Title: Black Angel

Summary: Sebuah dunia dimana North muda adalah pemburu, dan sang Nightmare King benar-benar hanyalah malaikat bersayap hitam yang diburu.

Pairing: Uh… hint of OC/Pitch, YoungNorth/Pitch, one-sided Sandy/Pitch, Aster/Jack, OC/OC, Sandy/Tooth.

Rate: T. Untuk sekarang. *trollface*

Disclaimer: Bukan yang saia~!

Bacotan: Hmm… kita udah sampe chapter 7. Chapter 7. Dan saia belum nyampe ke tengah cerita…

Progress-nya terlalu lama ga? Ato malah kecepetan? Ato pas-pas aja?

Okeh, itu urusan nanti.

Sekarang, enjoy~! :D


Jemari kasar langsung melingkari lehernya. Awalnya longgar, tetapi semakin lama semakin kencang sampai akhirnya Pitch tidak bisa bernapas lagi.

Dan dia hanya diam sambil menahan sakit di lehernya.

Diam sambil memandang sepasang mata biru yang penuh kebencian.


"Jack, kau melihat Pitch?"

Jack mendongakkan kepalanya dan memandang mata hazel Sandy sambil menggelengkan kepalanya tanpa menjawab karena mulutnya penuh dengan makanan. Dia belum melihat Pitch lagi setelah si malaikat itu mengambil susu dan tambahan kue untuk pemburu yang mereka tahan di penjara itu.

"Hm… kemana ya…?" gumam Sandy sambil mngerutkan keningnya. Dia ingin mengajak Pitch menjadi pasangannya untuk dansa nanti, tapi bagaimana mungkin bisa kalau pria itu bahkan tidak kelihatan batang hidungnya.

"Kau sudah melihat ke rumahku? Siapa tahu dia pulang lebih cepat," akhirnya Jack bersuara setelah susah payah menelan makanannya.

"Sudah. Dia tidak ada."

"Kau sudah masuk untuk melihat? Siapa tahu dia tertidur dan tidak mendengarmu mengetuk pintu," balas Jack lagi, sambil melambaikan tangan pada Aster yang terlihat bingung mencari tempat duduk. Dia lalu tersenyum ketika Aster, dengan wajah kurang rela, berjalan mendekat untuk duduk dengannya.

"Tidak, Jack. Aku tadi masuk ke rumahmu dan dia tidak ada."

Jack langsung menatap Sandy dengan mata lebar, lalu berkata dengan suara yang dibuat-buat; "Kau masuk ke rumahku? Untuk mencari Pitch? Tanpa izin dari Tooth atau dariku? Sandy, kau tidak bermaksud untuk melakukan hal-hal aneh disana kan?"

"Jack… aku serius."

Anak berambut putih itu mengerlingkan matanya. "Kau kelamaan perang, selera humormu tambah tumpul."

"Kau memang garing, Frostbite," ujar Aster dari samping.

"Eh?"

Sepertinya Sandy tidak bisa mengorek keterangan lagi dari anak ini.

Hmm… mungkin dia memang harus memeriksa penjara.


Dadanya terbakar, lehernya serasa mau patah, dan dia bisa melihat dengan jelas di mata North… ada sesuatu yang bukan kebencian muncul.

Ragu?

Tapi cengkraman di lehernya mengatakan lain. Pitch benar-benar lemas sekarang dan pandangannya mulai kabur. Agak sedih juga mati seperti ini, tapi ini satu-satunya cara dia bisa menebus kesalahan apapun yang pernah dilakukan oleh salah satu dari kaumnya.

Setidaknya sekarang dia tidak perlu kabur lagi kan?

Ya, itu juga baik, walaupun dia sedikit sedih meninggalkan Tooth dan adik-adiknya. Apalagi nanti Jack pasti merengek karena ingin makanan manis.

Sekarang dia agak menyesal juga, sih…

Tiba-tiba dia terjatuh ke lantai. Udara kembali memenuhi dadanya dan dia menghirupnya dengan terengah-engah. Dia menatap ke atas, tetapi North tidak melihatnya.

Pemuda berambut cokelat itu menatap lantai. "Tidak bisa."

Pitch hanya diam dan menunggu apa lagi yang akan North katakan.

"Aku hanya… tidak bisa."

"Ken—" belum sempat pertanyaan itu meluncur dari mulutnya, teriakan marah Sandy sudah memenuhi ruangan dingin itu.

"Apa yang kau lakukan?!"

Tangan Sandy langsung meraih pedang di dinding penjara dan bersiap menebas North yang hanya memandangnya sambil tidak beranjak dari posisinya di pintu.

"Jangan!" Pitch langsung menahan tangan si prajurit sebelum pedang itu benar-benar memakan korban.

"Apa maksudmu 'jangan'?" tanyanya dengan heran dan marah. "Apa yang dia lakukan? Kau tidak apa-apa, kan? Astaga, apa… apa dia mencekikmu?"

