Halo semuaaaa!

Aku sedang di tengah minggu UTS dan nyolong waktu untuk mengapdeeet! Hehehe. Maaf ya menunggu lama. Tugas kuliah juga agak banyak. Terlebih sempat ada lomba cerpen di fakultas sebelah, jadi aku ikutan dengan mengirimkan dua cerpen. Doakan semoga menang, ya! Hehehehe. Ada beberapa teman yang jadi sainganku, aku berharap kami bisa jadi juara 1, 2, dan 3, kekeke!

Terima kasih yang sudah meripyu kemarin, ada Iin cka you-nii, Just 'Monta –YukiYovi, riidinaffa, arumru-tyasoang sudah kubalas lewat PM yaa!

Juga:

Margareth Eleanor: thanks for the participation! Jawabannya ada di bawah, yaa!

HirumaEnma01: thanks a lot! Hehehe. Makasih dukungannyaa!

yuki kineshi: hehehehe, iya, tenang, ceritanya masih panjang, akan kuusahakan! Makasih yaa!

Hmhm, aku sadar betul kalau yang me-review makin sedikit. Tapi aku berharap masih banyak silent reader di luar sana yang membaca, terima kasih untuk kalian! Jangan sungkan untuk berkomentar, hehehe.

Semoga kalian belum bosan dengan fic ini, karena ceritanya akan mendekati klimaks! Enjoooy~


Side-story from Grow Up, Flowers!

Love Labyrinth

Chapter 7: Enjoy The Night

Disclaimer: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke

Written by: undine-yaha

Reuni?

Besok?

Juumonji sontak bangun dan duduk.

"ASTAGA! Reuni SMP-nya Nagisa! BESOK!" teriaknya panik.

Sepertinya ia tidak jadi tidur.

~GrowUp!~

Keesokan sorenya, Juumonji sudah ribut sendiri seperti orang kebakaran jenggot.

Oke, dia tidak punya jenggot.

Celana yang akan dipakainya ke reuni sudah dibeli, tapi sekarang ia bingung mau memakai kemeja yang mana. Alhasil isi lemari ditumpahkannya ke tempat tidur.

"Kalau Hana mendengar ini, dia pasti akan menertawakanku," ujarnya bersungut-sungut, "PUTIH!"

Ia menyambar kemeja putihnya dan segera memakainya. Setelah semua baju selesai dipakai, tak lupa ia semprotkan parfum Paradise ke tubuhnya.

"Ayah, aku pergi dulu!" pamitnya serampangan dengan sehelai dasi di tangan kiri dan kunci mobil di tangan kanan. Sepatu pantofel hitamnya ramai berdentum di lantai.

"Iya!" jawab Juumonji Erito sekenanya. Ia sedang asyik menonton TV. Sekilas ia melihat anak lelakinya itu berpakaian sangat rapi.

"Mau ke mana dia? Rapi sekali?" Erito bertanya-tanya, "jangan-jangan dia mau kencan? Hahaha, anakku sudah besar rupanya."

"Hana, aku ke tempatmu sekarang!" ujar Juumonji di telepon, masuk ke mobil dengan tergesa dan segera menyalakan mesinnya.

"JIJIIIII!" terdengar teriakan Kiseki.

"Oke!" jawab Hana.

~GrowUp!~

Takekura Gen memarkir mobilnya di tempat parkir pertokoan Shibuya. Setelah selesai dengan proyek sebelumnya, ia memutuskan untuk memberikan libur kerja selama beberapa hari. Sekarang ia memanfaatkan waktu untuk hunting tempat makan malam dengan Sara.

Tempat makan malam dengan music jazz yang mewah. Tempat seperti apa itu?

Musashi berkeliling sambil melihat-lihat. Ada sesuatu yang mengusiknya. Sebuah restoran ramen dan tak jauh dari sana ada toko crepe. Cepat-cepat ia melihat ke seberang toko crepe itu.

Red Note Café. Live Jazz Music.

Pria muda itu tersenyum simpul. Tempat itu sepertinya cocok. Ditambah lagi ia kini ingat bahwa dulu dia pernah berada di sini. Hari-hari menjelang pertandingan melawan Shinryuuji waktu SMA dulu. Kurita mengajaknya makan ramen di sana, dan ia melihat Hana yang sedang membeli crepe.

"Lebih baik aku pesan tempat sekarang," gumamnya, melangkah masuk ke kafe, "kalau bisa malam ini aku dan Fujiwara sudah bisa ke sini."

~GrowUp!~

Sara mencoba mengendalikan diri. Juga menahan diri untuk tidak berteriak kegirangan.

