Baekhyun masih menatap khawatir Chanyeol yang tak sadarkan diri di atas ranjang. Mereka sedang berada di UKS sekolah. Baru sekarang ini Baekhyun melihat Chanyeol tak sadarkan diri dengan perban melingkar di kepalanya dan itu gara-gara Baekhyun. Baekhyun hanya bisa mengepalkan kedua tangannya mengingat hal itu.
Seandainya saja ia mau mendengarkan Chanyeol saat itu.
Seandainya saja ia bisa menahan emosinya saat itu.
Hanya seandainya.
Ini semua pasti tidak akan pernah terjadi.
Lee seonsaengnim yang menatap raut khawatir di wajah Sang Queen Bee, jadi ikut iba karenanya. Dihampirinya Baekhyun, kemudian menepuk bahunya pelan, membuat Baekhyun menoleh pada wanita itu. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Baekhyun-ah. Tidak ada yang serius dari lukanya. Chanyeol akan segera sadar. Kau bisa kembali ke kelas sekarang."
"Tidak." jawab Baekhyun cepat. "Aku akan tinggal disini."
Melihat muridnya yang keras kepala ini, Lee Seonsaengnim hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya. "Baiklah. Aku akan segera kembali. Tidak apa'kan kalau kutinggal?" Baekhyun hanya mengangguk menjawabnya tanpa mengalihkan matanya dari Chanyeol.
Begitu Lee Seonsaengnim pergi, suasana di dalam UKS itu kembali hening –hanya terdengar suara detik jarum jam di ruangan berbau obat itu. Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya erat. Baekhyun mengelus pelan jemari Chanyeol yang besar nan hangat itu. Matanya tak pernah lepas dari wajah tampan Chanyeol. Pandangan Baekhyun begitu sulit diartikan saat ini. Matanya seolah mempertanyakan banyak hal dan semuanya ditujukan untuk Chanyeol. Sesaat setelahnya, Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada ponselnya –pada sebuah pesan tepatnya. Baekhyun menggigit bibir bawahnya kuat membaca pesan itu. Genggaman tangan pada ponselnyapun semakin mengerat. Dialihkannya kembali perhatiannya pada Chanyeol yang masih menutup matanya. Matanya kini berubah sendu.
Di sudut lain, terlihat dengan jelas pesan singkat yang Baekhyun dapatkan saat jam istirahat tadi. Sebuah pesan singkat yang melampirkan sebuah foto –foto Chanyeol.
From: 010 – 1817 – xxx
Aku akan membuat hidupnya menderita kalau kau tidak menurutiku. Waktumu sampai tanggal 25 Desember.
Perlahan, Baekhyun menundukkan kepalanya di atas pagutan tangannya dengan tangan Chanyeol seraya menutup matanya yang terasa perih.
"Seharusnya kau tidak datang dalam kehidupanku, Yeol.."
Baekhyun menitikkan airmatanya.
.
.
.
###
THE QUEEN BEE
Chapter 6 – The Head Guy of SM High School
by Pupuputri
Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Support Casts : Wu Kris, Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Jongdae, Kim Jongin, Huang Zitao, Kim Joonmyeon
Genre : Romance, School Life, Comedy
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Note: Ini mungkin chapter paling tidak bersahabat antara BaekYeol. Dan ada kemunculan cast baru disini. Untuk yang minta rivalnya seme, saya kabulkan permintaan kalian. Jadi, silakan dibaca aja and enjoy~
###
.
.
.
Chanyeol membuka matanya perlahan saat ia merasakan lelehan bening nan hangat itu membasahi punggung tangannya. Matanya masih kabur saat ia membukanya. Begitu penglihatannya mulai jelas, hal pertama yang Chanyeol lihat adalah atap berwarna putih dengan samar-samar bau obat yang menyengat di seluruh ruangan. Chanyeol menebak dirinya ada di UKS sekolah. Dia merasa seseorang menggenggam tangannya erat –tak lupa dengan lelehan bening nan hangat itu. Perlahan, Chanyeol menoleh ke samping ranjangnya dan menemukan Baekhyun sedang menundukkan wajahnya di atas pagutan tangan mereka.
"Baek?" panggil Chanyeol, membuat laki-laki pendek di sebelahnya mendongak. Baekhyun nampak terkejut dengan suara itu, terlebih lagi saat melihat Chanyeol tengah menatapnya sendu.
