.
"Apa maksud semua ini, Karin? Dan Uzumaki? Bagaimana bisa kau seorang Uzumaki? Bukankah kau—"
"Izuki. Ya, sebelumnya aku memang seorang Izuki. Izuki Karin yang lemah dan begitu putus asa untuk mendapatkan perhatian seorang Uchiha Sasuke sampai melakukan segala cara. Tapi seperti yang kau lihat sekarang aku adalah seorang Uzumaki sekarang. Klan paling berpengaruh di Jepang. Well, selain Uchiha tentu saja," ujar Karin tenang. Menikmati sesapan wine di gelasnya.
Sasuke mendecih pelan.
"Ara, kenapa? Kau tidak mungkin tidak setuju dengan hal itu, bukan? Kekuasaan Uzumaki-lah yang membuat Uchiha bisa bernapas lega terlepas dari skandal yang membelitnya. Jadi, kau harus berterimakasih kepada Uzumaki, Sasuke-kun. Ah, tidak. Maksudku—" Ucapan Karin terpotong saat seorang pelayan datang membawakan hidangan utama.
Karin kemuadian mengucapkan terimakasih kepada sang pelayan dan memulai ritual makan malamnya. Masih dengan tatapan intens, Sasuke menatap Karin tak bergeming.
"—kau harus berterimakasih kepadaku. Akulah yang membuat Heiji-sama yang terhormat mengeluarkan perintah absolutnya, Sasuke-kun." Jeda. "Ara, kenapa kau belum menyentuh makananmu? Makanlah, Sasuke-kun...."
"Jadi, ini semua rencanamu? Untuk menjebak keluargaku demi memuluskan strategimu?"
"Menjebak?" ulang Karin dengan raut terkesiap yang sangat meyakinkan. "Tega sekali kau menggunakan kata tersebut. Apakah aku yang membuat keluargamu terkena skandal roman picisan seperti itu?"
Karin tersenyum miring. Sasuke mengetatkan kepalan tangannya.
"Apa tujuanmu men-setting pertemuan ini?"
"Apakah Fugaku-san tidak mengatakannya padamu?"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Kurasa ada baiknya kita harus saling mengenal secara lebih intim dan personal terlebih dahulu sebelum acara pertunangan kita. Kita harus melakukan beberapa pendekatan supaya lebih akrab."
"Pertunangan? Are you nuts? Sasuke membanting pisau dan garpu di tangannya begitu saja. Matanya memicing penuh amarah.
"Tidak. Aku tidak gila. Kau yang gila jika sampai menolak perjodohan ini. Kau pikir pertaruhan apa yang Fugaku lakukan demi membungkam media? Itu dirimu Sasuke-kun. Si pewaris cadangan," sahut Karin kejam.
"Apa kau bilang?" geram Sasuke.
"Jadi, menyerah dan nikmati saja dinner romantis kita. Jangan sia – siakan usaha Fugaku-san yang telah mem-booking restauran super romantis sekelas Clos Maggiore ini untuk kita, Sasuke-kun?" ujar Karin dengan senyum kelewat manis.
.
.
Disclaimer :
Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei ever after
.
Starring :Uzumaki Karin, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
.
Warning : AU, Typo(s), SasuKarin Slight SasuSaku
.
Saya menerima kritikan sehat :D
I've warned you, this is a SasuKarin fanfic. You can leave if you don't like it, dear :D
.
.
Logica 6
.
"Jadi apa artinya ini, Naruto? Kau ternyata bersaudara dengan Karin dan tidak mengatakan apapun padaku?!"
Naruto sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya saat Sasuke berteriak dari seberang sana.
"Aho! Aku juga baru tahu kalau dia ternyata adalah anak dari Heiji-jisan yang lama hilang tahu! Jangankan rencana dinner romantis kalian kemarin malam. Dia yang ternyata akan tinggal di mansion Uzumaki mulai hari ini saja baru aku ketahui tadi pagi!"
Naruto mengusak rambutnya kesal. Sialan benar si Sasuke. Tidak hanya dia yang shock dengan fakta mengejutkan ini. Siapa yang menyangka ternyata pamannya memiliki seorang putri yang tak pernah beliau bagikan kepada publik. Bahkan kepada keluarganya sendiri.
Naruto sedikit banyak bisa memahami alasan pamannya saat itu memilih opsi out of the record mengenai putri semata wayangnya. Putri semata wayang dengan kemunculan yang tidak wajar bisa menjadi batu sandungan apik bagi karirnya menuju puncak Kepala Pemerintahan Jepang.
