Angel, Human, Devil
Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim Junsu
Park Yoochun
Shim Changmin
Serta cast yang lainnya
Rated : T—M
Warning : Boys love, Yaoi, [Cerita ini murni hasil pemikiran Author dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan apapun.]
Disclaimer :
Seluruh pemain disini bukan milik Author. Mereka adalah milik diri mereka sendiri, Management serta Tuhan YME. Author hanya meminjam sebentar, ne!
.
.
_This story Original _
by
Nyangiku
.
.
''If you don't like, Don't read it"
Tidak suka? Jangan baca!
.
.
Bagi yang sudah menyempatkan untuk membaca—
.
.
Onegaishimasu
~Selamat membaca~
.
.
WARNING!
Chapter ini akan sangat panjang dan mengandung konten 18++ harap persiapkan diri kalian. Jika kurang hot silahkan marahi author dan tagih yang lebih panas dari ini wkwkwk
.
.
Jaejoong mondar-mandir di balkon villa sambil menggigiti kukunya sesekali bergumam tidak jelas,
"Ani ani ani.." berkali-kali ia menggeleng lalu kembali mondar-mandir.
TUHAN!
Tadi pagi sungguh pemandangan yang hakiki.. ditambah dengan mimpi mesum itu arrgh..
Entahlah harus bersyukur atau merasa sial..
"Sedang apa kau disitu?" dan akhirnya suara bass Yunho sukses mengejutkan Jaejoong.
"Omo! Kaget aku!"
Yunho menatap Jaejoong dengan tatapan aneh. Kemudian meninggalkan namja itu sendirian.
"Intinya, aku tidak boleh lengah! Kalau sampai aku lengah maka mimpi semalam akan menjadi nyata. Hii~" Jaejoong bergidik ngeri sambil memeluk sendiri tubuhnya. Ia pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam villa.
Ia memilih menjatuhkan tubuh pada sofa dan berbaring disana sambil memainkan ponselnya karena bingung hal apalagi yang bisa dilakukannya disana. Ia sedang berusaha untuk menghubungi Kibum dengan video-call tapi sepertinya Kibum sedang sibuk sampai tak menjawab panggilan Jaejoong. Jaejoong yang merasa bosan pun hanya bisa memanyunkan bibirnya. Ia menghembuskan nafasnya, Changmin dan Kyuhyun sedang keluar—ke minimarket untuk membeli sikat gigi yang seharusnya Jaejoong beli semalam.
Sedangkan Junsu dan Yoochun sedang jalan-jalan di tepi pantai menikmati udara laut pagi hari yang segar. Dan ternyata hujan pun turun dengan derasnya.. sepasang kekasih itu pasti kembali dengan keadaan basah kuyup.
Yunho? Setelah mengagetkannya tadi, Jaejoong tidak peduli namja itu pergi kemana.
Jaejoong tersentak saat sekotak susu strawberry muncul didepan wajahnya. Jaejoong menatap satu sosok didepannya yang sedang membungkuk sambil memamerkan lesung pipinya yang selalu membuat Jaejoong iri.
"Kau bilang suka strawberry, kan?" tanya Siwon. Namja itu meraih tangan Jaejoong dan meletakkan susu kotak itu disana. Namja itu tanpa meminta ijin duduk disebelah Jaejoong.
Jaejoong menggeleng, "Itu kesukaan adikku." jawab Jaejoong tanpa sadar. Ia memandangi kotak susu itu dengan seksama.
"Oh ya? Kau punya seorang adik? Namja atau yeoja?" Siwon tampaknya penasaran sekali.
Jaejoong memukul kepalanya, duh. Bodoh sekali sampai keceplosan mengatakan kalau ia memiliki seorang adik. Sudah terlanjur lebih baik mengaku dan mengalihkan pembicaraan. Bukannya Jaejoong tidak mau mengakui Kibum sebagai adiknya, hanya saja meski mereka hidup terpisah cukup lama, tapi Jaejoong benar-benar overprotective dan tidak sembarangan mengatakan pada semua orang kalau ia mempunyai adik yang manis dan memiliki senyum mematikan seperti Kibum.
Siwon tersenyum, seperti mengerti kalau Jaejoong tidak ingin menjawab pertanyaannya. Mungkin karena privasi. "Maaf kalau sudah mengganggu privasimu.."
"A-ani.. hanya saja aku sedang tidak mau membahasnya karena hanya akan membuatku semakin merindukannya. Kau tahu kan kalau seharusnya kemarin itu aku pergi menemui adikku! Bukan pergi liburan kesini tahu!" kedengaran sekali dari nada bicaranya kalau Jaejoong masih kesal karena diajak liburan kemari. "Ma.. Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu.." Jaejoong menundukkan kepalanya.
"Aniya, seharusnya kemarin aku membelamu saat Yunho memaksamu untuk ikut, lagi-lagi sebagai wakil ketua asrama aku tidak bisa melakukan apapun.. bahkan saat kemarin Changmin dan Kyuhyun menjahilimu aku malah ikut tertawa.. maaf karena tidak peka.. padahal tugasku disini seharusnya pembimbing penghuni baru sepertimu sampai benar-benar merasa nyaman tinggal bersama dengan kami di Asrama Toho.." Siwon memasang wajah menyesalnya.
"Apa kau benar-benar ingin pulang? Mungkin aku bisa sedikit membantu membujuk Yunho untuk memperbolehkanmu pulang sekarang," tawar Siwon.
"Ti-tidak perlu." tolak Jaejoong.
Percuma saja membujuk Yunho. Kalau sampai karena memaksa pulang hutangku di tambah dua kali lipat bagaimana?
Aniya! Aniya! Tidak boleh membantah kalau tidak mau hutangku bertambah. Batin Jaejoong sedang bergejolak.
"A-aniya.. sudah lupakan saja semuanya. Aku baik-baik saja." karena tidak tahu harus berkata apalagi akhirnya Jaejoong hanya bisa mengucapkan itu.
Siwon terlihat bernafas lega dan kembali tersenyum ramah. Dan tanpa ijin namja berlesung pipi itu mengusapi kepala Jaejoong dengan lembut. Membuat Jaejoong tertunduk malu.
