyungsoo,
"okay! kalau begitu aku akan menjadi seperti itu..." jawab Jongin sambil tersenyum, tentu saja, apa lagi yang akan dilakukan Kyungsoo selain tersenyum juga karena hatinya berbunga bunga mendengar jawaban Jongin. Kyungsoo pikir tidak ada yang berubah pada Jongin, tapi sayangnya... ia lupa... kalau ia... sudah memilih Sehun...
"eodiseo?" tanya Sehun saat Kyungsoo baru saja mengangkat teleponnya,
"wae? aku dirumah Baekhyun, sebentar lagi pulang" ucap Kyungsoo dengan santai,
"bohong. aku telpon eommamu dan dia bilang kau kerumah Jongin dulu tadi pagi. Apa masih disana?" tanya Sehun dengan ketus,
Kyungsoo menghela nafasnya, sepertinya ia baru saja ketahuan berbohong oleh Sehun,
"aku didepan rumah Jongin" ucap Sehun lagi membuat Kyungsoo tersentak kaget dan benar saja, tepat setelah Sehun mengatakan itu, Sehun muncul didepan rumah Jongin membuat Jongin juga ikut menoleh ke arah Sehun,
"eoh? kau dijemput?" tanya Jongin setelah mereka berdua sama sama terdiam cukup lama, Kyungsoo tak tahu harus menjawab apa, memang kenyataannya Sehun sudah menjemputnya,
"Jongin-aah..." panggil Kyungsoo lirih, ia menatap Jongin dengan nanar, tapi Jongin menanggapinya santai. Padahal tatapan Kyungsoo benar benar menggambarkan bahwa Kyungsoo benar benar masih mencintainya, tapi mau diapakan lagi? keputusan tetaplah keputusan. Mana Kyungsoo tahu bahwa Tuhan mempertemukannya pada Jongin lagi hari ini dan ternyata mereka masih berhubungan akrab setelah sejak lima bulan yang lalu mereka tak pernah lagi menyapa seperti orang tak kenal. Kyungsoo harus teguh pada pendiriannya, ia mengingat kembali perkataan Baekhyun. Walaupun jujur saja, Kyungsoo sangat senang bahwa Jongin tetaplah Jongin yang dulu, dan dengan egoisnya, Kyungsoo pikir ia tidak mau jika Jongin dekat dengan orang lain. Apakah itu egois? tentu saja. Ia saja bisa bebas memilih Sehun, jadi, bukannya Kyungsoo harus rela melepaskan Jongin jika Jongin suatu saat menemukan seseorang yang tepat dihatinya?
"wae? mau balik sekarang? Sehun sepertinya sudah menunggu..." ucap Jongin sambil tersenyum, "gomawo sudah menolong eomma tadi pagi, sampaikan salamku pada Sehun"
Huh, hati Kyungsoo rasanya sakit. Jongin terlihat biasa saja melihatnya dijemput oleh Sehun. Kyungsoo buru buru berjalan menuju Sehun yang rautnya sudah kesal.
"Benar ya kau sudah bahagia dengan Sehun? hehe" gumam Jongin sendirian sambil memandangi sosok Kyungsoo yang tengah berlari ke arah Sehun.
.
.
.
.
.