"C–Chanyeol-ah? Kau sudah sadar?" tanya Baekhyun seraya memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak. Tapi Chanyeol tidak menjawabnya. Laki-laki tinggi itu malah mengulurkan tangannya menuju pipi Baekhyun yang agak basah, kemudian mengusap lelehan bening milik Baekhyun.
"Kenapa kau menangis?" tanya Chanyeol dengan suara lirih yang agak serak.
Baekhyun segera menundukkan wajahnya yang merah sambil mengusap sisa airmatanya. "B–bodoh, ini semua gara-gara kau. Apa kau tidak tahu aku begitu takut saat melihatmu pingsan tadi?"
Chanyeol merasa terenyuh mendengarnya. Dia senang sekaligus merasa bersalah. Senang karena Baekhyun mengkhawatirkannya dan bersalah karena sudah membuat Baekhyun khawatir. Meskipun begitu, itu menghasilkan perasaan hangat dalam dada Chanyeol.
Chanyeol tersenyum simpul. "Maaf."
"Kenapa kau malah melindungiku, bodoh?" Intonasi Baekhyun terdengar kesal disana.
"Refleks." sahut Chanyeol. "Ditambah, kau tidak menunduk saat itu."
"Kenapa kau tidak biarkan saja aku terkena bola itu?" Baekhyun masih bertanya dengan nada kesal.
"Kau sahabatku, mana mungkin aku membiarkan hal itu terjadi."
Hening.
Chanyeol tidak tahu bahwa jantung Baekhyun sudah berdentum keras saat ini. Baekhyun sendiri tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Entah itu senang, sedih, kecewa, marah, khawatir, atau kesal. Tapi yang pasti Baekhyun tidak menyukainya. Entah kenapa, Chanyeol bersikap baik padanya itu pertanda buruk dan itu membuatnya takut.
"Apa kau melakukannya karena merasa bersalah padaku?" tanya Baekhyun lirih.
Hening kembali.
Chanyeol masih menatap Baekhyun yang masih menunduk –menatap pagutan tangan mereka.
"Setengahnya, ya."
Entahlah. Baekhyun tidak tahu apakah dia harus senang atau kecewa karena jawaban Chanyeol. Yang bisa ia lakukan hanyalah menggenggam kuat tangan Chanyeol yang besar –melampiaskan entah-apa-itu.
"Tapi meskipun aku tidak merasa bersalah, aku akan tetap melakukannya."
Satu kalimat itu berhasil membuat Sang Queen Bee menatap si pemilik suara bass itu. Baekhyun menatap manik Chanyeol seolah mencari kebohongan di antaranya meski sedikit, tapi ia tidak bisa. Chanyeol tidak pandai berbohong dan saat ia berbohong, Baekhyun pasti akan segera mengetahuinya. Tapi Chanyeol tidak melakukannya saat ini. Ia tulus mengatakan hal itu, membuat Baekhyun kembali merasakan debaran jantungnya menggila.
"Aku sungguh minta maaf atas apa yang telah kulakukan, Baek. Aku tahu seharusnya aku tidak melakukannya." ucap Chanyeol –memecahkan keheningan di antara mereka. "Aku memang keterlaluan, aku akui itu. Aku sendiri tidak mengerti. Mungkin karena aku ingin mengenalmu lebih baik lagi? Kau tahu kita tak bertemu semenjak aku pindah ke Busan dan kau pasti tak'kan percaya betapa bahagianya aku saat kita bertemu lagi," Chanyeol menjeda kalimatnya seraya mengusap pelan tangan Baekhyun dengan jemarinya, "Aku senang sekali bisa bertemu kembali dengan sahabatku. Aku tidak peduli apakah kau gay atau straight atau apapun itu, kau akan selalu menjadi sahabatku. Karena kau adalah sahabatku yang berharga, aku akan menerimamu apa adanya."
Baekhyun merasa matanya perih dan mendadak ludahnya sulit ia telan. Yang bisa laki-laki pendek itu lakukan hanya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah sambil merutuk laki-laki jangkung itu karena telah menjadi orang yang terlalu baik bagi orang seegois dirinya.
"Maukah kau memaafkanku, Baek?" tanya Chanyeol kembali dengan nada memelas.
Hening disana.
Sejenak, Chanyeol merasa kesulitan mengambil napas –karena entah kenapa udara di sekelilingnya serasa menghilang– karena Baekhyun tak kunjung menjawabnya. Baekhyun terus menunduk sambil meremas pagutan tangan mereka. Chanyeol hanya bisa melihat Baekhyun menggigit bibir bawahnya kuat. Entah apa artinya. Chanyeol hanya bisa harap-harap-cemas sekarang ini.
