Chapter 7 : Eustia, Reruntuhan Ibu Kota Bangsa Cora

Chapter 7 ini adalah chapter debut char Bellato yang namanya sempat eksis di fanfic sebelah. Menceritakan tentang suasana bangsa Bellato pasca Chip War terakhir. Setting waktunya sebulan sebelum Slask menjalani ujian teori.

Markas Bellato

Sebuah lingkaran teleportasi tercipta di sebuah portal raksasa di Markas Federasi Bellato pertanda ada orang akan muncul. Kini sesosok utuh Bellato Ranger berdiri diatas portal. Royal Lace Lachrymose baru saja kembali dari Gurun Sette setelah lima hari dinyatakan hilang.

"Kau berhasil selamat itu bagus Ranger." Kata seorang dewan pertahanan.

"Maaf Maximus saya gak bisa menyelamatkan yang lain,dan kuil di sette telah hancur dan energi yang di bicarakan itu juga telah lenyap." Kata sedikit ragu-ragu.

"Yah tak masalah yang penting kau selamat Ranger."kata sang dewan memberikan penghormatan ke Lace dan anak buah yang lain juga memberikan hormat.

"Haah kenapa kau tidak ikut mati sekalian di sana, kau pasti jadi pahlawan bocah" terdengar suara bernada sinis dan benci terhadap Lace. Lace hanya menahan marah aja, karena dia punya tingkatan yang lebih tinggi.

"Jaga bicaramu, Maximus Hana. Dia bertugas dengan maksimal, sebaik nya kau cepat sembuhkan dia dengan force mu." Sontak Lace kaget wakil archon sekaligus dewan bagian penyerang Maximus Gredd.

"huhh, yah baiklah kemari kau bocah gara-gara kau aku di marahi sama si Gredd."Maximus hana ngedumel sendiri.

Maximus Hana langsung mengobati Lace dengan Force Holy miliknya. Meski dari luar terlihat tanpa luka, masih ada kemungkinan didalam ada cedera serius.

"Kau gak kena luka serius Cuma memar aja, dah sono bete aku liat kamu" kata Maximus Hana ketus.

"Baiklah saya permisi tapi saya ingin bertanya mohon di jawab, kenapa anda sangat membenci saya maximus? Apakah saya pernah melakukan kesalahan pada anda?" tanya Lace sama nih maximus, Lace heran kenapa dia selalu memandang dengan tatapan benci gitu.

"Kamu banyak salah nya dan susah untuk ku maafkan, sanah pergi." Dia ngusir Lace secara gak sopan banget.

Royal Lace pergi meninggalkan Maximus Hana. Disaat ia bingung mau ngapain lagi, Dzofi datang menepuk pundak Lace dari Belakang.

"oy lace gimana misi lu."tanya orang yang nepuk pundak Lace.

"oh elu dzof misi gue setengah berhasil setengah fail" kata Lace bales pertanyaan Dzofi Hardiji seorang Armor rider bagian sains dan teknologi.

"kok bisa? Dan gue denger Cuma lu doang yang selamet sama berseker kalo gak salah nama nya Rina, dia kemarkas dengan penuh luka dan sekarang dia di rumah sakit di rawat" kata Dzofi memberi informasi soal Rina yang biki Lace sadar akan temannya.

"yah energi yang di cari ancur sama kuil nya di dalem dan pas gue keluar kuil udah banyak pasukan tewas dari accertia,Cora and bangsa kita." Cerita Lace.

"pasti berat yah jadi elu, BTW busur lu mana ada kerusakan gak? Coba gue cek" kata Dzofi. Lace mengeluarkan busurnya dan menyerahkan kepada Dzofi untuk dicek.

"hmm Strong Intense Black Hora Bow tipe 0-2-0-1 tipe langka lu dapet dari mana? Perasaan kemaren busur lu masih Wind Hora deh." tanya si dzofi.