Sejak mendekati masa kuliahnya, Kyungsoo lebih banyak berpikir positif dan lebih dewasa. Kyungsoo tidak lagi mempermasalahkan 'cinta' dalam hidupnya, ia tahu bahwa ia harus benar benar mengedepankan cita citanya sekarang. Mungkin Jongin menganggapnya berpacaran dengan Sehun, tapi jujur saja, Kyungsoo belum menyatakan apa apa pada Sehun mengenai perasaannya, dan ia juga tidak pernah mengiyakan permintaan Sehun untuk menjadi pacarnya. Kyungsoo hanya memutuskan untuk pelan pelan menyambut Sehun dalam hidupnya, walaupun Kyungsoo masih sangat sangat menyayangi Jongin tapi Sehun benar benar selalu ada untuknya. Hanya saja, sejak terakhir kali pertemuannya dengan Jongin, Kyungsoo jadi merasa biasa saja dalam menyikapi perasaannya. Mengetahui bahwa Jongin belum dekat dengan siapapun lagi saja sudah cukup membuat Kyungsoo lebih tenang dan semakin senang mencintai pria berkulit tan itu dalam diam. Kalau dipikir pikir lagi, cinta itu kan tidak bisa dipaksa, mana mungkin Kyungsoo memaksa Jongin mencintainya kalau memang benar Jongin tidak cinta, dan ditengah keterpurukan Jongin kemarin, Kyungsoo mungkin paham bagaimana Jongin harus memikirkan dan mengurus eommanya, belum lagi appanya yang pensiun membuat Jongin berpikir keras bagaimana caranya Jongin bisa kuliah dengan baik. Sejak Kyungsoo menyatakan dirinya bahwa ia dengan Jongin hanyalah sepasang sahabat, saat itu juga Kyungsoo memilih untuk tetap bertahan pada bagaimana hatinya. Ia tidak memaksa dirinya untuk melupakan Jongin, tapi tidak juga memaksa agar Jongin segera memilikinya. Kyungsoo memutuskan untuk menjadi biasa biasa saja dalam menghadapi perasaannya. Kyungsoo tahu bahwa dalam dunia barunya di masa perkuliahan, pasti ia akan bertemu dengan banyak orang baru juga, dan mungkin saja ia menemukan seseorang yang lain yang mungkin menjadi jodohnya. Orang orang mengatakan, bahwa jika dia jodohmu, maka ia akan kembali padamu, kemudian ada lagi yang berpresepsi, bahwa cinta itu harus diperjuangkan. Kyungsoo lebih percaya pada kalimat "jodoh pasti bertemu", tentu saja, diusianya yang masih muda begini, memangnya apa yang perlu di perjuangkan? banyak teman temannya yang sejak SMA pacaran, kemudian putus saat lulus atau bahkan berpacaran bertahun tahun tapi tidak jadi menikah? WHO KNOWS?
Kyungsoo pikir, ia tidak bisa memaksa Jongin menjadi jodohnya, itu sama saja menahan jodoh orang lain jika memang benar Jongin bukanlah jodohnya. Sejak Baekhyun mengomelinya lagi karena tak bisa menentukan sikap, Kyungsoo mulai bisa berpikir lebih realistis dan menyambut yang sudah ada didepan matanya, yaitu, Oh Sehun.
"kau selalu saja begini, aku sudah bilang kalau aku tidak terlalu suka diperhatikan. Kita pacaran, yasudah, tidak usah mengatur apa yang sama sama ingin kita lakukan, bisa, kan?" omel Kyungsoo saat Sehun sejak sore tadi menunggunya yang sedang rapat BEM dikampus. Mungkin sebagian orang senang mempunyai pacar yang selalu menemaninya kemana mana, mengkhawatirkannya, menjemput dan mengantarnya, tapi tidak dengan Kyungsoo. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Kyungsoo menyukai pria pendiam dan cuek, memang, Sehun awalnya terlihat seperti kriterianya, tapi ternyata sangat berbeda ketika pacaran, Sehun selalu mengikuti Kyungsoo dan terlalu mengkhawatirkan kekasih mungilnya itu. Kalau dipaparkan lagi, Kyungsoo hanya ingin berpacaran biasa, pacar yang berperan juga sebagai seorang teman dan sahabat baginya. Kyungsoo lebih suka berbagi pesan singkat sesekali daripada tiap hari harus memberitahu dia sedang berada dimana dan dengan siapa. Sungguh, Kyungsoo menginginkan pacaran yang seperti itu,
"kalau pacarku cemburu, tentu saja aku senang, tapi bukan berarti melarangku dekat dengan siapa saja." oceh Kyungsoo lagi,
"kita bisa kan sama sama menjalani kegiatan kita masing masing tanpa harus selalu berduaan? Kita bisa sesekali telfonan tiap malam kalau semua kegiatan sudah selesai, atau sekedar mengirim pesan mengabari hal hal kecil ditengah tengah kesibukan kita?"
"Sehun-aah, sungguh aku tidak suka begini. Kalau aku tidak mau bertemu denganmu, bukan berarti aku tidak menyayangimu, aku hanya butuh waktu sendiri." ucap Kyungsoo dengan pasrah.
Itulah kenapa sejak awal Kyungsoo tak mau menerima Sehun sebagai pacarnya, Sehun terlalu posesif baginya. Dan Kyungsoo pikir, ia hanya mampu menganggap Sehun sebagai seorang kakak yang selalu melindunginya. Lagipula, sekeras apapun Kyungsoo mencoba mencintai Sehun, Jongin selalu ada didalam hatinya.
Kyungsoo tidak mampu menjalani hubungannya lebih lama lagi dengan Sehun, bahkan mereka hanya menjalani hubungan dalam waktu kurang dari tiga bulan di awal semester kuliah mereka. Padahal, Sehun sudah jauh jauh mengikuti Kyungsoo untuk kuliah di Paris juga, tapi tetap saja, sepertinya itu tidak berpengaruh pada Kyungsoo.