Tanpa Jaejoong sadar, kalau Siwon menatap sosok yang sedang bersembunyi di balik tembok sana sambil memasang senyum remeh. Senyuman yang membuat pemilik nama lengkap Jung Yunho geram dengan sukses karena 'miliknya' sudah disentuh tanpa ijin.
"Pokoknya jatahmu sudah habis Chwang! Sisanya punyaku!"
"Tapi kan nanti juga kita akan makan ini bersama-sama. Pokoknya bagian itu juga masih ada hakku!"
"Tidak mau!"
"YA! YA! LEPASKAN YUNHO!" Changmin dan Kyuhyun sambil berpandangan mendengar teriakan Jaejoong dari ruang tengah. Disana ada Jaejoong, Siwon dan Yunho dalam situasi yang cukup 'panas'.
"Hei, apa yang kau lakukan Yun? Kau tidak lihat Jaejoong kesakitan?" Siwon terlihat berusaha untuk meraih tangan Jaejoong dan melepaskannya dari cengkraman Yunho.
"BERISIK!"
PLAK!
"OMO!"
Mata Changmin dan Kyuhyun melotot sempurna. Yunho baru saja menampar pipi Siwon untuk pertama kalinya! Namja berlesung pipi itu hanya bisa meringis.
"HYUNG! YUNHO-HYUNG!" sepasang kekasih evil itu langsung menghampiri mereka tanpa pikir panjang.
"YA!" Jaejoong berteriak saat tubuhnya dibawa paksa oleh Yunho ke dalam kamar dan suara teriakan itu tergantikan oleh suara bantingan pintu.
BRAK!
Kejadian yang begitu cepat. Membuat Junsu dan Yoochun yang baru sampai di villa dalam keadaan basah kuyup dipenuhi dengan tanda tanya. Changmin dan Kyuhyun menghampiri Siwon yang pipinya memerah dan terdapat bekas gambar tangan Yunho disana.
"Kau tidak apa-apa, Siwon-hyung?" tanya Changmin. Mengingat tenaga Yunho yang bisa dikatakan cukup besar seperti seekor beruang membuat Changmin meringis ngeri melihat tanda merah di pipi Siwon.
"Aku baik-baik saja.." kata Siwon. Meski sebenarnya sedikit perih. Tamparan tadi tidak bisa dikatakan pelan.
"Hei, ada apa ini? ada drama apalagi?" tanya Yoochun diikuti Junsu yang melupakan keadaan mereka.
Kyuhyun menatap mereka penuh selidik. "YA! KALIAN MEMBUAT LANTAI BASAH! PERGI SANA!" Kyuhyun yang kesal pun melempar dua anak manusia itu menggunakan plastik belanjaannya.
.
.
.
"Kenapa kau menampar Siwon? Memang apa salahnya? Bukankah Siwon itu temanmu?!" Jaejoong akhirnya bisa melepaskan cengkraman Yunho di pergelangan tangannya. Saat berbalik dan berusaha untuk menggapai pintu, dengan sigap Yunho mengunci pintu tersebut dan menyembunyikan kuncinya didalam saku celananya.
"Kau itu budakku, jadi kau dilarang untuk disentuh oleh siapapun." jawab Yunho datar. Jaejoong mengacak rambutnya frustasi. Tapi kan bukan hanya Siwon yang pernah menyentuhnya. Bahkan kemarin ketika Changmin menggendongnya dia tidak marah, saat Siwon menyelamatkannya dari laut dia pun tidak marah. Saat Junsu menggantikan pakaiannya saat ia tidak sadarkan diri dia juga tidak marah.
Kenapa sekarang tiba-tiba?
Padahal awalnya Jaejoong pikir tadi Yunho hendak menamparnya. Tapi ternyata malah Siwon yang kena tamparan itu. Jaejoong jadi merasa tidak enak hati.
"Kemasi barang-barangmu. Kau mau pulang kan? Kemasi barang-barangmu sekarang, kita pulang sekarang! Tapi konsekuensinya kau harus melunasi hutangmu dengan tubuhmu begitu kita sampai di Seoul!" keputusan sepihak Yunho membuat Jaejoong tercengang.
Bagai disambar petir di pagi hari yang cerah kemudian hujan deras dan apa yang Jaejoong kira tentang hutangnya bertambah sepertinya meleset.
Lebih parah lagi! Yunho mau hutangnya di lunasi dengan tubuhnya!
TIDAK MAU!
"Si-siapa yang bilang aku ingin pulang?"
Yunho hanya menatap Jaejoong tajam. "Kita akan tetap disini sampai besok, kan? Tidak masalah." putus Jaejoong.
"CK!" Yunho meraih kunci kamar tersebut dan kembali menarik Jaejoong kali ini untuk keluar kamar. Ketika yang lainnya sedang duduk berkumpul diruang tengah sambil memakan cemilan yang tadi Changmin bawa.
"Yunho-hyung kalian mau kemana?" tanya Changmin saat melihat Yunho menyeret Jaejoong untuk keluar dari villa. Mereka pikir setelah Ibllis dan Manusia itu masuk ke dalam kamar masalah telah selesai.
"Pulang ke Seoul!" jawabnya singkat.
"YA! kenapa tiba-tiba pulang? Hyung!" Changmin bangkit diikuti yang lainnya.
Duh, tingkah Yunho memang tidak pernah bisa diprediksi oleh siapapun.
"Bukankah nanti siang kita akan ke Windy Hill? Kenapa tiba-tiba hyung memutuskan untuk pulang?" kali ini Kyuhyun yang bertanya.
"Tapi namja ini terus saja merengek meminta pulang!" jawab Yunho kesal sambil menggenggam erat pergelangan tangan Jaejoong. Jaejoong hanya terdiam sambil sesekali meringis, di satu sisi ia memang ingin pulang tapi jika ia tetap memaksa untuk pulang maka ia harus siap kesuciannya akan hilang oleh Yunho. Jika tetap disini pun Jaejoong lelah menghadapi tingkah Yunho yang selalu diluar dugaan.
Mereka sudah sampai di teras depan, derasnya hujan tidak membuat Yunho berhenti dan malah namja itu membawa Jaejoong menerobos hujan sampai mereka berada didepan mobil Yunho.
Melihat Jaejoong kesakitan dan diguyur derasnya hujan Changmin pun berinisiatif untuk menarik Jaejoong dari Yunho sebelum lengan anak orang itu remuk ditangan Yunho. Meskipun ia harus basah juga karena hujan.
