DOCTOR (FOR LIFE)
HUNSOO VERSION
.
.
.
Original story by CHANSEKYUU
.
.
.
CAST
OH SEHUN
DO KYUNGSOO
Others
.
.
.
GENRE : ROMANCE, MEDICAL, FAMILY, HURT
RATE : M
.
.
.
AWAS TYPO
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
Baekhyun dan Hye Kyo baru saja menyelesaikan masakan terakhir mereka dan menatanya di meja makan bersama hidangan yang lainnya untuk makan pagi mereka hari ini. Semua hidangan tersebut terlihat begitu sangat menggoda bagi siapa saja yang melihatnya. Dijamin mereka pasti ingin segera memasukkan makanan-makanan tersebut ke dalam mulut. Apalagi banyak kerabat dan saudara bilang jika masakan Hye Kyo adalah yang terbaik. Pagi ini Baekhyun memang memaksa sang mertua untuk membantu memasak di dapur. Meski sudah dilarang berulang kali wanita yang sedang mengandung tersebut dengan bandelnya selalu mendekat ke arah dapur dan mengerjakan apa saja yang belum sempat ibu mertuanya kerjakan. Meski sempat jengkel pada kelakuan sang menantu akhirnya dengan berat hati Hye Kyo mengijinkan Baekhyun untuk membantunya memasak.
"apa Kyungsoo belum bangun?" tanya Joong Ki sambil melipat koran yang sedari tadi dibacanya.
Hye Kyo melepas celemeknya dan duduk di sisi kanan sang suami. "sepertinya belum, biar aku lihat dulu." Ucap Hye Kyo.
"biar aku saja Eomma..." cegah Baekhyun saat melihat Hye Kyo ingin beranjak dari tempat duduknya.
Hye Kyopun hanya mengangguk dan tersenyum lembut.
"tidak biasanya mata bulat itu belum bangun." Tutur Chanyeol sambil meminum air putih dari gelas di depannya.
"dia adikmu Chan, jangan memanggilnya seperti itu." Ucap Hye Kyo sambil melotot kearah anak pertamanya.
Chanyeol hanya mengangkat bahunya dengan bibir yang mencebik. "itu kan fakta" gumamnya lirih takut sang ibu akan mendengar ucapannya dan melayangkan pisau kearahnya (kekeke ini berlebihan) tapi percayalah, faktanya Ibunya itu jika sedang marah sangat menakutkan. Ayahnya saja yang tergolong orang tegas akan langsung meringkuk seperti anak kucing jika mendapati sang istri sudah dalam mode mengeluarkan tanduk dan juga asap dari lubang hidung serta telinganya.
.
.
Baekyun mengetuk pintu kamar Kyungsoo dengan pelan. Namun setelah beberapa kali mengetuk tidak ada tanda-tanda gerakan yang terdengar dari dalam kamar Kyungsoo. Padahal Baekhyun tahu betul, jika adik iparnya tersebut sangat amat peka dengan bunyi sepelan apapun itu. Dengan ragu Baekhyun membuka pintu kamar Kyungsoo. Kepalanya terlebih dahulu melongok kedalam, namun keningnya mengeryit karena tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Baekhyun melebarkan pintu lalu masuk kedalam kamar. Yang Ia lihat hanya lampu kamar yang belum dimatikan, gorden yang belum dibuka, tas serta pakaian yang Kyungsoo kenakan kemarin tergeletak begitu saja di lantai, dan tempat tidur yang berantakan, bakahkan selimut tebal berwarna biru laut itu menjuntai kelantai.
"Kyungsoo-ya.." panggil Baekhyun sambil mematikan lampu dan membuka gorden kamar Kyungsoo.
Tidak ada sahutan sama sekali dari sang empunya kamar. Beakhyun lalu menuju kamar mandi yang menyatu dengan kamar Kyungsoo, beranggapan bahwa adik iparnya tersebut sedang berada dikamar mandi. Namun saat Ia membuka pintu kamar mandi lagi-lagi Ia hanya mendapati kekosongan. Baekhyun bertambah bingung. Kemana perginya Kyungsoo, karena setahunya sedari tadi Ia bangun sama sekali belum melihat Kyungsoo keluar dari kamar
"astaga Baekhyun jangan berlari." Pekik Hye Kyo saat matanya melihat sang menantu menuruni tangga sambil berlari dengan mimik wajah yang sulit diartikan.
"maaf eomma, tapi ini gawat." Ucap Baekhyun dengan sedikit panik.
Chanyeol yang melihat sang istri sedikit kalut itu berdiri dan membawanya duduk di tempat duduk yang sempat ditinggalkan tadi. "ada apa sayang?" tanyanya.