Musashi telah mengirimkannya sebuah pesan singkat yang berisi ajakan makan malam.

"Tenanglah Sara, tenanglah, ini bukan kencan, bukaaaan," gumamnya, "aku harus tenang, tenang…."

Jemarinya terasa kaku dan dingin ketika membalas SMS dari Musashi itu. Rasanya ia ingin cepat-cepat pulang dari kantor dan berdandan! Mungkin Musashi memang mengajaknya sebagai teman, tapi tetap saja, Sara ingin terlihat sempurna.

Ia meletakkan ponselnya di meja kubikelnya, lalu kembali menatap layar komputer. Tapi tak lama ia mengambil kembali ponselnya. Ia ingin mengakui sesuatu yang selama ini ia simpan dalam hati. Ia mengirimkan pesan lagi pada seseorang, lalu ponsel itu benar-benar ia simpan di dalam tasnya.

"Baiklah, sudah kulakukan, sudah kulakukan," ia kembali berkata pada dirinya sendiri dan tangan kanannya memegang mouse, "sekarang fokus kerja. Fokus."

Tak sampai semenit kemudian, Anezaki Mamori yang sedang berada di rumahnya membuka pesan yang masuk ke ponselnya.

From: Sara-chan

Message:

Mamo….

….

Aku mengaku.

Aku mengaku: aku sudah jatuh cinta lagi, Mamo. Aku jatuh cinta pada Gen-kun.

Mamori berbinar membacanya. Sudah lama ia dan Ako terus menyindir Sara tentang kedekatannya dengan Musashi, namun Sara selalu menghindar. Namun akhirnya sekarang Sara mau mengakuinya.

Mamori segera mengetik balasannya.

To: Sara-chan

Message: Haha, sdh kuduga kau memang suka pd Musashi-kun! Baiklah kalau begitu, smg Musashi-kun pny perasaan yg sama padamu! Ganbatte! \^w^/

~GrowUp!~

Aoihoshi Residence

Yukimitsu sedang menyuapi Kiseki bubur. Suzuna dan Hana sedang berdebat malam ini mereka mau masak apa. Sena baru saja menelepon kalau dia sedang dalam perjalanan ke sana, sehabis membeli buah di tokonya Monta.

"Sena sudah lama nggak makan udang, Ao-chan!" kata Suzuna.

"Tapi aku baru saja memasak udang! Lagipula aku sudah nggak punya udang lagi di kulkas!" tukas Hana.

"Terus mau makan sayuran doang? Kulkasmu isinya sayur!" Suzuna meletakkan buku resep masakan di tangannya dengan agak kasar.

"Aku punya karaage di freezer! Emang aku suka sayuran, so what?" balas Hana.

"Kiseki, aaaa," Yuki menyuapi Kiseki sambil sweatdrop mendengar pertengkaran nggak penting itu. Sebenarnya mereka tidak benar-benar bertengkar sih, cuma dua-duanya sama-sama cerewet, jadi begitu deh hasilnya.

"Hei, minna," Juumonji tahu-tahu sudah nyelonong masuk ke ruang makan.

"JIJIIIII!" panggil Kiseki riang, belepotan bubur.

Suzuna melotot heran, tidak tahu kalau Juumonji akan kemari.

Hana langsung berdiri dari kursinya dan melakukan scanning pada Juumonji. Juumonji salah tingkah.

"Warna outfitnya serasi," puji Hana, "kau siap menemui Nagisa!"

"EEEEH?" mata biru-keunguan Suzuna makin melebar, "Monjii mau kencan ya? YA~!"

Juumonji memalingkan wajahnya yang tersipu, "Ck! Kenapa cheer tukang gossip ini ada di sini sih?" gerutunya.

Hana melirik ke jam dinding bentuk bintang yang ada di dekat situ. "Sudah, buruan jemput Nagisa. Jangan membuat wanita menunggu."

"Tapi…," Juumonji masih ragu. Hana menggerakkan tangannya dan menggunakan sihir untuk 'mendorong' Juumonji ke pintu depan.

"Eeeh!" Juumonji kaget ketika badannya serasa didorong sesuatu.

"Sudah sanaa, sana!" usir Hana.

"Jiji, dadah!" Kiseki melambai-lambai.

"Hati-hati di jalan, Juumonji-kun!" kata Yukimitsu.

"YA~! Sukses untuk kencan pertamamu yaaa!" teriak Suzuna, menyemangati.

Juumonji berhasil membalik badan dan memelototi Hana yang berjalan di belakangnya. "Aku belum pakai dasi, nih!" ia menyerahkan sehelai dasi pada Hana.

Hana sedikit terdiam pada awalnya, setelah itu ia tersenyum.