"kemaren malem gue beli sama orang nego tipis." Kata Lace yang sebenarnya baru sadar kalau busurnya sudah berbeda bentuk dari terakhir kali dia pakai.

"hoki lu cok nih busur udah di upgrade sama ignorant talic 5 biji, wah kalo gini lu bisa jadi maximus dengan cepat nih" goda dzofi karena senjata Lace yang bisa di bilang bagus.

"haha iya dah dzof percaya aja dah gue" Lace menyimpan kembali busurnya. " eh udahan dulu ya. Gue mau kerumah sakit dulu. Mau jenguk si Rina." Kata Lace sambil buru-buru.

Lace berlari keluar markas. Saat ia hendak berbelok ke kiri, tanpa diduga datang seseorang berlari dari arah berlawanan hingga tabrakkan tak terhindarkan.

"WAADOOOHHH!" Lace terjatuh dan mendarat di salah satu anak tangga.

"Aduh, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau ada orang mau lewat." Kata Bellato laki-laki berambut hitam bermata biru. Dia mengulurkan tangan untuk membantu Lace berdiri.

Lace melihat laki-laki itu dengan sedikit kesal. Tapi kalau Lace pikir dia juga datang dengan berlari tapi dia tidak ikut terjatuh.

"Kau baik-baik saja?" kata laki-laki tersebut. Lace memperhatikan dia dari atas kebawah dan sebaliknya. Laki-laki itu memakai seragam warna putih dan bercelana bahan juga warna putih. Dia juga memakai topi putih dengan logo B&C Specialized Bakery and Cake. Kemungkinan dia pegawai disebuah toko kue.

"Yah aku baik-baik saja. Lain kali kau harus lebih hati-hati. Ini markas, tempat banyak orang berlalu lalang. Dilarang berlarian kecuali ada yang darurat." Omel Lace kesal dengan laki-laki yang dari tadi Cuma senyum saja.

"Waduh, aku minta maaf. Keadaan lagi urgent banget." Namun laki-laki tersebut seperti tersadar akan sesuatu "Tunggu dulu. Kau itu Lace 'kan? Royal Lace Lachrymose yang dinyatakan hilang di Sette. Kok, anda bisa ada disini?"

"Itu... ada banyak yang terjadi. Ceritanya sangat panjang. Memangnya kau siapa?" kata Lace merasa tidak nyaman dengannya. Lace merasa dia sok akrab banget.

"Wow, itu pasti sangat privasi untukmu, ya? Oh iya perkenalkan namaku Lech Kroznan. Liutenant Lech Kroznan. Ketua kelas Warrior 3 Job Commando. Senang berkenalan dengan anda."

Lace terkejut dengan Lech. Lace pikir dia itu warga sipil, gak tahunya Lech tentara juga.

"Ng? Aku tidak tahu kalau kau calon tentara yang akan lulus?"

"Hahaha, memang banyak yang awalnya berpikir demikian. Dan semua terkejut begitu mereka tahu aku ini seorang Warrior. Mungkin karena aku ini bukan keluarga tentara." Jelas Lech.

"Hmm, baru kali ini aku dengar ada orang yang bukan keluarga tentara tapi bakal jadi calon tentara. Memangnya orang tuamu siapa?"

"Ayah dan ibuku pengusaha toko roti dan kue. Tapi kedua orang tuaku meninggal karena sakit dan sekarang kakakku yang meneruskannya." Lech mengeluarkan foto kakak perempuannya sekaligus kakak satu-satunya. Seorang perempuan berambut hitam berponi dan bermata coklat tampak tersenyum sambil memamerkan kue-kue bikinannya. Sedikit banyak Lace tertarik dengan gambar di foto itu. "Dia kakakku. Lechia Kroznan."

"Sudah dulu, ya. Aku masih harus mengantar dua pesanan lagi. Sampai jumpa." Lech langsung cabut tanpa menunggu jawaban Lace.