Baekhyun menoleh kearah Chanyeol, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Hal itu malah membuat Chanyeol semakin bingung. "apa Kyungsoo menyakitimu?"
Baekhyun menggeleng pelan.
"apa kau jatuh?"
Lagi-lagi Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya. Joong Ki dan Hye Kyo yang sedari tadi memperhatikan Baekhyunpun ikut bingung dengan perubahan suasana hati sang menantu.
"okey... kalau bukan karena itu karena apa?" Chanyeol masih dengan sabar menunggu jawaban dari sang istri.
"Kyungsoo tidak ada dikamarnya Yeolie. Aku takut dia di culik, diakan sangat imut." Jawab Baekhyun dengan kedua pipi yang mulai basah oleh air mata.
Sedangkan yang lain, jangan tanya lagi bagaimana ekspresi mereka saat ini. Mereka bertiga hanya bisa memasang ekpresi jaw drop atas apa yang baru saja diutarakan oleh Baekhyun. Yang benar saja, Kyungsoo itu sudah berumur duapuluh empat tahun, mana ada yang mau menculik wanita jutek sepertinya. Yang lebih tidak masuk akal lagi, semalam itu tidak ada tanda-tanda orang masuk kedalam rumah mereka.
"mungkin Kyungsoo sedang mandi sayang." Buka Hye Kyo setelah menormalkan ekspresi wajahnya.
Baekhyun menggeleng kecil. "kamar mandinya kosong eomma, Kyungsooku yang imut pasti benar-benar diculik." Jawabnya dengan bibir manyun beberapa senti. "bagaimana ini... Yoelie, Kyungsoo kita yang imut diculik orang, huuwaaa... pinguinku... " lanjutnya sambil merengek pada sang suami yang hanya bisa menggaruk lehernya yang tidak gatal. Chanyeol merasa jika semenjak istrinya tersebut hamil sikap dan sifatnya semakin hari semakin aneh, mungkin bawaan baby jadi Baekhyun sering bertingkah layaknya anak kecil ketimbang wanita yang sudah membina rumah tangga.
Joong Ki memutuskan untuk mengikuti sang istri untuk mengecek kamar Kyungsoo. Memastikan keberadaan anak kedua mereka. Namun setelah sampai di kamar Kyungsoo, mereka berdua hanya menjumpai kamar yang kosong, tidak ada tanda-tanda Kyungsoo sama sekali. Mereka berdua pun saling pandang. Joong Ki langsung merogoh saku celananya dan mendial nomor Kyungsoo, namun beberapa kali memanggil sama sekali tidak diangkat oleh Kyungsoo. Lalu Ia menghubungi Wonho, beranggapan jika lelaki imut itu sedang bersama Kyungsoo. Namun nihil, bahkan lelaki imut yang sudah mereka anggap seperti anak sendiri itu baru saja bangun tidur.
Chanyeol menghela nafas pelan, membawa tubuh Baekhyun kedalam pelukannya untuk menenangkan sang istri yang mulai terisak. "Kyungsoo pasti sudah pergi pagi-pagi sekali sayang, jadi jangan berpikiran macam-macam okey.." ucapnya sambil mengecup puncak kepala Baekhyun. "lagian mana ada yang mau menculik mata bulat itu." Lanjutnya dengan nada bercanda niatnya ingin membuat sang istri tenang, namun hal itu nyatanya gagal total. Karena bukannya tenang, Baekhyun malah manatap Chanyeol dengan tatapan yang sangat tajam. Lalu meninggalkan Chanyeol begitu saja.
Chanyeol menggaruk kepalanya dengan kesal merutuki kebodohannya. Sudah tahu istrinya itu lagi sensi, malah membuat lelucon bodoh seperti itu. Kalau sudah seperti ini, siap-siap saja tidak di anggap ada oleh wanita hamil itu.
.
.
.
Wonho berlari di koridor rumah sakit sambil berteriak permisi dengan lantang. Bahkan sesekali lelaki imut tersebut mendapat tatapan membunuh dari keluarga pasien ataupun dari dokter dan suster karena ulahnya yang membuat gaduh di area rumah sakit. Wonho hanya menyengir kuda dan menggumamkan kata minta maaf, sebelum melanjutkan aksinya tersebut.
"aakkkk" teriak Wonho saat berhenti di depan resepsionis UGD dengan nafas yang tidak teratur. Ia lalu mendongak dan mendapati tatapan tajam dari kepala suster yang tak lain adalah Yoon Ah. "nuna... kenapa kau memukulku ini sangat sakit.." rengeknya dengan tangan mengusap bagian kepalanya.
