Chapter 7
Disclaimer Fujimaki Tadatoshi
Kuroko No Basuke Fanfiction
Kaki pemuda bersurai baby blue melangkah kecil, di sampingnya ada pemuda yang jauh lebih tinggi bersurai merah dengan gradasi hitam, mulai tampak cemas dengan wajah Kuroko yang sedikit lebih pucat dari biasanya.
"Oi Kuroko, apa kau baik baik saja?"
"Aku baik baik saja, seperti yang terlihat Kagami-kun"
"Tapi-"
"Aku tahu Bakagami-kun adalah baka tapi tak kusangka Bakagami-kun juga rabun"
"Oi Kuroko temeee! ngajak berantem ya, ngajak berantemmmm yaa!"
Hari itu Kuroko dan Kagami sampai di rumah sakit tempat Mayuzumi Chihiro bekerja, mimpi buruk tak menghalangi langkahnya untuk mengembalikan masalalu ke tempatnya semua memperbaiki masa sekarang dan terbentuklah masa depan yang sesungguhnya.
.
.
Pintu putih di buka perlahan setelah mendapat jawaban dari si empunya. Langkah kecil Kuroko di iringi Kagami, disambut oleh pria berambut abu yang tengah bergelut dengan begitu banyak berkas-berkas pasien.
"Hi-sashiburi Chihiro-n-ii~" Ucap Kuroko masih sedikit takut akan mimpinya yang akan menjadi nyata.
". . ." Tanpa bersuara Chihiro langsung berdiri dan beberapa berkaspun beterbangan berserakan di lantai, derap langkah keras dan tegas langsung mengarah pada Kuroko yang masih berdiri di ambang pintu bersama dengan Kagami.
"Ku-ro-ko?!"
"Maaf Chihiro-nii baru me-" Ucap Kuroko masih takut dengan respon Chihiro, akankah sama dengan mimpinya semalam, ketakutan tetaplah ketakutan walaupun dia adalah Kuroko Tetsuya yang tenang dan dingin.
"Bodoh!" Teriakkan Chihiro membuat semua yang ada di ruangan terkejut, setelah mengatakannya ia memeluk Kuroko erat sangat erat, bahkan Kuroko sendiri terkejut dengan apa yang di lakukan sang kakak sepupu, sangat berbeda dengan apa yang terjadi dalam mimpinya.
"Chi-hiro-nii?"
"Kenapa kau tak mengabariku! Kalau saja waktu itu aku ada di sisimu! Mendengar kabar bibi dan paman meninggal, rasanya nyawaku sudah di ujung tanduk! Apa lagi setelah mendengar kabar kau bunuh diri! Kuroko sekarang saat ini juga cepat jelaskan semuanya!" Ucap Chihiro berteriak sampai suaranya memenuhi ruangan sambil memeluk erat Kuroko.
"Emp" Ucap Kuroko tersenyum kecil, perasangka buruknya sedari pagi kini musnah seketika.
.
.
Setelah itu Kuroko menceritakan semuanya dari kisah awalnya sampai ke lupa ingatan sampai ia yang tinggal di Masion Akashi beberapa waktu lalu.
"Ahh, pantas saja"
"Pantas saja?"
"Pantas saja aku tidak bisa mengetahui keberadaanmu, mungkin karena pengaruh orang bernama Akashi itu. Kalau saja saat itu aku tidak ikut sebagai perwakilan rumah sakit di Amerika, aku pasti akan ada disisimu saat bibi dan paman meninggal" Ucap Chihiro menyalahkan diri sendiri.
"Itu bukan salah Chihiro-nii, tolong jangan salahkan diri Chihiro-nii, kumohon"
"Saat aku kesekolah mu dan bertanya keadaanmu, mereka bilang bahwa kau melakukan percobaan bunuh diri dan begitu aku menerima kabar dimana kau di rawat aku langsung mengunjunginya, tapi kau tak ada. Pantas saja"
"Pantas saja?"
"Pantas saja, karena rumah sakit milik keluarga Midorima, keluarga Murasakibara, keluarga Aomine dan keluarga Kise ada di bawah naungan keluarga Akashi. Pantas saja susah mencari kabar mu, Kuroko" Ucap Chihiro-nii menghela napas.
