IF I LOVE YOU TOO

By: Rieyo

Remake by : Adrien Lee

Original Pair : Adniel & Levi

Main Cast : Park Jimin, Min Yoongi (Suga)

Team Jimin!Top

Team Yoongi!Bottom

a/n : FF ini 1000% milik Rieyo. Aku cuman me remake aja karena wtf suka banget sama ff ini. YEAY FINALLY AKU BISA MENGHUBUNGI KAK RIEYO DAN SUDAH OFFICIALLY DAPET IZINNYA YA! YEAY! Langsung aja deh daripada lama-lama.

.

.

.

.

.

.

[#5 – Chaos]

Part 2

Aku berhenti memainkan bola basket di tanganku ketika sudah menyebrangi parkiran dan menuju fakultas ku. Ada rame-rame di depan ruang kantor senat mahasiswa. Tapi aku tak mau tau, aku malas berhubungan dengan orang-orang disana. Yoongi yang tak kunjung menjawab teleponku, atau juga balik menelepon, masih membuatku kesal. Nanti kalau kami bertemu di kelas, aku mau mengomelinya.

"Demi tuhan! Itu benar-benar parah!" kata Juho sambil menghampiri ke arahku dan anak basket lainnya yang kebetulan sedang berkumpul di depan ruang ganti.

"Eoh? Ada apa memangnya?" sahut Erick yang memang selalu tertarik pada hal-hal berbau gossip. Kadang aku juga tak habis pikir kenapa teman-temanku yang berperawakan macho dengan badan tinggi khas pemain basket ini, begitu bawel dan senang bergosip macam wanita centil yang suka ribut di kantin.

"Dugaanmu memang benar, Rick." kata Juho sambil berusaha menenangkan dulu nafasnya.

"Dugaan yang mana?"

Juho melirik kami satu persatu, sebelum kemudian bicara dengan agak berbisik.

"Soal si gay..."

"Dengan Zhoumi?" sambar Erick dengan mata yang sudah berbinar.

"Bukan, tapi Namjoon."

"EOH?!" seru kami nyaris bersamaan.

"Sshh..." Juho cepat menyuruh kami untuk diam.

Perasaanku semakin tak nyaman, lebih tak enak daripada semalam. Sesuatu yang buruk apakah sudah terjadi?

"Memangnya bagaimana kejadiannya? Mereka di dalam sedang apa" Changgu dan Erick semakin bersemangat untuk meminta Juho bercerita.

"Jadi, yang kudengar semalam si gay Yoongi itu sudah berbuat tidak senonoh pada Namjoon."

"Ya tuhan?!" Teman-temanku berseru lagi, sementara aku semakin tak nyaman dengan debaran di dada ku...rasanya jadi sakit.

"Bagaimana bisa?"

Dan Juho pun menceritakan semua yang sudah di dapatnya dari dalam kantor senat. Menurut cerita yang beredar, semalam Namjoon dilecehkan oleh Min Yoongi, ada beberapa bukti yang sudah melengkapi. Sekarang para senat kembali rapat untuk membahas, apakah Min Yoongi pantas atau tidak melanjutkan untuk dicalonkan sebagai ketua. What the heck. Kenapa bisa ada cerita seperti itu?!

"Jadi sekarang, di dalam Yoongi itu sedang di sidang?" tanya ku, sambil berusaha tetap terlihat tenang.

"Aku tidak melihatnya. Menurut yang lain sih, Yoongi langsung cepat-cepat kabur semalam."

"Ya tuhan...menjijikan." komentar Erick pula.

"Demi tuhan. Aku masih belum percaya." gumam Changgu sambil menggelengkan kepalanya.

"Kenyataannya memang seperti itu, Changgu-ya. Gay is actually gay. Sewaktu dia sedang berdua dengan Namjoon yang tampan itu di tempat yang sepi, dia pasti tidak bisa menahan dirinya sendiri." sahut Juho, ditambahi dengan analisanya yang tumben terdengar masuk akal.

Astaga. Apa benar Yoongi seperti itu?

Aku berdiri dari dudukku, dan mendadak jadi semakin tak enak hati. Kalau Yoongi tak ada disana, terus dimana dia sekarang? Apa dia kabur karena malu? Dia mungkin tak mau menampakkan lagi wajahnya di depanku.

.

.

.

.

Keningku berkerut ketika Seulgi memperlihatkan beberapa buah foto di dalam ponselnya. Itu barang bukti yang sudah menggemparkan nyaris seisi kampus, terutama di kalangan para senat mahasiswa. Foto Yoongi yang sedang berbuat tak wajar dengan Namjoon.

