Disclaimer: Supernatural is CW's. The story is mine.

A/N: Satu chapter lagi sebelum cerita ini selesai. Semoga chapter ini cukup memuaskan. Dan untuk bab sebelumnya, ada beberapa typo (my heroines, you know who you are! ;D) dan sekarang sudah kuedit. Oke, sekian saja dariku. Enjoy the story n please review!

VII – Pole of Choices

"Sammy, help me…."

Dean berbisik pada kegelapan. Ia terbaring terlentang di atas sesuatu yang dingin dan keras, menggigil hebat. Mereka telah melepaskan rantai yang mengikatnya, tapi bukan berarti itu memberinya kesempatan untuk kabur. Dean terluka begitu parah sampai tubuh dan otaknya tak mampu berkoordinasi lagi. Hunter itu menghela nafas pelan, berjengit ketika tulang rusuknya yang patah berdenyut menyakitkan. Wajahnya terasa panas oleh darah dan nanah. Setengah sadar ia berpikir, bahwa luka-lukanya pastilah cukup untuk membuat semua staff Seattle Grace Hospital kelimpungan.

Dean memandang langit malam lewat segaris celah yang tersisa dari mata bengkaknya. Entah sudah berapa lama sejak ia terakhir kali melihat Sam – Sam-nya, si pintar yang senantiasa menyembunyikan hidungnya di balik laptop – bukan Demon-Sam yang menyiksanya tanpa henti. Dean tidak tahu di mana dirinya sekarang, dan tidak yakin Sam tahu keberadaannya, tapi ia tetap berharap. Berharap agar adiknya datang menyelamatkannya dari mimpi buruk ini. Berharap saat ia membuka mata nanti, ia akan berhadapan dengan wajah Sam yang tersenyum hangat, bukan tersenyum jahat. Dean menutup mata, airmata bergulir ke pelipisnya.

"Sammy, help me...."

* * *

Sam mengencangkan dan mengendurkan cengkeraman pada setir berkali-kali dalam usaha yang sia-sia untuk menghilangkan ketegangan di setiap sarafnya. Ia melirik ke kaca spion, menghitung untuk kesekian kalinya jumlah mobil yang membentuk barikade membuntuti Impala. Memastikan ia punya cukup banyak orang di pihaknya malam ini.

Keempat hunter dan satu dokter di rumah Joshua telah merencanakan penyerbuan ini matang-matang, segera setelah Sam cukup dingin untuk berada satu ruangan dengan Nathan. Mereka meminta bantuan hunter-hunter lain juga, dan dalam waktu kurang lebih delapan belas jam, sekitar dua puluh orang bergabung dengan mereka, siap menghadapi pertarungan hidup-mati. Kemudian tanpa banyak menunggu lagi, mereka langsung berangkat ke lokasi yang menjadi pusat symbol.

Perut Sam melilit ketika pandangannya jatuh pada truk Bobby yang berjarak dua mobil di belakang. Dalam truk itu, ia tahu Alice sedang duduk di backseat. Sejak persyaratan yang ia ajukan, Alice sama sekali tidak pernah berada di dekat Sam. Hal ini, sungguh aneh, membuat Sam merasa kesepian. Sama seperti saat ia tidak bersama Dean. Di sekelilingnya memang ada banyak orang, beberapa diantaranya, Bobby dan Ellen, sudah ia anggap sebagai orangtua sendiri. Tetapi selalu ada perbedaan antara orang yang kau anggap sebagai keluarga dan orang yang benar-benar keluargamu. Ada momen-momen tertentu di mana kau membutuhkan dukungan dari orang-orang yang benar-benar memiliki ikatan denganmu, dan saat ini, Sam sedang mengalaminya. Ia membutuhkan dukungan dari Alice agar dapat menyelesaikan misi ini. Ia membutuhkan dukungan dari putrinya untuk menentukan masa depannya sendiri.