Yoon Ah melipat kedua tanganya di dada dengan tangan kanan masih memegang gulungan kertas tebal yang tadi Ia gunakan untuk memukul kepala Wonho. "itu salahmu karena berteriak-teriak mengganggu kenyamanan para pasien bodoh, lagian ini bukan pasar Shin Wonho" omelnya.
"maafkan aku nuna cantik, aku hanya buru-buru" jawabnya sedikit merajuk.
Yoon Ah berdecak sebal. "apa yang membuatmu buru-buru? Aku rasa kau hanya memiliki pasien sedikit yang harus kau periksa. Atau jangan-jangan kau sedang buru-buru ingin segera bertemu para gadis?" matanya langsung memincing menatap Wonho curiga.
"aiisstt nuna... kau ini bicara apa? Aku hanya ingin segera bertemu dengan Kyungsoo nuna." Wonho memanyunkan bibirnya layaknya seperti anak kecil yang sedang kesal.
Yoon Ah hanya menggelengan kepala melihat sikap lelaki yang saat ini di hadapannya. Kadang Ia juga heran, lelaki yang selalu bersikap kekanakan dan suka merajuk bisa menjadi dokter bahkan bisa tegas jika sedang berada diruang operasi. Tak jarang juga Ia berpikir jika Wonho itu memiliki dua kepribadian ganda yang tidak diketahui oleh orang lain karena perilakunya yang bisa berubah-ubah tersebut.
"Kyungsoo belum datang, ada apa memang?"
"ahh benarkah?" mimik wajah Wonho sedikit berubah. "ayah tadi menghubungiku jika Kyungsoo nuna pagi-pagi sekali sudah tidak ada di rumah." Jawabnya.
"mungkin Kyungsoo sedang pergi, memang kau sudah menghubunginya?"
"ayah sudah mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat, tadi aku juga sempat mencobanya tapi sama tidak diangkat oleh nuna." Wonho menghela nafas pelan. "aku harus mencari kemana nuna pinguin itu... aaiisss benar-benar..." keluhnya dengan nada putus asa seperti laki-laki yang ditinggalkan istrinya.
"ck..ck... buanglah jauh-jauh ekspresi menjijikkanmu itu" cibir Yoon Ah.
Wonho mendongak. "kau tidak tahu saja nuna, gara-gara hal ini Baekhyun nuna beranggapan jika Kyungsoo nuna sedang diculik. Bahkan tadi ibu sempat bilang jika istri Chanyeol hyung itu terus-terusan merengek dan menangis."
Yoona hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak tahu lagi harus berkomentar yang seperti apa.
Setelah perbincangan mereka selesai, Wonho menuju ruangan dokter dan menghubungi Ibunya memberi tahu jika Kyungsoo tidak datang kerumah sakit. Dan sepertinya Ia menelpon diwaktu yang tidak tepat, karena saat itu Ibunya sedang bersama Baekhyun. Alhasil Wonho harus menjauhkan ponselnya dari telinga berharganya saat mendengar teriakan melengking Baekhyun. Wanita itu berteriak-teriak ditengah isakan tangisnya menyuruh Wonho untuk mencari Kyungsoo sampai wanita pinguin itu ketemu. Bahkan kakak iparnya itu tidak segan-segan mengancamnya dengan ancaman akan menyebarkan pada semua orang yang ada di rumah sakit jika dirinya adalah penyuka sesama jenis. Oh yang benar saja, meskipun dirinya memiliki tampang menyerupai anak sekolah dasar akan tetapi Ia 100% masih menyukai mahkluk yang disebut wanita.
.
.
Pagi ini Luhan bukannya berangkat ke rumah sakit malah memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang biasa disebut sekolah. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tidak jauh dari gerbang sekolah tersebut. Mata rusanya tidak pernah lepas untuk memperhatikan pintu gerbang sekolah dan jalanan sekitarnya. Meski waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan, akan tetapi jalanan sekitaran sekolah sudah banyak dipenuhi murid anak-anak yang ingin berangkat sekolah. Luhan menatap semua moment itu dengan nanar, apa lagi saat ini Ia melihat banyak orang tua yang sedang mengantarkan anak-anak mereka untuk pergi kesekolah. Kebanyakan dari murid anak-anak tersebut berjalan sambil menggandeng tangan Ibu ataupun ayahnya. Kaki mungilnya melompat-lompat dengan riang, serta bibir mungil yang berceloteh dengan sangat menggemaskan. Tak jarang juga obrolan mereka diiringi dengan tawa khas anak-anak yang terlihat sangat bahagia diwajah mungilnya.