Markas Bellato, Ruang Administrasi

"Permisi. Pesanan untuk Nona Vinia Mariehamn." Kata Lech setelah diizinkan masuk. Yang dipanggil segera menghampiri. Seorang perempuan Bellato cantik berambut pink berdiri sejajar saling berhadapan.

"Ini pesanan anda, Caters Vinia. Bolu coklat dengan topping keju spesial hanya untuk anda." Ucap Lech.

Caters Vinia menerima sekotak kue bolu pesanannya dengan senyum manis. Dia membuka sedikit kotaknya dan bahagia pesanannya sesuai dengan yang diminta.

"Terima kasih, Lech." Tapi mendadak ekpresinya berubah. "Tapi... ini benar-benar buatanmu 'kan?"

"Tentu. Sama seperti biasanya." Jawab Lech mantap.

Caters Vinia membuka tasnya dan dikeluarkannya sebuah kotak makan. "Ini, Lech. Tadi aku membuat makan siang. Ini juga masakan buatanku, lho. Dihabiskan, ya?"

Lech yang memang belum makan nasi dari siang menerima kotak makan dari Caters Vinia. "Terima kasih, Caters."

"Lech panggil aku Vinia saja. Tidak perlu pakai embel-embel Cater segala. Mengerti?" protes Vinia agak kurang suka dengan formalitas.

"I...iya Cat... maksudku Vinia. Kalau begitu aku pergi dulu masih ada satu pesanan lagi."

"Eh tunggu, Lech" Vinia memberi amplop ke Lech "Nanti jam 7 malam datang ke ruang rapat, ya. Ada meeting dari Tuan Archon."

Lech yang mau pergi sejenak menatap amplop Vinia. Dia mengambil amplop tersebut dan membacanya "Meeting dadakan di ruang rapat? Ada apa ya? Dan lagi aku ini masih siswa di Akademi. Kok aku juga diundang?"

"Kurang tahu juga, sih. Tapi sejak Chip War terakhir kita kalah, Tuan Archon jadi lebih tegas dari sebelumnya. Mungkin dia masih belum terima kita kalah." Jelasnya.

"Yaudah, deh. Kalau gitu aku permisi dulu, ya?" Lech keluar dari ruangan.

"Hati-hati, Lech"

Lech keluar dari ruang administrasi dan lanjut mengantar pesanan terakhir. Sore hari Lech sudah menyelesaikan pekerjaannya dan kini ia bersiap untuk mandi. Selesai mandi Lech beristirahat sejenak sambil merapikan beberapa berkas yang akan dibawa.

Jam setengah tujuh malam Lech berangkat ke markas Bellato. Lech masih belum tahu kira-kira apa yang akan dibahas nanti. Tapi mengingat dirinya yang dapat undangan mungkin hanya rapat tentang regenerasi prajurit.

Ruang Rapat Bellato HQ

"Baiklah karena semua sudah berkumpul, Rapat malam ini resmi saya buka." Ucap Archon Bellato, Maximus George Lyonan, Berserker terkuat generasi sekarang. Sang Archon tampak berdiri sambil memegang beberapa kertas. Disamping kiri dan kanannya duduk 2 orang wakil archon dan beberapa anggota dewan. Dihadapan Archon ribuan prajurit duduk serius mendengar ceramahannya.

"Seperti yang semuanya tahu, bulan lalu secara mengejutkan Tower Chip kita berhasil dihancurkan oleh Cora. Itu merupakan aib terbesar yang kutanggung karena hal itu kita mengalami kekalahan pertama sejak 20 tahun terakhir. Disamping itu kita bangsa Bellato justru pertama kalinya sejak periode yang sama gagal menembus pertahanan Accretia. Padahal selama itu kita selalu sukses menghancurkan mereka. Menurut kalian kenapa itu bisa terjadi? Apa mungkin mereka menyusupkan mata-mata?" Archon George terlihat sedikit kesal dengan kekalahan di Chip War terakhir.