Mobil Josh dan Nathan yang berada paling depan berhenti. Sam menginjak rem dengan kaget. Saking asyiknya menerawang, ia tidak sadar mereka telah sampai tempat tujuan. Buru-buru ia keluar mobil, bersamaan dengan hunter-hunter lain di belakangnya.

Sam mencermati kondisi sekitar. Mereka berada di sebuah situs kuno. Bangunan-bangunan batu menjulang dalam kegelapan, sebagian diantaranya hancur termakan usia, sebagian menghilang di balik lumut. Nathan telah menjelaskan bahwa tempat ini dulunya merupakan tempat sakral suku setempat, yang konon menjalin kesepakatan dengan demon demi keeksisan mereka. Sebuah tempat untuk melakukan upacara pengorbanan. Sam bergidik keras ketika pikiran itu melintas.

Sebuah tepukan di bahu membuat Sam menoleh. Ia langsung berhadapan dengan Bobby yang menyandang senapan besar di bahunya. "Semua hunter sudah berpencar, Sam. Mereka akan memberi sinyal jika menemukan Dean."

Cowok itu hanya mengangguk. "Uh, Bobby. Apa Alice di mobil?" ia bertanya, dan langsung merasa wajahnya panas. Pertanyaan konyol.

"Yeah," jawab Bobby, dan ia tersenyum penuh pengertian. "Aku pergi duluan. Kau bicaralah dengannya."

"Uh, thanks," kata Sam canggung. Tak perlu ia bertanya bagaimana Bobby bisa tahu apa yang ia pikirkan. Bobby memang sudah lama bisa membaca kedua anak Winchester.

"Good luck, kiddo." Bobby meremas bahu Sam perlahan, lalu bergabung dengan hunter lain, mulai menyusuri situs.

Sam menarik nafas dalam-dalam, melangkah mantap menuju truk. Ketika membuka pintu, hal pertama yang dilihatnya adalah Alice – rambut coklatnya menggantung awut-awutan di depan wajah – duduk bersila di jok depan, bermain-main dengan M&Ms-nya. Anak itu menoleh, alisnya berkerut sedikit saat mengetahui siapa yang mengganggunya, kemudian kembali berpaling seolah Sam adalah makhluk tak kasat mata.

Sam berdeham. "Alice."

Alice tak bergeming. Sam mencoba sekali lagi.

"Alice?"

Tetap tak mendapat reaksi yang diharapkan, Sam memutuskan untuk masuk ke truk dan duduk di samping putrinya. Alice bergeser sedikit, tapi tetap tak memandangnya.

"Alice, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu," kata Sam pelan tapi tegas.

"Kukira kau sudah menyetujui persyaratanku," kata Alice pada permen-permen coklatnya.

Sam memegang kedua pipi Alice dan memutar kepalanya agar mereka saling bertemu mata. "Alice, dengar. Aku tahu kau marah padaku – "

"Aku tidak marah."

"Kalau begitu kau kecewa padaku. Atau apa pun yang kau rasakan yang membuatmu tidak ingin bicara denganku lagi. Tapi Alice, please, untuk kali ini saja, tolong aku. Please." Sam berusaha mencampur urgensi dan permohonan dalam kalimatnya dengan porsi tepat. Sebab kegagalan akan diperolehnya dengan kesalahan sedikit saja.

Alice menatapnya sejenak. Sam bertanya-tanya apa yang ada dalam pikiran anak itu. Apakah ia masih mau bicara dengannya?

"Tentang apa?" tanya Alice akhirnya. Sam menghembuskan nafas yang tanpa sadar ia tahan. Satu lagi hal yang membuat Alice makin mirip dengan Dean. Ia mengingkari janji, sumpah ataupun persyaratan apapun yang dibuatnya sendiri demi orang lain.

"Aku...." Sam ragu sejenak. "Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menggunakan kekuatanku? Atau menyelamatkan Dean dengan usahaku sendiri?"

