Tangannya sudah terlalu basah sejak satu jam yang lalu. Sebab ia menutup wajahnya karena tersedu-sedu, mencucurkan air mata. Apalagi dengan orang-orang yang tidak dikenalnya dan seenaknya melintas, menyebabkan Karin terus duduk sendirian di kursi taman dan tak ada satu orangpun yang peduli. Sakura dan Sasuke juga tak kembali sejak peristiwa tadi. Ia benar-benar kesepian hingga ia tak mau berhenti menangis. Dan yang tertinggal disampingnya hanyalah buku-buku berserakan yang ditinggalkan Sasuke―benar-benar tak ada siapapun.
Karin membuka kacamatanya, mengusap air mata yang meleleh dipipinya, sebisa mungkin hingga kering. Kemudian ia lindungi kembali kedua matanya dengan benda itu. Lalu, gadis itu menoleh kearah tempat dimana buku-buku itu lelap tertidur. Sasuke mungkin tidak akan kembali untuk mengambilnya, mengingat betapa sangat marahnya Sasuke pada Karin. Namun tetap saja semua itu adalah kesalahan Karin dan ia harus mengembalikan semua itu pada Sasuke. Tanpa pikir panjang, perlahan tangannya meraih buku-buku itu dan dipeluknya didadanya. Tubuh ramping itu bangkit, kakinya mulai melangkah dengan agak cepat. Meninggalkan kursi taman dan rerumputan yang melambai kearahnya.
Drama
By : VQ
Disclaimer : Kishimoto Masashi
Siang hari di musim semi memang terlalu menyengat. Mungkin itu penyebab dalam perpustakaan hanya terlihat beberapa siswa-siswi yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Menjadikan keadaan disana tidak akan terlalu berisik dan Sakura akan merasa lebih nyaman untuk melakukan apapun di dalam Perpustakaan.
Dengan langkah teratur dan mata hijau yang tampak selalu waspada, Sakura mulai mencari buku-buku penunjang tugas yang diberikan guru padanya. Hari ini, ia berencana untuk mengadakan diskusi perihal Astronomi bersama Naruto―temannya. Ia memutuskan untuk datang ke Perpustakaan lebih awal, agar persiapannya lebih mantap.
Setelah dirasa cukup mencari buku, Sakura pun melenggang, mencari tempat yang cocok dan nyaman. Gadis itu memilih tempat duduk sepi dipojok dekat jendela. Sekejap saja saat ia hendak duduk, ada seseorang membuatnya tersentak. Orang itu berlari memutar dari balik sebuah rak buku,
"Sumimasen, Sakura !. Aku terlambat!.", teriak sesosok pemuda berambut pirang jabrik dan bermata biru sambil berlari menuju Sakura. Dia adalah Naruto, teman diskusinya kali ini.
Gadis itu sudah tahu persis dari balik nada bicaranya. Ia hanya menggumam kemudian duduk menghadap meja, "Aku juga baru sampai disini."
"Baguslah!. Tadi aku mengantar Hinata ke Kantin dulu," paras pemuda itu tampak memerah, "Dan ..., kami mengobrol sampai lupa waktu."
"Terlalu mainstream ... ", tanggap Sakura, tak tertarik.
Pemuda itu hanya tertawa kecil, menahan malu. Namun, dalam sekejap ia bisa langsung tersadar,
"Saa, dari mana kita mulai?"
Dengan lembut, Sakura mulai menyentuh salah satu buku yang dipilihnya. Sementara Naruto menyiapkan alat-alat tulis sebagai bahan untuk diskusi. Namun sejurus kemudian, cuping telinga Naruto mendengar sesuatu diseberang―lebih tepatnya diarah meja admin. Suara itu adalah suara siswi-siswi penggosip yang menyebutkan namanya dan nama Sakura dalam sebuah obrolan.
"Chikuso!. Baka Onna itu membicarakan kita, Sakura!" dengus Naruto setengah berbisik.
"Siapa?."
Pemuda pirang itu mengedikkan dagunya kearah meja admin, "Gadis-gadis penggosip."
Gadis bersurai merah muda itu hanya menimpal datar, "Mungkin kau salah dengar ... "
"Shikashii... ".
Sakura mulai merasa bosan dan kesal. Ia menghela nafas dengan keras, "Sudahlah, biarkan saja. Dan kembali belajar !"
XxXxX
Sasuke menendang Vending Machine dengan sebal. Hingga minuman yang diinginkan muncul dan bisa diambil. Siang ini terlalu panas bahkan sampai ke ubun-ubun. Tetapi mesin itu tidak mengerti suasana dan malah membuat pemuda bermata hitam itu kesal setengah mati.
Dengan menghirup udara sebagai permulaan, ia menepi pada sebuah kursi kayu panjang tak jauh dari Vending Machine. Kemudian ia teguk sekaleng mocca dingin yang sudah tergenggam ditangannya. Rasa dingin menyegarkan pun perlahan menjalar dalam tubuh. Namun tetap saja keadaan yang tengah ia alami ini tak sesegar jiwanya.