Para peserta rapat terdiam sesaat, lalu salah satu anggota dewan berdiri dan berkata "Maaf menyela untuk waktunya, tuan Archon. Biarkan saya memberikan pendapat saya."

"Silahkan, Maximus If Elfsborg."

"Terima kasih. Menurut pendapatku penyebab kita kesulitan mengalahkan Accretia karena mereka sudah melakukan revolusi besar-besaran. Menurut laporan divisi intel, semua jajaran anggota dewan Accretia sudah dirombak total." Maximus If menyalakan monitor diatas ruang rapat. Terlihat beberapa Accretia yang kemungkinan jajaran dewan militer.

"Seperti yang kita tahu, Accretia sekarang menunjuk Vicenzo Rossi sebagai Archon baru. Menurut divisi intelinjen kita tidak punya satupun data tentangnya. Begitu juga dengan 2 wakil Archon mereka yakni Giacomo Juventini dan Pedro Javier Gomes Sanchez. Mereka juga tidak terkenal sehingga hampir pasti kita tidak punya profil tentangnya. Mungkin yang cukup familiar adalah salah satu dewan supporting mereka, Claudio Cassarelli." Jelas Maximus If.

"Cassarelli? Kurasa itu nama yang familiar." Ucap George sambil mengusap dagunya.

Maximus Karina berdiri dan berkata "Ya. Claudio Cassarelli, tidak lain adalah kloningan dari Giovani Cassarelli, Battle Leader legendaris mereka. Terkenal dengan specialist bergaya seni klasik. Produk ciptaannya semua bangsa mengakui sebagai karya seni yang artistik."

"Kurasa kedepannya mereka akan jadi bertambah kuat. Kita tidak bisa meremehkan mereka. Akan jadi berbahaya jika kita membiarkan Claudio Cassarelli lolos dari target." Tambah Maximus Greed.

"Aku tahu. Memang hal itu sudah aku pikirkan matang-matang. Makanya aku turut mengundang ketua kelas dari semua divisi untuk ikut rapat." George memanggil semua ketua kelas untuk maju kedepan, termasuk si Lech.

"Baiklah aku mulai saja. Apakah sebelumnya kalian tahun kenapa kalian diundang." Tanya Archon George.

"Tidak, Tuan Archon." Jawab semuanya kompak.

"Kalian para ketua kelas adalah harapan dari masa depan bangsa kita. Kelak diantara kalian mungkin akan ada yang menggantikan posisi kami. Untuk itu, penting bagi Ras Bellato melakukan regenerasi agar bangsa kita bisa terus eksis di masa depan. Para ketua kelas, mulai besok kalian akan ditugaskan untuk menjalani misi di wilayah netral."

Ucapan sang Archon terlihat menimbulkan rasa cemas pada mereka. Bagaimana mungkin menugaskan prajurit yang belum lulus akademi untuk memulai misi di wilayah asing? Begitu isi pikiran kebanyakan ketua kelas.

"Disini kalian akan belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin. Untuk itu ajaklah teman atau orang kepercayaan agar memudahkan kalian. Maksimal 8 orang atau satu party dan tidak boleh berkelompok dengan sesama ketua kelas. Datanglah ke ruang administrasi besok jam 8 pagi."

Sesudah rapat, semua mulai membubarkan diri. Hingga ruang itu tersisa Archon dan para dewan yang mungkin sedang berdiskusi.

Keesokkan harinya, 08:00 A.M.

Lech memutuskan mengajak Jansen untuk misi bareng. Semula Lech ingin mengajak Stoner tapi Stoner sedang sibuk dengan tokonya.

"Jadi apa misinya?" tanya Jansen melirik Lech yang sedang membaca dokumen misi.

"Hmm, menurut yang tertulis disini kita disuruh pergi ke Sheba Rowland untuk mengamati reruntuhan bekas ibu kota Cora. Kota Eustia."

"Reruntuhan ibu kota Cora? Aku baru tahu kalau mereka pernah punya ibu kota." Kata Jansen.