Darahku cukup mendidih sekarang. Yoongi berpelukan dengan Namjoon, dan aku melihat bagaimana dia begitu menikmati berada dalam pelukan cowok itu.

F-ck.

Shit.

"Aku juga tidak menyangka seorang Min Yoongi ternyata seperti ini." suara Seulgi menghentikan gerakanku yang sudah akan merebut ponselnya karena ingin membantingnya. Aku langsung menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

"Darimana kau mendapatkan itu?" tanya ku datar.

"Dari anggota senat. Teman-teman disini ada yang ingin melihatnya."

"Memangnya harus ya kau menyebarkannya seperti ini?" suara ku mulai terdengar agak gemetar karena menahan emosi.

"Aku tidak bermaksud untuk menyebarkannya, Jim. Aku hanya memperlihatkannya pada orang-orang yang ingin lihat saja."

Bodoh, itu maksudnya sama aja! Gerutuku di dalam hati, agak kasar.

"Inilah yang aku khawatirkan jika kau berdekatan dengannya, Jim. Dia memang sangat baik, pintar, but he's still a gay. Dan kita semua nyatanya tidak tau niatnya berteman denganmu itu hanya untuk berbuat hal yang senonoh seperti ini misalnya." kata Seulgi lagi, jadi menasihatiku.

Aku terdiam. Aku merasa sudah tau lebih banyak soal Yoongi daripada Seulgi. Tapi harus aku akui, tingkah tak terduga Yoongi kepada Namjoon itu, sangat mengusikku.

Siapa yang tak akan tergoda oleh Namjoon yang tampan?

Kemungkinan Yoongi yang tidak bisa mengendalikan diri, mungkin saja terjadi. Dan aku jadi merasa dikhianati disini. Apalagi sekarang Yoongi malah menghilang, tak mengabariku, tak bisa juga aku hubungi. Shit lah.

"Jimin mulai sekarang kau harus mendengarkanku. Jangan berdekatan lagi dengan orang seperti itu." ucap Seulgi sambil mengusap pelan bahu ku.

Aku hanya bisa terpaku. Perasaanku tak karuan.

Marah, bingung, terluka, sedih...rindu.

.

.

.

.

Dengan agak asal-asalan, aku mengambil segenggam popcorn dari mangkuk besar yang barusan dibawakan Seowoo noona. Beberapa butir popcorn berjatuhan ke lantai, tapi aku tak peduli. Suasana hati ku sedang buruk sekali dari sejak masih di kampus. Kejadian hari ini sungguh menguras pikiran dan perasaanku.

"Pelan-pela, Jim. Jadi berantakan." tegur Seowoo noona.

Aku tak mendengarkan dan malah mengulanginya ketika mengambil popcorn lagi.

"Ya! Kalau ada masalah di kampus, tidak perlu dibawa-bawa ke rumah bisa tidak bocah!?"

Aku melirik tajam pada kakak sepupuku itu.

"Noona bisa tidak jangan berisik." kata ku dingin, sambil kemudian beranjak dari sofa bermaksud ke kamarku.

Barusan sempat ku lihat wajah terhenyak Seowoo noona. Meski kami memang sering terlibat pertengkaran-pertengkaran kecil, tapi sebenarnya itu tak pernah ada yang serius. Dan sekarang tampaknya Seowoo noona sadar kalau aku sedang sangat – sangat bad mood. Jadi dia tak membalas ucapanku, dan hanya memandangku sambil menggelengkan kepalanya.

Aku meminta maaf di dalam hati. Ya, aku lagi butuh waktu untuk sendirian tanpa ada orang yang menegur-negurku dulu.

.

.

.

.

Sambil berbaring di kasur, aku melempar-lemparkan bola basket kesayanganku ke atas. Pikiranku masih berkecamuk, kalut tak jelas. Tadi sempat berpikir, kalau aku ingin menyesali semua ini. Menyesal karena sudah coba-coba mengiyakan untuk berpacaran dengan Yoongi, menyesal karena aku sudah penasaran pada lelaki manis itu. Menyesal karena mungkin...aku mulai seperti jatuh cinta padanya.

Damn.