"Minta Nagisa untuk memakaikannya," ujarnya.

"Lho? Kenapa? Kamu kan bisa?" tanya Juumonji polos.

Hana melengos, heran dengan kepolosan temannya satu ini. "Sudah, nanti kamu juga ngerti. Minta tolong Nagisa aja saanaaaa!"

Dengan satu ayunan tangan terakhir, Hana mendorong Juumonji keluar dari rumahnya dengan sihir.

~GrowUp!~

Kaede Residence

TING TONG!

Nagisa terkesiap. Ia sedang menunggu-nunggu Juumonji di ruang TV sambil mengipasi dirinya dengan kipas berbentuk onigiri. Ia takut berkeringat dan make-upnya luntur. Padahal cuaca juga tidak sepanas yang ia bayangkan.

"Kaa-san! Sepertinya itu Kak Juumonji! Itte kimasu!" pamitnya pada sang ibunda yang berada di dapur.

"Itte irasshai! Jangan pulang terlalu malam, ya!" ibunya berpesan.

Ketika Nagisa membuka pintu, jantungnya serasa berdentum-dentum. Ibunya iseng melihat dari kejauhan siapa pria muda yang menjemput anak perempuannya itu.

"Hei," Juumonji berdiri di depan pintu dengan agak kikuk. Ia mencoba tersenyum.

Nagisa terlalu terpesona pada Juumonji. Ia hanya bisa memasang wajah takjub dengan tangan memegang kenop pintu depan.

Juumonji melihat Nagisa sekilas. Ia memakai mini dress warna kuning pastel dengan lengan yang agak puffy. Legging warna hitam polos dipadu dengan ankle boots hitam membuat kakinya terlihat jenjang. Anggun, tapi tetap manis. Saat di jalan tadi Hana sudah mengingatkan Juumonji untuk segera memuji penampilan Nagisa begitu dia menemuinya.

"K-kawaii," ucap Juumonji, terserang virus gagap, "kau cantik sekali malam ini Nagisa."

Kenop pintu depan jadi bergetar karena Nagisa jadi semakin gugup mendengar pujian itu.

"Kak Juumonji juga… keren," ucapnya dengan wajah merona.

Juumonji Kazuki, 22 tahun. Kaede Nagisa, 21 tahun. Tapi sekarang keduanya merasa seperti remaja berumur 17 tahun!

"Ayo, kita berangkat," Juumonji mulai bisa mengendalikan perasaan gugupnya. Nagisa mengangguk. Juumonji melongok ke dalam rumah, bermaksud berpamitan.

"Ah, iya, selamat bersenang-senang!" Nyonya Kaede tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Nagisa sambil tersenyum lebar, "titip putriku ya, Nak Kazuki!"

"Uuh, Kaa-san ini, sok akrab," sahut Nagisa malu.

"Iya Tante, ehm, kami pergi dulu," pamit Juumonji.

Ia berjalan bersama Nagisa menuju mobil sedan putih yang siap membawa mereka ke tempat tujuan. Juumonji membukakan pintu untuk Nagisa. Nagisa merasa sangat senang.

Hana juga yang menyuruh Juumonji melakukan itu. Sementara Nagisa berniat akan memberitahukan Hana bagaimana Juumonji memperlakukannya bak seorang putri malam ini.

Saat menyalakan mesin, Juumonji teringat sesuatu. Ia mengambil dasi yang ia sampirkan di joknya.

"Nagisa, bisa kaupakaikan ini padaku?" pintanya, "aku nggak bisa makainya."

Jantung Nagisa sepertinya akan terus berdentum-dentum. "Ah… iya. Akan kupakaikan."

Tangan dengan kuku jari berlapis kuteks transparent pink itu memulai pekerjaannya. Nagisa mencoba fokus pada dasi itu sementara ia tahu wajah Juumonji berada tepat di atas kepalanya. Napasnya seakan meniup rambutnya. Begitu juga dengan wangi parfumnya. Mahasiswi itu mencoba menahan diri untuk tidak pingsan di tempat.

Juumonji tak kalah gugup dari Nagisa. Ia tahu Nagisa berada di depannya, dekat sekali. Rambut cokelatnya yang wangi, juga aroma mawar dari parfum Baby Rose Jeans yang menggelitik hidungnya. Atlet itu mencoba menahan diri untuk tidak serta-merta memeluknya.

"Selesai," Nagisa membuang napasnya yang sempat tertahan. Tangannya semakin membeku ketika merapikan kerah kemeja Juumonji, lalu mengancingkan jasnya.