Lech memasukkan dokumennya ke tas dan berkata "Aku juga. Itulah kenapa kita ditugaskan kesana. Mencari misteri kira-kira apa penyebab ibukota mereka hancur."

Lech dan Jansen memesan tiket pesawat. Area penerbangan Bellato selain melayani rute ke Ether juga melayani penerbangan jarak menengah ke berbagai tempat. Sementara masih belum memulai rute jarak jauh sampai ke ujung Novus.

Perjalanan ke Sheba Rowland memakan waktu 2 jam dengan pesawat pengangkut. Selain naik pesawat, bisa juga melalu jalur darat dengan jetpack. Hanya saja memakan waktu sekitar 2-3 hari. Secara geografis wilayah Sheba Rowland berbatasan dengan Kapean Mountains di utara, Benignic Ocean di barat, Great East Ocean di timur dan Bud Plateu di selatan. Ada juga area tambang Mehver Mine Zone di dekat Bud Plateu hanya saja tidak diketahui adakah aktivitas tambang disana. Areanya sendiri terdiri dari hutan hujan dan padang rumput.

"Jadi ini Sheba Rowland?" kata Jansen setelah turun dari pesawat. Lech menyusul di belakang Jansen.

"Daerah ini masih sangat asing. Ada kemungkinan banyak monster buas yang mendiami hutan ini." Kata Lech. Pesawat yang ditumpangi Lech dan Jansen kembali lepas landas ke area pendudukan.

Mereka mulai menyusuri area sambil berhati-hati akan serangan monster. Tidak banyak spesies yang dikenal diwilayah ini. Namun ada beberapa jenis Warbeast dan Splinter, hampir sama dengan di Beast Mountain. Hanya saja disini terlihat bekas-bekas peradaban, membuktikan kalau disini dulu pernah ada kehidupan.

"Kalau dilihat-lihat wilayah ini seperti bekas milik mereka. Ada berbagai bangunan bekas peninggalan sebelumnya." Kata Lech. "Betul-betul sebuah ras yang memiliki peradaban yang tinggi."

Sambil melihat sekeliling Jansen berkata "Ya. Wilayah ini bukan lagi berbentuk markas. Tapi lebih mirip bekas kota. Menurut GPS ku ada bangunan-bangunan seperti jembatan, kuil, gelanggang arena dan lain sebagainya."

Mereka sampai di sebuah gerbang kota yang sudah hancur.

"Kayaknya letak reruntuhan berada diatas bukit itu, deh." Ujar Lech sambil menunjuk suatu dataran tinggi. Dan benar saja disana ada banyak bangunan-bangunan yang rusak parah. Ada juga semacam patung-patung setinggi 5 meter. Kebanyakan memang sudah tidak utuh lagi.

"Peradaban ini sudah berusia sekitar ratusan tahun. Kalau dilihat dari kerusakkannya, ini bukan karena perang saudara. Bukan juga karena perang tiga bangsa." Kata Jansen meneliti keadaan sekitar. "Karena menurut sejarah ketiga bangsa dulu sudah ada disini tapi belum satupun diantara mereka yang saling berinteraksi."

Lech melihat sebuah patung wanita besar berpose memegang tongkat dengan tangan kiri menengadah. "Kira-kira siapa ya model patung ini?"

"Menurutku mungkin dewa-dewa kepercayaan bangsa Cora. Atau mungkin juga salah satu orang berpengaruh penting. Yang pasti itu bukan Giz Kadasha." Jawab Jansen.

"Jika bukan karena karena perang saudara atau perang tiga bangsa, kemungkinan ini karena bencana alam."

Jansen menggelengkan kepala dan berkata "Tidak, Lech. Aku tidak melihat adanya retakan di tanah maupun di lantai. Kerusakan yang kulihat kebanyakan seperti dipukul sesuatu. Feelingku mengatakan ini akibat serangan monster."