Aku memeluk bola basketku dan agak menekannya ke dada. Ada rasa sakit disana. Rasa menyesakkan yang seolah pernah diperingatkan padaku sebelumnya. Menyukai laki-laki, dan melibatkan diri pada situasi ini, mungkin bukan sesuatu yang mudah, aku sudah seharusnya lebih menyiapkan diri. Rasa sesak dan sakit ini, menurutku lebih sakit daripada ketika aku ditolak seorang wanita yang sudah lama aku suka.

Huh. I don't know why it has to be like this. Why me?!

Mataku sudah mulai terpejam ketika aku mendengar alunan ringtone standar dari ponselku. Aku membuka lagi mata ku, melepaskan bola basket dari dekapanku dan mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel yang aku simpan di bawah.

Nama Yoongi muncul disana. Aku cepat menyentuh tombol OK di layar ponsel ku.

"Hallo? Jimin?" sapanya begitu aku sudah menyimpan ponselku di telinga.

"Kemana saja kau?" sahut ku datar. Aku bangun dan duduk di kasur sambil mencoba menenangkan diri agar tak cepat terbawa emosi.

"Maaf aku baru menghubungimu..."

"Kau kabur, eoh? Ya! Kau sudah malu untuk menunjukan wajah sok polosmu itu dihadapanku lagi kan?!" aku menyergahnya, perlahan, emosi yang aku tahan sejak tadi siang memang tetap keluar dari kendaliku.

"Aku tidak kabur, Jim. Saat ini aku sedang—"

"Kau sudah tau kan jika kelakuanmu yang menjijikan itu sudah menyebar ke seluruh kampus?! Semua orang sedang membicarakanmu sekarang. Aku yakin setelah ini tidak akan ada lagi orang yang akan respect padamu lagi! Aku sangat paham kalau kau seorang gay. Tapi setidaknya, kau masih mempunyai harga diri kan?!"

Yoongi tampak terdiam beberapa detik disana. Dia mungkin shock dengan kemarahanku yang tiba-tiba ini, tapi aku lebih baik mengungkapkannya sekarang daripada aku menutupinya dan bertingkah seolah aku tak tau apa-apa.

"Kau terkejut kan? Aku sudah mengetahui semuanya, Min Yoongi."

"Aku...sungguh tidak paham dengan apa yang kau bicarakan tadi..."

Aku mengernyitkan kening.

"Aku sedang membicarakan soal kelakuan menjijikanmu dengan Namjoon. Kau mengerti, sialan?!" kata ku, dengan sengaja menekan kalimat ku.

"Itu—"

"Apa?! Aku tidak pernah menyangka ternyata kau sama saja seperti gay yang lainnya. Wajahmu memang manis. Tapi kelakuanmu sangat menjijikan." potongku, semakin kejam menuduhnya. Aku tak peduli. Aku sedang marah sekarang.

"Ani, Jimin-ah. Kumohon jangan percaya apapun yang orang lain katakan. Kumohon." kata Yoongi dengan suara yang jadi memelas.

"Aku bukan hanya percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain. Tapi aku juga melihat buktinya!"

"Itu tidak seperti yang kamu lihat. Kau harus mendengarkan apa yang akan aku katakan. Kumohon, Jimin-ah."

"Kenapa aku harus percaya dengan seorang pembohong sepertimu?! Untuk apa aku mendengarkan seseorang yang sudah menkhianati dan membuatku kecewa, eoh?!"

"Jim, kumohon. Nanti aku akan kesana untuk menjelaskan semuanya. Tapi sekarang belum bisa. Sekarang aku sedang—"

"I don't f-ckin care! Kurasa, memang seharusnya aku menjauhimu, Min Yoongi. Aku seharusnya tidak pernah terlibat urusan apapun denganmu. Aku seharusnya tidak pernah mengenal dunia menjijikan seperti ini. Cukup semuanya. Tidak peduli apa yang akan kau jelaskan. Lebih baik mulai sekarang, kita berdua tidak perlu saling mengenal lagi."

"Jim—"

Klik.

Aku mematikan ponselku dan melemparkannya ke atas bantal.

F-ck! Aku mengumpat dalam hati. Emosi ku sungguh tak bisa di tahan, dan mendengarkan dia yang terus mencoba membela diri, malah membuatku semakin panas. Aku tak bisa berpikir jernih. Aku hanya tau kalau sekarang dada ku sesak karena sakit hati sudah di khianati oleh orang yang baru saja aku mulai sukai.

I hate you, Min Yoongi...but still I need you.

Yoongi, you are so cruel!

Argh!