Mendengar pertanyaan itu, Alice mendengus. "Sudah kuduga," katanya dengan nada merendahkan yang membuat Sam merasa ciut.

"Sudah kau duga apa?" Sam tetap bertanya walau ia sudah tahu jawabannya. Ia hanya berharap apa yang diperkirakannya itu salah.

"Pertanyaanmu itu," kata Alice. "Itulah sebabnya kau menemuiku, kan? Kau hanya ingin tahu cara terbaik untuk menolong Dean. Kau bertanya padaku karena aku tahu apa yang akan terjadi. Kau tidak mau mengambil keputusan sendiri karena takut akan menciptakan masa depan yang gelap, di mana aku terlahir sebagai anak demon dan Dean tewas di tanganmu sendiri."

Sam tertohok. Ia merasa semakin malu pada Alice. Benar, memang itulah tujuannya bertanya pada Alice. "Apa salahnya dengan itu?"

"Tidak ada salahnya ingin tahu apa yang terbaik untuk kita," Alice berkata dengan kedewasaan yang mengagumkan. "Aku bisa saja memberitahumu apa yang harus kau lakukan, tapi benarkah itu yang kau mau? Aku tidak selamanya berada di sini untuk menuntunmu melakukan hal yang benar. Cas akan membawaku ke kembali ke masaku, dan setelah itu, apa ada jaminan kau bisa mengambil keputusan yang tepat? Apa ada jaminan kau tidak akan menjadi demon leader? Kecuali kau belajar sendiri untuk membedakan mana yang memang baik untukmu dan mana yang terkesan baik untukmu, masa depan tidak bisa berubah."

"Jadi kau tak mau memberitahu apa yang harus kulakukan, meski sekarang nyawa Dean sedang terancam bahaya?" Sam bertanya putus asa.

"Kadang lebih baik kita membiarkan orang yang kita sayangi pergi selamanya, daripada hidup dalam penderitaan," kata Alice lirih. "Unca tidak pernah mengatakan hal ini padaku, tapi seringkali, aku merasa ia lebih memilih mati daripada harus hidup untuk menyaksikan ayahku makin terjerumus dalam kegelapan dari hari ke hari."

Sam terdiam. Pikirannya sibuk berkelana. Tentu saja, Alice tidak memberitahu apa yang harus ia lakukan, tapi dalam kata-katanya, tersebar petunjuk yang jelas. Sam harus berhenti menggunakan kekuatannya. Tapi, apa benar harus begitu? Selama ini, Dean-lah yang menjaga Sam agar tidak terperosok ke sisi jahat. Jika Dean pergi, apalagi jika ia tewas karena Sam tidak menolong dengan kekuatannya, padahal seharusnya ia bisa, apa Sam mampu bertahan? Apa ia tidak akan lepas kontrol dan menyerah pada takdirnya sekalian? Pada situasi ini, hal yang memang baik dan yang hanya terkesan baik sungguh sangat tipis sekatnya. Terutama karena ia tidak bisa tahu apa efek dari pilihan yang akan diambilnya.

"Kurasa sebaiknya aku pergi," gumam Sam, merasa tak bisa mengorek apa pun lagi dari Alice. Cowok keluar dari truk menuju Impala untuk mengambil senjata.

"Sam?" panggil sebuah suara kecil di belakangnya. Sam menoleh. Alice melongokkan kepalanya dari jendela, tersenyum kecil. "Aku meralat kata-kataku."

"Apa?" jantung Sam berdegup kencang. Apa Alice mau memberitahu.....?

"Aku bukan tidak peduli pada apa pun keputusanmu," jawab Alice, "aku mendukung apa pun yang akan kau pilih. Aku tahu kau akan melakukan yang terbaik."

Sam hanya tersenyum simpul, takut akan mengumbar janji belaka jika ia menjawab putrinya.

