updet lagi~!

Warning: gaje, susah ngertinya, WWIII, Indonesia vs Malaysia, gak suka gak usah baca. (Something's gonna happen to Indonesia, so don't like don't read.)

Rated: T for stuff.

Disclaimers: HetaliaPunya Himaruya (HPH biar singkat ya untuk selanjutnya.)


Wasn't Mean To

Chapter 6-Suicidal

Malaysia benar-benar sudah terkutuk. Dihantui.

Ia tidak pernah menyangka negara-negara komunis sangat... ganas, agresif. Mereka... bukan tipe pengampun jika mereka bergabung... Mereka... sadis. Bahkan Myanmar yang sudah dia intimidasi bisa menjadi sangat menakutkan di dekat Russia.

Masuk ke sisi komunis memang seperti mencoba bunuh diri, pikir Malaysia. Apa yang akan England katakan nanti, sebagai negara Liberalis? Pasti Malaysia akan dihukum karena coba-coba memasuki kandang komunis. Dirinya sendiri pun Liberalis...

Ini mimpi buruk, bisiknya kepada dirinya sendiri. Sepertinya ia sudah tidak tahan perlakuan Russia terhadap dirinya. Indon bego, bangunin gue cepetan. Langsung saja ia menampar dirinya sendiri, mengingat ia sedang berperang dengan... saudara satu rumpun-nya.

"Malaysia," seseorang mengetuk pintu kamarnya. DEGH! Jantung Malaysia berdetak dengan hebatnya, menyadari itu tidak lain adalah suara Russia sendiri. "Bisa bicara sebentar, da?"

Malaysia bisa mendengar suara tawa negara komunis lain.

"I-iya...?"

"Kau tahu, kita -hik- seneng banget kamu ikut kita -hik-," Russia memasuki kamar Malaysia. Jelas, ia mabuk. Malaysia bergetar. K-kita? M-maksudnya... mereka sudah merencanakan untuk beraliansi sejak awal...? Russia memasuki kamarnya, disertai aliansi-nya yang lain.

"Kau sendiri, da?"

Malaysia mencoba berdiri. Sudah cukup. Russia tidak akan mengganggunya lagi. "Nggak! Aku sudah tidak bisa beraliansi denganmu, Russia! Keluar dari kamarku!"

"Ah, sayang sekali -hik-," Russia membuat suaranya seakan-akan sangat sedih. Tetapi Russia tersenyum kembali. Memuakkan, komentar Malaysia. Senyum yang memuakkan. Suara yang memuakkan.

"Tetapi itu sudah telat, -hik- kita punya rencana lain..."

Malaysia mundur selangkah - ruangan yang gelap tersebut... terasa seperti mimpi buruk baginya - terutama saat masing-masing dari mereka mengeluarkan senjata masing-masing.

"Malaysia..." Myanmar menutup pintu kamar Malaysia. "Hm... beruntung banget ya, Russia lagi mabuk. Dan sepertinya... rencanamu menjajahku akan berjalan dengan mulus... Tapi sepertinya kita harus switch roles."


Indonesia menatap ke luar lewat balkon rumahnya.

Darah, gumamnya. Api.

Ia selalu membenci kedua hal tersebut. Merahnya kedua benda yang membawa kutukan, ingatan buruk.

Merah, Indonesia bersandar di balkonnya. Ironis sekali... benderaku sendiri setengahnya merah.

Ia sudah tidak tahan lagi... Ia tidak mau hidup dengan ini...

Perang, pikirnya. Kutukan Tuhan yang paling kuat.

Indonesia menutup matanya.

"R-rani! Ngapain di situ?"

Indonesia menoleh, menatap America yang barusan memanggil. America... mengganggu saja.

"America," Tatap Indonesia dengan serius. "Bisa nggak lo nggak ganggu gue setiap saat... Gue juga butuh... Privasi."

America mengangkat bahu. "Oke, kalau begitu, think you're okay," Ia beranjak keluar dari kamar gadis tersebut. "Lemme know if you need something."

Indonesia mengangguk. America meninggalkan kamar tersebut.

Hmm, begitu ya, dunia memang penuh dengan perang...

Sudah ia putuskan. Ia tidak mau tinggal di sini lagi.

Ia merasakan dirinya jatuh... jatuh...


"Hhh, kalian itu ya..." Norway menggeram. Kelihatannya ia kesal.

Greenland mengusap dahinya. "Emang seharusnya dari tadi kita kejar sih..." Ia mengingat-ingat apa yang Denmark katakan kepada Norway sehingga naturalist norwegia tersebut pusing.

"J-jadi mereka hanya pura-pura beraliansi, dan aslinya nggak?"

"Kurang lebih gitu lah. Mereka pura-pura beraliansi dengan negara non-komunis, menyerang mereka... dan menguasai mereka. Mereka... mereka ingin menjadi satu dengan dunia." Greenland duduk di batu di sebelah Norway. Norway berusaha tenang, tetapi mengingat adiknya akan menjadi target berikutnya, ia tidak berhasil. Tampaknya pemandangan sungai yang indah tidak membantu menenangkannya.

"Oke, tentang ini, kalian tahu dari mana? Dan kenapa diem aja?"

"Sve, tentunya." Denmark mendengus. "WikiLeaks. Dia dapet bocoran dari Finland, yang tau dari Estonia. Dan kita belom punya rencana, Nor, kalau udah sih... langsung gue bantai."

Norway melempar batu ke arah sungai, frustrasi. Hebatnya, batu tersebut memantul beberapa kali, dan akhirnya tenggelam.

Seketika air di sekitar Norway melingkarinya, naik, seakan-akan ingin memakannya.

"Jadi... kalian mau sebuah... rencana?"

TBC~


NAH SELESAI JUGA! Hehehe, by the way, Sketchy udah dapet nama buat beberapa OC:

-FemOC!Indonesia Rani Puspa Kencana dan FemOC!North Korea, Im Song Ju, dikasih Karinchiisanzenin,

-FemOC!Portugal, Avelina de Olivera, dikasih SunnyGreen,

-FemOC!Greenland, Aviana Andrade, dikasih PetalKunai

-MaleOC!Faroe Islands, Fredrik Andersen, dikasih Aerosolspraaay

-FemOC!Luxembourg, Mara Asceline Shcumann, dikasih Emelethaine

Sketch-nya menunggu~! Balesan review:

Chiarii-chan~ kayaknya nggak ada deh, belom tau, haha. Bakalan tau kok di chapter depan. Japan... belom bisa muncul, mungkin Australia bisa di chappie depan. Dan England nggak ikut komunis kok! (Anti malah) Cuma kakak-kakaknya yang ikut!

Hana Senritsu-san, keren banget sih jadi orang, repiu tigak kali sekaligus. Makasih banyak atas sarannya tentang penulisan~ dan 'sisi Russia' maksudnya 'Russia's side' gitu lho... the commie side! Iberia... setengah cinta mati sama England setengah benci mati sama England, lol. Jadi kalau mau memihak susah. Tentang sosialis dan komunis, kata ortu Sketchy sih sama aja... Nggak tahu ya...?

Kazuya Yagami-san, hohoho love Indonesia ya... Tapi... mana tahu? Coba baca chapter depan deh. Dan Japan... dia sih netral kayaknya (Oops, spoilers lagi). Tunggu saja di chappie ke depan~!

And last but not least, Arigatou minna-saaaaaan~~~!