Aku menutupi wajahku dengan bantal dan mengumpat seenaknya disana. Aku harus menyudahi ini karena tadi aku sendiri yang sudah mengatakannya. Lupakan Yoongi dari sekarang. Aku lebih baik mengubur lagi dalam-dalam perasaan yang seperti mulai tumbuh ini. Tapi kenapa rasanya jauh lebih sakit daripada gara-gara patah hati yang pernah aku rasakan sebelumnya?

.

.

.

.

"Permasalahan di senat jadi semakin kacau." Juho memulai obrolan ketika kami sedang berkumpul di sebuah café yang biasa aku datangi kalau sedang suntuk di rumah. Kebetulan anggota basketku malam ini memang sedang ingin berkumpul disana dan ditambah Seulgi juga yang sudah pasti selalu ingin ikut kemana pun aku pergi.

Ini hari kelima dari sejak masalah besar di senat dan hari kelima juga aku tidak bertemu dengan Yoongi. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya dan tidak mencari tau dia sebenarnya kenapa, aku harus konsisten dengan perkataanku di telepon waktu itu – di pembicaraan terakhir kami.

"Benar kan, Seulgi-ya?" Juho berkata lagi pada Seulgi setelah meminum espresso-nya.

"Ya seperti itu sepertinya." ujar Seulgi yang sedang asik mencubiti roti bakar di piringnya.

"Si gay Yoongi itu sebenernya kemana sih?" Changgu menimbrung.

"Changgu—aw!" Juho yang seperti biasa akan menggoda Changgu sudah lebih dulu di antisipasi temanku itu dengan mencubit dadanya. Juho langsung meringis sambil berusaha membalas Changgu, tapi Changgu sudah siap untuk menghindar. "Sakit, sialan!" gerutu Juho pula.

Erick dan Seulgi tertawa-tawa melihatnya, sedangkan aku hanya tersenyum tipis. Aku memang tak mood tertawa dari sejak beberapa hari yang lalu.

"Tidak ada yang tau dia menghilang kemana." kata Seulgi, mengembalikan obrolan setelah mereka selesai bercanda.

"Sudah coba cari ke rumahnya?" sambung Erick.

Seulgi menggelengkan kepalanya.

"Yang lainnya mengatakan kalau dia masih merasa mempunyai tanggung jawab, dia harus muncul dengan sendirinya. Kalau sampai tidak, ya itu artinya dia tidak akan pernah lagi diterima di senat."

"Batas waktunya sampai kapan?"

Kali ini Seulgi mengangkat kedua bahunya.

"Menurutku, dia pasti akan datang karena bagaimanpun juga dia harus kuliah." Changgu kembali menimbrung.

"Hmm...yang lain juga berpikiran seperti itu." Seulgi membenarkan.

Aku menghela nafas, lalu meminum Ice Latte ku sambil melihat ke luar dari jendela di sampingku. Terserah kalau mereka mau menyebutku tidak asik, sekarang. Aku memang sedang tidak tertarik dengan obrolan apapun – apalagi yang berhubungan dengan Yoongi. Membuat rasa sakit dan kangen di hatiku kembali terjamah.

Seulgi menoleh ke arahku, mungkin dia menyadari aku yang menjadi lebih pendiam belakangan ini. Entah kalau dia juga menyadari aku jadi seperti ini karena kejadian kemarin-kemarin.

"Rokok, Jim?" Seulgi tiba-tiba menyodorkan sebatang rokok padaku. "Kau terlihat sangat berantakan. Sudah berapa hari tidak merorokok?"

Aku mengambil rokok di tangannya dengan agak ragu. Aku melihat teman-temanku yang lain sudah berpencar, bercanda-canda dengan berisik seperti biasa. Di meja ini hanya tinggal aku dan Seulgi.

"Lupa." jawabku, pendek. Sejak Yoongi melarangku agar tidak banyak-banyak merokok, aku memang jadi menguranginya. Hingga aku pun bisa jadi terbiasa sampai berhari-hari tidak menyentuh rokok sedikitpun. Seperti yang Yoongi bilang, aku mengganti dengan permen dan makanan kecil.

Tapi sekarang, Yoongi sudah tak ada di dekatku lagi, bukan? Aku bebas kembali melakukan apapun yang aku suka.

"Kau berubah, Jim." kata Seulgi lagi sambil bersiap menyalakan api dari geretan untukku, begitu aku sudah menyelipkan rokok diantara bibirku. "Siapa yang sudah membuatmu berubah?"

Aku melepaskan lagi rokok dari bibirku dan menjauhkannya. Seulgi agak terhenyak, dan dia pun tak jadi menyalakan geretan yang dipegangnya.