"mianhae karena telah memaksa perasaanmu..." ucap Sehun lirih sambil menggenggam kedua tangan Kyungsoo,
Kyungsoo yang tadinya mengomeli Sehun, kini menatap Sehun dengan nanar,
"mianhae..." ucap Kyungsoo sambil menahan airmatanya,
"gwaenchana jika kau tidak bisa menerima ku, aku melihat usahamu untuk menerimaku sejak SMA, tapi sepertinya Jongin benar benar sudah menempati hatimu."
Kali ini Kyungsoo benar benar menitikkan airmatanya mendengar ucapan Sehun sebelum akhirnya Sehun memeluk tubuh Kyungsoo dengan erat,
"tapi izinkan aku terus menjagamu, Kyungsoo-aah" pinta Sehun membuat Kyungsoo mengangguk didalam pelukan Sehun, setelahnya, Sehun mengecup kening Kyungsoo seiring dengan air mata Kyungsoo yang terus mengalir di pipinya.
Sehun baik, sangat baik, tapi sampai kapanpun, Kyungsoo tak bisa menganggapnya sebagai kekasih.
.
.
.
.
.
.
Seoul, 05 Januari 2016
Sepertinya Kyungsoo kembali pada memorinya dulu, walaupun rasanya mustahil sekali bersatu dengan Jongin, tapi Kyungsoo sadar, sulit sekali membuang Jongin dari benak dan pikirannya. Sudah bertahun tahun
Kyungsoo berjalan menyusuri tempat favoritnya menyendiri, tempat biasanya ia menunggu, berangkat dan pulang dari segala aktivitasnya. Iya.. stasiun kereta. Bukan tempat yang sepi memang, bahkan stasiun adalah tempat yang sangat ramai, tapi Kyungsoo selalu suka termenung sendiri diantara banyaknya orang, berpikir hal hal yang sudah berlalu dan apa yang mungkin akan terjadi di masa depan. Tapi saat itu, gerimis hujan turun dengan hening, Kyungsoo sedikit panik karena tak membawa payung, tapi ia juga suka hujan turun damai mengiringi rasa kesepian dan kerinduannya pada seseorang yang selalu saja tak pernah mau keluar dari hatinya.
DEG.
Kyungsoo menghentikan langkahnya saat ia tengah menyelinap masuk dalam kerumunan sekitar peron dan menemui seseorang yang... OH MY GOD BARU SAJA IA MEMIKIRKANNYA.
"Soo?"
Kyungsoo membelalakkan matanya, sejak kapan pria berkulit tan itu memanggil namanya begitu? Apa Kyungsoo boleh menitikkan airmatanya kemudian memeluk tubuh kekar yang ia rindukan itu? Sungguh, Kyungsoo ingin memeluknya dan mengatakan bahwa ia sangat merindukannya.
"eoh? nugu?" tanya seorang namja cantik yang tiba tiba muncul di belakang tubuh Jongin, hati Kyungsoo rasanya lemah lagi...
"Kyungsoo, ia sahabatku sejak SMA" ucap Jongin pelan pada namja cantik yang akhirnya berdiri disampingnya.
Teman? hehe, ucap Kyungsoo dalam hati sebelum akhirnya tersenyum dan mengulurkan tangannya pada namja cantik itu,
"Luhan" ia tersenyum juga pada Kyungsoo kemudian menarik lengan Jongin dengan manja,
"kau menunggu ku kan disini? appa lama sekali belum menjemput" rengeknya pada Jongin yang kemudian mengangguk dan tersenyum, dan tentu saja membuat Kyungsoo ingin berteriak dan menyatakan bahwa ia benar benar bisa gila menerima kenyataan yang ada didepan matanya. Padahal biasanya, Kyungsoo akan memburu peron paling depan, tapi entah kenapa bertemu dengan Jongin membuatnya tidak ingin beranjak kemana mana walaupun ia tahu, akan ada adegan yang membuat hatinya sakit. Kyungsoo memutuskan menunggu kereta disamping Jongin yang sedang asik bercanda dengan... mungkin pacar barunya. Kyungsoo menunduk dan tersenyum tipis,
"kau adalah orang paling bodoh Kyungsoo-yaa~" gumamnya pelan.