"Jangan lakukan itu lagi, arasseo?" Baekhyun memecahkan keheningan yang ada dengan suaranya. Dan detik itu juga, Chanyeol mulai bisa merasakan udara di sekelilingnya lagi dan bisa bernapas dengan normal. Bibirnya ditarik sehingga membentuk sebuah senyuman yang cukup lebar.
Baekhyun memaafkannya.
Chanyeol tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya ia sekarang ini. Tapi yang jelas, ia sangat bersyukur Baekhyun memaafkannya tanpa melakukan hal yang mungkin bisa membuatnya tak bisa bernapas normal ataupun terpuruk dalam rasa bersalah.
"Terima ka–"
"Tapi jangan dekati aku lagi."
Senyuman Chanyeol memudar setelah kalimat itu terucap dari bibir tipis Baekhyun. Untuk sedetik, Chanyeol merasa pendengarannya mulai rusak. Laki-laki itu mengerjap dua kali dengan tatapan bingungnya yang ia tujukan pada laki-laki yang lebih pendek. "Apa?"
Baekhyun bersusah payah menelan ludahnya. Ia bahkan merasa suaranya menolak untuk keluar saat ini. Ditariknya napas dan dihembuskan perlahan oleh Baekhyun. "Aku ingin kau tidak mendekatiku lagi." tandas Baekhyun.
Dan sekarang Chanyeol merasa pendengarannya masih baik-baik saja karena tidak mungkin ia mendengar hal yang sama dua kali dari orang yang sama pula setelah menyangka pendengarannya rusak. Kini laki-laki tinggi itu menatap Baekhyun dengan alis bertautan. Tatapannya menggambarkan banyak pertayaan atas kalimat Baekhyun barusan.
"Ap–kenapa?' tanya Chanyeol setengah tak percaya dengan pendengarannya.
Baekhyun menggigit bibir bawah sejenak sebelum akhirnya ia menghembuskan napas panjang. Laki-laki pendek itu menatap Chanyeol dengan pandangan yang tak bisa Chanyeol artikan. "Ada beberapa hal yang tak bisa kukatakan padamu meski kita bersahabat, Chanyeol-ah." ucap Baekhyun. "Percayalah aku memintanya untuk sebuah alasan yang benar. Kita bersahabat'kan?" Chanyeol hanya bisa mengangguk pelan meskipun ia masih bingung. "Kalau begitu, jangan pernah mendekatiku lagi."
Baekhyun melepaskan pagutan tangan mereka seraya berdiri. Chanyeol berusaha bangkit dari posisi berbaringnya meski itu menghasilkan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya. Sementara Baekhyun hanya bisa mengepalkan tangannya kuat karena ia harus menahan dirinya untuk tidak membantu Chanyeol. Ia ingin sekali membantu sahabatnya saat ini, tapi jika Baekhyun melakukannya, itu hanya akan membuat pertahanannya runtuh.
Dia harus menahannya. Harus.
Apapun yang terjadi, dinding yang ia ciptakan antara Chanyeol dan dirinya saat ini tidak boleh runtuh sekarang. Baekhyun harus bisa menahan dirinya untuk sementara.
Ya. Hanya untuk sementara.
"Baek–"
Baekhyun berjalan keluar dari UKS, meninggalkan Chanyeol yang hendak memanggilnya. Chanyeol hanya bisa mematung menatap punggung Baekhyun yang menghilang di balik pintu. Mulutnya sedikit terbuka saking speechless-nya, sedangkan kedua matanya bergerak gelisah mencari jawaban atas tingkah Baekhyun barusan.
Ia tidak mengerti. Sungguh.
Kenapa Chanyeol harus menjauhi sahabatnya sendiri? Dan yang lebih penting, apa alasan di balik permintaan sahabatnya itu? Adakah suatu atau beberapa hal yang tidak ia ketahui mengenai sahabatnya? Apakah sahabatnya itu memiliki masalah atau semacamnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Chanyeol sampai ia merasakan rasa sakit di kepalanya kembali karena terlalu keras berpikir. Chanyeol pikir ia harus melakukan sesuatu. Dia harus tahu apa yang disembunyikan Baekhyun darinya dan membantunya jika ia bisa. Alasan di balik permintaan aneh Baekhyun, Chanyeol harus mengetahuinya.