* * *

Dean membuka mata perlahan. Sejak tiba di tempat ini, sudah beberapa kali ia dalam kondisi seperti itu. Kadang sadar, kadang tidak. Kadang inderanya cukup tajam untuk berfungsi, kadang ia bahkan tidak mampu untuk sekedar melihat. Kali ini telinganya mampu menangkap teriakan-teriakan dan ledakan. Seolah sedang ada pertarungan hebat tak jauh dari tempatnya. Apa aku hanya membayangkan suara itu? Batin Dean.

"Senang kau terbangun lagi, Dean-o," kata suara yang Dean kenal betul siapa pemiliknya. Sam berjongkok di samping Dean, matanya kontras dengan langit malam.

Dean ingin menukas, tapi sudah tak punya tenaga. Ia juga tak mampu berteriak ketika mendadak saja rasa sakit melecut di setiap senti kulitnya. Demon-Sam sedang menyiksanya, lagi. Hanya itu yang bisa diproses oleh otaknya. Sammy, cepatlah datang.....

"Dean, Dean, Dean," ujar Sam, geleng-geleng kepala, tampak sangat terhibur. "Maaf aku lupa memberitahumu, tapi Sammy sudah datang."

Andai wajahnya tidak begitu kebas, Dean pasti menyadari dahinya berkerut oleh kegembiraan, juga kekhawatiran. Ia gembira karena Sam akhirnya menemukannya. Tapi ia khawatir karena demon ini tampaknya juga senang Sam datang. Dan apa yang membuat demon senang, tak pernah merupakan sesuatu yang baik.

"Oh, tentu saja aku senang, Dean-o," dengkur Sam, memamerkan keahliannya membaca pikiran Dean. "Bagaimana tidak? Rencanaku berjalan sangaaaat mulus. Hanya dengan menangkapmu, aku bisa mendapatkan apa yang kumau tanpa perlu repot."

Sam tertawa. "Sejujurnya, Dean. Rencana ini tak terpikir olehku sebelumnya," ia berdiri dan memulai kebiasaannya berjalan mengitari Dean. "Sampai Cas membawa Alice kembali ke masa ini. Awalnya aku hanya berniat mengambil kembali putriku. Tapi kemudian, aku mendapat ide yang sangat brilian. Kau tahu apa itu?"

Dean punya satu dugaan, dan tak perlu ia bicara agar Sam tahu.

"Benar sekali, Dean." Sam bertepuk tangan. "Aku kembali ke beberapa hari sebelum Alice, mengumpulkan demon dan menyiapkan segalanya. Menculikmu hanyalah bagian kecil dari skenarioku. Sebab tujuan utamaku adalah...." Ia berbisik di telinga Dean dengan dramatis, "membuat kekuatan demon Sam bangkit lebih cepat."

Segalanya jadi jelas sekarang. Alasan ia diculik oleh para demon. Mereka tidak pernah menginginkannya, mereka menginginkan Sam. Dean hanya sebagai umpan untuk menarik Sam dalam perangkap. Sammy... please! Jangan datang! Mohon Dean sia-sia. Si demon tertawa puas. Please, Sammy! Jangan datang!!!

* * *

"Dean!"

Sam berlari ke dalam salah satu bangunan. Ia tidak tahu kenapa ia memilih pergi ke arah itu. Juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ia merasa begitu panik, atau kenapa ia memanggil nama kakaknya. Sam hanya mengikuti insting yang muncul begitu saja, perasaan bahwa Dean ada di dalam sana.... menunggu bantuan.

Langkah Sam dihentikan oleh sekelompok demon yang menghadangnya tepat di balik tikungan, dipimpin oleh demon dalam tubuh seorang wanita berambut hitam dan memakai liontin. Ia tersenyum.

"Halo, Sam. Masih ingat aku?"

"Meg," kata Sam, matanya menyusuri demon-demon lain, semua memasang kuda-kuda. "Minggir kau, aku tak punya waktu berurusan denganmu."