"Menurutmu, aku berubah?" tanyaku.

"Hmm."

"Apa aku berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk?"

"Hmmm..."

"Nilaiku semakin banyak yang bagus. Aku juga menjadi rajin mengerjakan tugas. Aku bisa mengatur waktu belajar dan bermain basket dan sudah mengurangi rokok. Seperti yang kau tau, rokok itu tidak baik untuk kesehatan, ditambah aku seorang pemain basket." aku malah membeberkan sendiri semua perubahan yang memang sudah terjadi padaku selama ini. Semua perubahan yang secara sadar aku ingat adalah berkat Yoongi.

Shit.

Aku menyimpan rokok itu di meja dan menarik nafasku dalam-dalam. Seulgi masih memandangi ku, dia mungkin bingung kenapa aku mendadak jadi emosional begini.

"Jadi, memang ada yang merubahmu ya?" tanya Seulgi akhirnya setelah selama beberapa saat kami malah jadi terdiam.

"Ada." jawabku, agak pelan, tapi yakin.

"Min Yoongi?" dia menyebut nama yang sebenarnya sudah tak mau aku ingat lagi...dan kenapa dia bisa menebaknya!?

Aku tak menjawab. Aku diam. Tidak mengiyakan dan tidak menyalahkan. Beberapa saat mata kami hanya saling memandang, sampai kemudian Seulgi menyerah lebih dulu. Dia menghela nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya beranjak dari dekatku.

She must be already knew something more. Aku mendecakkan lidahku pelan, lalu menjambak rambut spike-ku. Aku tak mau peduli lagi.

Mata ku kembali melihat keluar dari jendela. Tiba-tiba saja hujan turun disana.

Menyebalkan. I hate these kind of feeling.

What a chaos.

"Eoh, nak Jimin?" sapaan seseorang yang khas, membuat ku yang sedang duduk di pinggir jalan yang ada di sekitar rumah Yoongi, jadi terhenyak.

Aku memang tengah berpikir, apa aku harus ke rumah Yoongi atau jangan, tapi ternyata Park ahjumma tiba-tiba sudah lebih dulu melihatku. Aku berpikir ingin ke rumah Yoongi bukan karena apa-apa, aku hanya merasa masalahnya akan semakin clear kalau kami saling bertatapan muka – ok, sekalian juga untuk sedikit membuang rinduku.

"Sedang apa nak Jimin disini?" tanya Bi Mar lagi sambil berjalan menghampiriku. Dia sepertinya baru kembali dari warung karena ada bungkusan plastik di tangannya.

Aku tersenyum gugup.

"Ah tidak ahjumma." kataku jadi bingung sendiri.

"Motornya rusak?" tanya Park ahjumma lagi sambil melihat pada motorku yang aku parkir di dekatku.

"Tidak juga."

"Masuklah dulu." ajak Park ahjumma pula. "Tidak masalah walaupun tidak ada nak Yoongi. Nak Jimin tidak perlu canggung." tambahnya, sambil tertawa pendek.

Aku tersadar.

"Yoongi tidak ada?" tanyaku akhirnya.

"Ne. Yoongi kan sedang diluar kota."

Aku nyaris membelalakan mata ku, dan cepat berdiri dari dudukku.

"Di luar kota?!" ulangku, terkejut.

Park ahjumma mulai tampak bingung, mungkin dia tak mengharap kalau aku malah akan bereaksi tidak tahu-menahu seperti ini.

"Nak Jimin... tidak tau?"

Aku cepat menggelengkan kepalaku.

"Jadi, dari beberapa hari yang lalu Yoongi tidak masuk kuliah itu, dia di luar kota?!"

Park ahjumma mengangguk pelan, dan sekarang raut wajahnya jadi agak suram.

"Nyonya kecelakaan, katanya koma, jadi nak Yoongi harus menyusul dulu kesana."

Ya Tuhan.

Malam itu, akhirnya aku semakin tak bisa tidur nyenyak.

.

.

.

.

Nyonya Min rupanya mengalami kecelakaan mobil diluar kota, itu sebabnya Yoongi mendadak menghilang. Seperti yang dia bilang di telepon, ternyata dia memang bukan menghindar atau kabur dari masalah yang sedang terjadi di kampus. Dan waktu itu, ketika ibunya sedang tergolek koma, aku malah memarahi Yoongi di telepon. Padahal mungkin dia membutuhkan dukungan dariku. Dia pasti sangat sedih. Kalau sampai terjadi hal yang tak diinginkan pada ibu nya, bagaimana Yoongi nanti? Dia akan benar-benar menjadi sendirian.