###
Jongdae dan Jongin menghentikan langkah mereka saat melihat seorang laki-laki berperawakan tinggi berdiri di depan kelas mereka. Itu Chanyeol. Dia berdiri menghadap Jongin dan Jongdae saat orang yang ia tunggu akhirnya datang. Dilipatnya kedua tangannya di dada seraya menatap duo Kim Jong itu.
"Aku ingin tahu beberapa hal tentang 'Queen Bee'." ucap Chanyeol tanpa basa-basi, membuat duo Kim Jong itu mengerutkan dahinya bersamaan.
"Maaf, apa?" tanya Jongdae seraya mengorek telinganya –memastikan yang didengarnya adalah nyata.
"Apa yang kalian ketahui tentang Baekhyun si 'Queen Bee'?" Chanyeol mengulang pertanyaannya.
"Apa itu pertanyaan jebakan?" tanya Jongin curiga.
Chanyeol memutar bola matanya bosan. "Dengar, aku tidak punya waktu banyak. Kalau kalian tidak mau memberitahuku, aku akan cari orang lain yang lebih mengenal 'Queen Bee'."
"Yak, kau meragukan kesetiaan kami sebagai penggemar Queen Bee? Jangan sembarangan ya!" Jongin protes.
Chanyeol menyeringai mendengarnya. Duo Kim Jong ini sudah masuk ke dalam perangkapnya. "Jadi, apa yang kalian tahu mengenai 'Queen Bee'? Apa dia memiliki musuh disini?"
"Well, kalau kau bertanya dia memiliki musuh atau tidak, makanya jawabannya sudah pasti ya." Jongdae menjawab mantap.
"Tidak hanya di sekolah ini saja, bahkan di luar sekolah." Jongin menambahi. "Kau ingat Wu Kris dari SM High School? Dia bahkan sampai mengancam Queen Bee segala."
Chanyeol mengernyit mendengar ucapan Jongin barusan. "Wu Kris? Siapa itu?"
"Dia ketua OSIS di SM High School. Dulunya dia menyukai Queen Bee, tapi setelah ia ditolak, laki-laki itu malah beralih memusuhinya." tutur Jongin.
"Benar. Wu Kris bahkan bersumpah akan menemukan titik kelemahan Queen Bee dan akan menggunakannya sebagai ujung tombak untuk menjadikannya kekasihnya. Benar-benar orang yang mengerikan." Jongdae bergidik ngeri karena penuturannya sendiri.
Titik kelemahan? –batin Chanyeol.
"Kalian tahu titik kelemahan 'Queen Bee'?" tanya Chanyeol lebih lanjut.
"Tentu saja tidak. Tidak ada yang tahu sebenarnya. Karena itu, semenjak kau pindah kesini, banyak orang yang ingin tahu tentang hubungan kalian dan bahkan sampai ingin mengorek semua rahasia yang kau ketahui mengenai Queen Bee. Kau saja yang tidak peka." terang Jongdae.
"Aku? Kenapa aku?" Chanyeol bertanya dengan nada penuh kebingungan.
"Aish, kau ini benar-benar lemot ya? Tentu saja karena hanya kau satu-satunya murid disini yang memanggilnya 'Baek' dan Queen Bee sepertinya tidak ambil pusing karena itu adalah kau. Sudah pasti orang-orang curiga pada kalian." cibir Jongin setengah iri. "Well, sebenarnya Wu Kris juga berani memanggilnya 'Baek', tapi sepertinya Queen Bee tidak menyukainya."
Chanyeol memutar otaknya cepat. Well, ini semua pasti ada hubungannya dengan Wu Kris. Semua pertanyaan dalam benaknya pasti berhubungan dengan ketua OSIS SM High School itu.
"Dimana alamat SM High School?"
###
Suasana kelas 2-A menjadi riuh saat Joonmyeon –ketua kelas 2-A– menuliskan sesuatu di papan tulis dengan huruf kapital.
SECOND YEAR STUDENTS' WINTER BREAK EVENT
Begitu si ketua kelas selesai menulis, dibalikkannya badannya menghadap teman-teman sekelasnya. "Seperti biasa, sebelum liburan musim dingin dimulai, anak-anak kelas 2 akan membuat event dan tahun ini adalah giliran angkatan kita. Kemarin, aku menghadiri rapat bersama anggota OSIS dan ketua kelas dari kelas 2 lainnya untuk membicarakannya. Setiap kelas 2 harus membuat event yang berbeda. Karena itu, kita tentukan event kelas kita hari ini, jadi aku bisa laporkan segera pada anggota OSIS agar kelas kita tidak memiliki event yang sama dengan kelas lain." tuturnya. "Aku mengajukan untuk membuat rumah hantu, apa ada yang punya ide lain?"