"Apa benar hyung ingin pulang?" tanya Changmin sambil menatap Jaejoong dengan serius. Jaejoong memberikan tatapan yang sulit dimengerti. Kepalanya hanya menggeleng ragu. Yunho terlihat menggertakkan giginya menahan emosinya yang mulai memuncak.
"Sungguh?" Changmin melihat ada keraguan dalam mata Jaejoong. Dalam ketakutan akan emosi Yunho, Jaejoong sedang terperangkap dalam kebingungan. "Baiklah aku tanya sekali lagi, apa hyung tetap ingin pulang ke Seoul atau tetap disini bersama kami?" tanya Changmin sekali lagi.
"AKU AKAN TETAP DISINI!" putus Jaejoong pada akhirnya. Bersamaan dengan itu hujan turun semakin deras. Padahal langit mulai cerah.
"Kalau begitu hu—" mata Jaejoong membulat menatap Yunho. Memelas sungguh terlihat lemah dihadapannya.
Tidak. Jangan katakan aku punya banyak hutang padamu Yun.. pride ku bisa hancur saat ini juga.
Yunho melihat Jaejoong dengan tatapan kesal. "Lakukan sesukamu dan hukumanku akan selalu bertambah setiap kau membantahku! Mengerti? Kim Jaejoong?" dengan penuh penekanan disetiap katanya. Setelah itu namja musang tersebut hilang dari hadapan mereka semua.
Derasnya hujan perlahan berkurang. Jaejoong masih berdiri mematung disana. Antara lega, takut, bingung semua menjadi satu.
"Sabar ya Joongie.." Junsu akhirnya menghampiri Jaejoong yang sudah basah kuyup oleh hujan. Membawa kembali namja itu masuk ke dalam villa.
Ugh.. rasanya aku sudah lelah sekali menghadapi namja itu.
Joongie harus bagaimana Eomma?hiks..
Junsu hanya bisa mengusap-usap pelan punggung Jaejoong yang sedikit bergetar sedangkan Changmin pergi sejak tadi mengejar sang kakak—Yunho.
"Emosi Yunho memang tinggi dan sulit dikendalikan, dia itu orang yang bersemangat maka dari itu kau pun harus semangat ya, Joongie.." miris memang nasib Jaejoong.
"Aku akan menyiapkan air panas untukmu, mandilah dulu di kamarku. Aku takut Yunho-hyung akan marah lagi padamu kalau kau masuk ke dalam kamar kalian dengan basah kuyup begitu." setelah melihat adegan barusan, Kyuhyun pun dengan mantap membuang rasa sebal dan kesalnya pada Jaejoong. Namja itu benar-benar lemah dan tak berdaya oleh Yunho. Malang sekali bukan?
Mulai saat ini Kyuhyun akan bersikap baik pada Jaejoong.
Jaejoong mengangguk kemudian masuk kedalam kamar Kyuhyun dan Changmin yang.. err…
MEREKA SAMA SAJA JOROK!
Baru juga satu malam disini dan kekacauan ini.. oh TUHAN!
Dan apa itu di pojokan?
Omo! Bungkus kondom?
AIGOOOO….
Bukannya langsung mandi seperti yang Kyuhyun suruh alhasil Jaejoong lebih dulu membereskan kamar itu.
.
.
.
Jaejoong menatap gagang pintu didepannya dengan rasa ragu. Kalau saja mereka tidak berada dalam satu kamar, mungkin saat ini juga Jaejoong akan langsung masuk tanpa rasa kikuk. Mengomel, berteriak dan mengumpat sesuka hati. Setelah dibentak seperti itu di tengah derasnya hujan tadi, di berikan tatapan tajam yang begitu menusuk membuat Jaejoong jadi sedikit agak takut berhadapan dengan Yunho.
Bagaimana nanti malam ia tidur? haruskah ia mengalah dan tidur di sofa ruang tengah?
Yang terpenting saat masuk ke dalam kamar ini nanti, apa yang harus ia lakukan? Ekspresi apa yang harus ia pasang? Haruskah ia meminta maaf langsung pada Yunho atau bersikap cuek seolah tidak terjadi apapun?
"Kenapa kau berdiri terus disitu? Cepat minggir, aku mau masuk, dan oh ya setelah itu pel lantai ini. Kau pasti sudah membuat lantai ini kotor tadi," Yunho mendorong tubuh Jaejoong dari depan pintu. Kemudian ia masuk tanpa permisi lebih dulu.
Hey, memangnya siapa yang sudah membuatnya basah kuyup tadi?
Kalau tahu dia tidak ada didalam. Harusnya aku masuk sejak tadi! Dasar beruang gendut jelek!
"CK!" Jaejoong berdecak kemudian ikut masuk ke dalam mengikuti Yunho.
.
.
.
Setelah selesai mengepel lantai didepan kamar tadi yang 'katanya kotor' akibatnya sendiri dan seluruh ruangan yang ada—Jaejoong pikir kalau hanya mengepel dibagian itu saja seperti ada yang kurang maka Jaejoong membersihkan seluruh sudut ruangan hingga kini bersih sekali seakan bersinar-sinar. Oh jangan lupakan kamar yang ditempati Changmin dan Kyuhyun.
Tidak terasa sudah masuk jam makan siang dan Jaejoong memutuskan untuk memasak makanan sederhana. Saat ini ia sudah beraada didapur bergerak kesana kemari dengan cekatan hingga tak lama Kyuhyun pun datang menawarkan bantuannya yang sangat langka.
"Jae-hyung.." ini pertama kalinya Kyuhyun memanggil Jaejoong membuat Jaejoong tersentak. Jaejoong yang sibuk memotong-motong ayam dan Kyuhyun yang sedang mencuci sayuran. Pagi tadi tiba-tiba hujan turun dan membuat mereka tidak bisa keluar dan melanjutkan liburan.
Kenapa tumben sekali turun hujan saat musim panas? liburan mereka seperti dikutuk ya?
"Ya? ada yang bisa kubantu?" tanya Jaejoong. Kyuhyun menatap Jaejoong dengan penuh kecurigaan yang membuat Jaejoong risih dan bergegas menyelesaikan ayamnya.