Justru hal yang tidak dia mengerti adalah mengapa pamannya memutuskan untuk mulai memperkenalkan Putri Uzumaki itu ke publik. Sekarang. Setelah lebih dari dua dasa warsa berlalu. Mengapa harus sekarang? Mengapa pamannya repot – repot membawanya kembali jika dulu sudah dia buang. Sesuatu yang dibuang untuk apa diambil lagi? Terlebih, kenapa putri pamannya itu harus seorang Karin?!
"Cih, kau memang tak berguna, dobe."
"Apa kau bilang, teme!"
"Kau-me-mang-tak-ber-gu-na!" ulang Sasuke polos. Ekstra memberi penekanan lebih pada tiap suku katanya.
"Woi, aku tidak memintamu mengulanginya!"
"Hah, sudahlah. Hentikan pembicaraan konyol ini. Yang penting kau harus menolongku, Naruto. Menikah dengan Karin? Yang benar saja! Tsk, apa yang dipikirkan Tousan sebenarnya!"
"Hahaha, bukankah itu bagus? Kita bisa jadi saudara ipar!" gelak Naruto. Bisa dibayangkan olehnya ekspresi Sasuke yang sedang bersungut – sungut. "Lagipula kalian hanya bertunangan. Bukan akan langsung menikah, kan? Jangan berlebihan!"
"Yang pasti kau harus menolongku untuk menghentikan perjodohan sialan ini."
"Bagaimana caranya? Kalau kau memintaku untuk mencoba berbicara dengan Heiji-jisan, percuma. Kau tahu kan bagaimana karakter pamanku itu. Kenapa kau tidak yang berbicara dengan Fugaku-jisan. Katakan kau tidak ingin ditunangkan dengan Karin."
"Aku sudah melakukannya, bodoh. Failed."
"Hemm, kalau begitu hanya ada satu cara yang tersisa," ujar Naruto dengan seringai khasnya. "Buat Karin yang membatalkan pertunangan kalian."
Terdengar dengusan dari seberang sana.
"Tidak biasanya otakmu itu bisa punya ide lumayan, dobe."
"Sialan!"
.
.
"Kapan ibuku akan sadar, Sensei?"
Dr Araide tersenyum teduh seperti biasanya sebelum menjawab pertanyaan Karin.
"Operasinya berjalan lancar Karin-chan. Kita hanya perlu menunggu sampai ibumu sadar. Jadi, jangan terlalu khawatir, okay?" ujar dr Araide.
"Aku—" ujar Karin dengan suara tercekat. "—aku tak bisa membayangkan jika—jika ginjalku tak cocok dengan milik kaasan. Aku—"
"Kau sudah melakukan yang terbaik, Karin-chan. Semua akan baik – baik saja. Ibumu akan baik – baik saja." Dr Araide meremas pelan bahu Karin. Menguatkan.
Karin hanya tersenyum lemah sebagai tanggapan. Tangannya tak pernah lepas menggenggam telapak tangan sang ibu. Sesekali menciuminya takzim laksana doa agar sang ibu segera membuka mata.
Dr Araide mengerti bahwa sepertinya Karin membutuhkan waktu sendiri. Dia pamit setelah memberi tepukan pelan di bahu Karin.
"Aku telah melangar janji yang telah ku buat, Kaasan. Orang itu—aku terpaksa menerimanya. Padahal aku telah bertekad. Kau tau aku telah bertekad untuk tidak membiarkan orang itu masuk ke dalam hidup kita lagi. Seenaknya saja setelah dia membuang kita, dia—" Karin menangis tergugu sampai membasahi tangan kanan sang ibu yang digenggamnya begitu erat.
"Aku lemah, Kaasan. Aku masih saja lemah. Aku masih sama seperti gadis 15 tahun yang lalu yang merengek memohon belas kasihan kepada orang itu. Setelah semua ini, ternyata tidak ada yang berubah. Tidak ada!"
Karin terus saja menangis. Tangisan yang bergema menyayat hati. Karin terus menangis tanpa tahu di balik pintu, dr. Araide dalam diam mendengarkan tangisannya dengan ekspresi sendu.
"Aku harap kemunculan kalian tidak membuat hidup Karin semakin sulit." Araide melirik sekilas seseorang yang ternyata juga berdiri tak jauh dari pintu ruang rawat inap VVIP tempat ibu Karin berada.