"Arigatou," sahut Juumonji dengan nada terburu-buru, menghindari salah tingkah dengan kembali pada setir. Nagisa juga kembali duduk bersandar di tempatnya, menenangkan diri.

Juumonji mulai tahu apa yang dimaksud Hana. Ketika Hana yang memakaikannya dasi, ia tak merasakan apapun! Tapi ketika Nagisa yang melakukannya, rasanya sangat lain. Inikah yang disebut cinta?

"Berangkat," kata Juumonji, menginjak pedal gas dan sedan itu melaju pergi. Nagisa menggenggam pursenya erat-erat, berpikir setelah ini mau ngobrol apa dengan Juumonji.

Malam ini baru saja dimulai untuk mereka berdua.

~GrowUp!~

Red Note Café

Malam ini adalah malam terindah untuk Fujiwara Sara.

Ia duduk manis dengan menyilangkan salah satu kakinya, membiarkan salah satu pumps silvernya menggantung tak menyentuh lantai. Tube dress selutut dengan aksen renda di bagian bawahnya ia padukan dengan blazer warna silver pula. Ia memakai blazer itu supaya bahunya tidak terlalu terekspos. Ia takut Musashi mengiranya sok seksi.

Musashi sendiri sedang konsen pada buku menu di tangannya. Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Kemeja itu tidak ketat, tapi Sara masih dapat melihat siluet tubuh kekar dibaliknya.

Sara terlalu asyik memerhatikan pria di depannya hingga lupa membaca menu.

"Aku pesan yang ini," Musashi akhirnya menjatuhkan pilihan pada hot caffelatte. Pelayan yang berdiri di sampingnya mengangguk.

"Fujiwara, kau pesan apa?" tanya Musashi.

"Hah? Ummm," Sara terbangun dari lamunannya dan melakukan quick scan pada buku menu. "Aku pesan ini saja," ujarnya, memperlihatkan gambar segelas Mais Que Nada. Minuman dengan puree mangga, jus jeruk, dan madu.

"Kau mau makan apa untuk appetizernya?" tanya Musashi, "salad?"

Sara yang masih setengah linglung hanya mengangguk. "Salad sepertinya enak."

Terpilihlah herbal salad dengan hazelnut oil untuk makanan pembuka. Setelah itu mereka memilih pan fried Japanese chicken and foie-gras disajikan dengan saus morille mushroom. Panjang sekali nama-nama makanan di café ini. Sara hanya bisa mengangguk patuh ketika Musashi menawarkan makanan itu.

"Baiklah, silakan tunggu sebentar. Kalau ada tambahan, jangan sungkan untuk menghubungi kami," kata pelayan dengan rompi merah itu ramah.

Musashi menatap Sara datar. Sara tertawa, mencoba menghilangkan rasa gugup.

"Aduh, maaf Gen-kun, tadi itu aku melamun," ucapnya geli.

"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Musashi malah menanggapinya serius.

Sara menggeleng cepat. "Ah, nggak ada apa-apa. Mungkin terlalu takjub dengan suasana di sini."

Musashi memandang sekeliling. "Benar. Suasana dan tempatnya nyaman sekali. Atmosfirnya—entah kenapa—terasa mewah."

Sara tersenyum simpul, menatap taplak warna putih yang mengalasi meja mereka.

"Ngomong-ngomong, Fujiwara…"

Sara menoleh dan menemukan senyum Musashi.

"Kau terlihat cantik."

Wajah karyawati swasta itu terasa panas. "Ah, Gen-kun bisa saja… Gen-kun juga kakkoi lho," ujar Sara.

"Kau suka tempatnya kan?" tanya Musashi—tidak memedulikan pujian dari Sara.

"Suka sekali. Nggak nyangka lho kalau Gen-kun bakal memilih tempat seperti ini," jawab Sara.

"Begitu?" Musashi melayangkan pandangan lembut, "syukurlah kalau kau suka."

Pesanan mereka berdua datang. Setelah ber-kampai, mereka memakan makanan mereka masing-masing sambil bercakap-cakap. Selagi ada kesempatan, Musashi mengeluarkan ponselnya dari saku jins dengan satu tangan dan mengirim pesan singkat pada seseorang.

To: Aoihoshi Hana

Message: agen no.11 melapor pada agen no.8. misi sukses.

~GrowUp!~

Tokyo Prince Hotel

Juumonji membukakan pintu mobil untuk Nagisa setelah memarkirnya. Nagisa turun dan mengucapkan terima kasih.

"Kita belum terlambat, kan?" tanya Juumonji, berjalan berdampingan dengan Nagisa.

"Tepat waktu, kok!" jawab Nagisa riang. Mereka mulai mendekati pintu masuk hall. Nagisa mulai melihat wajah-wajah yang ia kenal.