Menyaksikan pemandangan tersebut, tanpa sadar membuat air mata Luhan jatuh begitu saja. Namun dengan sangat cekatan Ia langsung menghapusnya. Lalu tersenyum kecut dengan tangan meremas kotak makan kecil berbentuk beruang yang ada diatas pangkuannya saat melihat moment seorang anak kecil yang sedang melingkarkan tangan mungilnya dileher seorang laki-laki yang sedang berjongkok dengan senyum mengembang dibibirnya. Kegiatan mereka tidak berlangsung lama, karena laki-laki itu melangkah pergi, saat yakin anak kecil tersebut sudah memasuki area sekolah. Melihat hal itu, tanpa pikir panjang Luhan langsung keluar dari mobilnya sambil membawa kotak bekal yang sedari tadi dipegangnya dengan langkah sedikit berlari.
"Lyu In-a..." pekiknya saat melihat anak kecil dengan ransel berwarna navy belum jauh dari gerbang sekolah.
Anak itu menoleh saat merasa namanya dipanggil, dan mendongakkan kepalanya menatap Luhan dengan polos. "nuna siapa?" tanyannya dengan suara khas anak seumurannya.
Itu adalah pertama kalinya bagi Luhan mendengarkan suara anak di depannya tersebut secara langsung. Hatinya bergetar dan Ia rasanya ingin menagis saat anak itu memanggilnya dengan sebutan nuna, apakah penampilannya saat ini seperti nuna-nuna pikirnya. Alih-alih menyuarakan pikirannya, Luhan memilih untuk menyunggingkan senyuman terbaiknya. "nuna orang yang kemarin tidak sengaja menabrakmu, kau ingat?" tanyanya sambil berjongkok menyamakan tinggi tubuhnya dengan anak tersebut.
Lyu In mengangguk kecil.
Luhan mengusak rambut Lyu In dengan sayang, sambil menatap lembut tepat pada kedua mata bening tersebut. Tatapan polosnya sangat menenangkan, dapat Ia rasakan hatinya menghangat karenanya. Tidak bisa menahan diri lagi, Luhan langsung memeluk tubuh Lyu In dengan sangat erat. Bahkan air mata yang sedari tadi Ia tahanpun kini sudah mengalir dengan deras.
"Lyu In-a maaf...hiks maafkan aku" ucap Luhan ditengah-tengah isakannya tersebut. Ia juga tak henti-hentinya mengecupi puncak kepala Lyu In. Sedang Lyu In sendiri hanya diam dengan tatapan bingung.
"sudah kubilang kan jangan menyentuhnya?" suara itu tiba-tiba saja muncul dari belakang. Luhan yang mendengar itu secara reflek langsung melepaskan pelukannya pada Lyu In dan menghapus air matanya sebelum berbalik menghadap kearah laki-laki berjas tersebut.
"Lyu In-a masuklah sudah hampir bel nanti kau terlambat." Ujar laki-laki berjas yang tak lain adalah Kim Jongin.
"ne Appa" jawab Lyu In dengan anggukan lalu langsung berlari berbaur dengan anak-anak lainnya. Luhan hanya bisa menatap tubuh Lyu In menjauh dengan tatapan nanar.
"ikut aku." Ucap Jongin dengan nada dingin, berjalan terlebih dahulu sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kainnya.
Luhanpun tersadar lalu menyusul Jongin.
Mereka berjalan beriringan dengan diam. Tanpa ada yang berniat untuk membuka suara terlebih dahulu. Bahkan mereka terlihat seperti orang asing yang tidak sengaja sedang berjalan diantara banyaknya orang. Meski dalam kenyataannya kawasan yang mereka lewati terbilang cukup sepi. Karena sekolah tersebut terletak dikawasan yang jauh dari jalan utama. Namun bukan berarti berada di daerah pedalaman, sejatinya sekolah tersebut berada di kawasan perumahan elit.
Setelah berjalan beberapa meter, Jongin menghentikan langkahnya disebuah taman yang sangat sepi. Terang saja karena hari ini adalah bukan hari libur. "kenapa kau tidak mendengarkanku?" tanya Jongin masih membelakangi Luhan.
Luhan mendongak melihat punggung tegap Jongin. "bukankah aku juga berhak melihatnya." Jawabnya.
Tangan Jongin mengepal kuat di dalam sakunya. " berhak katamu cih..." Jongin berbalik dan menatap Luhan dengan tajam. "kau sudah tidak punya hak apa-apa lagi atas dirinya. Dan hal itu berlaku semenjak waktu itu dan detik itu juga." Lanjutnya dengan nada suara yang sangat tegas.
"tapi dia juga anakku" Luhan membalas tatapan Jongin dengan tak kalah tajamnya.