"Rumah hantu sepertinya bagus. Aku setuju." Sehun memberikan pendapatnya.
"Aku juga setuju. Lagipula, kelas kita belum pernah membuat rumah hantu sebelumnya." Siswa lain menimpali dan disambut anggukan setuju dari yang lain.
Perhatian Joonmyeon teralihkan pada Baekhyun yang hanya diam tidak menanggapi. "Bagaimana menurutmu, Queen Bee?"
"Hah?" Baekhyun tersentak karena merasa dipanggil. Dia baru sadar bahwa sekarang ini ia tengah ditatapi oleh penghuni kelas 2-A. Melihat tatapan penuh harap dari teman-teman sekelasnya, Baekhyun jadi tidak bisa menolak. "B–baiklah, aku juga setuju." ucapnya ragu.
"Baiklah, jadi sudah diputuskan kelas kita akan membuat rumah hantu. Oh ya, akan ada pesta kembang api di puncak acara nanti. Jadi, kuharap kalian benar-benar tinggal di sekolah sampai acara ini selesai." Joonmyeon menambahi. "Oke, sebelum pulang, kita bagi-bagi kepanitiaannya dulu."
Di saat penghuni kelas 2-A tengah disibukkan dengan kegembiraan dan berbagai pemikiran untuk event kelas mereka, Baekhyun hanya terdiam di tempat duduknya. Tapi satu hal yang pasti, laki-laki pendek itu tidak hanya sedang diam menatap teman-temannya. Pikirannya sedang kalut dengan ide rumah hantu ini. Tepat setelah dia menyetujui ide rumah hantu itu, mendadak ia menyesalinya dalam hati. Baekhyun tidak suka dengan ide rumah hantu itu, tapi teman-temannya begitu bersemangat dengan ide ini dan itu membuat Baekhyun tidak tega menolaknya –terutama saat hanya dia yang menolak ide itu. Jadi, Baekhyun hanya bisa menelan ludahnya kasar sambil mengepalkan kedua tangannya kuat. Namun meski seluruh penghuni kelas 2-A tidak menyadari perubahan raut muka Baekhyun saat ini, tapi tidak dengan Chanyeol. Chanyeol menyadarinya, bahkan sebelum Joonmyeon menanyakan pendapatnya tadi. Chanyeol tahu Baekhyun tidak suka ide rumah hantu itu, tapi Chanyeol tidak bisa melakukan apapun karena meskipun ia menolak ide itu demi Baekhyun, dia tidak akan menang pemungutan suara dari teman-temannya. Jadi, yang bisa Chanyeol lakukan hanyalah menghela napas panjang.
###
Langkah Chanyeol berhenti tepat di depan gerbang sekolah putra SM High School. Para siswa yang berjalan keluar melewati gerbang menatap bingung pemuda tinggi dengan seragam yang berbeda itu, ada yang berbisik-bisik dan adapula yang hanya menatapnya dengan pandangan menyelidik. Tapi itu tidak mempengaruhi Chanyeol sama sekali. Laki-laki tinggi berkacamata itu melipat kedua tangannya seraya menatap bangunan besar di hadapannya. Hari ini, dia akan menemui Wu Kris –ketua OSIS SM High School.
Sementara itu, di sebuah ruangan di gedung utama SM High School, seorang laki-laki dengan tinggi yang menyamai –sedikit lebih tinggi sebenarnya– Chanyeol, nampak sibuk dengan laptop di hadapannya. Jemarinya yang panjang itu menari-nari di atas keyboard dan matanya yang tajam tak pernah lepas dari layar datar itu. Konsentrasinya terpaku seluruhnya pada hal yang sedang dikerjakannya sampai akhirnya ketukan di pintu ruangannya membuatnya berhenti sejenak. Diliriknya pintu di hadapannya itu sekilas, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. "Masuk."
Seorang laki-laki dengan lingkaran hitam di bawah matanya muncul di ambang pintu. "Ada mencarimu, Hyung." ucap laki-laki dengan papan nama 'Huang Zitao'.
"Siapa? Aku sedang sibuk. Suruh kembali lagi nanti saja." sahut Kris tanpa menatap wakil ketua OSIS SM High School itu.
"Dia Park Chanyeol. Dia dari EXO International High School."