Aku yang sudah tak bisa berkonsentrasi untuk belajar siang ini, akhirnya memutuskan untuk bolos kuliah dan berniat tidur di ruang ganti saja. Aku sungguh butuh tempat untuk sendiri, memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan. Sejak mengetahui kabar tentang ibunya, aku masih belum bisa memutuskan – apa aku harus menarik lagi semua kata-kata kejam ku pada Yoongi!?

Langkahku terhenti begitu aku akan memasuki ruangan yang sudah biasa dipakai oleh anak-anak basket itu. Aku mendengar percakapan dua orang disana. Dengan berhati-hati, aku mencoba melihat ke dalam dari pintu yang sudah sedikit ku buka.

Namjoon dan Zhoumi.

"Kau berlebihan, aku tidak menyukai caramu yang seperti ini, Namjoon." kata Zhoumi sambil mengusapkan handuk kecilnya ke pelipisnya yang penuh keringat.

Namjoon tertawa.

"Coba saja kau sebarkan kepada yang lainnya kalau aku membuat pernyataan palsu, aku yakin bukan hanya aku saja yang malu. Kau juga, Zhoumi." sahutnya dengan percaya diri, dia juga dengan sengaja mendekatkan wajahnya dengan Zhoumi, memberi temannya itu senyum menyebalkan.

Aku mengernyitkan kening, belum begitu paham dengan apa yang sedang mereka bahas. Tapi perasaanku agak tak enak.

"Min Yoongi memangnya ada masalah apa denganmu?"

Deg.

As I thought, obrolan mereka memang ada hubungannya dengan Yoongi.

"Dia gay, itu salahnya." jawab Namjoon enteng, dan malah tersenyum dengan semakin menyebalkan. Dia melepas baju basketnya yang basah oleh keringat, lalu duduk di samping Zhoumi. "Dia masih sok menjual mahal padahal sudah terlihat dari wajahnya yang menjijikan itu kalau dia sangat ingin menyentuh milikku...menjijikan."

Aku menelan ludahku, dan menggenggam erat knop pintu, sambil terus berusaha menenangkan diri dalam hati. Jangan sampai aku masuk kesana, lalu mengamuk pada lelaki kurang ajar itu.

F-ck. Tahan Jimin.

"Demi tuhan, Namjoon! Kau keterlaluan!" Zhoumi terlihat sangat terganggu. Aku jadi ingat kalau dia memang sangat baik pada Yoongi. Aku tak mau mengartikan dan mengurusi soal itu sekarang. Yang lebih penting saat ini adalah, bahwa aku sudah menemukan kenyataan yang sebenarnya.

Namjoon ternyata membuat cerita palsu. Dia sengaja menjebak Yoongi dan menyebarkan bukti bohong agar Yoongi tak lagi mendapat pendukung, agar orang-orang membencinya. Sialan.

"Kau tidak seharusnya berbuat curang seperti ini, Kim Namjoon!"

"Ini bukanlah curang, tapi hanya menyingkirkan yang tidak perlu, Zhoumi."

"Kau seharusnya yakin dengan dirimu sendiri. kau seharusnya mampu membuktikan kalau Min Yoongi tidak lebih baik darimu dengan cara yang fair—"

"Zhoumi! Aku bukan tidakk ingin fair-play, tapi aku memang tidakk sudi bersaingan dengannya. Berapa kali aku harus mengatakan itu?!"

"Tapi kenapa?!"

"Untukku, derajat dia denganku itu tidak bisa disamakan. Paham?!"

Zhoumi terdiam mendapat bentakan dari Namjoon. Aku nyaris membuka pintu lagi kalau saja tidak cepat menenangkan diri. Gila. Aku tak pernah menyangka kalau Namjoon ternyata seorang homophobia yang norak. Selama ini yang aku lihat, dia selalu tampak ramah pada siapapun.

"Oh, kalau seperti itu, artinya aku juga tidak pantas berteman denganmu."cetus Zhoumi akhirnya setelah beberapa saat mereka hanya saling memandang tanpa suara.

"Kau bukan gay sepertinya. Berhenti bicara sembarangan..."

"Ya, aku seharusnya bisa menjadi gay, agar Seokjin tidak perlu mati dengan sia-sia." sambar Zhoumi dengan tegas.