Rahang Jongin mengeras. "anak?" tanyanya dengan remeh. " sejak kapan kau mengakuinya sebagai anak? Kau tidak pantas mengakuinya sebagai anak Luhan... karena kau telah membuangnya bahkan sebelum dia bisa membuka matanya. Apa kau lupa?"
"benar, aku dulu meninggalkannya karena aku merasa belum siap merawatnya." Ucap Luhan. "tapi apa kau tahu jika selama ini aku selalu bermimpi buruk dan dipenuhi rasa bersalah?" imbuhnya.
Jongin terkekeh. "aku bahkan bertanya dulu sebelum melakukannya." Jongin masih dalam posisi menatap Luhan. "lakukanlah Jongin, aku siap menanggung resikonya asalkan kita selalu bersama" Jongin menirukan ucapan Luhan beberapa tahun yang lalu sebelum menghasilkan Lyu In dari hubungan mereka. "selalu bersama?cih... omong kosong" Jongin membuat muka kearah lain.
Air mata Luhan mulai mengalir di kedua pipinya, lalu Ia menghapusnya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
"tidak usah menangis, seolah-olah aku yang jahat disini" ucap Jongin sambil melangkahkan kakinya menjauh.
"Jongin..." panggil Luhan dengan suara parau yang berhasil menghentikan langkah kaki Jongin. "tidak bisakah kau memberiku satu kesempatan untuk menebus kesalahanku?" tanyanya sambil melangkahkan kakinya pelan menuju tempat Jongin berdiri.
Satu langkah...
Dua langkah...
Tiga langkah...
Jongin memejamkan matanya, Ia tahu jika Luhan berjalan mendekat ke arahnya. Namun matanya langsung terbuka saat merasakan tangan seorang wanita sedang melingkari perutnya dari belakang dengan sangat erat. "aku mohon Jongin... maafkan aku, biarkan aku menebus semuanya." tutur Luhan ditengah isakannya. "aku janji, aku tidak akan meninggalkan kalian lagi." Lanjutnya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Jongin.
Bukannya menjawab, Jongin malah melepaskan tangan Luhan dari tubuhnya dan meninggalkan Luhan begitu saja tanpa menoleh kebelakang sekalipun.
Luhan langsung jatuh terduduk diatas rumputan hijau saat menerima penolakan dari Jongin. Tangisnya pecah begitu saja. Tangan kananya memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak, sedangkan tangan kirinya, atau lebih tepatnya punggung tangan kirinya Ia gunakan untuk menutup bibirnya. Tak hanya itu Ia juga menatap nanar kotak bekal yang tergeletak tak jauh darinya, karena tadi Ia belum sempat memberikannya kepada Lyu In.
.
.
Kyungsoo menggeliat saat merasakan sinar matahari mengusik tidur nyenyaknya. Namun hanya sebatas menggeliat, karena Ia lebih memilih untuk memiringkan tubuhnya dan melesakkan kepalanya pada dada.
Tunggu!
Dada? Mata Kyungsoo terbuka lebar dan langsung disuguhi dengan sebuah pemandangan yang tak lain adalah dada bidang tanpa baju tepat berada di depan matanya. Ia langsung mendongak, pada saat itu jugalah volume matanya bertambah lebar. Yang benar saja matanya melihat wajah Sehun yang juga melihat kearahnya.
Tunggu! Tunggu! Sehun?
"waaaaaaaa...apa yang kau lakukan brengsek?" pekik Kyungsoo sambil mendudukkan tubuhnya.
Sehun tersenyum tipis. "tentu saja tidur sambil memelukmu apa lagi." Jawabnya enteng.
"APA?"pekiknya dengan suara melengking. "kau tidak menggerayangiku kan? Kau juga tidak mencari kesempatan untuk meremas bagian tubuhkan kan?" Kyungsoo membrondong Sehun dengan berbagai pertanyaan yang meluncur bebas dari bibirnya.
"mungkin..." Sehun mengangkat bahunya. "karena aku tidak bisa tahan untuk tidak menyentuhmu, saat kau menempel erat pada tubuhku. Tapi, ngomong-ngomong dadamu terasa tambah kenyang boleh aku meremasnya lagi?" tanya Sehun dengan nada santai. Sedang kedua tanganya membuat gerakan seolah-olah sedang meremas sesuatu. Entah dapat keberanian dari mana Ia bisa berbicara seperti itu pada Kyungsoo. Yang jelas saat ini Ia hanya ingin menggoda wanita mungil yang saat ini terlihat seperti sedang kerasukan. Hey... tapi Ia memang tidak bohong, itu fakta dada Kyungsoo terasa sangat kencang. Tangannya bahkan sudah terasa gatal ingin sekali menangkupnya, oohh membayangkan saja membuat juniornya bangun dengan sendirinya.