Mendengar nama 'Park Chanyeol', Kris menghentikan gerakannya di atas keyboard itu. Kini mata tajamnya dialihkan pada Tao. "Siapa?" tanyanya tak yakin.
"Park Chanyeol. Dia memaksa ingin bertemu denganmu. Apa aku harus mengusirnya?"
"Tidak usah." jawab Kris cepat. Seringaiannya kini terpatri di bibirnya. "Biarkan dia masuk."
"Baik." Tao-pun pamit dari ruangan itu dan kembali pada tamu tak diundang yang sedang menunggu di luar ruangan OSIS.
Tak butuh waktu lama sampai akhirnya pintu itu kembali dibuka dan menampakkan seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan kacamata bertengger di matanya. Itu Chanyeol. Saat mata Kris bertemu dengan mata Chanyeol, senyuman tergambar jelas di bibirnya. "Selamat datang di SM High School, Park Chanyeol-ssi." sapa Kris ramah seraya berdiri dari duduknya. "Ada keperluan apa kau datang kemari?"
"Aku tidak akan berbasa-basi." ucap Chanyeol memulai dengan suara beratnya. "Aku datang bukan untuk urusan sekolah. Aku ingin kau menjauhi Byun Baekhyun."
"Byun Baekhyun?" tanya Kris dengan alis bertautan. "Ah~ Sang Queen Bee?"
"Benar, Byun Baekhyun si Queen Bee. Aku ingin kau menjauhinya mulai sekarang."
"Dan kenapa aku harus melakukannya?"
"Kudengar kau ditolak oleh Baekhyun dan berniat mengancamnya dengan menggunakan kelemahannya untuk mendapatkannya, benar? Kusarakankan kau untuk menyerah saja karena Baekhyun tidak memiliki kelemahan apapun." tandas Chanyeol. Kris sempat tertegun karena ucapan Chanyeol itu, namun detik berikutnya, ia terkekeh pelan, membuat Chanyeol mengernyit bingung. "Apa ada yang lucu?" tanya Chanyeol agak kesal.
"Astaga, jadi ini soal rumor itu lagi?" Kerutan di dahi Chanyeol semakin dalam karena ucapan Kris. "Kau mendengar itu dari mana, hah?"
"Dari beberapa siswa di sekolahku. Mereka mengatakan hal yang sama bahwa kau–"
"Itu sama sekali tidak benar, Chanyeol-ssi."
Chanyeol mengernyit. "Apa?"
"Well, aku memang pernah berkata seperti itu, tapi aku sudah melupakannya. Lagipula itu sudah cukup lama, sekitar enam bulan yang lalu kurasa? Dan aku sudah tidak memikirkannya lagi."
"Sungguh?" Chanyeol masih terdengar ragu.
"Ya, lagipula aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi untuk Queen Bee, jadi untuk apa aku mengancamnya segala demi mendapatkannya?"
Chanyeol mulai bingung sekarang. Niatnya ingin berdebat dengan ketua OSIS ini demi membela Baekhyun, tapi jawaban tak terduga malah keluar dari mulut orangnya langsung. Sekarang justru pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan di otaknya. Jadi, kenapa Baekhyun begitu bersikeras ingin dia menjauhinya? Apa karena hal lain dan bukan karena Kris? Apa jangan-jangan Baekhyun membencinya?
"Kau benar-benar percaya rumor itu?" Suara Kris membangunkan Chanyeol dari lamunannya.
"Uh, itu–kupikir kau..," Chanyeol terbata. Matanya nampak bergerak gelisah memikirkan jawaban dalam kepalanya juga jawaban untuk Kris. "Maafkan aku. Kupikir kau–"
Kris tersenyum. "Tidak apa, Chanyeol-ssi. Aku sudah biasa. Orang-orang yang melihat penampilanku dari luar terkadang suka salah menilai dan malah berujung membuat rumor aneh."
Chanyeol tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Begitukah? Sepertinya aku salah paham terhadapmu. Maafkan aku, Kris-ssi." ucapnya seraya membungkuk.
"Tidak apa, sungguh. Ini bukan yang pertama kalinya. Yang penting, kau sudah tidak salah paham lagi." tutur Kris bijak.
"Benarkah?" tanya Chanyeol dengan mata berbinar.
Kris mengangguk menjawabnya. "Oh ya, ngomong-ngomong, kau siapanya Queen Bee? Tidak banyak siswa yang berani memanggilnya dengan namanya."
"Ah, aku temannya sejak kecil dan baru-baru ini pindah ke EXO International High School."