"Masaka. Kami tidak seburuk yang kau pikirkan, Araide-sensei."
"Bisakah Anda mengapus senyum palsu Anda itu saat berbicara denganku? Itu tidak akan bekerja kepadaku."
"Kalau begitu Anda juga bisa terlebih dahulu mencopot topeng ramah Anda itu. Saya juga tahu Anda tidak benar – benar menunjukkan wajah seramah itu kepadaku," jawab Kakashi dengan mata tersenyum.
Jeda. Kedua orang itu masih melempar senyum palsu mereka masing – masing.
"Jika sedikit saja aku melihat Karin menderita karena perbuatan kalian lagi, sungguh, bahkan aku juga tidak tahu apa yang bisa aku perbuat kepada kalian. Meski kalian adalah keluarga Uzumaki yang terhormat sekalipun," ujar Araide menanggalkan wajah ramahnnya.
.
.
Karin mengecek sekali lagi isi pesan di smartphone miliknya. Sekedar memastikan dia tidak salah tempat. Paradise Club. Salah satu private nightclub yang hanya bisa dimasuki oleh orang – orang yang memiliki kartu pass. Dan jangan tanya siapa saja yang bisa mendapatkan kartu pass untuk masuk ke dalam Paradise Club. Satu yang pasti, kau harus mengocek kantong cukup dalam untuk memiliki kartu itu. Selain itu, kau juga harus mendapatkan rekomendasi dari orang dalam untuk bisa mendapatkannya. Jadi, bisa dipastikan bukan orang sembarangan yang bisa memasuki club ini.
Namun club tetaplah club. Seeksklusif apapun levelnya, hingar bingar club tidak pernah membuat Karin nyaman. Fakta bahwa dia pernah bekerja sambilan sebagai pelayan di club—dengan menyamarkan umurnya—tidak lantas membuatnya terbiasa dengan suasananya. Walaupun Karin juga tidak membenci atau alergi juga. Sungguh, jika bukan karena Mrs. Mikoto langsung yang mengundangnya, dia tidak akan datang ke pesta–bodoh-Sasuke Uchiha. Pesta bodoh yang bahkan dia tidak tahu diadakan karena apa. Kemungkinan, salah satu pesta ajang kumpul rutin para putra – putri konglomerat yang hanya tahu menghabiskan uang orang tua mereka.
Ah, Karin lupa. Kini dia salah satu dari putra – putri manja itu sekarang. Karena kini dia adalah Uzumaki yang terhormat. Ironi yang membuatnya meringis dalam hati.
Seorang pelayan menghampiri Karin yang berdiri gamang di antara gemerlap lampu warna – warni. Kontras dengan suasana dance floor yang bising karena musiknya yang menghentak.
"Ada yang bisa saya bantu, Miss?"
"Ah, ya. Saya tamu dari Uchiha Sasuke. Bisakah kau tunjukan dimana ruangan yang dia pesan?"
"Ah, Miss Uzumaki-san? Mari saya tunjukkan tempatnya. Anda sudah ditunggu oleh Uchiha-san dan teman – temannya?"
Karin mengangkat kedua alis sangsi. Ditunggu? Apakah tadi pagi matahari terbit dari barat? Ia pikir undangan yang diterimanya ini hanya keinginan sepihak dari Mikoto-san agar ia dan Sasuke menjadi lebih dekat. Apakah akhirnya Sasuke menyerah dan menerima pertunangan mereka dengan lapang dada?
Karin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum memikirkan kemungkinan ini. Bahwa Sasuke pada akhirnya bersedia bertunangan dengan dirinya. Sasuke akan resmi menjadi miliknya. Mimpinya kini akan benar – benar terwujud.
"Silahkan, Nona." Perkataan sang pelayan menyeretnya kembali dari lamunan jauh. Karin merutuk pelan. Bisa – bisanya dia melamun sampai tidak sadar bahwa mereka telah sampai di depan sebuah ruangan VIP. Sayup bisa Karin dengar hentakan musik dan gelak tawa dari dalam sana. Sang pelayan tersenyum dan mempersilahkan Karin membuka pintu di depan mereka.
Karin mengatur kembali ekspresinya sehingga binar bahagia itu tidak akan terlalu kentara. Keputusan yang detik berikutnya dia sesali. Susah payah itu tidak diperlukan. Pemandangan di depannya sudah cukup untuk mengeraskan rahangnya seketika. Hatinya mencelos. Mata Karin seketika kosong. Namun amarah itu menggelegak lewat tangannya yang terkepal erat.
