Casts:
Min (Kim) Seokjin!GS – 39yo | Min Yoongi – 35yo | Kim Namjoon – 22yo
Min Yoonjin [OC] – 5yo | Jeon Jungkook!GS – 19yo | Im Nayeon – 21yo
Kim Taehyung – 21yo | Park Jimin – 21yo | Jung Hoseok – 21yo
Slight!Junhoe iKon, Mina and Sana Twice
All in Korean age
Other casts menyusul
©BTS and Twice member belong to their parents and their agency
©character, plot, story belong to me
OOC, OC, AU, College Life, Marriage Life
Rated: M
ROUGHEST DESIRE
Chapter 6: Side story
Taehyung menarik kursi untuk Jungkook, berlebihan memang, tapi Taehyung memang tipikal pangeran negeri dongeng. Ia selalu memperlakukan perempuan dengan lembut, apalagi yang sedang ia dekati.
Tunggu. Yang sedang ia dekati?
Ya, Taehyung tertarik pada Jungkook sejak mereka satu kelompok di mata kuliah public speaking tadi pagi dan memutuskan untuk mendekatinya.
"Trims.", kata Jungkook lalu mendudukkan dirinya di kursi yang tadi ditarik Taehyung.
"You're welcome.", kata Taehyung sambil menunjukkan smirk -nya.
"Tapi kau berlebihan, Tae.", kata Jungkook setelah ia duduk.
"Berlebihan 'gimana, Kookie?"
"Ini kan McDonalds, bukan restoran mewah."
Krik.
Taehyung memang sudah menawari Jungkook untuk dinner di restoran mewah, tapi Jungkook menolak dan setelah berdebat agak lama, akhirnya mereka memutuskan untuk makan di McDonalds.
"Ah, ahahahahahaha.", Taehyung tertawa kikuk. Namun ia tetap bisa merangkai kata-kata untuk menggombali Jungkook, "Karena sedang bersama kamu, aku jadi merasa tempat ini adalah restoran mewah."
Blush!
"Astaga, Tae, hajima!", kata Jungkook sambil memukul pundak Taehyung pelan.
Yang dipukul malah senang dan menampilkan senyum kotaknya yang mempesona. "Ya sudah, di makan ayamnya. Nanti hidup lagi, loh, kalau cuma dilihat."
"Garing!", kata Jungkook sambil membuka bungkusan nasi. Tapi ia tetap tidak dapat mengontrol semburat pink yang muncul di kedua pipi chubby-nya.
Ω
"Jadi kamu baru sembilan-belas tahun?!", tanya Taehyung tidak percaya.
"Ne, aku terlalu cepat masuk sekolah. Aku tidak akselerasi, kok. Aku tidak sepintar itu. Eomma dan appaku hanya terlalu bersemangat untuk menyekolahkanku dan aku hanya rajin saja sehingga bisa survive.", jawab Jungkook lalu menyeruput colanya.
"Tapi tetap saja kau hebat, Kook. Bacaanmu banyak. Bahkan kau tahu novel-novel yang pengarangnya saja belum pernah aku dengar."
"Itu karena aku sudah dibiasakan membaca karya sastra sejak balita."
Taehyung jadi memiliki ide untuk berlama-lama dengan Jungkook. "Bagaimana kalau kita ke toko buku dulu sebelum pulang? Aku ingin kau merekomendasikan beberapa buku yang bagus."
"Boleh. Tapi jangan ke mall."
"Kenapa? Mau ke toko buku besar di luar mall?", tanya Taehyung.
"Iya, kita ke toko buku di luar mall, tapi yang ini tidak besar. Oh, tapi jangan underestimate dulu karena ini adalah toko buku terlengkap sekota Seoul.", sahut Jungkook.
Taehyung jadi terkekeh karena melihat Jungkook begitu antusias ketika membicarakan buku. Sebagai mahasiswa jurusan sastra mereka memang sama-sama menyukai buku. Jadi tidak sulit menemukan common things di antara mereka. "Ok, kajja!"
Jungkook terkejut ketika tangan Taehyung yang terlalu besar untuk tangan mungilnya itu menarik dirinya dari kursi.
Oh, tak bisakan Taehyung berhenti membuat anak perawan itu terkena serangan jantung?
Ω
Jimin tidak dapat menghubungi ponsel Taehyung. Ke mana bocah itu malam Sabtu begini? Tanya Jimin dalam hati. Ah, sudahlah. Aku ke club sendirian saja.
Jimin pun melajukan Hyundai Genesis Sedan keluaran terbarunya membelah jalanan kota Seoul. Ia kesepian tanpa sahabat sejolinya semenjak mereka masih pakai popok itu, sehingga ia pun memutuskan pergi ke tempat ramai. Octagon—klub malam terbaik ke-12 di dunia yang terletak di dekat Gangnam.
Jimin memasuki ruang VIP Octagon dan tidak heran ketika ia menemukan beberapa idol dan aktor atau aktris ternama di sana. Beberapa bahkan berteman dengannya.
"A-yo, Chimchim!", sahut salah seorang namja yang menghampirinya.
"'Sup, June?", sapa Jimin kepada namja yang dipanggil June itu.
"Great. Cuma bosan saja di dorm. Tumben sendirian, Tae mana?", tanya namja itu lagi.
"Itulah, hp-nya tidak bisa dihubungi. Jadi aku sendirian ke sini.", Jawab Jimin.