"Oh, Sam. Aku juga sudah kehilangan minat padamu," Meg melambaikan tangan tak acuh. "Tapi teman-temanku ingin bermain-main denganmu."

Seketika itu juga semua demon menyerbu Sam. Awalnya ia mampu bertahan, tapi jumlah mereka terlalu banyak. Satu demon berhasil memukul kepalanya. Bintang-bintang bertebaran di depan mata, seluruh ruangan serasa berputar. Sam mengerjap untuk menjernihkan pandangan, tapi satu demon lagi menjegal kakinya, membuatnya jatuh terjerembab mencium lantai. Sam merasakan asin di mulutnya saat bibirnya mulai mengeluarkan darah. Demon-demon mulai mengerubutinya, menendang dan menginjak tanpa ampun.

"Sam!"

Semua demon berhenti mendengar suara itu. Sam tidak mampu melihat dari balik kerumunan demon yang mengitarinya, tapi ia yakin Bobby dan hunter-hunter lain tengah berlari ke arahnya, mengacungkan senapan dengan garang.

"Hands off my boy, you sonovabitch!"

Bobby menembakkan peluru rocksalt, diikuti hunter-hunter lain. Semua demon langsung melupakan Sam dan ganti melawan musuh baru mereka. Sam bangkit perlahan, memegangi kepalanya yang masih berdenyut menyakitkan.

"Sam! Pergilah! Biar kami urus mereka!" seru salah satu hunter yang Sam lupa namanya. Cowok itu mengangguk dan bergegas menuju lorong di hadapannya.

* * *

Lorong panjang dan gelap itu akhirnya berkahir juga. Sam berdiri di pinggir sebuah lapangan berlantai batu, tembok tinggi menjulang di sekelilingnya. Tempat itu menakjubkan, walau dengan aura kekejaman yang masih mengambang di udara. Sam sempat terkesima sejenak, sebelum pandangannya jatuh pada sosok yang terlentang di tengah-tengah lapangan. Sosok yang membuat semua udara terdorong keluar dari paru-parunya, dan kakinya kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya.

"Dean?"

Sam terseok-seok mendekati kakaknya. Airmata mengucur deras saat ia berlutut di samping Dean. Dean, orang yang selalu menjadi pahlawannya, yang selalu berdiri dengan gagah, kini tampak begitu lemah. Sam sampai tak berani menyentuhnya, melihat begitu banyak darah dan luka. Benda-benda tajam merajah sekujur tubuh Dean. Sepotong kaca selebar kurang lebih tiga senti menancap cukup dalam di kepalanya, membuat Sam mual. Lengan kirinya meliuk pada sudut yang aneh, Sam bersumpah melihat tulang putih-kelabu mencuat dari sikunya. Wajahnya nyaris tak dikenali karena tertutup darah dan memar kehitaman.

"Smmm?" bisik Dean perlahan, nyaris tak terdengar.

"Dean?" Sam mendekatkan diri, namun berhati-hati agar tidak menyentuh luka Dean. "Dean, man, you ok?" Oke, pertanyaan bodoh.

"S-s-s-saaammmm," Dean terengah, berjengit ketika dadanya makin sesak. "G-g-g-gooo...." Ia terbatuk, menciprati Sam dengan butir-butir darah.

"Dean, Dean, sshh... It's ok, man. Don't talk. I'll take you outta here. Just hang on, ok?" Sam mengelus kepala Dean di bagian yang tidak terluka begitu parah.

"S-s-s-saaaammm," Dean berdecit, mata hijaunya mengarah ke belakang Sam. Kalau bukan karena sudah mengenalnya sangat baik, Sam tidak akan menyadari ekspresi ngeri di wajah Dean. Sam berbalik, dan bertatapan langsung dengan sepasang mata kuning terang.

Hal selanjutnya yang Sam rasakan adalah tubuhnya terhempas ke tembok batu, puluhan meter dari posisi semula.