Kalimatnya itu sukses membuat wajah Namjoon langsung menegang. Aku mulai tak begitu mengerti dengan pembicaraan mereka, yang sepertinya memang hanya mereka saja yang tau.

"Kebencianmu pada gay, tidak akan membuatmu bisa melupakan keadaan di masa lalu, Namjoon. Kalau saja waktu itu aku bisa menjadi gay dan bisa membuat Seokjin jatuh cinta padaku, dia tidak perlu mati sia-sia hanya karena penolakan darimu."

Namjoon tampak mulai lemas. Dia tak menyahut lagi dengan emosi. Dari perkataan Zhoumi yang aku simak, sepertinya memang ada cerita di masa lalu antara mereka dan orang yang bernama Seokjin. Entahlah.

"Seokjin mati bukan karenaku...aku menyayanginya, Zhoumi. Dia sahabatku." gumam Namjoon, setelah dia duduk lagi di bangku dan jadi menundukkan kepalanya. Dia terlihat sedih.

Untuk pertama kalinya aku melihat kapten tim ku yang keren, dan barusan juga masih menunjukkan keangkuhannya, sekarang mendadak begitu rapuh. Perkataan Zhoumi tampak sangat menamparnya.

"Eoh aku tau. Siapapun tidak ada yang menduga kejadiannya akan seperti itu. Tapi seharusnya itu bisa menjadi pelajaran untukmu, Namjoon-ah. Kau tidak bisa menumbuhkan kebencian pada sesuatu yang belum tentu lebih buruk dibandingkan dirimu."

Namjoon kali ini mengusap wajahnya. Dan jadi terpekur disana, tampak terpukul. Zhoumi duduk disampingnya lagi, dan menepuk pundak temannya itu.

"Kita harus mengungkapkan kebenarannya, Namjoon. Kita tidak bisa membiarkannya. Kelakuanmu yang seperti ini, justru malah lebih menjijikan dan sama sekali tidak sesuai denganmu. Aku tau kau hanya terpengaruh Seulgi. Kau dimanfaatkan olehnya untuk hal yang dia benci sendiri. Yang bermasalah disini bukan kau, tapi dia."

Perkataan panjang lebar Zhoumi semakin membukakan pikiranku, membuatku tersadar dan membuatku...kesal setengah mati. Aku berhenti mengintip, menutupkan pintunya dengan hati-hati, lalu menyandarkan tubuhku pada tembok yang ada disana. Everything's clear now.

Sialan. Parah, aku ditipu oleh teman baik ku sendiri.

Ternyata Seulgi yang ada di balik semua ini. Dia yang membenci Yoongi,. Seharusnya aku sudah menyadari itu dari sejak dia menunjukkan rasa keberatannya karena aku semakin akrab dengan Yoongi. Aku sungguh tak menyangka Seulgi yang sudah lama aku kenal, Seulgi yang lucu dan rasanya tidak mungkin melakukan hal seperti ini, ternyata bisa menjadi begitu nekat dan kejam.

Hanya karena dia... menyukaiku. Dia sampai berani membuat kekacauan sebesar ini. F-ck that f-cking love.

. . . . .

Seowoo noona yang sedang menyiram bunga sore itu tampak heran melihat aku yang memang tidak biasanya sudah sampai di rumah sebelum pukul 5. Tanpa menyapanya lebih dulu, aku segera masuk, dan melemparkan tas ku ke atas bantal besar yang tersimpan di depan televisi. Aku sendiri menjatuhkan tubuhku di sofa, dan menekan-nekan tombol remote seenaknya setelah melepas sepatu ku.

"Jim, tumben sekali sudah pulang? Tidak latihan basket?" tanyanya setelah selesai menyiram tanaman kesayangannya. "Itu barang-barangmu jangan lupa dibawa naik semua, Jim!" katanya pula sambil menunjuk tas dan sepatu ku yang berantakan di sana. Aku tak menggubris dan masih saja menekan-nekan tombol remote tivi dengan asal. Seowoo noona jadi mengamatiku. Dia yang sedang berkacak pinggang sambil mengernyitkan keningnya, tiba-tiba mengulurkan tangan untuk memegang keningku.

"Kau sakit?" tanyanya.

Aku menggeleng saja tanpa melihat padanya. Dia makin merasa kalau ada yang tak beres denganku. Dia pun duduk disampingku dan perlahan kembali memegang kepalaku, mengusap rambut spike-ku yang berantakan.

"Ya! Kau sedang ada masalah?"

