Bleach by Tite Kubo

The Miko's Mask and The Girl's Identity by RiiXHitsuHina

Hohohoh… Belakangan ini aku mikir, ada ga sih anak dari sekolah gw yang jadi anggota fanfic ato pembaca fanfic?? Kalo ternyata ada anak DP yg ikut jadi anggota ato suka baca, kasih tau ketua kelas 9.A ya!!!!


Chapter 7

Secret Revealed

Di suatu tempat di Desa Soukyouku..

Rumah ini sudah sangat tua. Atapnya yang terbuat dari daun kelapa sudah berlubang di mana-mana. Dinding yang terbuat dari rotan itu sudah lapuk termakan waktu. Entah apa yang dilakukan 2 orang di dalam rumah yang hampir ambruk itu.

"Apakah foto ini sudah cukup?", kata suara pertama, "Jika belum, aku masih memiliki beberapa foto lainnya dan negatifnya."

Suara kedua tiba-tiba memarahinya, "Dasar bodoh! Bukankah sudah kukatakan padamu untuk langsung membakar semua barang bukti selain fotonya?!"

Ia mengeluarkan beberapa foto dari dalam tas yang ia bawa, "Maafkan aku. Negatif itu aman di tempat yang kusembunyikan. Apakah kamu akan segera melaksanakan rencana kita?"

"Tentu saja. 3 hari lagi dan keluarga Hinamori akan jatuh ke tangan kita."


Di perkemahan,

Sudah jam setengah 8 pagi, tapi belum ada seorang pun yang bangun di perkemahan kecuali Rukia.

"Ayo, Rukia! Beranikan dirimu!", pikir Rukia saat ia sedang membuat sarapan. Rencananya, ia ingin menanyakan perasaan Ichigo padanya pagi hari ini. Tapi tentunya, tanpa diketahui oleh Orihime.

Ia menunggu Ichigo untuk bangun dan, BRAK! Tenda anak laki-laki terbuka. Tapi ternyata Ishida yang keluar.

"Ah, selamat pagi Rukia-san. Rajin sekali sudah membuat sarapan."

Rukia kecewa berat, "Ah, iya..".

Melihat tampang Rukia yang kecewa, Ishida langsung memiliki firasat, "Rukia-san, kamu menunggu Kurosaki ya?"

Rukia tersentak, "A? Apa??".

"Aku mengerti hubungan kalian berdua. Wajah kalian berdua tidak bisa membohongiku."

"A, aku tidak menunggunya!", rengek Rukia menyangkal.

"Kau menunggunya..", ejek Ishida.

"Tidak!"

"Ya…"

"Tidak!!!!! Harus berapa kali kukatakan aku tidak menunggunya!!!"

"Baiklah, kau tidak menunggunya…"

"Haha! Aku memang menunggunya!!!", Rukia termakan siasat Ishida.

Alis Ishida terangkat sebelah sambil tersenyum, "Kau memang menunggu Kurosaki, Rukia-san."

Rukia kini tidak bisa mengelak lagi, "Huh! Rupanya kamu cukup tajam juga!", kata Rukia mengambek.

BRAK! Tenda laki-laki terbuka lagi, dan kali ini yang keluar adalah Ichigo.

"I, Ichigo!", teriak Rukia.

"Pagi, Kurosaki.", Ishida memberi salam.

"Pagi, Ishida, Rukia.", balas Ichigo.

Wajah Rukia memerah, ia merasa sudah tepat saat ini baginya untuk menanyakan Ichigo.

"Ichigo! Ikut aku!", teriak Rukia, "Ishida, kalau kamu memang mengerti, jangan ganggu dulu!".

Ishida mulai berpikir yang macam-macam, "Wow.. Mengganggu apa? Baiklah. Serahkan padaku.", katanya santai. Sementara, Rukia mengajak Ichigo ke bagian perkemahan yang agak sepi.

"O, oi! Rukia! Apa yang kau lakukan?! Kita mau ke mana?", teriak Ichigo.

Rukia berhenti, suaranya jadi bergetar, "A, aku.. Aku.. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Ichigo.".