Si Yellow-Eyed Demon berjalan mendekat. Sam mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali untuk memastikan ia tidak salah lihat. Ya Tuhan.... apa lagi sekarang.... possessed-shapeshifter?

"Halo, aku," sapa Demon-Sam, menelengkan kepala ke satu sisi.

"Siapa kau?" tanya Sam, tak bisa membuang muka dari demon itu.

"Aku? Aku Sam Winchester."

"Aku Sam Winchester!" sentak Sam keras-keras, seolah dengan begitu Sam dihadapannya akan luruh ke wujud aslinya. "Kau bukan aku!"

Demon-Sam tertawa bengis. "Sadarkah kau betapa konyol kalimatmu tadi terdengar? Tentu saja aku bukan kau. Tapi kau adalah aku."

"APA MAKSUDMU?"

"Aku, Sam. Adalah ayah Alice."

Rasa dingin menjalar di tulang punggung Sam, dingin yang tidak ada hubungannya dengan udara malam atau suhu tembok batu. Sejujurnya, Sam sejak lama berfirasat bahwa para demon memiliki kekuatan hampir imbang dengan para angel. Dan jika Castiel bisa dengan mudah pergi ke masa lalu, seperti seseorang dengan mudah pergi ke rumah tetangganya, maka demon pun bisa. Hanya, Sam selalu mendorong pikiran itu kuat-kuat tiap kali muncul. Hidup jadi jauh lebih mudah jika kau pura-pura tidak tahu.

"Apa yang kau inginkan?" Sam benar-benar berharap gemetar dalam suaranya tak terdeteksi.

"Oh, tidak ada." Si Demon melambaikan tangan dengan bosan. "Cuma ingin kembali ke masa lalu, bernostalgia...."

"Apa. Yang. Kau. Inginkan?" Gigi Sam bergemeretak keras.

"Oke, oke. Aku tidak bisa membohongi diri sendiri, huh?" Demon-Sam terkekeh atas komentarnya sendiri. "Yang ingin kulakukan, Sam. Adalah ini." Ia mengarahkan tangan pada Dean.

Tiba-tiba cowok itu melayang dua meter di udara. Meski tidak sedikit pun jeritan terlepas dari Dean, Sam tahu kakaknya didera sakit yang luar biasa. Tubuhnya menegang dan mengejang, menggeliat-geliut melawan sakit.

"Stop it!" teriak Sam histeris. Gelenyar deja vu memenuhi hatinya. Masih kuat betul ingatan saat terakhir kali ia meneriakkan kata yang sama. Kata yang mengawali hidup hampa, kesepian, penuh penderitaan mendalam oleh keabsenan Dean.

"Kenapa Sam?" ejek si Demon. "Kau tak bisa menghentikanku?"

Hampir bersamaan dengan itu, kekuatan Sam membuncah dalam tubuhnya, menggelegak bagai magma siap menyembur dari gunung. Belum pernah Sam merasakan sensasi seperti itu. Logika meninggalkan hati dan pikirannya, menyisakan nafsu membunuh yang tak tertahankan. Sam yakin ia bisa membinasakan Demon-Sam hanya dengan satu serangan. Ia memfokuskan diri, mengerahkan seluruh tenaga....

Aku tahu kau akan melakukan yang terbaik.

Kecuali kau belajar sendiri untuk membedakan mana yang memang baik untukmu dan mana yang terkesan baik untukmu, masa depan tidak bisa berubah.

Suara Alice yang merasuk ke benaknya membuyarkan Sam. Kembali ia menarik kekuatan yang telah tiba di penghujung landasan, siap diluncurkan. Hal itu menimbulkan efek yang sangat tidak nyaman, seperti saat kau menahan muntahan untuk keluar, hanya saja seribu kali lebih parah. Tubuh Sam lemas karenanya. Ia memejamkan mata erat-erat, menghirup nafas dalam, menghitung sampai sepuluh. Kebiasaan yang diajarkan John.