"yyaaakkkk... DASAR OH SEHUN BRENGSEK" teriaknya. Kakinya tidak pernah diam karena sibuk menendang-nendang. Hingga tanpa sengaja menendang selangkangan Sehun dengan keras, yang membuat lelaki albino tanpa baju atasan itu terjatuh dari atas tempat tidur.
"aakkkkk" pekik Sehun, meringkuk memegangi pusakanya.
Kyungsoo kaget langsung turun dari ranjang "ooommooo" pekiknya sambil menutup bibirnya menggunakan kedua tanganya. "apa sakit, perlu kuobati?" tanyanya pelan.
Sehun mendongak melihat Kyungsoo yang sedang membungkuk di depannya sambil mengangguk semangat. Berharap sekali Kyungsoo membantunya saat ini. Oh sumpah demi apa, itu rasanya sakit sekali. Di pagi hari bukannya dapat belaian malah mendapat tendangan, bukankah Ia sangat sial?
Kyungsoo langsung menegakkan tubuhnya. "tidak... tidak... ini salah" gerutunya. Kepalanya menggeleng-nggeleng, tangan kanan di pinggang dan tangan kirinya menyentuh bibir bawahnya. "aku kan sedang benci padamu jadi BYE..." lanjutnya mengibaskan rambut berantakannya, mengambil ponsel miliknya, lalu pergi dari kamar Sehun menutup pintu dengan bantingan.
Ditengah kesakitannya Sehun tersenyum geli melihat ekspresi Kyungsoo yang sangat lucu beberapa menit yang lalu. Oh bagaimana bisa wanita itu bersikap seperti anak kecil. Sehun terkekeh, mengingat ekspresi Kyungsoo membuatnya melupakan sakit pada juniornya. Namun meski begitu Sehun sangat senang karena bisa menghabiskan malam bersama Kyungsoo hanya berdua.
Sehun menghela nafas, kamar kembali hening. Ia lalu bangun dari posisinya sambil meringis karena juniornya terasa sedikit nyeri. "anak-anak... maaf untuk saat ini kau harus aku buang." Monolognya sambil melihat kearah selangkangannya yang masih terlihat sedikit menggembung, lalu Sehun pergi menuju kamar mandi.
Bermain solo sambil membayangkan Kyungsoo bukan ide yang buruk bukan?.
Flashback
Kyungsoo mendorong tubuh Sehun dengan sangat keras hingga ciuman mereka terlepas. Menyisakan kekesalan Kyungsoo yang memuncak. Tubuh Sehun kembali limbung dan hampir saja jatuh namun entah kenapa dengan reflek Kyungsoo menangkapnya meski dengan susah payah dan diiringi oleh sumpah serapah yang lolos dari bibir hatinya.
"dasar menyusahkan." Cibirnya sambil mengalungkan tangan Sehun kebahunya lalu membawa laki-laki albino itu menjauh dari bar dengan susah payah. Bagaimana tidak, tubuh Sehun itu tinggi ditambah seonggok makhluk itu sedang mabuk jadi bebannya bertambah berat. Sedangkan tubuhnya sangat mungil. Bayangkan bagaimana menderitanya menjadi dirinya. Sangat sulit... ku ulangi sangat sulit!.
Setelah susah payah membawa Sehun ketempat parkir Kyungsoo langsung menyenderkan tubuh Sehun dimobil berwarna hitam milik lelaki tersebut. Tangan mungilnya mencari-cari kunci mobil Sehun dijasnya namun tidak ketemu. Ada kemungkinan kunci mobil itu ada di saku celana Sehun. Dan Kyungsoo pantang mengambilnya, karena Ia tidak mau menggerayangi tubuh Sehun. Bukan tanpa alasan Ia takut jika ada yang melihat dan Ia bisa-bisa malah terkena tuduhan pelecehan pada lelaki mabuk itu, kan tidak keren.
Dengan menghentakkan kaki kesal Kyungsoo kembali memapah tubuh Sehun menuju ke pinggir jalan untuk mencari taxi. Dan untung saja tidak perlu menunggu lama, ada taxi yang menghampiri mereka jadi Kyungsoo tidak perlu menahan beban tubuh Sehun lebih lama lagi. Kyungsoo menghela nafas lega saat taxi yang mereka tumpangi mulai berjalan, berbaur dengan kendaraan lainnya di jalan raya. Kyungsoo mulai memejamkan matanya sesudah menyebutkan sebuah alamat pada supir taxi tersebut. Tidak berselang lama, nafas teratur mulai terdengar menandakan jika Kyungsoo sudah memasuki alam mimpinya.