Ramai sekali. Satu angkatan terdiri dari lima kelas, jadi banyak sekali orang di dalam sana.

Mereka menaiki tangga menuju pintu kaca Sun Flower Hall itu. Sedikit grogi, Juumonji menggandeng Nagisa.

Napas Nagisa terhenti. Ia melirik Juumonji dengan tatapan kaget.

"Kau kan kecil, aku takut kau hilang di keramaian," Juumonji beralibi, matanya menatap keramaian.

"Kak, teman-temanku suka jahil, kalau nanti mereka meledek kita, jangan marah ya," kata Nagisa dengan wajah merah karena Juumonji menggenggam tangannya.

"Hm," jawab Juumonji singkat.

Memasuki keramaian, tiga orang wanita muda melihat Nagisa dan menjerit kesenangan.

"Nagisa-chaaan!" panggil mereka bertiga.

Nagisa berbinar. "Satsuki-chan, Haruko-chan, Kana-chan!" panggil Nagisa, "lama tak jumpa!"

Juumonji melepaskan tangannya supaya Nagisa bisa berpeluk-peluk ria dengan teman-temannya.

"Sudah berapa bulan ya nggak ketemu? Semester akhir seperti ini, sibuk-sibuknya ya!" ujar yang rambutnya dikepang, Satsuki.

Nagisa mengangguk-angguk. "Benar sekali!"

Setelah itu mereka berempat ketawa-ketiwi, saling menanyakan kabar masing-masing.

"Eh, itu siapa, Nagisa-chan?" Kana yang memakai gaun warna biru melihat ke arah Juumonji, "tadi kau gandengan dengan dia ya?"

"Cieeeeeh, pacarmu yaaaaa?" Haruko, yang memakai pita cokelat di rambutnya tersenyum jahil.

"Ah, b-bukan," jawab Nagisa malu, padahal dalam hati jawabannya adalah: iya! Iya! Mauku juga begitu!

"Mmm, Kak Juumonji, kenalkan, ini teman-temanku," ujar Nagisa. Teman-temannya memperhatikan Juumonji dengan excited.

"Juumonji Kazuki, yoroshiku," sapa Juumonji santai dengan senyum tipis, "mmm… temannya Nagisa." Dia kagok melihat tatapan-tatapan terpukau itu.

Nagisa sudah senang Juumonji menganggapnya teman. Itu lebih baik daripada kenalan.

Haruko menarik Nagisa mendekat dan berbisik, "Astaga, Nagisa-chan! Cakep banget! Kamu kenal di manaaa?"

"Iya, keren! Tapi serem juga, di wajahnya ada bekas luka, sangar," bisik Kana.

Nagisa tertawa kecil. "Heheheee, soal itu—"

"Pergilah dengan teman-temanmu," potong Juumonji, "aku akan menunggu di situ saja," ia menunjuk pojok ruangan, tempat minuman dan kue-kue.

"Eeh? Nggak pa-pa Kak?" Nagisa mengernyitkan alis, ragu.

Juumonji tersenyum simpul. "Kau harus berkeliling dan berbagi cerita dengan teman-temanmu, masa aku ikutan," ujarnya, "sudah, ketemu lagi di sana saja ya!"

Nagisa mengangguk. Juumonji menjauh dari pandangannya. Ia menunggu sambil mengambil segelas fruit punch. Tak lupa ia mengawasi Nagisa dari kejauhan. Kadang Nagisa menunjuk ke arahnya ketika bertemu dengan temannya yang lain, mengenalkan siapa yang menemaninya malam ini. Saat itu Juumonji akan mengangguk dengan sedikit senyum dan teman-teman Nagisa akan menjerit-jerit tidak jelas.

"Baru senyum segitu aja udah keren banget!" kata Ayako, kawan Nagisa yang lain.

"Hehehehe, senyumnya agak pelit, ya?" Nagisa tersipu.

"Buruan deh kamu jadian, Nagisa-chan," Haruko menyenggol Nagisa jahil, "keburu salah satu dari kami merebutnya darimu!"

Satsuki, Ayako, dan Kana tertawa terbahak-bahak. Nagisa pura-pura ngambek pada teman-temannya.

"Mouuu, kalian iniii!" protesnya, melipat tangan di depan dada. Setelah itu mereka tertawa ramai-ramai.

Setelah puas berkeliling dan mengobrol disana-sini, Nagisa memutuskan untuk menghampiri Juumonji sekalian mengambil minuman. Ia pamitan pada teman-temannya yang masih ingin berkumpul.