"Chihiro-nii, maaf membuat Chihiro-nii khawatir" Ucap Kuroko menunduk merasa bersalah.
"Huh~ Sudahlah mulai sekarang kemaskan barang-barang mu lalu tinggallah bersamaku"
.
.
Kuroko yang mendapat persetujuan untuknya tinggal bersama dengan Kakak sepupunya kini berjalan hendak melewati pintu sampai pada.
"A-Akashi-kun?" Betapa tidak terkejut bila melihat Pemuda berambut merah menyala tengah berada di ambang pintu yang hendak di lewati oleh Kuroko dan Kagami.
"Tetsuya, sekarang juga saat ini juga kembali ke Mansion" Suara bariton yang lebih keras dan tegas dari biasanya pun di keluarkan.
"Tapi Akashi-kun"
"Oh jadi kamu yang bernama Akashi-"
"Diam! Bila kau tidak mau dengan cara baik-baik maka aku akan menggunakan cara kasar Tetsuya" Ucap Akashi yang tiba-tiba menelepon seseorang dan menyeringai tajam.
"Akashi Teme! Apa yang ingin kau lakukan pada Kuroko?!" Tiba-tiba Kagami bersuara.
"Jadi kau yang bernama Chihiro, ku beri tahu satu hal. Mulai saat ini pemilik dari rumah sakit ini adalah keluarga Akashi, bila kau macam-macam maka bersiaplah angkat kaki dari rumah sakit ini, ah bukan maksudku dari pekerjaan ini, Mayuzumi Chihiro" Ucap Akashi membuat semua yang berada di ruangan terkejut tidak terkecuali Chihiro yang di jadikan Akashi sebagai musuh barunya.
"A-Akashi-kun?" Ucap Kuroko dengan tangan yang mulai di tarik paska oleh Akashi, tentu saja Kagami tidak tinggal diam.
"Lepaskan Kuroko, oi Akashi Temeee!" Kagami mulai menarik tangan lain dari Kuroko.
"Taiga lepaskan!" Sebuah gunting pun melayang tepat ke arah tangan Kagami yang menggenggam Kuroko sebelum dengan cepat ia melepaskannya kalau tidak, maka tangan ace Seirin tersebut akan terluka cukup parah.
"Kagami-kun!" Teriak Kuroko bersamaan dengan Kagami yang menghindari gunting Akashi.
"Taiga aku juga memperingatkanmu" Ucap Akashi kemudian pergi dengan Kuroko menghilang di balik pintu kamar.
.
.
Semenjak hari itu sifat Akashi menjadi lebih keras dan kejam dari sebelumnya, semua rasa ke absolute-an Akashipun semakin menjadi-jadi.
Sampai pada suatu hari, Kuroko yang tengah keluar sebentar mancari udara segar tanpa di duga saat ia kembali Akashi tengah berada di ruangan Kuroko dengan mata yang tak bisa di bilang ramah.
"A-Akashi-kun kenapa ada di kamar-" Belum selesai Kuroko bertanya, Akashi sudah memotongnya dengan suara yang mengintimidasi.
"Kan sudah ku bilang jangan pernah kemana pun selagi aku tidak ada Tetsuya! Karena kau sudah melanggar maka harus di hukum, Tetsuya"
"Tapi aku hanya mencari udara saja Akashi-ku-"
"Berhentilah membuat alasan!" Tali pinggang kulit di lepas, membuat Kuroko terkejut. Belum sempat Kuroko mencerna apa yang terjadi, Akashi sudah melempar Kuroko ke atas kasur dengan kasar.
"Akhhhh!" Tali pinggang kulit milik Akashi menyentuh kasar, tubuh Kuroko masih terbungkus baju tengah terlungkup menerima cambukan demi cambukan keras yang di berikan Akashi. Tak memperdulikan Kuroko yang menahan sakit saat dicambuk oleh Akashi, hingga erangan kesakitan Kuroko mulai samar terdengar begitupun dengan kesadaran Kuroko yang mulai hilang namun tak ada niatan Akashi untuk berhenti dari memberi hukuman. Sampai pada -
.
.
"Aka-chin, tolong hentikan kasian Kuro-chin~" Murasakibara yang paling pertama mencoba menghentikan Akashi, disusul Aomine yang langsung melindungi Kuroko menjadi tameng agar Akashi tidak mengenai Kuroko lagi.