Kyuhyun mendekatkan telinganya pada Jaejoong dan berbisik, "Aku ingin bertanya.. apakah Jae-hyung dan Yunho-hyung berpacaran—HMP!" Jaejoong segera menutup mulut Kyuhyun sebelum orang lain mendengar pembicaraan mereka.
Jaejoong menatap Kyuhyun tajam sambil menggeleng. Kyuhyun pun menjawabnya dengan anggukan karena mulutnya masih dibekap oleh Jaejoong. "Jangan bahas soal itu disini, oke? Aku janji akan menjelaskan semuanya suatu saat nanti. Mengerti?" Kyuhyun lagi-lagi hanya bisa mengangguk saja. Setelah bekapan tangan Jaejoong terlepas akhirnya ia bisa bernafas lega.
"Tapi.. Kenapa hyung bisa sampai memberinya blowjob?!" pekik Kyuhyun seperti disengaja agar ada orang lain yang mendengarnya.
"YA! MULUTMU ITU!" mata Jaejoong melotot sempurna pada Kyuhyun.
Kyuhyun hanya memasang wajah tanpa dosa. "Tapi aku sangaaaaat ingin tahu alasan kalian melakukan itu dibelakang kami tanpa sepengetahuan kami. Kau tahu hyung, kau itu sangat berani ternyata." goda Kyuhyun.
Jaejoong masih belum tahu, kalau Kyuhyun itu sangat evil. Meskipun kita tahu kalau tadi Kyuhyun sudah memutuskan untuk bersikap baik pada Jaejoong, bukan berarti sifat evilnya hilang begitu saja. Arrrghh! Kalau yang lain dengar bagaimana? Kenapa namja itu harus memekik sekeras itu?
TRAK!
Jaejoong meletakkan pisau yang tadi dipakai untuk memotong ayam. Rasanya aku mau menusuk pisau ini padanya.
"SUDAH KUBILANG JANGAN BAHAS ITU DISINI SEKARANG!" Kyuhyun kira Jaejoong adalah orang yang polos dan lemah lembut karena selama ini dia selalu saja menurut pada Yunho, tapi teringat kembali hari pertama Jaejoong datang ke asrama saja sudah membuat banyak keributan hingga hari ini dan lagi dirinya baru saja diteriaki oleh Jaejoong sekeras itu Kyuhyun simpulkan kalau Jaejoong adalah orang yang plin plan.
Tidak konsisten dengan ucapan serta tingkah lakunya. Kadang polos dan baik, kadang menyebalkan juga berisik. Mungkin ini salah satu alasan kenapa Yunho hyung memberikan banyak hukuman padanya.
Karena Yunho bersikap keras pada penghuni asrama adalah agar para penghuni menjadi disiplin dan teratur. Itu lah kesimpulan Kyuhyun. Sambil menatap ngeri pisau yang tadi dipakai Jaejoong. Takut Jaejoong tiba-tiba menyerangnya.
Baiklah, sepertinya kalau memang ingin 'mengorek informasi' dari Jaejoong yang sikapnya absurd ini maka Kyuhyun akan lebih berhati-hati dan perlahan agar rasa penasarannya terbayarkan.
Oh ya, sejak kapan Kyuhyun begitu penasaran pada Jaejoong? bukankah saat pertama kali Jaejoong datang ke asrama ia sedikit kesal karena Jaejoong pernah menyindirnya. 'Akan kupikirkan lagi nanti.' Gumam Kyuhyun dalam hati.
"Kalian sedang apa? Kelihatannya serius sekali," pertanyaan dari Yoochun membuat Kyuhyun mendelikkan matanya pada namja itu. Tidakkah matanya itu melihat kalau Kyuhyun dan Jaejoong sedang memasak.
"Omo, matamu itu Kyu seperti mau membunuhku saja," ejek Yoochun. Jaejoong yang melihat tingkat keduanya hanya terkekeh kecil.
"Jangan cuma melihat saja! cepat bantu jangan cuma mau enaknya saja tinggal makan!" omel Kyuhyun masih menatap Yoochun kesal.
"Ck. Galak sekali seperti sedang PMS. Di luar itu masih hujan, enaknya itu ya bermalas-malasan dikasur. Bye kawan~" setelah memberi sebuah Kiss Bye namja yang pernah tinggal lama di Amerika itu pun pergi dari hadapan Jaejoong dan Kyuhyun.
"Aku bisa menyelesaikan semua sisanya. Terima kasih telah membantuku, Kyu. Kalau kau ingin istirahat juga silahkan. Aku akan memanggil kalian semua setelah semuanya siap." Jaejoong tersenyum ramah. Omo, Kyuhyun baru tahu kalau ada orang sebaik Jaejoong.
"Tidak tidak . Aku akan disini membantumu sampai selesai hyung. Oke?"
Oh, apakah ini sebuah awal yang baik untuk Jaejoong? apakah ia sudah mendapat teman yang lain sekarang? Setelah pertama Siwon lalu Junsu dan Yoochun serta Changmin, Kenapa sekarang Kyuhyun mendadak menjadi baik seperti ini padanya?
.
.
.
"Makan malam hari ini a~pa?" tanya Junsu. Derasnya hujan belum juga berhenti, padahal tadi sudah sedikit cerah tapi ternyata hujan kembali turun. Liburan yang sia-sia. Mau ke pantai pun anginnya kencang dan hujan begini ombak pasti besar.
Tinggal 1 hari lagi sisa liburan mereka. Dan 1 hari ini tidak digunakan untuk apa-apa dan berlalu dengan sia-sia.
Dengan ini mereka memutuskan untuk tidak melakukan hal apapun dan hanya berkumpul di ruang tengah. Sibuk dengan aktivitas masing-masing dari mulai bermain game, fokus pada computer tabletnya, ponsel sampai berguling-guling tidak jelas—Junsu.
"Baru selesai makan siang sudah bertanya soal makan malam. Masak sana sendiri! Memangnya masak itu tidak cape apa?!" semprot Kyuhyun meski matanya fokus pada PSP. Baru membantu Jaejoong memasak makanan sederhana untuk mereka Kyuhyun benar-benar merasa amat kelelahan. Bagaimana dengan Jaejoong yang beberapa waktu lalu mendapat tugas memasak untuk seluruh penghuni asrama ya?