Ada beberapa hal yang hilang saat ia melirik sekitar. Biasanya, mata hitam itu bisa menatap seorang gadis berkacamata yang berlari dari arah tangga membawakan makanan dan minuman kesukaannya dari Kantin Sekolah. Atau seorang gadis bermata hijau yang berjalan angkuh dari pintu kelas menuju kearahnya dan selalu memberikan apa yang ia inginkan. Tapi untuk sekarang itu hanya sekedar bayangan yang memudar seiring berjalannya waktu. Buktinya, Sasuke harus berjuang sendirian ditengah kesepiannya didekat Vending Machine sembari meminum cairan yang tidak cocok dengan selera lidah.
Ketika otaknya menampilkan gambar-gambar kemarin―sebelum terjadinya hari ini, Sasuke jadi tak habis pikir. Hari itu adalah hari yang istimewa baginya. Tapi pemuda itu tak menyangka momen-momen didalam hari itu akan sirna karena beberapa kesalahpahaman karena tak mampu menangkap bunyi pita suara siapa yang pada hari itu mengoceh.
Hingga mata hitamnya mengalihkan pandangan kearah atap Koridor, Sasuke tetap tidak bisa menghilangkan ingatan-ingatan hari kemarin itu. Ingatan dimana Karin salah duga. Ingatan Sakura yang pergi meninggalkannya hingga tak bisa ia cari. Ingatan saat Karin memeluknya dan berhasil membuatnya bingung―
Hingga hari ini, kedua gadis yang berarti itu berkali-kali menghindari tatapannya saat dikelas, tidak memperdulikannya, bahkan sampai tidak bersama lagi dengannya.
Sasuke mengeram, mengacak kepalanya kesal. Hatinya masih belum tersentuh oleh rasa bersalah dan masih dikuasai oleh ego yang tak berujung.
Ia ingin berteriak sekeras mungkin. Meluapkan segala amarah pada penjuru Koridor Sekolah agar ia merasa lebih tenang menghadapi masalah. Namun apa daya, banyak siswa yang berlalu lalang tiap detiknya. Bahkan ada dua siswi tak dikenal yang berjalan menuju Vending Machine didekatnya. Ya, Sasuke tidak bisa berkutik.
"Aku tidak menyangka Sakura akan bersama dengan Naruto.", gadis bersurai pirang ikat ekor kuda memulai pembicaraan.
Sementara itu, temannya―gadis berambut cepol tertawa, "Iya. Padahal dia itu tampak sangat bodoh,"
Sasuke tetap diam ditempat, kedua matanya mengekor tajam, dan cuping telinganya mendengarkan dengan seksama,
"Eh, bagaimana jika mereka itu sedang diskusi? Kita tidak boleh salah sangka dulu, Ino." , si gadis cepol menambahkan.
"Mana mungkin!. Saat dimeja Admin, kau sudah lihat sapaan Naruto, bukan? Dia tampak begitu antusias ketika bertemu Sakura."
"Hmm... Iya juga sih... ."
"Kita lihat saja nanti."
Sasuke mengerutkan keningnya dan tetap mengekori pandangan meski gadis-gadis itu telah berlalu, menjauh dari Vending Machine.
Dan pada saat gadis-gadis itu melangkah sangat jauh dari jangkauannya, Sasuke menunduk. Matanya berkilat-kilat dan giginya bergemeletuk. Ia marah dan tidak terima dengan satu hal yang sepertinya berupa sebuah kenyataan yang baru saja ia dengar. Tangan besarnya meremas kaleng minuman yang digenggam hingga sisanya tumpah ke lantai. Kemudian melemparnya paksa hingga tepat masuk ke dalam tempat sampah. Ia tahu persis kemana ia harus berlari. Meja admin, ia ingat kata-kata itu dengan baik. Ia berlari secepat mungkin dengan amarah yang telah membuat hatinya buta sampai tak peduli dengan cipratan minuman yang ia injak hingga meninggalkan bekas.
Lagipula untuk sekarang, yang terpenting ia harus peduli pada tumpahan amarahnya.
XxXxX
Perpustakaan adalah kata pertama yang Sasuke lihat. Saat menatap ambang pintu yang didalamnya tampak begitu luas, Keringat dingin pun tak berhenti bercucuran dari dahinya. Bahkan paru-parunya hampir tidak bisa bernafas dengan baik. Sungguh tragis dimana sebuah rasa lelah yang Sasuke derita harus terbayar dengan kenyataan semu.
Terlebih dahulu, Sasuke mengatur nafas supaya tidak terlihat gugup. Dengan segenap kekuatannya, ia melangkah dengan amat hati-hati. Pemuda itu berharap agar tidak ada suatu apapun yang tengah terjadi disana. Kecuali buku-buku yang berdiri beku dan Admin yang sibuk mengurus kecantikan kuku-kukunya.
Tapi ternyata harapan itu sirna sekejap mata kala penglihatannya mulai beredar kemudian berhenti dan bertumpu pada dua bayangan muda-mudi bermanik hijau dan biru yang saling bertatapan satu sama lain begitu dalam hingga mengguratkan dua buah simpul senyuman diantara keduanya. Waktu pun seakan berhenti dan dada Sasuke jadi terasa sesak dan ngilu.
Tiba-tiba saja pandangannya menyiratkan aura hitam. Antara tidak terima dan harus menerima. Sasuke muak menatap semuanya. Tubuh tegapnya limbung, seakan bakal rubuh ke tanah. Ia memutar balik langkahnya, kemudian pergi meninggalkan ruangan.
TBC
Hai, Minna!. Gomen kalo kurang panjang. Kita main-main dulu lebih lama.