Belum namja yang sedang berbincang dengan Jimin berbicara lagi, sudah ada suara yang menginterupsi. " Junhoe chagi.."
"Shhh, jangan keras-keras, Mina. Kalau ada yang dengar bagaimana?", kata namja yang ternyata bernama asli Junhoe.
Yang dipanggil Mina pun mem-pout-kan bibirnya. "Ara!", sahutnya. Lalu ia bertanya, "Siapa ini?"
"Annyeong, Park Jimin imnida."
"Annyeong, aku.."
"Twice Mina, kan? Aku tahu, kok.", kata Jimin, "Tapi aku baru tahu kalau kau pacarnya June.", lanjutnya sambil tersenyum penuh arti kearah Junhoe.
Junhoe menggaruk tengkuknya. "Ahaha, rahasia, Chim. Kau kayak tidak mengerti saja."
Jimin pun tertawa pelan, "Iya, iya, ngerti, kok. Btw sudah berapa lama sama June, Mina?"
"Hmm.. hari ini genap delapan bulan!", sahut Mina ceria.
"Oh, ya, chagi? Apa sebaiknya kita rayakan bulan jadi kita yang ke-8?", tanya Junhoe plus dengan smirk-nya yang tampan.
"Hih, pabo! Ada Jimin..", kata Mina berbisik tapi tetap dapat terdengar oleh Jimin.
"Haha, tak apa, Mina. Aku mengerti dan aku akan tutup mulut. Aku tak apa sendirian, kok.", kata Jimin.
"Ah, jangan begitu. Sebaiknya kau bersama temanku saja. Aku tadi datang dengan Sana."
"Twice Sana?!", tanya Jimin kelewat kencang.
"Iya, tadi hanya ada aku dan Sana saja di dorm. Jadi aku ajak dia ke sini.", jawab Mina.
Ω
Demi segala dewa yang ada di dunia. Jimin fanboy-nya Sana! Dan sekarang Sana berada tepat di hadapannya!
"Sana, baby,ini kenalkan temannya Junhoe, Jimin namanya.", kata Mina saat mereka sampai di table yang mereka pesan.
"Annyeonghaseyo, Park Jimin, imnida.", kata Jimin lalu membungkuk sembilan puluh derajat.
Tiga orang di hadapan Jimin sontak tertawa dibuatnya.
"Chill, Chim. What's wrong with you?", tanya Junhoe.
"Jangan-jangan kau nge-fan sama Sana?", goda Mina.
"Ah, ne..", jawab Jimin jujur.
Sana, yang menjadi topik utama pembicaraan pun jadi menunduk malu.
"Perkenalkan dirimu dong, babe.", kata Mina.
"Ah, ne. Minatozaki Sana imnida, bangapsimnida Jimin-ssi."
"Panggil aku oppa. Aku lebih tua setahun darimu.", Kata Jimin sambil menarik poninya ke belakang.
Lagi-lagi tingkah Jimin mengundang gelak tawa tiga orang dihadapannya.
Ω
Taehyung dan Jungkook malam itu mendatangi toko buku kecil dipinggiran kota Seoul. Suasanya sangat menenangkan. Terkesan vintage, namun justru itu daya tariknya. Tidak terlalu banyak pengunjung di sini. Taehyung berpikir mungkin hanya segelitir orang saja yang mengetahui toko buku sekaligus perpustakaan bernama READ ini. Hal ini menambah kekaguman Taehyung terhadap Jungkook.
Setelah dipilihkan beberapa buku oleh Jungkook, mereka pun memutuskan untuk minum kopi dulu, karena READ juga menyediakan kafe di taman belakangnya.
"Wah, Kookie. Terimakasih banyak untuk hari ini. Aku dapat banyak buku baru, dan aku juga jadi semakin tahu mengenai dirimu. Aku senang sekali."
"Sama-sama, Tae. Aku juga senang.", kata Jungkook malu-malu.
Nampaknya pendekatan Taehyung berjalan dengan lancar.
Ω
Malam itu Yoongi perhatikan Seokjin tidak pernah melepaskan smartphone-nya. Terkadang Seokjin tersenyum kecil lalu mengetik sesuatu di sana. Tapi tentu saja Yoongi tak berani bertanya Seokjin sedang apa, kenapa Seokjin tersenyum. Bukan ia takut pada Seokjin. Ia adalah seorang suami, pemimpin keluarga, ia tidak takut pada Seokjin.
Tapi ia takut hatinya akan sakit jika mengetahui alasan dibalik senyum Seokjin.
Ω
TBC
UPDATE UPDATE
Chapter ini cuma sedikit yah, karena ini cuma side story (sebagaimana sub judulnya)
Aku tiba-tiba memunculkan anak iKon dan Twice hahahaa. maaf kalau kalian gasuka crack pair ini. tolong jgn marah padaku :))
di sini Mina dan Sana ceritanya beneran anak Twice, kalau Nayeon anak kuliah biasa ya
Junhoe di sini juga sebagai anak iKon, dan temenan sama Jimin. Kenal di klub. mereka kan anak gaol getoh.
Karena vkook sudah mulai dekat, aku kasian sama jimin kalo dia mblo ngenes sendirian, jadi aku kenalin ke sana. gpp ya?
dan aku sisipin sedikit yoon-jin di sini karena mereka tokoh utamanya kan hahaha
See u in the next chap, muwah! :*