"Kasihan Kak Juumonji, jangan-jangan dia mati bosan," gumamnya. Orang yang dimaksud sedang 'perang' dengan Kuroki dan Toganou via messenger. Dua saudara Juumonji itu minta dikenalkan pada teman-teman Nagisa, siapa tahu bisa dijadikan gebetan. Juumonji yang malas menolak melakukannya, terjadilah pertengkaran tidak penting. Sesekali Juumonji mencari-cari dimana Nagisa berada. Ia melihat Nagisa mendekat dan tetap mengawasinya.

"Whoaaa, Nagisa-chan," seorang pria berambut keriting menghentikan langkah Nagisa.

"E-eh, Souma-san," Nagisa balas menyapa dengan wajah panik. Pria itu bernama Souma, dan yang di sebelahnya—si rambut highlight merah—Jun, adalah berandalannya sekolah. Nagisa merasa sial bertemu mereka di sini.

"Lama nggak ketemu, ya? Tambah cantik aja," goda Jun. Nagisa mengenal mereka berdua tanpa sengaja di kantin. Waktu itu dia tidak tahu dua sahabat ini ternyata langganan dipanggil guru BP.

Nagisa nyengir garing. "Eh, i-iya, makasih, ngng, aku duluan ya," pamitnya terburu-buru ingin kabur. Tapi ketika ia mencoba melewati mereka berdua, Jun menangkap lengannya.

"Hei, kok buru-buru sih? Ngobrol dulu dong sama kami," kata Jun, tersenyum licik pada Nagisa. Dandanan mereka berdua rapi, tapi kelakuannya tidak sama sekali.

"Kamu masih jomblo kan? Kita kencan yuk besok!" ajak Souma, mendekat pada Nagisa.

Orang-orang di sekitar mereka terlalu sibuk makan dan mengobrol, tidak memperhatikan kejadian itu.

Wajah Nagisa pucat pasi. "Le-lepasin! Dasar nggak sopan!"

"Aduh, kenapa sih kamu sensi banget sama ka—"

Souma berhenti berkata-kata setelah melihat seseorang yang berdiri di belakang Jun dan Nagisa. Keringat dingin langsung mengucur di dahinya.

Nagisa terkejut dengan ekspresi Souma. Jun mengernyit heran. "Woy, kenapa loe bengong begitu? Kayak ngeliat hantu aja!"

Gemetaran, Souma menunjuk-nunjuk, "Di belakang loe… di belakang loe…"

"Apa?" Jun melepas tangan Nagisa dan berbalik dengan sengaknya—seketika itu pula dia memasang ekspresi sama persis dengan Souma.

Orang itu adalah Juumonji. Ia berdiri dengan kedua tangan di kantung celananya plus tatapan membunuh.

"J-j-j-juumonji K-kazuki!" seru Jun gagap.

"Bagaimana bisa dia ada di sini?" Souma melongo tak percaya.

"Kalian anak SMP yang mencoba memalak kami waktu itu kan?" tanya Juumonji emosi, "masih belum puas kuhajar waktu itu, HAAAAH?"

"HIII! Ampuuuun!" jerit Souma dan Jun sambil berpelukan karena ketakutan. Orang-orang di sekitar mulai memerhatikan peristiwa ini.

"Kuperingatkan," Juumonji memelototi mereka berdua dengan garang, "sekali lagi kalian menyentuh Nagisa, akan kupatahkan leher kalian berdua!"

"AMPUN! AMPUN! JANGAN!" mereka kembali menjerit-jerit dan menjadi bahan tertawaan semua orang.

Juumonji menggandeng Nagisa menjauh dengan cuek. Nagisa merasa lega sekaligus malu. Semua orang sekarang melihat ke arah mereka!

"Kau baik-baik saja?" tanya Juumonji.

"Hu-um," Nagisa mengangguk.

"Ini, minumlah," mereka sampai di tempat Juumonji menunggu tadi dan Juumonji memberikan Nagisa segelas orange juice.

Nagisa menerimanya, "Arigatou."

Setelah minum, Nagisa bisa tenang. Jujur, ia takut sekali tadi. Untunglah Juumonji datang.

"Kak," panggilnya sambil tersenyum, "terima kasih sudah menolongku."

"Ah, biasa saja," jawab Juumonji sok cool sambil mengambil sepotong chiffon cake.

"Tiga kali," Nagisa memberanikan diri menatap penolongnya itu, "Kakak selalu datang menolongku. Kakak sudah seperti pahlawan buatku."

Juumonji mencoba menahan diri untuk tidak blushing. Tapi terlambat.

"Harusnya kaupikirkan kenapa kau sering diganggu preman," kata Juumonji. Nagisa langsung panik.