Kyuhyun semakin yakin Jaejoong bukan manusia biasa.
"Cih, baru membantu segitu saja mengomel." Junsu yang sejak tadi berguling-guling tidak jelas menghampiri Yoochun dan langsung memeluk namja itu erat. Kyuhyun hanya bisa mendengus.
"Besok kita pulang siang atau malam?" tanya Siwon entah pada siapa.
"Sore pukul 3 kita berangkat pulang." putus Yunho.
"Yaaah.. lalu bagaimana dengan windy hill? Huhuhu.." Junsu terlihat sedih.
"Kita akan tetap kesana kalau cuaca bagus. Kalau masih hujan begini ya, mau tidak mau kita pulang saja." lanjut Changmin.
"Duh, sia-sia sekali membayar mahal sewa villa ini kalau Cuma berdiam diri saja." keluh Yoochun. Namja itu memang sedikit perhitungan soal uang.
"Seperti kau ikut membayar saja tagihannya hyung." sindir Kyuhyun.
"Ya, aku akan bayar setelah uang bulananku cair. Jadi, siapa disini yang mau meminjamkan uangnya padaku sedikit saja?" tanya Yoochun dengan wajah yang dibuat memelas.
"Aku tidak."
"Tidak."
"Tidak mau."
"No no no."
"…." Yunho hanya memberikan tatapan yang berarti tidak.
"Aku sedang dihukum sampai bulan depan jadi uang sakuku ditahan." Ini fakta, bukan alasan.
"Hiks.. kalian semua pelit sekali.."
.
.
.
Malam kedua yang Jaejoong lewati bersama Yunho berjalan dengan normal. Mereka tidur dikamar yang sama namun Yunho memutuskan untuk tidur di sofa bed meninggalkan Jaejoong sendirian di kasur yang artinya Jaejoong bisa tidur dengan luas dan nyaman. Dengan selimut hangat tanpa gigitan nyamuk dan debaran kencang dadanya yang menggila seperti pagi kemarin ketika dirinya mendapati satu ranjang dengan Yunho.
Yang tidak Jaejoong sadari kalau sebenarnya namja musang itu sempat pindah tidur disampingnya sebentar. Namun sebelum pagi benar-benar datang namja itu kembali tidur ditempatnya semula sebelum ketahuan.
Entah kenapa aku bersemangat sekali hari ini. ah, tidak sabar pulang ke Seoul tanpa beban~
Jaejoong menghirup udara segar pagi hari seorang diri di tepi pantai yang masih sepi, langit cerah tidak hujan seperti kemarin. Ia bangun begitu pagi untuk menyiapkan sarapan lalu menikmati angin laut pagi hari yang segar sendirian. Begitu damai dan menyenangkan hingga—
GREP!
Sosok hangat itu membuat tubuhnya tersentak. Jaejoong ragu untuk sekedar menoleh, seakan sudah hafal hembusan nafas yang berhembus lembut di telinganya.
"Seharian kemarin kau tahu? Kau itu sangaaaaat menyebalkan. Sampai-sampai aku ingin mengikatmu seharian disebuah tiang dan menghukummu sepuasnya. Atau bahkan melemparmu ke laut sana sekarang juga, namun teringat akan 'hutangmu' yang banyak dan belum lunas sama sekali itu aku memikirkannya kembali." Eoh.. menyeramkan bukan kalimat orang itu?
"Aku minta—hhmp!"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika berbalik dan bibir Jaejoong sudah di kunci orang itu dalam sebuah ciuman hangat. Yang semakin lama menjadi semakin liar dan tak terkendali. Yunho dalam pikirannya bahkan sama sekali tidak peduli kalau mereka kembali tertangkap basah oleh yang lain seperti saat di mobil oleh Kyuhyun dan Changmin adiknya.
"Hmmpp! Mmmp!" Jaejoong melotot takut sambil memukul-mukul dada orang itu.
Setelah mengakhiri ciuman itu dengan sebuah hisapan kuat pada bibir manis Jaejoong, Yunho pun menatap namja itu dengan tatapan puas dan remeh. "Setidaknya satu kali sehari, lakukanlah hal yang bisa membuatmu mencicil hutangmu. Atau kau mau hutangmu semakin menumpuk, eoh? Maka kau tidak akan pernah lepas dari kurunganku, Kim Jaejoong." Yunho yang telah berpakaian rapi dan wangi itu pergi meninggalkan Jaejoong seorang diri setelah mencuri manisnya bibir Jaejoong di pagi hari.
Dari melayangkan tinju ke udara berkali-kali sampai menginjak-injak pasir pantai dengan gemas. Lagi-lagi Jaejoong hanya bisa memendam semuanya sendirian. "Aku bisa semakin kurus kalau terus membatin seperti ini…"
'Apakah tadi ada yang melihat?' tanya nya dalam hati.
.
.
.
"WINDY HILL OH MY GOD SUN!" sejak kemarin memang Junsu yang amat bersemangat dengan Windy hill. Namja imut itu berlarian seorang diri sambil sesekali mengambil foto dengan ponselnya bersama Yoochun dengan latar Kincir Angin yang memang menjadi ikon khas windy Hill,
"Padahal tempat lain yang lebih bagus dari ini banyak sekali, sayangnya kita hanya bisa kesini lalu kembali ke kehidupan Seoul yang keras." Kyuhyun yang sudah tak asing lagi dengan Geoje terlihat biasa saja.
Suatu hari aku harus kesini lagi bersama Appa, Eomma dan Kibum. Pemandangannya memang indah sekali kalau tidak ada iblis yang satu itu.
"Apa lihat-lihat? Kau mau berfoto juga bersamaku?" tanya Yunho pada Jaejoong yang kedapatan menatapnya ketika ia sedang dipaksa berfoto oleh Changmin, untuk pamer pada sang adik—Seulgi & Ji Hye.
Jaejoong hanya menggeleng kuat.
Dalam hati ia pun juga sama semangatnya dengan Junsu karena setelah ini mereka langsung pulang ke Seoul.
Junsu dan Yoochun sibuk berfoto seperti pasangan yang sedang melakukan sesi prewedding dengan Siwon sebagai sang fotographer.