"Serangan monster, ya? Di alam yang masih terlihat asing ini mungkin perkataanmu benar, Jansen. Sepanjang pengamatanku lingkungan di sekitar sini belum banyak di ekplorasi. Tapi ini pasti bukan serangan satu monster tapi serangan monster secara bergelombang."

"Hmm, tapi sangat menarik kalau kita melihat struktur bangunan disini." Jansen membuka buku sejarah dari inventorinya. " Jika kita membandingkan bentuk bangunan ini dengan markas Cora yang sekarang akan terlihat perbedaan yang cukup mencolok. Maksudku sebagian besar bangunan disini dibuat dari batu-batuan besar semacam marmer misalnya. Sementara markas Cora yang sekarang tidak terlihat seperti ini. Lebih banyak pilar-pilar tingginya."

"Sepertinya dulu disini adalah pusat pemerintahan sekaligus perekonomian bangsa Cora. Ada banyak bekas kios-kios disini. Selain itu ada juga altar peribadatan. Pasti waktu itu mereka sedang makmur." Kata Lech.

Mereka berdua melanjutkan penulusuran lebih jauh lagi. Kali ini menuju ke tempat kantor pemerintahan. "Lech, dari banyak tempat yang kita lihat Cuma disini saja yang kondisinya masih terbilang bagus. Kenapa ya?"

Lech hanya mengangkat pundak tanda tidak tahu. Tidak ada satupun hal menarik yang bisa diteliti disini. Maka mereka pun keluar. Tapi baru saja mereka tiba di alun-alun kota, Lech melihat ada orang di kejauhan.

"Hmm, kenapa Lech? Mukamu kok kaget begitu." Tanya Jansen melihat ada yang tidak beres dengan Lech.

"Ada... sesuatu di sana. Tadi aku yakin sekali ada dua orang yang lewat ke arah bangunan yang seperti gedung itu." Jawab Lech menujuk ke bangunan yang berada di utara. Tepatnya dekat perbukitan.

"Masa, sih? Apa ada orang lain selain kita?"

"Sebaiknya kita coba kesana saja." Kata Lech.

Setelah itu mereka mendatangi bangunan besar tersebut. Dari luar tidak ada siapapun tapi ada bekas debu yang seperti habis disentuh di dinding terdekat.

"Benar dugaanku. Memang ada orang lain disini. Tapi kira-kira siapa menreka dan apa yang dicari didalam?" gumam Lech.

Sementara Jansen sedang melihat-lihat struktur bangunan. Ia lalu memanggil Lech dan menunjukkan sebuah prasasti tentang bangunan yang ternyata adalah makam.

"Siapa yang dikubur disini?" tanya Lech.

"Disini tertulis tempat ini adalah Makam Carolina. Disebutkan beliau adalah ibu dari pemimpin bangsa Cora disini bernama William Ben Caroll. Mulanya tempat ini dibangun sebagai museum umum untuk memamerkan koleksi pribadi ibu Carolina. Tetapi ketika bangunan ini hampir selesai, beliau meninggal dunia. Akhirnya setelah dilakukan perundingan, sang raja pun memutuskan mengubah bangunan ini menjadi tempat peristirahatan terakhir ibunya." Kata Jansen sambil menerjemahkan tulisan bahasa Cora.

"Lalu apa hubungannya dengan kedua orang tadi?"

"Mending kita cari tahu saja." Jansen dan Lech memasuki bangunan yang sejak awal memang tidak memiliki pintu.

Diluar perkiraan ternyata didalamnya seperti labirin. Ada banyak belokan yang tidak diketahui mengarah kemana. Agar tidak tersesat , mereka membuat goresan di dinding. Sementara mereka menyusuri lorong makam tanpa adanya lampu. Hanya mengandalkan senter kecil saja.

"Semakin kedalam semakin gelap. Apa tidak sia-sia membuat bangunan sebesar ini Cuma buat mengubur mayat?" ujar Lech.