"Atsushi diam! Daiki minggi, aku belum selesai-" Belum selesai mengeluarkan perintah Midorima datang dan memegang tali pinggang yang tengah berada di antara sela-sela jari Akashi yang di gunakannya sebagai cambuk untuk menghukum Kuroko sedari tadi.
"Akashi! Apa kau sudah gila! Kuroko bisa mati bila kau terus mencambuknya nanodayo!" Mencoba menyadarkan Akashi yang tengah kabut akan amarah.
"Tetsu apa kau baik-baik saja? Oi Tetsu!"
"D-a-Darah-ssu" Ucap Kise terkejut dengan bercak darah yang mulai merembes jelas di atas baju yang tengah di pakai Kuroko, namun sayang tubuhnya sudah mati rasa untuk merasakan sakit begitupun kesadarannya yang kini telah benar-benar hilang.
Semalaman Midorima mengobati luka di punggung Kuroko yang mulai membiru, pertanda bahwa beberapa luka memar yang membuat darah membeku.
'Apa sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit saja nanodayo?' Ucap Midorima di dalam hati, sebelum pintu kamar Kuroko yang di buka menampakan pemuda bersurai merah.
"Bagaimana lukanya, Shintaro?"
"Parah sepertinya ada beberapa lukanya yang sudah menampakkan pembekuan darah, sebaiknya Kuroko di bawa ke rumah sa-"
"Tidak! Mulai besok dia harus mengikuti sekolah"
"Oi Akashi!"
"Dia merupakan bagian dari Mansion Akashi, karna itu tidak boleh ada kecacatan baik dalam kemampuan maupun pendidikannya! Jangan terlalu memanjakannya, Shintaro"
"Bukan aku yang memanjakan Kuroko, tapi kau yang terlalu memaksanya, Akashi" Midorima pun pergi setelah selesai mengobati Kuroko yang masih tak sadarkan diri dengan punggung penuh obat antiseptik dan penghilang rasa nyeri.
"Kesempurnaan adalah segalanya itu berlaku untuk Tetsuya juga!"
"Ah kau benar, dan saat Kuroko mendapatkan kesempurnaan yang kau inginkan Akashi. Maka Kuroko bukanlah Kuroko yang dulu lagi"
.
.
Dipagi hari Kuroko tengah sibuk mempersiapkan keperluannya sekolah, setelah sekian lama akhirnya ia dapat kembali mengenyam pendidikan, tak mungkin ia sia-siakan dengan beristirahat karena hukuman yang Akashi berikan kemarin bukan.
"Kuroko, apa lukanya masih terasa? Bu-bukannya aku perduli nanodayo hanya saja bila kau pingsan di-"
"Sudah tidak terasa, arigato Midorima-kun"
"Tetsu jangan memaksakan diri"
"Aku baik-baik saja, Aomine-kun. Akashi-kun sudah mengabulkan keinginanku untuk bersekolah lagi saja aku sudah bersyukur, Aomine-kun"
"Kurokocchiiii~"
"Se-sesak Kise-kun"
"Aho lepaskan Tetsu-ku!"
"Hidoi-ssu, Aominecchi"
"Kuro-chin ini bento~"
"Arigatou Murasakibara-kun"
"Tetsuya ayo, hari ini kau berangkat denganku"
"Ya, Akashi-kun"
.
.
Sore hari mobil mewah kelas atas berwarna merah berhenti tepat di halaman sekolah Seirin. Pemuda berambut merah seragam putih berlambangkan sekolah kelas atas Rakuzan dengan aura yang sungguh tak ingin orang ingin mendekati sang pemuda saat ini yang tengah berjalan ke arah gymnasium sekolah Seirin.
"Tetsuya!" Akashi membuka pintu gymasium keras.
"Eh, Akashi-kun?" Ucap perempuan yang berperan sebagai pelatih di Seirin sekaligus pacar dari kapten basket Seirin saat ini yaitu Hyuga Junpei.
"Riko, dimana Tetsuya?" Ucap Akashi melihat pelatih Riko mendekat.
"Eh, Kuroko-kun sudah pulang semenjak 30 menit yang lalu"
"Hmp, apa dia bilang mau pergi kemana?"