"Tidak, aku baik-baik saja… aku yang menyuruhnya, Sanderson. Sekarang dinginkan kepalamu dan lepaskan pedangnya," ujarnya lembut sambil tetap menahan tangan Sandy. Mau tidak mau, Sandy menurut dan mencoba untuk menenangkan diri, dimulai dari napasnya yang tersengal-sengal karena marah.

"Nah, sekarang kita keluar dari sini, ya?" bujuk Pitch sambil mendorong pelan bahu si prajurit.

Sandy tetap menatap North dngan marah walaupun itu membuat matanya sedikit sakit karena dipaksa untuk terus-menerus melihat dari ekor matanya.

Dan North sama sekali tidak bergerak.


"Kau sudah gila, Pitch."

Pitch tidak menjawab. Dia tetap diam sambil duduk di sebelah Sandy yang masih merengut.

"Kuulangi. Kau. Sudah. Gila."

Dan diamnya Pitch benar-benar nyaris membuatnya ikut-ikutan gila.

"Kenapa kau menyuruhnya mencekikmu?"

Tatapan sendu dari Pitch membuatnya sedikit menyesal sudah bertanya. "Aku harus melakukannya."

"Kenapa?"

"Aku… ah… salah satu dari kaumku membunuh orangtuanya."

Napas Sandy tercekat. "Itu alasanmu?"

"Dan dia bilang dia tidak akan bisa hidup tenang sebelum membalas dendam."

"Kau nyaris membuang nyawamu karena dia tidak bisa hidup tenang sebelum membunuhmu untuk hal yang tidak kau perbuat?"

"Kurang lebih sih begitu. Karena hanya itu yang bisa kulakukan."

Sandy mendengus. "Benar, deh. Kau harus sekali-sekali berhenti hanya memikirkan orang lain. Kau juga harus memikirkan dirimu."

"Walaupun apa yang kuinginkan adalah membantu orang itu?"

"Ya."

Pitch tidak memperpanjang obrolan itu lagi. Kalau dia harus melakukan apa yang Sandy katakan, berarti dia hanya akan diam tanpa melakukan apapun untuk siapapun.

Hal yang paling dia inginkan tidak akan bisa dia dapatkan.

"Kalau begitu, Sandy…" gumamnya pelan.

"Apa?"

"Aku boleh minta kau membebaskannya saja? Biarkan dia tinggal sebagai penduduk?"

Sandy memandangnya seakan ada kepala baru tumbuh di lehernya. "Apa?"

"Jadikan dia penduduk disini?"

"Pitch," ujar Sandy, tetapi wajah Pitch tidak berubah. "Baiklah, aku tidak bercanda ketika aku bilang kau sudah gila. Sungguh. Apa kau lupa bahwa dia nyaris membunuhmu?!"

"Dan dia tidak melakukannya walaupun dia punya kesempatan," balas Pitch sambil menatap mata hazel Sandy dalam-dalam.

Dia tidak bisa merasa tenang sebelum North setidaknya bebas dari kurungan.

"Kenapa?" akhirnya Sandy berbicara lagi setelah sekian detik terdiam.

"Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka melihat seseorang dikurung."

Dengan sebuah helaan napas, Sandy menyanggupi. "Tapi kalau dia mencoba membunuhmu lagi, aku tidak akan segan-segan menebas kepalanya dan memajangnya di gelanggang."

Pitch tersenyum kecil. "Terima kasih, Sanderson. Itu sangat berarti bagiku," balasnya sambil bangkit berdiri dan, tidak lupa, mengecup pelan pipi Sandy sebagai terima kasih.

Hanya saja, dia tidak menyadari apa artinya kecupan itu bagi Sandy yang sekarang rasanya nyaris mati bahagia.


North memandangi belenggu yang melingkari kedua pergelangan tangannya, lalu memandangi rantai yang menyatukan kedua belenggu itu. "Jadi… ini maksudnya apa?"

Si prajurit pirang hanya menatapnya dingin. "Ini maksunya adalah kau sebaiknya pergi pada Pitchiner sekarang dan bersujudlah di kakinya sambil menangis darah dan berterima kasih adanya karena dia yang memintaku untuk melepasmu makanya aku membiarkanmu keluar dari penjara. Dan kalau kau berani melakukan sesuatu padanya, aku tidak akan segan-segan untuk mengambil sebuah pedang berkarat dan perlahan-lahan menyayat kulitmu sampai kau mati tersiksa nanti,"

"Oh, kau jatuh cinta padanya," seru North menghina.

"Ya, jadi kau tahu aku tidak main-main dengan ancamanku."

Si pemburu mengangkat kedua tangannya. "Hanya segini sih tidak akan bisa menahanku. Aku bisa membunuhmu dengan kedua tanganku terikat di balik punggungku," balasnya sambil menyeringai.

"Oh, ya?'

"Ya."

"Kau akan menyesal sudah berkata seperti itu, brengsek."

"Atau kau yang akan menyesal tidak mendengar saranku."

Sandy langsung menerjang North dan North langsung balik menerjang Sandy. Keduanya saling pukul, saling tangkis, dan saling menendang. Keduanya baru berhenti ketika setidaknya enam prajurit memutuskan untuk masuk ke dalam koridor penjara karena mendengar teriakan kesal keduanya dan melerai mereka.