Aku terdiam beberapa detik, masih bertahan dengan pride-ku, kalau aku tak mungkin menceritakan apa yang sedang aku alami. Aku pantang untuk curhat mengenai masalah yang menurutku serius, pada siapapun. Curhat memang terdengar terlalu seperti perempuan untukku, lagipula, aku tak mau membagi beban pada orang yang sudah mendengarkan curhatanku.

"Jim? Kau tidak bisa membohongiku. Aku sangat mengenalmu."

Aku melepaskan remote di tanganku - ego ku sudah tak bisa membendung perasaanku lagi. Tanpa menyahut ucapannya, aku langsung memeluk kakak sepupuku itu. Seowoo noona tampak terkejut, karena kami memang jarang sekali berpelukan sebelumnya – kalau bukan dalam situasi formal (baca: terpaksa)

"Aku bodoh, noona. Aku tidak berusaha untuk mendengarkan penjelasannya dulu dan memilih tidak mempercayainya." gumamku begitu tubuh mungil kakak sepupu ku sudah aku dekap erat-erat.

"Dia?"

"Yoongi." jawabku tanpa ragu.

Seowoo noona tampak terdiam beberapa detik, mungkin dia harus mencerna dulu kemana arah pembicaraan yang aku maksud. Tapi aku ingat kalau Seowoo noona pernah bilang, dia tak akan menentang atau ikut campur jika ternyata aku memang gay. Itu juga alasannya kenapa sekarang, aku berpikir untuk bercerita, berbagi keresahanku dengannya. Karena Seulgi, sudah tak mungkin lagi menjadi teman baikku. Dia sudah mengecewakanku dan tak mau aku maafkan begitu saja.

"Aku mencintai Yoongi, noona." kata ku akhirnya.

Perlahan, Seowoo noona melepaskan pelukanku. Dia memandangku, serius namun lembut. Dia seperti sedang mencoba mencari kesungguhan juga di mataku.

"Lalu? Kau sudah mengatakan padanya?"

Aku menggelengkan kepalaku, agak gugup.

"Kau harus mengatakan padanya, Jim."

Aku menggigit bibirku samar.

"Parahnya, aku malah berkata kalau aku tidak mau mengenalnya lagi. Argh aku memang bodoh!" ujar ku.

"Itu resiko untukmu. Kalau kau ingin dia tau kau menciantainya, kau harus berusaha bicara padanya."

Seperti yang aku duga, kakak sepupuku yang biasanya aku ajak bertengkar ini – sebenarnya adalah wanita dewasa yang lembut, baik hati dan bisa menenangkan pikiranku. Seolah dia memang bisa jadi pengganti ibu untukku selama berada disini.

"Noona, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku sangat pantang untuk menarik kata-kataku. Kenapa dia bisa merubahku seperti ini..."

"Karena kau mencintainya, Jim. Sudah saatnya kau tunjukan padanya kalau kau tidak ingin kehilangan dia."

Seowoo noona tersenyum dan balik memelukku lebih dulu. Dia mengusap kepalaku seperti usapan seorang ibu pada anaknya.

"Cinta memang tidak mengenal tempat, tidak mengenal waktu dan tidak memandang gender." tambahnya pula.

Aku membenarkannya dalam hati. Lama-lama perasaanku memang semakin jelas.

If I love you too, Yoongi?

.

.

To Be Continued...

A/N : HALLOOOOOOOOOO LONG TIME NO SEE GUYS! AAAA KANGEN BGT SAMA FFN. Maafn gw baru muncul lagi sekarang. Yah masih karena aktivitas di RL yang ga bisa ditinggalin sama sekali dan memang udh jadi my responsibility as a student college and a young journalist jadi harus pro di semua bidang. Sebenernya draft untuk part ini tuh udh aku edit dari sebelum tahun baru kemarn, tapi baru sempet di publish karna WIFI di rumah dicabut T.T /jahat emang si ayah/

okay, gw ga mau banyak cingcong sih. silahkan dibaca aja ya dan jangan lupa apresiasinya ditunggu loh. maafin juga kalau sampe sekarang blm sempe baletsin review dari kalian satu-satu. silahkan pm aja kalau ada sesuatu yang mau ditanyakan atau mau di omongin. kay?

OH IYA! I wanna say BIG thanks to ka Jimsnoona yang udah dm aku di ig buat ngingetin buat update. huhuhu aku terharu loh ka. big love pokoknya. hehehe.

.

.

See You Next Time~

.

Bandung 00:19.