Changmin yang melihat Jaejoong sedang seorang diri pun memutuskan untuk menghampiri namja cantik itu, "Hyung," serunya. Jaejoong menyimpan kembali ponsel yang dimainkannya ke dalam tas nya.
"Ya?" Jaejoong menoleh dan tersenyum dengan manis membuat Changmin jadi salah tingkah. Setelah beberapa detik diam karena terpesona akhirnya Changmin disadarkan oleh gerakan tangan Jaejoong didepan wajahnya.
"..Ah, aku ingin minta maaf atas perlakuan Hyungku kemarin padamu hyung. Aku harap hyung tidak menyimpan dendam padanya." namja bertubuh jangkung itu menundukkan kepalanya tanda menyesal.
"Yunho maksudmu? Ah, ani—tidak perlu meminta maaf karena itu bukan sepenuhnya salah Yunho." entah apa hubungan Yunho dengan Changmin sebenarnya sampai Changmin mau berbuat seperti itu. Jaejoong tidak mau memikirkannya sekarang karena berurusan dengan Yunho saja sudah membuatnya lelah.
"Setidaknya mari kita buat kenangan bersama kalau kita pernah kesini, ayo semua bilang KIMCHI!"
Jaejoong merasakan tubuhnya di tarik oleh Siwon. Mereka semua ternyata sudah berkumpul disekitar Jaejoong untuk berfoto. Pasangan Junsu-Yoochun berpose paling heboh, Kyuhyun-Changmin yang selalu staycool. Yunho yang serius, Siwon yang memamerkan lesung pipinya serta Jaejoong yang memasang ekspresi aneh, bingung campur terkejut.
Dan semua kenangan kejadian yang telah terjadi diantara mereka selama tiga hari di Geoje berkumpul menjadi satu dalam foto itu.
Satu jepretan terakhir akhirnya Jaejoong bisa tersenyum disana meski hanya senyuman kecil.
Meski awalnya aneh namun ternyata seru juga.
"Sampai jumpa Geoje dengan semua keindahannya yang belum kita nikmati semua. By Kim Junsu."
.
.
.
"Hyung, sungguh tidak bisa menyetir? Aku mulai lelah. Lihat mereka bertiga saja gantian menyetir, masa sejak datang kesini aku terus dan Kyuhyun yang menyetir?" Changmin memasang wajah yang amat memelas pada Jaejoong. Sebenarnya ia juga bermaksud memberi kode pada Yunho agar sepupu sekaligus kakak tirinya itu mau menggantikannya.
"Ck. Berikan kuncinya padaku," kalian pikir ini pasti Yunho kan? Bukan kok ini adalah Jaejoong.
Ya, Jaejoong menawarkan dirinya untuk menyetir, kalian tidak salah baca kok.
Kyuhyun menyenggol siku Changmin, "Ya Chwang, benar mau membiarkannya menyetir? Kenapa tidak langsung saja meminta Yunho-hyung menggantikanmu? Bukankah kemarin dia bilang kalau ia belum lancar menyetir? Kau tidak sayang nyawaku Chwang?" bisiknya pada Changmin sedikit khawatir.
Sedang Yunho hanya diam dan memasang wajah serius seperti biasa. Ingin rasanya Kyuhyun menonjok wajah serius itu.
"Aku kan hanya bilang belum lancar menyetir bukan berarti aku tidak bisa," tolong jangan contoh kelakuan Jaejoong ini. Meski sudah lama Jaejoong tidak menyetir mobil bukan berarti ia lupa caranya menyetir kan?
"Mau bagaimana lagi? aku juga ingin beristirahat dan bermesraan denganmu dibelakang seperti mereka.." ucap Kyuhyun imut.
"YA! cepat turun sana dan pindah ke belakang!" titah Jaejoong. Tanpa persetujuan dari Yunho—karena namja itu sejak di Windy hill tadi benar-benar hanya diam saja seperti orang sedang sakit gigi. Tapi dia malah otomatis pindah ke kursi depan mengikuti Jaejoong—bukan kursi kemudi.
"Jangan lupa kepalamu itu, kalau bisa sepanjang perjalanan kau tiduran saja supaya tidak menghalangi spion belakang." oh akhirnya Yunho mengeluarkan suaranya.
Dan akhirnya setelah di awali dengan doa Jaejoong pun mulai menyetir dengan normal dan belum ada masalah.
Sampai orang itu memulai masalahnya.
"Cepat salip mobil yang didepan, kau ini lelet sekali sih? mau sampai seoul jam berapa?!"
"Naikan kecepatanmu kau tidak lihat jalanan sepi?!"
"Didepan ada truk, jaga jarakmu dengan benar!"
"Jangan terlalu ngebut ini bukan jalan tol!"
"Kau mendengarku tidak sih?!"
Wajah Yunho benar-benar minta di tonjok, dia memerintah ini dan itu seperti seorang bos besar. Sejak tadi terus saja begitu membuat Jaejoong kesal. Konsentrasinya menyetir jadi terganggu.
"Kalau kau terus berkomentar kenapa tidak kau saja yang menyetir sih?!" ups.. Jaejoong tanpa sadar membentak Yunho. Tidakkah ia lupa bahwa ia harus hati-hati kalau berhadapan dengan Yunho?
Ah, Jaejoong lupa kalau ia budak dan Yunho memanglah Bos Besarnya.
"Kau sedang cari masalah Kim?" tanya Yunho dengan nada suara berat.
"Kau yang sejak tadi terus membuat masalah memerintahku ini itu, aku jadi tidak bisa konsentrasi tahu!" saking kesalnya Jaejoong sampai memukul setir.
"Ada apa hyung? kalian sedang bertengkar?" tanya Changmin dari belakang. Sejak tadi pasangan itu sibuk bermesraan sehingga tidak menyimak apa yang sedang terjadi.
"A-ani.. ani.. aku hanya bercanda haha. Baiklah aku akan menyetir sesuai dengan yang kau katakan, Yunho-nim," lama Jaejoong diam menunggu reaksi Yunho selanjutnya. Setelah beberapa kilo meter jalanan dilalui akhirnya Yunho membuka suara.
"Menepi sekarang." perintahnya.
"Mwo?"
"Perlu aku mengulanginya sampai dua kali?"