"Lepaskan aku!" perintah Sandy sambil meronta keras-keras sampai ketiga prajurit yang menahannya kewalahan.

Begitu juga dengan North. Dia meronta sambil berusaha menendang Sandy yang jelas-jelas sudah terlalu jauh untuk bisa dia tendang dan hal itu membuat ketiga prajurit lain yang menahannya kewalahan.

Baiklah, ini mungkin tidak akan berakhir baik.


"Sera…" suara halus Nightlight memecahkan lamunannya. Dia langsung memandang ke bawah dimana Nightlight sedang berdiri sambil memandangnya dengan sebuah piring berisi makanan.

"Ya, Nighty?" jawabnya sambil tetap duduk di atas atap rumahnya. Dia menyukai pemandangan disitu. Dia bisa dengan jelas melihat api unggun yang menyala dan tarian-tarian orang-orang yang mengelilingin api itu.

"Makan…?" tanya Nightlight sambil mencoba memanjat ke atap dengan membawa piring. Walaupun dengan sdikit susah payah, dia akhirnya sampai juga.

"Makasih, Nighty. Aku lapar sekali," ujarnya sambil mencomot sepotong roti.

Nightlight tersenyum di sampingnya. Hidupnya terasa menyenangkan seperti ini.


Pagi hari pada hari kedua perayaan musim gugur.

Jack dari tadi memandang dengan mata penuh dengan rasa penasaran. "Kau benar-benar pemburu?"

"Iya."

"Kau pernah membunuh?"

"Iya."

"Kau berkelahi dengan Sandy semalam?"

"Iya."

"Apa dia hebat?"

"Tidak."

"Kau suka bermain?"

"Mungkin."

"Janggutmu itu asli?"

"Iya."

"Apa kau—"

"Argh! Diam! Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk?" akhirnya kesabaran North habis juga setelah lebih dari satu jam menjawabi pertanyaan-pertanyaan tidak berguna dari anak kecil bermabut putih yang entah kenapa menyebalkan sekali.

"Tidak. Jadi, apa kau suka kue?"

"Oh, demi Santa Lunanoff, bisakah kau diam?" tanyanya sambil memandang si anak kecil dengan kesal.

"Mungkin. Oh ya, apa kau sadar kau baru saja memanggil nama malaikat bersayap hitam?"

"Iya, aku sadar. Sekarang bisakah kau diam dan membiarkanku bekerja?"

"Tidak. Jadi, kau sudah bisa membuka kuncinya?"

Rasanya North ingin berlari ke tembok terdkat dan membenturkan kepelanya disitu sampai dia hilang ingatan aga rdia tidak usah mngingat suara anak ini lagi. Baru saja sesaat yang lalu anak itu bertanya hal yang sama.

"Belum."

"Sekarang?"

"Masih belum."

"Kalau sekarang?"

"Aku sumpah kalau kau tidak berhenti bertanya aku akan mencekikmu dengan rantai. Ow!" dia meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang baru saja dipukul oleh gadis berambut pirang hijau di belakangnya.

"Tidak ada cekik-cekikan disini. Dan Jack, biarkan dia sendiri dulu," ujar Tooth, sebuah sapu di tangannya, sepertinya tadi dia memukul dngan gagangnya.

"Eh? Tapi aku masih mau ngobrol dengannya!" protes Jack sambil merengut ke arah Tooth.

"Yang lain sedang makan kue di dalam," balas Tooth sambil tersenyum cerah—atau lebih tepatnya tersenyum licik.

"Aku pergi dulu," ujar Jack sambil cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya.

"Dan kau, tuan. Tolong kembalikan jepit rambutku," ujar Tooth sambil mengulurkan tangannya ke arah North.

Dengan kesal North menaruh jepit rambut kecil itu ke tangan mungil Tooth. Belenggu di desa ini hebat juga. Dia sudah berkutat dengan kuncinya dari tadi subuh dan dia masih belum bisa membukanya. Atau mungkin karena dari tadi Jack terus-menerus menganggunya?

"Kau juga masuk saja sana. Kalau tidak, kau bisa kehabisan kue. Anak-anak di rumah ini monster semua, sih."

Mendengar kata kue, North lansgung melesat ke dalam.

Baiklah, sehari saja untuk makan kue dan besok dia akan mencoba kabur terus, putusnya sambil duduk di kursi yang disediakan oleh Sophie kecil.

Dan begitu dia mulai makan, dia memutuskan mungkin dia akan mencoba kabur nanti saja begitu dia sudah benar-benar bosan dengan kue-kue manis ini.


End of Chapter 7


Udah sampe chapter 7~! XD

Okeh, UN selesai dan rasanya saia lega banget karena ga suah belajar dulu untuk sementara, hahai~! FREEDOOOOOOOM~!

Kyahaha~! Saia lagi hyper~! XD

Okeh, ada yang mau ninggalin ripiu untuk author kelaparan ini? :D

Love and cookies~!
Shirasaka Konoe