Beda dengan Kyungsoo, Sehun malah mulai sadar dan memincingkan matanya bingung. Ia melihat kearah kirinya dan mendapati Kyungsoo tertidur sambil menyender dipintu mobil dengan bibir sedikit terbuka. Sehun baru ingat jika Ia terlalu banyak minum dan mabuk. Ia pikir hanya mimpi saat mendengar teriakan Kyungsoo dan adegan ciuman tadi. Oh astaga jadi itu semua bukan mimpi pekik Sehun dalam hati. Dengan ragu telunjuk tangannya menoel pipi gembil Kyungsoo dengan pelan. Dan itu nyata, berarti ini benar-benar bukan mimpi. Sehun merasa seperti orang bodoh sekarang.
Tangannya terulur meraih kepala Kyungsoo dan merengkuhnya kedalam pelukan. Sehun tersenyum tipis sambil merapikan rambut Kyungsoo yang menutupi sebagian wajahnya. Dadanya terasa sangat berdebar. Sudah sangat lama rasanya Ia tidak merasakan kehangatan tubuh mungil Kyungsoo. Dengan berani Ia mengecup bibir Kyungsoo sekilas, hanya sekilas karena Ia takut Kyungsoo terbangun dan semuanya akan berakhir saat itu juga.
"saranghae" gumamnya lirih.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, taxi yang membawa mereka berdua telah sampai diapartemen Sehun. Sehun turun terlebih dahulu dan membayar ongkos taxi, lalu kemudian menggendong tubuh Kyungsoo dengan pelan. Wanita itu tertidur dengan sangat lelap bahkan sama sekali tidak terusik dari goncangan saat Sehun berjalan. Alih-alih bangun Kyungsoo malah semakin melesakkan wajahnya pada dada Sehun. Dan hal itu mampu membuat hati Sehun bersorak senang, bahkan jantungnya sekarang sedang berpesta.
Sehun membaringkan Kyungsoo dengan pelan diatas tempat tidurnya, melepas sepatu yang dipakainya lalu menarik selimut hingga menutupi dada wanita tersebut. Dirasa Kyungsoo sudah nyaman, Ia memilih pergi kekamar mandi, mencuci wajah. Ia memandang wajahnya sekilas di cermin, gurat-gurat mabuk sudah tidak tampak pada wajahnya. Karena dengan ajaibnya efeck minuman alkohol itu langsung hilang saat matanya melihat wajah menggemaskan Kyungsoo saat tertidur. Menyudahi kegiatannya dikamar mandi, Sehun keluar dan berganti celana. Ia langsung berbaring begitu saja tanpa memakai atasan. Karena itu adalah salah satu kebiasaannya tidur dengan bertelanjang dada.
Tanpa bosan Sehun memperhatikan wajah Kyungsoo yang sedang terlelap. Lagi dan lagi dengan pelan tanganya meraih tubuh Kyungsoo dan membawanya dalam pelukan. Dan Kyungsoopun sepertinya tidak keberatan karena nyatanya wanita mungil itu malah semakin merapat dan tangannya membalas pelukannya. Hatinya terasa membuncah,biarlah malam ini Ia memanfaatkan Kyungsoo yang sedang tertidur untuk dipeluknya. Karena saat pagi besok menyapa, sudah dapat dipastikan hal seperti ini tidak akan terjadi.
Sehun mengecup kening Kyungsoo cukup lama menyalurkan semua rasa rindunya yang selama ini tengah Ia pendam. "maafkan aku Kyungsoo, maaf telah menyakitimu. Dan maaf karena dengan tidak tahu dirinya aku masih mencintaimu bahkan masih berharap kamu memaafkan dan kembali padaku. Maafkan aku" Sehun mengecup dahi dan bibir Kyungsoo sekali lagi.
Malam itu Sehun habiskan dengan memandang wajah Kyungsoo tanpa berniat memejamkan matanya bahkan berkedip pun enggan. Jadi malam itu juga Sehun memutuskan untuk tidak tidur sampai pagi menjelang.
Flashback off.
Kyungsoo masuk kedalam rumah sambil menggerutu tidak jelas. Bahkan Ia tidak sadar jika kedua orang tua serta Chanyeol dan Baekhyun sedang duduk di ruang tamu sambil memandangnya dengan tatapan siap membrodong dengan berbagai pertanyaan.