"Oke oke aku akan menepi. Ck." setelah memilih tempat yang cocok akhirnya Jaejoong pun menepikan mobilnya.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba menepi?" tanya Changmin yang tiba-tiba muncul dengan rambut berantakan. Jaejoong mengangkat bahunya.
"Cepat keluar," perintah Yunho. Jaejoong membulatkan matanya bingung, apa barusan ia baru saja diusir? Sebelum dua mata musang itu keluar dari sarangnya Jaejoong pun memutuskan untuk keluar. Changmin dan Kyuhyun sama bisa terdiam tak mengerti situasi yang terjadi.
Dari luar dapat dilihat oleh duo pasangan evil itu bahwa Jaejoong di tarik oleh Yunho dengan kasar mendudukan namja cantik itu ditempatnya duduk tadi—kursi sebelah kemudi sedangkan kini dirinyalah yang menggantikan Jaejoong untuk menyetir di kursi kemudi.
Jaejoong yang awalnya kaget karena mengira di usir sungguhan akhirnya menerima maksud Yunho, yaitu menggantikannya.
Yah, lumayan bukan Jaejoong jadi bisa beristirahat.
.
.
Sampai di asrama masih dalam keadaan tertidur membuat Jaejoong merasa tidak enak dengan Yunho. Namja itu memasang wajah kesal sesaat setelah ia membangunkan Jaejoong dari tidurnya. Jaejoong yang masih mengumpulkan sisa nyawanya pun hanya bisa terdiam. Namja bermarga Jung itu tanpa kata keluar dari mobil, membawa barang-barangnya dan masuk ke dalam asrama lebih dulu dari yang lain.
"Kenapa Yunho?" tanya Junsu pada Changmin dan Kyuhyun.
"Kami tidak tahu karena kami tertidur ditengah perjalanan." jawab Kyuhyun kemudian ia menunjuk Jaejoong agar namja itu menjawab alasan sikap Yunho.
Jaejoong menggeleng. "Aku juga tertidur." jawabnya.
"Aigo.. mungkin Yunho kesal pada kalian karena telah membuatnya menjadi supir kalian." tebak Yoochun.
"Tapi kan dia sendiri yang meminta gantian menyetir." bela Jaejoong sambil kesulitan mengeluarkan barang bawaannya yang begitu banyak. Rencana yang telah di rancangnya sia-sia karena ternyata hanya mempersulit dirinya sendiri dari berangkat hingga pulang kembali ke asrama. Untung saja ada Siwon yang selalu membantunya walau tak diminta.
"Haha, Yunho marah. Kalian akan kena masalah." ejek Junsu.
"Ah, molla. Biarkan saja nanti juga baikan sendiri." kata Changmin.
"Mari kubantu," Siwon mengangkat tas besar terakhir yang Jaejoong keluarkan dari mobil. Yah, meski awalnya Jaejoong merasa menjadi namja lemah menerima bantuan itu, tapi kalau dipikir-pikir bukankah lumayan juga jadi mengirit tenaga, hahaha.
"Ani.. aku bisa mengurusnya sendiri." bohong Jaejoong.
"Tidak apa-apa, lagi pula kau pasti kelelahan kan menyetir mobil sampai kesini," ya, aku memang kelelahan.
Baiklah tidak ada salahnya menerima bantuannya lagi.
"Terima kasih Siwon-ah."
.
.
"Eomma hanya 60 menit. Jadi jangan pergi kemanapun dan tetap disini, mengerti?" setelah menasehati namja cantik didepannya, yeoja paruh baya itu kemudian memasuki kafe dengan tenang. Meski teriakan terkejut dari beberapa orang yang menyadari sosoknya saling bersahutan. Untung saja sang pengawal yang sigap membaca situasi dapat meredam kehebohan itu.
Sedangkan sang remaja yang ditinggal di mobil mewah itu sekarang sedang memelas pada sang supir untuk mengijinkannya keluar sebentar untuk menyelesaikan urusannya.
"Aku janji hanya akan memberikan ini pada Joongie-hyung lalu setelah itu cepat kembali. Ayolah hyung…" Kibum terus merengek dan merengek sambil memegangi bungkusan besar yang sudah diambilkan dari bagasi oleh pengawal Eommanya.
"Apa kau yakin bisa melakukannya tanpa ketahuan Nyonya besar?" tanya namja berpakaian formal itu sekali lagi.
Kibum mengangguk semangat. "Aku yakin!"
Karena tak tahan mendengar rengekan namja imut dan manja itu akhirnya ia pun mengalah dan mengijinkan sang majikan mengurus urusannya.
"Aku mencintaimu hyung!" teriaknya sambil berlari kencang menuju tujuannya.
"Dasar keras kepala."
.
.
Namja berkulit putih bersih itu nampak kebingungan setelah melewati gerbang asrama Toho yang begitu sepi. Ditengah kebingungan ditambah sempitnya waktu yang ia punya akhirnya ia memutuskan untuk langsung masuk saja tanpa pikir panjang.
"Permisi~"
Leeteuk menoleh sejenak setelah menyimpan sepatunya kedalam lemari. Ia melirik sebentar ke arah pintu masuk yang terbuat dari kaca tebal itu. Keningnya berkerut. Sesosok namja berwajah manis dengan seragam sekolah menengah berdiri disana sambil menenteng sebuah bungkusan besar ditangannya. Kepalanya menoleh kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Leeteuk pada namja bersenyum manis didepannya.
"Kim Jaejoong ada?" tanya namja itu dengan wajah berseri-seri.
"Jaejoong? iya tentu saja dia sedang di taman belakang.." Leeteuk menunjuk ke sembarang arah tanpa ia sadari.
"Aku adik Kim Jaejoong.. calon penghuni asrama ini tahun depan hihihi~" Kim Kibum—adik dari Kim Jaejoong itu terkekeh sambil malu-malu.
"Ah, begitu.. Kau adiknya Jaejoong. Tapi kenapa kalian tidak mirip ya?" Leeteuk mengangguk berkali-kali. Namja imut didepannya terus saja tersenyum.
Namja imut itu memberikan sebuah bungkusan berukuran besar yang sejak tadi ia pegangi pada Leeteuk. "Aku kesini hanya untuk memberikan ini pada Joongie-hyung.."
"Hanya menitipkan ini? tidak sekalian mampir saja? Atau mau kupanggilkan Jaejoong sebentar?" tawar Leeteuk.