Melihat gerak-gerik Rukia, Ichigo bisa menebak apa yang ingin dilakukan Rukia, karena ia juga memiliki perasaan yang sama.

Ichigo jadi tidak sabaran, "Ayolah! Cepat katakan saja!".

Rukia jadi makin gugup, "SABAR! Aku mencoba!".

"Tapi kamu lama, Bodoh!"

"Bodoh? Siapa yang terjatuh dari atas pohon setinggi 3 meter untuk seorang gadis? Itu baru bodoh!".

Menyadari tindakan mereka berdua yang sama sekali tidak romantis, mereka pun diam.

Rukia memulai pembicaraan baru, "Baiklah. Aku… Aku menyukaimu. Tidak penting apakah kamu mau berpacaran denganku, aku hanya ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya padaku."

"M.. Ah, itu… Jadi…", Ichigo terbata-bata.

"Jadi?"

"Aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu, Rukia.", Ichigo lalu memeluk Rukia dengan erat. "Aku ingin hubungan kita lebih dari teman. Tapi aku takut persahabatanku dengan Renji retak."

Rukia yang berada dalam pelukan Ichigo berkata, "Hah? Renji? Apa hubungannya?".

Wajah Ichigo makin dekat pada Rukia dan ia berbisik, "Ia juga menyukaimu, bodoh!".

Selesai mengucapkan kalimat itu, wajah mereka makin dekat dan dekat. Mata mereka tertutup dan akhirnya bibir mereka bersentuhan dengan lembut satu sama lain.

KREK! Terdengar suara ranting patah dari belakang Rukia.

Mereka berdua menoleh ke arah suara ranting itu, "I, Inoue!", kata Rukia. Badai telah datang.

"Ah, Kuchiki-san, Kurosaki-kun, maaf telah mengganggu kalian..", kata Inoue pelan dengan pipi yang basah.

Sayup-sayup, terdengar suara langkah kaki seseorang, "INOUE-SAAAN!!!", ternyata itu suara Ishida. Mendengar suara Ishida yang datang ke tempat itu, Inoue langsung mengusap air matanya.

"Ishida-kun. Ada apa berteriak memanggilku?", kata Inoue pura-pura gembira.

Rukia dan Ichigo hanya bisa memberikan tatapan khawatir pada Inoue dan Ishida, tatapan yang mengatakan bahwa mereka menyesal. Ishida pun membalas tatapan mereka, sama-sama khawatir.

"Ayo, Inoue-san, kuantar kau kembali ke tenda.", dan mereka berdua pun kembali ke perkemahan sementara Ichigo dan Rukia memutuskan bahwa belum saatnya mereka berdua lebih lebih dari teman.


Di bagian lain perkemahan yang jauh dari tenda..

Inoue yang kabur dari Ishida kini sedang menangis terisak-isak di atas batu. Memikirkan orang yang disukainya memilih sahabatnya sendiri.

"Inoue-san.", Ishida menghampirinya. Duduk di samping Inoue. "Kalau kau membutuhkan seseorang untuk dijadikan tempat menangis, aku bisa.".

"Terima kasih, Ishida-kun.. Tapi aku tidak perlu.", Inoue mulai tenang. "Aku tahu hal ini akan terjadi. Hanya saja, ini terlalu cepat untukku.", air mata Inoue mulai mengalir lagi.

"Tatapan mereka berdua satu sama lain, tatapan yang saling mengasihi. Meskipun mereka banyak bertengkar, tapi, tapi..", dan air mata gadis itu mengalir deras lagi.

"Sudahlah, Inoue-san..."

"Hiks, hiks.. Terima kasih telah menghiburku, Ishida-kun..", Inoue menyondongkan badannya ke dada Ishida.

Wajah Ishida langsung merah, tapi ia tidak bisa mengelak. Ia hanya bisa mengusap kepala Inoue, memeluknya dengan hangat agar ia tidak sedih lagi.

"Sama-sama, Inoue-san."


Malam harinya,

Di perkemahan,..

Setelah melalui hari yang berat, Ichigo merubuhkan badannya ke atas matrasnya.

"Cih, sudah beberapa hari di perkemahan, tapi kenapa perkemahan ini jadi makin buruk ya? Seharusnya aku kan bersenang-senang! Sekarang, aku punya rahasia besar yang harus kujaga dari Renji.", pikirnya.