"Eeeh? Nggak tahu Kak, aku nggak pernah macam-macam kok!" ujarnya.

Juumonji tertawa. "Hahaha, nggak, aku nggak menyalahkanmu. Memang kamu cantik, sih, jadi…."

Kunyahan kue chiffon Juumonji terhenti. 'Bego, ngomong apa aku tadi?'

Nagisa tersipu mendengar pujian untuk kedua kalinya itu. Tapi ia terpikir sesuatu yang lain.

"Kak," ia mengagetkan Juumonji yang sibuk memaki diri sendiri dalam hati, "selain aku, adakah orang lain yang pernah Kakak lindungi?"

Juumonji mencoba mengingat sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

"Kayaknya… nggak ada," jawabnya.

"Kak Hana, mungkin?" tanya Nagisa lagi, ragu ketika mengucapkan nama itu.

Juumonji tercengang. "Hana? HANA?"

Nagisa jadi bingung. "Iya, Kak Aoihoshi Hana, kenapa Kakak malah kaget?"

Satu, dua, tiga. Juumonji tertawa keras-keras sampai hampir tersedak.

"Iih, Kakak kok malah ketawa, sih?" protes Nagisa, menarik-narik jas cokelat Juumonji kesal.

"Hana? Yang bener ajaaa!" kata Juumonji, masih tertawa, "dia itu nggak perlu dijagain, preman udah takut duluan sama dia! Liat aja mukanya kalo lagi jutek, horor abis!"

Nagisa cemberut. "Tapi Kak Hana kan perempuan, Kak!"

Juumonji mulai berhenti tertawa. "Iya, iya, kau betul, tapi, sepertinya dia bisa bela diri tertentu deh. Mungkin karate atau tae kwon do. Jadi, yah, dia bisa melindungi dirinya sendiri."

Semua hanya karangan Juumonji. Karena tidak mungkin Juumonji bilang kalau Hana bisa menghajar preman dengan sihir.

Nagisa tertawa kecil. Hana memang pernah mengiriminya SMS berisi: kalau Juumonji macam-macam padamu, bilang padaku. Akan kutendang dia.

"Tapi," Juumonji menghela nafas dan menatap Nagisa, "aku lebih suka sama wanita yang bisa kulindungi." Ia tersenyum.

Nagisa terpekur. Ia lalu bergerak mengambil es krim.

Juumonji mengernyit. Kok dia malah ngambil es krim?

"Sepertinya… aku… meleleh, Kak," ujar Nagisa sambil memakan es krim itu dengan tatapan kosong.

"Eh, iya, ada sih, perempuan yang ingin kulindungi selain kamu," kata Juumonji, mengangkat alisnya jahil. Ia geli sekali melihat tingkah Nagisa. Andaikan bisa, ia ingin mencubit pipinya gemas.

Nagisa terbatuk-batuk. "S-siapa Kak?"

"Aoihoshi…," jawab Juumonji, membuat mata cokelat Nagisa membulat, "Kiseki."

"Mouuu!"

~GrowUp!~

Red Note Café

Dianna Reeves bernyanyi dengan sangat merdu di atas panggung. Segalanya terasa menyenangkan buat Sara. Kadang ia mencubit lengannya sendiri, memastikan dia tidak bermimpi. Musashi sama sekali bukan pria romantis, tapi memikirkan bagaimana ia mengajak ke tempat seromantis ini, Sara semakin menyukainya.

"Gen-kun sudah sering ke sini?" tanya Sara. Semua pesanan mereka telah terhidang di meja dan mereka bercakap-cakap sambil makan. Kebanyakan sih Sara yang bertanya duluan.

Musashi menggeleng, membiarkan ayam yang dikunyahnya tertelan dulu. "Ini pertama kali aku ke sini."

Sara tersenyum lebar. "Aku juga pertama kali."

Gantian Musashi yang tersenyum. "Kau terlihat sangat senang. Kapan-kapan mau ke sini lagi?"

"Gen-kun, please," Sara tertawa dengan wajah merona, "kau sudah membuatku berbahagia semalaman ini. Ditambah tawaranmu tadi, kau tidak lihat wajahku sudah seperti kepiting rebus?"

Sara tidak tahu bagaimana perasaan Musashi padanya. Namun ia ingin sedikit demi sedikit menunjukkan perasaannya pada Musashi secara implisit.

Musashi mendengus geli. "Yeah, yeah, aku bisa melihatnya dengan jelas."

Ia lalu melihat jam di pergelangan tangannya. Malam telah larut.

"Setelah makan, kita pulang ya?" ajaknya, "aku tidak mau kau terlalu malam sampai di apartemenmu. Besok pagi kau harus bekerja."