Kibum menggeleng, "Ani.. Ani.. Aku harus segera pergi sebelum Eomma sadar kalau aku sudah pergi jauh. Sampaikan saja titipan ini pada Joongie-hyung. aku harus segera pergi, terima kasih hyung!" Kibum membungkuk sebentar kemudian ia berlari sambil melambaikan tangannya pada Leeteuk. Waktunya memang terbatas.
Ah, namja yang periang sekali.
.
.
.
"Sabtu besok aku harus pulang pokoknya akan pulang!" Jaejoong terlihat sedang dalam mode ketus dengan Junsu yang mengekor dibelakangnya. Tidak cukupkah minggu lalu mereka menghabiskan liburan bersama di Geoje dan kali ini mereka kembali merencanakan liburan bersama tanpa lebih dulu bertanya pada Jaejoong. Bertepatan dengan itu Yoochun, Changmin-Kyuhyun, Yunho serta Siwon pun tiba disana.
"Tapi kan lumayan diskonnya hanya berlaku sampai minggu depan Joongie~"
"Ya sudah kalian saja yang pergi aku tidak akan ikut!" tolak Jaejoong sekali lagi. Tolong, bisakah membiarkan Jaejoong pulang kerumahnya sebentar?
"Ah! Jaejoong kebetulan sekali.." Leeteuk menyodorkan bungkusan besar yang berada ditangannya pada Jaejoong.
"Apa ini? untukku?" tanya Jaejoong heran.
"Seseorang yang mengaku sebagai adikmu—"
"ADIKKU? MANA?! DIA DIMANA?" Jaejoong melempar bungkusan besar itu kemudian berlari kesana kesini sampai ia berlari menuju gerbang utama Asrama Toho.
"Kenapa dia?" tanya Kyuhyun bingung.
"Adiknya baru saja datang dan memberikan itu untuknya," Leeteuk menunjuk bungkusan besar yang barusan dibuang Jaejoong. Junsu pun mengambil bungkusan itu dan mengintip sebentar isinya karena penasaran. Isinya beberapa baju dan oleh-oleh makanan ringan.
"Kenapa kau tidak memanggilku?!" Junsu tersentak kaget karena Jaejoong sudah kembali ke tempat mereka dengan nafas terengah-engah. Karena takut kena omelan Junsu pun memberikan bungkusan itu pada Jaejoong.
"Dia bilang hanya menitipkan ini saja, setelah itu dia langsung pergi begitu saja. Bahkan aku belum sempat menanyakan namanya, padahal dia tak kalah manis denganmu Jae. Senyumnya benar-benar membuat jantungku sempat berhenti beberapa detik. Aigo.,." kata Leeteuk sambil mengingat-ingat wajah Kibum yang tadi ditemuinya.
"Dia tidak sampai mengatakan namanya kan?! Benarkan?!" Leeteuk mengangguk ngeri melihat ekspresi Jaejoong yang terlihat panik. "Syukurlah.." Jaejoong mengusap dadanya dengan nafas lega.
"Kenapa kau begitu khawatir Jae?" tanya Yoochun.
"A, ani.. hanya saja. Lupakan!" Jaejoong buru-buru
Senyum manis yang mematikan?
.
.
.
"YA! PABBO KIM KIBUM!" Jaejoong menunjuk-nunjuk layar ponselnya dengan kesal. Disana ada Kibum yang sedang memasang cengiran.
["Hehehe.."]
"Kenapa kau datang tanpa memberi tahu hyung? Bagaimana kalau yang lain tahu termasuk kekasihmu kalau kau itu adikku? Bukankah rencana gilamu itu akan sia-sia?" Jaejoong masih memasang wajah kesalnya.
["Oh iya! Ya ampun aku tidak sadar soal itu! Padahal kan niatku cuma mau mengantarkan itu sambil melihat tempat tinggalku nanti hehe..."] Kibum memukul kepalanya sendiri.
"Untung kau tidak memberitahu namamu pada Leeteuk.." Jaejoong kembali bernafas tenang.
["Iya untung saja.. hah.. maaf hyung.. Yah kalau sampai bertemu kekasihku tersayang mungkin itu bonus hehehe."]
"PABBO! Pokoknya lain kali kau tidak boleh kemari tanpa memberitahuku! Mengerti?!"
["Mengerti hyung.."]
Jantungku rasanya mau copot saat itu..
Kenapa aku punya adik sepolos dan sebodoh Kibum sih? bukannya dia yang punya rencana gila ini, tapi malah dia sendiri yang hampir menghancurkannya. Benar-benar anak labil..
Dan oh! Kalau reaksi Leeteuk saat bertemu dengan Kibum biasa saja, bukankah itu berarti kalau Leeteuk bukan kekasih Kibum?
Dan.. akhirnya ada titik terang sedikit, 1 orang lagi yang bisa ku coret dari 'Daftar yang mungkin kekasih Kibum' HAHAHA
.
.
.
To Be Continue
.
.
Pojokan rumah Author ::
Sudah tahun baru ya? hehhehe~
Tahun baru itu sekaligus umur baru bagiku /gaada yang tanya/
Maaf sekali lama update. Tenang FF ini akan terus berlanjut kok sampai selesai, meski emang update nya tidak akan ASAP. Kadang cepat kadang lamaa seakan FF ini sudah terkubur lama dan dilupakan wkwkw. Harap di maklumi semuanya. Terimakasih untuk semua yang masih setia membaca dan meninggalkan jejak review di FF yang akan sangat panjang episodenya ini.
Mari kita tinggalkan 2017 yang penuh dengan kenangan. Banyak yang sudah di lalui semuanya, sebenernya pengen curhat panjang lebar tapi yah, sudahlah hehe..
Selamat Tahun Baru 2018~
Apa resolusi kalian? Kalau resolusiku ya… apa ya? menikah? Jadi kaya? Yah, intinya masih banyak resolusi dari tahun-tahun sebelumnya yang tak kunjung menjadi nyata. Jadi mari kita wujudkan bersama satu persatu.
Mari kita isi hari-hari di tahun baru ini dengan cerita yang baru pula sebagai kenangan yang suatu hari nanti bisa kita ingat kembali.
Salam semangat baru dari,
Nyangiku.