Tepat di depannya, Uchiha Sasuke sedang bercumbu panas dengan seorang wanita. Mereka berpelukan sangat erat. Hampir terlihat seperti akan saling memakan. Tangan mereka saling membelit hingga hampir tidak bisa dibedakan tangan siapa membelit kemana. Karin sebenarnya cukup sering melihat Sasuke berciuman dengan Sakura sebelumnya. Namun, bukan ciuman seintens dan sevulgar ini.
"Wah, kita kedatangan tamu! Hallo Sweetheart, ayo bergabung bersama kami! Aku tidak keberatan menampungmu dipangkuanku yang kosong ini!" kata salah seorang teman Sasuke mengerling mesum ke arahnya.
"Hoi, jangan serakah, Hidan! Kau sudah punya dua jalang di kanan kirimu," Seorang pria bergigi runcing berjalan mendekati Karin. "Biarkan yang ini untukku saja. Aku suka sekali warna merah," Orang itu menjilat bibir bawahnya dengan kurang ajar. Namun Karin mengabaikannya. Bahkan saat si pria gigi runcing itu bermain – main dengan ujung rambutnya, mata Karin tetap terfokus menatap Sasuke yang masih sibuk dengan mainannya.
"Jangan kurang ajar, Suigetsu. Dia itu tunangan Sasuke yang baru. Kau harus minta izin ke Sasuke dulu jika ingin menyentuhnya."
Ruby merahnya Karin biarkan mengarah tajam ke seseorang yang barusan bicara. Sepupu brengseknya itu malah melakukan salute untuknya dengan bir ditangan. Namun dengan senyum yang terang – terangan mengejek.
Uzumaki Naruto, desis Karin pelan. Tunggu saja, dia juga akan menerima akibatnya karena telah bermain – main dengan Uzumaki Karin!
"Wow, jadi ini Uzumaki Princess yang hilang itu? Hoi Sasuke, tamu istimewamu sudah datang!"
Karin merasa dadanya nyeri. Bahkan setelah keributan dari teman – temannya, tampaknya kehadirannya tidak cukup penting untuk membuat Sasuke melepaskan jalang di pelukannya itu. Sasuke hanya melepaskan pagutan bibirnya dan menoleh kearah Karin sekilas. Benar – benar sekilas.
"Kalian bisa memakai dia kalau kalian mau," ujar Sasuke acuh. Tangannya sibuk membelai – belai lengan mulus wanita di dekapannya.
"Wah, ini kabar spektakuler! Seorang Sasuke yang sebelumnya terkenal posesif dan tidak mau kalah, membiarkan teman – temannya bermain dengan tunangannya kali ini?" ujar Suigetsu bertepuk tangan heboh.
"Kheh, tenang saja. Aku sudah mencicipinya terlebih dahulu. Dan aku pikir, dia juga akan senang bermain dengan kalian."
Belati tak kasat mata menembus jantung Karin seketika setelah Sasuke menyelesaikan kalimatnya.
Jadi dia mengingatnya! Batin Karin berteriak sedih. Ternyata dia mengingat malam itu tapi tetap mengatakan hal seperti itu padaku. Jadi, yang terjadi malam itu tidak berarti sedikit punbagimu, Sasuke-kun?
"Nah, kau dengar kan, Princess? Tunanganmu sudah menyetujuinya! Jadi, bisa kita mulai sekarang?"
Karin tiba – tiba tertawa sangat keras. Suigetsu yang sedang menciumi sejumput rambut panjang Karin yang sedari tadi dia mainkan sampai terlonjak kaget. Naruto dan Hidan pun juga menatap Karin heran.
"Benar ini yang kau inginkan, Sasuke-kun?" ujar Karin setelah tawanya meredup. "Kau tidak keberatan jika aku bermain – main dengan temanmu ini?"
Karin menatap tepat ke mata Sasuke meminta jawaban.
"Tentu saja. Untuk apa aku keberatan? Jangan munafik, Karin! Aku tahu, meski kau berulang kali mengatakan cinta kepadaku, hal itu tidak akan membuat kakimu menutup untuk orang lain. Jangan berlagak seperti kau hanya mengangkangkan kakimu untukku seorang, Karin!" dengus Sasuke.
Setetes air mata menuruni pipi Karin. Hanya setetes. Tidak akan Karin biarkan ia menangis disini dan membuat mereka senang.
"Baik," lirih Karin. "Baik, kalau itu yang kau inginkan."