Di luar tenda laki-laki, Renji, Ishida, Hitsugaya, Rukia, Rangiku, dan Inoue sedang menikmati api unggun sambil makan malam buatan Rangiku. Tetapi, ada kecanggungan dan atmosfir aneh antara Rukia dengan Inoue, sementara, Rukia sendiri makin menjaga jaraknya dengan Renji, seperti saran Ichigo.

"Eeh!? Rukia-chan, Inoue-chan! Kenapa makan malam buatanku tidak dimakan? Kali ini aku memasak sesuai arahan dari kaicho lho!", tapi entah mengapa, Rukia dan Inoue tidak menjawab sama sekali. Mereka hanya menatap piring makanan mereka.

"EEEEEHH!! Rukia-chan! Inoue-chan! Jawab dong!!", teriak Rangiku dengan suara centilnya.

Tiba-tiba, tangan Ishida meraih pundak Rangiku, "Sudahlah Rangiku-san, biarkan mereka sendiri dulu."

"Ah!!! Aku tidak mengerti apa yang terjadi!!! Tapi, baiklah…", dan Rangiku pun menyingkir.

Inoue dan Rukia sebetulnya ingin berbicara mengenai Ichigo, bahwa mereka menyerah, tapi mereka berdua tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

Sementara Inoue dan Rukia menghadapi masalah mereka, untuk kedua kalinya, Hitsugaya mengendap-endap keluar dari perkemahan sambil membawa jahe hangat untuk ia nikmati bersama Momo, meskipun ia tidak tahu apakah ia akan bertemu dengan Momo.

"Hitsugaya kaicho, sedang apa kamu malam-malam begini?", Ishida muncul dari balik pepohonan. Hitsugaya pun kaget.

"A, aku, aku hanya…"

"Kurosaki tidak pandai berbohong. Aku tahu ke mana kau pergi kemarin malam.", tatapan Ishida tajam ke arah Hitsugaya.

Ia pun menyerah, "OK! OK! Baiklah! Kalau begitu, kamu sudah tahu kan aku pergi ke mana, Ishida?".

"Tentu saja sudah. Ke gadis itu bukan?", nada bicara Ishida mengejek. Wajah Hitsugaya samar-samar memerah.

"Baiklah! Iya! Aku memang mau pergi ke tempat Momo! Setidaknya, kamu tidak tahu bagaimana tampangnya.", kata Hitsugaya kesal.

Ishida hanya tertawa, "Hahaha.. Nanti, saat perayaan dimulai juga aku akan tahu. Dia miko penari bukan?".

"Ya! Terserah! Urus saja urusanmu sendiri sana! Aku pergi dulu!", Hitsugaya pun berlari ke arah gudang tempat pertemuannya dengan Momo terakhir kali.


Di gudang..

Terlihat Momo sedang duduk di atas rumput, tepat di samping gudang. Ia menikmati malamnya, berharap Hitsugaya akan datang, tapi sebagian hatinya juga berharap tidak demikian.

"Ah, Momo. Kau datang juga?", tiba-tiba terdengar suara Hitsugaya dari sampingnya. Tampaknya Tuhan sedang mendengar permintaan Momo.

"Eh? Shi, Shiro-chan? Kamu datang juga?", Momo kaget.

"Ah, iya.. Sepertinya pikiran kita sama.", wajah keduanya pun memerah.

Hitsugaya mengeluarkan sebuah termos berisi jahe hangat untuk memecah kecanggungan, "Aku bawa jahe hangat! Mau?".

Momo menggangguk, "Boleh, tapi aku harus pulang tengah malam nanti.".

"Terserah kau saja. Asalkan kamu tidak ketahuan oleh ibumu, silahkan saja."

Dan mereka berdua pun menghabiskan malam mereka dengan berpelukan satu sama lain sambil bercerita tentang berbagai hal sampai tengah malam tiba.

CHAPTER 7

OWARI


Yumemiru Reirin: kan 'di bukit di dekat gudang' tulisannya... Jadi uda di luar gudang...


HITSUHINA FOREVER!