"Etto, kalau gak salah katanya Kuroko-kun harus pulang sebelum pemilik dari tempat tinggalnya yang sekarang pulang, kalau tidak salah"
.
.
.
Kuroko Side
Kakinya berjalan ke arah Mansion Akashi secara perlahan, tanpa sempat memikirkan hal lain hanya terus berjalan mencoba menahan rasa sakit yang mulai muncul kembali pertanda efek dari obat yang di berikan Midorima sudah habis.
"Jalan ke rumah sakit Chihiro-nii juga lewat sini kalau tidak salah?"
.
.
Pintu putih di buka perlahan setelah mengetuk.
"Chi-hiro-nii, ini Kuroko Tetsuya"
"Ahh, Masuk Kuroko" Ucap Chihiro, namun yang membuat Kuroko terkejut adalah tumpukan gunung yang lebih banyak jadi yang sebelumnya.
"Chihiro-nii sedang sibuk, apa aku mengganggu?"
"Tentu saja tidak, tapi semenjak Akashi mengambil alih rumah sakit ini banyak pejabat dan orang penting lainnya yang mulai berdatangan meminta di rujuk ke sini jadi seluruh rumah sakit menjadi seperti ini"
"Ka-kalau begitu akan aku buatkan teh?"
"Ya tolong"
"Ah Chihiro-nii, ada berkas yang-" Kuroko melihat selembar berkas yang menempel di lengan baju sang kakak sepupu hendak menolong memisahkan dari tempat menempelnya namun-
PLAK!
Sebuah tamparan di tangan yang di terima, Kuroko terkejut sungguh tak pernah terfikirkan bahwa kakak sepupunya yang super protektif ini akan memukul tangannya, dan itupun di alami oleh Chihiro sama terkejut nya dengan apa yang barusan di lakukan. Efek yang di terimanya setelah 3 hari lembur berturut-turut, kepalanya menjadi kosong dan ia tak tahu apa yang harus di lakukan bila tanpa sengaja melukai Kuroko lagi.
"Ma-maaf Kuroko (Chihiro menutupi wajahnya mencoba kembali fokus) tapi bisakah kau kembali besok, kurasa aku harus istirahat. Lembur selama 3 hari tentu saja membuatku hilang kendali, maaf"
"Aku tidak, apa-apa Chihiro-nii. Kalau begitu aku pamit saja"
.
.
"Aku harus segera pulang, sebelum Akashi-kun. Eh?"
Kristal putih turun dari langin beberapa saat setelah Kuroko keluar dari rumah sakit, membuat perhatiannya sedikit teralihkan dari masalah kesibukan Chihiro nii-nya dan apa yang telah di lakukan Akashi kemarin.
"Apa benar aku hanya menjadi penghambat?
Seperti yang di katakan Masaomi-san dulu?
Kalau saja aku tak muncul di hadapan Chihiro-nii, mungkin dia tak akan kekurangan istirahat seperti ini"
Disaat Kuroko yang tengah terdiam dengan bergumam seorang diri, yang lain tengah berlari menghindari salju agar tidak menggotori pakaian mereka, mencoba mencari tempat berlindung karena mulai lebatnya butiran salju yang turun dan ada juga jalan yang sudah tertutupi oleh butiran salju.
BUKKKK
"Eh? Aku seperti menabrak sesuatu tadi? Hanya perasaan" Ucap pemuda yang tanpa sengaja menabrak Kuroko hingga terjatuh ke tumpukan salju, mengingatkan kembali tubuhnya yang terluka akibat cambukan Akashi kemarin mulai terasa kembali.
Pemuda yang tak menyadari hawa keberadaan Kuroko yang tipispun kembali berlari menghindari salju tanpa mengetahui Kuroko yang terjatuh di atas salju, tanpa bisa bangun mulai tertimbun sedikit demi sedikit oleh salju, sampai pada-
"Kuroko Tetsuya kenapa tidur di atas salju kotor seperti itu" Suara yang tak asing bagi Kuroko sampai pada kesadarannya mulai hilang akibat rasa sakit perih dan dingin bercampur menjadi satu.
TBC
Authors note
Gommen minna~ baru bisa update lagi setelah 2 mingguan ya ~ (T^T)
Minggu depan moga gak telat lagi ^^