Tanpa aba – aba, Karin merengkuh leher Suigetsu yang berada di sampingnya. Karin menggelayut intim memeluk Suigetsu yang reflek membalas merengkuh pinggangnya. Membawa tubuh Karin semakin dekat kepadanya. Karin menabrakan bibirnya ke bibir Suigetsu. Mencium dan memagut bibir orang yang baru ditemuinya itu penuh gairah.
.
.
Sasuke menatap pemandangan di depannya ini dengan raut datar. Atau setidaknya berusaha tetap datar tak terpengaruh. Meski Sasuke akui dia terkejut dengan tindakan Karin kali ini. Sasuke tak menyangka Karin, atas kesadaran sendiri, mencium Suigetsu di depan mereka semua.
Sasuke tahu, dia sendiri yang mengatakan bahwa Karin boleh bermain dengan teman – temannya jika Karin mau. Dia tidak peduli. But by the way, sampai kapan ciuman panas itu akan berlanjut?
Dan lihatlah cara si Suigetsu-sialan memanfaatkan kesempatan emas ini sebaik – baiknya. Tangan si hiu-sialan itu sudah merambah menjelajah kemana – mana. Jelas terlihat sangat menikmati make out yang dilakukannya bersama Karin.
Sasuke memang benar – benar tidak peduli kok. Tapi jangan tanyakan kepadanya kenapa telapak tangannya terasa perih karena terlalu erat mengepal. Jangan tanyakan kepadanya kenapa tiba – tiba ada dorongan tak masuk akal untuk mengambil sebotol bir dan memukulkannya sekuat tenaga ke kepala si hiu-brengsek-sialan! Jangan tanyakan kepada Sasuke kenapa makin lama alias Suigetsu olehnya semakin aneh – aneh. Tolong jangan tanyakan kepada Sasuke! Karena dia sendiri pun juga tidak mengerti.
Naruto, Hidan dan dua orang teman Sasuke yang lain semakin bersorak menyemangati saat pertunjukan live di depan mereka bertambah panas. Terlebih saat Karin melenguh seksi. Mereka bertambah nyaring bertepuk tangan.
Namun bagi Sasuke, sorak – sorak itu terdengar seperti berasal dari dimensi lain. Lenguhan Karin membuat kepalanya semakin berdengung menyakitkan. Entahlah. Mungkin Sasuke terlalu banyak minum. Atau dia sudah benar – benar telah kehilangan kewarasannya.
Benar. Dia memang sudah gila. Dia bahkan tidak sadar telah melangkahkan kakinya ke arah Karin dan Suigetsu. Dia mencengkeram lengan Karin kasar dan menariknya menjauhi Suigetsu. Tanpa mengucap sepatah kata pun Sasuke menyeret Karin keluar bersamanya.
"Sa-suke-kun! Pelan – pelan!" ujar Karin mencoba melepaskan cengkeraman Sasuke yang menyakitkan. Nihil. "Kau mau membawaku kemana?"
Percuma. Sasuke tidak memberi respon apa – apa selain menyeret Karin melewati kerumunan orang – orang yang berdansa.
Dua orang berbadan kekar dengan earphone di telinga memberi salam saat mereka melewati pintu keluar. Sasuke melirik Karin di belakangnya. Wanita itu membuka mulut ingin mengatakan sesuatu kepada dua penjaga pintu itu. Sepertinya Karin sempat mempertimbangkan kemungkinan meminta pertolongan dua orang berbadan kekar itu agar bisa melepaskan diri darinya.
Namun urung. Karin menelan kembali bulat – bulat teriakannya yang bahkan belum sempat dia lontarkan. Mau tak mau hal ini membuat Sasuke tersenyum puas. Ternyata Karin cukup pintar untuk tahu bahwa hal itu percuma. Club ini adalah milik Uchiha. Tak akan ada orang yang mampu mencegahnya melakukan apapun keinginannya.
Mereka berdua akhirnya tiba di gang di samping Paradise yang cukup sepi. Sasuke melepasakan cengkeraman tangannya dengan kasar hingga Karin terhuyung dan punggungnya menabarak tembok.
Sasuke bisa melihat Karin sekuat tenaga menolak meringis kesakitan. Padahal Sasuke yakin, dengan kekuatannya tadi, saat ini pasti punggung wanita itu berdenyut menyakitkan. Namun wanita itu malah membalas tatapan Sasuke angkuh dengan dagu terangkat. Karin dan harga dirinya yang setinggi langit.