"Teman sejak kecil? Menarik sekali." respon Kris seraya manggut-manggut paham.
"Sekali lagi, aku minta maaf karena telah salah paham terhadapmu, juga mengganggu pekerjaanmu." Sekali lagi Chanyeol membungkuk minta maaf.
"Sudah kubilang tidak apa-apa. Kau boleh berkunjung kemari lagi kalau kau mau," Kris mendekati Chanyeol, kemudian mengulurkan tangannya di hadapan Chanyeol, "Sebagai teman."
Chanyeol memandangi uluran tangan Kris dan si pemilik tangan itu bergantian. Wajah Kris nampak bersahabat di mata Chanyeol dan itu menyebabkan keraguan dari diri Chanyeol musnah begitu saja. "Baiklah, kalau begitu." Chanyeol menjabat tangan Kris seraya mengembangkan senyuman ramahnya. "Sebagai teman."
Dengan begitu, Chanyeol-pun pergi dari sana dengan hati yang ringan. Hatinya begitu gembira sampai laki-laki tinggi itu sesekali melompat-lompat di sela langkahnya saat melangkah menuju gerbang SM High School. Di lain sisi, Kris yang menatap kepergian Chanyeol dari balik jendela ruangannya, hanya menatapnya datar. Matanya yang tajam tak pernah lepas dari wajah Chanyeol yang nampak berseri-seri itu. Namun itu tidak lama. Bibir Kris yang semula melengkung ke bawah, kini menampakkan seringaian. Sebuah seringaian yang terlihat jahat dan bahkan bisa membuat orang-orang yang melihatnya merinding dibuatnya.
"Park Chanyeol." desisnya. "Terima kasih telah membuat rencanaku menjadi lebih mudah."
###
Tinggal satu hari lagi sebelum Winter Break Event dimulai. Setiap murid kelas 2 nampak semakin sibuk dalam menyiapkan event kelasnya masing-masing, begitupun dengan kelas 2-A. Beberapanya nampak sibuk mengecat kain putih dengan cat merah –agar nampak seperti darah, beberapanya nampak sibuk mempersiapkan kostum hantu, dan beberapanya nampak sibuk membuat properti lain untuk rumah hantu. Baekhyun mendapatkan tugas untuk mengecat kain putih di halaman belakang sekolah bersama beberapa siswa lainnya, sedangkan Chanyeol dan beberapa siswa yang lain bertugas membuat properti rumah hantu yang juga dilakukan di halaman belakang sekolah.
Chanyeol beberapa kali melirik Baekhyun yang nampak serius dengan pekerjaannya. Pikirannya kini tertuju pada pertanyaan-pertanyaannya saat ia bersama Kris di ruangan OSIS SM High School. Kenapa Baekhyun begitu bersikeras ingin dia menjauhinya? Apa karena hal lain dan bukan karena Kris? Apa jangan-jangan Baekhyun membencinya? Chanyeol hanya bisa berharap bukan karena spekulasi terakhirnya karena kalau itu sampai benar, maka–entahlah, Chanyeol sendiri tidak bisa membayangkannya. Tanpa sadar, laki-laki tinggi itu malah menatap Baekhyun terlalu intens dan tidak sadar dengan Baekhyun yang balas menatap Chanyeol. Tapi itu tidak lama karena Baekhyun cepat-cepat mengalihkan matanya dari mata Chanyeol.
"Hey, yang piket hari ini tolong belikan beberapa cemilan dan minuman! Uangnya ada pada bendahara kelas." seru Joonmyeon dari jendela kelasnya pada teman-temannya yang ada di halaman belakang sekolah. Tentu saja itu membuat siswa-siswi yang piket hari ini mengeluh, termasuk Chanyeol.
"Aku akan pergi." ucap Baekhyun tiba-tiba.
Mendengar itu, Chanyeol segera mengangkat tangannya dengan semangat menggebu-gebu. "Aku juga akan pergi!"
"Arasseo. Kau, Queen Bee, dan Sehun yang pergi ya."
Baekhyun sedikit merutuki niatnya menjadi relawan setelah Joonmyeon memutuskan mereka berdua –ditambah Sehun– untuk pergi ke supermarket. Dan sekali lagi, Baekhyun tidak akan menarik kata-katanya, jadi dia hanya bisa merutuk dalam hati.
###
Dalam perjalanan menuju supermarket, tidak ada kata terucap. Sehun terlalu malas bicara, Chanyeol ingin bicara tapi tidak tahu apa yang harus dibicarakan, sedangkan Baekhyun sibuk menghangatkan dirinya dengan menggesekkan kedua tangannya bersamaan.