Jangan, ia menegur diri sendiri. Jangan gunakan kekuatanmu, Sam. Ingatlah Alice. Ingatlah masa depanmu. Ingatlah Dean.

"Oww, Sammy kecil yang malang. Terlalu takut untuk menyelamatkan kakaknya," Demon-Sam mencerca. "Sammy-boy, kau menyedihkan. Bahkan tidak punya kepercayaan diri untuk mengontrol anugerah yang diberikan padamu." Ia memutar Dean dengan kencang untuk memprovokasi Sam. Andai Dean sadar, dia pasti sudah muntah. "Belum sadarkah kau, Sammy. Dengan menyerah pada anugerah itu, dunia akan jatuh dalam genggamanmu. Cepat atau lambat kekuatan itu akan memakanmu, dan lebih baik jika kau mempersingkat waktunya."

"Ini bukan anugerah. Hanya beberapa tetes darah demon yang mengutuk hidupku. Dan aku tidak akan menyerah padanya, apalagi menggunakannya untuk menolong Dean," gertak Sam.

"Oh? Jadi apa yang akan kau lakukan? Diam saja di situ menyaksikan Dean mati perlahan?"

Sam terdiam sesaat. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak Dean jatuh ke naraka. Ia melakukan sesuatu yang dulu menjadi tempatnya bergantung. Sesuatu yang pernah membuatnya melambung penuh harap, juga yang membuatnya terhempas dan meragukan adanya higher power, meragukan adanya greater good ketika apa yang dimohonnya tak pernah tercapai.

Berdoa.

Ia berdoa pada Tuhan yang sempat ia ragukan keberadaan-Nya.

God.... please, help us....

Ia berdoa pada Dia yang telah mengembalikan Dean ke sisinya.

Please, let us make it through this....

Jika memang Dean ditugaskan untuk melakukan sesuatu untuk-Nya. Dia akan melindungi Dean.

Please, save Dean. Save us. Please....

Karena Tuhan Maha Pengasih. Karena Dia selalu mendengar dan menjawab do'a seluruh umat-Nya.

Save me.

Dan do'a terkabul.

Sam tidak tahu persis bagaimana terjadinya. Tiba-tiba cahaya terang menyeruak menyingkirkan kegelapan di tempat itu. Sam menyipit, mencari sumber cahaya. Ia merasa melihat sosok Castiel, dan banyak sosok-sosok lain di belakangnya memasuki area lapangan, tapi ia tak begitu yakin.

Dan ada perasaan ini di hatinya. Perasaan yang aneh, yang membuat seluruh tubuhnya merinding, tapi bukan ketakutan. Juga bukan kebahagiaan, atau kelegaan, atau apa pun namanya. Sebuah perasaan mendekati takjub, tapi lebih dari itu. Cahaya itu menyebarkan keanggunan, keindahan, kemuliaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cahaya yang membuat Sam merasa aman.

Dari tempat yang sangat jauh, Sam juga mendengar lengking menakutkan, kengerian yang disebabkannya tak pernah mampu diungkapkan. Gumpalan hitam pekat mulai meresap, menodai sinar membutakan itu. Keduanya beradu, berusaha saling melahap satu sama lain, menguasai lapangan. Kemudian, cahaya itu bersinar lebih terang, sangat terang hingga mata Sam sakit walau ia sudah menutupnya.

Tanpa aba-aba, Sam terlepas dari tembok, membentur lantai dengan keras. Kepalanya pening, pandangannya kabur. Tapi ia sempat melihat sebuah siluet mendekat, menyentuh dahinya. Sam merasakan kehangatan dari sentuhan itu, menyebar cepat ke seluruh tubuh, menghilangkan sakit, membuatnya tenang.

Sam tersenyum, airmata bergulir di pipi. "Thanks, God," bisiknya, dan ia pun pingsan.

TBC