"Menyenangkan, Karin? Memberikan live show di depan tunanganmu sendiri?" ujar Sasuke dengan nada suara yang—ajaibnya—tetap terkontrol. Bahkan Sasuke sendiri mengakui bahwa amarahnya kini sedang meledak – ledak—entah karena apa. Sangat sulit untuk tidak berteriak emosi.
"Jadi, kau sudah memutuskan menerimaku sebagai tunanganmu?" tanya Karin memiringkan kepalanya.
"Jangan terlalu berharap!" jawab Sasuke dingin. "Aku hanya terlalu muak melihat pertunjukan jalangmu di depan mataku. Apalagi dengan temanku sendiri. Sudah kuduga akan begini jadinya."
"Apa maksudmu?"
"Walau nama depanmu berganti menjadi Uzumaki itu tetap tidak merubah apapun. Kelakuanmu tetap sama seperti si jalang Izuki—"
Plak!
Sasuke merasakan panas di pipi kanannya. Sial! Tamparannya sakit juga!
Senyum khas Karin kembali. Senyum memikat yang angkuh lagi penuh ancaman.
"Kalau kau kira dengan melakukan ini dapat membuatku melepaskanmu dan membatalkan rencana pertunangan kita kau salah, Sasuke-kun," ujar Karin dengan nada amat manis. "Aku tak akan melepaskanmu sampai kapan pun."
Karin beranjak pergi setelah menepuk manja dada Sasuke.
"Ah, satu lagi. Sekedar kalau kau penasaran." Karin berhenti melangkah. Namun tetap tidak membalikan badannya saat dengan amarah yang teredam dia berkata, "Tamparan itu bukan karena kau telah menghinaku. Ironis. Tapi aku sudah terbiasa dengan hal itu sedari dulu. Namun percayalah, kau akan menerima lebih dari sekedar tamparan jika sekali lagi kau menghina marga Ibuku. Bagiku, Izuki jauh lebih terhormat dari pada Uchiha apalagi Uzumaki."
.
.
.
bersambung :D
.
.
.
Ha-hai :D Ada yang masih ingat ini? Haha, sepertinya sudah pada lupa dan malas mengikuti fic ini-terlihat dari jumlah viewer dan commentatornya yang menurun.. hahah... pasti itu karena authornya updatenya lama bgt!
Saya tidak punya pembelaan, karena alasan - alasan itu akan terdengar klise sekali.
Saya hanya berdoa semoga ada orang khilaf ngeklik fic ini dan suka. syukur2 nge-klik tombol follow + favorite + comment panjang.. hahaha saya keterlaluan yaaa... semoga pembaca - pembaca lama juga kumat khilafnya, lagi suwung mungkin dan akhirnya baca fic ini lagi. hahaha #plak
Fic ini sebenarnya sudah agak melenceng dari plot awalnya. Hah, banyak plot hole dan bagian2 yg missed kalo kalian teliti. Juga rentang waktunya juga membingungkan. Pingin merombak. Tapi trus teringat suatu nasihat, bahwa lebih baik tulis dulu apa adanya sampai tamat baru di rombak. Kalo mengikuti kata hati untuk merombak di tengah - tengah cerita nanti tidak akan ada habisnya.
Jadi kalau kalian menemukan bagian yang missed maklumi saja ya... contohnya saja, tentaang setting waktu fic ini yang agak rancu. Sebenarnya saya pinginnya flashbacknya itu menceritakan saat mereka SMA trus awal2 kuliah terus menikah tapi kok agak aneh ya kalau mereka menikah semuda itu. Jadi yahhh, anggap saja scene di chapter ini dan sebelum2nya itu saat mereka uda berumur 19 or 20-an ya.. yahh pokoknya nnati saya pikirkan lagi deh...
terus, awalnya pinginnya itu gaya ceritanya itu dar sudut pandang orang ke dua-alias Hinata, tapi kok yo susah yaa.. jadi kayak gini aja lahhh...
haha, saya ngomong apa ini sebenarnya ^^a
Ya sudahlah, intinya selamat menikmati chapter ini :D terimakasih buat kemarin yang sudah comment, follow, dan fav, serta baca fic ini... :D
Terimakasih buat LF dan Laras4TI yang setia memberi semangat. Semoga kalian tidak lelah dengan fic ini...
Saya akan berusaha menamatkan ini buat kalian.. hihihi :D
.
.
.
Salam hangat buat semua :D
hikarishe,
[14.4.2017]