Tentu saja bodoh, sudah tau menyakitkan tapi masih terus dipandangi. Apa itu namanya tidak munafik? berpura pura kuat? Cih. Kyungsoo, kau naif sekali. Semuanya adalah kenyataan dan Kyungsoo harus membuka matanya lebar lebar. Kyungsoo dan Jongin selamanya adalah sepasang sahabat, tidak lebih dari itu.
Jongin melambaikan tangannya saat Luhan berpamitan pulang karena appanya sudah menunggu di depan stasiun, dan Jongin akhirnya ikut menemani Kyungsoo menunggu kereta menuju stasiun tujuan mereka yang sama.
"Nugu? Namjachingu?" tanya Kyungsoo pelan dengan sikapnya yang berpura pura santai. Jongin hanya tersenyum. Ya Tuhan! Siapa yang bilang Jongin tidak akan berubah? siapa yang bilang Jongin tetaplah Jongin yang dulu yang sulit membuka perasaannya dengan orang lain, dan menurut presepsi Kyungsoo, Jongin hanyalah menyimpan perasaan padanya. Jadi apakah selama ini semua itu khayalan?
Kyungsoo menarik nafasnya dalam dalam, ia tidak bisa kabur lagi seperti dulu saat melihat Jongin dipeluk orang lain. Kyungsoo tahu ia sudah dewasa dan harus menerima kenyataan, jika memang sahabat, maka jadilah sahabat yang baik, batin Kyungsoo menyemangati dirinya, dan menyemangati airmatanya yang sudah bergumul di kelopaknya.
"waaahh daebak~~~! seorang Kim Jongin yang dulunya cuek, dingin dan pendiam, kini sudah punya pacar rupanya. Chukkaaeeeee~~~" ucap Kyungsoo santai, ani, pura pura santai lebih tepatnya,
"hehe, apa sulit sekali mempercayai itu? orang orang juga bilang begitu..." jawab Jongin sambil tertawa kecil,
Kyungsoo susah payah menahan sesak didadanya, apa Jongin benar benar seberubah itu? batinnya. Tapi memang sudah lima tahun sejak mereka lulus SMA, bahkan sekarang mereka sudah lulus kuliah dan sudah bekerja.
Setelahnya, mereka saling bercanda tiada henti didalam kereta, bercerita masa lalu, menertawakan teman teman lama, mambahas apa yang sedang mereka sibukkan sekarang, dan apa saja yang membuat mereka kembali terlihat seperti sepasang sahabat. Tapi, apakah Jongin benar benar sebahagia itu sekarang? Kyungsoo bisa gila! Ia menahan bertahun tahun rasa cintanya pada Jongin, menolak siapa saja yang memintanya menjadi pacar, dan bersikap tidak peduli pada siapapun yang mendekatinya, tapi dambaan hatinya? Bahkan sudah bahagia tanpanya. Kyungsoo ingin menangis, sungguh, siapa saja yang mengetahui bagaimana rasanya mencintai tanpa balas, sungguh ini pahit dan menyakitkan.
Kyungsoo tersenyum pada Jongin yang memintanya untuk pulang duluan dari stasiun tujuan mereka karena Jongin akan bertemu dengan seseorang lagi katanya, Kyungsoo sesekali menoleh lagi ke belakang memastikan Jongin belum pergi dan Jongin terus menatap punggung mungil itu sampai hilang dari pandangannya.
Kyungsoo menangis, bagaimana tidak, ia menahannya sejak tadi, sejak jantungnya berdegup kencang melihat sosok Jongin lagi didepan matanya. Kyungsoo benar benar rindu dengan Jongin, tapi mereka hanya sepasang sahabat.
.
.
.
.
.
.
.
Jongin POV
.
.
.
.
.
Jongin menatap tubuh mungil itu hingga hilang dari pandangannya sebelum akhirnya ia berjalan pulang sendiri dari arah yang berlawanan.
Jongin membuka pintu rumahnya yang kini rasanya sudah sepi tak berpenghuni, hanya ada Taeoh yang sudah tertidur lelap di kamarnya. Jongin melihat kalender dikamarnya dan tertanda sebuah simbol love tepat ditanggal dua belas bulan Januari itu.
"seminggu lagi kau ulang tahun rupanya..." gumam Jongin sebelum akhirnya tersenyum sendiri dikamarnya
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.
CIAAAAA JONGIN POV AHAH PLISSEU JANGAN NGOMELIN AUTHORNYA HEUHEU.
Gue udah siapin chapter selanjutnya sih, tapi nanti aja up nya hahaha makanya review dulu!
wkwkw author macam apa gue ngancem readernya :D