"Kan tadi sudah kujelaskan awalnya ini dibangun untuk dibuat museum." Kata Jansen.

Lama berjalan mereka sampai di ruangan berukuran 4x4 meter. Disebelah kiri ada lorong ke ruangan lain entah mengarah kemana.

"Istirahat dulu, Jansen. Kakiku sudah tidak kuat." Ucap Lech sambil duduk bersilah.

"Oke." Jawab Jansen. Sambil istirahat mereka pun makan diselingi dengan obrolan-obrolan kecil. Disaat mereka asik bersenda gurau, hal aneh mengagetkan mereka.

Hehehehe

"Lech. Kau dengar barusan?" Tanya Jansen refleks berdiri.

"Ya. Tidak salah lagi tadi itu suara orang tertawa. Tepatnya tawa laki-laki." Lech mengeluarkan Intense Katana miliknya.

Tap Tap Tap

Terdengar suara langkah kaki. Semakin lama suaranya semakin dekat dan arahnya dari lorong sebelah kiri. Namun tidak terlihat sosok sedikitpun. Bulu kuduk Lech dan Jansen semakin berdiri. Ketakutan jelas terlihat di wajah mereka.

"Oy gimana, nih?" Lech gemetaran akan bahaya mengancam.

"Lari, Lech. Lari!"

Lech dan Jansen berlari menuju pintu keluar. Samar-samar Lech merasa pemilik langkah kaki tadi mengejar mereka. Tapi saat menengok tetap tidak terlihat. Mereka pun berhasil keluar.

"BERSIAP, JANSEN! Bersiap untuk kemungkinan terburuk!"

Jansen mengeluarkan pistol miliknya Intense Rail Gun. Dan mengarahkannya ke pintu masuk. Tak lama dari arah pintu terlihat jelas siapa pelaku yang mengejar Lech dan Jansen. Dua orang laki-laki Cora dengan tatapan dingin. Yang kanan memiliki ciri-ciri berambut merah dengan memakai armor merah ditambah sebuah pisau di pinggangnya. Satu lagi berambut hitam dengan armor hitam plus dua buah senjata perak tapi tidak jelas senjata tipe apa yang dipakainya. Dia juga memakai topeng sebatas atas hidung.

"Tidak kusangka ada mata-mata yang berani datang kemari." Kata si armor hitam.

Lech dan Jansen kaget mendengarnya.' Bagaimana bisa bangsa Cora berbicara bahasa Bellato? Siapa mereka sebenarnya?' batin Lech.

"Kalian? Kenapa Cora seperti kalian bisa bahasa kami?" Jansen menodong pistol mengarah si armor hitam.

"Kalian berdua ada urusan apa datang kesini? Tempat ini bukan wilayah kalian, bukan pula jangkauan kalian. Lebih baik kalian pulang sebelum menyesal!" balas si armor merah. Jika dilihat bisa dipastikan kedua Cora itu prajurit profesional.

"Kami sedang menjalankan misi disini. Kami hanya sebatas melakukan penelitian saja." Lech mulai muncul rasa beraninya. "Lagipula wilayah ini sudah bukan lagi wilayah Cora. Jangan mentang-mentang kalian, bangsa Cora, menang war kalian menjadi sombong! Walaupun kami pemula tapi kami tidak takut melawan kalian."

Mendengar ucapan Lech, si armor hitam tersenyum. Ia melepaskan topengnya dan memeletek jari-jari tangannya. "Boleh juga ucapanmu, kurcaci!"

"SIAPA YANG KAU PANGGIL KURCACI, BANGSAT!" Jansen mulai emosi. Tidak sabar rasanya dia ingin melubangi kedua matanya.

"Hei, Bellato. Kau tahu, kau sudah ngomong dengan orang yang salah. Dua hari yang aku sudah memenggal 3 kepala hanya gara-gara ngomong doang. Nih, lihat." Si armor hitam melempar tiga buah kepala yang masih bercucuran darah didepan Lech dan Jansen.