"kau bodoh Kyungsoo... kau benar-benar bodoh kau tahu.." omelnya sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"aku bisa gila jika seperti ini." Ia masuk kedalam kamar mandi. "tunggu... si brengsek itu tidak benar-benar menggerayangikukan?" tanyanya pada diri sendiri. Dengan buru-buru Ia menanggalkan seluruh pakaiannya lalu berdiri di depan cermin sambil memeriksa tubuhnya takut-takut ada bekas yang tidak Ia harapkan. "hhaahhh untung saja" gumamnya dengan lega. "eeeiittt tapi tunggu, apa selangkangannya baik-baik saja? Aku tadi menendangnya tidak keraskan?" Kyungsoo menggeleng-nggelengkan kepalanya lucu. " yyaaakkkk KYUNGSOO BERHENTI MENJADI BODOH." Teriaknya dari dalam kamar mandi dengan keras.
Sedang diruang tamu, keempat orang tersebut saling berpandangan dengan bingung saat mendengar teriakan Kyungsoo. "Yeolie... Kyungsoo kenapa jadi mengerikan seperti itu?" tanya Baekhyun sambil beringsut memeluk tubuh Chanyeol.
Tangan Chanyeol mengusap rambut Baekhyun. "jangan dipikirkan mungkin dia sedang kesambet." Jawab Chanyeol sekenanya.
Tink... raut wajah Baekhyun seperti menyadari sesuatu. "kenapa kau memelukku? Bukankah aku sedang marah padamu?" tanya Baekhyun sambil menjauh dari Chanyeol dan beralih memeluk ibu mertuanya. Heol! Baek... Kau duluan sayang yang memelukku bukan aku gerutu Chanyeol dalam hati. Lelaki jangkung itu lalu menghela nafas hanya bisa pasrah menghadapi tingkah sang istri.
Hye Kyo dan Joong Ki hanya menggelengkan kepala. Kenapa semuanya menjadi aneh seperti ini pikir mereka.
Kyungsoo keluar dari kamar dengan pakaian rapi sambil menenteng tas. Dan lagi-lagi Ia sama sekali tidak menoleh kearah keempat orang yang masih setia pada tempat mereka masing-masing. Ia langsung masuk kedalam mobilnya dan membawanya pergi dari garasi rumahnya. Didalam perjalanan Kyungsoo tidak henti-hentinya masih memikirkan junior Sehun yang tak sengaja Ia tendang.
"bagaimana kalau juniornya itu bengkak?'' (junior Sehun memang bengkak tapi bukan karena tendanganmu, melainkan karena pikiran mesum Sehun tentangmu Kyung :P )
"bagaimana kalau juniornya itu patah... oh tidak Kyungsoo kau dalam masalah besar..." pikiran Kyungsoo berkelana kemana-mana. Bahkan Ia membayangkan yang tidak-tidak tentang junior Sehun.
"EEEOOOMMMMAAAA AKU HARUS BAGAIMANA ANAK PERAWANMU ... eehhh tunggu aku masih perawan tidak ya? (Kyungsoo memasang wajah berpikir, namun detik berikutnya Ia mengusak rambut panjangnya dengan brutal) ... AAHHH MOLLA... EEEOOMMMA AKU DALAM MASALAH... HUUWWAAAA" teriak Kyungsoo dengan tidak jelas sambil terus melajukan mobilnya dijalan raya. Sepertinya pagi ini Kyungsoo benar-benar sedang dalam mode gila.
.
.
.
T. B. C
ANEH? Aku tahu chapter ini aneh... sangat aneh :p. Tapi beneran hanya ide itu yang terlintas dalam pikiran kekeke.
Thanks buat yang udah review dan selalu memberi dukungan. Yang lagi nunggu Eun Kyun nonggol sabar yeeee,, pasti tar nongol kok tuh bocah Cuma nunggu waktu yang pas kekeke. Buat yang suka nebak silahkan menebak sesuka kalian, jika diantara kalian ada yang nebak pasti kalian akan dapat
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak dapat apa-apa sih dari gw. Mungkin dapat kebanggaan dari diri sendiri karena udah bener dalam main tebak-tebakan. (lu lagi mabuk ya Thor... gaje baget luh) anggap aja Authornya lagi sengklek gitu aja. Kemarin ada yang tanya apakah gw kuliah dijurusan kedokteran? Jawabannya tidak, hhhhh gw Cuma orang ya orang yang terobsesi pengen bikin FF bertema medis dan baru kelaksana sekarang meskipun menurutku ceritanya gaje, tapi terimakasih buat yang muji jika cerita ini keren, bagus. Dan itu sukses bingin Author terbang #plak abaikan. Intinya gitu aja ya... pokoknya makasiihh buuuuanyaaaaaaakkkkk n maaf gak bisa bales review kalian...
See you next chap chu~~~~~~