Sehun yang tak tahan dengan suasana aneh ini, akhirnya bicara, "Kenapa aku berada di antara kalian?"
Hening.
Chanyeol tidak tahu harus jawab apa, sedangkan Baekhyun terlalu malas menyahut.
Well, ya. Posisi mereka berjalan seperti ini: Baekhyun – Sehun – Chanyeol.
Dan ini sangat canggung.
"Kalian sedang bertengkar?" Sehun menebak. Karena tidak ada sahutan, laki-laki albino itu menganggapnya sebagai 'ya'. Menyadari hal itu, Sehun menghela napas panjang. "Apa lagi yang kalian ributkan, hah?"
Tidak ada sahutan lagi.
Sehun kali ini mendengus, kemudian ia berhenti berjalan dan menatap datar kedua laki-laki dengan tinggi badan yang jauh berbeda sambil berkacak pinggang. Itu membuat Chanyeol dan Baekhyun ikut menghentikan langkahnya dan menatap Sehun bingung. "Apapun masalah kalian, selesaikan sekarang. Aku menolak menjadi bagian dari permainan-tidak-dewasa-kalian."
Dan kembali hening saat Sehun berjalan mendahului Baekhyun dan Chanyeol. Mereka berdua hanya bisa melemparkan tatapan bingung, tapi tak bertahan lama. Mereka kini menatap hal lain selain mata lawan masing-masing. Well, Chanyeol sungguh ingin ngobrol dengan Baekhyun, tapi dia benar-benar tidak tahu harus membicarakan apa. Keadaan canggung ini benar-benar terasa aneh bagi mereka berdua.
###
"Semuanya sudah berkumpul?" tanya Joonmyeon pada teman-teman sekelasnya. "Baiklah, karena event-nya dimulai besok. Aku akan membagi-bagi tugas kalian dengan undian ini, termasuk yang akan berperan jadi hantu nantinya." Joonmyeon mengangkat kotak undian di hadapannya. "Oke, tanpa berlama-lama lagi, silakan ambil kertas di dalam kotak ini dan segera laporkan tugas kalian padaku."
Secara bergantian, siswa-siswi kelas 2-A mengambil kertas undian dalam kotak dan melaporkannya pada Joonmyeon. Saat tiba giliran Baekhyun, laki-laki pendek itu merasa jantungnya berpacu cepat. Well, dia hanya bisa berharap dia akan jadi panitia saja. Setelah dihembuskannya napas panjang, Baekhyun mengambil salah satu kertas undian itu dan membacanya cepat –karena jantungnya mungkin bisa meledak jika ia membacanya perlahan. Dua detik setelahnya, kertas yang dipegang Baekhyun terjatuh begitu saja ke lantai. Mulut Baekhyun menganga dan mata sipitnya sontak melebar setelah mengetahui apa tugasnya untuk event besok.
Hantu Sadako
TBC
Saya udah kasih clue di awal ya tentang alasan Baek ngejauhin Chanyeol. Ada yang udah bisa nebak alasannya? Nah, buat kalian yang penasaran alasan Baek pengen Chanyeol ngejauh, nantikan chapter 7! But first, review dulu~
Thanks banget buat yang udah review sebelumnya. So sorry saya gak bisa bales satu-satu, TAPI saya tetep baca semua review kalian. So thank you so much for your support and your reviews, I really appreciate them. LOVE YOU ALL *hug tightly*
SUPER THANKS TO:
mrs. jang, neli amelia, KaiSooLovers, alfi95, babyboybyun, VampireDPS (itu si yeollo kena bola), dandelionleon (NC mungkin ada tapi masih jauh, mepet ke ending. BTW, saya suka ff karya kamu yg Sequel YWAMH :D), farfaridah16, 1004baekie, elfirda365, Sniaanggrn, hunniehan, KT CB, Diaanastari, AnaknyaChanbaek92, KyusungChanbaek, dewinyonyakang, Re.Tao, exoblackpepper, Byun Byun, BLUEFIRE0805, rina byun272, dewi.min, Jung Hyejin, CanyulCintaBekyunYadongtralala, ShinJiWoo920202, Ohmypcy, tanpanama, YOONA, GuestGuestGuest (maaf banget karena di FF ini bakal ada pihak ketiga, chingu), chanchanhwang, nur991fah, baekhaan, arvita.kim, baekyeol, bie, dhani.ran96