Melihat objek menjijikan tersebut membuat mereka merasa shock. Apalagi ketiga kepala itu milik bangsa mereka sendiri, bangsa Cora. Lech pun geram.

"Kau, padahal dia bangsamu sendiri tapi dengan kejamnya kau menghabisi dia. Apa ini namanya sifat bangsa yang ngakunya paling suci!?"

"Lho memang sejak kapan kami mengatakan kalau kami ini Cora? Kalian salah sangka, bro!" si armor merah menjawab dengan ketus. "Orca, bagaimana kalau kita habisi saja, kedua kurcaci ini?" si armor merah melirik temannya si armor hitam bernama Orca.

"Sabar dulu, Doyhen. Jangan terburu-buru." Orca maju selangkah menatap Lech. "Woy, Bellato. Gimana kalau kita taruhan. Yang menang mengambil nyawa yang kalah. Jika kau menang maka contribution point kuberikan untukmu, ditambah semua koleksiku akan jadi milikmu. Tapi jika kalian kalah, kepala kalian akan jadi milikku. Gimana?"

Tampak aura membunuh menyelimuti tubuh Orca. Pikiran Lech dan Jansen menjadi tidak tenang seolah mereka seperti berhadapan dengan mesin pembunuh. Mau lari rasanya tidak mungkin.

"Kenapa? Kalian gak kuat? Kalian takut? Mana mulut besarmu? Dasar jaman sekarang prajurit pemula sudah ketakutan. Omongannya saja yang besar tapi mentalnya kerupuk." Ejek Orca memprovokasi Lech.

"Kalian diam aku anggap kalian setuju. Kini bersiaplah melihat malaikat pencabut nyawa!" Orca menarik kedua senjata dari pinggangnya. Sepasang senjata unik yang pernah dilihat sebelumnya, seperti alat pencabik daging. Sementara Doyhen mencabut pisau belatinya.

"Senjata itu? Tidak mungkin!" Shock Jansen melihat senjata Orca

"Ada apa?" tanya Lech.

"Itu senjata yang mematikan. Aku belum pernah melihatnya langsung tapi ada didalam literatur kuno. Senjata itu bernama Katar. Kita dalam bahaya Lech!"

Orca dan Doyhen menerjang ke arah Lech dan Jansen. Kecepatan mereka sungguh luar biasa hingga hampir tidak mungkin untuk bisa lolos darinya.

"Dark Angel Strike!"

.

.

.

To Be Continued.

"Kalian para ketua kelas adalah harapan dari masa depan bangsa kita. Kelak diantara kalian mungkin akan ada yang menggantikan posisi kami. Untuk itu, penting bagi Ras Bellato melakukan regenerasi agar bangsa kita bisa terus eksis di masa depan. Para ketua kelas, mulai besok kalian akan ditugaskan untuk menjalani misi di wilayah netral." George Lyonan.

A/N: Halo, semunya. Bertemu lagi dengan saya di fanfic Under Attack. Akhirnya setelah setahun vakum saya berhasil selesaikan chapter 7. Spesial di chapter ini saya menampilkan char Bellato bikinan author Slask. Saya tidak mau kalah sama author lain, saya juga punya karakter Bellato. Disini ada scene dari fanfic milik author Legs Hunter dan sudah mendapatkan izin dari senior Legs. Di debutnya ini Lech sudah harus berhadapan lawan bangsa Cora yang sudah bukan Cora lagi. Sedikit informasi kalau lawannya Lech ini bukan golongan Turncoat tapi bangsa yang sudah berdiri sendiri meskipun secara fisik mereka sangat mirip. Lokasinya dipastikan jauh. Mereka sudah debut di chapter 6 (tentang Yuhzno, cs). Oke bro sekian curhatan dari saya dan mohon maaf kalau selama ini nungguin updetan dari saya. Terima kasih.

Regard's

Leczna Szczecin