Sara mengangguk. "Iya. Eh, ada orang-orang yang berdansa," Sara menunjuk bagian bawah panggung.

"Aku tidak bisa, sungguh, dan jangan memaksaku," sahut Musashi jutek, "sebagai ganti berdansa, akan kupesankan makaron."

Sara tergelak. "Hei, siapa juga yang mau ngajak dansa? Aku juga nggak bisa, tau!"

~GrowUp!~

Akhirnya tiba waktunya pulang. Sara berjalan menuju mobil Musashi dengan hati berbunga-bunga. Ia sempat meng-SMS Mamori, kalau acara malam ini ditutup dengan Sara yang menawari Musashi makaron rasa teh hijau, dan Musashi mau memakannya! Ia menggigit makaron yang disodorkan Sara padanya.

"Ngng, mobilnya Gen-kun… banyak ya?" Sara berkomentar ketika mereka sudah duduk di dalam sedan dan sedan itu mulai bergerak.

"Tidak juga. Kalau pick-up, itu punya perusahaan. Kalau sedan yang ini, sewa kok."

Sara mengernyit. "Sewa?"

"Khusus untuk malam ini," jawab Musashi sambil mengalihkan pandangannya dari jalan ke mata Sara.

Sara hanya bisa membeku.

Jalanan Tokyo masih ramai. Apartemen Sara agak jauh dan Musashi mencari jalan yang sekiranya tidak terlalu padat. Ternyata benar, jalanan itu agak sepi.

Tak ada suara. Musashi konsen menyetir dan Sara juga menikmati kesunyian itu. Khayalnya melambung jauh. Apakah Gen-kun juga menyukaiku? Begitu batinnya bertanya.

Ekspresi datar Musashi berubah seketika. Ia dikejutkan dengan mobil kontainer yang tiba-tiba melaju kencang dari arah berlawanan. Jalan ini memang dua arah, tapi seharusnya posisi mobil mereka tidak berhadapan seperti ini.

"Gen-kun, kelihatannya dia tidak menghindar!" jerit Sara panik.

"Sial. Memangnya dia tidak sadar kalau ada kita di depannya?" Musashi menanggapi sambil berkonsentrasi penuh. Kalau mobil itu tidak menghindar, maka merekalah yang harus menghindar. Musashi mencoba melambatkan mobilnya, tapi mobil itu malah semakin kencang. Jarak antara kedua kendaraan semakin tipis.

Saat itulah Musashi teringat satu hal yang ia bisa lakukan untuk menyelamatkan diri.

CKIIIIIT!

"KYAAA!"

BRAK!

[bersambung…]


BRAK!

Aduuuuuuuh! Kakiku nabrak meja komputeeeeeer!*plak

Ya-ha! Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Silakan menunggu di chapter depan! Entah kenapa Love Labyrinth semakin mirip sinetron…*pundung

Daripada itu… LET'S ASK CHARACTERS!

Berikut pertanyaan dari Iin cka you-nii!

Q: What is your favorite drink?

Fujiwara Sara: mmm… jus buah!

Kuroki Kouji: haaaah? Minuman favorit? Entah, aku suka minum apa saja. Tapi… mungkin soda yang paling aku suka.

Anezaki Mamori: CREAM PUFF! Eh, maaf, minuman ya? Mungkin… sirup melon? Rasanya enak. Teh lemon juga enak.

Raimon Taro: jus pisang! Ada nggak ya minuman itu?

Aoihoshi Hana: aku suka jus alpukat dengan susu cokelat! Yum!

Lalu, pertanyaan dari margareth Eleanor!

Q: what is your favorite food?

Natsuhiko Taki: ahaahaa, makanan favoritku adalaaaah sashimiiii! Orang jenius seperti aku ini, harus makan makanan mahaaaal!*putar

Juumonji Kazuki: Manisan lemon.

Kurita Ryokan: aku suka semua makanaaan! Pokoknya yang bisa dimakan aku mauuuu! xDD

Komusubi Daikichi: FUGO! (Kurita: Komusubi-kun bilang, dia suka makanan yang berprotein dan berkarbohidrat, itu bisa menambah energinya sehingga ia jadi kuat :D)

Ishimaru Tetsuo: ah? Makanan kesukaanku, ya? Aku paling suka bento buatan ibuku… tapi karena sudah bekerja, aku jarang membawa bento buatan ibu.

Untuk pertanyaan yang lain, ditunggu ya, pasti dijawab satu-satu!

Baiklah, terima kasih banyak sudah membaca. Maaf kalau ada kesalahan, ya. Jangan lupa review! xDD

Sampai jumpaa!